<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>abujibriel.com &#187; Jihad</title>
	<atom:link href="http://www.abujibriel.com/tag/jihad/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.abujibriel.com</link>
	<description>Al Qur&#039;an Sebagai Pedoman, Pedang Sebagai Pengawal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Aug 2010 17:37:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Teladan Rasulullah Menyikapi Fitnah dan Ujian Dalam Dakwah dan Jihad</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 02:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah dan Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirohmanirrohim… Perjalanan Dakwah dan Jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Itulah perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang Shalih. Satu perjalanan yang tidak menawarkan arama harum dari minyak kasturi, kilauan intan- mutiara dan emas berlian yang bercahaya, sebaliknya dipenuhi onak dan duri, batu dan kerikil, tanah pejal mendaki dan berkelok. Hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bismillahirohmanirrohim…</em></p>
<p>Perjalanan Dakwah dan Jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Itulah perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang Shalih. Satu perjalanan yang tidak menawarkan arama harum dari minyak kasturi, kilauan intan- mutiara dan emas berlian yang bercahaya, sebaliknya dipenuhi onak dan duri, batu dan kerikil, tanah pejal mendaki dan berkelok. Hampir tidak ada yang ingin mengikuti dan menempuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang diberi Rahmat dan Barakah. Teror dan berbagai ancaman ditimpakan kepada para Rasul Allah Swt, para Sahabat-sahabat dan Orang-orang Shalih dari para Ulama’ dan Para Mujahid sesudah para Sahabat, tidak ada yang terlepas dari kezaliman, siksaan, pembantaian dan pembunuhan. Perhatikanlah firman Allah Swt berikut:</p>
<p>1) Nabi Nuh As telah di ancam rajam.</p>
<p><em>“Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan Termasuk orang-orang yang dirajam.”</em> <strong>(QS As Syua’ara, 26:116)</strong></p>
<p>2) Nabi Luth As diancam untuk diusir.</p>
<p><em>“Mereka menjawab: “Hai Luth, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu Termasuk orang-orang yang diusir.”</em> <strong>(QS. As Syua’ara, 26:167)</strong></p>
<p>3) Nabi Ibrahim As diancam untuk dibakar.</p>
<p><em>“Mereka berkata: “Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”</em><strong>(QS. Al Anbiya’, 21:68-69)</strong></p>
<p>4) Nabi Yusuf As diancam untuk dipenjara.</p>
<p><em>“W</em><em>anita itu berkata: “Itulah Dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda Dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi Dia menolak. dan Sesungguhnya jika Dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya Dia akan dipenjarakan dan Dia akan Termasuk golongan orang-orang yang hina.” Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.” </em><strong>(QS. Yusuf, 21:32-33)</strong><em></em></p>
<p>5) Nabi Musa As diancam penjara dan bunuh.</p>
<p><em>Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.”</em> <strong>(QS. As Syua’ara, 26:29)</strong></p>
<p><em>“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena Sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari Setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”</em> <strong>(QS. Al Mukmin, 40:26-27)</strong></p>
<p>6) Para Nabi diancam untuk diusir dan dirajam.</p>
<p><em>“Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri Kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.”</em> <strong>(QS. Ibrahim, 14:13-14)</strong></p>
<p><em>Mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami bernasib malang karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya Kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.”</em> <strong>(QS Yasin, 36:18)</strong></p>
<p>7) Adapun Nabi Muhammad Saw dihina dan dikatakan sebagai seorang penyair gila.</p>
<p><em>“Dan mereka berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?.” </em><strong>(QS. As Shaffat 37:36)</strong></p>
<p>Dan beliau diancam untuk; ditangkap, dipenjara, diusir dan dibunuh,</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” </em><strong>(QS. Al Anfal, 8:30)</strong></p>
<p>Dan pernah juga Rasulullah Saw difitnah dalam keluarganya, isterinya yang sangat dicintainya Ash Shiddiqah binti Ash Shiddiq, Aisyah Ra yang terkenal dengan HADITUL IFIK (Berita Bohong). Dan hal ini merupakan suatu bentuk yang akan terus berulang pada setiap generasi, dimana sasaran utama dari tuduhan itu sebenarnya diarahkan kepada pemimpin dengan tujuan hendak menghancurkan kepercayaan para pendukung beliau terhadap kepemimpinan tersebut.</p>
<p>Itulah tradisi yang selalu berulang disepanjang sejarah, bila kekuatan fisik tidak mampu membunuh karakter pimpinan, maka di hadapan musuh tidak ada lagi jalan yang bisa ditempuhnya selain perang psikologis terhadap kepemimpinan tersebut, dengan cara menghancurkannya lewat perang seperti ini. Karena itu, di sini ditampilkan kisah keteladanan ini <em>(HADITUL IFIK)</em> supaya para Da’i dan Mujahid serta para pendukungnya tidak mudah lemah dalam menghadapi segala ujian dan fitnah yang menimpanya, karena musuh selalu menggunakan isu seperti ini, sebagai perang isu yang disebarluaskan oleh musuh dikalangan barisan Islam untuk menghancurkan pimpinan.</p>
<p>Yang terpenting diingat dalam peristiwa ini adalah bahwa berita bohong itu sebagaimana yang telah jelas bersumber dari kaum munafik di bawah bendera pimpinan mereka, Abdullah bin ubay bin Salul. Ketika berita bohong itu masih beredar di kalangan orang-orang munafik, memang tidak ada bahaya apa pun yang bisa mereka timbulkan. Akan tetapi, ketika berita itu sudah masuk ke dalam lingkungan kaum Muslimin, dengan segera berita itu menyebar bagai api membakar jerami. Barulah saat itu tampak betapa besar bahaya keberadaan kaum munafik di tengah umat Islam.</p>
<p>Nash Al Qur’an sendiri, ketika menceritakan peristiwa ini, ternyata lebih banyak mengarahkan tegurannya terhadap kaum Muslimin daripada kepada kaum munafik. Agaknya Al-Qur’an hendak memberi pendidikan terhadap kaum Mukminin yang benar-benar beriman, tapi masih dapat dipengaruhi oleh berita bohong ini dan masih mau menerima pembicaraan orang yang menyangka-nyangka tanpa bukti.</p>
<p>Adapun pelajaran-pelajaran terpenting yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan berita bohong ini, ialah sebagai berikut.</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong><em>, </em>menghindari tuduhan yang masih bersifat prasangka adalah kewajiban pokok yang wajib ditunaikan kaum muslimin. Mereka -terutama para pemimpin- juga harus menyadari bahwa prasangka seperti itu menjadi pusat perhatian lawan maupun kawan. Karena itu, sedapat mungkin agar dapat menghindari tempat-tempat dan hal apa pun yang bisa menimbulkan prasangka buruk.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong><em>,</em> jangan menerima isu begitu saja, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala dalam al Qur’anul Karim,</p>
<p>“<em>Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah di sisi Allah adalah pendusta.”</em> <strong>(QS. An Nur, 24:13)</strong></p>
<p>Berita apa pun yang tidak diperkuat dengan bukti, harus ditolak oleh setiap Muslim. Hendaklah pula dia menyadari bahwa menceritakan isu kepada orang lain dan menularkan berita yang tidak diperkuat dengan bukti akan mengubah statusnya menjadi pendusta. Ini adalah ketetapan Al Qur’an terhadap manusia-manusia semacam itu mereka adalah pendusta di sisi Allah, sekalipun orang itu sebenarnya bukanlah yang mengada-ngada berita tersebut dan sekalipun dia sekedar menukilkan dengan sejujurnya apa yang sebenarnya dia dengar dari seseorang, namun dia di sisi Allah tetap tergolong para pendusta.</p>
<p><strong><em>Ketiga,</em></strong><em> </em>untuk menimbang secara cermat dalam menilai benar-tidaknya suatu isu, bandingkanlah pribadi orang yang diisukan itu dengan diri anda sendiri. Dengan demikian, pastilah Anda akan tetap memercayai teman Anda itu seperti halnya memercayai diri Anda sendiri. Cara menimbang seperti itu diakui dan dipuji oleh Al Qur’anul Karim, yaitu berkenaan dengan suatu perbincangan antara Abu Ayyub Al Anshari dengan istrinya, Ummu Ayub Ra. Wanita itu berkata,</p>
<p>”Tidaklah kamu mendengar apa yang dikatakan orang mengenai Aisyah?”</p>
<p>“Ya, tapi itu bohong,” jawab si suami, “Apakah kamu melakukannya juga, hai ummu Ayyub?”</p>
<p>“Tidak, demi Allah,”kata si istri, “Mengapa aku harus meniru orang-orang itu?”</p>
<p>“Abu Ayyub menegaskan, “Demi Allah, Aisyah itu lebih baik darimu.” <strong><em>(Ibnu Hisyam, (As Sirah An Nabawiyah, II/303).</em></strong></p>
<p>Semoga saudaraku, yang masih juga menyebarluaskan isu mengenai temannya atau pemimpinnya, kiranya mau menghitung-hitung barang sedikit, benarkah temannya atau pemimpinnya itu lebih jelek perhatiannya terhadap agama ketimbang dirinya dan benarkah keduanya lebih rapuh kepatuhannya kepada agama dan lebih rendah budinya ketimbang dirinya? Andaikan menimbang diri seperti itu dia lakukan pastilah prasangka buruk itu akan musnah dari pikirannya dan robohlah kabar bohong itu sampai ke akar-akarnya.</p>
<p><strong><em>Keempat, </em></strong>jangan sekali-kali membiarkan hawa nafsu ikut campur dan berperan dalam menyelesaikan soal tersebarnya kabar bohong.</p>
<p>Di sini, ada dua contoh yang saling berlawanan berkenaan dengan berita bohong tersebut di atas. Yang satu lebih suka memperturutkan hawa nafsu, sedangkan yang lain tidak. Dua contoh itu ditampilkan oleh dua wanita Muslimat bersaudara kandung. Yang pertama ialah Zainab binti Jahsy Ra, salah seorang istri Rasulullah Saw dan yang kedua ialah Hamnah binti Jahsy Ra.</p>
<p>Al Muqrizi telah meriwayatkan dari Zainab tentang dialog yang dilakukannya dengan Rasulullah Saw, di mana istri yang baik budi itu mengatakan kepada suaminya, “Terpeliharalah kiranya pendengaranku dan penglihatanku. Aku tidak melihat pada Aisyah kecuali yang baik-baik saja. Demi Allah, aku tak pernah mengajaknya bicara dan aku memang benar-benar mendiamkannya, tetapi aku hanya mengatakan yang benar.” <strong><em>(Al Muqrizi, Imta’ul Asma’ 1/208).</em></strong></p>
<p>Jika seorang ‘<em>madu’</em> sedemikian hebatnya mampu menahan hawa nafsunya untuk tidak ikut-ikut menyebarkan isu, itu menunjukkan betapa tinggi derajat keluhuran budi yang telah dicapai oleh wanita Muslimat ini. Kemudian menyatakan bahwa Zainab sama sekali tidak terlibat dalam menyebarkan berita bohong ini. Dalam suatu pembicaraan, Aisyah Ra. Bahkan pernah mengatakan, “Tidak seorang pun yang menyaingiku di sisi Rasulullah Saw selain Zainab binti jahsy.”</p>
<p>Dengan pernyataan ini, agaknya Aisyah menempatkan Zainab pada posisinya secara tepat dalam persaingannya dengan dirinya sebagai sesama istri Rasulullah Saw. Namun demikian, dia tidak berkeberatan untuk memuji madunya itu berkenaan dengan kasus berita bohong tersebut. Aisyah mengatakan, “Adapun Zainab benar-benar dipelihara Allah, berkat kepatuhannya kepada agamanya. Dia tidak berkata apa-apa.”</p>
<p>Lain halnya dengan sikap kedua yang ditunjukkan oleh Hammah, saudara perempuan kandung Zainab. Dia justru ikut menyebarluaskan berita bohong itu dari rumah ke rumah, seolah-olah tak ada halangan apa pun di depan matanya, meski semua itu sebenarnya dia lakukan demi membela posisi Zainab di sisi Rasulullah Saw. Sampai-sampai Aisyahsberkata, menanggapi perbuatan saudara madunya itu, “Adapun saudara perempuan Zainab, Hammah, dia menyebarkan berita bohong itu seluas-luasnya. Dia melawan aku demi saudaranya. Tapi gara-gara itu, dia celaka.”</p>
<p>Bagaimanapun, kita kagum sekali kepada Aisyah Ra. Karena ternyata dia mampu membedakan antara dua sikap yang berbeda dari kedua wanita bersaudara kandung itu dan sama sekali tidak menimpakan kepada Zainab kesalahan yang dilakukan saudaranya itu.</p>
<p><strong><em>Kelima,</em></strong><em> </em>beban terberat dalam mengahdapi <em>haditsul-ifki</em> adalah sikap yang mesti diambil oleh orang yang diisukan.</p>
<p>Adapun manhaj yang harus menjadi pegangan dalam hal ini ialah janganlah membalas berita bohong dengan berita bohong yang lain dan janganlah membalas isu yang dusta dengan isu lain yang serupa. <strong>Hendaklah pula orang yang diisukan itu mampu menahan diri. Maksudnya, jangan membiarkan lidahnya berbicara yang melanggar kehormatan orang lain, sekalipun orang lain itu telah menganiaya dirinya, sampai terbukti dirinya benar dan tidak bersalah.</strong> Inilah sikap yang sangat penting, yang kita serukan kepada siapa pun yang sedang terkena isu.</p>
<p>Sekarang, baiklah kita perhatikan teladan yang baik yang telah dicontohkan oleh tiga contoh yang terlanggar kehormatannya dalam kasus <em>haditsul ifki</em> tersebut di atas.</p>
<p><strong>Muhammad Rasulullah Saw</strong>, junjungan seluruh umat manusia, yang diwaktu itu beliau juga berstatus sebagai panglima, kepada Negara, dan pemegang kekuasaan. Dengan hanya satu isyarat saja dari beliau, sebenarnya dapat saja melayang nyawa siapa pun yang berani mempecundangi kehormatan beliau. Namun demikian, dalam mengahdapi masalah ini -setelah bermusyawarah dengan para sahabatnya yang terkemuka- beliau hanya berpidato di hadapan kaum muslimin di atas mimbar seraya berpesan, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, “Hai sekalian manusia, mengapa ada orang-orang yang menyakitiku mengenai keluargaku dan mengatakan yang tidak benar mengenai mereka. Demi Allah, aku lihat keluargaku baik-baik saja. Orang-orang itupun mengatakan pula hal yang serupa terhadap seorang lelaki, yang demi Allah, aku lihat dia pun baik-baik saja dan dia tak pernah masuk ke salah satu rumah di antara rumah-rumah (keluarga)ku kecuali bersamaku.”</p>
<p>Begitu pula terjadi suatu krisis hubungan antara dua kelompok, Aus dan Khajraj, berkenaan dengan berita bohong ini, Rasulullah Saw tak lebih hanya menjadi penengah, sekalipun salah satu pihak menyatakan pembelaannya terhadap orang-orang yang terlibat dalam mencaci maki Aisyah s. Sedang yang lain menyerangnya dengan berbagai tuduhan. Walaupun demikian, beliau hanya meredakan emosi masing-masing dan tidak berpihak kepada siapapun karena beliau tidak memiliki bukti-bukti untuk membantah pihak yang menuduh. Walaupun ketika Shafwan Ra. Melampiasakan kekesalannya yang amat sangat dalam membela dirinya, lalu dipukulnya Hasan bin Tsabit atas tuduhannya, Rasulullah Saw tetap tidak mendorongnya atau pun memberinya semangat untuk meneruskan tindakannya itu selagi belum ada bukti, padahal beliau tengah berupaya membersihkan segala tuduhan atas diri orang yang paling ia cintai, Aisyah ra.</p>
<p>Pada waktu itu, Hassan maupun Shafwan telah hadir di hadapan Rasulullah Saw. Marilah kita perhatikan pengadilan yang tenang itu terhadap dua orang prajurit yang telah bertindak melampaui batas.</p>
<p>Shafwan Ibnul Mu’athal berkata, “Ya Rasul Allah, dia telah menyakiti hatiku dan mengejekku, lalu aku marah sampai aku memukulnya.”</p>
<p>Bersabdalah Rasulullah Saw kepada Hassan, “Bersikap baiklah kamu hai Hassan, Tegakah kamu menjelek-jelekkan kaumku, padahal Allah telah menunjuki mereka kepada Islam?” Beliau lalu menasehatinya pula seraya bersabda, “Berbuat baiklah kamu, hai Hassan, mengenai pukulan yang telah menimpa dirimu.”</p>
<p>Hassan pun menerima nasihat beliau, lalu dia serahkan <em>diyat</em> (denda) atas pukulan itu kepada beliau, seraya berkata, “<em>Diyat</em>-nya untukmu wahai Rasul Allah.”</p>
<p>Menurut riwayat Ibnu Ishak, “Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwa Rasulullah Saw kemudian memberi Hassan sebidang tanah sebagai pengganti dari <em>diyat</em>nya itu dan ditambahnya pula dengan seorang budak wanita mesir bernama Sirin. Wanita itu dikemudian hari melahirkan untuknya seorang anak bernama Abdurrahman bin Hassan.” <strong>(Ibnu Hisyam, II/305-306)</strong></p>
<p>Demikian pukulan yang di lakukan Shafwan terhadap Hassan telah dibayar dengan sebidang tanah dan seorang budak wanita. Rasulullah-lah yang membayarnya kepada Hassan bin Tsabit, setelah dia menyatakan memberi maaf kepada Shafwan Ibnu Mu’aththal, padahal orang yang diberi itu tadinya telah mengubah sya’ir yang berisi tuduhan terhadap istri beliau sendiri dan dengan sya’irnya itu ia pergi ke mana-mana menyebarluaskan isu itu tanpa henti.</p>
<p><strong>Abu Bakar Ra dan istrinya, Ummu Ruman</strong>. Mereka berdua telah mendapat cobaan luar biasa yang tak pernah menimpa seorang Muslim lainnya. Walau demikian, yang dikatakan oleh ibu yang penyabar itu, yang telah dipecundangi kehormatannya, dikecam dan dihina, tak lebih dari, “Anakku, tenangkan dirimu. Demi Allah, seorang wanita cantik menjadi istri seorang lelaki yang mencintainya, sedangkan madunya pun banyak, jarang sekali yang luput dari omongan-omongan yang di lontarkan oleh madu-madunya maupun oleh orang lain.”</p>
<p>Adapun Abu Bakar Ra tak bisa berbicara apa-apa selain, “Saya tak pernah melihat satupun keluarga di kalangan bangsa Arab yang mengalami cobaan seperti yang dialami keluarga Abu bakar. Demi Allah, omongan-omongan ini tak pernah di ucapkan orang terhadap kami di zaman Jahiliyah, di kala kami tidak menyembah Allah. Tetapi, di masa Islam, justru kami mengalaminya!”</p>
<p><strong>Aisyah,</strong> yang tak henti-hentinya menangis sehingga dia yakin tangis itu akan menghentikan detak jantungnya. Ketika dia berhadapan dengan Rasulullah Saw dan beliaupun menanyakan kepadanya mengenai berita itu, dan dia hanya mengatakan, “Sesungguhnya aku, demi Allah, telah tahu betul bahwa tuan-tuan telah mendengar berita ini, lalu hati tuan tuan-tuan termakan olehnya lalu mempercayainya. Jadi, kalaupun aku katakan kepada tuan-tuan bahwa aku tidak bersalah, tuan-tuan takkan mempercayaiku. Kalau pun aku mengakui kepada tuan-tuan tentang sesuatu, yang Allah pasti tahu aku bersih darinya, barulah tuan-tuan akan mempercayaiku. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mendapatkan suatu teladan untuk diriku selain ayah nabi Yusuf ketika dia berkata, “….maka kesabaran baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah di mohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu sekalian ceritakan. (QS. Yusuf : 18).</p>
<p>Sungguh, itulah sikap yang tiada taranya dalam sejarah dari sebuah keluarga paling suci di muka bumi ini. Mereka dipecundangi kehormatan dan kemuliaanya, namun tidak seorang pun dari mereka yang keluar batas dan tidak terlontar sepatah kata pun dari mereka yang meninggung perasaan orang lain, bahkan masing-masing tetap mampu mengendalikan urat sarafnya.</p>
<p>Adapun yang keluar batas hanyalah Shafwan Ibnu Mu’aththal Ra. Saking kesalnya, dia pukul Hassan dengan pedangnya dan hampir saja ketelanjurannya mengakibatkan perisyiwa besar seandainya tidak segera dilerai oleh Rasulullah Saw.</p>
<p>Demikianlah adab Islam yang luhur terhadap orang-orang yang menyebarluaskan isu yang keliru dan berita bohong.</p>
<p><strong><em>Keenam,</em></strong> sikap terakhir yang dapat kita simpulkan dari peristiwa <em>haditsul-ifki</em> ialah menghukum orang-orang yang terpedaya yang terlibat dalam menyebarkan fitnah. Dengan demikian, berarti tidak cukup dengan pernyataan bahwa si tertuduh tidak bersalah dan tidak cukup dengan sekadar sang pemimpin menolak segala perkataan buruk yang dilontarkan kepada pihak yang terkena fitnah, lalu habis perkara. Harus ada hukuman tegas yang dilaksanakan di tengah masyarakat muslim terhadap siapa pun yang menyebarkan isu, setelah dilakukan pemeriksaan secermat-cermatnya.</p>
<p>Akan tetapi, kenyataan yang terjadi sekarang, gerakan Islam malah membiarkan begitu saja si penyebar isu dan berita bohong. Karenanya, masyarakat tak habis-habisnya digoncang oleh berbagai macam fitnah.</p>
<p>Sebagai contoh, cukuplah kita sampaikan bahwa hukum Islam terhadap tiga tokoh penyebar berita bohong tersebut, Misthah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hammah binti Jahsy, ialah dijatuhkannya hukuman <em>had al-qadzaf</em> kepada mereka, yakni didera delapan puluh kali, sekalipun ada sebagian riwayat yang menyatakan bahwa jenis hukuman ini baru diterapkan sesudah itu. Jadi, tidak dilaksanakan terhadap ketiga orang itu. Hal ini karena mereka melakukan tuduhan sebelum turunnya ayat mengenai hukuman-hukuman had.</p>
