<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>abujibriel.com &#187; Dakwah</title>
	<atom:link href="http://www.abujibriel.com/tag/dakwah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.abujibriel.com</link>
	<description>Al Qur&#039;an Sebagai Pedoman, Pedang Sebagai Pengawal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Aug 2010 17:37:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Teladan Rasulullah Menyikapi Fitnah dan Ujian Dalam Dakwah dan Jihad</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 02:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah dan Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirohmanirrohim… Perjalanan Dakwah dan Jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Itulah perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang Shalih. Satu perjalanan yang tidak menawarkan arama harum dari minyak kasturi, kilauan intan- mutiara dan emas berlian yang bercahaya, sebaliknya dipenuhi onak dan duri, batu dan kerikil, tanah pejal mendaki dan berkelok. Hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bismillahirohmanirrohim…</em></p>
<p>Perjalanan Dakwah dan Jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Itulah perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang Shalih. Satu perjalanan yang tidak menawarkan arama harum dari minyak kasturi, kilauan intan- mutiara dan emas berlian yang bercahaya, sebaliknya dipenuhi onak dan duri, batu dan kerikil, tanah pejal mendaki dan berkelok. Hampir tidak ada yang ingin mengikuti dan menempuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang diberi Rahmat dan Barakah. Teror dan berbagai ancaman ditimpakan kepada para Rasul Allah Swt, para Sahabat-sahabat dan Orang-orang Shalih dari para Ulama’ dan Para Mujahid sesudah para Sahabat, tidak ada yang terlepas dari kezaliman, siksaan, pembantaian dan pembunuhan. Perhatikanlah firman Allah Swt berikut:</p>
<p>1) Nabi Nuh As telah di ancam rajam.</p>
<p><em>“Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan Termasuk orang-orang yang dirajam.”</em> <strong>(QS As Syua’ara, 26:116)</strong></p>
<p>2) Nabi Luth As diancam untuk diusir.</p>
<p><em>“Mereka menjawab: “Hai Luth, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu Termasuk orang-orang yang diusir.”</em> <strong>(QS. As Syua’ara, 26:167)</strong></p>
<p>3) Nabi Ibrahim As diancam untuk dibakar.</p>
<p><em>“Mereka berkata: “Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”</em><strong>(QS. Al Anbiya’, 21:68-69)</strong></p>
<p>4) Nabi Yusuf As diancam untuk dipenjara.</p>
<p><em>“W</em><em>anita itu berkata: “Itulah Dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda Dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi Dia menolak. dan Sesungguhnya jika Dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya Dia akan dipenjarakan dan Dia akan Termasuk golongan orang-orang yang hina.” Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.” </em><strong>(QS. Yusuf, 21:32-33)</strong><em></em></p>
<p>5) Nabi Musa As diancam penjara dan bunuh.</p>
<p><em>Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.”</em> <strong>(QS. As Syua’ara, 26:29)</strong></p>
<p><em>“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena Sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari Setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”</em> <strong>(QS. Al Mukmin, 40:26-27)</strong></p>
<p>6) Para Nabi diancam untuk diusir dan dirajam.</p>
<p><em>“Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri Kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.”</em> <strong>(QS. Ibrahim, 14:13-14)</strong></p>
<p><em>Mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami bernasib malang karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya Kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.”</em> <strong>(QS Yasin, 36:18)</strong></p>
<p>7) Adapun Nabi Muhammad Saw dihina dan dikatakan sebagai seorang penyair gila.</p>
<p><em>“Dan mereka berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?.” </em><strong>(QS. As Shaffat 37:36)</strong></p>
<p>Dan beliau diancam untuk; ditangkap, dipenjara, diusir dan dibunuh,</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” </em><strong>(QS. Al Anfal, 8:30)</strong></p>
<p>Dan pernah juga Rasulullah Saw difitnah dalam keluarganya, isterinya yang sangat dicintainya Ash Shiddiqah binti Ash Shiddiq, Aisyah Ra yang terkenal dengan HADITUL IFIK (Berita Bohong). Dan hal ini merupakan suatu bentuk yang akan terus berulang pada setiap generasi, dimana sasaran utama dari tuduhan itu sebenarnya diarahkan kepada pemimpin dengan tujuan hendak menghancurkan kepercayaan para pendukung beliau terhadap kepemimpinan tersebut.</p>
<p>Itulah tradisi yang selalu berulang disepanjang sejarah, bila kekuatan fisik tidak mampu membunuh karakter pimpinan, maka di hadapan musuh tidak ada lagi jalan yang bisa ditempuhnya selain perang psikologis terhadap kepemimpinan tersebut, dengan cara menghancurkannya lewat perang seperti ini. Karena itu, di sini ditampilkan kisah keteladanan ini <em>(HADITUL IFIK)</em> supaya para Da’i dan Mujahid serta para pendukungnya tidak mudah lemah dalam menghadapi segala ujian dan fitnah yang menimpanya, karena musuh selalu menggunakan isu seperti ini, sebagai perang isu yang disebarluaskan oleh musuh dikalangan barisan Islam untuk menghancurkan pimpinan.</p>
<p>Yang terpenting diingat dalam peristiwa ini adalah bahwa berita bohong itu sebagaimana yang telah jelas bersumber dari kaum munafik di bawah bendera pimpinan mereka, Abdullah bin ubay bin Salul. Ketika berita bohong itu masih beredar di kalangan orang-orang munafik, memang tidak ada bahaya apa pun yang bisa mereka timbulkan. Akan tetapi, ketika berita itu sudah masuk ke dalam lingkungan kaum Muslimin, dengan segera berita itu menyebar bagai api membakar jerami. Barulah saat itu tampak betapa besar bahaya keberadaan kaum munafik di tengah umat Islam.</p>
<p>Nash Al Qur’an sendiri, ketika menceritakan peristiwa ini, ternyata lebih banyak mengarahkan tegurannya terhadap kaum Muslimin daripada kepada kaum munafik. Agaknya Al-Qur’an hendak memberi pendidikan terhadap kaum Mukminin yang benar-benar beriman, tapi masih dapat dipengaruhi oleh berita bohong ini dan masih mau menerima pembicaraan orang yang menyangka-nyangka tanpa bukti.</p>
<p>Adapun pelajaran-pelajaran terpenting yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan berita bohong ini, ialah sebagai berikut.</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong><em>, </em>menghindari tuduhan yang masih bersifat prasangka adalah kewajiban pokok yang wajib ditunaikan kaum muslimin. Mereka -terutama para pemimpin- juga harus menyadari bahwa prasangka seperti itu menjadi pusat perhatian lawan maupun kawan. Karena itu, sedapat mungkin agar dapat menghindari tempat-tempat dan hal apa pun yang bisa menimbulkan prasangka buruk.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong><em>,</em> jangan menerima isu begitu saja, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala dalam al Qur’anul Karim,</p>
<p>“<em>Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah di sisi Allah adalah pendusta.”</em> <strong>(QS. An Nur, 24:13)</strong></p>
<p>Berita apa pun yang tidak diperkuat dengan bukti, harus ditolak oleh setiap Muslim. Hendaklah pula dia menyadari bahwa menceritakan isu kepada orang lain dan menularkan berita yang tidak diperkuat dengan bukti akan mengubah statusnya menjadi pendusta. Ini adalah ketetapan Al Qur’an terhadap manusia-manusia semacam itu mereka adalah pendusta di sisi Allah, sekalipun orang itu sebenarnya bukanlah yang mengada-ngada berita tersebut dan sekalipun dia sekedar menukilkan dengan sejujurnya apa yang sebenarnya dia dengar dari seseorang, namun dia di sisi Allah tetap tergolong para pendusta.</p>
<p><strong><em>Ketiga,</em></strong><em> </em>untuk menimbang secara cermat dalam menilai benar-tidaknya suatu isu, bandingkanlah pribadi orang yang diisukan itu dengan diri anda sendiri. Dengan demikian, pastilah Anda akan tetap memercayai teman Anda itu seperti halnya memercayai diri Anda sendiri. Cara menimbang seperti itu diakui dan dipuji oleh Al Qur’anul Karim, yaitu berkenaan dengan suatu perbincangan antara Abu Ayyub Al Anshari dengan istrinya, Ummu Ayub Ra. Wanita itu berkata,</p>
<p>”Tidaklah kamu mendengar apa yang dikatakan orang mengenai Aisyah?”</p>
<p>“Ya, tapi itu bohong,” jawab si suami, “Apakah kamu melakukannya juga, hai ummu Ayyub?”</p>
<p>“Tidak, demi Allah,”kata si istri, “Mengapa aku harus meniru orang-orang itu?”</p>
<p>“Abu Ayyub menegaskan, “Demi Allah, Aisyah itu lebih baik darimu.” <strong><em>(Ibnu Hisyam, (As Sirah An Nabawiyah, II/303).</em></strong></p>
<p>Semoga saudaraku, yang masih juga menyebarluaskan isu mengenai temannya atau pemimpinnya, kiranya mau menghitung-hitung barang sedikit, benarkah temannya atau pemimpinnya itu lebih jelek perhatiannya terhadap agama ketimbang dirinya dan benarkah keduanya lebih rapuh kepatuhannya kepada agama dan lebih rendah budinya ketimbang dirinya? Andaikan menimbang diri seperti itu dia lakukan pastilah prasangka buruk itu akan musnah dari pikirannya dan robohlah kabar bohong itu sampai ke akar-akarnya.</p>
