in

Ja’far bin Abu Thalib, Sosok Cerdas Sang Jubir Islam

sahabat

(Abujibriel.com)—Ya ayyuhal ikhwah, ditengah hiruk-pikuknya dunia dan beragam aktifitas,serta ribuan pola pikir manusia yang kita saksikan sehari-hari—adakalanya kita akan merasa terkungkung akan perihal ini. Namun sebagai seorang muslim, sepatutnya kita berbahagia, karena bisa senantiasa beroleh petunjuk melalui kalamullah dan sunnah-sunnah rasul-Nya. Demikian pula dengan cerminan kepribadian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang dapat kita tarik ibroh darinya guna memperbaiki kepribadian kita dalam berislam yang sesungguhnya. Berikut satu kisah yang insyaa Allah memberikan uswah di tengah krisis keteladanan jaman ini…

Dalam keluarga Abdi Manaf terdapat lima orang lelaki yang memiliki kemiripan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang yang rabun matanya sering keliru membedakan antara Rasulullah dengan kelima mereka ini. Kelima orang lelaki tersebut adalah:

1. Abu Sufyan ibn al-Harits ibn Abdul Muthalib, putra paman Rasulullah dan juga saudara sepersusuan.

2. Kutsam ibn Abbas ibn Abdul Muthalib, putra paman Rasulullah.

3. As-Saib ibn Ubaid ibn Abdu-Yazid ibn Hasyim, kakek Imam Syafi’i.

4. Hasan ibn Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah yang diantara keempat orang yang paling memiliki kemiripan dengan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

5. Ja’far ibn Abu Thalib, adik amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib.

Syahdan, Abu Thalib memiliki kedudukan yang tinggi diantara orang-orang Quraisy, juga diantara keluarganya, tetapi kondisi eonominya lemah, lagipula banyak anaknya. Keadaannya makin parah ketika kemarau melanda. Pertanian tak keluar hasilnya dan orang-orang terpaksa makan tulang-tulang kering. Di kalangan bani Hasyim, hanya Muhammad ibn Abdullah dan pamannya, Abbas, yang masih bisa hidup layak.

Berkatalah Rasulullah kepada Abbas, “Wahai paman, saudara paman—Abu Thalib, banyak anaknya dan mereka sekarang menderita akibat paceklik. Bagaimana kalau kita ikut meringankan bebannya? Aku akan memelihara satu dari anak-anaknya dan paman juga ambil satu.”

“Ajakanmu teramat mulia dan mendorong manusia pada kebajikan,” kata Abbas. Keduanya lalu mendatangi Abu Thalib dan mengutarakan maksudnya, “…kami ingin meringankan bebanmu sampai keadaan pulih kembali.”

Jawab Abu Thalib, “Kalian boleh mengambil siapa saja. Hanya Aqil yang kuperlukan.” Rasulullah mengambil Ali, sedangkan Abbas mengambil Ja’far.

Kedua anak itu diasuh dengan baik seperti anak mereka sendiri. Sampai Muhammad (Rasulullah) diutus Allah membawa agama hidayah yang haq, Ali tetap tinggal bersamanya. Dialah anak-anak pertama yang beriman, sedangkan Ja’far ikut pamannya, Abbas juga sampai dewasa dan juga masuk Islam.

Ja’far bergabung ke dalam barisan cahaya iman bersama istrinya, Asma binti ‘Umair sejak awal. Mereka berdua masuk Islam di tangan ash-shiddiq sebelum Rasulullah masuk Darul Arqam. Pasangan muda itu juga tak luput dari siksaan dan penganiayaan orang-orang Quraisy, tetapi mereka tetap sabar. Keduanya paham benar bahwa jalan menuju surga itu penuh dengan rintangan dan segala sesuatu yang tidak menyenangkan.

Satu hal yang membuat pasangan ini bersedih dan juga para sahabat yang lain yakni adalah bahwa suku Quraisy juga menghalangi mereka untuk melakukan ibadah dan menjalankan syari’at Islam. Mereka dilarang merasakan nikmat ibadah dan selalu diawasi secara dekat.

Akhirnya Ja’far meminta ijin kepada Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah bersama istri dan beberapa sahabat. Walaupun berat hati, Rasulullah mengijinkannya.