<p>Peristiwa seperti ini justru terjadi pada periode da’wah ini karena sejarah da’wah sebelumnya memang tak pernah menyaksikan terjadinya peristiwa yang serupa di kalangan masyarakat Islam sendiri. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa terjadinya isu biasanya pada saat lemahnya bangunan internal dan pada saat ada kesiapan untuk menerima isu. Sebaliknya, di kala umat sibuk dengan perjuangan dan peperangan menghadapi musuh, jarang sekali isu dapat memengaruhi jiwa mereka.</p>
<p>Dari pelajaran diatas cukuplah bagi kaum Muslimin dan Muslimah yang baru bergabung dalam perjuangan ini menjadikannya sebagai teladan hidup yang paling berharga.Semoga keberkatan untuk kita.</p>
<p><em>Wallahu’alam…</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terorisme Pesanan Atau Agenda  Orang Asing ?</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 13:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiah Rutin]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Para ikhwan dan akhawat Mujahidin/ah dimana saja berada. Diskusi kita kali ini adalah “TERORISME PESANAN ATAU AGENDA  ORANG ASING”. Topik ini mungkin ada yang kurang setuju, itu sudah dapat dipastikan, namun paling tidak ada tangggapan yang dapat kita telaah bersama. Karena  Terorisme  nampaknya masih menjadi barang dagangan yang sangat laku di Indonesia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalamu&#8217;alaikum </em><em>Warahmatullahi </em><em>Wabarakatuh.</em></p>
<p>Para ikhwan dan akhawat Mujahidin/ah dimana saja berada. Diskusi kita kali ini adalah “TERORISME PESANAN ATAU AGENDA  ORANG ASING”. Topik ini mungkin ada yang kurang setuju, itu sudah dapat dipastikan, namun paling tidak ada tangggapan yang dapat kita telaah bersama. Karena  Terorisme  nampaknya masih menjadi barang dagangan yang sangat laku di Indonesia. Tiap-tiap kali ada perubahan situasi dan suasana politik, harganya langsung melonjak tinggi. Pengalihan isu politik kepada barang akomodasi ini seakan-akan tidak ada yang dapat menandinginya.</p>
<p>Semenjak pemerintahan SBY, issu Terorisme ini benar-benar telah mencapai puncaknya. Dari data dan informasi, sebanyak 541 orang tertuduh Teroris di jebloskan kepenjara dan puluhan orang dibantai dan ditembak ditempat dengan berbagai aksi brutal Densus 88.</p>
<p><span id="more-721"></span>Menurut Mantan Presiden Amerika, J.W Bush, <em>laknatullah’alaihi</em>, mengatakan dipermulaan dihembuskannya issu terorisme ini: “War on Terror” adalah” Perang Salib Gaya Baru”. Arahnya jelas, membantai ummat Islam dan membunuh semangat jihad ummat Islam yang berjihad menegakkan Syari&#8217;ah Allah dimuka bumi. Perang melawan teroris adalah perang melawan umat Islam yang berjihad dijalan Allah.</p>
<p>Maka tidak mengherankan jika Densus 88 yang beragama kristen sangat bersemangat untuk tidak membiarkan hidup para tersangka (yang dikatakan) teroris untuk ditangkap. Sebenarnya menangkap mereka sangat memungkinkan tanpa harus menembak dan membunuhnya, tapi balasan dan ganjaran tinggi dari sang sponsor terlalu tinggi dan memikat hati, untuk apa membiarkan mereka harus hidup lebih lama? <em>Naudzubillah…</em></p>
<p>Tiap kali aksi pembantaian dan pembunuhan kaum Muslimin yang dituduh teroris, maka saat itu juga terdengar kucuran dana yang sangat banyak dari luar negeri kepada pelaku dan petugas (algojo) yang haus darah itu. Anehnya aksi itu terjadi apabila pimpinan atau pembesar-pembesar pemerintah Amerika datang berkunjung ke Indonesia, seakan-akan pembantaian itu menjadi <em>sesajen</em> istimewa untuk sang dewa kesurupan. Jadi pembantaian terhadap kaum Muslimin yang terkait atau dikaitkan sebagai teroris adalah bagian dari rekayasa internasional sebagai balas dendam terhadap kematian tentera <em>kuffar</em> di medan perang yang berlaku sejak perang salib dahulu sehingga peperangan terbuka dengan dunia Islam pada hari ini.</p>
<p>Undang-undang anti  teroris dan terorisme adalah undang-undang legal formal yang dibuat zionis dan imperialis kuffar kemudian dihembuskan kenegara-negarara jajahannya untuk membantai dan membunuh ummat Islam tanpa peperangan. Dalam suasana aman dan damai dipihak mereka, dengan undang-undang anti teror tersebut mampu membunuh ratusan hingga ribuan ummat Islam diseluruh dunia tanpa ada korban  yang berarti dipihak mereka atau jika ada sangat sedikit dibandingkan jika terjadi perang terbuka antara ummat Islam dan kaum kuffar dimedan  laga.</p>
<p>Sepertinya undang-undang anti teror ini sangat berkesan untuk  membunuh dan membantai kaum muslimin tanpa peperangan, dan kenyataannya ummat Islam belum mampu menghentikan dan melawannya sehingga sekarang. Walau demikian, kita bersyukur sudah mulai ada usaha sebagian kaum  Muslimin mendatangi Mabes Polri, Komisi III DPR, Komnasham, Kompolnas agar ada  tinjuaan kembali tentang undang-undang tersebut atau penghentian segera aksi brutal dan biadab itu atau undang-undang itu dibubarkan karena merugikan kaum Muslimin.</p>
<p>Istilah teroris dan terorisme seakan-akan  hanya diperuntukkan kepada islam dan umat Islam  sedang kafir dan kekafiran  digunakan istilah sparatis dan sparatisme. Hati-hatilah wahai para algojo, Allah Swt senantiasa mengawasi.</p>
<p>Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” </em><strong>(QS Al Angkabut</strong><strong>, 29:</strong><strong> 4)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“D</em><em>an Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja</em><em>,</em><em> </em><em>m</em><em>aka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.</em><em>”</em> <strong>(QS </strong><strong>An Nisa’, 4:</strong><strong> 93)</strong></p>
<p><em>Wallahu a’lam bis shawab…</em><em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Urgensi Penegakan Syari’at Islam Di Indonesia</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 13:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[Mukaddimah MUNGKINKAH SYARI’AH ISLAM TEGAK DI INDONESIA ? Inilah sebuah pertanyaan yang selalu berulang, terkadang sesekali menghilang, namun tidak berselang lama kembali muncul menempati posisinya semula. Mengapa begitu…? Karena memang kelazimannya demikian, afdhalnya disebuah Negara yang mayoritas terbesar penduduknya beragama Islam, seperti Indonesia ini, seharusnya adalah Negara Islam atau Negara yang dikelola berdasarkan Syari’at Islam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mukaddimah</strong></p>
<p><strong>MUNGKINKAH SYARI’AH ISLAM TEGAK DI INDONESIA ? </strong>Inilah sebuah pertanyaan yang selalu berulang, terkadang sesekali menghilang, namun tidak berselang lama kembali muncul menempati posisinya semula. Mengapa begitu…? Karena memang kelazimannya demikian, <em>afdhal</em>nya disebuah Negara yang mayoritas terbesar penduduknya beragama Islam, seperti Indonesia ini, seharusnya adalah Negara Islam atau Negara yang dikelola berdasarkan Syari’at Islam. Ditinjau dari tatakerama demokrasi sekalipun, yang salah satu asasnya adalah kedaulatan rakyat, maka sangat wajar bila Indonesia memberlakukan Syari’at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di manapun di dunia ini, keyakinan dan dominasi penduduk mayoritaslah yang menjadi identitas negaranya. Di Rusia, China, Nikaragua, penduduk mayoritas berfaham komunis, maka berdirilah negara komunis. Begitu pun di Amerika, Inggris, Australia, Prancis dan lain-lainnya, mayoritas penduduknya berfaham demokrasi, maka berdirilah negara demokrasi.</p>
<p>Apalagi, jika ditinjau dari kaidah dan akidah Islam, yang mewajibkan umat Islam menjalankan syari’at Islam dalam segala aspek kehidupan. Semangat iman seperti inilah, yang membuat perjuangan menegakkan Syari’ah Islam di Indonesia tidak pernah padam. Semenjak Islam masuk ke negeri ini pada abad ke-13, kerajaan-kerajaan Islam di kala itu senantiasa berusaha untuk menegakkan Syari’ah Islam di wilayah kerajaannya. Ketika penjajah Belanda berkuasa pun, upaya-upaya ke arah tegaknya Syari’ah Islam masih terus dilakukan. Setelah Indonesia merdeka, usaha penegakan Syari’ah Islam juga tidak pernah berhenti, baik melalui parlementer oleh parpol Islam Masyumi sehingga melahirkan Piagam Jakarta, maupun melalui perjuangan bersenjata dengan diproklamirkannya Negara Islam Indonesia di Jawa Barat, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi Selatan oleh SM. Kartosuwiryo, Tengku Daud Beureueh, Ibnu Hajar dan Qahhar Mudzakkar.</p>
<p>Namun, apa yang dianggap wajar dalam Negara demokrasi bahkan komunis sekalipun, menjadi tidak wajar di Indonesia. Negara justru bersikap represif terhadap aspirasi dan keyakinan penduduk mayoritas Muslim. Bayangkan, sekiranya mayoritas penduduk Indonesia berfaham komunis, wajarkah bila mereka menuntut berdirinya Negara komunis, dan hukum yang berlaku adalah hukum komunis yang anti tuhan itu? Jika ya, mengapa hal yang sama tidak berlaku bagi Islam, malah umat Islam yang menuntut berdirinya Negara Islam atau berlakunya Syari’at Islam di lembaga Negara dimusuhi sebagai pelaku subversi, anti pemerintah, dan musuh negara? Tapi, jika tidak, itukah mentalitas demokrasi sesungguhnya?</p>
<p>Beginilah prilaku orang-orang kafir sepanjang masa, dimanapun hingga akhir zaman, telah  di predeksi dalam Al-Qur’an, dan menjadi kekhawatiran Nabi Nuh <em>alaihi salam</em>, sebagaimana terekam dalam firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Nuh berkata: “Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.” </em><strong>(Qs. Nuh, 71: 26-27)</strong></p>
<p>Nabi Nuh <em>alaihi salam</em> adalah Nabi yang paling lama usia dakwahnya, menyeru manusia dengan cara diam-diam dan terang-terangan, menyeru mereka di waktu pagi atau petang, siang dan malam tetapi tidak berhasil, malah bertambah bejat moral dan akhlaq mereka. Berikut adalah potret bagaimana kerasnya hati orang-orang kafir menerima dakwah:</p>
<p><em>Nuh berkata: &#8220;Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” </em><strong>(Qs. Nuh, 71: 5-9)</strong><em> </em></p>
<p>Itulah gambaran kekafiran kaum Nuh <em>alaihi salam</em> terhadap syari’ah Allah dan bagaimana dengan kaum yang lain seperti kaum Nabi Musa <em>alaihi salam</em>, kaum Nabi Isa<em> alaihi salam</em> dan ummat Nabi Muhammad Saw. Ternyata tidak jauh berbeda, bahkan lebih sesat dan jahat. Menghadapi kaum yang demikian tidaklah lazim bagi penyeru kebenaran untuk lemah dan mengalah, bahkan wahya yang datang kepada Nabi Muhammad Saw, memerintahkan beliau bersabar dan tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang dzalim.</p>
<p><em>“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. </em><em>Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim [Cenderung kepada orang yang zalim Maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, Maka dibolehkan ] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” </em><strong>(Qs. Hud, 11: 112-115)</strong><strong> </strong></p>
<p>Para penegak syari’ah haruslah memiliki ketangguhan dalam segi keyakinan dan kesabaran dalam menghadapi gelombang ujian yang beraneka ragam, mereka tidak boleh lemah, bersedih hati apalagi berputus asa. Karena berputus asa bukanlah kebiasaan dan sifat mujahid dakwah yang shalih, sifat lemah semangat dan putus asa itu adalah sifat orang yang kafir. Allah berfirman:</p>
<p><em>“…Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiadalah yang  berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Yusuf, 12: 87)</strong><em> </em></p>
<p>Dalam ayat lain Al Qur’an menjelaskan sifat dan karakter orang yang teguh dan tangguh dalam keimanan sehingga musibah apapun yang menimpanya senantiasa tidak mampu menggeser apalagi menggoyangkan perinsip hidupnya.</p>
<p><em>“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: &#8220;Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kamidan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Ali Imran, 3: 146-147)</strong><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tekanan Terhadap Gerakan Penegak Syari’ah Islam</strong></p>
<p>Eksistensi gerakan penegak Syari’at Islam, pada gilirannya bagai terjepit di antara dua sisi, karena ulah orang-orang Islam sendiri. Di satu sisi ada golongan moderat, yang bersikap <em>ambivalen</em> terhadap tuntutan formalisasi syari’at Islam di lembaga negara. Tidak kurang dari tokoh-tokoh dan pemimpin ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah sendiri yang mengatakan bahwa asas negara demokrasi Pancasila sudah final. Mereka sudah merasa puas dengan Negara ‘bukan-bukan’, seperti pernah dikatakan oleh mantan Presiden Soeharto, bahwa Indonesia bukan Negara sekuler, dan bukan pula Negara agama. Celakanya lagi, pemeluk Islam yang secara kebetulan memiliki hak formal dalam menentukan mekanisme pengelolaan negara, seperti para anggota eksekutif, legislatif dan yudikatif, sejauh ini belum berminat secara serius untuk mengatur negara ini sesuai dengan Syari’at Islam.</p>
<p>Sementara di sisi lain terdapat penguasa yang bersikap diskriminatif dan menjadi kaki tangan golongan kafir, yang dengan keras menolak syari’at Islam. Buktinya, sekalipun sudah banyak kepala daerah maupun wali kota dipegang oleh tokoh dari partai Islam, bergelar sarjana lulusan universitas Islam Timur Tengah, alih-alih  membangun masyarakat yang Islami, mereka malah membonceng kafilah kuffar, dan mencurigai Islam sebagai ancaman bagi persatuan dan kesatuan negara. Akibatnya, setiap kali umat Islam menuntut berlakunya syari’at Islam, pemerintah secara semena-mena menuduhnya sebagai pemberonrak, radikal, menentang dasar negara, melawan pemerintah yang sah dan sebagainya. Perangai orang Munafiq seperti ini telah diinfokan Al Qur’an sebagai berikut:</p>
<p><em>“Apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul&#8221;, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” </em><strong>(Qs. An Nisa’, 4: 61)</strong><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Urgensi Syari’at Islam</strong></p>
<p>Di Indonesia, setidaknya ada tiga alasan mendasar, mengapa formalisasi Syari’ah Islam di lembaga negara perlu dilakukan.<strong> <em>Pertama</em></strong>, pelaksanaan Syari’at Islam merupakan ibadah sekaligus kewajiban kolektif umat Islam yang merupakan umat mayoritas negeri ini. <strong><em>Kedua</em></strong>, lembaga negara merupakan institusi yang mempunyai otoritas dan kewenangan mengatur masyarakat untuk melaksanakan Syari’at Islam yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. <strong><em>Ketiga</em>,</strong> formalisasi syari’ah Islam di lembaga negara merupakan hak yuridis konstitusional umat Islam yang dijamin oleh UUD 45 pasal 29, ayat 1 dan 2 serta Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang hingga saat ini masih dinyatakan tetap berlaku.</p>
<p>Sebenarnya, Negara RI membutuhkan Syari’at Islam untuk meraih cita-cita kemerdekaannya. Fakta dan latar belakang historis sejarah kemerdekaan, jelas pemeran utamanya didominasi umat Islam. Selain itu, legal, formal dan konstitusional tidak bertentangan dengan undang-undang RI. Bahkan, Syari’at Islam memberikan norma-norma dan nilai-nilai integral dan komprehensif meliputi seluruh persoalan masyarakat, bangsa dan Negara. Lebih dari itu semua, secara substansial syari’at Islam dapat memenuhi harapan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia untuk kepentingan negara maupun bangsa lain di dunia.</p>
<p>Dalam kerangka ini pula, maka penjelasan Prof. Dr. Hazairin, SH tentang pasal 29 ayat 1 UUD 1945 bahwa: “Negara berkewajiban untuk mengatur dan mengawasi agar warga negara Indonesia menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama masing-masing,” sangat relevan dengan kondisi Indonesia. Dalam buku ‘Demokrasi Pancasila’, Hazairin menafsirkan rumusan UUD 1945 pasal 29 ayat 1 itu sebagai berikut:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> di negara RI tidak boleh ada aturan yang bertentangan dengan agama. <strong>Kedua,</strong> negara RI wajib melaksanakan Syari’at Islam bagi umat Islam, Syari’at Nasrani bagi Nasrani dan seterusnya, sepanjang pelaksanaannya memerlukan bantuan kekuasaan negara. <strong>Ketiga,</strong> setiap pemeluk agama wajib menjalankan syari’at agamanya secara pribadi dalam hal-hal yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara.</p>
<p>Senada dengan itu, adalah pernyataan Dr. Sujatmoko, seorang yang bukan ulama lulusan pesantren, tetapi memiliki obyektifitas berfikir serta kecerdasan intelektual. Berdasarkan pengalamannya sebagai Dubes RI di PBB dan Rektor Universitas PBB di Tokyo, pada awal dekade 90-an, dalam suatu diskusi di Jogjakarta, Sujatmoko mencoba menepis agitasi kaum oportunis di Indonesia, yang menganggap syari’at Islam sebagai ideologi radikal dan pemicu perpecahan.</p>
<p>“Komunisme telah dicoba dan ternyata gagal”, tegas Sujatmoko. Selanjutnya dikatakan, “Kapitalisme dengan segala kejahatannya dipraktikkan dan gagal menciptakan keadilan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Demikian pula sosialisme yang lebih dari sepertiga abad gagal menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat, terutama buruh dan petani. Isme-isme lain juga gagal menciptakan dunia yang damai, bahkan hanya sempat hidup beberapa tahun saja seperti nazisme dan fasisme. Karena itu, mengapa kita tidak mencoba syari’at Islam sebagai alternatif untuk memperbaiki negeri kita?”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Fakta Dukungan</strong></p>
<p>Kini, adanya sejumlah daerah yang mengajukan tuntutan penegakan Syari’ah Islam sebagai alternatif terbaik mengatasi musibah dan problema yang membelenggu kehidupan berbangsa dan bernegara, merupakan indikasi bahwa keinginan umat Islam untuk hidup di bawah naungan syari’at Islam mustahil dibendung. Bahkan di berbagai daerah, aturan-aturan yang bernuansa syari’ah mulai diadopsi ke dalam Peraturan Daerah (Perda), suatu fakta bahwa keinginan menegakkan syari’at Islam melalui kekuasaan pemerintahan diterima masyarakat Indonesia.</p>
<p>Sejumlah survei, yang dilakukan secara nasional dan internasional, menunjukkan dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam meningkat. Survei Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) menunjukkan: 52 persen rakyat Indonesia menuntut penerapan Syari’ah Islam. Sejumlah survei menunjukkan dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam meningkat. Survei Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) menunjukkan: 52 persen rakyat Indonesia menuntut penerapan Syari’ah Islam. Sebelumnya, hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002 (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002) menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan Syari’ah Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat demikian. Ini berarti, ada peningkatan sekitar 10%. Sebelumnya, hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002 (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002) menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan Syari’ah Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat demikian. Jelas, ini pertanda adanya peningkatan cukup tinggi, sekitar 10%.</p>
<p>Kecenderungan menguatnya dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam juga sejalan dengan hasil Survei World Public Opinion.org, yang dilaksanakan di empat negara Islam —Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Maroko— pada Desember 2006 sampai Februari 2007. Hasil survesi menunjukkan bahwa mayoritas (2/3 responden) menyetujui penyatuan seluruh Negara Islam ke dalam sebuah pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah).</p>
<p>Hasil survei itu juga —bekerjasama dengan University of Maryland— memperlihatkan bahwa mayoritas responden (sekitar 3/4) setuju dengan upaya untuk mewajibkan syari’ah Islam di tengah masyarakat, sekaligus menggantikan nilai-nilai Barat yang tidak Islami. Khusus untuk Indonesia, survei menunjukkan mayoritas (53%) responden menyetujui pelaksanaan Syari’ah Islam.</p>
<p>Begitupun, hasil survei Gerakan Mahasiswa Nasionalis di kampus-kampus utama di Indonesia tahun 2006 juga membuktikan, bahwa 80% mahasiswa menginginkan Syari’ah Islam diterapkan. Yang paling mutakhir, survei SEM Institute tahun 2008 juga membuktikan hal yang sama: semakin menguatnya dukungan umat terhadap penerapan Syari’ah Islam, yakni mencapai 83%.</p>
<p>Jika pernyataan para pakar di atas, didukung hasil survei, kemudian lahirnya Perda bernuansa syari’ah di sejumlah daerah, menjadi indikator penting urgensi formalisasi syari’ah di lembaga Negara. Maka ini lah fakta sosial yang tidak terbantahkan, bahwa banyak sekali umat Islam dewasa ini yang rela menerima apapun yang sesuai dengan ajaran Islam.</p>