<p><strong><em>Keempat, </em></strong>jangan sekali-kali membiarkan hawa nafsu ikut campur dan berperan dalam menyelesaikan soal tersebarnya kabar bohong.</p>
<p>Di sini, ada dua contoh yang saling berlawanan berkenaan dengan berita bohong tersebut di atas. Yang satu lebih suka memperturutkan hawa nafsu, sedangkan yang lain tidak. Dua contoh itu ditampilkan oleh dua wanita Muslimat bersaudara kandung. Yang pertama ialah Zainab binti Jahsy Ra, salah seorang istri Rasulullah Saw dan yang kedua ialah Hamnah binti Jahsy Ra.</p>
<p>Al Muqrizi telah meriwayatkan dari Zainab tentang dialog yang dilakukannya dengan Rasulullah Saw, di mana istri yang baik budi itu mengatakan kepada suaminya, “Terpeliharalah kiranya pendengaranku dan penglihatanku. Aku tidak melihat pada Aisyah kecuali yang baik-baik saja. Demi Allah, aku tak pernah mengajaknya bicara dan aku memang benar-benar mendiamkannya, tetapi aku hanya mengatakan yang benar.” <strong><em>(Al Muqrizi, Imta’ul Asma’ 1/208).</em></strong></p>
<p>Jika seorang ‘<em>madu’</em> sedemikian hebatnya mampu menahan hawa nafsunya untuk tidak ikut-ikut menyebarkan isu, itu menunjukkan betapa tinggi derajat keluhuran budi yang telah dicapai oleh wanita Muslimat ini. Kemudian menyatakan bahwa Zainab sama sekali tidak terlibat dalam menyebarkan berita bohong ini. Dalam suatu pembicaraan, Aisyah Ra. Bahkan pernah mengatakan, “Tidak seorang pun yang menyaingiku di sisi Rasulullah Saw selain Zainab binti jahsy.”</p>
<p>Dengan pernyataan ini, agaknya Aisyah menempatkan Zainab pada posisinya secara tepat dalam persaingannya dengan dirinya sebagai sesama istri Rasulullah Saw. Namun demikian, dia tidak berkeberatan untuk memuji madunya itu berkenaan dengan kasus berita bohong tersebut. Aisyah mengatakan, “Adapun Zainab benar-benar dipelihara Allah, berkat kepatuhannya kepada agamanya. Dia tidak berkata apa-apa.”</p>
<p>Lain halnya dengan sikap kedua yang ditunjukkan oleh Hammah, saudara perempuan kandung Zainab. Dia justru ikut menyebarluaskan berita bohong itu dari rumah ke rumah, seolah-olah tak ada halangan apa pun di depan matanya, meski semua itu sebenarnya dia lakukan demi membela posisi Zainab di sisi Rasulullah Saw. Sampai-sampai Aisyahsberkata, menanggapi perbuatan saudara madunya itu, “Adapun saudara perempuan Zainab, Hammah, dia menyebarkan berita bohong itu seluas-luasnya. Dia melawan aku demi saudaranya. Tapi gara-gara itu, dia celaka.”</p>
<p>Bagaimanapun, kita kagum sekali kepada Aisyah Ra. Karena ternyata dia mampu membedakan antara dua sikap yang berbeda dari kedua wanita bersaudara kandung itu dan sama sekali tidak menimpakan kepada Zainab kesalahan yang dilakukan saudaranya itu.</p>
<p><strong><em>Kelima,</em></strong><em> </em>beban terberat dalam mengahdapi <em>haditsul-ifki</em> adalah sikap yang mesti diambil oleh orang yang diisukan.</p>
<p>Adapun manhaj yang harus menjadi pegangan dalam hal ini ialah janganlah membalas berita bohong dengan berita bohong yang lain dan janganlah membalas isu yang dusta dengan isu lain yang serupa. <strong>Hendaklah pula orang yang diisukan itu mampu menahan diri. Maksudnya, jangan membiarkan lidahnya berbicara yang melanggar kehormatan orang lain, sekalipun orang lain itu telah menganiaya dirinya, sampai terbukti dirinya benar dan tidak bersalah.</strong> Inilah sikap yang sangat penting, yang kita serukan kepada siapa pun yang sedang terkena isu.</p>
<p>Sekarang, baiklah kita perhatikan teladan yang baik yang telah dicontohkan oleh tiga contoh yang terlanggar kehormatannya dalam kasus <em>haditsul ifki</em> tersebut di atas.</p>
<p><strong>Muhammad Rasulullah Saw</strong>, junjungan seluruh umat manusia, yang diwaktu itu beliau juga berstatus sebagai panglima, kepada Negara, dan pemegang kekuasaan. Dengan hanya satu isyarat saja dari beliau, sebenarnya dapat saja melayang nyawa siapa pun yang berani mempecundangi kehormatan beliau. Namun demikian, dalam mengahdapi masalah ini -setelah bermusyawarah dengan para sahabatnya yang terkemuka- beliau hanya berpidato di hadapan kaum muslimin di atas mimbar seraya berpesan, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, “Hai sekalian manusia, mengapa ada orang-orang yang menyakitiku mengenai keluargaku dan mengatakan yang tidak benar mengenai mereka. Demi Allah, aku lihat keluargaku baik-baik saja. Orang-orang itupun mengatakan pula hal yang serupa terhadap seorang lelaki, yang demi Allah, aku lihat dia pun baik-baik saja dan dia tak pernah masuk ke salah satu rumah di antara rumah-rumah (keluarga)ku kecuali bersamaku.”</p>
<p>Begitu pula terjadi suatu krisis hubungan antara dua kelompok, Aus dan Khajraj, berkenaan dengan berita bohong ini, Rasulullah Saw tak lebih hanya menjadi penengah, sekalipun salah satu pihak menyatakan pembelaannya terhadap orang-orang yang terlibat dalam mencaci maki Aisyah s. Sedang yang lain menyerangnya dengan berbagai tuduhan. Walaupun demikian, beliau hanya meredakan emosi masing-masing dan tidak berpihak kepada siapapun karena beliau tidak memiliki bukti-bukti untuk membantah pihak yang menuduh. Walaupun ketika Shafwan Ra. Melampiasakan kekesalannya yang amat sangat dalam membela dirinya, lalu dipukulnya Hasan bin Tsabit atas tuduhannya, Rasulullah Saw tetap tidak mendorongnya atau pun memberinya semangat untuk meneruskan tindakannya itu selagi belum ada bukti, padahal beliau tengah berupaya membersihkan segala tuduhan atas diri orang yang paling ia cintai, Aisyah ra.</p>
<p>Pada waktu itu, Hassan maupun Shafwan telah hadir di hadapan Rasulullah Saw. Marilah kita perhatikan pengadilan yang tenang itu terhadap dua orang prajurit yang telah bertindak melampaui batas.</p>
<p>Shafwan Ibnul Mu’athal berkata, “Ya Rasul Allah, dia telah menyakiti hatiku dan mengejekku, lalu aku marah sampai aku memukulnya.”</p>
<p>Bersabdalah Rasulullah Saw kepada Hassan, “Bersikap baiklah kamu hai Hassan, Tegakah kamu menjelek-jelekkan kaumku, padahal Allah telah menunjuki mereka kepada Islam?” Beliau lalu menasehatinya pula seraya bersabda, “Berbuat baiklah kamu, hai Hassan, mengenai pukulan yang telah menimpa dirimu.”</p>
<p>Hassan pun menerima nasihat beliau, lalu dia serahkan <em>diyat</em> (denda) atas pukulan itu kepada beliau, seraya berkata, “<em>Diyat</em>-nya untukmu wahai Rasul Allah.”</p>
<p>Menurut riwayat Ibnu Ishak, “Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwa Rasulullah Saw kemudian memberi Hassan sebidang tanah sebagai pengganti dari <em>diyat</em>nya itu dan ditambahnya pula dengan seorang budak wanita mesir bernama Sirin. Wanita itu dikemudian hari melahirkan untuknya seorang anak bernama Abdurrahman bin Hassan.” <strong>(Ibnu Hisyam, II/305-306)</strong></p>
<p>Demikian pukulan yang di lakukan Shafwan terhadap Hassan telah dibayar dengan sebidang tanah dan seorang budak wanita. Rasulullah-lah yang membayarnya kepada Hassan bin Tsabit, setelah dia menyatakan memberi maaf kepada Shafwan Ibnu Mu’aththal, padahal orang yang diberi itu tadinya telah mengubah sya’ir yang berisi tuduhan terhadap istri beliau sendiri dan dengan sya’irnya itu ia pergi ke mana-mana menyebarluaskan isu itu tanpa henti.</p>
<p><strong>Abu Bakar Ra dan istrinya, Ummu Ruman</strong>. Mereka berdua telah mendapat cobaan luar biasa yang tak pernah menimpa seorang Muslim lainnya. Walau demikian, yang dikatakan oleh ibu yang penyabar itu, yang telah dipecundangi kehormatannya, dikecam dan dihina, tak lebih dari, “Anakku, tenangkan dirimu. Demi Allah, seorang wanita cantik menjadi istri seorang lelaki yang mencintainya, sedangkan madunya pun banyak, jarang sekali yang luput dari omongan-omongan yang di lontarkan oleh madu-madunya maupun oleh orang lain.”</p>
<p>Adapun Abu Bakar Ra tak bisa berbicara apa-apa selain, “Saya tak pernah melihat satupun keluarga di kalangan bangsa Arab yang mengalami cobaan seperti yang dialami keluarga Abu bakar. Demi Allah, omongan-omongan ini tak pernah di ucapkan orang terhadap kami di zaman Jahiliyah, di kala kami tidak menyembah Allah. Tetapi, di masa Islam, justru kami mengalaminya!”</p>
<p><strong>Aisyah,</strong> yang tak henti-hentinya menangis sehingga dia yakin tangis itu akan menghentikan detak jantungnya. Ketika dia berhadapan dengan Rasulullah Saw dan beliaupun menanyakan kepadanya mengenai berita itu, dan dia hanya mengatakan, “Sesungguhnya aku, demi Allah, telah tahu betul bahwa tuan-tuan telah mendengar berita ini, lalu hati tuan tuan-tuan termakan olehnya lalu mempercayainya. Jadi, kalaupun aku katakan kepada tuan-tuan bahwa aku tidak bersalah, tuan-tuan takkan mempercayaiku. Kalau pun aku mengakui kepada tuan-tuan tentang sesuatu, yang Allah pasti tahu aku bersih darinya, barulah tuan-tuan akan mempercayaiku. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mendapatkan suatu teladan untuk diriku selain ayah nabi Yusuf ketika dia berkata, “….maka kesabaran baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah di mohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu sekalian ceritakan. (QS. Yusuf : 18).</p>
<p>Sungguh, itulah sikap yang tiada taranya dalam sejarah dari sebuah keluarga paling suci di muka bumi ini. Mereka dipecundangi kehormatan dan kemuliaanya, namun tidak seorang pun dari mereka yang keluar batas dan tidak terlontar sepatah kata pun dari mereka yang meninggung perasaan orang lain, bahkan masing-masing tetap mampu mengendalikan urat sarafnya.</p>
