Seorang muslim tidak terjangkiti virus pink!

(Abujibriel.com)- Sebentar lagi akan ada satu lagi virus kambuhan yang muncul pada setiap pertengahan bulan Februari yang masih sangat dinikmati di negeri ini dengan euphoria yang sangat berbenturan dengan nilai-nilai keIslaman, sebagian besar anda pasti tahu apa jenis virus yang dimaksud… Na’am, Valentine’s day!

Hari Valentine atau yang sudah umum beredar di masyarakat diklaim sebagai hari kasih-sayang—sebagaimana perayaan-perayaan sejenisnya yang diciptakan oleh umat kafir—tentunya juga memiliki jargon-jargon atau simbolnya tersendiri. Simbol-simbol ini telah lama diperkenalkan sehingga telah lekat di hati masyarakat dunia, bahkan juga bagi kaum muslimin sendiri. Media massa sebagai alat siar  yang sangat efektif untuk melaungkan budaya yang tak dikenal dalam Islam ini, senantiasa mengolah sedemikian rupa melalui berbagai upayanya untuk mengemasnya sehingga menarik dan menambah daya-pikat bagi seseorang untuk turut bergabung menikmatinya. Dan jangan tanya seberapa persen kerusakan yang telah ditimbulkan dari upaya pelaungan perkara ini.

Memang seakan tak pernah ada habisnya, disepanjang tahun negeri ini diserbu bertubi-tubi dengan rangkaian ritual yang akhirnya berujung kepada kesyirikan. Diawali dengan gempita penyambutan tahun baru Masehi yang diwarnai oleh pesta semalam-suntuk dengan pemujaan terselubung kepada dewa api melalui bakaran kembang-apinya. Lalu diikuti dengan kehadiran berhala barongsai yang juga disambut dengan kemeriahan terutama di pusat-pusat perbelanjaan dan hiburan. Tak jarang, tempat-tempat penyembahan terhadap berhala-berhala yang di-Tuhankan itupun penuh-sesak dijejali oleh fakir muslim yang berharap kebagian jatah ‘berkah’ hari suka-cita pemeluk agama lain tersebut.

Demikian juga dengan hari Valentine, dimana media massa bersama fasilitas umum, terutama pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat tongkrongan kaum muda, sangat bersemangat melaungkan hal ini. Berbagai tempat pun getol menawarkan beragam acara guna memenuhi kebutuhan dalam memeriahkan hari kasih-sayang tersebut. Lagu-lagu cinta pengundang syahwat pun serentak dilaungkan dimana-mana sebagai penyerta bulan yang dijuluki bulan romansa ini, seperti laiknya bait-bait pengantar syetan menuju kesesatan. Belum lagi dengan atribut lain yang sepertinya sudah menjadi maskot perayaan ini, seperti nuansa merah-muda yang mewarnai mulai dari pakaian, sepatu, tas, sampai makanan dan minuman, lalu ada bunga mawar, coklat, dan boneka yang biasanya jadi incaran untuk diberikan kepada orang-orang  yang dicintai.

Dan namanya juga perayaan yang dibuat oleh umat kafir—sudah dipastikan saja bila akan ditemui didalamnya penuh dengan materi yang dapat mengundang laknat Allah Ta’ala. Sementara umat muslim sendiri yang ikut merayakan hari kemaksiatan massal itu, tak banyak yang mengerti tentang latar-belakang terjadinya hari yang banyak dinanti oleh segenap yang tengah berpasangan itu. Kebanyakan mereka lebih bersifat ikut-ikutan tanpa berkeinginan untuk mencari tahu tentang adakah disyari’atkannya perkara itu dalam Islam serta adakah konsekuensi bagi muslim yang memakmurkannya?

