in

Khutbah Idul Adha 1432 H: Menelusuri sebab-sebab kemuliaan dan kehinaan Umat Islam

Download e-Book Khutbah Lengkap

KLIK : Menelusuri sebab-sebab kejayaan dan kekalahan umat Islam e-Book

MUKADDIMAH

 الله أكبر… الله أكبر… ولله الحمد

Muslimin dan Muslimah Yang dirahmati Allah.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, meminta tolong kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kita, dan amal-amal kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada siapapun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada siapapun yang dapat menunjukkannya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran  3: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (QS. An Nisaa’ 4:1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu, dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 70-71)

Adapun sesudah itu, Maka sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi n, dan sekuat-kuat tali ikatan ialah kalimat taqwa, dan berhati-hatilah kamu dengan perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan berada dalam neraka.

الله أكبر… الله أكبر… ولله الحمد

Muslimin dan Muslimah Yang dirahmati Allah.

Marilah kita memanjatkan segala puji syukur ke hadhirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada hari ini kita dapat melaksanakan salah satu syariat dari syariat-syariat Allah I, yaitu shalat Idul ’Adha ditempat yang mulia ini; dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban yang merupakan semulia-mulia amalan pada hari Raya ’Idul Adha (hari Nahar) ini.

Bersyukur kepada Allah meliputi syukur dengan lisan, dengan hati dan dengan seluruh tubuh badan. Syukur dengan lisan, yaitu dengan memperbanyak tahmid, tasbih, tahlil, takbir, tamjid, istighfar, tilawah Al Qur’an dan do’a, berdakwah kepada Allah dan dijalan Allah. Bersyukur dengan hati yaitu dengan mengakui segala nikmat dan karunia sumbernya dari Allah I dan menggunakan semua nikmat sesuai dengan kehendak Allah I. Bersyukur dengan anggota tubuh badan ialah menggunakan seluruh potensi tubuh untuk beribadah kepada Allah sesuai dengan sunnah Rasulullah n. Termasuk didalam bingkai kesyukuran ini ialah meningkatkan ilmu, iman dan amal shaleh untuk meraih derajat ketaqwaan.

Hari ini (10 Dzulhijjah 1432) adalah hari raya agung bagi seluruh kaum Muslimin dan Muslimat dimana saja dia berada, karenanya dihari ini kita diperintah untuk mengagungkan Allah sebanyak-banyaknya dengan bertakbir kepada-Nya ditambah dengan tiga hari sesudahnya yaitu pada hari-hari tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13). Dan amalan yang paling afdhal pada hari ini setelah kita berhari Raya ialah mengalirkan darah hewan qurban sebagaimana diterangkan dalam riwayat.

‘Aisyah Ra ia berkata, bahwa Nabi n bersabda,

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ ، إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا ، وَأَشْعَارِهَا ، وَأَظْلاَفِهَا. وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا .

Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak di hari Kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan pahala qurban itu.” (HR. Tirmidzi, no: 1413)

Dan barangsiapa mempunyai kelapangan rezqi pada hari tersebut, tetapi enggan berqurban maka Rasulullah mengancamnya supaya jangan mendekati Masjid Rasulullah n.

Dari Abu Hurairah t ia berkata, Rasulullah n bersabda,

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا .

Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban, tapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia dekat-dekat di tempat shalat kami.” (HR Ahmad, no: 7924, Ibnu Majah, no: 3114)

Semoga Allah I menerima segala amal ibadah kita dan menjadikan kita ridha dengan Islam dan syari’at sebagai way of life hidup kita, agar meraih apa yang dijanjikan baginda,

مَنْ رَضِيَ باللهِ ربًّا ، وَبِالإِسْلاَمِ دِيْناً ، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولاً دَخَلَ الْجَنّةَ

“Barang siapa yang ridha Allah sebagai Tuhannya Islam sebagai Agamanya dan Muhammad sebagai Nabi dan rasulnya, maka dia akan masuk surga.” (HR Muslim)

Muslimin dan Muslimah Yang dirahmati Allah.

Al Islam adalah Ad Dien yang telah Allah I sempurnakan syariatnya, dan ia adalah risalah yang diturunkan oleh Allah sesuai dengan fitrah manusia, sehingga apabila syariat tersebut diaplikasikan dalam kehidupan manusia, ia akan membawa kebaikan dan kejayaan. Sebaliknya, jika ia ditentang dan dilanggar, maka ia akan menghilangkan kebaikan dan kejayaan manusia sehingga manusia berada pada kehancuran dan kehinaan yang paling rendah. Allah I berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tien: 4-6)

Sejarah telah membuktikan betapa agama fitrah ini telah mengangkat derajat manusia dari lembah kehinaan kepada puncak ketinggian, kemuliaan dan kemasyhuran. Ketika dunia dan bangsa Arab khususnya penuh kekufuran, kegelapan, kebodohan dan kejahiliyahan, tiba-tiba nur hidayah Allah memancar di Makkah Al Mukarramah, cahayanya dapat menembus dunia Timur, Barat, Utara dan Selatan. Hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat (± 23 tahun), bangsa Arab yang masyarakatnya jahil, keras hati, zalim, penuh dengan kebiadaban berubah menjadi manusia yang cerdik, adil, hatinya lembut, perangainya santun dihiasi dengan peradaban yang tinggi dan mulia. Apakah rahasianya, dan ada faktor apa dibalik itu? Renungkanlah firman Allah berikut ini:

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al Anbiya: 10)

“Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (QS. Az Zukhruf: 44)

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS. Al Isra’: 9)

Khalifah Umar t meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أَقوَامًا، وَ يَضَعُوا بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al Qur’an ini dan merendahkan serta menghinakan beberapa kaum yang lain.” (HR Al Bukhari)

Khalifah Umar bin Khattab t pernah berkata:

كُنَّا قَوْمًا أَذِلَّاءُِ فَعَزَّنَااللهُ بِالْأِسْلَامِ وَإِذَا إِبْتَغَيْتُمْ بِغَيْرِهِ أَذَ لَّكُمُ اللهُ

 “Dahulu kami adalah bangsa yang rendah dan hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Karena itu, manakala kamu mencari kemuliaan dengan selainnya, niscaya Allah akan menghinakan kamu kembali.”