<p>Adapun yang keluar batas hanyalah Shafwan Ibnu Mu’aththal Ra. Saking kesalnya, dia pukul Hassan dengan pedangnya dan hampir saja ketelanjurannya mengakibatkan perisyiwa besar seandainya tidak segera dilerai oleh Rasulullah Saw.</p>
<p>Demikianlah adab Islam yang luhur terhadap orang-orang yang menyebarluaskan isu yang keliru dan berita bohong.</p>
<p><strong><em>Keenam,</em></strong> sikap terakhir yang dapat kita simpulkan dari peristiwa <em>haditsul-ifki</em> ialah menghukum orang-orang yang terpedaya yang terlibat dalam menyebarkan fitnah. Dengan demikian, berarti tidak cukup dengan pernyataan bahwa si tertuduh tidak bersalah dan tidak cukup dengan sekadar sang pemimpin menolak segala perkataan buruk yang dilontarkan kepada pihak yang terkena fitnah, lalu habis perkara. Harus ada hukuman tegas yang dilaksanakan di tengah masyarakat muslim terhadap siapa pun yang menyebarkan isu, setelah dilakukan pemeriksaan secermat-cermatnya.</p>
<p>Akan tetapi, kenyataan yang terjadi sekarang, gerakan Islam malah membiarkan begitu saja si penyebar isu dan berita bohong. Karenanya, masyarakat tak habis-habisnya digoncang oleh berbagai macam fitnah.</p>
<p>Sebagai contoh, cukuplah kita sampaikan bahwa hukum Islam terhadap tiga tokoh penyebar berita bohong tersebut, Misthah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hammah binti Jahsy, ialah dijatuhkannya hukuman <em>had al-qadzaf</em> kepada mereka, yakni didera delapan puluh kali, sekalipun ada sebagian riwayat yang menyatakan bahwa jenis hukuman ini baru diterapkan sesudah itu. Jadi, tidak dilaksanakan terhadap ketiga orang itu. Hal ini karena mereka melakukan tuduhan sebelum turunnya ayat mengenai hukuman-hukuman had.</p>
<p>Peristiwa seperti ini justru terjadi pada periode da’wah ini karena sejarah da’wah sebelumnya memang tak pernah menyaksikan terjadinya peristiwa yang serupa di kalangan masyarakat Islam sendiri. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa terjadinya isu biasanya pada saat lemahnya bangunan internal dan pada saat ada kesiapan untuk menerima isu. Sebaliknya, di kala umat sibuk dengan perjuangan dan peperangan menghadapi musuh, jarang sekali isu dapat memengaruhi jiwa mereka.</p>
<p>Dari pelajaran diatas cukuplah bagi kaum Muslimin dan Muslimah yang baru bergabung dalam perjuangan ini menjadikannya sebagai teladan hidup yang paling berharga.Semoga keberkatan untuk kita.</p>
<p><em>Wallahu’alam…</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Islam Bukan Publikasi Terorisme</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 01:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[BETAPA sulitnya memperbaiki nasib bangsa Indonesia, karena orang-orang yang baik di negeri ini kian langka adanya. Sistem Negara demokrasi, bahkan lebih banyak memberi peluang menebar kejahatan daripada menabur kebaikan. Sudah jamak terjadi, seseorang yang dikenal sebagai tokoh baik-baik di masyarakat, begitu terlibat dalam kekuasaan pemerintahan, bukannya memperbaiki keadaan yang sudah rusak, malah dia sendiri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BETAPA</strong> sulitnya memperbaiki nasib bangsa Indonesia, karena orang-orang yang baik di negeri ini kian langka adanya. Sistem Negara demokrasi, bahkan lebih banyak memberi peluang menebar kejahatan daripada menabur kebaikan. Sudah jamak terjadi, seseorang yang dikenal sebagai tokoh baik-baik di masyarakat, begitu terlibat dalam kekuasaan pemerintahan, bukannya memperbaiki keadaan yang sudah rusak, malah dia sendiri yang diperbaiki akibat melakukan kerusakan di atas kerusakan yang sudah ada.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, berlakulah firman Allah: <em>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada penguasa di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”</em> <strong>(Qs. Al-Isra’, 17:16)</strong></p>
<p>Adalah kewajiban para pejabat untuk membangun Negara, menyuburkan keadilan sosial, meningkatkan kesejahteraan rakyat, membela kemanusiaan secara adil dan beradab. Dalam suatu Negara, penguasa/pejabat negara dan pengusaha adalah dua unsure <em>mutrafin</em> yang saling menguatkan. Apabila keduanya menjadi mata rantai kejahatan di suatu negeri, maka mereka telah memosisikan dirinya sebagai penghancur, implementasi program syetan-iblis laknatullah untuk menghancurkan rakyat dan negerinya.</p>
<p>Kenyataannya, penguasa yang bertindak sebagai Fir’aun selalu ingin menguasai segala hal demi melestarikan kekuasaannya. Sedangkan pengusaha, bertindak seperti Namrud yang selalu mengusahakan apa saja agar menguntungkan ushanya. Maka sekalipun kejahatan korupsi, illegal login, peredaran narkoba, dekadensi moral, berkembangbiaknya mafia hukum serta markus (makelar kasus), terbukti telah menjadi penyakit epidemi yang melahirkan keterbelakangan, ketidak adilan, dan kebodohan masyarakat. Namun, semua itu belum cukup merangsang penguasa negeri ini untuk marah, kemudian memberantas tuntas hingga ke akar-akarnya.</p>
<p>Bandingkan dengan tindakan represif kepolisian memberantas tindak pidana terorisme, jelas memperlihatkan kemarahan polisi (Densus 88) hingga mencapai ubun-ubun. Kulminasi kemarahan ini, justru menyebabkan sikap paranoid dan panik. Buktinya, untuk mengejar teroris dan membongkar jaringannya, polisi (Densus 88 antiteror) berani mengobok-obok lembaga pendidikan pesantren, mengawasi juru dakwah, dan mengintimidasi masyarakat publik.</p>
<p>Jika ‘kebijakan’ represif ini ditujukan untuk membasmi terorisme, guna melindungi rakyat dan menegakkan supremasi hukum, mungkin masih dapat ditolerir. Memberantas teroris kita dukung, tapi jangan salah kaprah dan <em>overacting, </em>dikhawatirkan upaya itu justru meresahkan masyarakat, menciptakan suasana antagonis, karena para pendakwah diposisikan sebagai orang yang dicurigai. Faktanya, kemarahan Densus 88 terhadap para teroris, identik dengan kemarahan terhadap dakwah Islam, juru dakwah, serta para mujahid penegak syari’at Islam.</p>
<p><strong>Kriminalisasi Juru Dakwah</strong></p>
<p>Dakwah Islam di Indonesia bagai pelita yang tak pernah padam. Ia melaju, dipandu dalam gerak estafeta generasi ke generasi sejak ratusan tahun silam. Adakalanya obor dakwah meredup, akibat kondisi internal yang melemah atau tekanan dari luar. Tapi selalu ada juru dakwah yang tampil menuangkan energi baru, sehingga obor dakwah terang kembali. Sumbu dakwah Islam tidak boleh kering dari sinar kebenaran, sekalipun rekayasa politik maupun fakta sosial menggerogoti eksistensinya.</p>
<p>Sedangkan para Da’i (juru dakwah) Islam merupakan urat nadi kehidupan sosial masyarakat; dan selamanya tidak pernah menjadi juru teror. Mereka senantiasa menawarkan perspektif humanistik dan ideologis, yang menyentuh peranan akhlak dan amar ma’rfu nahi munkar. Adakalanya mereka tampil di halayak umat sebagai tabib, yang dengan keramahannya bisa mengatasi frustasi dan depresi mental.</p>
<p>Disaat lain, seorang da’i juga aktif sebagai pengamat sosial dengan melancarkan kritik konstruktif untuk mereformasi masyarakat yang bobrok, jorok, dan bodoh menjadi masyarakat yang terhormat. Bahkan tidak jarang, para juru dakwah ini menjadi pendamping yang produktif bagi si kaya, sekaligus pendamping yang kreatif bagi si miskin.</p>
<p>Lalu, mengapa pemberantasan terorisme diarahkan untuk menyerang faham keagamaan yang dianggap sebagai penyulut ideologi terorisme? Ada apa di balik gagasan kepolisian untuk mengawasi dakwah para da’i dengan dalih menghentikan publikasi terorisme? Pertanyaan ini menjadi penting dan relevan, mengingat beredarnya pernyataan kepolisian terkait perlunya mengawasi aktivitas dakwah sangat meresahkan masyarakat Muslim.</p>
<p>Kemarahan polisi terhadap para juru dakwah, antara lain dapat dilihat dalam kasus ‘kriminalisasi juru dakwah’ Ustadz Abu Jibril Abdurrahman. Sebagai juru dakwah yang konsisten dengan misi penegakan syari’at Islam di lembaga Negara melalui manhaj dakwah dan jihad, sudah berulangkali difitnah sebagai ‘mata air terorisme’, sekalipun segala tuduhan itu hanya omong kosong belaka.</p>
<p>Akibatnya, tidak hanya sebatas penangkapan putranya M Jibriel, melainkan juga teror, isolasi serta intimidasi dakwah. Sejumlah masjid, yang selama ini tempatnya menyampaikan dakwah, secara sepihak membatalkan dan mencekal pengajian rutin yang biasanya diisi oleh Ustadz Abu Jibriel. Pengurus masjid dan majelis ta’lim mengaku didatangi aparat dan diteror agar tidak lagi mendatangkan beliau untuk berceramah. Segala tindakan kedzaliman dan ketidakadilan ini mengingatkan kita ke masa represif rezim orde baru yang sangat membenci syari’at Islam dan kaum Muslimin.</p>
<p>Prilaku aparat keamanan yang mengintimidasi masyarakat agar menjauhi juru dakwah yang berani berterus terang dengan kebenaran Islam, merupakan warisan orang-orang kafir di masa Nabi Syu’aib alaihi salam, sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentulah kamu menjadi orang-orang yang rugi.” Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah mereka.”</em> <strong>(Qs. Al-AS’raf, 7:90-91)</strong></p>
