<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>abujibriel.com &#187; shalat</title>
	<atom:link href="http://www.abujibriel.com/tag/shalat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.abujibriel.com</link>
	<description>Al Qur&#039;an Sebagai Pedoman, Pedang Sebagai Pengawal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Aug 2010 17:37:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Bermakmum di Belakang Imam Yang Fasik atau Dzalim?</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 11:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Q & A]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[dzalim]]></category>
		<category><![CDATA[fasiq]]></category>
		<category><![CDATA[makmum]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ustadz, Saya ingin menyanyakan tentang bermakmum kepada imam yang fasik atau dzalim, yang jelas menolak syari’at Islam. Apakah boleh kita bermakmum kepada mereka? Jawaban: Jazakumullahu khairan atas pertanyaan yang anda ajukan. Sebenarnya pertanyaan yang seperti ini bukanlah kali pertama, dan mungkin juga bukan kali terakhir. Untuk klarifikasi dan penjelasan marilah kita ambil pelajaran dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignright size-medium wp-image-620" title="shalatjamaah" src="http://abujibriel.com/ajib/wp-content/uploads/2010/01/shalatjamaah-300x225.jpg" alt="shalatjamaah" width="300" height="225" />Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ustadz, Saya ingin menyanyakan tentang bermakmum kepada imam yang fasik atau dzalim, yang jelas menolak syari’at Islam. Apakah boleh kita bermakmum kepada mereka?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Jazakumullahu khairan </em>atas pertanyaan yang anda ajukan. Sebenarnya pertanyaan yang seperti ini bukanlah kali pertama, dan mungkin juga bukan kali terakhir. Untuk klarifikasi dan penjelasan marilah kita ambil pelajaran dari hadits-hadits berikut.</p>
<p>Dari Jabir, dari Navi Saw beliau bersabda: <em>“Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimam laki-laki; dan jangan seorang baduwy (mengimami) muhajir; dan janganlah sekali-kali seorang pendurhaka mengimami orang mukmin, kecuali karena paksaan dari penguasa yang ditakuti cambukan atau pedangnya.” </em><strong>(HR. Ibnu Majah</strong><strong>)</strong></p>
<p>Dan dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: <em>“Pilihlah imam-imam kamu dari orang-orang dari orang-orang baik kamu, karana sesungguhnya mereka itu duta kamu, tentang apa-apa yang antara kamu dengan Rabbkamu.”</em><strong>(HR. Daraquthnie)</strong></p>
<p>Dan dari Makh-hul, dari Abu Hurairah, ia barkata: Rasulullah Saw bersabda: <em>“Berjihad itu wajib atas kamu bersama setiap pemimpin, apakah dia pemimpn yang baik atau yang durhaka; dan shalat itu wajib atas kamu di belakang setiap muslim, apakah dia itu orang yang baik atau yang durhaka, sekali pun dia melakukan dosa-dosa besar.” </em><strong>(HR. Abu Daud)</strong></p>
<p>Dan dari Abdul Kariem Al Bakkaie, ia berkata: <em>“Aku menjumpai sepuluh orang sahabat Nabi yang semua itu sholat di belakang imam-imam yang durhaka.” </em><strong>(HR. Bukhari, di dalam Tarikhnya)</strong></p>
<p><strong>Penjelasan:</strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;"><strong>1. </strong><strong>Syarih (penyarah kitab Nailul Authar) berkata</strong>: Telah terjadi ijma’ fi’lie dari kalangan sahabat yang masih hidup, bersama tabi’in, yang mendekati sebagai ijma’ qaulie: bahwa mereka shalat di belakang imam durhaka. Karena para penguasa pada masa itu, adalah juga sebagai imam shalat yang lima waktu. Jadi orang-orang pada waktu itu, imamnya tidak lain adalah para penguasa, di setiap daerah yang ada penguasanya. Negara disaat itu di bawah dinasti Bani Umayyah, dan keadaan mereka dan para penguasanya sudah bukan rahasia.</span></strong></p>
<p>Selanjutnya Syarih berkata: Walhasil, pada dasarnya tidak ada persyaratan (bagi imam itu) harus adil. Dan setiap orang yang sudah sah shalatnya untuk dirinya, sah pula untuk orang lain.</p>
<p>Ketahuilah, bahwa letak perselishannya, hanya dalam sahnya berjama’ah, di belakang seorang imam yang tidak adil. Adapun tentang kemakruhannya tidak menjadi perselisihan lagi.</p>
<p>Perkataan: “Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimam laki-laki; dan jangan seorang baduwy (mengimami) muhajir;” itu, Syarih berkata: Maksudnya, bahwa orang baduwy yang tidak berhjrah, tidak boleh mengmami orang yang pernah berhijrah. Bahwa orang yang berhijrah lebih dahulu itu, lebih diutamakan (menjadi imam) daripada yang berhjrah belakangan, lagi-lagi yang tidak berhijrah.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Berkata Al Ustaz Sayyid Sabiq dalam Fiqieh Sunnahnya</strong>:</p>