Itulah Syari’ah Islam, peraturan dan undang-undang hidup yang diturunkan dari Allah, itulah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah n yang menjadi jaminan keselamatan hidup dunia dan akhirat, tidak ada dari selain keduanya. Karena yang disebut Addien (Nidhomul Hayat) atau undang-undang kehidupan ialah seperti ungkapan Ibnu Abbas t :

أَلدِّيْنُ هُوَمَا قَالَ اللهُ وَمَا قَالَ الَّرسُولُ

“Agama itu ialah apa yang Allah firmankan dan apa yang Rasul sabdakan.”

الله أكبر… الله أكبر… ولله الحمد

Muslimin dan Muslimah Yang dirahmati Allah.

Sesungguhnya kemuliaan Islam dan ketinggiannya yang cahayanya pernah memancar menerangi seluruh dunia, kekuasaannya meliputi dua pertiga dunia, dan benderanya berkibar selama 1200 tahun, akan kita dapat dan raih sekali lagi, jika melaksanakan ajarannya secara utuh, meneladani Rasulullah n dalam pengamalannya dan tidak mencampur adukkannya dari sumber kebatilan dan mengamalkannya dalam bentuk konstitusi tertinggi dalam masyarkat dan negara. Ada beberapa sebab penting yang menjadikan generasi awal umat ini unggul dan mulia yang harus diketahui oleh generasi Muslim sekarang agar mereka kembali unggul sebagaimana pada permulaannya.

 

  1. Mereka memiliki iman yang shahih dan benar, yang menjadikan sangat ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya

Generasi pertama Ummat Islam (para sahabat-sahabat Nabi), diikuti generasi Taabi’in dan Taabiut Tabi’in benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul Nya, yang membuahkan ketaatan penuh kepada Allah dan Rasul Nya sehingga apapun yang diperintah maupun dilarang jawabnya hanyalah sami’na wa’atha’na. Rasulullah n memperkenalkan Allah I kepada kaumnya dalam waktu yang lama, bersamaan dengan itu menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan, halangan dan rintangan.

Beliau menjelaskan melalui firman Nya yang diturunkan kepada beliau bahwa Dia adalah Al Khaliq (Yang Mencipta dan memelihara seluruh alam beserta isinya). Al Maalik (Pemilik segala apa yang dibumi dan dilangit). Al Mudabbir (Yang mengatur segala apa yang berlaku dibumi dan dilangit dengan segala kesibukannya). Ar Razzaaq (Pemberi Rezeki bagi keberlangsungan makhluk-Nya). Al Muhyil Mumiit, (Yang Menghidupkan setelah matinya dan mematikan setelah hidupnya). An Naafi’ wa Ad Dharr (Yang Memberi manfaat terhadap makhluk dan Yang memberi mudharat sekaligus). Dia maha berkuasa atas segala sesuatu. Dengan pengenalan seperti ini para sahabat benar-benar beriman kepada Nya yang membuahkan keta’atan yang tidak berbelah bagi

Kemudian mereka menyaksikan bahwa Nabi Muhammad n adalah benar-benar utusan Allah, meyakini bahwa Muhammad n adalah nabi dan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah dengan syariat yang telah disempurnakan, dan barangsiapa yang mengaku nabi dan rasul setelahnya, maka ia telah kafir, murtad dari agama Islam. Begitu pula dengan para pengikut dan pendukungnya, mereka telah kafir, keluar dari Islam. Allah I berfirman,

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzaab: 40)

Mereka mengenal bahwa Rasulullah n adalah sosok yang memiliki kesempurnaan prilaku, kebaikan budi pekerti, lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama muslim, keras dan tegas terhadap orang kafir yang memeranginya. Santun dalam bertutur kata, tawadhu’ dalam berjalan, hormat kepada yang lebih tua, penuh kasih terhadap anak-anak, sehingga menjadi teladan bagi seluruh umat, muslim maupun kafir, Arab ataupun ‘ajam, hitam maupun putih. Firman Allah I,

“Dan sungguh, kamu benar-benar memiliki budi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al Fath: 29)

Dengan ma’rifat kepada Allah dan Rasul Nya seperti inilah membuahkan ketaatan yang sebenar-benarnya sehingga apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul Nya, tidak ada keberatan dan bantahan sedikitpun dari mereka. Kemudian mereka mengikuti dan melaksanakan apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah I dan Rasul-Nya didalam Al Quran dengan sepenuh hati, dan hal ini merupakan ciri orang beriman yang Allah I jelaskan dalam Al Quran.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An Nur: 51)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzaab: 36)

 

  1. Menerima dan mengamalkan Islam dengan ilmu

Yaitu memahami dan melaksanakan seluruh ajaran Islam berdasarkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah, bukan atas dasar tradisi (adat kebiasaan) yaitu perkataan dan perbuatan orang banyak, atau perkataan guru atau orang yang dianggap tokoh agama semata. Karena hal itu akan mengakibatkan kepada pengkultusan kepada makhluk yang berakibat kepada kemusyrikan. Mengamalkan Islam menurut perkataan dan perbuatan orang banyak yang tidak berdasarkan Al Qur’an, dilarang oleh Allah I. Firman Allah:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al An ‘am: 116)

Para shahabat beserta ulama-ulama terdahulu menguasai dunia ini karena mereka mengetahui dengan betul karakteristik dien ini, mengenal betul kebaikan dan kemuliaan dien ini serta melaksanakan segala perintah yang terdapat didalamnya dan menjauhi setiap larangan-larangannya. Kepentingan ilmu dalam Islam telah diungkapkan oleh Nabi n dengan berbagai ungkapan yang sangat indah dan menawan antara lain:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengannya dia menjadi baik maka diberinya pemahaman yang mendalam dalam hal agama.” (HR Al Bukhari)

Maka aktivitas memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah n secara serius dan mendalam, akan mengantarkan seseorang menjadi Muslim yang shalih dan shalihah.