<p>Maka patutlah dipertanyakan, seorang juru dakwah yang dijauhkan dari masyarakat karena dituduh sebagai teroris, apakah karena tindakan teror yang dia lakukan, ataukah stigmatisasi Amerika yang diadopsi oleh antek-anteknya di negeri ini? Lalu, apa <em>sanksi</em> hukum bagi mereka yang memvonis orang lain sebagai ‘gembong teroris’, sementara segala tuduhan keji itu tidak pernah terbukti, baik melalui pengadilan maupun fakta sosial di lapangan?</p>
<p>Kasus Muhammad Jibril Abdurrahman, yang ditangkap 25 Agustus 2009, adalah salah satu kasus yang sangat dipaksakan dan sewenang-wenang. Dia diculik di tengah jalan setelah polisi mengumumkan sebagai DPO. Dua hari kemudian, Densus mengantar surat penangkapan pada keluarganya. Padahal memasukkan seseorang sebagai anggota jaringan teroris, tanpa aturan dan ukuran yang jelas, lebih berbahaya dari teror. Aparat keamanan akan bertindak seenaknya melakukan penangkapan berdasarkan kecurigaan semata-mata.</p>
<p>Pada awalnya Muhammad Jibril disangka sebagai penyandang dana teror bom di Hotel JW Marriot dan Ristz Carlton. Setelah Duta besar Inggris datang menemui Kapolri, 27 Agustus 2009, tuduhannya berubah sebagai mantan anggota Al Qaeda, dan telah menyembunyikan korban salah bunuh Syaifuddin Zuhri. Dalam sidang pengadilan yang digelar di PN Jakarta Selatan sejak……hingga pemeriksaan saksi, semua tuduhan itu tidak dapat dibuktikan oleh jaksa penuntut umum, tapi tetap saja dipenjara. Lalu untuk kepentingan siapa sesungguhnya penangkapan dan penahanan ini?</p>
<p>Proses kriminalisasi juru dakwah dilakukan melalui tiga tahapan propaganda, yaitu: <strong>Pertama</strong>, propaganda <em>safsathah, </em>yaitu menyebarkan informasi dusta yang dibungkus dengan data-data fiktif, seperti dilakukan oleh Sidney Jones (Direktur International Crisis Group).</p>
<p>Laporan berkala Sidney Jones menjadi masukan resmi Kongres Amerika, FBI, dan CIA, seringkali menipu dan memprovokasi aparat kepolisian Indonesia. Banyak hal yang dilaporkan Sidney Jones menipu orang Indonesia, bahkan mengejutkan orang yang namanya disebut dalam laporan itu, karena ia terkesan sangat menguasai hingga ke detail peristiwa radikalisme bahkan sampai ke “celana dalam” pelaku, seperti dalam laporan “The Case of The Ngruki Network in Indonesia”.</p>
<p>Oleh karena itu, tak jelas apakah terorisme di Indonesia itu karya orang Indonesia atau mainan intelijen Barat. Apakah teroris itu pelaku teror atau korban dari permainan politik global. Kiprah Sidney Jones nampak sekali standar gandanya, tetapi yang jelas hasilnya adalah menciptakan citra negatif Indonesia di mata internasional. Pers Indonesia pun larut ke dalam teori safsathah Sidney Jones karena memang tidak ada laporan lain yang bisa menandinginya sehingga wacana terorisme di Indonesia hanya melalui satu corong, yakni corong Sidney Jones.</p>
<p><strong>Kedua</strong><em>,</em> propaganda <em>Jadal, </em>artinya menyebarkan pendapat tertentu dengan mengajukan fakta-fakta yang akurasinya diragukan. Misalnya, pernyataan mantan kepala BIN, Hendropiyono, Begitupun AM Hendro Priyono, mantan kepala BIN selama beberapa jam melakukan wawancara jarak jauh dg TVone, 17-07-2009. Yang menarik adalah kesimpulan dia bahwa kaum ekstrimis Islam yg terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam, yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Mantan Kadensus 88/Antiteror Polri Brigjen Pol (pur) Suryadarma Salim menyatakan, bahwa jaringan Al Qaidah berada di balik aksi pengeboman di Jakarta tersebut. Lantas, mengapa Indonesia yang menjadi sasaran para teroris itu? Sur ya menjelaskan, JI sudah ter bagi ke dalam beberapa zona. Mi salnya, Malaysia dan Singa pura sebagai zona ekonomi. &#8220;Orang luar negeri yang Muslim lebih besar menyumbangnya daripada orang Indonesia,&#8221; katanya.</p>
<p>Nah, Indonesia menjadi daerah trainer untuk melakukan operasi-operasi. Yakni, untuk pelatih an setelah kamp JI dibubarkan Al Qaidah dan dipaksa keluar dari Afghanistan . Selanjutnya, me reka membangun kamp di Min danao , Filipina, yang disebut kamp Abu Bakar. &#8221; Indonesia tem pat melakukan operasi dengan prediksi kalau Indonesia bisa dikuasai, Indonesia akan menyerang Singapura , Malaysia , Thai land , dan seterusnya,&#8221; jelasnya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, teori <em>khithabi,</em> analisa yang bersifat provokatif, dengan menebar fitnah guna merusak citra, seakan-akan segala ancaman yang menimpa adalah akibat perbuatan musuh politiknya. Misalnya, pernyataan jawara intelijen Hendropriyono ketika mengomentari peristiwa teror dengan menyisipkan fitnah bahwa para teroris ini adalah dari kelompok gerakan Wahabi, Darul Islam, Ikhwanul Muslimin ala Hasan Al Banna. Hendro dengan entengnya melemparkan fitnah tersebut sebagaimana biasanya dilakukan agen zionis dan Amerika.</p>
<p>Gerakan Wahabi yang diplopori oleh Abdul Wahab pada abad 19 M atau 12 H, hanya mengajak umat Islam meninggalkan akidah syirk, amaliyah yang bercampur aduk dengan kepercayaan syirk tanpa pernah melakukan kekerasan fisik, melainkan dengan ceramah dan menulis buku. Dan tidak pernah ada bukti bahwa Syeikh Abdul Wahab mendirikan laskar untuk melakukan kekerasan pada rakyat. Adapun Kerajaan Saudi Arabia di bawah pimpinan Raja Ibnu Saud yang sering melakukan tindakan represif tidak berkaitan dengan paham keagamaan, tetapi berkaitan dengan kelompok yang memberontak kepadanya.</p>
<p>Jadi, antara Abdul Wahab dengan prilaku Ibnu Saud di dalam menegakkan kerajaannya merupakan dua hal yang berbeda. Dan Syeikh Abdul Wahab tidak bisa dipersalahkan, apalagi Wahabi disebut sebagai pelopor teroris. Begitupun Ikhwanul Muslimin yang menjadi korban tindakan kekerasan raja Farouk dengan penjajah Inggris, sehingga Hassan Al Banna dibunuh secara keji di tengah jalan. Padahal Hasan Al Banna hanya mengajarkan Islam kepada rakyat mesir dan mengajak raja serta para pejabat kerajaan Mesir untuk menghargai agamanya, dan menyatakan tekad merdekanya dari penjajahan Inggris.</p>
<p><strong>Jihad Versus Terorisme</strong></p>
<p>Dialektika terorisme, secara faktual disebabkan oleh dua hal. <strong>Pertama</strong>, adanya kekerasan durjana dan durhaka yang hendak menaklukkan masyarakat tertindas (mustadh’afin) agar tidak berani melawan kekuatan sang penindas (mustakbirin). <strong>Kedua,</strong> terorisme yang dimotivasi oleh perlawanan rakyat tertindas terhadap penguasa zalim, sementara mereka yang tertindas itu tidak mampu melawan atas penindasan yang dideritanya kecuali dengan melakukan teror. Tujuannya, tentu saja untuk menekan si penindas yang kejam itu agar tidak melestarikan kejahatannya terus menerus.</p>
<p>Tindakan Israel yang menghancurkan perkampungan rakyat Palestina dan membunuh rakyat sipil. Termasuk imprialisme Amerika di Irak dan Afghanistan yang meluluhlantakkan sarana sosial, pendidikan bahkan struktur pemerintahan merupakan terorisme mustakbirin. Sebaliknya, perjuangan rakyat Palestina untuk mengenyahkan penjajah Israel menggunakan senjata seadanya, demi merebut kemerdekaannya dituduh sebagai kaum teroris oleh zionis Israel. Bahkan perjuangan rakyat Muslim di Irak dan perlawanan pejuang Taliban di Afghanistan dianggap sebagai terorisme oleh Amerika berdasarkan keputusan diskriminatif dari PBB. Padahal, bagi kedua Negara tersebut, prilaku AS bahkan lebih jahat dari kaum teroris.</p>
<p>Lalu, siapa sesungguhnya meneror siapa? Apabila dalam persepektif ini kita memosisikan Israel, Amerika dan Negara pendukungnya disatu pihak, dan Hamas, Al Qaidah, kelompok Imam Samudera di pihak lainnya, dengan niat dan motivasinya masing-masing; barangkali aparat keamanan tidak perlu paranoid menghadapi teror bom yang terjadi di Negara kita. Artinya, pemberantasan terorisme tidak perlu menggunakan pendekatan SARA, distorsi agama, apalagi bersikap diskriminatif terhadap juru dakwah dan aktivis Islam.</p>
<p>Munculnya gagasan untuk mengawasi aktivitas dakwah para Da’i Muslim, akibat terjebak dalam teori ‘tangkap dulu baru kemudian diperiksa’, menciptakan keresahan di masyarakat, atau meneror para Du’at yang lantang mengkritik berbagai pelanggaran penanganan teror di Indonesia, justru menjadi bagian dari aksi teror itu sendiri.<strong> </strong></p>
<p>Pasca penembakan Dulmatin, muncul sikap-sikap oportunis dan munafiq, yang secara sistimatis dan radikal mengopinikan jihad sebagai tindak kejahatan. Namun anehnya, dalam menghadapi kejahatan narkoba misalnya, polisi menggunakan istilah jihad melawan narkoba. Disatu sisi jihad dimaki sebagi teror, dipihak lain kegagalan pemerintah memberantas narkoba, mereka gunakan kata jihad untuk membangkitkan semangat masyarakat memberantas narkoba. Inilah adalah sikap oportunis kaum pragmatis.</p>
<p>Tindakan Densus 88 yang secara sadis membunuh orang-orang yang baru diduga teroris sehingga menimbulkan ketakutan masal di masyakat, dan menyebabkan orang takut menghadiri majelis taklim tertentu karena mubalihgnya bicara jihad, dapat dikategorikan sebagai tindakan teror yang sebenarnya. Betapapun jahatnya AS ketika menangkap Hambali di Pattani, tapi CIA tidak membunuhnya sekalipun dianggap DPO yang sangat berbahaya. Begitupun pemuda Liberia mau membajak pesawat AS tidak dibunuh oleh CIA, tapi ditangkap hidup-hidup. Karena itu, atas dasar hukum apa Densus dengan mudah membunuh dan memenjara mereka yang disetigma teroris? Apakah manusiawi, memenjarakan istri yang sedang hamil tua setelah suami mereka dibunuh dengan tuduhan teroris?</p>
