THAGHUT

DEFINISI THAGHUT

Ibnu Qayyim berkata:
Thaghut ialah segala sesuatu yang melampaui batas yang disembah oleh seorang hamba, diikuti dan ditaatinya. Dan Thaghut bagi setiap kaum ialah: penguasa yang mereka berhukum kepada hukum selain Allah dan Rasul-Nya, atau yang mereka sembah selain dari pada Allah, atau yang mereka ikuti tanpa ilmu pengetahuan dari Allah atau yang mereka taati dalam hal apa yang mereka tidak mengetahui bahwa hal itu termasuk ketaatan kepada Allah.

Sedangkan Abu A’la al Maududi mendefinisikan thaghut yaitu:
Syaitan, tukang-tukang ramal, dukun-dukun yang mengklaim diri mereka mengetahui urusan ghaib, orang yang berfatwa dengan selain yang diturunkan Allah, patung berhala yang diciptakan untuk disembah manusia, orang yang suka diagungkan dan marah bila tidak diagungkan, penguasa atau pemerintahan melampaui batas,yang menolak dan membenci syariat Allah, serta menghalangi tegaknya dengan berbagai cara, baik secara lembut, rayuan dan sogokan atau dengan tekanan (dipenjara, diintimidasi,diusir, dibunuh, dan bila ia sebagai pegawai maka diancam dengan pemecatan dari jabatan), lalu mengganti syariat Allah dengan syariat jahiliyah, yang bersumber dari hawa nafsu dan akal fikiran manusia semata.

Itsbaatun (Menetapkan) wala’ (kecintaan dan keterikatan) kepada Allah, Dienullah, Kitab Allah dan Sunnah Nabi Nya, serta Hamba-hamba Allah yang shalih.

Dalam hal ini telah berkata Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah :

Dan ketahuilah bahwa seluruh manusia tidak akan menjadi mu’min kepada Allah kecuali dengan mengkufuri thaghut. Allah berfirman dalam surat Al Baqoroh:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqoroh :256)

Dari penjelasan diatas, jelas dan gamblang bagi siapa saja yang ingin memahami dengan pemahaman yang benar bahwa intisari dari rukun tauhid ialah adanya alwala’ dan al bara’. Jika ini tidak jelas dan tegas, maka seseorang tidak akan pernah merasakan indah dan manisnya tauhid serta keji dan pahitnya syirik, dan orang itu tidak akan pernah meraih kebenaran tauhid.

KALIMAT THAGHUT DALAM AL QURAN

Didalam Al Quran kalimat Thaghut dijumpai sebanyak 8 kali,

Pertama: Allah Swt berfirman:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An Nahl: 36)

Ayat ini menafsirkan makna syahadat. Jadi mengetahui syahadat itu wajib dengan maknanya, supaya seorang hamba bisa mengerjakan secara benar apa yang menjadi kewajibannya. Diantaranya dengan mengesakan Allah dan menjauhi thaghut. Atau mengambil hukum kepada hukum selain Al Quran dan As Sunnah.

Ibnu Qayyim berkata: “Allah swt memberitahukan bahwa siapa yang berhukum atau minta dihukumi dengan selain apa yang dibawa oleh Rasul saw, berarti dia telah mengangkat thaghut sebagai hakim dan berhukum kepadanya. Thaghut –sebagaimana keterangan diatas- adalah perkara apa saja yang manusia melampaui batas dengannya, berupa ma’bud (yang disembah), matbuu’ (yang diikuti) atau muthaa’ (yang ditaati).

Jadi, thaghutnya suatu kaum adalah siapa yang kaum itu berhukum kepadanya bukan kepada Allah dan Rasul-Nya, atau mereka sembah selain Allah, atau mereka ikuti tanpa hujjah yang nyata dari Allah, atau mereka taati dalam perkara-perkara yang mereka tidak tahu bahwa hal tersebut sama dengan mentaati Allah. Inilah thaghut-thaghut dunia. Apabila kita merenungkannya dan merenungkan peri keadaan manusia dalam hubungannya dengan thaghut, maka kita akan dapati bahwa mayoritas diantara mereka berpaling dari ibaadatullah (ibadah kepada Allah) kepada ibadatut thaghut (ibadah kepada thagut), dan berpaling dari berhukum kepada Allah dan Rasul menjadi berhukum kepada thaghut. Dan dari taat kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya menjadi taat kepada thaghut dan mengikutinya.

Kedua: Allah Swt berfirman:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah MahaMendengar dan Maha Mengetahui.(QS Al Baqarah 2:256)

Ketiga: Allah Swt berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 256-257)

Keempat: Allah Swt berfirman:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisaa: 51)

Kelima: Allah Swt berfirman:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak ber-hakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa: 60)

Keenam: Allah Swt berfirman:
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisaa: 76)

Ketujuh: Allah Swt berfirman:
Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maaidah: 60)

Kedelapan: Allah Swt berfirman:
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku” (QS. Az Zumar: 17)

Wallahu’alam…

What do you think?

Written by Ukasyah (Admin)

Comments

Leave a Reply
  1. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh ustadz

    ana mau tanya, ketika kita bicara masalah thoghut, tentu di indonesia ini pemerintahannya pemerintahan thoghut, lalu salahkah kita mentaatinya hanya dalam2 urusan2 administratif, seperti KTP, trus peraturan lalu lintas, mendapatkan ijazah ketika selesai study…dan menurut temen ana, klo mau nerapin syariah harus ga punya KTP, baru teriak2 syariat islam….jadi sejauh mana kita boleh mentaati pemerintahan thoghut ini stadz?? apakah dengan kita mentaati hal2 administratif itu kita jadi munafik bila ingin menegakkan syariat?? istilah kasarnya, teriak2 thoghut, tapi ikut juga aturan thoghutnya…jazakallah khoir atas jawabannya stadz..

    wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

  2. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh ustadz

    seperti kita tau sistem pemerintahan diindonesia ini khan sistem thoghut, namun bagi kita yang tinggal disini, mau tidak mau harus ngikut aturannya, nah sejauh mana kita boleh mentaatinya? padahal khan kita harus mengingkari thoghut itu sendiri…dan apakah bagi yang patuh dengan aturannya seperti KTP, peraturan lalu lintas, ijazah apabila telah lulus study, suatu bentuk ketaatan? dan bisa dikatakan munafik apabila ingin memperjuangkan syariat islam? istilah kasarnya, ktnya pemerintahan thoghut, tapi kok masih mau ngikutin aturannya…..soalnya temen ana berpikiran seperti itu ketika ana kasih tau apa yang disampaikan ustadz, jazakallah khoir buat jawabannya.

    wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

  3. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Berbaik Sangka Kepada Allah

Musibah, Ketika Allah Murka!