Dari itu Rasulullah n memberi pujian yang sangat tinggi dan mulia bagi kaum Muslimin yang sibuk belajar dan mengajar Al Qur’an ditengah kesibukannya mencari rezki.

Beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَ

“Orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang belajar Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari)

Imam As Syafi’e Rahimahullah, berkata :

مَن أَرَادَ الدُّنيَا فَعَلَيهِ بِالعِلمِ وَمَن أَرَادَ الأَخِرَة فَعَلَيهِ بِالعِلمِ وَمَن أَرَادَ هُمَا مَعًا فَعَلَيهِ بِالعِلمِ

“Barangsiapa yang ingin meraih kejayaan dunia, haruslah dengan ilmu. Dan barangsiapa yang ingin meraih kejayaan dunia, haruslah dengan ilmu. Dan barangsiapa ingin meraih kejayaan dunia dan akhirat maka haruslah dengan ilmu.”

Dan beliau juga berkata:

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ السُّنَّةِ

“Menuntut ilmu itu lebih utama daripada shalat malam”

Imam Ahmad Rahimahullah berkata   :

وَلَولاَ العِلمُ لَكَانَ النَّاسُ كَالبَهَائِمِ، وَقَالَ النَّاسُ أَحوَجَ إِلَى العِلمِ مِنهُم إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ يَحتَاجُ إِلَيهِ فِي اليَومِ مَرَّتَينِ أَو ثَلاَثًا، وَالعِلمُ يَحتَاجُ إِلَيهِ كُلَّ وَقتٍ

“Kalaulah bukan karena Ilmu, maka manusia tak ubahnya seperti binatang. Kemudian beliau berkata, ‘Manusia lebih menghajatkan ilmu daripada hajat mereka kepada makanan dan minuman, oleh karena manusia membutuhkan makanan dan minuman dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu mereka butuhkan setiap waktu.”

Dalam riwayat yang lain beliau berkata,

اَلنَّاسُ إِلى العِلْمِ أَحوَجَ مِنْهَمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ ، لأَنَّ الرَّجُلَ يَحْتَاجُ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيْوْمِ مَرَّةً أوْ مَرَّتَيْنِ ، وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بَعَدَدِ اَنْفَاسِهِ

“Manusia itu lebih membutuhkan ilmu daripada makan dan minum, karena seseorang itu butuh makan dan minum sekali atau dua kali sehari, sedangkan ilmu itu dibutuhkan setiap kali hembusan nafasnya.” (Madarijus Saalikin)

 

  1. Mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh

Islam merupakan ajaran yang sempurna, indah, terpuji dan menyeluruh. Akan tetapi keindahannya tidak akan terlihat nyata jika diamalkan secara partial. Aqidah Islam akan terlihat indah jika diatasnya tegak syari’ah, dan syari’ah akan menjadi mulia jika ditopang oleh aqidah yang lurus. Dan aqidah yang lurus dan syari’ah yang mulia sudah pasti membuahkan akhlaq yang mulia. Inilah kesempurnaan hubungan ketiga bagian dari aqidah, syari’ah dan akhlaq, maka jika salah satunya diabaikan dan dilepaskan dari padanya maka akan hilanglah keindahan seluruhnya. Dari itu Allah I yang mengetahui hakekat kemuliaan Dien ini memerintahkan supaya ummat Islam mengamalkan Islam secara kaaffah atau Syumul atau menyeluruh, agar menjadi berjaya dan mulia.

Allah I berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah: 208)

Sejarah telah mencatat, bahwa kaum yahudi telah dikutuk dan dilaknat oleh Allah I karena menerima sebagian ayat dan menolak sebagiannya. Dan kehinaan ini akan ditimpakan kepada kaum Muslimin jika mereka ikut langkah yahudi menerima dan mengamalkan sebagian ayat dan menolak sebagian ayat lainnya. Allah I berfirman:

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah, 2: 85)

  1. Sumber Rujukan mereka hanyalah Al Qur’an dan Sunnah

Rasulullah n telah berwasiat kepada ummatnya agar benar-benar berpegang teguh kepada dua sumber ilahi ini dengan satu garansi atau jaminan tidak akan sesat selama-lamanya.

Dari Ibnu Abbas t, bahwasannya Rasulullah n ketika khutbah wada’, beliau bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ وَلَكِنْ رَضِيَ أَنْ يُطَاعَ فِيْمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تَحَاقَرُوْنَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَاحْذَرُوا . إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَداً : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ .

Sesungguhnya syaitan itu telah putus asa, bahwa ia akan disembah di tanahmu ini, tetapi ia ridha dita’ati pada selain demikian dari apa-apa yang kamu anggap rendah dari -amal perbuatan kamu, maka dari itu hati-hatilah kamu. Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kamu, jika kamu berpegang teguh kepadanya, maka tidaklah kamu akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim)

Itulah prinsip yang tidak boleh dilanggar oleh setiap Muslim yang telah rela Islam sebagai diennya, dan begitu pulalah keyakinan yang wajib dimiliki dan tidak boleh berseberangan dengan yang demikian itu. Walaupun begitu tegasnya rumusan di atas, masih ada juga sebagian kaum muslimin yang tidak merasa cukup dengan dua sumber tersebut, dengan berbagai hujjah dan alasan mereka coba membenarkan tindakan mereka selanjutnya mencari sumber selain keduanya. Terhadap kaum Muslimin yang bersikap demikian, penjelasan berikut sangat penting baginya.