<p>Stigmatisasi Islam sebagai sumber terorisme karena adanya beberapa aktivis yang melakukan tindakan teror, tidak boleh menjadi alasan bagi tindakan represif, apalagi dengan seenaknya membunuh dan menyeret mayat tersangka teroris di jalanan. Seharusnya dipertanyakan, apakah tindakan teror yang dilakukan, muncul sebagai reaksi terhadap kezaliman yang merajalela pada suatu bangsa karena penguasanya bertindak represif kepada rakyat? Jika ternyata unsur paling dominan yang memotivasi gerakan teror disebabkan tindakan destruktif penguasa pada rakyat demi melayani kepentingan asing, maka yang bertanggungjawab atas munculnya berbagai peristiwa teror ini adalah pemerintah yang berkuasa, dan bukan agama yang dipeluk oleh tersangka teroris itu.</p>
<p>Dengan alasan demikian, maka terorisme yang terjadi di Indonesia harus dibebankan tanggungjawabnya pada pemerintah dan aparat keamanan yang selama ini gagal menghadirkan kesejahteraan pada mayoritas rakyatnya. Presiden SBY pernah mengatakan, bahwa kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya terorisme. Oleh karena itu, salah besar jika pemerintah ataupun aparat keamanan menstigmatisasi ajaran Islam sebagai sumber teroris khusunya syariat jihad.</p>
<p>Dalam praktik sosial, jihad fisabilillah berarti memberdayakan rakyat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta memberantas kebathilan menumpas kemaksiatan. Adapun dalam ranah kekuasaan Negara, jihad sesungguhnya merupakan suatu sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta yang menjadi bagian dari tata kehidupan bernegara semenjak umat manusia mengenal tatanan bernegara. Sebuah Negara pasti membutuhkan adanya tentara, alat perang, dan aturan perundang-undangan yang menjadi dasar untuk mepertahankan Negara dari serangan musuh dan rekruitmen tenaga tentara dari Negara yang bersangkutan.</p>
<p>Oleh karena itu, menyamakan teror dengan jihad merupakan upaya menyesatkan umat Islam dari ajaran agamanya; sekaligus membuktikan adanya ghazwul fikri yang dilakukan musuh Islam terhadap umat Islam. Begitupun perburuan Densus terhadap orang yang diduga sebagai teroris, yang ternyata hanya ditujukan pada mereka yang beragama Islam menunjukkan bahwa perang ideologi sedang terjadi dengan hebat di Indonesia. Apalagi dengan adanya usaha membagi umat Islam menjadi kelompok radikal dan moderat, militan dan toleran, yang telah merasuki sebagian dari tokoh ormas Islam sehingga mereka lebih senang memerangi saudaranya sesame Muslim daripada menghadapi agresi zionis dan salibis.</p>
<p>Untuk mengatasi terorisme di Indonesia, rezim pemerintahan SBY harus berani melakukan debat publik dengan rakyat Indonesia yang meragukan hal-hal yang diwacanakan oleh aparat mengenai jihad dan terorisme. Jika tidak, maka tindakan Densus 88 membunuh orang-orang yang dicurigai sebagai teroris merupakan tindakan keji dan biadab terhadap rakyatnya sendiri. <em>Wallahu a’lam bis shawab</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">Oleh Irfan S Awwas</p>
<p style="text-align: right;">Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin</p>
<p style="text-align: right;">Jogjakarta, 1 April 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perintah Untuk Beristiqamah Dalam Beragama</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/perintah-untuk-beristiqamah-dalam-beragama/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/perintah-untuk-beristiqamah-dalam-beragama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 17:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[istiqamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Dari Sufyan bin ‘Abdillah radhiallâhu ‘anhu, dia berkata: aku berkata : ‘wahai Rasulullah! Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau!, beliau bersabda: “ucapkanlah! ‘aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah!’ “. (H.R.Muslim)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #38394b; font-family: Verdana; font-size: 11px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Dari Sufyan bin ‘Abdillah radhiallâhu ‘anhu, dia berkata: aku berkata : ‘wahai Rasulullah! Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau!, beliau bersabda: <em>“ucapkanlah! ‘aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah!’ “</em>. <strong>(H.R.Muslim)</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Catatan: Demikian naskah asli dari Mushannif rahimahullah sebagaimana yang kami tampilkan diatas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sedangkan naskah asli dari riwayat Imam Muslim adalah sebagai berikut (kami tampilkan juga sebagai perbandingan):<br />
<strong><br />
Takhrij Hadits secara global</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Hadits diatas ditakhrij oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, at-Turmuzi, Ibnu Majah dan an-Nasai.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Makna Hadits secara global</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai untuk memberikan suatu nasehat yang amat berguna dan cukup bagi si penanya (perawi hadits) sehingga dia tidak akan bertanya lagi kepada orang lain tentang hal tersebut, lantas beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya agar mengucapkan : “aku beriman kepada Allah”, (serta segala konsekuensinya) kemudian beristiqamah alias memantapkan keimanannya tersebut dalam agama.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penjelasan Tambahan</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Mushannif memberikan sedikit keterangan tentang nama periwayat hadits tersebut, yaitu Sufyan bin ‘Abdullah at-Tsaqafi ath-Thaaifi, seorang shahabat dan pernah menjadi penguasa di Thaif pada pemerintahan khalifah ‘Umar bin al-Khaththab radhiallâhu ‘anhu .</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan; yaitu perawi hadits setelah itu bertanya lagi kepada Rasulullah: “wahai Rasulullah! Apa yang engkau paling takutkan dari diriku?” atau (dalam riwayat yang lain: “apa yang harus aku jaga?”, lantas Rasululullah memegang lisannya sembari bersabda: “ini!” atau dalam riwayat lain: beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat ke arah lisannya.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Perkataan Sufyan bin ‘Abdullah ats- Tsaqafi kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang kita bahas diatas: “‘wahai Rasulullah! Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau! ” ; maksudnya adalah bahwa dia meminta kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam agar mengajarkannya suatu ucapan yang jaami’ (universal, valid) dan juga cukup yang berkaitan dengan ajaran Islam sehingga dia tidak membutuhkan (penjelasan) siapapun setelah beliau, lalu nabi bersabda kepada beliau “ucapkanlah! ‘aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah! “. Dalam riwayat yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ucapkanlah! ‘Rabb-ku adalah Allah’ kemudian beristiqamahlah! “. Redaksi ini sepadan dengan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. 41/Fushshilat: 30) , dan firmanNya: “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan:‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”. (QS. 46/al-Ahqaaf:13).</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Pengertian “al-Istiqamah” dan istilah yang terkait dengannya</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Istiqamah</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Adalah berjalan di jalan yang lurus, yaitu ad-Diinul Qayyim tanpa adanya kepincangan baik ke kanan maupun ke kiri. Jadi, mencakup pelaksanaan segala bentuk keta’atan kepada Allah, baik yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah serta meninggalkan semua larangan-laranganNya. Dengan demikian wasiat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ini menjadi universal dan mencakup semua ajaran-ajaran agama.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
Diantara istilah lain yang berkaitan dengan istiqamah adalah sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “ash-Shahihain” dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “bertindaklah kalian secara benar yang mencapai tujuan/sasaran (as-Sadaad) dan bermuqarabah-lah (lakukan tindakan yang benar yang mendekati tujuan) “. Kedua istilah tersebut adalah:<br />
<strong><br />
As-Sadaad<br />
</strong><br />