Para Muhajirin sendiri sebenarmya juga berat meninggalkan tanah kelahirannya tanpa memiliki kesalahan apapun; hanyalah karena mereka berkata: “Allah Tuhanku”. Namun saat itu mereka belum punya kekuatan untuk menangkis kelaliman orang-orang Quraisy.

Najasyi (Negus) yang waktu itu bertahta di singgasana Ethiopia adalah seorang tokoh yang mempunyai iman yang kuat. Ia penganut agama Nashrani secara murni dan padu, jauh dari penyelewengan dan lepas dari fanatik buta dan menutup diri. Nama baiknya telah tersebar dimana-mana dan perjalanan hidupnya yang adil telah melampaui batas negerinya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memilih negerinya menjadi tempat hijrah bagi sahabat-sahabatnya, dan karena ini pulalah kelak di kemudian hari kaum kafir Quraisy merasa khawatir jika maksud dan tipu muslihat mereka gagal akibat sifat Najasyi tersebut.

Rombongan pertama berangkat ke Habasyah dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib. Mereka tinggal dibawah naungan Najasyi yang adil lagi shalih. Untuk pertama kalinya sejak memeluk Islam, mereka bisa menikmati rasa aman dan indahnya ibadah dari rongrongan kaumnya.

Namun Quraisy tidak tinggal diam. Telah sampai di telinga mereka berita bahwa sekelompok muslimin pindah ke Habasyah dan mendapat perlindungan dari Najasyi. Bahwa kaum muslimin tersebut bisa hidup tenang menjalankan agama dan merasa aman dengan kepecayaan mereka. Segera orang-orang Quraisy tersebut berunding perihal bagaimana cara supaya bisa memulangkan kaum muslimin tersebut dengan paksa, lalu kembali memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang dan kalau perlu membunuh mereka.

Berikut adalah penuturan Ummu Salamah tentang riwayat para Muhajirin di Habasyah:

“Sejak berlabuh di bumi Habasyah, kami mendapat sambutan yang baik. Kami bisa beribadah tanpa ada gangguan. Mendadak suku Quraisy mengutus dua orangnya yang pandai bersilat lidah dan bermental baja, yaitu Amru bin Ash dan Abdullah ibn Rabi’ah saat sebelum keduanya masuk Islam. Mereka membawa banyak hadiah dari Hejaz yang disukai oleh Najasyi dan para menterinya. Hadiah-hadiah tersebut dimaksudkan untuk menarik simpati Najasyi. Setelah masing-masing diberi hadiah, mereka berkata, “Negeri anda telah didatangi oleh para pengacau dari negeri kami. Mereka keluar dari agama nenek moyang dan memporak-porandakan persatuan kami. Bila nanti kami berdua bicara dengan raja anda, dukunglah agar mereka diserahkan kepada kami tanpa mempersoalkan agama mereka. Kami lebih mengenal dan lebih tahu tentang apa yang mereka anut.” Para pejabat Najasyi mengangguk setuju, “Baik, kami akan mendukung anda berdua.”

Ummu Salamah melanjutkan;

“Tak ada sesuatu yang lebih dibenci oleh Amru dan rekannya daripada saat-saat Najasyi memanggil dan meminta keterangan kami. Kemudian kedua utusan Quraisy tersebut menghadap Najasyi sambil memberikan hadiah-hadiah yang bagus. Keduanya berkata, “Tuanku, telah datang di negeri ini sekelompok pengacau. Mereka membawa agama baru yang tidak kami kenal dan tidak pula Tuanku kenal. Mereka keluar dari agama kami dan tidak pula mengikuti agama Tuan. Pada kesempatan ini kami diutus oleh para tetua, yaitu ayah-ayah dan paman-paman mereka untuk mengembalikan mereka kepada keluarganya. Para tetua itulah yang lebih tahu fitnah yang mereka lakukan.”

Najasyi (Negus) berpaling kepada para asistennya, ternyata semua mengangguk. “Benar Tuanku, keluarga merekalah yang lebih tahu tentang mereka dan apa yang mereka perbuat. Sebaiknya mereka dikembalikan saja kepada keluarganya.”

Betapa gusarnya Najasyi. Katanya tegas, “Tidak, demi Tuhan, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapapun sebelum meminta kejelasan tentang hal ikhwal yang dituduhkan itu. Bila memang mereka seperti yang dikatakan oleh kedua tamu ini, aku tidak keberatan melepaskannya. Tapi bila tidak, maka aku ingin menjadi pelindung dan tetangga yang baik selama mereka mempercayaiku.”