Dari Yahya bin Ja’dah t berkata: Telah datang orang-orang dari kaum muslimin dengan membawa beberapa catatan yang mereka tulis di dalamnya sebagian yang telah mereka dengar dari kaum Yahudi, maka Rasulullah n bersabda: “Telah cukup kedunguan atau kesesatan suatu kaum, karena mereka tidak menyukai apa yang telah didatangkan Nabi mereka kepada mereka, kepada apa yang telah didatangkan oleh lainnya kepada selain mereka.” Maka turunlah ayat: “Tidaklah cukup bagi mereka, bahwa sesungguhnya Kami telah menurunkan atas engkau (Muhammad) al Kitab (al Qur’an) itu, yang dibacakan kepada mereka, sesungguhnya yang demikian menjadi rahmat dan pengertian bagi orang-orang yang beriman Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi, dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka Itulah orang-orang yang merugi..” (QS. Al Ankabuut, 29: 51-52)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al Ash t berkata, Rasulullah n pernah bersabda;

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ.

“Tidak sempurna iman seseorang kamu sehingga keinginannya menurut kepada apa yang aku datangkan kepadanya.” (HR. Al Hakim)

Dari Abdullah bin al Harts berkata, Rasulullah n pernah bersabda:

لَوْ نَزَلَ مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِي لَضَلَلْتُمْ ، أَنَا حَظُّكُمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَأَنْتُمْ حَظِّي مِنَ الأُمَمِ.

“Seandainya Nabi Musa turun, lalu kamu sekalian mengikutinya dan meninggalkan aku, tentu sesatlah kamu. Aku bagi kamu daripada Nabi-nabi dan kamu sekalian bagiku daripada ummat-ummat.” (HR. Al Baihaqi)

Dari Jabir bin Abdillah t berkata, Rasulullah n pernah bersabda:

 لَوْ كَانَ مُوْسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهَرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعْنِي.

“Seandainya Nabi Musa hidup di antara kamu sekalian, tidaklah dia memperkenankanmu melainkan ia mengikut kepadaku.” (HR. Ahmad)

 

  1. Mereka adalah orang-orang yang tegar dan berani dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar dan berjihad fisabilillah

Mereka benar-benar meyakini bahwa syarat kebaikan ummat ini ialah  dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar dan berjihad dijalan Allah. Allah berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran. 3 : 110)

Dan apabila manusia menolak serua-Nya, bahkan orang-orang yang mengaku Muslim dan Mukmin telah meninggalkan syari’ah Islam dan memilih hukum jahiliyah (Demokrasi) untuk menggantikan syari’ah Islam, ketika itulah Allah akan utus  para mujahidin untuk melawan dan memerangi mereka supaya finah diniyah berhenti dan tegaklah syari’ah Islam.

Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maidah, 5 : 54)

Dan para pelaksananya, mendapat pujian yang setinggi-tingginya sebagai hamba-hamba Allah yang paling tinggi derajatnya disisi  Nya. Allah I menawarkan jual beli yang mahal dengan bayaran surga bagi mereka yang berhasil melaksanakan perjanjiannya dengan sempurna:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111).

Harga jualan mereka ialah surga dan aktivitas hidup mereka ialah berjihad dijalan Allah (membunuh atau dibunuh), itulah ketetapan Allah didalam Taurat, injil dan Al Qur’an. Barangsiapa tidak mengikuti jalan hidup mereka, tidak akan mendapat kemuliaan sebagaimana mereka dapatkan. Allah I berfirman:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa: 95-96)

  1. Penerapan syari’ahnya dalam institusi negara

Sejak zaman Rasulullah n, para shahabat Ra, hingga beberapa abad setelahnya Islam diamalkan dalam bentuk konstitusi dan mereka Ra memerintah negara dengan syariat Islam.  Sebelum Nabi Muhammad n diutus, Allah I perintahkan kepada Nabi Daud As untuk melaksanakan syari’ah Allah I.

”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shad, 38 : 26)

Nabi-nabi dan Rasul-rasul bani Israil diperintahkan untuk berhukum dengan hukum Allah I:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah, 5:44)

Dan firman Nya lagi:

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Maidah, 5: 47)

Para Rasul-rasul Allah I, semuanya memahami benar bahwa mengambil syari’at selain Islam adalah sia-sia dan batil dan tidak diterima oleh Allah I.

“Dan barang siapa mencari Syari’ah selain syari’ah Islam maka sekali-kali tidak diterima dari padanya, dan dia diakhirat termasuk orang yang merugi.” (QS Ali Imran 3:85)

Dan demikian pula Nabi Muhammad n diperintah Allah untuk menegakkan hukum Allah I kepada seluruh manusia dan dilarang mengikuti hukum-hukum selainnya.

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maaidah: 49-50)

Dengan memahami ayat-ayat diatas, maka Islam akan tegak dan ummatnya akan menjadi mulia dengan penerapan syari’ah Allah I, karenanya solusi satu-satunya untuk kemuliaan ummat manusia hanya dengan penerapan syari’ah Allah saja.

الله أكبر… الله أكبر… ولله الحمد

Muslimin dan Muslimah Yang dirahmati Allah.

 

  1. Mereka adalah orang-orang yang siap berqurban harta dan jiwa untuk menegakkan kalimah Allah

Sejarah orang-orang besar tidak pernah lepas dari perjuangan dan pengorbanan, begitu juga dengan kemenangan dan kemuliaan yang dicapai umat islam selama ratusan abad. Bukti-bukti sejarah orang besar tampak pada seorang Abu Bakar As Shidiq t yang telah menginfakkan seluruh hartanya untuk menegakkan syiar Allah. Umar bin Khattab t, Abdurrahman bin Auf t dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang mengadakan transaksi kepada Allah I dengan perniagaan yang besar, yaitu untuk tegaknya syariat dan hukum Islam di muka bumi. Sebagaimana firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?, (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Ash Shaf: 10-13)

Dengan mengetahui sebab-sebab kemuliaan umat Islam dimasa dahulu maka membangkitkan umat dimasa mendatang adalah satu kelaziman atau keniscayaan bagi para da’I dan mujahid,kembali kepada sumber yang murni dan bersih yaitu mengikuti metode ilahiyah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,itulah satu-satunya metode yang akan menjemput pertolongan dan kemenangan yang dijanjikan oleh  Nya kepada umat Islam.