Adalah hakikat dari istiqamah, yaitu bertindak benar dalam semua perkataan, perbuatan dan tujuan sebagaimana orang yang ingin mencapai suatu tujuan lantas dia melakukannya dengan benar. Dalam hal ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan ‘Ali agar berdoa kepada Allah memohon as-Sadaad dan al-Huda (petunjuk). Beliau bersabda kepadanya :“ingatlah kejituan kamu dalam mengarahkan anak panah ke sasaran (demikian pula tatkala memohon as-Sadaad kepada Allah, sebab makna asalnya demikian-red), dan (upayamu mendapat) petunjuk jalan agar kamu sampai ke tujuan perjalanan (demikian pula tatkala memohon petunjuk dari Allah-red)”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Al-Muqaarabah</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Adalah melakukan tindakan yang benar yang mendekati tujuan, jika belum mencapai tujuan yang sesungguhnya. Akan tetapi hal ini dilakukan dengan syarat, benar-benar bertekad untuk menuju as-Sadaad dan kejituan mencapai tujuan. Jadi, muqarabah yang dilakukannya terjadi dari ketidaksengajaan. Senada dengan hal ini, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits al-Hakam bin Hazn al-Kulafi: “wahai manusia sekalian! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat melakukan –atau tidak akan mampu (melakukan)- setiap apa yang aku perintahkan kepada kalian, akan tetapi berbuatlah secara as-Sadaad (bertindak secara benar yang mencapai tujuan/sasaran) dan berilah kabar gembira. Maknanya; capailah tujuan dan sasaran secara benar serta istiqamah sebab kalaupun mereka dapat melakukannya sesuai dengan sasaran/tujuan yang ingin dicapai dalam semua perbuatan niscaya mereka telah melakukan semua apa yang diperintahkan kepada mereka (sebab hal itulah yang dituntut-red).</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
Alhasil, makna asal istiqamah adalah istiqamahnya (ketetapan/kemantapan) hati dalam bertauhid, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dan lainnya. FirmanNya “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah” (QS. Al-Ahqaaf: 13) ; hal ini direalisasikan oleh mereka dengan tidak mengalihkan perhatian kepada selainNya. Jadi, bila hati telah mantap (istiqamah) dalam ma’rifatullah (mengenal Allah), takut kepadaNya, mengagungkanNya, segan terhadapNya, mencintaiNya, menuju kepadaNya, mengharapkanNya, berdoa kepadaNya, bertawakkal kepadaNya serta berpaling dari selainNya, maka akan mantap (istiqamah) lah seluruh anggota badan untuk melakukan keta’atan kepadaNya. Sebab hati ibarat sang raja bagi seluruh aggota badan sedangkan anggota badan ibarat tentara-tentaranya; maka bila sang raja mantap dan lurus (istiqamah) niscaya tentara-tentara dan rakyatnya akan berbuat demikian.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Obyek yang perlu diperhatikan dalam beristiqamah</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Obyek yang paling utama dari seluruh anggota badan setelah hati untuk diperhatikan agar tetap istiqamah adalah lisan . Lisan ibarat penerjemah bagi hati dan juru bicaranya; oleh karena itu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar beristiqamah, beliau mewasiatkan Sufyan (perawi hadits dalam pembahasan kita ini) agar menjaga lisan nya.<br />
Mengenai statement ini, terdapat beberapa hadits yang mendukungnya, diantaranya:</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Hadits dalam musnad Imam Ahmad dari Anas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “keimanan seorang hamba tidak akan mantap/lurus (istiqamah) hingga hatinya mantap/lurus, dan hatinya tidak akan mantap hingga lisannya juga demikian”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Hadits dalam sunan at-Turmuzi dari Abu Sa’id al-Khudri secara marfu’ dan mauquf: “bila anak Adam menjelang pagi, maka seluruh anggota badannya akan meminta kaffaarat (jaminan/tebusan) dari lisan, sembari berkata:‘takutlah kepada Allah terhadap (nasib) kami; jika engkau lurus/mantap maka kamipun akan demikian, dan jika engkau bengkok maka kamipun akan demikian’ “.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penafsiran Ulama Salaf Tentang Makna “al-Istiqamah”</strong><br />
<strong><br />
Penafsiran Abu Bakar ash-Shiddiq</strong><br />
Beliau berkata mengenai ayat: “…kemudian mereka tetap istiqamah…” ; “mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun”. Dalam riwayat lain, dia berkata: “mereka tidak mengalihkan perhatian kepada tuhan yang lain selainNya”. Dalam riwayat lain lagi dari beliau: “kemudian mereka tetap istiqamah untuk (menyatakan) bahwa Allah lah Rabb mereka”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penafsiran Ibnu ‘Abbas</strong><br />
Terdapat riwayat dengan sanad dha’if (lemah), yaitu perkataan beliau :“inilah ayat yang paling singkat dalam Kitabullah : firmanNya: ” mereka mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah (meneguhkan pendirian mereka) ; (yaitu) dalam kalimat syahadat laa ilaaha illallaah. Demikian pula diriwayatkan dalam versi yang sama dari Anas, Mujahid, al-Aswad bin Hilal, Zaid bin Aslam, as-Sudday, ‘Ikrimah dan selain mereka. Dan dalam riwayat lain dari ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, dia berkata mengenai firman Allah : “…kemudian mereka tetap istiqamah…” ; yaitu mereka tetap istiqamah dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang diembankan oleh Allah kepada mereka”. (diriwayatkan oleh ath-Thabari; dalam periwayatan ini, ‘Ali bin Abi Thalhah tidak pernah bertemu dengan Ibnu ‘Abbas).</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penafsiran ‘Umar bin al-Khaththab</strong><br />
Terdapat riwayat dari umar dengan sanad munqathi’ (terputus) meskipun perawi-perawinya tsiqat, bahwa saat diatas mimbar dia pernah membaca ayat dalam firmanNya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah”, kemudian mengomentarinya: “…mereka tidak meraung seperti raungan srigala”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penafsiran Abul ‘Aliyah</strong><br />
Mengenai ayat tersebut dia berkata: “…kemudian mereka mengikhlaskan agama dan amalnya kepadaNya semata”. (Ibnu Katsir melansir hal ini dalam tafsirnya terhadap ayat ini).<br />
<strong><br />
Penafsiran Qatadah</strong><br />
Mengenai ayat tersebut dia berkata: “mereka tetap istiqamah (konsisten) dalam berbuat taat kepada Allah”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #38394b; font-family: Verdana; font-size: 11px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Sikap al-Hasan (al-Bashri-red)</strong><br />
Ketika mendengar ayat tersebut, al-Hasan berkata: “ya Allah! Engkau Rabb kami, karenanya anugerahilah kami istiqamah/kemantapan hati (dalam agama)”.<br />
<strong><br />
Penjelasan Mushannif Mengenai Penafsiran Makna “al-Istiqamah”</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Mushannif mengomentari : “Barangkali maksud mereka yang mengatakan bahwa makna al-Istiqamah adalah (istiqamah) dalam bertauhid, sesungguhnya hal itu dalam kapasitas maknanya yang universal yang mengharamkan Ahlinya masuk ke dalam api neraka; yakni merealisasikan makna laa ilaaha illallaah sebab makna kata al-Ilaah adalah Yang dita’ati baik dalam kondisi takut kepadaNya, mengagungkanNya, segan terhadapNya, mahabbah/cinta terhadapNya, mengharapkanNya, bertawakkal ataupun berdoa kepadaNya, bukan Yang dimaksiati. Sedangkan perbuatan maksiat, semuanya dapat mencacati makna tauhid ini karena tidak lain ditujukan untuk mengabulkan ajakan orang yang menyeru kepada pelampiasan hawa nafsu, yaitu syaithan. Allah Ta’ala berfirman: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya …(QS. 45/al-Jatsiah: 23). Al-Hasan al-Bashri dan lainnya berkata: “orang tersebut adalah orang yang hanya menuruti hawa nafsunya”. Dan hal ini bertentangan dengan makna istiqamah dalam bertauhid.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Sedangkan bila berdasarkan periwayatan dengan lafazh “ucapkanlah! Aku beriman kepada Allah…” ; maka maknanya lebih jelas karena makna iman itu sendiri mencakup seluruh amal shalih menurut ulama Salaf dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan Ahlul Hadits. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. 11/Huud: 112). Dalam ayat ini, Allah memerintahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang bertaubat bersamanya agar tetap istiqamah (meneguhkan pendirian) dan tidak melampaui batas dari apa yang diperintahkan kepadanya dan memberitahukannya bahwa Dia Ta’ala Maha Melihat dan Mengawasi semua perbuatan-perbuatan mereka. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka …”. (QS. 42/asy-Syuura: 15). Qatadah berkata, mengomentari ayat ini: “Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan agar tetap istiqamah dalam ajaran Allah”. Imam (Sufyan-red) ats-Tsauri berkata, berkaitan dengan ayat tersebut: ” (tetap itstiqamah) dalam menjalankan al-Qur’an”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Ayat-Ayat yang memerintahkan agar tetap istiqamah dalam bertauhid</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya…”. (QS. 41/Fushshilat: 6). Demikian pula, Allah Ta’ala memerintahkan agar menegakkan agama ini secara umum,/menyeluruh sebagaimana firmanNya: “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…”. (QS. 42/asy-Syuura: 13). PerintahNya dalam banyak ayat agar mendirikan shalat semakna dengan kedua ayat tersebut yang memerintahkan agar tetap istiqamah dalam bertauhid.<br />
Cara mengatasi keterbatasan dalam beristiqamah<br />
Keterbatasan dalam beristiqamah yang telah diperintahkan oleh Allah tidak akan dapat dihindari, oleh karena itu sebagai upaya untuk menggantikan dan menyempurnakannya kita diperintahkan untuk memohon ampunan kepadaNya sebagai bentuk taubat dan kembali ke jalan istiqamah. Hal ini disinggung dalam firman Allah Ta’ala berfirman: “…maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya… “.(QS. 41/Fushshilat: 6). Ayat ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz bin Jabal: “takutlah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah (timbalilah) perbuatan jelek dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus (kejelekan tersebut)”. Sebab, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain bahwa manusia tidak akan sanggup beristiqamah dengan sebenar-benar istiqamah (H.R.Ahmad).<br />
<strong><br />
Intisari Hadits</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Istiqamah amat terkait dengan tauhid dan keimanan yang benar terhadap Rabb.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Jalan menuju istiqamah amat sulit dan tidak mungkin dapat beristiqamah dengan sebenar-benarnya, karenanya perlu dibarengi dengan istighfar sebagai bentuk taubat dan upaya kembali ke jalan istiqamah.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Obyek utama dari anggota badan setelah hati yang perlu dijaga agar dapat beristiqamah adalah lisan.</p>
<p></span></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/perintah-untuk-beristiqamah-dalam-beragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jihad Adalah kemuliaan Dan Kelembutan</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jihad-adalah-kemuliaan-dan-kelembutan/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jihad-adalah-kemuliaan-dan-kelembutan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 04:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah dan Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abujibriel.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[“Jihad Bukan Terorisme (kekerasan) dan Mujahidin adalah orang yang paling mulia bukan Teroris (pengganas)”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>“Jihad Bukan Terorisme (kekerasan) dan Mujahidin adalah orang yang paling mulia bukan Teroris (pengganas)”</em></p>
<p>Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam, kita memuji-Nya, Dzikir-Do’a hanya kepada-Nya, Subhanallah Walhamdulillah Allahuakbar. Sholawat serta salam senantiasa tertuju kepada Komandan  dan Panglima Mujahid, pembawa risalah Ilahi, Muhammad Shollalahu ‘Alaihi Wasallam, serta para Sahabat, keluarga dan para Shalihin Mujahidin penerus risalah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam. <em>Waba’du.</em></p>
<p>Sebagian umat Islam memandang kalimat Jihad dan Qital seperti pandangan orangq-orang kafir. Mereka berkata bahwa jihad dan perang adalah kekerasan dan kekejaman. Sedangkan Islam adalah Rahmatan lil Aalamien. Pandangan ini wajib diluruskan, karena pandangan seperti ini merupakan virus yang akan membunuh ajaran Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.</p>
<p><strong>Ketahuilah:</strong></p>
<p>1.)	Bahwa Islam adalah Rahmatan Lil Aalamin, yang berarti Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta jika seluruh ajarannya yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul  diimani, difahami dan dilaksanakan syari’ahnya mengikuti petunjuk Nabi Saw. Dan jihad fie sabilillah adalah bagian terpenting dari ajaran Islam setelah iman.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Ra. berkata, seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah apakah amalan yang paling afdhal?” Beliau menjawab: <em>“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”</em> Orang itu bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: <em>“Berjihad dijalan Allah…”</em> <strong>(HR. Bukhari dan Musim)</strong></p>
<p>Oleh karena itu JIHAD bukanlah TERORISME/KEKERASAN dan MUJAHID bukan TERORIS/PENGGANAS. Akan tetapi Jihad adalah amalan mulia yang memasukkan pelakunya kedalam Jannah, sedang Mujahid adalah sebaik-baik golongan manusia. Jika manusia beriman dan memeluk Islam dan melaksanakan ajaran Islam dengan baik dan benar mengikuti petunjuk Rasul Saw., maka pasti akan mendapat rahmat Allah Swt. Sebaliknya jika mereka kafir dan menghalangi ajaran Islam bahkan mereka memerangi Islam dan ummat Islam dengan berbagai jenis persenjataan barulah Islam menyatakan perang kepada mereka sebagai balasan terhadap tindakan kafir dan kejahatan mereka. Islam mengajarkan kasih sayang dan kelemah-lembutan serta kedamaian kepada siapa saja yang tidak memusuhi Islam dan ummatnya. Tetapi jika mereka memusuhi, maka Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk memerangi dan membunuh mereka dimana saja mereka berada. Perhatikan Firman Allah <strong>(QS. Al Baqarah 2: 190-193 ; 216; QS. At Taubah 9:5,14-15; 28-29; 41,73,123).</strong></p>
<p>Itulah diantara ayat Al Qur’an yang memerintahkan membunuh dan memerangi kafir yang memerang Islam. Orang-orang beriman yang enggan memerangi orang kafir ditanya oleh Allah Swt, mengapa mereka enggan dan malas memerang kafir itu ? Perhatikan firman Allah <strong>(QS. An Nisa 4:74-76; QS. At Taubah 9:38-39).</strong></p>
<p><strong>Dan berikut ini adalah beberapa ayat Allah yang menerangkan kemuliaan jihad dan Mujahid:</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah &#8216;Adn. Itulah keberuntungan yang besar, dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya), dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”</em> <strong>(QS. As Shaf, 61:10-13)</strong></p>
<p><em>“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai &#8216;uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> <strong>(QS. An Nisa’, 4:95-96)</strong></p>
<p>2.)	Orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya telah dibeli oleh Allah dengan Syurga. Allah telah memuliakan mereka karena kesediaan mereka berkorban harta maupun jiwa untuk menegakkan agama Allah. Firman Allah:</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang </em><em>lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” </em><strong>(QS. At Taubah, 9:111)</strong></p>
<p>3.)	Dzikrullah yang ikhlas dan khusyu’ akan membuahkan Jihad fie sabillaillah yang mendatangkan kejayaan dan kesuksesan. Firman Allah:</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (seperti: berzikir kepada Allah, shalat, tilawah Al Qur’an, taubat, istigfar, do’a, dll) dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”</em> (QS. Al Ma’idah, 5:35)</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”</em> <strong>(QS. Al Ahzab, 33:41-43)</strong></p>
<p>4.)	Dzikir dan Jihad harta dan jiwa, disebutkan berdampingan dalam Al Qur’an. Al Qur’an tidak memisahk antara amalan zikrullah dengan jihad fiesabilillah sebagaimana banyak kaum Muslimin yang meletakkan zikir disatu tempat sedang jihad ditempat yang lain, lalu mengatakan amalan yang paling utama ialah berzikir kepada Allah. Dan yang berjihad berkata amalan jihadlah yang paling baik. Perhatikan ayat berikut.</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan berzikirlah kepada Allah (sebutlah nama Allah) sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”</em> <strong>(QS. Al Anfal, 8:45-46)</strong></p>
<p>5.)	Berinfaq untuk jihad  djalan Allah adalah infak yang paling tinggi nilainya disisi Allah Swt.  seperti firman-Nya <strong>QS Al Baqarah 2:261 dan 245</strong>. Tetapi sebagian besar kaum Muslimin dia enggan dan takut untuk jihad dan membantu para mujahidin yang berjihad. Mereka lebih senang berinfaq kepada fakir miskin, anak yatim membangun masjid, pon-pes dan lain-lain. Renungkanlah firman Allah berikut:</p>
<p><em>“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”</em> <strong>(QS. Al Baqarah, 2:273)</strong></p>
<p>6.)	Bahwa sikap Rasulullah dan para sahabat beliau terhadap orang-orang kafir adalah tegas dan keras, kapada mereka yang menentang Islam (dalam hal aqidah dan syari’ah). Tapi sebagian besar kaum Muslimin tidak bersefakat dengan hal tersebut karena beralasan bahwa Islam bukan agama kekerasn Perhatikanlah ayat berikut:</p>
<p><em>“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”</em> <strong>(QS. Al Fath, 48:29)</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”</em> <strong>(QS. Al Ma’idah, 5:54)</strong></p>
<p>Sikap keras yang dimaksud dalam ayat-ayat diatas ialah sikap dalam Tauhid dan Syari’ah, bukan berarti bersikap keras kepada semua orang kafir, akan tetapi kepada mereka yang menentang dan memerangi Islam serta ummatnya. Islam mengharamkan bersifat keras kepada kafir yang tidak memerangi sebaliknya wajib bersifat baik dan adil. <strong>(QS. Al Mumtahanah, 60:8-9)</strong></p>
<p>Semoga penjelasan ini memberi manfaat kepada kita sekalian.<br />
<em>Wallahu’alam, Wal Hamdulillah…</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>DOWNLOAD MAKALAH</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.sendspace.com/file/g4x7ns" target="_blank">Jihad Adalah kemuliaan Dan Kelembutan</a> or <a href="http://www.4shared.com/file/106759135/5226bc50/JIHAD_ADALAH_KEMULIAAN_DAN_KELEMBUTAN.html" target="_blank">Jihad Adalah kemuliaan Dan Kelembutan</a></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jihad-adalah-kemuliaan-dan-kelembutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadwal Dakwah Bulan Februari</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jadwal-dakwah-bulan-februari/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jadwal-dakwah-bulan-februari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 04:41:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bulan Februari]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Jadwal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abujibriel.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualikum Wr. Wb. Ikhwah Fillah&#8230; Afwan jadwalnya sedikit terlambat di Uploadnya. untuk melihat jadwalnya, silakan Download disini dalam bentuk PDF. Jazakumullah, Wassalamualikum Wr. Wb.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualikum Wr. Wb.</p>
