in

Keberuntungan itu ada di satu malam ganjil ramadhan

sholat

(Abujibriel.com)—Ya ikhwani wa akhowatifillahi, tanpa terasa kita sudah berada di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, hari-hari dimana puncak peribadahan berada di dalamnya. Mari bersegera kepadanya dan meninggalkan sejenak rutinitas dunia yang seakan tiada habisnya merongrong waktu, energi, dan pikiran kita. Sebelas bulan sudah kita luangkan waktu untuknya, saatnya bersiaga meraih keuntungan yang nilainya hampir setara 83 tahun peribadahan. Subhanallah…

Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadar, 97:1-3)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa pertanyaan Allah Ta’ala dalam surat al-Qadr perihal apakah malam kemuliaan yang dimaksud adalah semata untuk menunjukkan tingginya kedudukan malam yang telah dikhususkan Allah Ta’ala dengan turunnya Al-Qur’an yang mulia tersebut. Allah Ta’ala juga mengabarkan kemuliaan berikutnya yaitu dengan turunnya para malaikat serta malaikat Jibril ‘alaihi sallam bersamaan dengan turunnya barakah dan rahmat-Nya.

Berikut beberapa hal yang berkaitan dengannya (lailatul qadar):

Keutamaan

Beramal di malam lailatul qadar lebih baik dari melakukan peribadahan selama lebih dari 83 tahun peribadahan di malam selain lailatul qadar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رِبَاطُ لَيْلَةٍ فَيْ سَبِيْلِ اللهِ خَيْرٌ مِن أَلْفِ لَيْلَةٍ مِمَّا سِوَاهُ مِنَ الِمَنَازِلِ.

artinya, “Tertambat semalam di jalan Allah adalah lebih baik daripada seribu malam ibadah dari perbuatan lainnya.” (HR. Imam Ahmad)

Begitu juga hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu yang meriwayatkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَ تَغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ النَارُ وَ تُغَلُّ الشَيْطَانُ فِيْه لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ.

artinya, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Di bulan itu Allah telah mewajibkan puasa kepada kalian, akan dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan akan dibelenggu. Padanya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tertahan untuk mendapatkan kebaikannya, dia akan tertahan untuk mendapatkan rahmat Allah.”

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

artinya, “Barangsiapa yang shalat malam lailatul qadar didasari iman dan berharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Waktu terjadinya

Setelah mengetahui fadhilah lailatul qadr, maka yang kita harus perhatikan berikutnya  yaitu kapankah terjadinya malam yang penuh keberkahan itu? Jangan sampai ini tak jadi perhatian kita sebab ia terjadi di satu waktu yang tersembunyi. Namun Alhamdulillah, kita bisa berjaga-jaga  pada malam-malam tertentu dengan dukungan adanya hadits-hadits shohih yang diantaranya adalah sebagai berikut;

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْتَمِسُوا (تَحَرَّوْا) لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

artinya, “Berusaha keraslah mencari lailatul qadar pada (malam-malam) sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)

Hadits  ‘Aisyah radliyallahu ‘anha berikutnya memperinci waktu di sepuluh hari tersebut, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

artinya, “Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Terdapat hadits yang diriwayatkan Ubadah bin Shamit tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِيْ الْعَشْرِ الْبَوَاقِي مِنْ رَمَضَانَ, مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حَسْبَتُهُنَّ فَإِنَّ اللهَ يَغْفِرُ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وّ هِيَ لَيْلَةُ وِتْرٍ تسْعٌ, سَبْعٌ, خَامِسَةٌ, أَوْ ثَالِثَةٌ.

artinya, “Malam qadar itu ada di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam tersebut dengan mengharap ridho Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni dosanya yang dahulu dan yang kemudian. Malam qadar itu ada pada malam-malam ganjil, yaitu ke-9, ke-7, ke-5, atau ke-3)”

Hadits riwayat Ubay bin Ka’ab radliyallahu ‘anhu berikut mengatakan bahwa ia (lailatul qadar) terjadi di malam ke-27,

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

artinya, “Demi Allah, sungguh aku mengetahuinya dan kebanyakan pengetahuanku bahwa dia adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kami untuk bangun (shalat) padanya, yaitu malam ke-27.” (HR. Muslim)

Demikian juga yang disampaikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu ‘anha,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

artinya, “Lailatul qadar adalah malam ke27.” (HR. Abu Dawud)

Namun, banyak silang pendapat mengenai penetapan waktu tersebut diatas, karena waktu terjadinya malam kemuliaan itu tidak melulu setiap tahunnya terjadi seperti hari yang telah ditetapkan pada hadits diatas (yaitu malam ke-27), akan tetapi bisa berubah-ubah setiap tahunnya, seperti yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dapatkan ia yaitu di malam ke-21.

Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نَسِيتُهَا أَوْ أُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ كُلِّ وِتْرٍ وَإِنِّي أُرِيتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ

artinya, “Sungguh aku telah diperlihatkan lailatul qadar, kemudian terlupakan olehku. Oleh sebab itu, carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur.

Pada hadits tersebut Abu Sa’id berkata, “Hujan turun pada malam ke-21 hingga air mengalir menerpa tempat sholat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seusai sholat aku melihat wajah beliau basah terkena lumpur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Ithaf al-Kiram, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri mengatakan, “Pendapat yang paling rajih dan paling kuat dalilnya adalah ia berada pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Ia bisa berpindah-pindah, terkadang di malam ke-21, kadang pada malam ke-23, kadang pada malam ke-25, kadang pada malam ke-27, dan kadang pada malam ke-29. Adapun penetapannya secara pasti, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ia (lailatul qadr) di malam ke-27, dan sebagaimana dalam beberapa hadits lain, ia berada di malam ke-21 dan malam ke-23, maka itu terjadi di tahun tertentu, tidak pada setiap tahun. Tetapi perkiraan orang yang meyakininya itu berlaku selamanya (setiap tahun), maka itu pendapat mereka sesuai dengan perkiraan mereka. Dan terjadi perbedaan pendapat yang banyak dalam penetapannya.”  

Wallahu ‘alam …

Uswah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sepuluh malam terakhir Ramadhan

Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di setiap sepuluh malam terakhir Ramadhan memusatkan segenap perhatiannya untuk melakukan peribadahan kepada-Nya sebagaimana ummul mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menyampaikan tiga buah sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

artinya, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat (beribadah) pada sepuluh hari terakhir, lebih daripada malam hari lainnya.” (HR. Muslim)

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَيْ الْعَشْرُ الْأَخِيرَةُ مِنْ رَمَضَانَ, شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

artinya, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila sudah masuk sepuluh –maksudnya sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

أَنَّ النَّبِىَّ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

artinya, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah yang Maha Mulia mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Muslim)

Begitu juga Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

artinya, Barangsiapa yang menunaikan sholat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka hendaklah kita tingkatkan ibadah kepada Allah azza wa jalla dengan beberapa amalan seperti berikut;

  1. Beri’tikaf di masjid jami’ sampai akhir Ramadhan,
  2. Memperbanyak shalat malam,
  3. Memperbanyak tilawah Al-Qur’an, mengkhatamkan, dan memahaminya,
  4. Memperbanyak berzikir, baik secara lisan maupun dengan hati,
  5. Memperbanyak sedekah,
  6. Memperbanyak do’a, terutama do’a meminta ampunan-Nya.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia pernah bertanya tentang suatu do’a, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau kalau aku mengetahui lailatul qadar pada suatu malam? Apa yang harus aku ucapkan didalamnya?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

artinya, Ya Allah, sesungguhnya Engkau suka kepada kemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)

 

Ya ayyuhal ikhwani wa akhowatifillahi, lailatul qadar yang membawa keberkahan melebihi peribadahan selama seribu bulan tersebut merupakan salah-satu tanda kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada para hamba-Nya yang wajib kita yakini. Hanya hamba-hamba-Nya yang bersemangat dan bersungguh-sungguh lah yang berkesempatan memperolehnya. Ia diturunkan sebagai salah-satu washilah dalam menambah bekalan pahala bagi hamba-Nya yang ‘sarat’ akan dosa dan khilaf.

Mudah-mudahan kita memiliki kemampuan dalam menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan sesuai sunnah Rasul-Nya dan menjauhkan diri dari menghidupkan kemaksiatan yang masih beredar di sekeliling kita. Fastabiqu al-khairat. Insyaa Alllah wallahu al-Musta’an…

Demikian dan semoga bermanfaat.

What do you think?

Written by Zaid

Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Abu Darda, tidak ingin dunia melalaikan ibadahnya

Makalah khutbah Idul Fitri 1434h: Islam Meningkatkan Harkat dan Martabat Manusia