 

SEBAB KEMUNDURAN DAN KEHINAAN UMAT ISLAM

Setelah memahami tentang sebab-sebab kejayaan dan kemuliaan ummat Islam dahulu, sudah selayaknya kita bertanya adakah sebab-sebab itu masih ada ditengah kehidupan kaum Muslimin pada hari ini?. Jika masih ada mengapa kondisi umat ini tidak seperti kemuliaan yang dahulu pernah dicapainya dan bahkan hampir seluruh kemuliaan tersebut sirna. Apakah telah terjadi  perkara-perkara yang  sebaliknya daripada perkara-perkara diatas.?

Dibawah ini di paparkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ulama yang bernama Syeikh Amier Syakib Arsalan didalam bukunya, ‘limadza taakhkharal muslimin wa taqaddamu ghairihim’ (mengapa kaum muslimin terbelakang dan selain mereka mengalami kemajuan?), Ini lah  sebab-sebab kemunduran dan kehinaan umat Islam atas bangsa-bangsa yang lain.

 

1.   Kerapuhan iman dan kebodohan (kejahilan)

Iman yang shahih adalah yang bersih dari kedzaliman atau kesyirikan,dan inilah syarat pertama datangnya kemenabgan dan pertolongan Allah I. Allah I berfirman:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am, 6: 82)

Keamanan adalah buah dari kejayaan dan kemenangan. Orang yang kalah lalu terhina dibawah telapak kaki musuh tidak akan pernah merasakan kebebasan apalagi kebahagiaan dan keamanan. Maka penyebab terbesar dan terpenting yang membawa kehinaan dan kemunduran umat islam adalah kerapuhan iman dan kebodohan. Karena dapat menyebabkan mereka tidak memiliki pegangan  (prinsip) hidup yang benar dan tidak dapat membedakan antara haq dan batil, ittiba’ sunnah dan bid’ah, antara halal dan haram lalu menerima perkataan kosong dan bohong atau syubhat dan batil yang seakan-akan keharusan bagi mereka untuk menerimanya, dan mereka tidak kuasa menolaknya karena kebodohannya. Keadaan seperti ini disebabkan pusat perhatian mereka tertumpu kepada kesibukan dunia semata sehingga tidak peduli terhadap ilmu dan agama. Dari Muadz t, Rasulullah n bersabda:

أَنْتُمُ اْليَوْمَ عَلىَ بَيِّنَةٍ مِنْ رَّبِّكُمْ، تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَتُجَاهِدُوْنَ فيِ اللهِ، ثُمَّ يَظْهَرُ فِيْكُمُ السَّكْرَتاَنِ: سَكْرَةُ حُبِّ اْلجَهْلِ وَسَكْرَةُ حُبِّ الْعَيْشِ، وَسَتَحَوَّلُوْنَ عَنْ ذَالِكَ فَلاَ تَأْمُرْوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَلاَ تَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَلاَ تُجَاهِدُوْنَ فيِ اللهِ، اَلْقَائِمُوْنَ بِالْكِتاَبِ وَالسُّنَّةِ لَهُمْ أَجْرُ خَمْسِيْنَ صَدِيْقاً. قاَلوُاْ : ياَرَسُوْلَ اللهِ، مِناَّ أَوْ مِنْهُمْ؟ قاَلَ: لاَ، بَلْ مِنْكُمْ.

“Kalian pada hari (masa) ini diatas bukti dari Tuhan, kalian memerintahkan kepada kebajikan dan melarang daripada kejahatan, dan kalian juga berjuang membela agama Allah, kemudian akan lahir (timbul) diantara kalian dua hal yang membuat kalian mabuk, mabuk cinta karena bodoh dan mabuk cinta karena kehidupan yang mewah dan kedua hal itu menjadikan kalian berpindah haluan, lalu kalian tidak lagi memerintahkan kepada kebajikan dan tidak bertindak melarang kejahatan, dan tidak pula berjihad membela agama Allah. Pada hari itu orang- orang yang menegakkan agama dengan kitab dan sunnah, bagi mereka pahala lima puluh orang yang membenarkan kebenaran”. Para sahabat bertanya:”Ya Rasulullah, adakah dari golongan kami ataukah daripada golongan mereka?” beliau menjawab: “Tidak, bahkan dari  golongan kalian.” (HR. Abu Nu’aim)

 

2.    Pengetahuan agamanya tanggung

Di antara sebab penting lainnya yang menyebabkan kemunduran bagi umat Islam adalah kurangnya pengetahuan terhadap agama. Maksudnya bukan tidak berpengetahuan agama sama sekali, tetapi pengetahuannya tanggung. Hal ini sebenarnya lebih menghkhawatirkan  daripada kebodohan yang biasa. Karena orang yang bodoh, apabila Allah telah beri kepadanya seorang penuntun (penunjuk jalan) yang jujur dan mengerti  pasti segera ia tunduk kepada penuntunnya dan tidak memutar-balikkan fakta untuk menyangkalnya. Sedangkan orang yang berpengetahuan kurang (tanggung) sangat sulit untuk menerima kebenaran, apalagi pemahaman agamanya berdasarkan agama tradisi, bukan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, maka setiap kali diajak kepada Al-Qur’an dan Sunnah tentulah ia akan menolak dan lebih berat mengikuti tradisi nenek moyang. Kepada orang-orang yang menganut agama tradisi, Al-Qur’an menjelaskan:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: (tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. Apakah mereka akan mengikuti juga , walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah, 2: 170)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengitkuti apa yang telah diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, mereka menjawab: Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk.” (QS. Al-Maidah, 5: 104)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: (tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. “(apakah mereka akan mengikuti juga) , walaupun  syetan itu menyeru  mereka kedalam siksa api yang menyala-nyala (neraka) ?” (QS. Luqman, 31: 21)

