Al-Jama’atul Kubra Wal Jama’atul Sughra, Al-Jama’atul Kubra (Jama’atul Muslimin) Jama’ah besar, Al-Jama’atul Sughra (Jama’ah kecil) yakni grup, kelompok, atau kumpulan orang), Al-Imamah, Al-Imamatul Kubra adalah Negara Islam (Al-Khilafah).

Kepemimpinan Dalam Islam

Al-Jama’atul Kubra Wal Jama’atul Sughra, Al-Jama’atul Kubra (Jama’atul Muslimin) Jama’ah besar, Al-Jama’atul Sughra (Jama’ah kecil) yakni grup, kelompok,  atau kumpulan orang), Al-Imamah, Al-Imamatul Kubra adalah Negara Islam (Al-Khilafah).

Darul Islam di bawah kepemimpinan seorang Kholifah dikenal sebagai Jama’atul Muslimin atau dikenal sebagai khilafah (Negara Islam) atau masyarakat Islam yang besar, ketika umat muslim tidak memiliki Khalifah disebut dengan sebuah ummat, akan tetapi ketika mereka memiliki seorang khalifah maka disebut Jama’atul Muslimin. Khalifah adalah orang yang melaksanakan fungsi-fungsi kholifah yaitu menerapkan hudud, menerapkan hukum syar’i, menjaga ummat Muslim, jika dia tidak dapat mengerjakannya walaupun dia berniat untuk melakukannya di masa yang akan datang maka dia bukanlah kholifah, bukan Imam yang memiliki Imamah Ammah (kekuasaan secara umum) atas setiap orang yaitu memiliki mandat secara umum atas kekuasaan.

Al-Imamatul Al-Sughra dikenal sebagai Al Jama’atul Islamiyah (Jama’ah, grup, kelompok Islam), individu-individu bekerja secara kolektif di bawah kepemimpinan Amir, atau masyarakat Islam yang kecil, Amir dari grup ini tidak bisa menerapkan hudud,  itu hanya fungsi Kholifah Amir dari Jama’atul Muslimin.

Nabi SAW bersabda:

“Setiap orang dari kamu adalah orang yang memiliki gembalaan dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya…”

Tipe ini adalah Imam yang memiliki Imarah Khassah (mandat atau kekuasaan yang spesifik) atas orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Orang yang menolak Immamatul Sughra untuk alasan terbesar maka akan menolak juga Immatul Kubra (Khalifah), Mu’tazilah telah melakukan ini di masa lampau. Untuk memiliki Jama’atul Kubra kamu harus memiliki Jama’atul Sughra sebagai persyaratannya. Orang yang mengatakan bahwa dengan memiliki Jamaah-jamaah, kelompok-kelompok, atau grup-grup berarti terpisah-pisah dalam divisi-divisi dan tercerai berai. Hal ini adalah pemikiran yang dangkal dan yang benar adalah perkataan dari Ibnu Taimiyah:  “Tidak ada divisi-divisi kecuali masuk ke dalam topik-topik divisi-divisi dalam Tauhid dan divisi-divisi dalam Al-Wahdah (kesatuan dari umat di bawah satu kepemimpinan Khalifah). Penyebab dari kesatuan atau perpecahan adalah At-Tauhid, yaitu keesaan atas  nama-nama Allah, atribut-atribut (sifat-sifatNya) dan fungsi-fungsiNya.

Al-Wahdah adalah kesatuan dari umat di bawah kepemimpinan seorang Khalifah. Kamu tidak bisa mengatakan untuk menghentikan semua jama’ah-jama’ah yang ada dalam rangka memiliki sebuah jama’ah, itu hanya angan-angan belaka. Sebagai contoh sholat Jum’at bersama-sama dalam satu masjid adalah sesuatu yang baik, akan tetapi kamu tidak dapat mengatakan untuk menghentikan sholat jum’at di masjid lainnya hingga kita bisa ada dalam satu sholat jum’at bersama-sama.

Imam Syafi’i dalam pendengaran orang Mesir yaitu Laith Ibn Sa’ad, dia berkata lebih berpengetahuan dari pada Imam Malik, akan tetapi para pengikutnya tidak mengikutinya (secara keseluruhan) jadi dengan alasan itulah Imam Malik lebih berhasil dari pada Laith Ibn Sa’d walaupun beliau tidak sepandai anggapannya , karena para pengikutnya bekerja sama secara penuh dalam jama’ah.

Nabi SAW bersabda:

“Jika seseorang bepergian seorang diri, ada dua syaithon bersamanya, jika ada dua orang yang ketiganya adalah syaithon, jika ada 3 orang maka angkatlah Amir”.

Imam Syafi’i berkata: “Aku berkunjung ke Mesir untuk melihat Laith Ibn Sa’d, Wallahi Laitu Ibn Sa’d lebih faqh daripada Imam Malik, akan tetapi pengikut-pengikutnya tidak datang secara bersama-sama dan tidak mengemban pemikirannya secara tepat”. Imam Malik adalah Amir dari Ahlul Hadits.