<p>Imam Bukharie meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah shalat dibelakang Al Hajjaj (seorang penguasa yang sangat jahat dan banyak membunuh sahabat-sahabat Nabi saw). Imam Muslim meriwayatkan bahwa Abu Sa’id Al Khudrie pernah melaksanakan shalat dibelakang khalifah Marwan pada waktu shalat Hari Raya. Ibnu Mas’ud RA, juga pernah shalat dibelakang Walid bin Uthbah bin Abu Mu’ith padahal dia adalah peminum arak.</p>
<p>Pada perinsipnya, sebagai kesimpulan para ulama ialah: Barangsiapa yang shalatnya sah untuk dirinya sendiri, maka sah pula untuk orang lain. Walaupun demikian para ulama memandang makruh bagi seseorang yang mengerjakan shalat dibelakang orang fasik atau ahli bid’ah berdasarkan sebuah dari Su’aib bin Khallad katanya: ”Ada seseorang yang mengimami segolongan kaum dan dia meludah kearah kiblat, padahal pada saat itu Rasulullah melihatnya. Beliaupun bersabda: <em>”Orang itu tidak boleh menjadi imam mu.” </em>Pada suatu ketika orang itu hendak menjadi imam lagi, tetapi orang-orang melarangnya dan menyampaikan kepadanya apa yang disampaikan oleh Nabi saw .Orang itupun segera menghadap Rasulullah saw untuk meminta penjelasan. Beliau bersabda: “<em>Ya, karena engkau berbuat tidak senonoh kepada Allah dan Rasul Nya.” </em><strong>(HR. Abu Daud dan Mundziri)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Wallahu&#8217;alam Bish Showab&#8230;</em></p>
<p><strong><em>Rujukan :</em></strong></p>
<ul>
<li>Kitab Bustanul Akhbar (Mukhtashar Nailul Authar Imam As Syaukani) oleh : Shyeikh Faishal bin Abdul ‘Azis</li>
<li>Kitab Fiqhus Sunnah oleh : Syeikh Sayyid Sabiq.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Seorang Wanita Ikut Shalat Jum&#039;at ?</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/bolehkah-seorang-wanita-ikut-shalat-jumat/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/bolehkah-seorang-wanita-ikut-shalat-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 16:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Q & A]]></category>
		<category><![CDATA[An Nisa']]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Q : Assalamu’alaikum Ust. Abu Jibril.. Ana mau tanya, apakah boleh seorang wanita ikut jum’atan ??? ana butuh buat referensi nich..sekalian sama sumber-sumbernya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Q :</strong> Assalamu’alaikum Ust. Abu Jibril..</p>
<p>Ana mau tanya, apakah boleh seorang wanita ikut jum’atan ??? ana butuh buat referensi nich..sekalian sama sumber-sumbernya.</p>
<p style="text-align: right;"><em><strong>Pengirim </strong>: dany.ardy@xxx.co.id</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>A :</strong> Wa’alaikumussalam Wr. Wb.</p>
<p style="text-align: left;">Shalat Jum’at tidaklah wajib bagi wanita dengan kesepakatan para Ulama’, demikian dikatakan I<strong>bnu Khuzaimah </strong><em>Rahimahullah</em> dalam Shahihnya (3/112). <strong>Ibnu Qudamah</strong> <em>Rahimahullah</em> berkata, &#8220;Adapun wanita, maka tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ulama tentang tidak wajibnya shalat Jum’at bagi kaum wanita.&#8221; <strong>(Al Mughni, 2/338)</strong></p>
<p>Yang juga mendukung tidak wajibnya shalat Jum’at bagi wanita adalah hadits Rasulullah <em>Sholallahu ‘Alaihi Wasallam</em> yang menunjukkan keutamaan shalat di rumah bagi wanita dibanding shalatnya di masjid (yang artinya), <em>&#8220;Shalatnya salah seorang dari kalian di makhda’nya (kamar khusus yang dipergunakan untuk menyimpan barang berharga) lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Dan shalat di kamarnya lebih utama daripada shalatnya di rumahnya. Dan shalatnya di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid kaumnya. Dan shalat di masjid kaumnya lebih utama daripada shalatnya bersamaku.&#8221;</em> <strong>(Hadits riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya dan dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah hal 115).</strong></p>
<p style="text-align: left;">Maka wanita ikut jum’atan tidak wajib dan apabila seorang wanita telah mengerjakan shalat Jum’at bersama Imam (di masjid) maka shalatnya sah dan tidak perlu lagi mengerjakan shalat Dzuhur. Demikian yang disepakati pada Ulama’ sebagaimana disebutkan Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syahrul Muhadzdzab (4/495). Baginya adalah pilihan jika dia mau dan tersedia tempat atau ruangan untuk shalat maka tidak mengapa artinya boleh dan tidak perlu shalat dhuhur. <span style="font-family: verdana,geneva,lucida,'lucida grande',arial,helvetica,sans-serif; font-size: 13px; text-align: left;"><span><span>Akan tapi jika ia melaksanakan shalat seorang<span> </span><span>diri</span><span> </span>di rumah maka ia harus melaksanakan shalat Zhuhur sampai empat rakaat.</span></span></span></p>