<p>Akan tetapi kerelaan itu akan cepat berubah menjadi kekhawatiran, tidak <em>pede</em>, manakala muncul konflik antara Islam dan kekafiran, atau berhadapan dengan sistem hidup serta ideologi di luar syari’at Islam. Ketika umat Islam di hadapkan dengan ideologi Soekarnoisme Nasakom, dan Soehartoisme asas tunggal yang anti syari’at Islam, mayoritas umat Islam mendukung tanpa reserve, sebaliknya menolak formalisasi syari’at Islam.</p>
<p>Kelemahan ini bahkan terdapat di kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela-pembela Islam. Mereka meneriakkan puji-pujian terhadap Islam, melakukan aktivitas keislaman, membentuk jamaah zikir dengan puluhan ribu pengikutnya. Tapi bila diseru supaya melaksanakan syari’at Islam dalam urusan pribadi, keluarga, Negara, relasi-relasi bisnis, lembaga pendidikan, dan di segala aspek kehidupan, mereka akan menjawab: “Indonesia bukan Negara Islam. Lebih maslahat kita abaikan untuk sementara waktu, menunggu momentum yang tepat agar kita tidak dicurigai dan dimusuhi.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Intervensi Demokrasi</strong></p>
<p>Kelemahan umat Islam semakin transparan tatkala berhadapan dengan ideologi demokrasi. Intervensi demokrasi sudah sedemikian jauh menyusup ke relung hati sebagian tokoh Islam, mengotori aqidah serta pemahaman agama kaum Muslim. Tidak sedikit yang berpendapat, demokrasi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Lalu, mereka tampil sebagai bemper demokrasi, menjadikannya sebagai barometer politik dan ideologi.</p>
<p>Makna harfiyah demokrasi, sebagai pecahan dari dua kata <em>demos</em> (rakyat) dan <em>kratos</em> (kekuasan) adalah kekuasaan rakyat. Inilah makna essensial dari demokrasi, yaitu kekuasaan berada di tangan rakyat. Termasuk <em>tasyri’ul jamaahiir</em> (wewenang membuat hukum) tergantung suara mayoritas rakyat. Sebagai sistem hidup dan tatanan politik dalam bernegara, demokrasi tidak memiliki sumber hukum, tidak punya kitab suci, apalagi Nabi, semuanya tergantung kehendak dan hawanafsu rakyat, yang disampaikan melalui wakil-wakilnya di parlemen.</p>
<p>Prinsipnya adalah, kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kemauan rakyat mayoritas merupakan hukum tertinggi dalam merumuskan undang-undang; sedang kebenaran tergantung kehendak mayoritas. Unsur-unsur tersebut di atas jelas berbeda dan bertentangan dengan Syari’at Islam.</p>
<p>Sesungguhnya Islam mengajarkan, bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan Allah Swt. Islam mengajarkan untuk beribadah dan berserah diri hanya kepada Allah saja. Bukan berarti Allah Swt dengan segala otoritas yang dimiliki, tampil sebagai eksekutif, yudikatif dan legislatif sekaligus. Tetapi mengutus manusia rasul, menjadi uswah hasanah yang dapat ditiru dan diteladani, kemudian sepeninggal beliau -dalam menyelenggarakan kekuasaan negara dan pemerintahan- digantikan oleh para khalifah. Sebagai tatanan politik bernegara, Islam memiliki sumber hukum, yaitu Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Hukum buatan manusia disebut Undang-undang, dan hukum ciptaan Allah disebut SYARI’AT. Implementasi dari Hukum Qur’an dan Hadist, inilah yang seharusnya dilaksanakan oleh manusia dalam segala aspek kehidupannya. Al Qur’an menjelaskan dan memerintahkan kepada pemerintah (mayoritas Muslim) yang sedang berkuasa agar menerapkan syari’ah Allah swt, jika enggan diancam sebagai <strong><em>orang yang tidak beriman</em></strong>:</p>
<p><em>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” </em><strong>(Qs. An Nisa’, 4: 65)</strong></p>
<p>Dan firman Nya lagi:</p>
<p><em>“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 49) </strong></p>
<p>Dua ayat diatas sangat jelas memerintahkan para penguasa  Muslim menerapkan syari’ah Allah dilembaga negara yang dikuasainya, dan kalau tetap enggan Allah Swt sendiri yang memvonis mereka sebagai <strong><em>Kafir, Dzalim dan Fasik</em></strong>. Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“…K</em><em>arena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 44)</strong><em> </em></p>
<p><em>“…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 45)</strong><em> </em></p>
<p><em>“…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 47)</strong></p>
<p>Menurut <strong>Dr Abdul Qadir Audah</strong> dalam bukunya “Islam Ditengah Kejahilan Ummat Dan Ulamanya” berkata: Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, ada tiga macam:</p>
<ol>
<li>Karena kafir atau ingkar dan bencinya kepada hukum Allah dan mengingkari adanya kebaikan padanya, orang yang semacam ini kafir (Qs. Al Maidah, 44).</li>
<li>Karena menuruti hawa nafsunya meskipun mereka memandang adanya kebaikan pada hukum Allah, tapi menganggap ada hukum lain yang lebih baik dan lebih sesuai, orang semacam ini dinamakan zalim (Qs. Al Maidah, 45).</li>
<li>Orang yang  berkayakinan bahwa hukum Allah-lah yang paling baik dan paling adil tetapi memilih hukum selainnya karena manfaat dunia, sanggup mendurhakai hukum Allah karena  dunia (harta, kuasa dan wanita), mereka ini disebut fasik atau pendurhaka (Qs. Al Maidah, 47).</li>
</ol>
<p>Kontroversi dikalangan umat Islam, sesungguhnya dipicu oleh tiga hal berikut. Apakah dalam menyelenggarakan kekuasaan Negara, umat Islam ‘beriman pada konsep kedaulatan rakyat (demokrasi)’ dan menolak konsep kedaulatan Allah Swt (Islam), atau sebaliknya menolak konsep demokrasi secara totalitas dan menerima konsep Islam secara totalitas pula? Atau memilih opsi oportunistik, memadukan demokrasi dan Islam, menolak sebagian dan menerima sebagian ajaran Islam, seperti yang dilakukan orang-orang kafir ahli kitab yang dimurkai Allah?</p>
<p><em>“…Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikiandaripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” </em><strong>(Qs. Al-Baqarah, 2: 85)</strong></p>
<p>Terhadap kenyataan ini, semestinya umat Islam, baik yang berada di dalam parpol atau ormas Islam tidak boleh terlena dan lengah. Apa jadinya jika atas nama demokrasi, lalu menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan sebaliknya? Ada kesan, bahwa parpol Islam justru menjadi bemper demokrasi. Dalam banyak kasus, parpol Islam justru diperalat oleh demokrasi untuk menghambat syari’at Islam. “Boleh saja Islam berperan dalam membangun masyarakat, sejauh tidak bertentangan dengan demokrasi,” alasan mereka.</p>
<p>Buruknya ideologi demokrasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bagai anak anjing yang tidak menaati induknya. “Suatu ketika, seorang laki-laki dari bani Israil kedatangan tamu, sedang dirumahnya ada seekor anjing yang hamil tua. Berkatalah anjing itu, “Demi Allah aku tidak akan menggonggong kepada tamu tuanku”. Tiba-tiba anak yang dikandungnyalah yang menggonggong. Tuan rumah, si pemilik anjing berkata (kepada seseorang), “Alamat apa ini?” Kemudian Allah memberikan ilham kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Ini adalah permisalan bahwa, akan ada umat sesudahmu, orang-orang bodoh dapat memaksa orang-orang yang pandai dan bijak di antara mereka.”</p>
<p>Analogi ini bersumber dari Abdullah bin Amr yang termuat di dalam kitab <em>Jami’us Shaghir 5204</em>. Maksudnya, bahwa proses mencari, memilih dan menetapkan seorang pemimpin menurut versi demokrasi adalah; siapa yang mendapatkan dukungan terbanyak maka ialah yang patut duduk sebagai pemimpin. Dan suara terbanyak sama artinya dengan siapa yang banyak omong. Alkisah, orang-orang bodoh suka membuat gaduh dengan beramai-ramai bersuara keras, sehingga suara orang-orang pandai dan berakal tidak terdengar karena tenggelam dalam riuhnya suara si bodoh. Ketika tipu daya orang-orang jahat dapat mempengaruhi masyarakat awam, maka orang-orang jahat pun akan dapat mengalahkan orang-orang baik, itulah demokrasi yang menganggap suara mayoritas sebagai kebenaran.”</p>
<p>Tragisnya, sebagian besar penganut Islam tampaknya merasa amat sangat bersyukur –bukan bersedih- Indonesia diatur dengan sistem demokrasi, sehingga beramai-ramai menolak syari’at Islam. Mereka menganggap demokrasi sebagai pemersatu dan penyelamat, sedangkan syari’at Islam diposisikan sebagai ancaman dan pemecah belah rakyat.</p>
<p><em>Ucapan dan rasa syukur itu diungkapkan, misalnya oleh Presiden <strong>Susilo Bambang Yudoyono</strong> dalam orasi pengukuhan sebagai Capres 2009: “Saya bersyukur kepada Allah Swt, keluarga saya diatur dengan demokrasi, sehingga setiap orang dalam anggota keluarga saya bebas berpendapat,” katanya bangga.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kontra Syari’at Islam</strong></p>
<p>Pertarungan antara yang haq dan bathil merupakan <em>sunnatullah</em>. Sedangkan upaya mensinergikan antara keduanya, adalah program syetan. Oleh karena itu Islam dengan tegas menolak oplos kebenaran dan kebathilan sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.”</em> <strong>(Qs. Al-Baqarah, 2:42)</strong></p>
<p>Pada tataran ideologis dan praktis, pertarungan yang terjadi sekarang bukan hanya antara Muslim dan Kafir, melainkan antara Muslim yang mendukung dan anti formalisasi syari’ah.  Proses syetanisasi di negeri ini, tidak hanya dimonopoli orang kafir; tetapi berlangsung secara legal, formal, dan konstitusional. Seperti dikatakan sekte JIL (Jaringan Islam Liberal), “<em>Kita menerima ideologi demokrasi, karena demokrasi mensinergikan antara yang baik dan buruk, halal dan haram.” </em>Kelompok anti syari’ah Islam meyakini bahwa demokrasi lebih tepat bagi bangsa Indonesia, karena bisa mensinergikan antara halal dan haram sesuai kebutuhan. Akibatnya muncul sikap ambivalen dan munafik.</p>
<p>Pada masa Orde Baru kekuasaan politik memang cenderung represif pada Islam karena dianggap menjadi salah-satu potensi ancaman pada rezim yang sedang berkuasa. Upaya sistematis dilakukan oleh kekuasaan formal untuk menekan gerak sosial-politik umat Islam termasuk pemberian cap ‘ekstrim kanan, subversi, radikal, teroris dsbnya,’ yang ujung-ujungnya menekan aktifis Islam untuk tidak bisa bergerak maju dalam bidang sosial-politik. Bahkan partai politik yang berasas Islam pun secara sistematis diseret ke arah meninggalkan asas Islam, demikian pula dengan ormas Islam sekalipun yang akhirnya merubah asas Islam menjadi asas lain. Masalahnya, apakah dengan mimikri politik seperti itu Indonesia menjadi lebih maju dan berjaya? Kerusakan masyarakat terus saja bertambah di atas kerusakan yang sudah menggunung.</p>
<p>Lalu, mengapa ada sejumlah tokoh Muslim, bahkan dari kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela Islam, justru menolak formalisasi syari’at Islam? Mengapa terdapat hamba Allah yang membangkang (fasik) kepada Allah Swt? Apa sesungguhnya dasar berfikir yang melatarbelakangi mereka menolak syari’at Islam?</p>
<p>Menurut pengalaman bertahun-tahun di arena perjuangan, dan fakta sosial di masyarakat, faktor penyebabnya antara lain:  di kalangan kaum Muslimin, muncul kesan bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam merupakan ancaman terhadap keselamatan diri di tengah globalisasi sekarang. Hal ini tercermin pada keengganan mereka untuk berterus terang dengan kebenaran agamanya, dan dengan terpaksa menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam; bahwa Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini. Padahal Allah Swt telah menginformasikan melalui firman-Nya:</p>
<p>“<em>Thaaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah, yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan langit dan bumi yang tinggi.” </em><strong>(Qs. Thaaha, 20: 1-3)</strong></p>
<p>Selain faktor di atas, banyak kalangan Muslim yang memosisikan Islam selaras dengan demokrasi. Sehingga, ketika mereka melakukan amal-amal demokrasi berlandaskan kedaulatan rakyat dan tunduk pada suara mayoritas, mereka ingin perbuatannya itu dilabeli merk ‘Islami’. Padahal, tidak semua ajaran demokrasi sesuai syari’at Islam, sebaliknya apa yang sesuai dengan syari’at Islam dianggap tidak demokratis.</p>
<p>Jika Islam yang dimaksud seperti yang dipahami kebanyakan orang Islam yang anti syari’at Islam, atau menerima sebagian dan menolak sebagian dari ajaran Islam, mungkin dapat diselaraskan dengan demokrasi. Tapi jika Islam yang dimaksud seperti yang diwahyukan Allah dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, mustahil bisa dicocok-cocokkan. Sebab Islam berdiri tegak di atas landasan Tauhid, sedang demokrasi berdiri tegak di atas landasan hawa nafsu. Islam memiliki sumber hukum (Qur’an dan Hadits), sedang demokrasi sumber hukumnya ‘kemauan orang banyak’. Islam mengharamkan daging babi, khamer, pelacuran, perjudian, ekonomi ribawi, sedang demokrasi menganggap kamaksiatan dan kemungkaran sebagai fasilitas hidup.</p>
<p>Memang benar, bila dalam menjalani kehidupan ini seorang Muslim tidak memiliki ukuran atau barometer ideologis yang jelas, sikap dan pernyataannya kerapkali menggelikan. Seperti ucapan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (Ketua Majelis Syuro PBB), pada Ahad, 16 Shafar 1431 H/ 31 Januari 2010 M, di hadapan Musywil Partai Bulan Bintang bertempat di Gedung Bir Ali, Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.</p>
<p>“Demokrasi tergantung <em>ta’rif</em> (makna) mana yang digunakan, karena makna demokrasi itu banyak, tidak tunggal. Perbedaan amal demokrasi atau amal Islami, mungkin saja dirasakan oleh mereka yang bergelut di bidang teori, tapi bagi saya yang bergelut secara praktis dan pengambil keputusan, tidak merasakan adanya konflik ideologi seperti itu. Apakah ini amal Islami atau aktivitas demokrasi, bagi saya sama saja.”</p>
<p>Jika <em>ta’rif</em> demokrasi tidak tunggal, lalu umat Islam harus mengidentifikasikan diri pada makna demokrasi yang mana, sehingga tidak melanggar syari’at Islam? Kaitannya dengan kebingungan memilih dan memilah ‘yang ini amal demokrasi’ atau ‘yang itu amal Islami’, dapat diteropong melalui <em>kaidah ushuliyah</em>. Dalam teori ushul fiqih, Imam Syafi’i membuat kategorisasi amal yang disebut “<em>Anwa’u af ‘alin Nabiyyi </em>, yaitu <em>af’alun</em> (perbuatan) Nabi, sebagai barometer amal dibagi tiga bagian:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, <strong>amal yang bersifat <em>Qurbah</em></strong>, seperti tuntunan ibadah dari Nabi yang tidak boleh di rubah.</p>
<p><strong>Kedua, <em>Tho’ah</em></strong>, kehidupan kemanusiaan, yang dibatasi dengan hukum wajib, sunnah, dan mubah. Contoh, mandi junub. Mandinya sendiri tanpa diatur agama, kita sudah biasa mandi, dilakukan oleh orang kafir maupun Muslim. Bedanya, mandi junub bagi orang Islam adalah mandi yang dilakukan setelah berhubungan dengan istri, perempuan datang haid atau datang nifas. Agama (yang dibawa) Nabi Muhammad menjelaskan itu, maka kita mesti <em>Tho’ah</em>.</p>
<p><strong>Ketiga, bersifat <em>Jibillah</em></strong><em>,</em> perbuatan Nabi yang bersifat naluriah (tabi’at insaniyah yaitu sifat kemanusiaan). Dalam hal <em>jibillah</em> prinsipnya adalah mubah, kecuali kalau ada larangan.</p>
<p>Dengan kategorisasi ini, dimaksudkan agar seorang Muslim dalam menerima atau menolak sesuatu, bukan karena sesuai atau bertentangan dengan demokrasi; melainkan selaras dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam.</p>
<p>Ketakutan kelompok liberal akan bahaya menguatnya kekuatan Islam yang dianggap sebagai ancaman bagi masa depan pluralisme di Indonesia terus diopinikan dengan resonansi yang kian masif. Sebuah forum yang menyebut dirinya “Konferensi Nasional Lintas Agama” atau <em>Indonesian Conference on Religion and Peace</em> (ICRP) yang dihadiri oleh sekitar 80 peserta ‘tokoh lintas agama dan kepercayaan’ dari berbagai daerah, dan menolak Perda yang bernuansa Syariat Islam, memutuskan akan mendesak Pemerintah untuk mencabutnya.</p>
<p>“Kami akan sampaikan kepada presiden dan wapres yang baru terpilih agar perda-perda dievaluasi dan bisa masuk ke MK (Mahkamah Konstitusi) atau Mahkamah Agung (MA) untuk dilakukan judicial review”, ujar ketua forum yang ternyata seorang Doktor Agama Islam dan PNS di Departemen Agama RI.” (Harian Surya, Rabu 7/10/09).</p>
<p>Apa yang disebut Perda Syariah itu? Yaitu, adanya daerah-wilayah di Republik Indonesia ini, di mana para pejabat legislatif yang beragama Islam membuat kesepakatan untuk menggoalkan suatu Perda (Peraturan Daerah) yang diinspirasi ajaran agamanya, yakni Syariat Islam terkait pengelolaan wilayah, (seperti menolak perjudian, pelacuran, korupsi, dan kemasiatan lain sesuai tuntunan agama yang dipeluknya). Mereka menggunakan mekanisme yang sudah sejalan dengan proses pembuatan sebuah perda, termasuk, tentu saja rapat-rapat di DPRD dengan pihak lain, lalu mereka berhasil menggoalkan Perda tersebut. Apa yang salah dengan Perda seperti itu?</p>
<p>Sebuah acara “Nurcholis Madjid Memorial Lecture III” yang digelar di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/09), mengundang Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, untuk menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Politik Identitas dan Masa Depan Plularisme di Indonesia.”</p>
<p>Dalam orasinya, Syafi’i Ma’arif yang dikenal sebagai kontributor  liberalme menyinggung soal gerakan-gerakan Islam seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kerap mengampanyekan penegakan syari’at Islam dan khilafah Islamiyah. Syafii menyatakan, <em>“Sikap MMI yang menyatakan bahwa penolakan syari’at Islam secara konsititusional termasuk kategori kafir, fasik, dan zalim, adalah pernyataan yang berbahaya bagi pluralisme. Kalau beragama secara hitam putih, mungkin lebih baik jadi atheis saja,”</em> tegasnya.</p>
<p>Dengan menggunakan retorika agitatif, Maarif menganggap bahwa tuntutan formalisasi syari’at Islam sebagai beragama hitam putih. Lalu menuduh Majelis Mujahidin (MM) sebagai kelompok tafkir (mengafirkan mereka yang menolak formalisasi syari’at Islam). Sekalipun Syafii Maarif tidak akan dapat membuktikan tuduhannya terhadap MM -karena itu bukan sikap MM- tetapi lontaran keji itu sudah menyebar bagai virus yang melahirkan trauma ukhuwah Islamiyah.</p>
<p>Majelis Mujahidin tidak pernah merasa paling benar, apalagi mengafirkan Muslim lainnya. Tetapi tidak membenarkan yang benar adalah kesalahan. Dan tidak mengatakan kafir terhadap mereka yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya, adalah kekafiran juga. Maka sikap MM dalam hal ini sesuai dengan sikap Islam, sebagaimana firman Allah: “Siapa saja yang tidak berhukum pada hukum Allah adalah kafir, fasik, dan zalim.” <strong>(Qs. Al-Maidah, 5: 44, 45, 47).</strong></p>
<p>Dalam beberapa tahun terakhir ini, Syafii Maarif yang tercatat sebagai anggota dari “Trilateral Commission” sebuah lembaga yang berada di bawah kendali Zionis, memang dikenal sebagai orang yang berada di dalam gerbong para penolak formalisasi syariat Islam. Dalam diskusi yang banyak dihadiri para aktivis liberal itu, Syafii dengan kalimat nyinyir mengatakan, “Kalau kita ingin melaksanakan syariat Islam secara utuh itu akan sulit hidup dimana saja. Harusnya kita pakai saja ayat fattaqullah mastatha’tum, bertakwalah kepada Allah semampumu,” ucapnya.</p>
<p>Dengan bangga, Syafii bernostalgia, dulu pada tahun 70-an sebelum dirinya berangkat ke Chicago, Amerika Serikat, dirinya adalah orang yang sangat anti-terhadap Pancasila. “Tetapi setelah dicuci otak oleh Fazlul Rahman (Profesor di Chicago) saya berubah,” ujarnya sambil terkekeh. Syafii mengaku dirinya sedih melihat kondisi bangsa ini, dimana pemerintah tidak serius dalam mengelola negara. Ia juga sedih melihat kelakuan umat Islam yang anti terhadap pluralisme dan berupaya memaksakan kehendak terhadap minoritas. “Kalau tidak sedikit paham Al-Qur’an, mungkin saya malas jadi orang Islam,” tandas Syafii.</p>
<p>Dalam pandangan Syafii, formalisasi syari’ah Islam menunjukkan prilaku beragama hitam putih. Untuk melemahkan tuntutan penegakan syariat Islam, Syafii melakukan manipulasi sejarah, dan menggiring pemahaman Islam ke arah faham sesat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tugas kita bersama (Penutup)</strong></p>
<p>Kontribusi terbesar kaum Muslimin Indonesia dalam mencegah terjadinya disintegrasi bangsa, mendamaikan sesama ummat manusia, keluar dari segala krisis dan meningkatkan harkat serta martabat kemanusiaan, adalah menyadarkan para penguasa supaya memberlakukan Syari’ah Islam di lembaga negara, dan memerintah negeri ini dengan hukum Allah. Apabila hal itu dilakukan, maka Allah telah berjanji dengan firman-Nya:</p>
<p>“<em>Sekiranya penduduk negeri-negeri itu bariman dan bertaqwa kepada Allah niscaya Kami bukakan kepada mereka segala macam barakah dari Langit dan dari Bumi. Namun karena mengingkari ayat-ayat Kami maka Kami siksa mereka akibat perbuatan mereka sendiri.” </em><strong>(Qs. Al-A’raf, 7: 96)</strong></p>
<p>Oleh karena itu, pekerjaan besar umat Islam khususnya para Ulama, Da’i dan Muballigh dewasa ini haruslah diprioritaskan kepada tiga hal.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> menumbuhkan rasa hormat kaum Muslimin terhadap Syari’ah Islam. Sebab jika kaum Muslimin menolak diberlakukannya Syari’ah Islam dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara berarti mereka tidak menghormati Allah menurut penghormatan yang semestinya.</p>
<p>Firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Mereka (yang mengingkari wahyu) tidak menghormati Allah menurut penghormatan semestinya, ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu apapun kepada manusia”. Jawablah (Ya Muhammad): “Siapa yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran kertas yang kamu telah perlihatkan dan kebanyakan kamu sembunyikan sedang kepadamu telah diajarkan apa yang belum pernah kamu ketahui (demikian juga) bapak-bapakmu?” Katakanlah, “Allah” (yang menurunkannya). Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan.” </em><strong>(Qs. Al-An’am, 6: 91)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> menumbuhkan kepercayaan dikalangan umat Islam, bahwa solusi bagi problema kehidupan manusia di muka bumi ini hanya dengan memberlakukan Syari’ah Islam saja. Inilah inti keimanan, yaitu tidak ragu-ragu terhadap kebenaran yang diwahyukan Allah dan yang dibawa Muhammad Rasulullah, sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang sebenarnya beriman, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasuln-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka inilah orang-orang yang benar imannya.” </em><strong>(QS. al-Hujarat, 49: 15)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em>Ketiga, </em></strong>Mengumpulkan dan konolidasikan seluruh potensi ummat untuk satu tujuan tegaknya syari’at Islam tanpa mengenal penat dan lelah dan siap berkurban apa saja yang diperlukan. Memerkecil segala bentuk perselisihan dan membangun segala potensi kearah menggalang ukhuwwah imaniah merupakan pekerjaan yang sangat besar yang tidak mungkin dipikul oleh segelintir ummat. Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.Tidak ada doa mereka selain ucapan: &#8220;Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Ali Imran, 3: 146-147)</strong><em> </em></p>
<p><em>Wallahu’alam Bish Showab…</em></p>
<p>******</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jihad Fie Sabilillah Membebaskan Dari Siksa Api Neraka dan Memasukakan kedalam Syurga</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jihad-fie-sabilillah-membebaskan-dari-siksa-api-neraka-dan-memasukakan-kedalam-syurga/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jihad-fie-sabilillah-membebaskan-dari-siksa-api-neraka-dan-memasukakan-kedalam-syurga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 04:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiah Rutin]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[tausiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, Assalamu&#8217;alaikum Wr wb. Para jama&#8217;ah yang dicintai dan dirahmati Allah. Ketahulah bahwa kalimat Jihad fie sabilillah adalah wahyu Allah. Ayat-ayat nya didalam Al Qur&#8217;an hampir mencapai 300-16 ayat, melebihi ayat tentang shalat, puasa , zakat dan hajji. Sebagian besar umat Islam kurang bersahabat dengannya, berbeda dengan ayat-ayat shalat, zakat, puasa dan hajji. Akibatnya dikalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah, Assalamu&#8217;alaikum Wr wb.</p>
<p>Para jama&#8217;ah yang dicintai dan dirahmati Allah. Ketahulah bahwa kalimat Jihad <em>fie sabilillah</em> adalah wahyu Allah. Ayat-ayat nya didalam Al Qur&#8217;an hampir mencapai 300-16 ayat, melebihi ayat tentang shalat, puasa , zakat dan hajji. Sebagian besar umat Islam kurang bersahabat dengannya, berbeda dengan ayat-ayat shalat, zakat, puasa dan hajji. Akibatnya dikalangan ummat Islam ada yang benci, apriori bahkan cenderung takut dan menentang ayat-ayat jihad.</p>
<p>Sebagai Muslim yang shalih tidak sepatuttnya memiliki sikap munafiq (satu wajah dua muka), artinya sebagian ayat Allah seperti shalat, puasa dan hajji sangat dicintai dan disanjung namun bila sampai kepada ayat jihad, marah benci dan menentang. Apakah ayat berikut ini tidak menjadikan hati kita merindui jihad fiesabilillah yang memiliki potensi membawa masuk kedalam syorga ?</p>
<p>Firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat membebaskan kamu dari siksa yang amat pedih (neraka), yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul Nya, lalu kamu berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu, yang demikian ini lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kemudian Allah akan ampunkan dosa-dosamu, dan akan masukkan kamu kedalam sorga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, itulah keberuntungan yang besar.&#8221;</em> <strong>(QS Shaaf 61:10-11). </strong></p>
<p>Alangkah indah dan bahagianya jika kaum Muslim mencintai dan beramal jihad sebagaiman cintanya kepada amalan hajji dan umrah, shalat dan puasa&#8230;</p>
<p>Mari kita mendekatkan diri dengan amalan yang menjadi puncak ketinggain Islam ini, jihad fie sabilillah. <em>Wallahu&#8217;alam bish showab&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jihad-fie-sabilillah-membebaskan-dari-siksa-api-neraka-dan-memasukakan-kedalam-syurga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jihad &amp; Ujian</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jihad-ujian/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jihad-ujian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 17:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum syahid (Insya Allah), Syekh Abu Mush&#8217;ab Al Zarqawi pernah menuliskan untaian nasihat indah dalam bukunya Inilah Jalan Para Rosul. Beliau mengatakan : Inilah  pelajaran  baru  yang  kukirimkan kepada kalian melalui beberapa untai kata pilihan INILAH JALAN PARA ROSUL Inilah  desahan  hati  yang  kuhempaskan  dari  lubuk hatiku dan rusuk lambung ku yang paling dalam Dari  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sebelum syahid (Insya Allah), Syekh Abu Mush&#8217;ab Al Zarqawi pernah menuliskan untaian nasihat indah dalam bukunya Inilah Jalan Para Rosul. Beliau mengatakan : Inilah  pelajaran  baru  yang  kukirimkan kepada kalian melalui beberapa untai kata pilihan INILAH JALAN PARA ROSUL Inilah  desahan  hati  yang  kuhempaskan  dari  lubuk hatiku dan rusuk lambung ku yang paling dalam Dari  tentara  yang berdiri  tegak di atas beban-beban berat peperangan dan dentuman-dentuman dahsyat huru-hara Dari Abu Mus&#8217;ab Az Zarqawi, Untuk  siapa  saja  yang  masih  memiliki  waktu  dan harga diri yang menyaksikannya…(Berikut sebagian isi buku tersebut yang khusus membahas Jihad &amp; Ujian)<br />
</em></p>
<p>Jihad  pada  hakikatnya  adalah  membersihkan  dan memurnikan jiwa hanya untuk robb dan pencipta jiwa tersebut,  dengan  melaksanakan  perintah-perintah-Nya,  dan  menjemput  janji-janji-Nya.  Pembersihan dan  pemurnian  jiwa  ini  tidak  akan  tercapai  kecuali kalau  jalan  yang  ditempuh  tersebut  harus  dipenuhi dengan berbagai kengerian dan ujian. Makanya, Alloh SWT berfirman:</p>
<p>“…apabila  Alloh  menghendaki  niscaya  Allah  akan membinasakan mereka  tetapi  Allah  hendak menguji sebagian  kamu  dengan  sebagian  yang  lain.  Dan orang-orang yang gugur pada jalan Alloh, Alloh tidak akan  menyia-nyiakan  amal  mereka.  Alloh  akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka. dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad [47]:6)</p>
<p>“…seandainya Alloh menghendaki, tentu mereka tidak saling perang, akan tetapi Alloh melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 253)</p>
<p>Mengenai ayat ini,  Ibnu Katsîr berkata, “Artinya, pasti akan  ada  yang  namanya  ujian,  yang  dengan  itu nampaklah  siapa  wali  Alloh.  Dengan  ujian  itu  pula musuh-Nya  akan  terhinakan.  Akan  diketahui  mana yang mukmin dan bersabar, serta mana yang munafik dan jahat.</p>
<p>Ayat ini ditujukan tentang peristiwa perang Uhud,  ketika  Alloh  menguji  kaum  mukminin.  Di sanalah tampak keimanan, kesabaran, dan kekokohan mereka,  serta  keteguhan  untuk  mentaati  Alloh  dan rosul-Nya.  Dengan  kejadian  ini  pula,  tabir  kaum munafik tersingkap, dan ketahuan bagaimana mereka sebenarnya  menentang  dan  tidak  suka  berjihad, kelihatan  sudah  bagaimana  pengkhianatan  mereka kepada Alloh dan rosul-Nya SAW.</p>
<p>“Wahai hamba-hamba Alloh…Renungkanlah firman Alloh SWT beikut ini :</p>
<p>“Dan  di  antara manusia  ada  orang  yang menyembah Alloh  dengan  berada  di  tepi;  jika  memperoleh kebajikan,  tetaplah  ia dalam keadaan  itu, dan  jika  ia ditimpa  oleh  suatu bencana,  berbaliklah  ia  ke belakang.  Rugilah  ia  di  dunia  dan  di  akhirat…”  (QS. Al-Hajj [22]:11)</p>
<p>Al Baghowî meriwatkan  dalam  tafsirnya,  dari  Ibnu Abbas rh,  “Ada  seorang  lelaki  badui  yang  beriman kepada  Rosululloh SAW.  Jika  setelah  masuk  Islam  dia mendapatkan anak dan banyak keturunan serta harta, ia  berkata:  “Ini  adalah  agama  yang  bagus,”  lantas  ia pun beriman  dan  teguh  beriman.  Tetapi  ketika  ia tidak mendapatkan anak, kuda piaraan dan hartanya tidak berkembang, dan  tertimpa paceklik,  ia berkata: “Ini  adalah  agama  yang  jelek,”  setelah  itu  ia  keluar dari  agama  Rosululloh SAW  dan  berbalik  kafir  serta menentang Islam.”</p>
<p>Sayyid  Quthb rh. berkata,  “Jiwa-jiwa  kita  pasti menerima  penempaan  berupa  bala’.  Sejauh  mana tekad  kita  untuk  berperang  membela  yang  benar, pasti  sejauh  itu  pula  akan  diuji  dengan  ketakutan-ketakutan,  suasana-suasana  mencekam,  kelaparan,kurangnya harta dan nyawa serta buah-buahan. Ujian seperti  ini  harus  dijalani,  supaya  orang-orang  yang mengaku  beriman  kelak  mampu  melaksanakan tugas-tugas akidah, sehingga akidah itu benar-benar tertancap  kuat  dalam diri mereka  sebanding dengan beban yang harus ia emban, yang dengan itu mereka tidak  akan  lagi  bisa  melepaskan  akidah  tersebut begitu  berbentur  dengan musibah  pertama.</p>
<p>Jadi, beban-beban di  sini  adalah harga mahal yang harus dibayar  untuk  memperkuat  akidah  dalam  diri pemiliknya  sebelum  ia  sendiri  menguatkan  akidah tersebut  dalam  jiwa  orang  lain.  Dan  setiap  kali mereka merasakan  kepedihan  di  atas  jalan  tersebut, setiap  kali mereka  berkorban  demi  akidah  tersebut, akan  semakin kuat akidah  tersebut menancap dalam diri mereka dan mereka menjadi manusia yang paling berhak  menyandangnya.</p>
<p>Lagipula,  orang  lain  tidak akan  faham  sebesar  apa  nilai  akidah  tersebut, sebelum  ia  menyaksikan  bagaimana  para penyandangnya  ditimpa  bala’  kemudian  mereka bersabar menanggungnya. Bala’ juga harus ada dalam rangka mempersolid dan memperkuat pegangan para pemilik  akidah.</p>
<p>Jadi,  memang  peristiwa-peristiwa dahsyat  datang,  tetapi  di  dalamnya  mengandung kekuatan dan energi, akan membuka  jendela-jendela dan saluran-saluran dalam hati, yang semua itu tidak akan diketahui seorang mukmin selain dengan terjun dalam  berbagai  peristiwa  mencekam.”</p>
<p>Demikian perkataan beliau rh.</p>
<p>Imam Syâfi‘î rh. pernah ditanya: “Mana yang lebih baik bagi  orang  beriman:  diuji  ataukah  diberi  kekuasaan (tamkîn)?”  Beliau  menjawab,  “Kamu  ini  bagaimana, engkau kira dia akan diberi kekuasaan sebelum diuji?”</p>
<p>Dari  Sufwan  bin  ‘Amrû  Sufwan  bin  ‘Amrû  Sufwan  bin  ‘Amrû  Sufwan  bin  ‘Amrû  ia  berkata,  Aku menjadi gubernur  di  Himsh,  suatu  ketika  aku  berjumpa dengan  seorang  kakek  tua  yang  alisnya  sudah berjuntai ke mata,  ia adalah salah seorang penduduk Damaskus. Ketika  sedang  mengendarai  hewan tunggangannya  karena  ingin  berangkat  perang,  ku katakan kepadanya:  “Wahai  paman,  Alloh  telah memberimu  udzur,”  Maka  kakek  itu  menyingkap kedua  alisnya  lalu  berkata,  “Wahai  keponakanku, Alloh  telah  memerintahkan  kita berperang,  baik dalam keadaan ringan ataupun berat.”</p>
<p>Sungguh, orang yang dicintai Alloh, pasti Dia uji:</p>
<p>‘Sabarlah  menghadapi  kengerian  berhari-hari,  kelak akan</p>
<p>tampak hasilnya,  Sabar hanya dimiliki orang-orang yang mulia</p>
<p>Sebentar lagi Alloh kan bukakan setelah kesabaran itu</p>
<p>Ketenangan-ketenangan  setelah  kele-lahan  untuk orang sabar seperti-mu</p>
<p>Sayyid Quthb rh. berkata, “Sesungguhnya  iman  bukan  sekedar  kata-kata  yang diucapkan. Iman adalah kenyataan yang penuh beban berat,  amanah  yang  melelahkan,  jihad  yang membutuhkan  kesabaran,  kesunggu-han  yang menuntut  daya  tahan  me-nanggung  beban.  Tidak cukup  orang  mengatakan,  “Kami  beriman,”  lantas mereka  dibiarkan  begitu  saja  melon-tarkan pengakuan  ini;  sebelum  ia menghadapi  ujian  lalu  ia teguh  meng-hadapinya.  Setelah  itu,  barulah  ia  ke-luar dalam keadaan steril unsur-unsur dalam jiwanya, dan bersih hatinya. Sama seperti api yang membakar emas  untuk  memisahkan  unsur-unsur  tak  berguna yang  terikut  di  sana. Dan  inilah  asal  kata  iman  dari sisi  bahasa.  Lain  lagi  dengan  makna,  cakupan  dan petunjuknya.</p>
<p>Fitnah ujian juga diberikan kepada hati. Ujian terhadap iman adalah perkara baku dan sunnah yang  pasti  berjalan  di  dalam  timbangan  Alloh SWT.<br />
“Dan  sungguh  Kami  telah  menguji  orang-orang sebelum mereka, dan kelak Alloh akan tahu siapakah orang-orang  yang  jujur  dan  orang-orang  yang dusta.”  (QS. Al-Ankabut [29]: 3)</p>
<p>Source: almuhajirun</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jihad-ujian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Tegak Dengan Jihad</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/islam-tegak-dengan-jihad/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/islam-tegak-dengan-jihad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 10:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah dan Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Kehadiran dan keberadaan kaum Muslim ditengah kehidupan Manusia dibumi bukanlah sebagai bunga hiasan, yang setelah masa mekarnya usai kemudian layu, lantas musnah. Tidak lebih dari sekadar proses menunggu giliran untuk mati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kehadiran dan keberadaan kaum Muslim ditengah kehidupan Manusia dibumi bukanlah sebagai bunga hiasan, yang setelah masa mekarnya usai kemudian layu, lantas musnah. Tidak lebih dari sekadar proses menunggu giliran untuk mati. Tetapi, mereka diutus sebagai manusia terbaik untuk menegakkan kebenaran,  dipundaknya terdapat beban berat dan tugas besar serta mulia, yang sekaligus sebagai tugas utamanya, yaitu menegakkan dienullah (Agama Allah) secara bersama-sama mengikuti metode kenabian,bukan mengikuti ijtihad peribadi atau kelompok. Maklumat ini dengan jelas dapat dibaca dalam ayat berikut:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“… Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…” (QS. Asy Syura 42:13)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sementara, untuk merealisasikan tugas utama itu, selain dengan iman yang benar (mantap) dan ilmu yang mendalam(luas), kekuatan persenjataan tangguh dan dana yang mencukupi, hal yang paling dibutuhkan sebagai syarat penentu adalah keberanian untuk mengatakan kepada yang benar itu adalah benar,dan mengatakan kepada yang batil itu batil dan berjihad menegakkan kebenaran. Tanpa adanya keberanian mengangkat senjata menghalau segala perintang agama Allah, maka sulit dibayangkan dapat meraih kejayaan tegaknya syari’ah Allah dan khilafatul Muslimin hanya dengan dakwah dan tabligh saja. Adalah Rasulullah Saw memulai risalahnya dengan dakwah kepada tauhidullah dan mengakhirinya dengan jihad bil Qital.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Karena itulah, Rasulullah saw begitu bersungguh-sungguh mendidik umatnya untuk menyeimbangkan antara dakwah dan jihad. Penyeimbangan antara kedua pilar tegaknya Islam ini begitu kental terlihat dari perjalanan hidup beliau. Da’wah bil Qur’an teraplikasi benar tatkala beliau masih di Makkah, sedangkan Da’wah bis Saif dimulai, bahkan dilakukan sedemikian intensif semenjak beliau bermukim Madinah. Sebagai bukti, selama 10 tahun di Madinah, tak kurang dari 68 peperangan telah beliau pimpin langsung dan puluhan lain dengan pengiriman ekspedisi (perutusan). Inilah fakta historis betapa untuk menegakkan Islam, kaum Muslimin tidak akan pernah dapat memisahkan misi perjuangannya dengan jihad bis Saif.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Selain itu, kebutuhan akan jihad juga merupakan tabiat Agama Allah, bahwa Islam tidak pernah tegak melainkan dengan dua hal yaitu dengan kitab dan besi. Realitas ini segera kelihatan dengan mentadabbur firman Allah swt:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid, 57:25)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Al Imam Ibnu Taimiyyah menafsirkan ayat tersebut melalui beberapa perspektif,beliau berkata:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pertama, “Dan sekali-kali tidak akan tegak Dien ini kecuali dengan kitab, mizan (timbangan) dan besi. Kitab sebagai petunjuk dan besi sebagai pembela. Sebagaimana firman Allah, &#8216;Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami…&#8217;. Maka dengan kitab akan tegak ilmu dan dien, sedangkan dengan mizan (neraca) akan tegak hak-hak dan transaksi serta serah terima keuangan, dan dengan besi akan tegak hukum hudud.” (Majmu&#8217; Fatawa XXXV/361)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kedua, “Dan pedang-pedang kaum muslimin sebagai pembela syari’at ini yang berupa al Kitab dan as Sunnah” sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir bin Abdullah, &#8216;Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk memukul dengan ini, yaitu pedang, orang-orang yang keluar dari ini, yaitu al Qur’an.&#8217;” (Majmu&#8217; Fatawa XXV/365)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ketiga, Sesungguhnya tegaknya dien itu dengan kitab yang menjadi petunjuk dan besi yang menjadi pembela, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah. (Majmu&#8217; Fatawa XXVIII/396, dan lihat Tafsir Ibnu Katsier serta Tafsir al Azhar)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Itulah nash Qur’ani menjelaskan tentang semangat keberanian berjihaqd dengan besi,berikut berdasarkan ucapan beliau:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulullah saw bersabda:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, sehingga Allah ta’ala sajalah yang diibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku dan dijadikan hina serta rendah atas orang yang menyelisihi perintahku, dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad no: 4869, 5409)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Adapun orang-orang yang menyangka bahwa kehidupan jihad hanya semata-mata memerangi suatu kaum, atau pergulatan demi mempertahankan hidup atau mengusir musuh yang menguasai sejengkal tanah, maka mereka dapat dipastikan belum memahami tabiat agama ini. Karena sesungguhnya jihad merupakan tugas wajib yang tergantung di leher setiap Muslim. Tidak ada jalan menghindar dari kewajiban ini, terlebih untuk masa sekarang dimana keberanian berjihad mutlak di butuhkan. Bahkan, kewajiban jihad lebih didahulukan atas shalat dan puasa sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyyah:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Tiada sesuatu yang lebih wajib hukumnya setelah iman kepada Allah daripada menolak musuh yang menyerang kehormatan dan agama.” (Majmuu&#8217; al Fatawaa, Ibnu Taimiyyah juz 4, hal. 184)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Artinya, jihad itu didahulukan atas shalat, puasa, zakat dan haji serta kewajiban-kewajiban yang lainnya. Jika berbenturan antara kewajiban jihad dan haji, maka hendaklah kewajiban jihad didahulukan. Apabila kewajiban jihad dan shalat berbenturan; maka kewajiban shalat ditangguhkan sebentar, atau diqashar, atau dipersingkat, atau berubah bentuk dan keadaannya demi menyesuaikan dengan jihad. Karena menghentikan jihad sejenak, sama dengan menghentikan gerak laju Agama Allah ‘Azza wa Jalla.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Jihad merupakan perkara yang sangat penting, karena itu setiap diri dari kita harus menjadi pelopor-pelopor kaum muslimin dan sekaligus perwira ummat ini. Kita adalah perintis kebangkitan di negeri dan wilayah dimana kaki kita dipijakkan. Kita juga laksana detonator (sumbu api) yang siap meledakkan meriam-meriam perjuangan. Sesungguhnya explosive (bahan peledak) yang tidak bekerja (non aktif) membutuhkan detonator. Dan kalian adalah detonator-detonator itu dengan izin Allah. Beribu-ribu ton bahan explosive tanpa ada detonator yang kecil ini tidak akan berarti apa pun, tidak akan bernilai, laksana sayap nyamuk yang begitu kecil tetapi membawa manfaat yang besar bagi si nyamuk. Oleh karena itu, janganlah anda berputus asa atau merasa gentar, apalagi kecewa dalam mngemban tugas yang maha berat ini.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Allah swt berfirman:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Qs. Yusuf, 12: 87)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Antum adalah rijal (lelaki sejati) pilihan Allah. Maka pancangkanlah di hadapan antum bahwa jihad adalah risalah, misi dan kewajiban hidup sampai antum  bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla kelak. Seluruh kaum Muslimin di muka bumi ini akan terbeban dosa selama masih terdapat sejengkal bumi Islam yang berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir. Dan setiap Muslim akan dihisab (diminta pertanggung-jawabannya) tentang negeri Andalusia (Spanyol), akan dihisab tentang jatuhnya Afghanistan dan negeri Asia Tengah yang lainnya seperti Palestina, Philipina, Turki dan negara-negara Islam yang berada dibawah cengkeraman musuh. Dan anda tak akan dapat lari dari pertanggung jawaban membela ummat Islam yang sedang teraniaya dan dizalimi oleh kaum kuffar di negara antum sendiri sekarang ini yaitu Indonesia. Apakah antum menanti datangnya bantuan para mujahidin dari luar sedang anda tengah berpangku tangan membiarkan merajalelanya kezaliman konspirasi Kristen dan Yahudi internasional untuk memusnahkan Islam dan ummatnya? Mengapa antum tidak bangkit mempertahankan kehormatan kaum Muslimin serta membela dan melindungi golongan mustadh’afin?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Firman Allah:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.” (Qs. An Nisaa’, 4: 75)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sesungguhnya jihad tidak mungkin akan tegak kecuali memenuhi dua syarat yang asas dan pokok. Pertama, sabar yang membuahkan keberanian jitu, terpahat dalam hati dan diikuti oleh seluruh anggota badan. Kedua, dermawan yaitu kesiapan mengorbankan hal yang paling berharga dari diri kita, yaitu jiwa raga, keluarga dan harta.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kedua syarat tersebut hampir hilang dari kehidupan ummat Islam hari ini, karena tergeser oleh sifat pengecut dan rasa takut. Sementara itu, kehebatan dan ketinggian martabatnya telah tercabut dari hati-hati musuhnya. Keadaan mereka tidak lebih bernilai dari buih di atas banjir besar, tiada nilai dan kualitas. Rasulullah bersabda:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Hampir semua ummat mengerumuni kamu dari seluruh penjuru, sebagaimana makanan di atas pinggan (piring). Seorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah karena jumlah kami yang sedikit pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Tidak! (bahkan jumlah kamu banyak), tetapi kamu bagaikan buih, sebagaimana buih di atas air bah. Ia jadikan Wahn di dalam hati kamu, dan dicabut rasa takut pada musuh kamu, karena kamu cinta dunia dan takut mati”. Dalam riwayat lain, mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Beliau menjawab, “Cintamu terhadap dunia, dan bencimu kepada perang.” (HR Abu Dawud no. 3745; Ahmad no. 8356, 21363)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Terlalu cinta kepada kehidupan dunia dan takut berjihad adalah puncak tragedi kebinasaan ummat Islam sepanjang masa. Dan kehinaan itu tidak akan hilang sehingga ummat Islam kembali kepada ajaran jihad yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau bersabda:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Bila kamu berjual?beli dengan ‘inah (dengan cara riba dan penipuan), mengikuti ekor?ekor sapi, menyukai bercocok tanam, dan kamu meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan ke atas kamu yang tidak akan dicabut sehingga kamu kembali kepada agamamu.” (HR Ahmad no: 4765, 5304; Abu Dawud 3003, Lihat Nailul Authar, 5/318; dan Silsilah al Ahaadits ash Shahihah, al?Albani &#8211; no: 10, 11).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Wahai para pejuang Islam di seluruh belahan bumi Allah, semut-semut akan melaknat anda karena enggan berangkat jihad. Dan ikan di laut hanya memintakan ampunan bagi mereka yang mau berjihad saja. Sebab mereka lah yang mengajarkan kebajikan kepada manusia, serta menjaga dan melindungi kebajikan itu dengan pedang, ruh dan darah mereka. Maukah anda sekiranya seluruh makhluq yang ada di daratan dan lautan melaknat anda karena lari dari tugas murni ini?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Firman Allah swt:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila&#8217;nati Allah dan dila&#8217;nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (Qs. Al Baqarah, 2: 159)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bebaskanlah diri anda dari segala belenggu nafsu yang mengajak kepada kejahatan atau dunia beserta kenikmatannya yang sementara, melambai-lambai tangan merayu agar antum mundur dari jalan ini. Bersihkanlah hati dan niat dari segala keterikatan di muka bumi ini. Sayyid Quthb dan Abul Hasan Ali an Nadwi mengatakan tentang orang-orang Salaf, tentang orang-orang pilihan, tentang generasi sahabat yang mulia, generasi yang unik, melalui kata-katanya: “Tatkala jiwa mereka telah bersih dari segala keterikatan, dan Allah mengetahui bahwa mereka tidak mempunyai keinginan di permukaan bumi ini, hingga agama ini menang di tangan mereka, namun jiwa mereka tetap tidak pernah kembali bergantung ke atas kemenangan tersebut. Tatkala Allah mengetahui semua ini dari mereka, maka tahulah Dia bahwa mereka telah siap dipercaya mengemban Syari’ah Nya. Lalu Allah pun menjadikan mereka sebagai penguasa di atas bumi dan mengokohkan Dien mereka yang telah diridhai-Nya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur (kitab-kitab yang Kami turunkan) sudah tercantum (pada lauhul Mahfudz) bahwasanya, bumi ini akan turun diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.” (Qs. Al Anbiyaa’, 21: 105)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ingatlah, bahwa sekiranya kita mendapatkan kemenangan karena berjihad pada jalan-Nya, maka Allah akan mengurniakan pahala-Nya yang berlipat ganda sedang kita tidak akan dirugikan walau seberat zarah pun. Dan seandainya kita belum menemui kemenangan, Allah tetap akan memelihara agama-Nya sehingga datangnya kiamat, sedang kita tetap mendapat karunia-Nya dan tidak akan dirugikan. Hanyalah tugas kita untuk tetap sabar dan istiqomah di jalan Jihad sehingga hanya datang dua ketentuan yaitu kita syahid karenanya atau menang dalam kemuliaan. Setiap langkah kaki kita di dunia akan menjadikan neraca timbangan di akhirat terangkat, maka sesungguhnya pahala itu akan diletakkan di neraca timbangan akhirat.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pena yang menguntai kata membentuk bahasa untuk menyeru manusia kembali kepada al-Haq pasti akan terus mengalir pahalanya. Seruan dari lisan para da’i yang tak henti-hentinya menyampaikan da’wah juga pasti akan mendapat balasan yang berlipat ganda.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dan kepada para alim ulama khususnya, marilah bersama merenungkan hadits ini, yang selanjutnya tampil menjadi pembawa obor dan cahaya kebenaran bagi segenap lapisan masyarakat dan memimpin para mujahidin berperang di medan laga sehingga memperoleh salah satu di antara dua, hidup mulia di bawah naungan Syari’ah Allah atau syahid di jalan-Nya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ibnu Abbas Ra. berkata, bahwa Rasulullah bersabda:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Sedekat-dekat manusia dengan derajat kenabian ialah Ahli Ilmu dan Ahli Jihad. Adapun Ahli Ilmu mereka menunjukkan kepada manusia atas apa yang dibawa oleh para Rasul dan adapun Ahli Jihad mereka berjihad dengan pedang-pedang mereka atas apa yang dibawa oleh para Rasul.” (HR Abu Na’im. Ihyaa’ ‘Ulumuddin 1/16).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Inilah Imam an Nawawi, seorang ulama dan mujahid yang unggul. Beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya di negeri Syam. Namun demikian beliau tidak pernah memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang-orang menanyakan kepadanya: “Mengapa Tuan tidak makan buah-buahan negeri Syam?” Maka beliau menjawab: “Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang. Maka saya khawatir makan buah-buahan dari kebun-kebun itu.”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Oleh karena itu, hati mereka bagaikan hati singa dan jiwa mereka laksana jiwa pendeta. Mereka laksana pendeta di malam hari dan bagaikan ksatria berkuda di siang hari. Mereka tak sudi berhenti di depan rintangan. Halangan dan rintangan yang bagaimana pun tingginya dan bagaimana pun sukarnya akan mereka terobos dan mereka lompati.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tatkala tentara Tartar menyerbu negeri Syam, Zhahir Bebres berkata: “Saya menghendaki fatwa dari kalian wahai para ulama agar saya dapat menghimpun dana untuk membeli senjata guna menghadapi serangan bangsa Tartar. Maka seluruh ulama memberikan fatwa seperti yang diminta oleh Zhahir Bebres kecuali seorang. Dia adalah Muhyiddin an Nawawi. Zhahir bertanya: “Mana tanda tangan Nawawi?” Mereka menjawab: “Dia menolak memberikan tanda tangan…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lalu Zhahir mengutus seorang untuk menjemputnya. Setelah Imam Nawawi datang, Zhahir bertanya: “Kenapa anda mencegah saya mengumpulkan dana untuk mengusir serangan musuh. Serangan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin?” Imam Nawawi menjawab: “Ketahuilah, dahulu engkau datang pada kami hanya sebagai budak. Dan sekarang saya melihatmu mempunyai banyak istana, pelayan lelaki dan wanita, emas, tanah, dan perkebunan. Jika semua itu telah engkau jual untuk membeli senjata, kemudia sesudahnya engkau masih memerlukan dana untuk mempersiapkan pasukan Muslimin, maka saya akan memberikan fatwa kepadamu…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Zhahir Bebres amat marah mendengar ucapan Imam Nawawi, maka dia berkata: “Keluarlah engkau dari negeri Syam.” Lalu beliau keluar dari Syam dan menetap di rumahnya yang asli di desa Nawa. Pengusiran Imam Nawawi menimbulkan kemarahan para ulama, mereka datang menemui Zhahir Bebres dan berkata: “Kami tak mampu hidup tanpa kehadiran Imam Nawawi.”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Maka Zhahir pun mengatakan: “Kembalikanlah dia ke Syam.” Selanjutnya mereka pergi ke Nawa untuk membawa balik Imam Nawawi ke Syam. Akan tetapi Imam Nawawi menolak ajakan mereka seraya mengatakan: “Demi Allah, saya tidak akan masuk negeri Syam selama Zhahir Bebres masih ada di sana.” Akhirnya Allah memperkenankan sumpahnya, Zhahir mati sebulan sesudah beliau mengucapkan sumpah. Maka kembalilah Imam Nawawi ke negeri Syam. Semoga Allah merahmatinya karena keikhlasannya dan keberaniannya. (Syarah Arba’in: Imam An Nawawi)</div>
<p>Kehadiran dan keberadaan kaum Muslim ditengah kehidupan Manusia dibumi bukanlah sebagai bunga hiasan, yang setelah masa mekarnya usai kemudian layu, lantas musnah. Tidak lebih dari sekadar proses menunggu giliran untuk mati. Tetapi, mereka diutus sebagai manusia terbaik untuk menegakkan kebenaran,  dipundaknya terdapat beban berat dan tugas besar serta mulia, yang sekaligus sebagai tugas utamanya, yaitu menegakkan dienullah (Agama Allah) secara bersama-sama mengikuti metode kenabian,bukan mengikuti ijtihad peribadi atau kelompok. Maklumat ini dengan jelas dapat dibaca dalam ayat berikut:</p>
<p><em>“… Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…”</em> <strong>(QS. Asy Syura 42:13)</strong></p>
<p>Sementara, untuk merealisasikan tugas utama itu, selain dengan iman yang benar (mantap) dan ilmu yang mendalam(luas), kekuatan persenjataan tangguh dan dana yang mencukupi, hal yang paling dibutuhkan sebagai syarat penentu adalah keberanian untuk mengatakan kepada yang benar itu adalah benar,dan mengatakan kepada yang batil itu batil dan berjihad menegakkan kebenaran. Tanpa adanya keberanian mengangkat senjata menghalau segala perintang agama Allah, maka sulit dibayangkan dapat meraih kejayaan tegaknya syari’ah Allah dan khilafatul Muslimin hanya dengan dakwah dan tabligh saja. Adalah Rasulullah Saw memulai risalahnya dengan dakwah kepada tauhidullah dan mengakhirinya dengan jihad bil Qital.</p>
<p>Karena itulah, Rasulullah saw begitu bersungguh-sungguh mendidik umatnya untuk menyeimbangkan antara <strong>Dakwah dan Jihad</strong>. Penyeimbangan antara kedua pilar tegaknya Islam ini begitu kental terlihat dari perjalanan hidup beliau. Da’wah bil Qur’an teraplikasi benar tatkala beliau masih di Makkah, sedangkan Da’wah bis Saif dimulai, bahkan dilakukan sedemikian intensif semenjak beliau bermukim Madinah. Sebagai bukti, selama 10 tahun di Madinah, tak kurang dari 68 peperangan telah beliau pimpin langsung dan puluhan lain dengan pengiriman ekspedisi (perutusan). Inilah fakta historis betapa untuk menegakkan Islam, kaum Muslimin tidak akan pernah dapat memisahkan misi perjuangannya dengan jihad bis Saif.</p>
<p>Selain itu, kebutuhan akan jihad juga merupakan tabiat Agama Allah, bahwa Islam tidak pernah tegak melainkan dengan dua hal yaitu dengan kitab dan besi. Realitas ini segera kelihatan dengan mentadabbur firman Allah swt:</p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”</em><strong> (QS. Al Hadid, 57:25)</strong></p>
<p><strong>Al Imam Ibnu Taimiyyah</strong> menafsirkan ayat tersebut melalui beberapa perspektif,beliau berkata:</p>
<p>Pertama, “Dan sekali-kali tidak akan tegak Dien ini kecuali dengan kitab, mizan (timbangan) dan besi. Kitab sebagai petunjuk dan besi sebagai pembela. Sebagaimana firman Allah, &#8216;Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami…&#8217;. Maka dengan kitab akan tegak ilmu dan dien, sedangkan dengan mizan (neraca) akan tegak hak-hak dan transaksi serta serah terima keuangan, dan dengan besi akan tegak hukum hudud.” <em><strong>(Majmu&#8217; Fatawa XXXV/361) </strong></em></p>
<p>Kedua, “Dan pedang-pedang kaum muslimin sebagai pembela syari’at ini yang berupa al Kitab dan as Sunnah” sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir bin Abdullah, &#8216;Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk memukul dengan ini, yaitu pedang, orang-orang yang keluar dari ini, yaitu al Qur’an.&#8217;” <strong><em>(Majmu&#8217; Fatawa XXV/365) </em></strong></p>
<p>Ketiga, Sesungguhnya tegaknya dien itu dengan kitab yang menjadi petunjuk dan besi yang menjadi pembela, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah. <em><strong>(Majmu&#8217; Fatawa XXVIII/396, dan lihat Tafsir Ibnu Katsier serta Tafsir al Azhar) </strong></em></p>
<p>Itulah nash Qur’ani menjelaskan tentang semangat keberanian berjihaqd dengan besi,berikut berdasarkan ucapan beliau:</p>
<p>Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulullah saw bersabda:</p>
<p><em> “Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, sehingga Allah ta’ala sajalah yang diibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku dan dijadikan hina serta rendah atas orang yang menyelisihi perintahku, dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”</em> <strong>(HR. Ahmad no: 4869, 5409)</strong></p>
<p>Adapun orang-orang yang menyangka bahwa kehidupan jihad hanya semata-mata memerangi suatu kaum, atau pergulatan demi mempertahankan hidup atau mengusir musuh yang menguasai sejengkal tanah, maka mereka dapat dipastikan belum memahami tabiat agama ini. Karena sesungguhnya jihad merupakan tugas wajib yang tergantung di leher setiap Muslim. Tidak ada jalan menghindar dari kewajiban ini, terlebih untuk masa sekarang dimana keberanian berjihad mutlak di butuhkan. Bahkan, kewajiban jihad lebih didahulukan atas shalat dan puasa sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyyah:</p>
<p>“Tiada sesuatu yang lebih wajib hukumnya setelah iman kepada Allah daripada menolak musuh yang menyerang kehormatan dan agama.” <em><strong>(Majmuu&#8217; al Fatawaa, Ibnu Taimiyyah juz 4, hal. 184) </strong></em></p>
<p>Artinya, jihad itu didahulukan atas shalat, puasa, zakat dan haji serta kewajiban-kewajiban yang lainnya. Jika berbenturan antara kewajiban jihad dan haji, maka hendaklah kewajiban jihad didahulukan. Apabila kewajiban jihad dan shalat berbenturan; maka kewajiban shalat ditangguhkan sebentar, atau diqashar, atau dipersingkat, atau berubah bentuk dan keadaannya demi menyesuaikan dengan jihad. Karena menghentikan jihad sejenak, sama dengan menghentikan gerak laju Agama Allah ‘Azza wa Jalla.</p>
<p>Jihad merupakan perkara yang sangat penting, karena itu setiap diri dari kita harus menjadi pelopor-pelopor kaum muslimin dan sekaligus perwira ummat ini. Kita adalah perintis kebangkitan di negeri dan wilayah dimana kaki kita dipijakkan. Kita juga laksana detonator (sumbu api) yang siap meledakkan meriam-meriam perjuangan. Sesungguhnya explosive (bahan peledak) yang tidak bekerja (non aktif) membutuhkan detonator. Dan kalian adalah detonator-detonator itu dengan izin Allah. Beribu-ribu ton bahan explosive tanpa ada detonator yang kecil ini tidak akan berarti apa pun, tidak akan bernilai, laksana sayap nyamuk yang begitu kecil tetapi membawa manfaat yang besar bagi si nyamuk. Oleh karena itu, janganlah anda berputus asa atau merasa gentar, apalagi kecewa dalam mngemban tugas yang maha berat ini.</p>
<p>Allah swt berfirman:</p>
<p><em>“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Yusuf, 12: 87)</strong></p>
<p>Antum adalah rijal (lelaki sejati) pilihan Allah. Maka pancangkanlah di hadapan antum bahwa jihad adalah risalah, misi dan kewajiban hidup sampai antum  bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla kelak. Seluruh kaum Muslimin di muka bumi ini akan terbeban dosa selama masih terdapat sejengkal bumi Islam yang berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir. Dan setiap Muslim akan dihisab (diminta pertanggung-jawabannya) tentang negeri Andalusia (Spanyol), akan dihisab tentang jatuhnya Afghanistan dan negeri Asia Tengah yang lainnya seperti Palestina, Philipina, Turki dan negara-negara Islam yang berada dibawah cengkeraman musuh. Dan anda tak akan dapat lari dari pertanggung jawaban membela ummat Islam yang sedang teraniaya dan dizalimi oleh kaum kuffar di negara antum sendiri sekarang ini yaitu Indonesia. Apakah antum menanti datangnya bantuan para mujahidin dari luar sedang anda tengah berpangku tangan membiarkan merajalelanya kezaliman konspirasi Kristen dan Yahudi internasional untuk memusnahkan Islam dan ummatnya? Mengapa antum tidak bangkit mempertahankan kehormatan kaum Muslimin serta membela dan melindungi golongan mustadh’afin?</p>
<p>Firman Allah:</p>
<p><em>“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.</em>” <strong>(Qs. An Nisaa’, 4: 75)</strong></p>
<p>Sesungguhnya jihad tidak mungkin akan tegak kecuali memenuhi dua syarat yang asas dan pokok. Pertama, sabar yang membuahkan keberanian jitu, terpahat dalam hati dan diikuti oleh seluruh anggota badan. Kedua, dermawan yaitu kesiapan mengorbankan hal yang paling berharga dari diri kita, yaitu jiwa raga, keluarga dan harta.</p>
<p>Kedua syarat tersebut hampir hilang dari kehidupan ummat Islam hari ini, karena tergeser oleh sifat pengecut dan rasa takut. Sementara itu, kehebatan dan ketinggian martabatnya telah tercabut dari hati-hati musuhnya. Keadaan mereka tidak lebih bernilai dari buih di atas banjir besar, tiada nilai dan kualitas. Rasulullah bersabda:</p>