Bahaya akibat pengetahuan agama yang tanggung ini sangat buruk dan fatal  sebagaimana  perkataan seorang pujangga:

اِبْتِلاَؤُكُمْ بِمَجْنُوْنٍ خَيْرٌ مِنْ اِبْتِلاَئِكُمْ بِنِصْفٍ مَجْنُوْنٍ

“Kamu dapat bahaya penyakit gila itu lebih baik daripada kamu mendapat bahaya penyakit setengah gila.”

Syeikh Amier Arsalan berkata:

اِبْتِلاَؤُكُمْ بِجَاهِلٍ خَيْرٌ مِنْ اِبْتِلاَئِكُمْ بِشِبْهٍ جَاهِلٍ

“Kamu dapat  bahaya penyakit bodoh itu lebih baik dari pada bahaya penyakit serupa bodoh (pandir,orang yang berlagak pandai)”

Maksud perkataan ini ialah bahwa orang yang bodoh itu lebih baik daripada orang yang serupa orang pandai, karena orang yang serupa atau yang pura-pura sebagai orang pandai selalu mengaku dirinya orang pandai padahal dia sesungguhnya adalah orang yang sangat bodoh. Dalam lingkungan masyarakat Islam saat ini, memang sebahagian besar demikian. Oleh sebab itu, perlakuan seperti ini haruslah dijauhi dan ditinggalkan dan haruslah dididik sehingga benar-benar menjadi orang yang memahami agama berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

3.   Rusaknya akhlak dikalangan kaum Muslimin

Di antara sebab penting yang menyebabkan kemunduran bagi umat Islam adalah kerusakan Akhlak (budi pekerti atau moral) yaitu hilangnya perangai yang diperintahkan oleh Al-Qur’an, dan kuatnya keinginan untuk meneruskan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang dilakukan oleh nenek moyang, dan kebiasaan orang-orang yang kafir. Karena kebodohan dan kurangnya pengetahuan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah lalu memandang baik perangai orang-orang kafir kemudian merasa perlu untuk dimasukkan kedalam budaya sosial kaum Muslimin, akhirnya perangai mereka benar-benar mengikuti adat kebiasaan kaum kuffar dan musyrik. Perangai seperti inilah yang disinyalir oleh Rasulullah n dalam sabdanya:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَن؟

“Bahwa sesungguhnya kamu sekalian akan mengikuti cara-cara hidup orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Sehingga kalaupun mereka masuk lubang biawak, kalianpun benar-benar akan mengikuti mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Benarlah apa yang diungkapkan oleh seorang pujangga bernama Syauqy Bey:

وَإِنَّمَااْلأُمَمُ الأَخْلاَقُ ماَبَقِيَتْ * فَاِنْ هُمُوْا ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا

“Sesungguhnya umat-umat itu tidak lain melainkan akhlaq (budi pekerti). Selama budi pekerti itu tetap ada pada satu umat, maka umat itu tetap ada. Dan jika budi pekerti mereka itu lenyap, maka mereka itupun lenyap.”

 

4.   Rusaknya perilaku para pemimpin bangsa dan agama

Penyebab pokok yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran umat islam, ialah bejatnya moral dan kerusakan budi para pemimpin bangsa dan pemimpin agama.

Padahal sebenarnya Islam telah memerintahkan kepada para ulama supaya berani bertindak meluruskan kebengkokan para pemimpin dan pemuka pemerintahan. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, para ulama yang demikian itu digantikan oleh para ulama yang berperilaku suka menjadikan ilmu pengetahuan keagamaan mereka untuk mata pencaharian semata, menjadikan agama mereka sebagai perangkap keduniaan sehingga membolehkan para pemimpin untuk membinasakan dan melenyapkan batas-batas agama dengan fatwa mereka yang dikatakannya bersumber dari agama.

Daripada itu, masyarakat banyak yang menyangka bahwasanya fatwa para ulama itu benar dan pendapat mereka itu sesuai dengan syari’at, padahal sebenarnya karena perbuatan mereka itulah kerusakan bertambah besar, kebaikan semakin sirna, kebejatan moral merajalela. Sehingga, apabila ada seorang yang berani mengubah atau meluruskan keadaan yang bengkok itu, seketika itu mereka melakukan provokasi, tindakan kejam kepadanya dengan mencerca, memfitnah,  bahkan membuat rekayasa jahat untuk memasukkannya ke dalam penjara, atau membunuhnya supaya menjadi contoh bagi yang lainnya agar jangan sampai ada yang berani mengubah segala macam perbuatan jahat dan keji yang biasa mereka kerjakan.

Inilah para ulama yang berperangai suka mendekatkan diri kepada para penguasa dan pejabat pemerintahan atau para raja yang selalu dalam kesenangan dan kemewahan hidup, yang suka memberikan fatwa kepada raja, yang membolehkan mereka membunuh orang yang berani memberi nasihat, meluruskan yang bengkok dan sesat, bahwa mereka adalah seorang yang berani melanggar ketaatannya dan merongrong kekuasaannya. Ulama-ulama seperti inilah yang dijelaskan Al-Qur’an di dalam surat Al-‘Araf: 175-177.

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang-orang yang berikan kepada mereka ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab) kemudian ia melepaskan dir dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syetan (sampai ia tergoda) maka jadila ia termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki sesungguhnya kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkanya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.”