<p style="text-align: left;"><em>Wallahu&#8217;alam bis showab..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/bolehkah-seorang-wanita-ikut-shalat-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Shalat Dhuha</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/keutamaan-shalat-dhuha/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/keutamaan-shalat-dhuha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 16:13:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiah Rutin]]></category>
		<category><![CDATA[fadilah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadis. Rasulullah SAW bersabda, ‘‘Bagi tiap-tiap ruas anggota tubuh kalian hendaklah dikeluarkan sedekah baginya setiap pagi. Satu kali membaca tasbih (subhanallah) adalah sedekah, satu kali membaca tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, satu kali membaca takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh berbuat baik adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan, semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha.’’ (HR. Muslim)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Allah SWT dalam beberapa ayat bersumpah dengan waktu dhuha. Dalam pembukaan surat Assyams, Allah berfirman, <em></em></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><em>‘‘Demi matahari dan demi waktu dhuha.’’ </em>Bahkan, ada surat khusus di Alquran dengan nama Addhuha.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Pada pembukaannya, Allah berfirman, <em>‘‘Demi waktu dhuha.’’</em></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Imam Arrazi</strong> menerangkan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting. Benar, waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Di antara doa Rasulullah SAW: <em></em></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><em>Allahumma baarik ummatii fii bukuurihaa</em>. Artinya, ‘‘Ya Allah berilah keberkahan kepada umatku di waktu pagi.’‘</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif dan bangun di waktu pagi (waktu subuh dan dhuha) untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal, ia akan mendapatkan keberkahan. Sebaliknya, mereka yang terlena dalam mimpi-mimpi dan tidak sempat shalat Subuh pada waktunya, ia tidak kebagian keberkahan itu.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadis. Rasulullah SAW bersabda,</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><em>‘‘Bagi tiap-tiap ruas anggota tubuh kalian hendaklah dikeluarkan sedekah baginya setiap pagi. Satu kali membaca tasbih (subhanallah) adalah sedekah, satu kali membaca tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, satu kali membaca takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh berbuat baik adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan, semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha.’’</em> <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat Dhuha empat rakaat. Dalam riwayat Ummu Hani’, <em>‘‘Kadang Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha sampai delapan rakaat.’’ </em><strong>(HR. Muslim) </strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Imam Attirmidzi dan Imam Atthabrani meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa bila seseorang melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu ia berdiam di tempat shalatnya sampai tiba waktu dhuha, kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha, ia akan mendapatkan pahala seperti naik haji dan umrah diterima. Para ulama hadis merekomendasikan hadis ini kedudukannya hasan.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Jelaslah bahwa shalat Dhuha sangat penting bagi orang beriman. Penting bukan karena—seperti yang banyak dipersepsikan—shalat Dhuha ada hubungannya dengan mencari rezeki, melainkan ia penting karena sumpah Allah SWT dalam Alquran. Maka, sungguh bahagia orang-orang beriman yang memulai waktu paginya dengan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan dengan shalat Dhuha. <em></em></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><em>Wallhu&#8217;alam bish showab&#8230;</em></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><em><span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #000000; font-family: 'Lucida Grande'; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: pre; widows: 2; word-spacing: 0px;">http://www.arrahmah.com/index.php/forum/</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/keutamaan-shalat-dhuha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