<p><em> “Hampir semua ummat mengerumuni kamu dari seluruh penjuru, sebagaimana makanan di atas pinggan (piring). Seorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah karena jumlah kami yang sedikit pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Tidak! (bahkan jumlah kamu banyak), tetapi kamu bagaikan buih, sebagaimana buih di atas air bah. Ia jadikan Wahn di dalam hati kamu, dan dicabut rasa takut pada musuh kamu, karena kamu cinta dunia dan takut mati”. Dalam riwayat lain, mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Beliau menjawab, “Cintamu terhadap dunia, dan bencimu kepada perang.”</em> <strong>(HR Abu Dawud no. 3745; Ahmad no. 8356, 21363) </strong></p>
<p>Terlalu cinta kepada kehidupan dunia dan takut berjihad adalah puncak tragedi kebinasaan ummat Islam sepanjang masa. Dan kehinaan itu tidak akan hilang sehingga ummat Islam kembali kepada ajaran jihad yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau bersabda:</p>
<p><em>“Bila kamu berjual?beli dengan ‘inah (dengan cara riba dan penipuan), mengikuti ekor?ekor sapi, menyukai bercocok tanam, dan kamu meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan ke atas kamu yang tidak akan dicabut sehingga kamu kembali kepada agamamu.”</em> <strong>(HR Ahmad no: 4765, 5304; Abu Dawud 3003, Lihat Nailul Authar, 5/318; dan Silsilah al Ahaadits ash Shahihah, al?Albani &#8211; no: 10, 11).</strong></p>
<p><strong>Wahai para pejuang Islam di seluruh belahan bumi Allah, semut-semut </strong>akan melaknat anda karena enggan berangkat jihad. Dan ikan di laut hanya memintakan ampunan bagi mereka yang mau berjihad saja. Sebab mereka lah yang mengajarkan kebajikan kepada manusia, serta menjaga dan melindungi kebajikan itu dengan pedang, ruh dan darah mereka. Maukah anda sekiranya seluruh makhluq yang ada di daratan dan lautan melaknat anda karena lari dari tugas murni ini?</p>
<p>Firman Allah swt:</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila&#8217;nati Allah dan dila&#8217;nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” </em><strong>(Qs. Al Baqarah, 2: 159)</strong></p>
<p>Bebaskanlah diri anda dari segala belenggu nafsu yang mengajak kepada kejahatan atau dunia beserta kenikmatannya yang sementara, melambai-lambai tangan merayu agar antum mundur dari jalan ini. Bersihkanlah hati dan niat dari segala keterikatan di muka bumi ini. Sayyid Quthb dan Abul Hasan Ali an Nadwi mengatakan tentang orang-orang Salaf, tentang orang-orang pilihan, tentang generasi sahabat yang mulia, generasi yang unik, melalui kata-katanya: “Tatkala jiwa mereka telah bersih dari segala keterikatan, dan Allah mengetahui bahwa mereka tidak mempunyai keinginan di permukaan bumi ini, hingga agama ini menang di tangan mereka, namun jiwa mereka tetap tidak pernah kembali bergantung ke atas kemenangan tersebut. Tatkala Allah mengetahui semua ini dari mereka, maka tahulah Dia bahwa mereka telah siap dipercaya mengemban Syari’ah Nya. Lalu Allah pun menjadikan mereka sebagai penguasa di atas bumi dan mengokohkan Dien mereka yang telah diridhai-Nya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:</p>
<p><em>“Sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur (kitab-kitab yang Kami turunkan) sudah tercantum (pada lauhul Mahfudz) bahwasanya, bumi ini akan turun diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.” </em><strong>(Qs. Al Anbiyaa’, 21: 105)</strong></p>
<p>Ingatlah, bahwa sekiranya kita mendapatkan kemenangan karena berjihad pada jalan-Nya, maka Allah akan mengurniakan pahala-Nya yang berlipat ganda sedang kita tidak akan dirugikan walau seberat zarah pun. Dan seandainya kita belum menemui kemenangan, Allah tetap akan memelihara agama-Nya sehingga datangnya kiamat, sedang kita tetap mendapat karunia-Nya dan tidak akan dirugikan. Hanyalah tugas kita untuk tetap sabar dan istiqomah di jalan Jihad sehingga hanya datang dua ketentuan yaitu kita syahid karenanya atau menang dalam kemuliaan. Setiap langkah kaki kita di dunia akan menjadikan neraca timbangan di akhirat terangkat, maka sesungguhnya pahala itu akan diletakkan di neraca timbangan akhirat.</p>
<p>Pena yang menguntai kata membentuk bahasa untuk menyeru manusia kembali kepada al-Haq pasti akan terus mengalir pahalanya. Seruan dari lisan para da’i yang tak henti-hentinya menyampaikan da’wah juga pasti akan mendapat balasan yang berlipat ganda.</p>
<p>Dan kepada para alim ulama khususnya, marilah bersama merenungkan hadits ini, yang selanjutnya tampil menjadi pembawa obor dan cahaya kebenaran bagi segenap lapisan masyarakat dan memimpin para mujahidin berperang di medan laga sehingga memperoleh salah satu di antara dua, hidup mulia di bawah naungan Syari’ah Allah atau syahid di jalan-Nya.</p>
<p>Ibnu Abbas Ra. berkata, bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p><em>“Sedekat-dekat manusia dengan derajat kenabian ialah Ahli Ilmu dan Ahli Jihad. Adapun Ahli Ilmu mereka menunjukkan kepada manusia atas apa yang dibawa oleh para Rasul dan adapun Ahli Jihad mereka berjihad dengan pedang-pedang mereka atas apa yang dibawa oleh para Rasul.”</em><strong> (HR Abu Na’im. Ihyaa’ ‘Ulumuddin 1/16).</strong></p>
<p>Inilah Imam an Nawawi, seorang ulama dan mujahid yang unggul. Beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya di negeri Syam. Namun demikian beliau tidak pernah memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang-orang menanyakan kepadanya: “Mengapa Tuan tidak makan buah-buahan negeri Syam?” Maka beliau menjawab: “Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang. Maka saya khawatir makan buah-buahan dari kebun-kebun itu.”</p>
<p>Oleh karena itu, hati mereka bagaikan hati singa dan jiwa mereka laksana jiwa pendeta. Mereka laksana pendeta di malam hari dan bagaikan ksatria berkuda di siang hari. Mereka tak sudi berhenti di depan rintangan. Halangan dan rintangan yang bagaimana pun tingginya dan bagaimana pun sukarnya akan mereka terobos dan mereka lompati.</p>
<p>Tatkala tentara Tartar menyerbu negeri Syam, Zhahir Bebres berkata: “Saya menghendaki fatwa dari kalian wahai para ulama agar saya dapat menghimpun dana untuk membeli senjata guna menghadapi serangan bangsa Tartar. Maka seluruh ulama memberikan fatwa seperti yang diminta oleh Zhahir Bebres kecuali seorang. Dia adalah Muhyiddin an Nawawi. Zhahir bertanya: “Mana tanda tangan Nawawi?” Mereka menjawab: “Dia menolak memberikan tanda tangan…”</p>
<p>Lalu Zhahir mengutus seorang untuk menjemputnya. Setelah Imam Nawawi datang, Zhahir bertanya: “Kenapa anda mencegah saya mengumpulkan dana untuk mengusir serangan musuh. Serangan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin?” Imam Nawawi menjawab: “Ketahuilah, dahulu engkau datang pada kami hanya sebagai budak. Dan sekarang saya melihatmu mempunyai banyak istana, pelayan lelaki dan wanita, emas, tanah, dan perkebunan. Jika semua itu telah engkau jual untuk membeli senjata, kemudia sesudahnya engkau masih memerlukan dana untuk mempersiapkan pasukan Muslimin, maka saya akan memberikan fatwa kepadamu…”</p>
<p>Zhahir Bebres amat marah mendengar ucapan Imam Nawawi, maka dia berkata: “Keluarlah engkau dari negeri Syam.” Lalu beliau keluar dari Syam dan menetap di rumahnya yang asli di desa Nawa. Pengusiran Imam Nawawi menimbulkan kemarahan para ulama, mereka datang menemui Zhahir Bebres dan berkata: “Kami tak mampu hidup tanpa kehadiran Imam Nawawi.”</p>
<p>Maka Zhahir pun mengatakan: “Kembalikanlah dia ke Syam.” Selanjutnya mereka pergi ke Nawa untuk membawa balik Imam Nawawi ke Syam. Akan tetapi Imam Nawawi menolak ajakan mereka seraya mengatakan: “Demi Allah, saya tidak akan masuk negeri Syam selama Zhahir Bebres masih ada di sana.” Akhirnya Allah memperkenankan sumpahnya, Zhahir mati sebulan sesudah beliau mengucapkan sumpah. Maka kembalilah Imam Nawawi ke negeri Syam. Semoga Allah merahmatinya karena keikhlasannya dan keberaniannya.<em><strong> (Syarah Arba’in: Imam An Nawawi)</strong></em></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;"><em>Wallahu&#8217;alam bish showab&#8230;</em></span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/islam-tegak-dengan-jihad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jihad Adalah kemuliaan Dan Kelembutan</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jihad-adalah-kemuliaan-dan-kelembutan/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jihad-adalah-kemuliaan-dan-kelembutan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 04:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah dan Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abujibriel.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[“Jihad Bukan Terorisme (kekerasan) dan Mujahidin adalah orang yang paling mulia bukan Teroris (pengganas)”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>“Jihad Bukan Terorisme (kekerasan) dan Mujahidin adalah orang yang paling mulia bukan Teroris (pengganas)”</em></p>
<p>Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam, kita memuji-Nya, Dzikir-Do’a hanya kepada-Nya, Subhanallah Walhamdulillah Allahuakbar. Sholawat serta salam senantiasa tertuju kepada Komandan  dan Panglima Mujahid, pembawa risalah Ilahi, Muhammad Shollalahu ‘Alaihi Wasallam, serta para Sahabat, keluarga dan para Shalihin Mujahidin penerus risalah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam. <em>Waba’du.</em></p>
<p>Sebagian umat Islam memandang kalimat Jihad dan Qital seperti pandangan orangq-orang kafir. Mereka berkata bahwa jihad dan perang adalah kekerasan dan kekejaman. Sedangkan Islam adalah Rahmatan lil Aalamien. Pandangan ini wajib diluruskan, karena pandangan seperti ini merupakan virus yang akan membunuh ajaran Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.</p>
<p><strong>Ketahuilah:</strong></p>
<p>1.)	Bahwa Islam adalah Rahmatan Lil Aalamin, yang berarti Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta jika seluruh ajarannya yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul  diimani, difahami dan dilaksanakan syari’ahnya mengikuti petunjuk Nabi Saw. Dan jihad fie sabilillah adalah bagian terpenting dari ajaran Islam setelah iman.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Ra. berkata, seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah apakah amalan yang paling afdhal?” Beliau menjawab: <em>“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”</em> Orang itu bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: <em>“Berjihad dijalan Allah…”</em> <strong>(HR. Bukhari dan Musim)</strong></p>
<p>Oleh karena itu JIHAD bukanlah TERORISME/KEKERASAN dan MUJAHID bukan TERORIS/PENGGANAS. Akan tetapi Jihad adalah amalan mulia yang memasukkan pelakunya kedalam Jannah, sedang Mujahid adalah sebaik-baik golongan manusia. Jika manusia beriman dan memeluk Islam dan melaksanakan ajaran Islam dengan baik dan benar mengikuti petunjuk Rasul Saw., maka pasti akan mendapat rahmat Allah Swt. Sebaliknya jika mereka kafir dan menghalangi ajaran Islam bahkan mereka memerangi Islam dan ummat Islam dengan berbagai jenis persenjataan barulah Islam menyatakan perang kepada mereka sebagai balasan terhadap tindakan kafir dan kejahatan mereka. Islam mengajarkan kasih sayang dan kelemah-lembutan serta kedamaian kepada siapa saja yang tidak memusuhi Islam dan ummatnya. Tetapi jika mereka memusuhi, maka Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk memerangi dan membunuh mereka dimana saja mereka berada. Perhatikan Firman Allah <strong>(QS. Al Baqarah 2: 190-193 ; 216; QS. At Taubah 9:5,14-15; 28-29; 41,73,123).</strong></p>
<p>Itulah diantara ayat Al Qur’an yang memerintahkan membunuh dan memerangi kafir yang memerang Islam. Orang-orang beriman yang enggan memerangi orang kafir ditanya oleh Allah Swt, mengapa mereka enggan dan malas memerang kafir itu ? Perhatikan firman Allah <strong>(QS. An Nisa 4:74-76; QS. At Taubah 9:38-39).</strong></p>
<p><strong>Dan berikut ini adalah beberapa ayat Allah yang menerangkan kemuliaan jihad dan Mujahid:</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah &#8216;Adn. Itulah keberuntungan yang besar, dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya), dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”</em> <strong>(QS. As Shaf, 61:10-13)</strong></p>
<p><em>“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai &#8216;uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> <strong>(QS. An Nisa’, 4:95-96)</strong></p>
<p>2.)	Orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya telah dibeli oleh Allah dengan Syurga. Allah telah memuliakan mereka karena kesediaan mereka berkorban harta maupun jiwa untuk menegakkan agama Allah. Firman Allah:</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang </em><em>lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” </em><strong>(QS. At Taubah, 9:111)</strong></p>
<p>3.)	Dzikrullah yang ikhlas dan khusyu’ akan membuahkan Jihad fie sabillaillah yang mendatangkan kejayaan dan kesuksesan. Firman Allah:</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (seperti: berzikir kepada Allah, shalat, tilawah Al Qur’an, taubat, istigfar, do’a, dll) dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”</em> (QS. Al Ma’idah, 5:35)</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”</em> <strong>(QS. Al Ahzab, 33:41-43)</strong></p>
<p>4.)	Dzikir dan Jihad harta dan jiwa, disebutkan berdampingan dalam Al Qur’an. Al Qur’an tidak memisahk antara amalan zikrullah dengan jihad fiesabilillah sebagaimana banyak kaum Muslimin yang meletakkan zikir disatu tempat sedang jihad ditempat yang lain, lalu mengatakan amalan yang paling utama ialah berzikir kepada Allah. Dan yang berjihad berkata amalan jihadlah yang paling baik. Perhatikan ayat berikut.</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan berzikirlah kepada Allah (sebutlah nama Allah) sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”</em> <strong>(QS. Al Anfal, 8:45-46)</strong></p>
<p>5.)	Berinfaq untuk jihad  djalan Allah adalah infak yang paling tinggi nilainya disisi Allah Swt.  seperti firman-Nya <strong>QS Al Baqarah 2:261 dan 245</strong>. Tetapi sebagian besar kaum Muslimin dia enggan dan takut untuk jihad dan membantu para mujahidin yang berjihad. Mereka lebih senang berinfaq kepada fakir miskin, anak yatim membangun masjid, pon-pes dan lain-lain. Renungkanlah firman Allah berikut:</p>
<p><em>“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”</em> <strong>(QS. Al Baqarah, 2:273)</strong></p>
<p>6.)	Bahwa sikap Rasulullah dan para sahabat beliau terhadap orang-orang kafir adalah tegas dan keras, kapada mereka yang menentang Islam (dalam hal aqidah dan syari’ah). Tapi sebagian besar kaum Muslimin tidak bersefakat dengan hal tersebut karena beralasan bahwa Islam bukan agama kekerasn Perhatikanlah ayat berikut:</p>
<p><em>“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”</em> <strong>(QS. Al Fath, 48:29)</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”</em> <strong>(QS. Al Ma’idah, 5:54)</strong></p>
<p>Sikap keras yang dimaksud dalam ayat-ayat diatas ialah sikap dalam Tauhid dan Syari’ah, bukan berarti bersikap keras kepada semua orang kafir, akan tetapi kepada mereka yang menentang dan memerangi Islam serta ummatnya. Islam mengharamkan bersifat keras kepada kafir yang tidak memerangi sebaliknya wajib bersifat baik dan adil. <strong>(QS. Al Mumtahanah, 60:8-9)</strong></p>
<p>Semoga penjelasan ini memberi manfaat kepada kita sekalian.<br />
<em>Wallahu’alam, Wal Hamdulillah…</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>DOWNLOAD MAKALAH</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.sendspace.com/file/g4x7ns" target="_blank">Jihad Adalah kemuliaan Dan Kelembutan</a> or <a href="http://www.4shared.com/file/106759135/5226bc50/JIHAD_ADALAH_KEMULIAAN_DAN_KELEMBUTAN.html" target="_blank">Jihad Adalah kemuliaan Dan Kelembutan</a></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jihad-adalah-kemuliaan-dan-kelembutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jihad Pakistan, Mengguncang Dunia</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jihad-pakistan-mengguncang-dunia/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jihad-pakistan-mengguncang-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 00:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah dan Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Pakistan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abujibriel.com/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Lembah Swat, Rabu, 15 April 2009. Mujahidin Taliban Pakistan di hadapan ribuan pendukungnya mendeklarasikan penerapan syari’at Islam di sebuah wilayah yang berjarak sekitar 160 km dari Islamabad, ibu kota Pakistan. Penerapan syari’at Islam di Lembah Swat diprediksi menjadi momentum kemenangan mujahidin Taliban Pakistan melawan pemerintahan sekuler Pakistan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>International Jihad Analysis</strong> &#8211; Lembah Swat, Rabu, 15 April 2009. Mujahidin Taliban Pakistan di hadapan ribuan pendukungnya mendeklarasikan penerapan syari’at Islam di sebuah wilayah yang berjarak sekitar 160 km dari Islamabad, ibu kota Pakistan. Penerapan syari’at Islam di Lembah Swat diprediksi menjadi momentum kemenangan mujahidin Taliban Pakistan melawan pemerintahan sekuler Pakistan.</p>
<p>Penerapan syari’at Islam di Lembah Swat dilakukan setelah pemerintah sekuler Pakistan sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi dalam menahan laju perjuangan dan serangan mujahidin Taliban Pakistan. Sebenarnya, sejak bulan Februari lalu, pemerintahan sekuler Pakistan telah menyerahkan kendali kepada mujahidin Taliban Pakistan. Kini, pos polisi dan tentara sekuler Pakistan hanya tinggal bangunan-bangunan kosong.</p>
<p><img style="vertical-align: middle;" src="http://www.arrahmah.com/images/stories/09/valleyofswat.jpg" alt="" width="572" height="359" /><br />
Salah Sebuah Pemandanagn Di Lembah Swat, Pakistan</p>
<p>Upaya penerapan syari’at Islam oleh Mujahidin Taliban Pakistan secara agresif terus dilakukan dan kini mulai bergerak dari daerah barat laut ke propinsi Punjab, Sindh, dan semakin mendekati ibu kota Pakistan, Islamabad. Kabar terakhir menginformasikan bahwa mujahidin Taliban Pakistan telah berada di dekat ibukota Pakistan, Islamabad. Sekitar 20 kendaraan yang membawa sejumlah mujahidin telah memasuki Distrik Buner, 100 km barat laut Islamabad pada hari Senin.</p>
<p>Mujahidin Taliban terus merangsek masuk lebih jauh ke pusat kekuasaan di Pakistan. Bahkan mereka telah bersumpah menjadikan beberapa kota besar di Pakistan menjadi medan pertempuran setelah mereka menegakkan kekuasaannya di sepanjang barat laut negara tersebut.</p>
<p>Sementara itu, pemerintah sekuler Pakistan tidak bisa berbuat banyak dan telah menyetujui secara resmi penerapan syari’at Islam di Lembah Swat tersebut. Presiden Asif Ali Zardari dan badan legislatifnya pada hari senin, 13 April 2009, terpaksa menyepakati sistem pengadilan yang diusulkan Taliban, yakni syari’at Islam.</p>
<p>Tentu saja, pemerintah sekuler Pakistan semakin khawatir atas perkembangan terakhir di negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim tersebut. Mereka sudah meningkatkan tingkat kewaspadaan di ibu kota Pakistan, Islamabad menjadi &#8220;sangat waspada&#8221;, mengingat munculnya berbagai serangan perlawanan dari mujahidin Taliban yang semakin meningkat dan menguat akhir-akhir ini.</p>
<p>Akankah dalam waktu dekat ini ibu kota Pakistan, Islamabad jatuh ke tangan Mujahidin ? Bagaimana upaya AS membendung kekuatan mujahidin Taliban Pakistan ?</p>
<p><strong>Lembah Swat dan Tragedi Masjid Merah</strong></p>
<p>Lembah Swat adalah sebuah kota kabupaten di barat laut Pakistan, yang berjarak sekitar 160 km dari Islamabad, ibu kota Pakistan. Lembah Swat adalah tempat yang sangat indah, bahkan mendapat julukan “Swiss” dari Pakistan.</p>
<p>Dengan gunung menjulang tinggi disaput salju putih di puncaknya, hijau pepohonan, gemericik jernihnya air sungai, dan beberapa danau yang sangat indah, membuat Lembah Swat dianggap sebagai sepotong “surga” di bumi.</p>
<p>Keindahan Lembah Swat sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dan menjadi rebutan beberapa peradaban kuno. Kawasan ini dahulunya pernah diduduki oleh para penganut Buddha, Yunani, dan Kushans, sampai akhirnya dikuasai oleh mujahidin Taliban Pakistan.</p>
<p>Pemberlakuan syari’at Islam di Lembah Swat berlaku sejak bulan Februari lalu, saat pemerintah lokal di North West Frontier Province (NWFP), satu dari empat propinsi negara Pakistan, menyerah kepada mujahidin Taliban Pakistan. Sejak saat itu, syari’at Islam resmi diberlakukan di Malakand, sebuah distrik di NWFP dengan jumlah penduduk tiga juta orang dimana Lembah Swat termasuk dalam wilayah ini.</p>