Asal-usul hari Valentine sendiri bermula dari seorang tokoh Kristen yang bernama Santo Valentinus yang karena sikap pertentangannya kepada seorang raja Romawi yang berkuasa pada tahun 268-270 Masehi, yaitu Raja Claudius II, telah menghantarkannya kepada pembunuhan atas dirinya. Namun kematian Valentinus telah mendapat tempat di hati para pengikutnya. Mereka lalu menjadikannya sebagai simbol dalam keberanian, ketabahan, dan sebagai orang yang memiliki kepasrahan. Karena itu ditetapkanlah hari kematian Valentinus yaitu 14 Februari sebagai salah-satu hari yang dirayakan dalam upacara keagamaan. Lalu seiring berjalannya waktu, perayaan tersebut pun berangsur-angsur pudar dan diganti posisinya dengan perayaan Supercalis yaitu sebuah perhelatan milik bangsa Romawi kuno yang dikhususkan harinya untuk berkasih-sayang. Mereka lalu menyangkut-pautkan ritual Supercalis dengan kematian Valentinus, sehingga ditetapkanlah 14 Februari sebagai hari kasih-sayang.

Namun, ada juga yang menyebutkan kalau titik permulaan Valentine’s day berasal dari era Yunani kuno, yang menurut perhitungan kalender bangsa yang banyak menyembah dewa itu, pada pertengahan Februari adalah waktu penghormatan terhadap pernikahan dewa mereka yaitu dewa Zeus dan dewi Hera. Mereka juga beranggapan bahwa bulan ini merupakan bulan percintaan dan juga bulan kesuburan. Budaya Paganisme yang mereka anut merupakan bentuk perilaku musyrik terhadap Allah Ta’ala. Sementara dalam firman-Nya disebutkan:

Artinya, “ Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,” (QS. an-Nisa’, 4:117)

Seperti yang namanya tradisi qoola wa qiila, sudah jelas bagi kaum muslimin bahwa perayaan itu tidak dikenal dalam Islam sehingga hukum bagi perayaan itu sendiri menjadi haram. Tradisi ini asli buatan kaum kafir yang hanya mengedepankan hawa-nafsu dengan menyematkan hal-hal yang disenangi manusia yang mereka tentu saja tidak peduli akan perkara halal-haram.

Lalu perbuatan kaum kafir yang di-copy-paste oleh kaum muslimin adalah sebagai perilaku tasyabbuh atau penyerupaan dengan mereka dan bisa dianggap salah-satu manifestasi keloyalitasan terhadap kaum kafir. Sementara dalam satu haditsnya, Rasulullah saw telah tegas mengingatkan bahwa,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

 Artinya, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan tersebut.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dalam Iqtidha Sirathiil-Mustaqim, Mukhalafatu Ashabil-Jahim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah berkata, “Perbuatan meniru-niru mereka (umat kafir) dalam perayaan mereka dapat menyebabkan seseorang bangga dengan kebathilan yang ada pada mereka. Bisa jadi hal tersebut akan lebih memotivasi mereka (umat kafir) untuk memanfaatkan momen tersebut (dalam menyia’arkan kesesatannya).”

Perlu disadari bahwa sikap mengekor umat Islam sudah sangat memprihatinkan saat ini. Tentunya mengekor yang dimaksud disini adalah keikut-sertaannya dalam segala aktifitas yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Segala hal yang datang dari luar ditelannya mentah-mentah tanpa ada proses cek and ricek terlebih dahulu, segala hal yang baru langsung dianggapnya baik, padahal segala yang baik belum terjamin keabsahannya bila tidak ada contohnya dari Rasulullah. Sementara banyak sebagian kaum muslimin yang ikutan merayakan Valentine lancar berhujjah dengan mengatakan, “Lho berkasih-sayang kan juga diperintahkan dalam Islam, budaya ini kan bisa juga ditransferkan kepada orang-tua, saudara, dan kerabat.” Atau perkataan lainnya seperti, “Dalam Islam juga diperintahkan untuk mempererat tali silaturahim, jadi momen Valentine juga kan cocok dikondisikan pada budaya kita…”

Memang benar bahwa silaturahim diajarkan dalam syari’at Islam, seperti salah-satu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin salam ra yang mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاشُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَ صِلُّوا الْأَرْحَامَ وَ أَطْعٍمُوا الطَّعَامَ وَ صَلُّوا بِالَّيْلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.

Artinya, “Wahai manusia, sebarkanlah ucapan salam, sambungkanlah silaturahim, berilah makan, dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi)

Namun yang perlu dicamkan bahwa dalam Islam setiap amalan dikaitkan dengan peribadahan yang karenanya akan ada nilai ganjaran kelak, apatah berupa ganjaran pahala atau ganjaran berupa azab. Karena syarat mutlak diterimanya suatu amalan atau suatu perbuatan adalah ikhlas dan ittiba’ .

Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah saw telah bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ.

Artinya, “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kembali kepada gembar-gembor Valentine’s day yang gaungnya sudah bisa dirasakan beberapa minggu ini—kejahiliyahan terselubung yang paling tampak daripadanya adalah momen pengumbaran hawa-nafsu berkedok bentuk pengekspresian rasa sayang antar pasangan yang belum terikat tali perkawinan. Dengan berkhalwat mereka pergi ke tempat-tempat pengumbaran syahwat. Selain itu, keikut-sertaan penyambutan terhadap hari ini pun bisa menyebabkan banyak kerugian bagi kaum muslimin sendiri terutama generasi mudanya, karena bisa mengakibatkan terbuangnya waktu secara percuma dengan melalaikan hati juga pikiran dari dzikrullah dan aktifitas bernilai fi sabilillah lainnya, selain menghambur-hamburnya uang untuk kepentingan yang sama-sekali tidak ada penting-pentingnya tentunya.

Ada pula sementara orang yang mengatakan bahwa ia tidak merayakannya dengan ikut ke pesta-pesta semacam yang biasa diadakan, namun usut punya usut–ternyata demi hari itu, ia turut aksi mengirim pesan-pesan singkat berisi ucapan selamat, turut memberi buket bunga sebagai pertanda cinta, saling tukar bingkisan, cokelat, kartu ucapan dan semacamnya. Ia tidak menyadari bahwa apa yang dikerjakannya tersebut merupakan pertanda bahwa ia telah serupa turut-serta dalam menyiarkan dan melanggengkan amaliyah sesat di tengah-tengah umat. Rasulullah saw memang pernah menyampaikan sebuah hadits yang berkenaan dengan anjuran untuk saling memberi hadiah, hal ini yang ternyata juga dijadikan hujjah oleh para penikmat Valentine’s day. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah telah bersabda,

تَهَادُوا تَهَابُّوا.

Artinya, “Saling memberi hadiahlah kamu, niscaya kamu akan saling mencintai.” (HR. Bukhori)

Hadits tersebut shohih dari lisan Rasulullah, namun peng-aplikasian hadits itu yang telah disalah-gunakan hanya demi memperkuat dalil mereka untuk meluluskan adat jahiliyahnya.

Selain itu, Allah Ta’ala berfirman tentang perkara hukumnya seorang muslim yang menyaksikan suatu kebatilan, misalnya seperti mendatangi tempat-tempat perayaan Valentine’s day ini,

Artinya, “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kebatilan dan jika mereka melewati sesuatu yang sia-sia, mereka lewat sebagaimana layaknya orang-orang yang mulia.” (QS. al-Furqon, 25:72)