<p>Ikhwah Fillah&#8230;</p>
<p>Afwan jadwalnya sedikit terlambat di Uploadnya.</p>
<p>untuk melihat jadwalnya, silakan Download <a title="JAdwal Dakwah Bulan Februari" href="http://www.4shared.com/file/85002357/9b7ba153/Microsoft_Word_-_JADWAL_DAKWAH_RUTIN_BULAN_FEBRUARI2.html" target="_blank">disini</a> dalam bentuk PDF.</p>
<p>Jazakumullah, Wassalamualikum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jadwal-dakwah-bulan-februari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadwal Dakwah Rutin Bulan Januari</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jadwal-dakwah-rutin-bulan-januari/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jadwal-dakwah-rutin-bulan-januari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 08:15:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bulan Januari]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[Rutin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abujibriel.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[JADWAL DAKWAH RUTIN BULAN JANUARI UST. ABU MUHAMMAD JIBRIEL AR. (Pembimbing Majelis Ilmu Ar Royyan) Phone: 0813 835 940 09 / 021 712 212 81 Email: abu.jibriel@ymail.com Website: http://www.abujibriel.com HARI AGENDA AHAD Ahad Setiap Pekan 07.00-08.30, Kuliah Dhuha, Masjid Raya Pondok Indah. (Bpk. Asep -0818 845 464-) Ahad Pekan II 10.00-12.00, Kajian An Nisa&#8217; (Tarbiyah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>JADWAL  DAKWAH RUTIN <span class="style3">BULAN JANUARI</span></strong><br />
<span class="style2">UST.  ABU MUHAMMAD JIBRIEL AR.</span><br />
(Pembimbing Majelis Ilmu Ar  Royyan)<br />
<strong>Phone:</strong> 0813 835 940 09 / 021 712 212 81<strong> </strong><br />
<strong>Email:</strong> <a href="mailto:abu.jibriel@ymail.com">abu.jibriel@ymail.com</a> <strong>Website:</strong> <a href="http://www.abujibriel.com/">http://www.abujibriel.com</a><br />
<span id="more-54"></span></p>
<table style="height: 650px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="589" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="30" height="34">
<p align="center"><strong>HARI</strong></p>
</td>
<td width="510">
<p align="center"><strong>AGENDA</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="87">
<p align="center"><strong>AHAD</strong></p>
</td>
<td width="585" valign="top"><strong><span style="text-decoration: underline;">Ahad    Setiap Pekan</span></strong><br />
07.00-08.30, Kuliah Dhuha, <strong>Masjid    Raya Pondok Indah</strong>. (Bpk. Asep -0818 845 464-)<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Ahad    Pekan II</span></strong><br />
10.00-12.00, Kajian An Nisa&#8217;    (Tarbiyah Aqidah &amp; Syari&#8217;ah), <strong>Perumahan Citra Grand D5/2, Cibubur</strong>.    (Bunda Meirinda -0817 714 640-)<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Ahad    Pekan III</span></strong><br />
10.00-12.00, Kajian Umum    (Tarbiyah Aqidah &amp; Syari&#8217;ah), <strong>Masjid Al Huda, Duta Harapan, Bekasi    Utara.</strong> (Bpk. Abd. Qayyum -0811 909 335-)</td>
</tr>
<tr>
<td width="87">
<p align="center"><strong>SENIN</strong></p>
</td>
<td width="585" valign="top"><strong><span style="text-decoration: underline;">Senin    Setiap Pekan</span></strong><br />
09.00-12.00, Kajian An Nisa&#8217; (Tarbiyah    Aqidah, Syari&#8217;ah &amp; Terjemah Al Qur&#8217;an), <strong>Masjid At Taqwa, Vila Pamulang</strong>.</td>
</tr>
<tr>
<td width="87">
<p align="center"><strong>SELASA</strong></p>
</td>
<td width="585" valign="top"><strong><span style="text-decoration: underline;">Selasa    Pekan I, II, III, V</span></strong><br />
10.00-12.00, Kajian An Nisa&#8217;    (Tarbiyah Aqidah, Syari&#8217;ah &amp; Terjemah Al-Qur&#8217;an), <strong>Masjid Al    Munawwarah, Pamulang</strong>. (Bunda Wati -0816 115 677 3-)<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Selasa    Pekan IV</span></strong><br />
10.00-12.00, Kajian An Nisa&#8217;    (Tarbiyah Aqidah &amp; Syari&#8217;ah), <strong>Pulomas, Jak-Tim</strong>. (Ibu Hartina -0811    193 899-)<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Selasa    Setiap Pekan</span></strong><br />
18.30-19.30, Kajian Terjemah Al    Qur&#8217;an, <strong>Masjid Al Munawwarah, Pamulang</strong>. (Bpk. Pram -0813 174 298 87-)</td>
</tr>
<tr>
<td width="87">
<p align="center"><strong>RABU</strong></p>
</td>
<td width="585" valign="top"><strong><span style="text-decoration: underline;">Rabu    Pekan I, II, III, V</span></strong><br />
10.00-12.00, Kajian An Nisa&#8217;    (Terjemah Al-Qur&#8217;an), <strong>Kota</strong><strong> Wisata, Cibubur</strong>. (Bunda Tana -0813 140 503 80-)<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Rabu    Pekan IV</span></strong><br />
10.00-12.00, Kajian An Nisa&#8217;    (Tarbiyah Aqidah, Syari&#8217;ah &amp; Terjemah Al-Qur&#8217;an), <strong>Masjid Al    Munawwarah, Pamulang</strong>. (Bunda Wati -0816 115 677 3-)</td>
</tr>
<tr>
<td width="87">
<p align="center"><strong>KAMIS</strong></p>
</td>
<td width="585" valign="top"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kamis    Pekan I</span></strong><br />
09.00-11.00, Kajian An Nisa&#8217;    (Tarbiyah Aqidah &amp; Syari&#8217;ah), <strong>Masjid Ibnu Sina Al Azhar, Pamulang</strong>.<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Kamis    Pekan II, III, V</span></strong><br />
10.00-12.00, Kajian An Nisa&#8217;, <strong>Kota</strong><strong> Wisata,    Cibubur</strong>. (Bunda Tana -0813 140 503 80-)<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Kamis    Setiap Pekan</span></strong><br />
13.00-15.00, Kajian An Nisa&#8217;    (Terjemah Al Qur&#8217;an), <strong>Masjid Raya Pondok Indah</strong>. (Bunda Retty -0811 982    157-)<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Kamis    Setiap Pekan</span></strong><br />
19.30-22.00, Kajian Umum    (Tarbiyah Aqidah, Syari&#8217;ah &amp; Jihad), <strong>Masjid Al Munawwarah, Pamulang</strong>.    (Bpk. Muchsin -0812 100 898 9-)</td>
</tr>
<tr>
<td width="87">
<p align="center"><strong>JUM&#8217;AT</strong></p>
</td>
<td width="585" valign="top"><strong><span style="text-decoration: underline;">Jum&#8217;at    Pekan I</span></strong><br />
12.00-13.00, Khutbah Jum&#8217;at, <strong>Masjid    Al Munawwarah, Pamulang</strong>. (Bpk. Muchsin -0812 100 898 9-)<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Jum&#8217;at    Pekan I</span></strong><br />
16.00-17.30, Kajian An Nisa&#8217;, <strong>Masjid    At Taubah, Vila    Pamulang</strong>.<br />
<strong><span style="text-decoration: underline;">Jum&#8217;at    Pekan III</span></strong><br />
18.30-19.30, Kajian Umum    (Tarbiyah Jihadiyah), <strong>Masjid Agung Al Azhar, Kabayoran, Jak-Sel</strong>. (Ust. Mukhtar -0818 790 462-)</td>
</tr>
<tr>
<td width="87">
<p align="center"><strong>SABTU</strong></p>
</td>
<td width="585" valign="top"><strong><span style="text-decoration: underline;">Sabtu    Setiap Pekan</span></strong><br />
10.00-12.00, Kajian Umum, <strong>Masjid    Al Munawwarah, Pamulang</strong>. (Bpk. Asep -0818 845 464-)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p dir="ltr" align="justify"><strong><span style="text-decoration: underline;">Tadzkirah</span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p>Diriwayatkan  dari Shofwan bin &#8216;Asal al Murady RA ia berkata: saya datang kepada Nabi SAW tatkala baginda  berbaring di dalam masjid yang  beralaskan kain berwarna merah kemudian saya memberitahu baginda: Wahai  Rasulullah! Saya  datang untuk mencari ilmu. Maka baginda bersabda,</p>
<p><span dir="ltr"> </span><span dir="ltr"> </span><span dir="ltr"> </span><span dir="ltr"> </span></p>
<p dir="ltr" align="justify">&#8220;Berbahagialah orang yang mencari ilmu, karena sesungguhnya  malaikat mengelilingi orang yang mencari ilmu dengan membentangkan sayap  mereka. Mereka bertumpuk antara satu dengan yang lain hingga sampai di langit  dunia karena mereka suka terhadap apa yang dicari manusia.&#8221; <strong>(HR Ahmad,  Ath-Thabrani, Ibn Hibban, Al-Hakim)</strong></p>
<p dir="ltr" align="justify">Oleh karena itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada  ummatnya agar rajin menghadiri majelis para ulama warasatul ambiya&#8217; sebagaimana  hadits berikut:</p>
<p><span dir="ltr"> </span><span dir="ltr"> </span><span dir="ltr"> </span><span dir="ltr"> </span></p>
<p dir="ltr" align="justify">&#8220;Duduklah kamu di majelis para ulama&#8217;, dan  dengarkanlah perkataan para ahli hikmah  itu, karena sesungguhnya Allah SWT akan menghidupkan hati yang telah mati  dengan cahaya ilmu sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang telah mati dengan  air hujan.&#8221; <strong>(Imam Ibnu Hajar)</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="center">*********</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jadwal-dakwah-rutin-bulan-januari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