Berkata Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya: Berkata Ibnu Mas’ud RA, orang itu bernama Bal’aan bin Baa’auraa” dari Bani Israil, dan Ibn Abbas RA mengatakan demikian juga. Pada mulanya Allah I memberikan ilmu dan pemahaman tentang ayat-ayat Nya (kitab Taurat) kemudian dia mengabaikan dan meninggalkannya. Malik bin Dinar berkata: Orang itu termasuk ulama Bani Israil yang mustajab doanya, bahkan ditonjolkan tiap-tiap kali menghadapi musibah dan kesukaran, diutus oleh nabi Musa ke raja Madyan untuk mengajaknya masuk Islam dan menyembah Allh I, tiba-tiba di diberi tanah, lalu dia murtad lalu menganut agama raja. Dalam kisah lain Raja menikahkannya dengan perempuannya, lalu dia murtad.

Seorang mufassir bernama: Al Imam Fakhrurrozi berkata : Sekiranya ayat tersebut diungkap menurut zahirnya niscaya dikatakan, ‘Sekiranya kami kehendaki niscaya kami tinggikan dia, akan tetapi kami tidak menghendakinya.. (sebab dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya). Maksudnya: Sesungguhnya dia berpaling dari berpegang teguh terhadap apa-apa yang didatangkan Allah berupa ayat-ayat-Nya dan dia malah mengikuti hawa nafsu. Maka pasti dia jatuh kepada jurang kehinaan. Dan ayat ini adalah ayat yang paling keras terhadap para cendikiawan, dan ahli ilmu, karena Allah I sesudah menentukan orang ini dengan ayat-ayat dan penjelasannya, mengajarkan kepadanya nama Allah yang agung, dan juga menentukannya dengan do’a-do’a yang mustajab, tatkala dia mengikuti hawa nafsunya, maka terlepaslah dia dari dien dan derajatnya jatuh ke derajat anjing (ini adalah perumpamaan yang sangat jelek sekali), dan yang demikian itu menunjukkkan bahwa setiap orang yang mendapat banyak nikmat Allah, jika dia berpaling dari mengikuti petunjuk dan berbalik mengikuti hawa nafsu, maka jauhnya dari Allah lebih besar. Keadaan orang ini diisyarahkan oleh sabda Nabi n :

مَنِ ازْدَادَ عِلْماً ، وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَم يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً

“Barangsiapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah petunjuknya, niscaya dia tidak mendapat tambahan dari Allah kecuali semakin jauh daripada-Nya.” Atau dengan lafazh yang semakna dengan ini.

{ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الكلب إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث} قَالَ اللَّيثُ : اللَّهثُ هُوَ أَنَّ الكَلبَ إِذَا نَالُهُ الإِعيَاءِ عِندَ شِدَّةِ العَدوُ وَعِندَ شِدَّةِ الحَر

Allah I berfirman:maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).’ Al Laits berkata, al lahtsu yaitu bahwa seekor anjing apabila menemukan mangkuk pada saat berkecamuknya perang dan pada saat panas yang menyengat.’

 

5.   Sifat penakut dan pengecut

Sesungguhnya sifat pengecut dan takut yang keduanya telah menimpa sebagian besar umat islam, sudah menyatu dengan sifat putus asa dan putus harapan dari rahmat Allah. Dan orang yang berputus asa dijauhkan dari rahmat Allah sebagaimana firman Nya:

”…Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.(QS. Yusuf, 12: 87)

Umat islam mengetahui bahwa bangsa Eropa tidak gentar menghadapi umat islam, dan mereka (bangsa Eropa) menganggap bahwa kematian bukanlah apa-apa demi kemajuan bangsa mereka, namun mengapa tidak ada keinginan dan hasrat yang sama pada umat islam untuk melakukan hal yang sama demi agamanya? Bahwa sesungguhnya kita umat Islamlah yang lebih berhak atas mereka (bangsa Eropa). Sebagaimana firman Allah I:

“Dan janganlah kamu sekalian merasa lemah dalam mengejar kaum (lawanmu), karena jikalau kamu merasa sakit, maka sesungguhnya merekapun merasakan sakit juga, sebagaimana sakit yang kamu rasakan; padahal kamu sekalian mengharapkan (pertolongan) dari Allah yang mereka tidak mengharapkan itu.” (QS. An-Nisa, 4: 104)

Ketakutan dan kekecutan umat Islam yang demikian tidaklah ada habisnya, bahkan semakin hari semakin bertambah. Lantaran ketakutan dan kekhawatiran yang menyelubungi dada umat islam itu sendirilah  yang mengalahkan umat islam. Seperti kata seorang penyair arab:

يَرَى الْجُبَنَاءُ أَنَّ الْجُبَنَ حَرَمٌ وَتِلْكَ خَدِيْعَةُ الطَّبَعِ اللَّئِيْم

“Para penakut itu memandang, bahwa takut itu kebijaksanaan padahal yang demikian itu tipu daya dan tabi’at rendah & hina.”

Ketakutan yang berlebih-lebihan seperti inilah yang pernah disinyalir oleh Rasulullah n dengan sabdanya:

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Hampir saja bangsa-bangsa mengeroyok kalian (ummat Islam), seperti bersatunya orang memperebutkan hidangan makanan di atas nampan. Berkata salah seorang: “Apakah karena jumlah kami minoritas waktu itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian saat itu mayoritas, akan tetapi seperti buih di atas air bah dan sungguh Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Allah mencampakkan ke dalam hati-hati kalian “Wahn”, seorang sahabat bertanya: “Apakah Wahn itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud No. 3745)

Dalam riwayat lain disebutkan:

يُوْشِكُ عَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلىَ قَصْعَتِهَاـ فَقَالَ قَائِلٌ: أَوَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَسَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ  مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ فيِ قُلُوْبِكُمُ اْلوَهَنَ. قاَلَ قَائِلٌ: ياَرَسُوْلَ اللهِ وَمَا اْلوَهَنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Hampir tiba saatnya persatuan bangsa-bangsa mengerubut atas kamu sekalipun seperti bersatunya orang-orang yang merebut hidangan yang ada di pinggannya”. Maka ada seorang berkata: “Apakah dari sedikitnya keadaan kita pada masa itu?” beliau bersabda: “bahkan engkau pada hari itu banyak, tetapi engkau seperti sampah diatas air bah. Dan Allah akan mencabut dari dada-dada musuhmu -rasa- ketakutan kepada kamu, dan dia akan mencampakkannya (menanam) di dalam hati-hatimu “al-wahn”. Lalu –ada seorang yang berkata: “Ya Rasulullah, apakah “wahn” itu? “Beliau bersabda, “cinta dunia dan benci akan mati.”