Lanjut Ummu salamah:

“Najasyi kemudian memanggil kami. Sebelum menghadap, terlebih dahulu kami berunding. Bila Najasyi bertanya tentang agama kami, maka kami akan berterus-terang. Juru bicara kami disepakati satu orang saja yaitu Ja’far ibn Abi Thalib. Selama di Habasyah, maka Ja’far bin Abu Thalib lah yang tampil menjadi juru bicara yang lancar dan sopan, serta cocok menyandang nama Islam dan utusannya. Demikian adalah hikmah Allah yang tidak ternilai yang telah dikaruniakan kepadanya berupa hati yang tenang, akal pikiran yang cerdas, jiwa yang mampu membaca situasi dan lidah yang fasih.

Ternyata Najasyi menghadirkan seluruh pejabat kerajaan dan tokoh-tokoh penting. Mereka duduk dengan rapi di kanan-kirinya, sebagian membawa al-kitab. Disitu kami lihat juga Amru bin Ash dan Abdullah ibn Rabi’ah.

Setelah kami duduk di tempat yang disediakan, Najasyi menatap kami dengan cermat lalu bertanya, “Apa sebenarnya agama yang kalian anut sehingga untuk itu kalian sampai keluar dari agama nenek-moyang dan tidak pula mengikuti agamaku atau agama-agama lainnya?”

Sesuai kesepakatan sebelumnya, Ja’far maju dan memberi jawaban;

Katanya sopan, “Tuanku, kami adalah suatu kaum yang bodoh. Kami menyembah patung-patung dan berhala,memakan bangkai, melakukan berbagai kejahatan. Kami biasa memutus hubungan keluarga, jahat terhadap tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah.

Dalam keadaan demikian, Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami ketahui asal-usulnya dan terjamin kejujuran, amanah, serta kesuciannya. Kami diajak untuk mengesakan dan menyembah Allah semata serta melepaskan penyembahan terhadap batu-batu dan patung. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami untuk jujur dalam berbicara, menyampaikan amanah, menyambung tali persaudaraan, dan berbuat baik kepada tetangga. Beliau melarang kami melakukan kekejian, memerintahkan untuk memelihara darah (menghindari bunuh-membunuh), tidak menyebarkan kata-kata fitnah, mengadu domba, atau berdusta. Beliau melarang untuk makan harta anak yatim atau menuduh orang-orang yang bersalah dengan keburukan. Beliau menyuruh kami mengabdi kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, lalu menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Itu sebabnya kami percaya dan beriman kepadanya, serta mau mengikuti ajaran yang dibawanya. Kami menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkan.

Lalu kaum kami memusuhi kami, Tuanku. Mereka menyiksa kami dengan sewenang-wenang untuk mengembalikan kami kepada kebodohan, yaitu penyembahan terhadap berhala. Ketika sudah tak tahan lagi dizalimi, ditekan, ditindas, dan dihalang-halangi dalam beragama, kami lari ke negeri Tuan. Kami mengutamakan negeri ini daripada yang lainnya dan kami ingin bernaung di bawah perlindungan Tuan.”

Najasyi bertanya, “Apakah engkau mengetahui sesuatu yang dibawa nabimu tentang Allah?”

Ja’far menjawab, “Ya, Tuanku.”

“Coba bacakan kepadaku.”

Maka Ja’far membaca firman Allah berikut, “Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria.Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.” Tuhan berfirman, “Demikianlah.” Tuhan berfirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, Padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” Tuhan berfirman, “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.” Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. “Hai Yahya, ambillah Al-kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasih yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang-tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam, 19:1-15)

Najasyi pun menangis sampai jenggotnya basah oleh air-mata. Demikian pula pembantunya. Mereka terharu mendengar firman Allah tersebut. Kata Najasyi, “Apa yang dibawa oleh nabi kalian dan apa yang dibawa oleh Isa keluar dari sumber yang sama.”

Kepada Amru ibn Ash dan Abdullah ibn Abi Rabi’ah, Najasyi berkata, “Kalian boleh pulang. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian.”