Pada waktu terjadinya perang salib Khalifah tidak mampu mempertahankan  umat muslim, sehingga group-group (jama’ah-jama’ah) bangkit untuk mempertahankan mereka, Usama Bin Munqidh bukan seorang penguasa, dia adalah seorang penyair yang hidup bersama keluarganya dan mereka melihat orang-orang salib datang dan mulai membunuh umat muslim dan Khalifah menjadi seorang penakut, dia pergi mengetuk dari pintu ke pintu, ke semua keluarganya meyerukan jihad untuk bergabung sebagai sebuah jama’ah untuk berperang melawan orang-orang salib. Mereka bangkit dan bekerja secara kolektif untuk berperang melawan orang-orang salib sehingga mereka bisa dikeluarkan (diusir) dari daerah Asy Syam.

Salahuddin Al-Ayyubi, dia bukanlah Khalifah atau gubernur atau yang lainnya, dia hanyalah seorang individu yang bergabung bersama-sama dengan sebuah jama’ah untuk memerangi orang-orang salib, dia menghadap Kholifah dan ditawari untuk berjihad bersama groupnya melawan orang-orang salib. Nuruddin Al-Zinki, mereka menyebutnya Qa’id A’zam (pemimpin besar), akan tetapi dia bukanlah seorang penguasa atau gubernur atau menduduki posisi lainnya dalam kekuasaan.

Pada saat perang salib terjadi, dia menyeru umat untuk berjihad, dan menyerukan mereka untuk bergabung bersama-sama sebagai sebuah jama’ah dan mereka mengangkatnya sebagai Amir, akan tetapi bukan dari jama’atul Muslimin, dia bukanlah Khalifah, akan tetapi Amir dari groupnya untuk berperang melawan orang-orang salib. Nabi SAW menyerukan kepada orang-orang musyrik kepada Tauhid lalu mengatakan kepada mereka untuk meninggalkan sukunya dan keluarganya dan bergabung dalam jama’ah.

Nabi SAW bersabda:

“Umat seperti satu tubuh… ”

Orang –orang bertanya kepada Imam Hambal, siapakah kelompok yang sukses (kelompok yang selamat),

Nabi SAW bersabda:

“Akan selalu ada kelompok yang sukses (selamat)”.(HR. Muslim)

Ibnu Mas’ud berkata: “…Jama’ah… (adalah) walaupun kamu mulai dengan satu orang.” Eksistensi dari kelompok yang kecil perlu untuk menegakkan jama’atul Muslimin dan jika tidak ada maka tidak akan bisa menciptakan jama’atul Muslimin”.

Qadhi Iyaad dalam Syarh Muslim: Beliau mengutip ayat: [3:104]: “Jika ada penyimpangan yang terjadi pada penguasa, atau penerapan hukum kufur atau adanya bid’ah pada ummat, dia tidak lama memegang kekuasaan, dan menjadi haram untuk mematuhinya dan menjadi tugas atas jama’ah-jama’ah ummat Muslim untuk bangkit dalam rangka menurunkan jabatannya. “[Beliau menyebut kelompok-kelompok kacil tersebut dengan Ahlul Haq] [Syarh Muslim vol.12 hal 29].

Umar Ibnu Khattab meminta umatnya untuk membenarkan beliau jika beliau menyimpang, 3 orang laki-laki bangkit, laki-laki pertama berkata: “Aku akan mengoreksimu dengan pedangku” dan 2 orang lainnya berkata: “Kami mengoreksimu bersama-sama sebagai sebuah kelompok. Umar berkata: “Alhamdulillah karena dalam umatku aku memiliki orang-orang seperti kamu yang akan mengoreksi aku”.

Nabi SAW di Mekah bekerja dengan orang-orang Muslim bersama-sama untuk mengajak orang kepada Islam, itu bukanlah bentuk jama’atul Muslimin karena beliau tidak pernah mengambil Bai’at hingga tahun 10 H. Ibnu Hazm berkata: “Kami beriman bahwa Khalifah pertama adalah Abu Bakar As Shiddiq, kedua adalah Umar Ibnu Khattab, ketiga adalah Ustman bin Affan, dan yang keempat adalah Ali bin Abi Thalib, jika ada orang yang berbeda pandangan dengan pandangan ini maka mereka adalah kafir”.

Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak ada perpecahan kecuali dalam 2 hal yaitu dalam Tauhid dan perpecahan dalam memberontak melawan Kholifah” yaitu kelompok-kelompok tidak berpecah belah kecuali kalau mereka berbeda dalam Tauhid atau memberontak melawan negara.

Nabi SAW bersabda:

“…akan selalu ada group/jama’ah dari umatku yang akan (selalu) membela kebenaran (Al-Haq)…” (Ghurabaa’).

source: almuhajirun.net

Check Also

Mari Pahami Makna Al-Qur’an Dengan Pemahaman Yang Benar

Pada sabtu pagi (3/3/2012) pukul 04.05 wib kembali stasiun TV swasta MNC TV bersama Majelis Dzikir Az-Zikra pimpinan Ustadz …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.