Dalam hadits ini telah jelas bahwa suatu masa akan tiba saatnya bagi umat Islam, yang mereka itu diumpamakan menjadi sebuah hidangan besar yang direbut dari segenap jurusan oleh beberapa bangsa yang lain, yang sengaja mengulurkan tangan mereka untuk memakan atau menerkam mereka. Masa kita sekarang inilah yang dimaksudkan. Karena, cacat dan kejelekan umat pada masa sekarang ini bukan karena dari sedikitnya bilangan, bahkan bilangan atau jumlah umat islam telah cukup banyak, hanya besarnya jumlah atau banyaknya bilangan itu sedikit pun tidak akan berguna, jika tidak disertai dengan kebaikan. Beberapa banyak angka tidak akan berarti apa-apa jika tidak dengan pengaturan atau pengetahuan agama yang diamalkan dengan cara yang baik dan nyata. Dan sehebat-hebat penyakit yang menimbulkan kelemahan umat Islam yang ada pada sekarang ini, ialah “takut” (pengecut) dan “kedekut” (bakhil). Dengan demikian, jelaslah arti sabda Nabi n: “Lantaran dari kecintaan kamu kepada dunia dan kebencian kamu kepada mati.”

Dan selain itu, dapat dipahami bahwa sesungguhnya “cinta dunia” itu dapat menjauhkan manusia dari merasakan kenikmatannya; dan berlebihan dalam mencintai kehidupan itu akan mengakibatkan tambahnya kecelakan dan kebinasaan. Yang demikian itu adalah sunnatullah yang tetap berlaku atas segenap makhluk-Nya atau undang-undang alam, sebagaimana yang biasa dikatakan pada dewasa ini.

Padahal, Al-Qur’an memerintahkan kepada orang Islam, agar memandang rendah akan dunia dan pesonanya, sehingga tidak memalingkannya dalam rangka meninggikan agama Allah, dan memerintahkan kepada orang islam, agar berhati tabah dan teguh, tidak mudah berputus asa, bersemangat baja dan tidak mudah goncang manakala menghadapi bahaya dan mendapati malapetaka. Dan hendaknya ia kembali membaca firman Allah I:

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)

Dan firman Nya

”Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. An Nisa 4: 104)

Demikianlah yang dikehendaki Allah, agar umat Islam seperti itu juga yaitu berani, tidak penakut, kuat dan tidak lemah, maju terus dan tidak mudah menyerah. Maka jika tidak demikian dengan nash Al Qur’an yang sejelas itu, bagaimanakah mereka akan memohon pertolongan kepada Allah supaya Dia menyempurnakan janji-Nya dengan memberi pertolongan yang berupa kemenangan, ketetapan, kebahagiaan, kesejahteraan dan ketentraman? Maka mari mengamalkan ayat ini:

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran 3: 139)

 

 

PENUTUP DAN DOA

 

Marilah kita memperbanyak istighfar dan taubat di samping amal-amal shalih yang lain, karena istighfar dan taubat merupakan penghapus kemurkaan Allah sebagaimana air memadam-kan nyala api yang sedang membara.

Apabila kemurkaan dan kemarahan Allah I reda, maka rahmat Allah I dan maghfirahnya akan menjelma sebagai pengganti dari kemurkaan dan kemarahan-Nya.

الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد . . .

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita semua berharap kepada Yang Maha Kaya, memohon perlindungan di depan gerbang keagungan-Nya, karena hanya Dialah yang dapat menganugerahkankesehatan jiwa, kesembuhan jasmani, yang memberikan kecukupan, Maha Menghidupkan dan mematikan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، اَللَّهُمَّ مَتِعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّاتِنَا ، مَاأَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلاَ تَجْعَل مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَمَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا . اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُلُوْبِنَا ، وَأَزْوَاجِنَا ، وَذُرِّيَّاتِنَا ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى مَحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Ya Allah, ya Tuhan kami, bagi-bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang kiranya dapat menghalang antara kami dan maksiat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi ta’at kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke surga-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi ta’at kepada-Mu; dan demi suatu keyakinan yang kiranya dapat meringankan beban musibah dunia kami. 

Ya Allah, ya Tuhan kami! Senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami untuk menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau menjadikan musibah kami ini mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami.

Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan, dan entaskanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi, dan berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami, istri-istri serta anak-anak kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kami di Bengkulu, Sidoarjo dan yang lainnnya, Engkau perlihatkan betapa kecil dan tidak berdayanya kami. dalam kepedihan akibat bencana ini, berikan kesabaran dan kekuatan serta hikmah yang dapat menjadikan kami sebagai hamba yang bertaqwa dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Jangan jadikan kami orang-orang yang zalim, yang tidak peduli pada derita sesama.

Amin, Ya Mujibassailin!.

What do you think?

Written by Ukasyah (Admin)

Comments

Leave a Reply

One Ping

  1. Pingback:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Antara Jihad, Ibadah Dan Menuntut Ilmu

Menelusuri sebab-sebab kemuliaan dan kehinaan Umat Islam