Begitu keluar dari tempat Najasyi, Amru ibn Ash berkata kepada Abdullah, “Demi Allah, besok aku akan mendatangi Najasyi lagi. Akan aku katakan sesuatu tentang mereka yang akan membakar kemarahan dan membuatnya membenci mereka. Akan kusulut dia agar membantai mereka sampai habis.”

Abdullah ibn Abi Rabi’ah berusaha menenangkannya, “Jangan lakukan itu, Amru. Bagaimanapun mereka adalah sanak-keluarga kita walaupun mereka menentang kita.”

Amru bersikeras, “Aku tidak peduli! Demi Tuhan, aku akan mengatakan sesuatu yang akan menggoncangkan kaki-kaki mereka. Akan kuceritakan bahwa mereka berkata Isa adalah seorang hamba.”

Keesokan harinya, Amru ibn Ash benar-benar menghadap Najasyi. Ia berkata, “Tuanku, orang-orang yang tuan lindungi telah menyebut Isa ibn Maryam dengan perkataan yang hina. Tuanku bisa memanggil mereka dan menanyakan hal itu.”

Ummu Salamah lanjut mengisahkan:

“Begitu mendengar hal itu, kami merasa bingung dan sedih. Salah-seorang dari kami bertanya, “Apa yang akan kita katakan tentang Isa ibn maryam bila Najasyi menanyakan hal itu besok?”

Lainnya menjawab, “Demi Allah, kita tidak perlu berkata-kata selain yang difirmankan Allah. Kita tidak akan melenceng seujung rambut pun dari apa yang dibawa Rasulullah. Setelah itu terjadilah apa yang harus terjadi.”

Sekali lagi kami bersepakat bahwa juru bicara adalah Ja’far ibn Abi Thalib.

Ketika Najasyi memanggil, kami sudah siap. Seperti kemarin, seluruh pembantunya hadir dalam pertemuan, juga Amru dan rekannya.

Begitu kami duduk, Najasyi langsung bertanya, “Apa yang kalian katakan tentang Isa ibn Maryam?

Ja’far menjawab, “Kami mengatakan seperti yang dibawa oleh nabi kami.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Bahwa Isa adalah hamba dan rasul Allah. Dia merupakan ruh dan kalimat-Nya yang ditaruh dalam diri Maryam yang suci.”

Mendengar jawaban Ja’far, Najasyi langsung menggebrak lantai. Katanya, “Demi allah, Isa tidak lebih dari apa yang disebutkan oleh nabi kalian.”

Para pembantu kerajaan yang hadir bergumam ingkar. Najasyi berpaling kepada mereka dengan marah, “Aku tidak peduli kalian marah atau mendongkol!” Lalu kepada kaum muslimin ia berkata, “Kalian boleh tinggal di negeriku dengan aman. Barangsiapa berani memaki kalian akan kudenda, dan barangsiapa mengganggu kalian akan kutindak. Demi Allah, aku tidak ingin diberi sebuah gunung emas pun bila untuk itu satu dari kalian teraniaya.”

Sambil menatap Amru dan rekannya, ia berkata kepada para pegawai kerajaan, “Kembalikan semua hadiah mereka. Aku tidak membutuhkannya!”

Kedua utusan Quraisy itu keluar dari naungan dengan sangat malu dan terhina. Sementara itu kami boleh tinggal di negeri Najasyi yang aman dann penuh persaudaraan…”

Ja’far ibn Abi Thalib bersama isterinya hidup tenteram di bawah naungan Najasyi selama sepuluh tahun. Pada yahun 7 Hijriyah mereka meninggalkan Habasyah menuju Yatsrib bersama rombongan kaum muslimin. Kedatangan mereka bertepatan dengan kembalinya Rasulullah dari medan perang Khaibar dengan kemenangan gemilang.

Begitu gembiranya Rasulullah berjumpa dengan Ja’far sehingga beliau berkata, “Aku tak tahu mana yang lebih membuatku gembira, kemenangan atas khaibar atau kedatangan Ja’far ibn Abi Thalib.”

Dan kegembiraan kaum muslimin semuanya, terutama golongan lemah, tak kurang dari kegembiraan Rasulullah. Hal ini bisa dimengerti mengingat Ja’far sangat suka menolong kaum lemah sampai-sampai dijuluki Abu al-Masakin (bapak orang-orang miskin).