<p>Jika mau dirunut, maka awalnya adalah Tragedi Masjid Laal (Merah). Serbuan militer pemerintahan sekuler Pakistan di bawah rezim Pervez Musharraf terhadap santri Masjid Merah di Islamabad, dua tahun silan, menjadi titik puncak dan pemicu perseteruan abadi antara sekulerisme dan syari’at Islam. Perjuangan untuk menerapkan syari’at Islam yang telah lama dirintis oleh Muslimin Pakistan melalui dakwah dan jihad mendapatkan momentum berupa tindakan represif pemerintahan sekuler Pakistan yang dilindungi dan diprovokasi AS.</p>
<p>Masjid Laal didirikan oleh seorang alim bernama Maulana Abdulllah di awal tahun 1970-an. Maulana Abdullah adalah seorang yang terpandang dari Universitas di Kota Banori, Karachi. Tanah Masjid Laal disetujui atas nama beliau oleh pemimpin militer Ayub Khan di bawah pemerintahan Zia ul Haq (1977-1988). Masjid Laal memainkan peran penting dalam memasukkan nilai-nilai Islam pada tentara Pakistan. Selain itu, selama masa jihad Afghanistan malawan Rusia, masjid Laal mendukung mujahidin secara intensif. Setelah pembunuhan Maulana Abdullah, kunci masjid Laal diserahkan kepada dua anak lelakinya, Syekh Maulana Abdul Aziz dan Syekh Maulana Abdur Rasyid Ghazi.</p>
<p><img style="vertical-align: middle;" src="http://pakistaniat.com/images/Lal-Masjid-Operation.jpg" alt="" width="460" height="298" /><br />
Perlawanan Dari santriwati Masjid merah, Bangkitlah wahai Mujahidah Indonesia!!</p>
<p>Dalam tragedi Masjid Merah, Syekh Abdur Rasyid Ghazi, syahid, dan saudara kandungnya, Syekh Maulana Abdul Aziz ditahan. Ratusan orang santri menemui ajalnya. Bisa dikatakan, syuhada Masjid Laal telah membuat pengorbanan penting dan mereka semua menjadi tonggak untuk penegakan tauhid kepada Allah dan demi tegaknya syari’at Muhammad SAW berkibar di tanah Pakistan.</p>
<p>Sejak peristiwa tersebut, kaum Muslimin Pakistan, terutama mujahidin yang terinspirasi keberhasilan mujahidin Taliban di Afghanistan bertekad melancarkan perjuangan suci, jihad fi sabilillah, hingga syari’at Islam bisa ditegakkan di seluruh Pakistan. Perjuangan jihad ini langsung direnspon oleh mujahidin Taliban yang sejak semula hanya bergerak di Afghanistan untuk kemudian memperluas aksi dan pengaruhnya hingga ke Pakistan.</p>
<p><img style="vertical-align: middle;" src="http://arrahmah.com/images/stories/09/abdul_rasyid_ghazi.jpg" alt="" width="400" height="271" /><br />
Senyum kemenagan As Syahid Abdul Rasyid Ghazi, Pimpinan Lal Masjid (Masjid Merah)</p>
<p>Presiden Pakistan saat itu, Pervez Musharraf yang juga antek setia Amerika, sudah mencium gelagat tidak enak dan khawatir akan dampak perbuatannya menyerang Masjid Merah. Dia khawatir mujahidin Taliban akan memberikan bantuan secara langsung untuk membantu saudara-saudara Muslimnya di Pakistan, terutama di wilayah perbatasan dengan Afghanistan yang dihuni oleh kepala suku-kepala suku.</p>
<p>Hari Ahad, 12 Agustus, 2007, dia memprakarsai sebuah pertemuan perdamaian antar kepala suku (Jirga) dari Afghanistan dan Pakistan di Kabul. Pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 600 kepala suku dan berakhir Ahad itu menyepakati untuk memberangus tempat-tempat perlindungan mujahidin di wilayah masing-masing.</p>
<p>Perhitungan Musharraf meleset dan harapannya tidak terkabulkan. Mujahidin Pakistan malah semakin intensif menjalin hubungan dengan mujahidin Taliban Afghanistan, dan mulai mengikuti aksi dan strategi mereka, khususnya di wilayah perbatasan, seperti di Waziristan Utara. Mereka semakin mantap untuk berjuang dan melawan pemerintahan sekuler Pakistan. Dalam salah satu selebaran yang dikeluarkan, mereka menolak semua dialog dengan pemerintah Pakistan, karena pemerintah tidak mengabulkan tuntutan mereka, yaitu membongkar 25 pos pemeriksaan yang baru didirikan.<br />
Mujahidin Pakistan melampiaskan kemarahan dan pembalasan atas Tragedi Masjid Merah di Islamabad yang telah menewaskan 160 orang santri, dengan melakukan aksi-aksi serangan yang semakin gencar, termasuk melakukan bom syahid.</p>
<p>Tiga serangan bom syahid telah mereka lancarkan dan menewaskan hampir 60 orang. Selain itu mereka juga menyerang pusat penerimaan anggota polisi di Provinsi Perbatasan Barat, dan menewaskan sedikit-dikitnya 18 orang. Beberapa jam sebelumnya, mereka juga menghantam iring-iringan tentara di Lembah Swat dan berhasil menewaskan 17 orang.</p>
<p>Sehari sebelumnya, mereka menabrakkan satu bom mobil ke iring-iringan paramiliter di kawasan persukuan di Waziristan Utara dan menewaskan 24 orang. Jumlah keseluruhan yang tewas mencapai 59 orang ditambah beberapa yang luka. Semua serangan ini semakin menguatkan posisi mujahidin Taliban Pakistan dan semakin membuat gentar pemerintahan sekuler Pakistan.</p>
<p>Semua ini membuktikan bahwa wilayah perbatasan Afghanistan –Pakistan adalah wilayah yang subur bagi benih-benih perjuangan jihad dan telah dijadikan pusat latihan oleh mujahidin Taliban, yang akhirnya memberikan kekuatan nyata bagi mujahidin Pakistan. Dalam sebuah video jihad ditampilkan acara wisuda mujahidin di kamp latihan yang berlokasi di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan.</p>
<p>Asy Syahid Sayyid Quthb rahimahullah pernah mengatakan :</p>
<p><em>“Sesungguhnya kalimat kita akan tetap mati seperti boneka yang tak bergerak, sampai kita mati karenanya. Maka dia/kalimat itu akan bergoncang bangkit dan hidup di antara mereka yang hidup. Setiap kalimat yang hidup, maka ia akan bersemayam di hati manusia yang hidup, sehingga hiduplah ia bersama-sama mereka yang hidup. Orang-orang yang hidup tidak akan ingin berdampingan dengan orang-orang yang mati, mereka hanya mau berdampingan dengan orang-orang yang hidup. Adapun mayat itu akan tetap di kubur di bawah tanah, walaupun ia adalah mayat orang terhormat.&#8221;</em></p>
<p>Ucapan-ucapan haq dan perjuangan Syekh Abdur Rasyid Ghazi mengumandangkan penerapan syariat Islam di Pakistan yang harus ditebus dengan kesyahidan beliau kini menuai hasilnya. Perjuangan beliau memacu mujahidin untuk bersatu dan mengorbankan seluruh yang mereka miliki untuk melanjutkan perjuangan penegakan syariat Islam. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh saudara kandung beliau, Syekh Maulana Abdul Aziz, dalam khutbah Jum’at pertamanya pasca dua tahun penahanannya.</p>
<p>&#8220;Aku katakan kepada kalian untuk bersiap-siap melakukan pengorbanan untuk Islam.  Hari ini tidak akan jauh dimana Islam akan menguasai keseluruhan negeri. Apa yang kita lihat di Swat dan di wilayah pedalaman di Pakistan adalah hasil dari pengorbanan-pengorbanan Mesjid Merah, para santri, para penduduk yang syahid (Insya Allah) dalam peristiwa tersebut.&#8221;</p>
<p>Beliau, Syekh Maulana Abdul Aziz juga menyemangati kaum Muslimin Pakistan untuk berjihad dan menerapkan syari’at Islam secara kaafah di negeri tersebut. Para jama’ah bersemangat dan meneriakkan yel-yel jihad, &#8220;Sabiluna, Sabiluna : al-Jihad! al-Jihad!!&#8221;  Atmosfer terasa memanas dan kegembiraan terlihat di wajah-wajah para jamaah.  Mereka semua adalah saksi mata peristiwa dua tahun silam di Masjid Merah. Syekh Maulana melanjutkan :</p>
<p>&#8220;Insha Allah, hari ini tidak akan jauh ketika Islam akan diterapkan di seluruh Pakistan.  Perjuangan kita akan berjalan dengan tenang dan kita akan melanjutkan perjuangan ini untuk menerapkan Islam di negeri ini.&#8221;</p>
<p>Di Mingora, kota utama di Lembah Swat, seorang ulama pro Taliban, Sufi Muhammad, mengatakan bahwa undang-undang Pakistan telah memaksa rakyat untuk tunduk pada sistem kufur atau penjajah. Tidak ada sedikit pun ruang bagi demokrasi jika Taliban mengatur seluruh Pakistan, imbuhnya.</p>
<p>Beliau menyatakan bahwa sistem pengadilan Islam yang diusung oleh Taliban adalah sistem yang istimewa dan keputusannya tidak bisa dinaik-bandingkan ke Mahkamah Agung Islamabad. Beliau juga memerintahkan semua hakim pemerintah untuk meninggalkan wilayah tersebut pada 23 April mendatang. &#8220;Jika tidak mematuhinya, mereka akan bertanggung jawab untuk segala konsekuensinya,&#8221; ujar Sufi.</p>
<p><strong>Syariat Islam Diterapkan di Pakistan, Amerika Katakutan</strong></p>
<p>Kondisi terkini di Pakistan tentu saja membuat gusar kaum kafir, utamanya Amerika. David Kilcullen, mantan penasehat Departemen Kenegaraan dan Konsultan Anti Teroris pemerintahan Obama, mengatakan bahwa jika Pakistan jatuh ke tangan Mujahidin Taliban, maka itu adalah sebuah malapetaka bagi Amerika. Dia mengatakan :</p>
<p>“Jalur suplai (dari Karachi sampai basis AS) di Kandahar dan Kabul dari sebelah selatan dan timur akan dipotong, atau sedikitnya jalur-jalur tersebut menjadi lebih tidak aman, dan itu akan membahayakan misi AS di Afganistan.&#8221;</p>
<p>Salah seorang penasehat Pentagon bahkan mengatakan :</p>
<p>“Saya berpikir Pakistan bergerak pada situasi di mana ekstremis menguasai seluruh daerah pedalaman dan pemerintah hanya mengontrol pusat perkotaan,” tambahnya. “Jika anda melihat 10 tahun yang akan datang, saya kira pemerintahan Pakistan akan dijalankan oleh militan Islam.&#8221;</p>
<p>Kepala Senat Komite Hubungan Luar Negeri AS, Sen John Kerry, Selasa, 14, April 2009 akhirnya berkomentar terhadap situasi terakhir Pakistan dengan mengatakan :</p>
<p>“Pemerintah seharusnya menyadari urgensitas kondisi ini dan tetap berkomitmen. Ini adalah momen yang serius bagi Pakistan.”</p>
<p>Ketakutan dan kecemasan kini melanda Amerika setelah melihat kemenangan Mujahidin Taliban di Pakistan dan penerapan syariat Islam di sana. Mereka khawatir, Taliban Pakistan akan menyerang posisi Amerika di Afghanistan, dan dapat dipastikan hal itu pasti akan dilakukan oleh mujahidin Taliban Pakistan untuk membantu saudara-saudara seimannya di Afghanistan.</p>
<p>Salah satu langkah tergesa dari Amerika untuk menahan laju mujahidin Pakistan adalah dengan jalan memberikan suntikan dana segar ke pemerintahan sekuler Pakistan sebesar 5 milyar USD. Bantuan yang datang dari negara kafir Amerika dan sekutu mereka, seperti Jepang, Eropa dan penguasa munafik Arab Saudi diberikan dalam sebuah acara konferensi Tokyo, dengan sebuah janji dari presiden murtad Asif Ali Zardari untuk meningkatkan serangan kepada mujahidin.</p>
<p>Dari gedung putih, pemimpin pasukan perang salib baru, Barack Obama sudah menetapkan strategi terbarunya dengan meletakkan Pakistan sebagai pusat perjuangan melawan Taliban, dan Al Qaeda. Presiden yang asli yahudi ini juga mempropagandakan Al Qaeda sebagai kanker yang menggerogoti tubuh Pakistan dari dalam dan mengancam Pakistan untuk segera menyingkirkan mujahidin dari bumi Pakistan.</p>
<p>Strategi licik dan busuk yang dilancarkan kafir Amerika adalah menyuap kepala-kepala suku di pedalaman Pakistan, khususnya di wilayah perbatasan untuk membantu mereka. Amerika juga merangkul teman-teman baru mereka untuk bergabung dalam perang di Afghanistan, seperti Rusia. Nampaknya, Amerika semakin kewalahan dan sudah hampir mati langkah!</p>
<p>Barack Obama terpaksa harus putar otak dan memikirkan strategi baru apa yang harus diterapkan untuk mengatasi gelombang jihad di Pakistan. Salah satu yang mencuat adalah penambahan 4.000 personil tentara kafir Amerika akan diterjunkan untuk meningkatkan kapasitas tentara dan polisi Afghanistan. Selain itu, ia juga akan menyediakan bantuan untuk mendukung pengembangan warga sipil.</p>
<p>Obama juga berjanji akan meningkatkan serangannya di Afghanistan. Keputusan ini tentu tidak aneh dan menunjukkan siapa sejatinya presiden Amerika terpilih yang ke-44 ini. Untuk mendukung semua rencana ini, Obama meminta kongres untuk mengesahkan undang-undang yang berisi penggelembungan pengeluaran Amerika di Pakistan menjadi 1.5 miliar dolar per tahun selama lima tahun mendatang, untuk menolong membangun sekolah, jalan dan rumah sakit di Pakistan.</p>
<p>Propaganda dan perang media juga gencar dilakukan oleh Amerika. Melalui menteri luar negerinya, Hillary Clinton, rakyat Pakistan dipengaruhi untuk menekan pemerintah Pakistan agar segera menghalau mujahidin Taliban Pakistan. Hillary juga mengatakan bahwa pergerakan mujahidin Taliban Pakistan merupakan ancaman besar untuk eksistensi Pakistan.</p>
<p>Langkah terakhir yang cukup mengejutkan dari Amerika adalah berupaya membujuk negera kafir India agar berdamai dengan Pakistan, untuk kemudian bersama-sama menggempur mujahidin Taliban Pakistan.</p>
<p>Sebagai langkah awalnya, Amerika telah meminta India untuk menarik mundur pasukannya di perbatasan dan membiarkan Pakistan berkonsentrasi menghadapi Taliban. Siapa pun tahu, antara India dan Pakistan terjadi konflik yang tidak berkesudahan, termasuk dalam memperebutkan wilayah Kashmir.</p>
<p>Di samping itu, Amerika juga merasa perlu untuk meningkatkan kerja sama militer secepatnya dengan Pakistan. Melalui sekretaris pertahanannya, Michele Flournoy, disampaikan maksud untuk memberikan pelatihan kepada angkatan perang Pakistan dan memberikan mereka nasehat atau strategi untuk mendukung operasi mereka melawan mujahidin Taliban Pakistan. Namun, satu pertanyaan penting harus diajukan kepada para petinggi di gedung putih, sanggupkah pasukan mereka bersama dengan seluruh sekutu mereka untuk mengalahkan semangat jihad mujahidin Taliban Pakistan ?</p>
<p><strong>Jihad Hingga Tidak Ada Lagi Fitnah</strong></p>
<p>“…Dan perangilah mereka itu sampai  tidak ada lagi fitnah dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran) maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al Anfal : 39)</p>
<p>Banyak pejabat AS dan para pakar lainnya memperkirakan bahwa para mujahidin Taliban tidak akan pernah menyerah dan bahkan semakin meningkatkan perlawanannya. Seorang penulis dan ahli terorisme, Ahmad Rashid mengatakan dalan sebuah konferensi di Washington, Rabu (15/4).</p>
<p>&#8220;Taliban saat ini menjadi pasukan yang terus meningkatkan dirinya. Mereka mempunyai agenda untuk Pakistan, dan agenda itu tidak lain adalah untuk menumbangkan pemerintah Pakistan dan men-Taliban-kan seluruh negara tersebut.&#8221;</p>
<p>Tidak salah, tujuan akhir mujahidin Taliban Pakistan memang bukan hanya penerapan syari’at di beberapa tempat saja, akan tetapi di seluruh Pakistan. Bahkan, secara lebih luas lagi adalah hingga tidak ada lagi fitnah (agama musyrik) di muka bumi ini.</p>
<p>Muslim Khan, juru bicara mujahidin Taliban Pakistan dari Lembah Swat mengatakan :</p>
<p>&#8220;Syariat Islam tidak pernah memerintahkan kami untuk berhenti berperang, Jika pemerintah Afghanistan atau Pakistan masih meneruskan perang dan mendukung kebijakan anti-Muslim, tidak mungkin Taliban merebahkan tangan mereka. Ketika kami telah berhasil mencapai tujuan di satu wilayah, maka kami akan berjuang di wilayah lainnya.”</p>
<p>Inilah janji mujahidin Taliban Pakistan, yang dengan tegas mengatakan bahwa mereka tidak akan meletakkan senjata mereka walau syariat Islam telah diterapkan di wilayah Lembah Swat dan Barat laut Pakistan. Mereka akan terus berjuang agar seluruh wilayah Pakistan menerapkan syariat Islam.</p>
<p>Bahkan mereka, mujahidin Taliban Pakistan juga siap untuk melancarkan serangan hingga ke Afghanistan. Para mujahidin Taliban Pakistan akan secepatnya memasuki Afghanistan untuk bersama-sama bertempur dengan mujahidin Afghanistan melawan tentara teroris AS dan sekutunya. Muslim Khan menambahkan :</p>
<p>&#8220;Perjuangan kami adalah untuk menerapkan aturan buatan Allah di bumi milik Allah.  Kami akan mengirimkan mujahidin kami ke Afghanistan jika mujahidin Afghanistan memerlukan kami secepatnya.&#8221;</p>
<p>Kini, konsentrasi mujahidin Taliban Pakistan memang mengarah ke Islamabad, ibu kota Pakistan. Berulang kali mereka mengisyaratkan bahwa pihaknya akan terus mengusahakan agar Islamabad, bisa ditaklukkan. Seorang panglima mujahidin Taliban mengatakan pada hari Rabu (8/4) akan keyakinan untuk segera menaklukkan Islamabad.</p>
<p>&#8220;Tidak akan lama lagi Islamabad akan ada dalam genggaman mujahidin.&#8221;</p>
<p>Kabar terakhir menginformasikan bahwa sekitar 20 kendaraan yang membawa sejumlah mujahidin telah memasuki Distrik Buner, 100 km Baratlaut Islamabad pada Senin (6/4). Beberapa pejabat lokal juga mengonfirmasikan pada Rabu (8/4) kebenaran bahwa para mujahidin telah memasuki wilayah kota dan bertempur dengan personil polisi Pakistan di beberapa bagian di distrik Buner.</p>
<p>Mujahidin Taliban Pakistan telah bersumpah menjadikan beberapa kota besar di Pakistan menjadi medan pertempuran setelah mereka menegakkan kekuasaannya sepanjang barat laut negara tersebut.</p>
<p>Syekh Baitullah Mehshud, Pemimpin Mujahidin Taliban Pakistan secara tegas juga menyatakan sikapnya untuk terus menggempur Pakistan selama masih bekerjasama dengan Amerika. Pada Selasa (31/3) lalu, beliau juga menyatakan pertanggung-jawaban atas serangan berdarah di akademi kepolisian Lahore (30/3). Beliau mengatakan :<br />
&#8220;Kami mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Ini adalah balasan terhadap serangan terus-menerus pesawat tak berawak milik AS di atas wilayah kami.&#8221;<br />
Beliau juga mengaku bertanggung jawab terhadap serangan istisyhad (bom syahid) pada 23 Maret silam di halaman kantor polisi di Islamabad. Keberhasilan mujahidin Taliban Pakistan juga tidak terlepas dari dukungan mujahidin global, terutama Taliban dan Al Qaeda.</p>
<p>Perjuangan mujahidin Taliban Pakistan mendapat simpati dari mujahidin di seluruh dunia. Al Qaeda, sebuah organisasi jihad global, melalui salah seorang tokohnya, Syekh Abu Yahya Al-Libbi, menyampaikan simpati yang besar kepada perjuangan kaum Muslimin Pakistan, dan mendoakan syahidnya Syekh Abdur Rashid Ghazi, dan menjuluki beliau sebagai “Master of Martyrs.”</p>
<p>Pimpinan tertinggi Al Qaeda, Syekh Usamah bin Ladin bahkan merilis sebuah video khusus yang diproduksi oleh sayap media mereka, As Sahab, untuk menyerukan jihad kepada seluruh rakyat Pakistan. Video berjudul Hayya alal jihad (Ayo Berjihad, Pesan Untuk Rakyat Pakistan) yang dirilis pada bulan September 2007/Ramadhan 1428 H sedikit banyak telah menyemangati ruh jihad kaum Muslimin di seantero Pakistan. Diawali dengan mengulas tragedi Masjid Merah, konspirasi batil pemerintah sekuler Pakistan dengan Amerika, Syekh Usamah Bin Ladin menggugah semangat dan keberanian rakyat Pakistan untuk berjihad menumbangkan rezim sekular pimpinan Pervez Musharraf ketika itu.</p>
<p>Akhirnya, kita harus menyebut satu nama lagi untuk masalah ini, yakni Mullah Muhammad Umar, Amirul Mu’minin Imarah Islam Afghanistan, sekaligus pelopor dan pemimpin umum gerakan Taliban. Dalam buku “The Giant Man, Biografi Mullah Umar”, karangan Husayn Bin Mahmud, orang terdekat dan kepercayaan beliau, diceritakan bagaimana lelaki perkasa dari Qandahar ini, Mullah Muhammad Umar, berhasil dari seorang diri, kemudian menggerakkan revolusi Islam di Afghanistan melalui Taliban. Para murid atau santri yang di Afghanistan disebut dengan Taliban (jamak dari Talabah yang berasal dari bahasa Pashtun) berhasil mengambil alih kekuasaan hampir seperlima Afghanistan tanpa peperangan, tetapi dengan keinginan penduduknya yang memang rindu tegaknya syari’at dan keamanan.</p>
<p>Kini, mujahidin Taliban Pakistan sedang mengikuti jejak keberhasilan revolusi Islam saudara-saudara mereka, Taliban Afghanistan. Masyarakat Pakistan juga sudah lama merindukan tegaknya syari’at Islam yang lebih memberikan rasa aman dan kesejahteraan yang hakiki. Kondisi ini memungkinkan penguatan Imarah Islam Afghanistan untuk kemudian menjadi jantung Khilafah Islam dengan diterapkannya syari’at Islam di seantero Pakistan.</p>
<p>Wallahu’alam bis showab!</p>
<p><strong>By: M. Fachry<br />
Arrahmah.Com International Jihad Analys</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jihad-pakistan-mengguncang-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Al-Jihad -Ta&#039;riful Jihad-</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/kitab-al-jihad-tariful-jihad/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/kitab-al-jihad-tariful-jihad/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 15:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah dan Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[definisi]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abujibriel.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Kata jihad dari kata juhd yang berarti kemampuan dan kesukaran. Misalnya jaahada yujaahidu jihaadan au mujaahadah, yaitu apabila seseorang menguras kesanggupan dan mengerahkan segenap kemampuannya serta menanggung segala kesukaran dalam rangka memerangi musuh dan mengenyahkannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1.    PENGERTIAN JIHAD </strong></p>