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat tersebut menjelaskan sifat hamba-hamba Allah yang diantaranya yaitu tidak memberikan kesaksian palsu. Ada banyak makna az-zuur yang dikemukakan para ulama’, yaitu kesyirikan, penyembahan terhadap berhala, berdusta, kefasikan, kekafiran, kebatilan, pertemuan dalam keburukan, hari raya kaum musyrik, dan kesaksian palsu. Firman Allah yang menyatakan, “…dan orang-orang yang tidak menyaksikan keburukan,” memiliki makna mereka tidak menghadiri tempat-tempat yang buruk seperti itu. Karena itu selanjutnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, maka mereka melewati saja dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Duhai kaum muslimin yang telah dicukupkan Allah Ta’ala dengan segenap risalah dan syari’at-Nya, janganlah ikuti perkara kaum kafir itu sementara telah tetap perkataan Allah Ta’ala tentang mereka dan orang-orang musyrik itu, seperti firman-Nya,

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. al-Bayyinah, 98:6)

Duhai generasi muda muslim dan muslimah, janganlah adopsi budaya mereka yang mengatas-namakan cinta dan kasih-sayang dengan cara-cara yang mereka agung-agungkan namun mengundang laknat-Nya. Allah Ta’ala Maha tahu terhadap makhluk yang diciptakan-Nya—yang dibekali oleh kebutuhan untuk saling menyayangi, namun Dia tidak mengijinkan hamba-Nya dengan sembarangan mengumbar kasih-sayang dengan ‘menjiplak’ risalah yang dikerjakan kaum kafir dalam merealisasikan perasaan itu.

Sebab kasih-sayang yang sesungguhnya adalah yang tercipta melalui jalan-jalan yang syar’i dan tidak ditempuh dengan segala yang bertentangan dengan syari’at-Nya. Manalah lagi kesempurnaan bagi seorang muslim dalam berkasih-sayang selain turutnya ia kepada aturan dari Yang telah mengaruniakannya akan rasa kasih-sayang itu ke dalam dirinya.

Satu hal yang penting juga untuk diketahui bahwa 14 Februari 1492 adalah peristiwa jatuhnya kerajaan Islam di Spanyol. Pada beberapa periwayatan, jatuhnya kerajaan Islam tersebut dikamuflasekan menjadi hari Valentine yang sama-sama jatuh pada 14 Februari untuk mengecohkan kaum muslimin sehingga merayakan hari jatuhnya kekuasaan Islam tersebut pula serupa mereka.

Akhirnya, mari tingkatkan ghiroh untuk lebih meningkatkan ke-Islaman kita dengan menimba ilmu dien dan menggali lebih banyak pengetahuan tentang sejarah para nabi dan rasul, para sahabatnya, serta para sholafush sholih dalam kehidupan mereka yang sarat akan kemurnian Islam dan perjuangannya. Fahami bahwa pengakuan keislaman seorang muslim membutuhkan bentuk perealisasian yang sejalan dengan syaria’t al-Qur’an dan as-Sunnah yang shohih.

Allah Ta’ala berfirman,

Artinya, “…Allah menjadikan kamu cinta akan keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. al-Hujurat, 49:7)

Ayat diatas memberi kejelasan bahwa seorang muslim wajib menumbuhkan kebencian bila melihat prilaku yang dibenci Allah Ta’ala, seperti kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan—dalam hal ini, perbuatan orang kafir yang merayakan hari kekafiran mereka dan turutnya seorang muslim dalam perayaan tersebut termasuk perkara yang wajib dijauhi oleh seorang yang mengaku muslim. Sebab selayaknya kaum muslimin meneladani Rasulullah dan para sahabatnya. Tolak beragam tipu-daya setan yang mengikis akidah umat di event-event seperti ini dengan bergerak mendakwahkan kebenaran dan mengajak umat untuk mengisi hari-harinya dengan amalan-amalan yang disunnahkan Rasulullah. Janganlah kita mengikuti perkara yang mungkin belum kita ketahui ilmunya, seperti firman-Nya,

Artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabannya.” (QS. al-Isra’, 17:36)

Juga firman-Nya,

Artinya, “…dan janganlah kamu mengikuti hawa-nafsu mereka (orang-orang fasik) dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. al-Ma’idah, 5:48)

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowwab.

 

 

Tinggalkan Komentar