Abu Hurairah pernah berkata, “Orang terbaik bagi golongan miskin adalah Ja’far ibn Abi Thalib. Dia selalu mengajak kami ke rumahnya, lalu memberi kami makanan apa saja yang tersedia. Bila sedang tak ada makanan, dikeluarkannya minyak samin dan madu, kemudian kami membersihkan sisa-sisa yang melekat di dalamnya.”

Ja’far tidak lama tinggal di Madinah. Pada awal tahun 8 Hijriyah, Rasulullah mempersiapkan pasukan untuk menggempur Romawi di Syam. Kepemimpinan pasukan diserahkan kepada Zaid ibn Haritsah. Bila Zaid tewas atau cedera, maka akan digantikan oleh Ja’far ibn Abi Thalib. Bila Ja’far gugur, Abdullah ibn Rawahah akan mengambil alih komando. Dan bila Abdullah gugur, maka pasukan boleh memilih siapa saja.

Di Mu’tah, sebuah desa di Ardun, pinggiran Syam, bertemulah pasukan muslimin dengan pasukan Romawi. Kekuatan Romawi saat itu adalah 100.000 orang ditambah 100.000 orang lagi bantuan pasukan dari golongan Arab pemeluk Nashrani, diantaranya dari suku Lakhm, Judzam, Khuza’ah. Sedangkan muslimin hanya berkekuatan 3000 orang.

Pertempuran berlangsung dengan sengit. Panglima Zaid ibn Haritsah gugur sebagai syahid dengan gagah berani. Dengan cepat Ja’far mengambil alih kepemimpinan. Dia melompat dari kuda merahnya kemudian membuat musuh agar tidak dimanfaatkan oleh mereka. Panji-panji Islam yang nyaris jatuh diselamatkannya dan dibawa menerjang barisan Romawi sambil berseru:

Mari menuju surga

Mari mendekat

Yang harum tanahnya, lagi dingin airnya.

Romawi, hai Romawi

Telah tiba saat siksanya

Terhalang jauh dari keturunannya

Disini kan kuhadang mereka!

Bala tentara Romawi menyaksikan bagaimana kemampuan Ja’far bertempur. Pedangnya berkelebat-kelebat mengerikan, yang seolah-olah sepasukan tentara juga. Tentara Romawi terus mengepung Ja’far, hendak membunuhnya laksana orang-orang gila yang sedang kemasukan setan. Kepungan mereka semakin ketat sehingga tak ada harapan untuk lepas. Suatu ketika tangannya berhasil ditebas musuh. Mereka tebas tangan kanannya dengan pedang hingga putus, tapi sebelum panji yang dibawanya jatuh ke tanah, cepat disambarnya dengan tangan kirinya. Ketika tangan kirinya putus, ditopangnya panji-panji dengan dada kedua lengan atasnya. Ia bertekad untuk tidak membiarkan panji Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam terjatuh menyentuh tanah hingga akhirnya musuh berhasil menewaskannya setelah tubuhnya terbelah dua…

Berita gugurnya ketiga panglima Islam ini sampai kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau amat berduka karenanya. Sesaat setelah menyampaikan berita duka tentang syahidnya Ja’far kepada keluarganya, Rasulullah pergi sambil menyusut airmata. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam berdo’a, “Ya allah, gantikanlah Ja’far untuk anak-anaknya. Ya Allah, gantikanlah Ja’far untuk keluarganya.”

Abdullah bin Umar pernah berkata, “Aku sama-sama terjun di perang Mu’tah dengan Ja’far. Waktu kami mencarinya, kami dapati ia beroleh luka-luka bekas tusukan dan lemparan tombak sebanyal lebih dari 90 tempat!”

Kata beliau shalallahu ‘alaihi wasallam kembali, “Aku melihat Ja’far di surga memiliki dua buah sayap yang berlumuran darah dan kaki yang berwarna-warni (sebagai tanda kehormatan)…”

Demikian semoga beroleh pengajaran dari kisah kepahlawanan sahabat Ja’far bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu. Wallahu a’lam bisshowwab. (abdullahahmad)

 

 

(diangkat dari Sosok Para Sahabat Nabi, DR. Abdurrahman Raf’at al-Basya, Qisthi press dan Karakteristik Perihidup Enam puluh Sahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid, cv. Diponegoro).

What do you think?

Written by Zaid

Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Bagaimana Mencintai Anak dan Isteri

Sunnahnya Jika Mencintai dan Dicintai