<p>Kata jihad dari kata juhd yang berarti kemampuan dan kesukaran. Misalnya <em>jaahada yujaahidu jihaadan au mujaahadah</em>, yaitu apabila seseorang menguras kesanggupan dan mengerahkan segenap kemampuannya serta menanggung segala kesukaran dalam rangka memerangi musuh dan mengenyahkannya.</p>
<p>Jihad tidak disebutkan jihad haqiqi, kecuali bila dimaksudkan mendambakan ridha Allah dan ditujukan untuk meninggikan kalimat-Nya, mengibarkan janji kebenaran, menolak/memberantas kebathilan, dan untuk<br />
mengorbankan jiwa dalam rangka menggapai ridha-Nya. Jika jihad dimaksudkan untuk menumpuk kenikmatan duniawi, maka ini tidak disebut jihad haqiqi.</p>
<p>Oleh sebab itu, barangsiapa yang berperang demi memperoleh kedudukan, atau mendapatkan rampasan perang, atau menunjukkan keberanian, atau memperoleh popularitas, maka dia sama sekali tidak mempunyai bagian di akhirat dan tidak memperoleh pahala sedikit pun.</p>
<p>Dari Abu Musa ra, ia berkata: Telah datang seorang laki-laki Nabi saw lalu dia bertanya (kepada Beliau), <em>“Seseorang yang berperang demi mendapatkan harta rampasan perang, dan seseorang yang berperang demi mengejar popularitas, dan seseorang yang berperang guna menunjukkan kehebatannya lalu siapakah (di antara mereka itu) yang di jalan Allah?” Maka jawab Beliau, “Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimat (agama) Allah yang tertinggi, maka itulah (jihad) di jalan Allah.”</em><strong> (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari VI: 27 no: 2810, Muslim III: 1512 no: 1904, ‘Aunul Ma’bud VII: 193 no: 2500, Tirmidzi III: 100 no: 1697 dan Ibnu Majah II: 931 no: 2783). </strong></p>
<p><strong>2.    DORONGAN BERJIHAD </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah bersabda, “<em>Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menegakkan sholat, serta berpuasa Ramadhan maka hak Allah atasnya untuk memasukkannya ke dalam surga. Ia<br />
berjihad di jalan Allah, atau duduk di daerah kelahirannya.” Para sahabat pada bertanya, “Bolehkah kami menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?” Jawab Beliau, “Sesungguhnya di dalam surga ada<br />
seratus derajat yang Allah persiapkan untuk orang-orang yang berjihad di jalan Allah, yang jarak antara dua derajat seperti antara langit dengan bumi; karena itu, bila kalian hendak memohon kepada Allah, maka<br />
mohonlah surga Firdaus; karena ia adalah surga percontohan dan surga yang paling tinggi derajatnya yang di atasnya terdapat ‘Arsy (Allah) Yang Maha Pengasih, dan darinya memancarkan (mata air) sungai-sungai di<br />
surga.” </em><strong>(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 2126, ash Shahihah no: 921 dan Fathul Bari VI: 11 no: 2790). </strong></p>
<p>Darinya (Abu Hurairah) ra bahwa Rasulullah saw bersabda, <em>“Perumpamaan mujahid di jalan Allah seperti perumpamaan orang yang berpuasa lagi menegakkan shalat dengan membaca ayat-ayat Allah yang panjang, ia tidak pernah putus dari puasanya dan tidak (pula) dari shalatnya hingga sang mujahid di jalan Allah itu kembali (ke rumahnya).”</em> <strong>(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5851, Muslim III: 1498 no: 1878, Tirmidzi III: 88<br />
no: 1669). </strong></p>
<p>Darinya (Abu Hurairah) ra bahwa Rasulullah saw bersabda, <em>“Allah segera memberi pahala kepada orang yang pergi (berjihad) di jalan-Nya, yang tidak ada yang mendorongnya pergi kecuali karena iman kepada-Ku dan membenarkan Rasul-rasul-Ku; Dia akan kembalikan ia dengan membawa pahala dan rampasan perang atau akan Dia masukkan ia ke dalam surga.”</em><strong> (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari I: 92 no: 36, Muslim III: 1495 no: 1876). </strong></p>
<p><strong>3.    KEUTAMAAN JIHAD </strong></p>
<p>Dari Masruq, ia berkata: Kami pernah bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud ra tentang ayat ini, <em>WALAA TAHSABANNAL LADZIINA…</em> <em>(janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat (limpahan) rizki. <strong>QS Ali ‘Imran: 169).</strong></em></p>
<p>Kemudian ia menjawab: Sesungguhnya kami pernah (juga) menanyakan ayat itu kepada Rasulullah saw, lalu Beliau menjawab, <em>“Arwah mereka itu berada dalam rongga-rongga burung yang hijau, ia memiliki banyak lampu gantung yang banyak tangannya yang bergantung pada ‘Arsy. Ia bisa terbang lepas dari surga kapan saja ia mau, kemudian ia kembali (lagi) ke lampu-lampu gantung itu, kemudian Rabb mereka memperhatikan mereka sekali, lalu berfirman kepada mereka (para arwah itu), ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu?’ Jawab mereka, ‘Apa (lagi) yang kami inginkan, sedangkan kami bisa terbang lepas dari surga sesuka kami.’ Dia (Allah) berbuat demikian<br />
tiga kali kepada mereka. Tatkala mereka melihat dari mereka tidak dibiarkan, terus ditanya, maka mereka berujar, ‘Ya Rabbi, kami ingin agar Engkau mengembalikan (lagi) arwah kami kepada jassad kami sehingga kami bisa gugur di jalan-Mu sekali lagi.’ Tatkala Dia melihat bahwa mereka tidak mempunyai kebutuhan, maka mereka dibiarkan.”</em> <strong>(Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1068, Muslim III: 1502 no: 1887 dan Tirmidzi IV: 298 no: 4098) </strong></p>
<p>Dari Anas bahwa Rubayyi’ binti al-Bara’, Ummu Haristah bin Suraqah pernah datang kepada Nabi Saw lalu berkata, “<em>Ya Rasulullah, tidaklah engkau menceriterakan kepadaku tentang Haritsah? Dimana ia gugur pada waktu perang Badar terkena anak panah yang tidak diketahui siapa pemanahnya. Jika ia di surga, maka saya bersabar, namun manakala ia tidak demikian, maka saya akan bersungguh-sungguh menangisnya.” Kemudian Beliau bersabda, ;Ya Ummu Haritsah, sesungguhnya ia adlaah macam-macam surga di dalam surga, sedangkan puteramu menempati surga Firdaus yang paling tinggi.”</em> <strong>(Shahih: Shahihul Jam’us Shaghir no: 7852, Fathul Bari VI: 25 no: 2809, Tirmidzi V: 9 no: 3224) </strong></p>
<p>Dari al-Miqdam bin Ma’di Kariba ra bahwa Rasulullah saw bersabda,<em> “Orang yang gugur sebagai syahid mendapatkan enam keistimewaan: (Pertama) ia akan diampuni dosa-dosa sejak awal berangkat, (kedua) ia akan melihat tempat duduknya di surga, (ketiga) ia akan diselamatkan dari siksa kubur, (keempat) ia akan terselamatkan dari kepanikan yang luar biasa, (kelima) di atas kepalanya akan dipasang mahkota ketenangan yang terbuat dari yaqut yang lebih baik dari dunia dan seisinya, (keenam) dikawinkan dengan tujuh puluh dua isteri dari bidadari yang bermata jelita dan diberi hak memberi syafa’at kepada tujuh puluh dari kerabatnya.” </em><strong>(Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2257, Tirmidzi III: 106 no: 1712, Ibnu Majah II: 935 no: 2799) </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, <em>“Orang yang gugur sebagai syahid tidak akan merasakan pedihnya terbunuh, melainkan seperti seorang di antara kamu merasa sakit karena dicubit.” </em><strong>(Hasan Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2260, Tirmidzi III: 109 no: 1719 dan Ibnu Majah II: 937 no: 3802 serta Nasa’i VI: 36).<br />
</strong></p>
<div class="post">
<p><strong>4.    ANCAMAN AGAR TIDAK MENINGGALKAN JIHAD</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”</em> <strong>(QS At-Taubah: 38–39) </strong></p>
<p>Allah swt berfirman dalam surah yang lain:</p>
<p><em>“Dan belajakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan jangan kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” </em><strong>(QS Al-Baqarah: 195) </strong></p>
<p><strong>Ibnu Katsir </strong>menulils bahwa al-Laits bin Sa’ad dari Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam Abi ‘Imran, ia berkata, “Ada seorang prajurit dari batalyon Mujahirin maju ke daerah pertahanan musuh di Qasthanthiniyah (Konstantinopel) hingga badannya tertembus anak panah, bersama kami ada Abu Ayyub al-Anshari, lalu orang-orang pada berkomentar, ‘Ia mencampakkan dirinya ke jurang kebinasaan.’ Kemudian Abu Ayyub berujar, ‘Kami lebih tahu (daripada yang lain) mengenai makna ayat ini. Ayat ini turun pada kami, kami bersahabat dengan Rasulullah saw dan kami telah ikut bersamanya dalam banyak peperangan dan kami selalu membelanya.</p>
<p>Tatkala Islam telah tersebar dan jaya, kami segenap kaum Anshar mengadakan pertemuan atas dasar cinta. Maka kami mengatakan: “Sungguh Allah telah memuliakan kami dengan bersahabat dengan Nabi-Nya saw dan dengan menolongnya hingga Islam menyebar dan pemeluknya berjumlah besar.” Dan dahulu kami lebih mengutamakan Rasulullah daripada keluaga, harta benda, dan anak-anak, kemudian perang berakhir, lalu kami kembali kepada keluarga kami, anak-anak kami, kami tinggal bersama mereka. Lalu turunlah kepada kami ayat (yang artinya). “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” <strong>(QS Al-Baqarah: 195)</strong>. Jadi, kebinasaan itu ialah karena tetap tinggal di rumah, tidak mau berinfak, dan enggan berjihad.”</p>
<p>Riwayat di atas direkam oleh Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Abdun bin Humaid dalam tafsirannya, juga Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawaih, Al-Hafizh Abu Ya’ala al-Mushi dalam musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Hakim dalam Mustadraknya. Mereka semua ini bersumber dari hadits Yazid bin Abi Hubaid. Imam Tirmidzi berkata, “Hadist ini Hasan Shahih Gharib.” <strong>Imam Hakim</strong> menegaskan, “<em>Para perawi sanad riwayat ini dipakai oleh Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.” </em><strong>(Shahih: Shahih Abu Daud no: 2187, Tafsir Ibnu Katsir I: 228, ’Aunul Ma’bud VII: 188 no: 2495, Tirmidzi III: 280 no: 4053 dan Mustadrak Hakim II: 275) </strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar ra bahwa Nabi saw bersabda, <em>“Jika kamu melakukan jual beli secara kredit dengan tambahan harga, mengambil ekor-ekor sapi (sebuah perumpamaan dari Rasulullah yang berarti riba atau tambahan), dan kamu merasa puas dengan tanamanmu, serta kamu meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakkan kehinaan kepadamu yang tidak akan dicabut hingga kamu kembali (tunduk patuh) kepada agamamu.”</em> <strong>(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 423)<br />
</strong></p>
<p><strong>5.    HUKUM JIHAD</strong></p>
<p><em>“Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu. Padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” </em><strong>(QS Al-BAqarah: 216) </strong></p>
<p>Jihad adalah fardhu kifayah, berdasar firman Allah swt:</p>
<p><em>“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai ‘udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga).”</em> <strong>(QS An-Nisaa: 95) </strong></p>
<p><strong>Ibnu Jarir ath-Thabari </strong>mengomentari ayat di atas dengan perkataannya,<em> “Allah Yang Maha Tinggi snnjungan-Nya menjelaskan bahwa para mujahid akan mendapatkan keutamaan, dan bahwasanya mereka serta orang-orang yang duduk akan mendapat imbalan yang baik. Kalaulah sekiranya orang-orang yang duduk, yang tidak ikut berperang itu, telah menyia-nyiakan kewajiban, niscaya mereka akan mendapatkan imbalan yang buruk, bukan imbalan yang baik.”</em><strong> (Tafsir Ath-Thabari II: 345) </strong></p>
<p>Ketahuilah, bahwa berlandaskan banyak ayat dan hadits yang mengupas persoalan jihad, kita dianjurkan memperbanyak jihad, minimal sekali dalam setahun. Karena Nabi saw semenjak diperintah berjihad tidak pernah vakum dari aktifitas jihad dalam setiap tahun. Sedangkan meneladani Rasulullah saw adalah suatu kewajiban, dan jihad adalah kewajiban yang dikerjakan berulang kali. Adapun ibadah fardhu yang paling sedikit diulangi sekali dalam setahun ialah puasa dan zakat. Lain dengan jihad, manakala ada hajat yang mengharuskan jihad maka dikerjakan lebih dari sekali dalam setahun, atau mengharuskan jihad maka dikerjakan lebih dari sekali dalam setahun, atau berulangkali, karena ia adalah fardhu kifayah. Jadi diukur sesuai dengan kadar kebutuhannya. <em>Wallahu A’lam. </em></p>
<p><em>“Akan tetapi satu hal yang seyogyanya kita semua memahami bahwa qital (perang) dalam Islam tidak boleh dimulai sebelum terlebih dahulu ada pengumuman dan takhyir (pemberian alternatif), yaitu menerima Islam<br />
atau membayar jizyah (upeti) atau perang. Perang didahului dengan pembatalan perjanjian, bila mereka pernah mengikat perjanjian, dalam kondisi mengkhawatirkan pihak lawan berkhianat. Ahkam niha-iyah<br />
(hukum-hukum yang final) menetapkan perjanjian hanya untuk ahludz dzimmah, yaitu orang-orang yang menerima tawaran damai dari Islam dan mau membayar jizyah. Dan tidak ada perjanjian pada selain kondisi seperti ini, kecuali kaum Muslimin dalam keadaan lemah yang menjadikan hukum tertentu dalam keadaan lemah ini sebagai hukum marhali (hukum periodik) yang biasanya diberlakukan dalam keadaan yang menyerupai keadaan di mana sekarang mereka hidup.”<br />
</em></p>
<p><strong>6.    ADAB QITAL (ETIKA PERANG) </strong></p>
<p>Dari Buraidah ra ia bercerita: Adalah Rasulullah saw apabila mengangkat seorang sahabat sebagai panglima perang, Beliau memberi wasiat khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah Ta’ala dan berbuat baik kepada segenap prajurit yang bersamanya, kemudian Beliau bersabda,<em> “Berperanglah dengan (menyebut) nama Allah, di jalan-Nya hendaklah kalian menumpas orang-orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah, namun jangan kalian mencuri (harta rampasan sebelum dibagi oleh panglima) dan jangan (pula) khianat, janganlah kalian mencincang (menyayat-nyayat bangkai) musuh dan jangan (pula) kalian menebas batang leher anak-anak kecil. Oleh sebab itu, manakala kalian berhadapan dengan kubu musuhmu dari kaum musyrikin, serulah mereka kepada tiga hal, apa saja yang mereka terima dari tiga hal tersebut, maka terimalah dan jangan memerangi mereka! Serulah kepada Islam; jika mereka menerima ajakanmu, terimalah kemauan baik dari mereka itu dan tahanlah dirimu dari mereka. Kemudian ajaklah mereka berhijrah dari negeri mereka (sendiri) ke negeri Muhajirin, dan informasikan kepada mereka bahwa manakala mereka melaksanakan ajakan itu, maka mereka akan mendapatkan hak yang diperoleh kaum Muhajirin itu dan mereka harus melaksanakan kewajiban sebagaimana yang mesti dilaksanakan oleh kaum Muhajirin itu. Jika mereka (tetap) enggan berhijrah dari negeri mereka (sendiri), maka jelaskan kepada mereka bahwa mereka akan diperlakukan seperti orang-orang Arab Muslim yang lain, hukum Allah swt tetap berlaku atas mereka sebagaimana yang berlaku atas kaum Mukmunin; namun mereka tidak berhak memperoleh ghanimah (yaitu harta rampasan perang yang diperoleh melalui peperangan) dan fai’ (yaitu harta rampasan perang yang<br />
diperoleh tanpa terjadinya peperangan (tanpa ada perlawanan) sedikit pun, kecuali mereka turut serta berjihad bersama kaum Muslimin. Jika mereka (masih) menolak (tawaran tersebut), tuntutlah mereka agar membayar jizyah; jika mereka memenuhi tuntutanmu, maka terimalah (jizyah) dari mereka itu dan tahanlah dirimu terhadap mereka; jika mereka (tetap) menolak, maka mohonlah pertolongan kepada Allah untuk mengalahkan mereka.”</em> <strong>(Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1111, Muslim III: 1356 no: 1731, Tirmidzi II: 431 no: 1429 secara ringkas) </strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: <em>“Didapati seorang perempuan terbunuh di sebagian medan peperangan bersama Rasulullah saw lalu Beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak.”</em> <strong>(Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari VI: 148 no: 3015, Muslim III: 1364 no: 1744, ‘Aunul Ma’bud VII: 329 no: 2651, Tirmidzi III: 66 no: 1617 dan Ibnu Majah II: 947 no: 2841). </strong></p>
<p>Nabi saw pernah mengutus Mu’adz bin Jabal ra ke penduduk Yaman sebagai da’i. Wasiat yang beliau sampaikan kepadanya (sebagai berikut),<em> “Sesungguhnya engkau (Mu’adz) akan datang kepada suatu kaum Ahli Kitab; karena itu ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada Ilah (yang paut diibadahi), kecuali Allah dan bahwasanya aku adalah Rasul-Nya. Jika mereka dalam hal ini ta’at kepadamu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Ta’ala telah memfardhukan atas mereka shalat lima kali sehari semalam. Jika mereka dalam ini patuh kepadamu, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah memfardhukan atas mereka zakat yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka lalu disalurkan kepada orang-orang faqir mereka. Jika dalam hal ini mereka tunduk kepadamu, maka janganlah kamu mengambil harta benda mereka yang berharga dan waspadalah terhadap do’a orang yang teraniaya; karena sesungguhnya antara do’a (tersebut) dengan Allah tidak ada hijab (penghalang).”</em><strong> (Muttafaqun ’alaih).<br />
</strong></p>
<p><em>Wallahua&#8217;alm&#8230;</em></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/kitab-al-jihad-tariful-jihad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentara Zionis Mulai Invasi Jalur Gaza Melalui Darat</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/tentara-zionis-mulai-invasi-jalur-gaza-melalui-darat/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/tentara-zionis-mulai-invasi-jalur-gaza-melalui-darat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 17:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abujibriel.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Israel (Abujibriel.Com) &#8211; Mengutip pejabat Israel, Kantor Berita BBC melaporkan, tentara darat Israel sudah mulai bergerak memasuki Jalur Gaza. Setelah sepekan menggempur melalui udara, kini Zionis masuk melalui darat tanpa menghiraukan kecaman dunia. Pada Jumat pagi waktu setempat, Perdana Menteri Ehud Olmert, Menteri Pertahanan Ehud Barak, Menteri Luar Negeri Tzipi Livni dan anggota kabinet lainnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.nahnumuslim.com/images/thumbnails/09/israel_armygazza_r190x.jpg"><img class="alignleft" title="israel_armygazza" src="http://www.nahnumuslim.com/images/thumbnails/09/israel_armygazza_r190x.jpg" alt="" width="190" height="135" /></a>Israel (Abujibriel.Com)</strong> &#8211; Mengutip pejabat Israel, Kantor Berita BBC melaporkan, tentara darat Israel sudah mulai bergerak memasuki Jalur Gaza. Setelah sepekan menggempur melalui udara, kini Zionis masuk melalui darat tanpa menghiraukan kecaman dunia.</p>
<p>Pada Jumat pagi waktu setempat, Perdana Menteri Ehud Olmert, Menteri Pertahanan Ehud Barak, Menteri Luar Negeri Tzipi Livni dan anggota kabinet lainnya berdiskusi soal serangan darat Israel. Juru bicara pemerintah Israel Mark Regev menyatakan, pertemuan itu juga dihadiri pejabat militer dan intelijen Israel. Lampu hijau untuk serangan darat keluar setelah pemerintah Amerika Serikat Jumat kemarin memberi lampu hijau bagi Israel.<span id="more-36"></span></p>
<p>&#8220;Saya kira langkah yang diambil, apakah itu dari darat atau udara, merupakan satu paket operasi militer. Itu merupakan keputusan yang sudah diambil Israel,&#8221; ujar Gordon Johndroe, deputi bidang press Gedung Putih.</p>
<p>Langkah evakuasi warga sipil dari Gaza, merupakan pertanda serangan darat semakin dekat. Saat ini sudah 400 warga yang memegang paspor asing dari Rusia, AS, Turki, dan Norwegia, sudah meninggalkan Gaza.</p>
<p>Sementara Sayap Militer Hamas, Brigade Izzudin Al Qassam bersama Para MUjahidin Dari Jihad Islam dan yg lain tak tinggal diam dengan ancaman serangan darat itu. Pemimpin biro politik Hamas Khaleed Meshaal Jumat kemarin mengatakan, pihaknya telah menyiapkan kejutan bagi tentara Israel yang masuk Gaza. Dia menyebutnya dengan &#8220;black destiny&#8221; bagi tentara Israel. &#8220;Jika Anda (Israel) melakukan langkah bodoh dengan menyerang dari darat, black destiny akan menanti Anda,&#8221; kata Meshaal.</p>
<p>Hingga dari kedelapan serangan Israel, sebanyak 436 orang tewas dan 2.250 lebih terluka. Sementara Israel sudah kehilangan enam warganya (termasuk militer) dan 16 lainnya dilaporkan terluka akibat serangan roket dan mortir Hamas.</p>
<p>Bagi Mujahidin, invasi israel melalui darat adalah kehancuran Israel, dan permulaan Hitam bagi zionis utk dihabisi, Semoga Allah melindungi sauda-saudara kitadi Paletina, dan memberikan kekuatan serta ketabahan buat ara Mujahidin di Palestin, Allahu Akbar, Wal Izzatu lillah.!(Arrahmah.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/tentara-zionis-mulai-invasi-jalur-gaza-melalui-darat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
