Home / Dakwah dan Jihad / Al-Jihad adalah obat
jihad_wajib

Al-Jihad adalah obat

oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman

(Abujibriel.com)—Sesungguhnya setiap amalan (ibadah) di dalam Islam mempunyai keutamaan dan keistimewaan. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallaam telah mengabarkan bahwa jihad adalah seutama-utama dan setinggi-tinggi ibadah dan medan jihad (medan ribath) merupakan semulia-mulia tempat di permukaan bumi. Tidak ada suatu tempat yang dapat menyamai kemuliaannya meskipun kota suci Makkah dan Madinah. Dan beribadah di tempat ini  nilainya lebih tinggi dari pada tempat-tempat lain di muka bumi. Maka sungguh beruntunglah orang-orang yang diberi rahmat dan karunia oleh Allah Ta’ala berada di tempat tersebut dan beribadah di dalamnya. Berada dan berkhidmat di medan jihad dan ribath benar-benar suatu rizki pemberian Allah Ta’ala yang tiada bandingannya. Disanalah seorang hamba akan mengumpulkan segala kebaikan yang telah dijanjikan oleh Allah dan akan meraih segala cita-cita yang dihajatkan. Dan diantara keutamaan jihad dan medan jihad yang akan disampaikan kali ini adalah bahwa al-Jihad fie sabilillah adalah obat penawar, penyembuh luka dan bara hati umat Islam akibat tekanan, sungutan, siksaan, pembunuhan, pembantaian, dan kedzoliman kaum kuffar Yahudi, Nasrani, Zhalimin, Munafiqin terhadap mereka.

Dalam suatu ayat Allah Ta’ala berfirman :

“Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. at-Taubah, 9: 13-15)

Ayat tersebut diatas merupakan jawaban-jawaban terhadap kebimbangan-kebimbangan dan ketakutan yang berkecamuk di hati kaum Muslimin dengan berbagai tingkatan keimanan mereka. Ia mengingatkan mereka bagaimana kaum musyrikin menzhalimi dan menganiaya mereka, menghianati perjanjian yang telah diikrarkan dengan kaum muslimin, bagaimana mereka nekat mengatur rancangan untuk mengusir Rasulullah dari kota Mekkah, menangkap beliau dan membuat komplotan untuk membunuh beliau. Ia juga mengingatkan bahwa kaum kuffar dan musyriklah yang memulai pencerobohan ke atas kaum Muslimin di Madinah ketika itu. Dan demikian pula keadaan yang sama berlaku di zaman ini dan di zaman-zaman yang akan datang. Orang-orang kafir dan musyrik dari kaum Yahudi, Nasrani, Hindu dan Budha serta penguasa Zhalim lainnya bertindak kejam dan ganas terhadap umat Islam diseluruh pelosok dunia ini. Ia bermula dari titik kebencian mereka kepada keimanan kaum Muslimin dan mereka terus menunggu peluang untuk bertindak ganas terhadap mereka tanpa memperdulikan perjanjian dan perhubungan apabila mereka berada dalam posisi kuat yang dapat mengalahkan orang-orang beriman dan mereka merasa aman terhadap kelemahan kaum Muslimin, pembantaian dan penganiayaan akan terus berjalan diatas umat untuk.

Kemudian ayat-ayat ini menjelaskan apakah tindakan yang sepatutnya diambil oleh kaum Muslimin untuk menghadapi tindakan kejam itu. Mereka harus siap siaga menghadapi musuh-musuh yang senantiasa menunggu peluang untuk bertindak ganas dan kejam terhadap mereka. Mereka tidak boleh merasa segan,  tidak boleh merasa takut berperang dengan kaum kuffar dan musyrik karena Allah lah yang lebih patut ditakuti jika mereka benar-benar beriman kepada Allah. Allah memerintahkan kepada mereka supaya bangkit memerangi kaum kuffar dan musyrik, semoga Allah membinasakan mereka dengan perantaraan tangan-tangan orang beriman dimana mereka hanya memainkan peranan melaksanakan rencana dan kehendak (qudarat) Allah untuk mengadzab dan menghinakan musuh-musuh Allah dan sekaligus musuh-musuh mereka juga. Dan selain itu untuk mengobati dan menyembuhkan segala sakit dan dendam di dalam hati orang-orang beriman serta kepuasan jiwa mereka yang telah disiksa dan dianiaya karena agama Allah selama ini. Tidak ada suatu tempat yang paling indah dan sesuai untuk menyelesaikan urusan perselisihan antara Muslimin dan kafirin lebih baik dari pada medan jihad fie sabilillah. Perdamaian dan perundingan melalui meja-meja resmi tidak memberi jaminan keamanan dan keselamatan karena mereka adalah orang-orang yang tidak pernah dapat memegang janji. Allah Ta’ala berfirman :

“Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian). Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mu’min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS. at-Taubah, 9: 8-10)

Orang-orang kafir dan musyrik, mereka hanya mau memegang perjanjian dan perdamaian dengan orang-orang Islam jika mereka berada dalam keadaan lemah untuk mengalahkan Islam dan ummatnya. Seandainya mereka dapat mengalahkan orang-orang beriman niscaya mereka akan melakukan berbagai tindakan kejam dan khianat tanpa memperdulikan perjanjian yang telah wujud diantara mereka dan kaum Muslimin. Pendek kata, mereka akan melakukan apa saja perbuatan yang menghalalkan kekejaman dan keganasan mereka, karena perasaan dendam dan marah yang meluap-luap di hati dan jiwa mereka yang kotor dan najis. Seandainya hari ini mereka menyenangkan hati orang-orang Islam dengan mulut-mulut mereka yang manis dan lemah lembut disebabkan orang-orang Islam lebih kuat dari mereka.

Sekiranya mereka lebih kuat dan merasa mumpuni mengalahkan orang-orang Islam, maka pasti mereka akan melakukan kebiadaban dan kekejaman di luar batas kemanusiaan, sebagaimana yang disaksikan sepanjang perjalanan pertentangan antara hak dan batil. Maka medan jihad adalah medan yang paling manis dan indah untuk menyelesaikan segala perseteruan dan persengketaan bagi kaum Muslimin terhadap musuh-musuh Allah yang merajalela dengan kebusukan akhlaknya.

Berbahagialah bagi kaum Muslimin yang mengaplikasikan imannya dengan berjihad fi sabilillah secara benar dan terarah. Karena salah-satu dari dua janji Allah azza wa jalla menjadi miliknya, menang dalam kemuliaan atau gugur dalam kesyahidan. Demikian juga bagi kaum Muslimin yang senantiasa berjaga-jaga mempersiapkan diri dan mengukuhkan niatnya karena keyakinan kuat seruan jihad akan segera sampai kepadanya. Semoga kita meniti keistiqomahan dalam meniti al-Jihad fi sabilillah.

Demikian bahasan kali ini, semoga membawa kemanfa’atan. Wabillahittaufiq wal hidayah. (Abdullah ahmad)

Check Also

syariah-islam

Al Jihad, media mulia untuk menghancurkan musuh-musuh Allah

oleh Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman (Abujibriel.com)—Sesungguhnya setiap amalan (ibadah) di dalam Islam mempunyai keutamaan …

Leave a Reply

%d bloggers like this: