<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>abujibriel.com &#187; Syakhsiyah</title>
	<atom:link href="http://www.abujibriel.com/category/makalah/syakhsiyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.abujibriel.com</link>
	<description>Al Qur&#039;an Sebagai Pedoman, Pedang Sebagai Pengawal</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 03:06:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Terorisme Pesanan Atau Agenda  Orang Asing ?</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 13:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiah Rutin]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Para ikhwan dan akhawat Mujahidin/ah dimana saja berada. Diskusi kita kali ini adalah “TERORISME PESANAN ATAU AGENDA  ORANG ASING”. Topik ini mungkin ada yang kurang setuju, itu sudah dapat dipastikan, namun paling tidak ada tangggapan yang dapat kita telaah bersama. Karena  Terorisme  nampaknya masih menjadi barang dagangan yang sangat laku di Indonesia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalamu&#8217;alaikum </em><em>Warahmatullahi </em><em>Wabarakatuh.</em></p>
<p>Para ikhwan dan akhawat Mujahidin/ah dimana saja berada. Diskusi kita kali ini adalah “TERORISME PESANAN ATAU AGENDA  ORANG ASING”. Topik ini mungkin ada yang kurang setuju, itu sudah dapat dipastikan, namun paling tidak ada tangggapan yang dapat kita telaah bersama. Karena  Terorisme  nampaknya masih menjadi barang dagangan yang sangat laku di Indonesia. Tiap-tiap kali ada perubahan situasi dan suasana politik, harganya langsung melonjak tinggi. Pengalihan isu politik kepada barang akomodasi ini seakan-akan tidak ada yang dapat menandinginya.</p>
<p>Semenjak pemerintahan SBY, issu Terorisme ini benar-benar telah mencapai puncaknya. Dari data dan informasi, sebanyak 541 orang tertuduh Teroris di jebloskan kepenjara dan puluhan orang dibantai dan ditembak ditempat dengan berbagai aksi brutal Densus 88.</p>
<p><span id="more-721"></span>Menurut Mantan Presiden Amerika, J.W Bush, <em>laknatullah’alaihi</em>, mengatakan dipermulaan dihembuskannya issu terorisme ini: “War on Terror” adalah” Perang Salib Gaya Baru”. Arahnya jelas, membantai ummat Islam dan membunuh semangat jihad ummat Islam yang berjihad menegakkan Syari&#8217;ah Allah dimuka bumi. Perang melawan teroris adalah perang melawan umat Islam yang berjihad dijalan Allah.</p>
<p>Maka tidak mengherankan jika Densus 88 yang beragama kristen sangat bersemangat untuk tidak membiarkan hidup para tersangka (yang dikatakan) teroris untuk ditangkap. Sebenarnya menangkap mereka sangat memungkinkan tanpa harus menembak dan membunuhnya, tapi balasan dan ganjaran tinggi dari sang sponsor terlalu tinggi dan memikat hati, untuk apa membiarkan mereka harus hidup lebih lama? <em>Naudzubillah…</em></p>
<p>Tiap kali aksi pembantaian dan pembunuhan kaum Muslimin yang dituduh teroris, maka saat itu juga terdengar kucuran dana yang sangat banyak dari luar negeri kepada pelaku dan petugas (algojo) yang haus darah itu. Anehnya aksi itu terjadi apabila pimpinan atau pembesar-pembesar pemerintah Amerika datang berkunjung ke Indonesia, seakan-akan pembantaian itu menjadi <em>sesajen</em> istimewa untuk sang dewa kesurupan. Jadi pembantaian terhadap kaum Muslimin yang terkait atau dikaitkan sebagai teroris adalah bagian dari rekayasa internasional sebagai balas dendam terhadap kematian tentera <em>kuffar</em> di medan perang yang berlaku sejak perang salib dahulu sehingga peperangan terbuka dengan dunia Islam pada hari ini.</p>
<p>Undang-undang anti  teroris dan terorisme adalah undang-undang legal formal yang dibuat zionis dan imperialis kuffar kemudian dihembuskan kenegara-negarara jajahannya untuk membantai dan membunuh ummat Islam tanpa peperangan. Dalam suasana aman dan damai dipihak mereka, dengan undang-undang anti teror tersebut mampu membunuh ratusan hingga ribuan ummat Islam diseluruh dunia tanpa ada korban  yang berarti dipihak mereka atau jika ada sangat sedikit dibandingkan jika terjadi perang terbuka antara ummat Islam dan kaum kuffar dimedan  laga.</p>
<p>Sepertinya undang-undang anti teror ini sangat berkesan untuk  membunuh dan membantai kaum muslimin tanpa peperangan, dan kenyataannya ummat Islam belum mampu menghentikan dan melawannya sehingga sekarang. Walau demikian, kita bersyukur sudah mulai ada usaha sebagian kaum  Muslimin mendatangi Mabes Polri, Komisi III DPR, Komnasham, Kompolnas agar ada  tinjuaan kembali tentang undang-undang tersebut atau penghentian segera aksi brutal dan biadab itu atau undang-undang itu dibubarkan karena merugikan kaum Muslimin.</p>
<p>Istilah teroris dan terorisme seakan-akan  hanya diperuntukkan kepada islam dan umat Islam  sedang kafir dan kekafiran  digunakan istilah sparatis dan sparatisme. Hati-hatilah wahai para algojo, Allah Swt senantiasa mengawasi.</p>
<p>Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” </em><strong>(QS Al Angkabut</strong><strong>, 29:</strong><strong> 4)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“D</em><em>an Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja</em><em>,</em><em> </em><em>m</em><em>aka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.</em><em>”</em> <strong>(QS </strong><strong>An Nisa’, 4:</strong><strong> 93)</strong></p>
<p><em>Wallahu a’lam bis shawab…</em><em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Islam Bukan Publikasi Terorisme</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 01:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[BETAPA sulitnya memperbaiki nasib bangsa Indonesia, karena orang-orang yang baik di negeri ini kian langka adanya. Sistem Negara demokrasi, bahkan lebih banyak memberi peluang menebar kejahatan daripada menabur kebaikan. Sudah jamak terjadi, seseorang yang dikenal sebagai tokoh baik-baik di masyarakat, begitu terlibat dalam kekuasaan pemerintahan, bukannya memperbaiki keadaan yang sudah rusak, malah dia sendiri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BETAPA</strong> sulitnya memperbaiki nasib bangsa Indonesia, karena orang-orang yang baik di negeri ini kian langka adanya. Sistem Negara demokrasi, bahkan lebih banyak memberi peluang menebar kejahatan daripada menabur kebaikan. Sudah jamak terjadi, seseorang yang dikenal sebagai tokoh baik-baik di masyarakat, begitu terlibat dalam kekuasaan pemerintahan, bukannya memperbaiki keadaan yang sudah rusak, malah dia sendiri yang diperbaiki akibat melakukan kerusakan di atas kerusakan yang sudah ada.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, berlakulah firman Allah: <em>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada penguasa di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”</em> <strong>(Qs. Al-Isra’, 17:16)</strong></p>
<p>Adalah kewajiban para pejabat untuk membangun Negara, menyuburkan keadilan sosial, meningkatkan kesejahteraan rakyat, membela kemanusiaan secara adil dan beradab. Dalam suatu Negara, penguasa/pejabat negara dan pengusaha adalah dua unsure <em>mutrafin</em> yang saling menguatkan. Apabila keduanya menjadi mata rantai kejahatan di suatu negeri, maka mereka telah memosisikan dirinya sebagai penghancur, implementasi program syetan-iblis laknatullah untuk menghancurkan rakyat dan negerinya.</p>
<p>Kenyataannya, penguasa yang bertindak sebagai Fir’aun selalu ingin menguasai segala hal demi melestarikan kekuasaannya. Sedangkan pengusaha, bertindak seperti Namrud yang selalu mengusahakan apa saja agar menguntungkan ushanya. Maka sekalipun kejahatan korupsi, illegal login, peredaran narkoba, dekadensi moral, berkembangbiaknya mafia hukum serta markus (makelar kasus), terbukti telah menjadi penyakit epidemi yang melahirkan keterbelakangan, ketidak adilan, dan kebodohan masyarakat. Namun, semua itu belum cukup merangsang penguasa negeri ini untuk marah, kemudian memberantas tuntas hingga ke akar-akarnya.</p>
<p>Bandingkan dengan tindakan represif kepolisian memberantas tindak pidana terorisme, jelas memperlihatkan kemarahan polisi (Densus 88) hingga mencapai ubun-ubun. Kulminasi kemarahan ini, justru menyebabkan sikap paranoid dan panik. Buktinya, untuk mengejar teroris dan membongkar jaringannya, polisi (Densus 88 antiteror) berani mengobok-obok lembaga pendidikan pesantren, mengawasi juru dakwah, dan mengintimidasi masyarakat publik.</p>
<p>Jika ‘kebijakan’ represif ini ditujukan untuk membasmi terorisme, guna melindungi rakyat dan menegakkan supremasi hukum, mungkin masih dapat ditolerir. Memberantas teroris kita dukung, tapi jangan salah kaprah dan <em>overacting, </em>dikhawatirkan upaya itu justru meresahkan masyarakat, menciptakan suasana antagonis, karena para pendakwah diposisikan sebagai orang yang dicurigai. Faktanya, kemarahan Densus 88 terhadap para teroris, identik dengan kemarahan terhadap dakwah Islam, juru dakwah, serta para mujahid penegak syari’at Islam.</p>
<p><strong>Kriminalisasi Juru Dakwah</strong></p>
<p>Dakwah Islam di Indonesia bagai pelita yang tak pernah padam. Ia melaju, dipandu dalam gerak estafeta generasi ke generasi sejak ratusan tahun silam. Adakalanya obor dakwah meredup, akibat kondisi internal yang melemah atau tekanan dari luar. Tapi selalu ada juru dakwah yang tampil menuangkan energi baru, sehingga obor dakwah terang kembali. Sumbu dakwah Islam tidak boleh kering dari sinar kebenaran, sekalipun rekayasa politik maupun fakta sosial menggerogoti eksistensinya.</p>
<p>Sedangkan para Da’i (juru dakwah) Islam merupakan urat nadi kehidupan sosial masyarakat; dan selamanya tidak pernah menjadi juru teror. Mereka senantiasa menawarkan perspektif humanistik dan ideologis, yang menyentuh peranan akhlak dan amar ma’rfu nahi munkar. Adakalanya mereka tampil di halayak umat sebagai tabib, yang dengan keramahannya bisa mengatasi frustasi dan depresi mental.</p>
<p>Disaat lain, seorang da’i juga aktif sebagai pengamat sosial dengan melancarkan kritik konstruktif untuk mereformasi masyarakat yang bobrok, jorok, dan bodoh menjadi masyarakat yang terhormat. Bahkan tidak jarang, para juru dakwah ini menjadi pendamping yang produktif bagi si kaya, sekaligus pendamping yang kreatif bagi si miskin.</p>
<p>Lalu, mengapa pemberantasan terorisme diarahkan untuk menyerang faham keagamaan yang dianggap sebagai penyulut ideologi terorisme? Ada apa di balik gagasan kepolisian untuk mengawasi dakwah para da’i dengan dalih menghentikan publikasi terorisme? Pertanyaan ini menjadi penting dan relevan, mengingat beredarnya pernyataan kepolisian terkait perlunya mengawasi aktivitas dakwah sangat meresahkan masyarakat Muslim.</p>
<p>Kemarahan polisi terhadap para juru dakwah, antara lain dapat dilihat dalam kasus ‘kriminalisasi juru dakwah’ Ustadz Abu Jibril Abdurrahman. Sebagai juru dakwah yang konsisten dengan misi penegakan syari’at Islam di lembaga Negara melalui manhaj dakwah dan jihad, sudah berulangkali difitnah sebagai ‘mata air terorisme’, sekalipun segala tuduhan itu hanya omong kosong belaka.</p>
<p>Akibatnya, tidak hanya sebatas penangkapan putranya M Jibriel, melainkan juga teror, isolasi serta intimidasi dakwah. Sejumlah masjid, yang selama ini tempatnya menyampaikan dakwah, secara sepihak membatalkan dan mencekal pengajian rutin yang biasanya diisi oleh Ustadz Abu Jibriel. Pengurus masjid dan majelis ta’lim mengaku didatangi aparat dan diteror agar tidak lagi mendatangkan beliau untuk berceramah. Segala tindakan kedzaliman dan ketidakadilan ini mengingatkan kita ke masa represif rezim orde baru yang sangat membenci syari’at Islam dan kaum Muslimin.</p>
<p>Prilaku aparat keamanan yang mengintimidasi masyarakat agar menjauhi juru dakwah yang berani berterus terang dengan kebenaran Islam, merupakan warisan orang-orang kafir di masa Nabi Syu’aib alaihi salam, sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentulah kamu menjadi orang-orang yang rugi.” Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah mereka.”</em> <strong>(Qs. Al-AS’raf, 7:90-91)</strong></p>
<p>Maka patutlah dipertanyakan, seorang juru dakwah yang dijauhkan dari masyarakat karena dituduh sebagai teroris, apakah karena tindakan teror yang dia lakukan, ataukah stigmatisasi Amerika yang diadopsi oleh antek-anteknya di negeri ini? Lalu, apa <em>sanksi</em> hukum bagi mereka yang memvonis orang lain sebagai ‘gembong teroris’, sementara segala tuduhan keji itu tidak pernah terbukti, baik melalui pengadilan maupun fakta sosial di lapangan?</p>
<p>Kasus Muhammad Jibril Abdurrahman, yang ditangkap 25 Agustus 2009, adalah salah satu kasus yang sangat dipaksakan dan sewenang-wenang. Dia diculik di tengah jalan setelah polisi mengumumkan sebagai DPO. Dua hari kemudian, Densus mengantar surat penangkapan pada keluarganya. Padahal memasukkan seseorang sebagai anggota jaringan teroris, tanpa aturan dan ukuran yang jelas, lebih berbahaya dari teror. Aparat keamanan akan bertindak seenaknya melakukan penangkapan berdasarkan kecurigaan semata-mata.</p>
<p>Pada awalnya Muhammad Jibril disangka sebagai penyandang dana teror bom di Hotel JW Marriot dan Ristz Carlton. Setelah Duta besar Inggris datang menemui Kapolri, 27 Agustus 2009, tuduhannya berubah sebagai mantan anggota Al Qaeda, dan telah menyembunyikan korban salah bunuh Syaifuddin Zuhri. Dalam sidang pengadilan yang digelar di PN Jakarta Selatan sejak……hingga pemeriksaan saksi, semua tuduhan itu tidak dapat dibuktikan oleh jaksa penuntut umum, tapi tetap saja dipenjara. Lalu untuk kepentingan siapa sesungguhnya penangkapan dan penahanan ini?</p>
<p>Proses kriminalisasi juru dakwah dilakukan melalui tiga tahapan propaganda, yaitu: <strong>Pertama</strong>, propaganda <em>safsathah, </em>yaitu menyebarkan informasi dusta yang dibungkus dengan data-data fiktif, seperti dilakukan oleh Sidney Jones (Direktur International Crisis Group).</p>
<p>Laporan berkala Sidney Jones menjadi masukan resmi Kongres Amerika, FBI, dan CIA, seringkali menipu dan memprovokasi aparat kepolisian Indonesia. Banyak hal yang dilaporkan Sidney Jones menipu orang Indonesia, bahkan mengejutkan orang yang namanya disebut dalam laporan itu, karena ia terkesan sangat menguasai hingga ke detail peristiwa radikalisme bahkan sampai ke “celana dalam” pelaku, seperti dalam laporan “The Case of The Ngruki Network in Indonesia”.</p>
<p>Oleh karena itu, tak jelas apakah terorisme di Indonesia itu karya orang Indonesia atau mainan intelijen Barat. Apakah teroris itu pelaku teror atau korban dari permainan politik global. Kiprah Sidney Jones nampak sekali standar gandanya, tetapi yang jelas hasilnya adalah menciptakan citra negatif Indonesia di mata internasional. Pers Indonesia pun larut ke dalam teori safsathah Sidney Jones karena memang tidak ada laporan lain yang bisa menandinginya sehingga wacana terorisme di Indonesia hanya melalui satu corong, yakni corong Sidney Jones.</p>
<p><strong>Kedua</strong><em>,</em> propaganda <em>Jadal, </em>artinya menyebarkan pendapat tertentu dengan mengajukan fakta-fakta yang akurasinya diragukan. Misalnya, pernyataan mantan kepala BIN, Hendropiyono, Begitupun AM Hendro Priyono, mantan kepala BIN selama beberapa jam melakukan wawancara jarak jauh dg TVone, 17-07-2009. Yang menarik adalah kesimpulan dia bahwa kaum ekstrimis Islam yg terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam, yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Mantan Kadensus 88/Antiteror Polri Brigjen Pol (pur) Suryadarma Salim menyatakan, bahwa jaringan Al Qaidah berada di balik aksi pengeboman di Jakarta tersebut. Lantas, mengapa Indonesia yang menjadi sasaran para teroris itu? Sur ya menjelaskan, JI sudah ter bagi ke dalam beberapa zona. Mi salnya, Malaysia dan Singa pura sebagai zona ekonomi. &#8220;Orang luar negeri yang Muslim lebih besar menyumbangnya daripada orang Indonesia,&#8221; katanya.</p>
<p>Nah, Indonesia menjadi daerah trainer untuk melakukan operasi-operasi. Yakni, untuk pelatih an setelah kamp JI dibubarkan Al Qaidah dan dipaksa keluar dari Afghanistan . Selanjutnya, me reka membangun kamp di Min danao , Filipina, yang disebut kamp Abu Bakar. &#8221; Indonesia tem pat melakukan operasi dengan prediksi kalau Indonesia bisa dikuasai, Indonesia akan menyerang Singapura , Malaysia , Thai land , dan seterusnya,&#8221; jelasnya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, teori <em>khithabi,</em> analisa yang bersifat provokatif, dengan menebar fitnah guna merusak citra, seakan-akan segala ancaman yang menimpa adalah akibat perbuatan musuh politiknya. Misalnya, pernyataan jawara intelijen Hendropriyono ketika mengomentari peristiwa teror dengan menyisipkan fitnah bahwa para teroris ini adalah dari kelompok gerakan Wahabi, Darul Islam, Ikhwanul Muslimin ala Hasan Al Banna. Hendro dengan entengnya melemparkan fitnah tersebut sebagaimana biasanya dilakukan agen zionis dan Amerika.</p>
<p>Gerakan Wahabi yang diplopori oleh Abdul Wahab pada abad 19 M atau 12 H, hanya mengajak umat Islam meninggalkan akidah syirk, amaliyah yang bercampur aduk dengan kepercayaan syirk tanpa pernah melakukan kekerasan fisik, melainkan dengan ceramah dan menulis buku. Dan tidak pernah ada bukti bahwa Syeikh Abdul Wahab mendirikan laskar untuk melakukan kekerasan pada rakyat. Adapun Kerajaan Saudi Arabia di bawah pimpinan Raja Ibnu Saud yang sering melakukan tindakan represif tidak berkaitan dengan paham keagamaan, tetapi berkaitan dengan kelompok yang memberontak kepadanya.</p>
<p>Jadi, antara Abdul Wahab dengan prilaku Ibnu Saud di dalam menegakkan kerajaannya merupakan dua hal yang berbeda. Dan Syeikh Abdul Wahab tidak bisa dipersalahkan, apalagi Wahabi disebut sebagai pelopor teroris. Begitupun Ikhwanul Muslimin yang menjadi korban tindakan kekerasan raja Farouk dengan penjajah Inggris, sehingga Hassan Al Banna dibunuh secara keji di tengah jalan. Padahal Hasan Al Banna hanya mengajarkan Islam kepada rakyat mesir dan mengajak raja serta para pejabat kerajaan Mesir untuk menghargai agamanya, dan menyatakan tekad merdekanya dari penjajahan Inggris.</p>
<p><strong>Jihad Versus Terorisme</strong></p>
<p>Dialektika terorisme, secara faktual disebabkan oleh dua hal. <strong>Pertama</strong>, adanya kekerasan durjana dan durhaka yang hendak menaklukkan masyarakat tertindas (mustadh’afin) agar tidak berani melawan kekuatan sang penindas (mustakbirin). <strong>Kedua,</strong> terorisme yang dimotivasi oleh perlawanan rakyat tertindas terhadap penguasa zalim, sementara mereka yang tertindas itu tidak mampu melawan atas penindasan yang dideritanya kecuali dengan melakukan teror. Tujuannya, tentu saja untuk menekan si penindas yang kejam itu agar tidak melestarikan kejahatannya terus menerus.</p>
<p>Tindakan Israel yang menghancurkan perkampungan rakyat Palestina dan membunuh rakyat sipil. Termasuk imprialisme Amerika di Irak dan Afghanistan yang meluluhlantakkan sarana sosial, pendidikan bahkan struktur pemerintahan merupakan terorisme mustakbirin. Sebaliknya, perjuangan rakyat Palestina untuk mengenyahkan penjajah Israel menggunakan senjata seadanya, demi merebut kemerdekaannya dituduh sebagai kaum teroris oleh zionis Israel. Bahkan perjuangan rakyat Muslim di Irak dan perlawanan pejuang Taliban di Afghanistan dianggap sebagai terorisme oleh Amerika berdasarkan keputusan diskriminatif dari PBB. Padahal, bagi kedua Negara tersebut, prilaku AS bahkan lebih jahat dari kaum teroris.</p>
<p>Lalu, siapa sesungguhnya meneror siapa? Apabila dalam persepektif ini kita memosisikan Israel, Amerika dan Negara pendukungnya disatu pihak, dan Hamas, Al Qaidah, kelompok Imam Samudera di pihak lainnya, dengan niat dan motivasinya masing-masing; barangkali aparat keamanan tidak perlu paranoid menghadapi teror bom yang terjadi di Negara kita. Artinya, pemberantasan terorisme tidak perlu menggunakan pendekatan SARA, distorsi agama, apalagi bersikap diskriminatif terhadap juru dakwah dan aktivis Islam.</p>
<p>Munculnya gagasan untuk mengawasi aktivitas dakwah para Da’i Muslim, akibat terjebak dalam teori ‘tangkap dulu baru kemudian diperiksa’, menciptakan keresahan di masyarakat, atau meneror para Du’at yang lantang mengkritik berbagai pelanggaran penanganan teror di Indonesia, justru menjadi bagian dari aksi teror itu sendiri.<strong> </strong></p>
<p>Pasca penembakan Dulmatin, muncul sikap-sikap oportunis dan munafiq, yang secara sistimatis dan radikal mengopinikan jihad sebagai tindak kejahatan. Namun anehnya, dalam menghadapi kejahatan narkoba misalnya, polisi menggunakan istilah jihad melawan narkoba. Disatu sisi jihad dimaki sebagi teror, dipihak lain kegagalan pemerintah memberantas narkoba, mereka gunakan kata jihad untuk membangkitkan semangat masyarakat memberantas narkoba. Inilah adalah sikap oportunis kaum pragmatis.</p>
<p>Tindakan Densus 88 yang secara sadis membunuh orang-orang yang baru diduga teroris sehingga menimbulkan ketakutan masal di masyakat, dan menyebabkan orang takut menghadiri majelis taklim tertentu karena mubalihgnya bicara jihad, dapat dikategorikan sebagai tindakan teror yang sebenarnya. Betapapun jahatnya AS ketika menangkap Hambali di Pattani, tapi CIA tidak membunuhnya sekalipun dianggap DPO yang sangat berbahaya. Begitupun pemuda Liberia mau membajak pesawat AS tidak dibunuh oleh CIA, tapi ditangkap hidup-hidup. Karena itu, atas dasar hukum apa Densus dengan mudah membunuh dan memenjara mereka yang disetigma teroris? Apakah manusiawi, memenjarakan istri yang sedang hamil tua setelah suami mereka dibunuh dengan tuduhan teroris?</p>
<p>Stigmatisasi Islam sebagai sumber terorisme karena adanya beberapa aktivis yang melakukan tindakan teror, tidak boleh menjadi alasan bagi tindakan represif, apalagi dengan seenaknya membunuh dan menyeret mayat tersangka teroris di jalanan. Seharusnya dipertanyakan, apakah tindakan teror yang dilakukan, muncul sebagai reaksi terhadap kezaliman yang merajalela pada suatu bangsa karena penguasanya bertindak represif kepada rakyat? Jika ternyata unsur paling dominan yang memotivasi gerakan teror disebabkan tindakan destruktif penguasa pada rakyat demi melayani kepentingan asing, maka yang bertanggungjawab atas munculnya berbagai peristiwa teror ini adalah pemerintah yang berkuasa, dan bukan agama yang dipeluk oleh tersangka teroris itu.</p>
<p>Dengan alasan demikian, maka terorisme yang terjadi di Indonesia harus dibebankan tanggungjawabnya pada pemerintah dan aparat keamanan yang selama ini gagal menghadirkan kesejahteraan pada mayoritas rakyatnya. Presiden SBY pernah mengatakan, bahwa kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya terorisme. Oleh karena itu, salah besar jika pemerintah ataupun aparat keamanan menstigmatisasi ajaran Islam sebagai sumber teroris khusunya syariat jihad.</p>
<p>Dalam praktik sosial, jihad fisabilillah berarti memberdayakan rakyat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta memberantas kebathilan menumpas kemaksiatan. Adapun dalam ranah kekuasaan Negara, jihad sesungguhnya merupakan suatu sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta yang menjadi bagian dari tata kehidupan bernegara semenjak umat manusia mengenal tatanan bernegara. Sebuah Negara pasti membutuhkan adanya tentara, alat perang, dan aturan perundang-undangan yang menjadi dasar untuk mepertahankan Negara dari serangan musuh dan rekruitmen tenaga tentara dari Negara yang bersangkutan.</p>
<p>Oleh karena itu, menyamakan teror dengan jihad merupakan upaya menyesatkan umat Islam dari ajaran agamanya; sekaligus membuktikan adanya ghazwul fikri yang dilakukan musuh Islam terhadap umat Islam. Begitupun perburuan Densus terhadap orang yang diduga sebagai teroris, yang ternyata hanya ditujukan pada mereka yang beragama Islam menunjukkan bahwa perang ideologi sedang terjadi dengan hebat di Indonesia. Apalagi dengan adanya usaha membagi umat Islam menjadi kelompok radikal dan moderat, militan dan toleran, yang telah merasuki sebagian dari tokoh ormas Islam sehingga mereka lebih senang memerangi saudaranya sesame Muslim daripada menghadapi agresi zionis dan salibis.</p>
<p>Untuk mengatasi terorisme di Indonesia, rezim pemerintahan SBY harus berani melakukan debat publik dengan rakyat Indonesia yang meragukan hal-hal yang diwacanakan oleh aparat mengenai jihad dan terorisme. Jika tidak, maka tindakan Densus 88 membunuh orang-orang yang dicurigai sebagai teroris merupakan tindakan keji dan biadab terhadap rakyatnya sendiri. <em>Wallahu a’lam bis shawab</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">Oleh Irfan S Awwas</p>
<p style="text-align: right;">Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin</p>
<p style="text-align: right;">Jogjakarta, 1 April 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyongsong Harapan Kejayaan Islam</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 05:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Kaum Muslimin sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan bagi segenap umat manusia. Harapan ini merupakan missi Islam yang diproklamirkan oleh Rasulullah Saw sejak beliau memulai dakwahnya di Makkah yang dikenal dengan misi Rahmatan lil Alamin. Upaya melanjutkan misi ini, merupakan amanah yang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaum Muslimin sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan bagi segenap umat manusia. Harapan ini merupakan missi Islam yang diproklamirkan oleh Rasulullah Saw sejak beliau memulai dakwahnya di Makkah yang dikenal dengan misi Rahmatan lil Alamin.</p>
<p>Upaya melanjutkan misi ini, merupakan amanah yang menjadi tanggung jawab umat Islam. Sesungguhnya problema terbesar kaum MusIimin di seluruh dunia, adalah belum berlakunya Syari’ah Islam. Hampir seluruh tragedi politik dan kemanusiaan yang datang bertubi-tubi menimpa kaum Muslimin, sebenarnya berpangkal pada masalah ini. Problema ini diperparah lagi dengan kenyataan, bahwa kaum Muslimin dewasa ini belum memiliki tata kepemimpinan ummat yang berfungsi secara efektif dan berkualitas untuk menghantarkan serta memberdayakan ummat pada tingkat kehidupan yang beradab dan bermartabat sebagaimana arahan pesan-pesan wahyu llahy.</p>
<p>Disadari bahwa pengentasan secara menyeluruh atas segenap persoalan tersebut tidak bisa lain kecuali dengan terbangunnya suatu kekuatan bersama antar komponen ummat Islam, serta terciptanya ayunan langkah yang teratur ke arah tujuan yang jelas dan bermakna. Kabut gelap malapetaka, insya Allah akan sirna manakala benih-benih permusuhan di antara ummat Islam yang mendukung berlakunya Syari’ah Islam dan ummat Islam yang belum siap menerima formalisasi Syari’ah Islam dapat dilumatkan sehingga terbentanglah jembatan emas bagi terselesaikannya persoalan ummat yang lainnya, dan pada gilirannya terbitlah fajar keselarasan dan keterpaduan gerak perjuangan di antara komponen ummat Islam.</p>
<p>Dalam kaitan inilah, maka perlu adanya kekuatan sinergis seluruh kaum Muslim, dengan berbagai macam wadah kegiatan dan perjuangannya untuk menyatukan seluruh potensinya, memikul beban bersama, langkah dan upaya membangun kejayaan kembali Islam.</p>
<p>Namun di kalangan kaum Muslimin muncul fenomena jahiliyah, bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam seakan ancaman bagi eksistensi serta keselamatan dirinya di tengah arus globalisasi dewasa ini. Hal ini tercermin pada keengganan umat Islam untuk berterus terang dengan kebenaran agamanya, dan menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam, seolah-oleh Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini.</p>
<p>Stigmatisasi negatif ini dirasakan teramat berat oleh sebagian tokoh-tokoh Islam, terutama para politisinya, yang menyebabkan mereka enggan mengibarkan bendera syaria’at Islam secara jujur dan terus terang. Kondisi demikian menciptakan hubungan yang tegang, saling mencurigai di antara komunitas Muslim sendiri, sehingga muncul kategorisasi Islam radikal versus Islam moderat, sikap inklusif versus eksklusif, ideologi nasional versus transnasional, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kategorisasi berbau konflik ini, merupakan rekayasa provokatif  musuh-musuh Islam, dengan maksud memandulkan kekuatan Islam melalui politik devide at impera, sesuai program mereka. Akibatnya,  tidak sedikit dari kalangan aktivis Islam yang terinfeksi perasaan tertindas, tertekan, teraniaya, dan “gara-gara berjuang, hidup saya jadi sengsara”.</p>
<p>Kecewa terhadap Islam, lalu memosisikan perjuangan penegakan syari’at Islam sebagai penyebab kegagalan dan kesengsaraan hidupnya,    jelas merupakan kondisi mental abnormal. Dalam agenda hidup para mujahid, mentalitas demikian sungguh tercela, karena menjadikan agama Allah sebagai kambing hitam atas ironi oportunisme serta ketidak berdayaannya.  Dalam hal ini,  Allah Swt mengingatkan, bahwa Islam datang bukan untuk menyengsarakan manusia,  tidak juga membuat susa. Dalam Qur’an surat Thaha ayat 2 dinyatakan:</p>
<p>“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orangyang takut kepada Allah.”</p>
<p>Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menjadikan manusia hidup dalam tatanan yang membawa kesengsaraan, kemiskinan, penderitaan dan saling menindas. Tetapi untuk memberikan tatanan hidup yang dapat membangun kasih sayang, berbuat kebajikan, perdamaian, persaudaraan, dan saling menghormati martabat manusia satu dengan lainnya. Dan untuk menegakkan tatanan ideal seperti ini, sepintas terasa berat dan sulit bahkan menjadi sasaran permusuhan orang-orang bermental jahat seperti para penyembah berhala bangsa Quraisy.</p>
<p>Ketika suatu komunitas merasa hidupnya tertekan, pasti memunculkan berbagai ketegangan antara kelompok yang satu dengan yang lain dalam komunitas tersebut. Pada saat demikian amat sulit suatu umat dapat menyatukan diri karena adanya ganjalan, berupa rendahnya tingkat saling mempercayai sesama mereka.</p>
<p><strong>Hilangnya Kepercayaan Sesama Muslim:</strong> Umat Islam dewasa ini terbelenggu dalam situasi saling mencurigai. Kelompok yang merasa dirinya sebagai moderat dan toleran, apriori menyikapi kelompok yang dikategorikan radikal dan ekstrem. Bila kelompok yang disebut eksterim mencoba mencairkan suasana dengan ajakan berdialog, serta merta diabaikan ajakannya, karena khawatir ancaman orang-orang kafir menimpa komunitasnya di kemudian hari. Bahkan kelompok moderat ini dengan enteng menyebarluaskan pandangannya secara sinis terhadap kelompok radikal atau militan dengan berbagai label absurd. Misalnya, anggapan bahwa, “tuntutan formalisasi syari’at Islam sebagai tidak taktis, pendek akal, beragama hitam putih, dan tuduhan negatif tanpa dasar kebenaran.</p>
<p>Kondisi seperti ini jelas merupakan rintangan bagi sesama Muslim untuk menciptakan perdamaian. Oleh karena itu menjadi tanggungjawab umat Islam semuanya, agar berani menyingkirkan rasa saling tidak percaya secara total, kemudian secara ikhlas dan jujur membangun persatuan secara total juga, di bawah naungan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullkah Saw.</p>
<p><strong>Terikat Program Sendiri:</strong> Dampak negatif dari buruk sangka, apriori, akibat mentalitas saling mencurigai sesama Muslim, adalah munculnya kelompok Islam yang bangga terhadap program perjuangan kelompoknya, dan secara sepihak menjadikan sikap dan faham kelompoknya sebagai tolak ukur kebenaran dari otentisitas perjuangan Islam. Sebagai akibatnya, perjuangan yang dilakukan oleh kelompok Islam lainnya dianggap sebagai penyimpangan dan perintang bagi perjuangan dakwah kelompoknya. Bahkan segala kebajikan yang diserukan kelompok lain, tidak mengikat mereka yang merasa berbeda dengan komunitas Islam lain itu. Bukan karena kelompok lain itu salah dari sudut pandang Al-Qur’an, melainkan karena sikap tegas membela kebenaran dan melawan kekafiran, melalui dakwah dan jihad fie sabilillah.</p>
<p>Maka terjadilah apa yang semestinya dihindari, yaitu “ rela bermusuhan dengan sesama Muslim, sebaliknya merasa <em>happy</em> bermesraan dengan musuh-musuh Islam.” Mereka merasa enjoi bekerjasama dengan musuh Islam asalkan eksistensi diri dan kelompoknya dapat dipertahankan. Akibat selanjutnya, ketika saudara Muslimnya ditindas dan dizalimi penguasa kafir, mereka tidak merasa berkewajiban membela serta menunjukkan solidaritas Islamnya.</p>
<p>Kenyataan ini tentu saja mempersulit upaya menyatukan barisan umat Islam. Untuk kepentingan ukhuwah Islamiyah, gerakan Islam harus berani mengavaluasi diri sendiri, apakah kita menjadi bagian dari orang-orang yang jujur dalam beragama, ataukah orang-orang yang memanfaatkan Islam sebagai komoditas mencari kesenangan duniawi. Selama suasana batin dari tiap-tiap umat Islam, terutama ulama dan pemimpinnya masih diliputi oleh semangat mencari kesenangan duniawi dengan mengorbankan agamanya, sudah dapat dipastikan stagnasi hubungan sesama Muslim akan kian sulit dicarikan solusinya.</p>
<p><strong>Stagnasi Komunikasi Sesama Muslim:</strong> Ketika stagnasi komunikasi sesame Muslim menjadi dasar dalam interaksi sosial umat Islam maka yang muncul adalah saling menuduh, saling menyalahkan, saling berlomba menjadi agen musuh Islam untuk menghancurkan kekuatan kelompok Islam yang berbeda pendapat dengan kelompoknya. Kenyataan itulah yang menimpa saudara Muslim di Irak, Afghanistan, dan Pakistan. Hal ini terjadi karena tiap kelompok merasa terancam dengan adanya kelompok Islam yang lain, lalu menggunakan kekuatan musuh untuk memperkuat dirinya menghadapi kelompok Muslim lainnya. <em>Subhanallah!</em></p>
<p>Al-Qur’anul Karim mengungkapkan hal ini dengan sangat jelas.</p>
<p>“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Qs. Al-Anfal, 8:73)</p>
<p>Apa yang terungkap di dalam Qur’an ini sudah menjadi realitas di zaman kita sekarang. Lalu apa langkah yang bisa dilakukan ketika kita menghendaki terbentuknya persatuan umat Islam, baik skala nasional maupun internasional? Maukah berbagai komunitas, organisasi, partai, dan jama’ah Islam di Indonesia sekarang menaggalkan egosentrisnya dan meleburkan diri secara total menjadi Muslim ansich tanpa atribut lain? Mungkinkah hal ini dapat direalisasikan, dan dengan cara bagaimana melakukannya?</p>
<p><strong>Lemahnya Motivasi Ishlah:</strong> Umat Islam sekarang berada dalam situasi problematis karena dua factor. Pertama, faktor ulama, sebagai penyuluh bagi umat untuk beragama dengan cara yang benar. Tetapi terbukti, tidak sedikit di kalangan para ulama ini yang menggunakan predikat keulamaannya untuk mengejar gemerlap duniawi, menjadi pendamping bagi penguasa zalim, mencarikan dalil-dalil yang memuaskan hati orang-orang kaya untuk terus melanggengkan sistem ekonomi ribawi, bahkan dengan terang-terangan memelintir ayat-ayat Al Qur’an demi kepentingan nafsunya.</p>
<p>Bukti faktual berkenaan dengan prilaku tidak terpuji ini, adalah pemelintiran ayat-ayat jihad. Ada ulama yang menyatakan, jihad berarti  amal shalih, sedangkan yang lainnya bukan jihad. Ketika ditanyakan tentang jenis-jenis jihad sebagaimana disebutkan oleh Imam Malik dalam kitab <em>Almudawwantul Kubra</em>, bahwa jihad mencakup: amal shalih, membela hak yang dirampas orang lain, amar ma’ruf nahyu mungkar, dan perang dengan senjata. Ternyata mereka tidak memberikan komentar apapun. Selain menunjukkan kelemahan, juga merusak citra syari’at jihad yang dapat menyesatkan pemahaman umat.</p>
<p>Mengapa ulama memiliki motivasi yang lemah untuk memperjuangkan Islam? Karena mereka telah menjadikan dunia ini seakan alam akhirat, sebelum alam akhirat yang sebenarnya datang. Yaitu, <em>“hubbud dunya wa karahiyatul maut</em> -cinta dunia dan takut mati.” Mereka tidak sabar menghadapi derita dan sengsara di dunia ini unruk kelak memperoleh surga di akhirat.</p>
<p>Inilah yang disebutkan oleh Rasulullah Saw sebagai <em>qurraun fasaqatun</em> (ulama fasek). Karena ulamanya fasek, maka ummat pun tidak mendapatkan pencerahan mengenai ajaran Islam yang sebenarnya. Ummat hanya dijejali dengan pendapat syeikh ini dan ulama itu, sehingga mereka jauh dari Al Qur’an dan hadits shahih. Dampak buruknya, sekalipun umat rajin beribadah, namun ketekunan beribadah ternyata tidak berpengaruh dominan dalam menggerakkan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik umat Islam di muka bumi ini.</p>
<p>Selain itu, sebagian ummat Islam malah alergi menerapkan syariat Islam dalam kehidupan politik, bahkan beranggapan antara Islam dan politik, Islam dan Negara, adalah dua hal yang berbeda, dan tidak boleh dicampur adukkan. “Politik merupakan hal yang kotor, sedang agama merupakan hal yang suci, karena itu agama tidak boleh dicampur adukkan dengan politik,” ujar mereka.</p>
<p>Retorika tanpa logika syar’iyah melahirkan sikap ambivalen, sama sekali tidak membantu meningkatkan iman dan amal shalih. Ibarat rinso dan baju kotor. Rinso adalah alat pencuci, sedangkan baju terkena lumpur adalah barang kotor. Apakah anda akan mengatakan bahwa baju kotor ini jangan dicuci dengan rinso, karena rinso pembersih tidak boleh dicampur dengan baju yang kotor? Ataukah anda akan mengatakan, “bila baju kotor harus dipakai terus dan tidak boleh dicuci dengan rinso pembersih, bukankah menyebabkan pemakainya terkena penyakit?” Jika anda tidak mau memakai baju kotor karena khawatir terjangkit penyakit, maka seharusnya logika waras anda berkata: “Jangan menggunakan politik untuk mengatur Negara, karena politik itu kotor.” Konsekuensinya, anda harus mengganti politik itu dengan syariat Islam agar manusia seantero dunia menjadi sehat dan tidak berpenyakit.</p>
<p>Oleh karena itu, ulama yang jujur akan dapat menjadi penyuluh bagi ummat dan memberikan pencerahan bagi para penguasa. Adanya ulama yang shalih, jujur dan pemberani menegakkan kalimatul haq di hadapan penguasa yang zalim merupakan kebutuhan mutlak dalam kehidupan modern ini. Tanpa adanya ulama berkarakter ulama mujahid, sulitlah bagi dunia Islam untuk membangun kembali kejayaannya, dengan mempersatukan barisan dan menyelamatan ummat dari jebakan para pecundang agama.</p>
<p>Bagaimana melahirkan ulama yang dapat menjadi guru bagi ummat dan penyuluh bagi penguasa guna menyongsong kejayaan Islam di masa depan? Seorang ulama iharuslah berkarakter, sehingga berada di garis terdepan dalam mengibarkan panji-panji penegakan syari’at Islam. Seorang ulama adalah manusia yang paling takut menyalahi syariat Allah dan RasulNya dalam segala urusan; dan paling berani mengingatkan ummat dan penguasanya untuk kembali ke jalan Allah.</p>
<p>Dewasa ini, apakah unsur pendorong terciptanya persatuan umat itu lebih dominan atau sebaliknya unsur perpecahan yang lebih besar?  Dalam ilmu fisika dikenal adanya hukum pendorong dan penahan. Bila kekuatan penahan lebih lemah dari kekuatan pendorong, maka kekuatan pendorong akan masuk ke areal tujuan. Bila kekuatan penahan lebih kuat maka pendorong akan tersingkir.</p>
<p>Hukum fisika ini juga bisa berlaku dalam perjuangan agama dan ideologi. Bila kekuatan pendorong yang terdapat di dalam diri orang- orang yang memperjuangkan Islam, untuk membangun kekuatan Islam lebih kuat daripada semangat perpecahan yang terdapat pada diri masing-masing tokoh, pasti persatuan akan segera diraih.</p>
<p>Lalu, bagaimana menumbuhkan semangat persatuan di kalangan  umat Islam? Jawabannya terdapat dalam firman Allah surat Ali Imram ayat 103, yang merupakan hukum fisika bagi alam, dan hukum mental bagi manusia.</p>
<p>“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”</p>
<p>Ayat ini secara aksiomatis menegaskan bahwa tidak ada jalan lain yang jadi pijakan ummat Islam untuk bersatu, selain ummat Islam konsisten berpegang pada syari’at Islam secara utuh, sebagaimana termaktub dalam Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Sedangkan cara lain, justru akan menghancurkan kekuatan umat Islam itu.</p>
<p>Analisis yang banyak dikemukan sarjana Muslim lulusan Barat dengan tinjauan sosiologis, politis, dan psykologis berkenaan dengan perpecahan umat Islam dan sulitnya untuk bersatu, hanyalah sebuah imajinasi dan halusinasi yang tidak memili landasan wahyu Ilahy.</p>
<p>Oleh karena itu, umat Islam harus jujur terhadap dirinya sendiri, bersedia untuk i’tisham (berpegang teguh) pada Quran dan sunnah secara konsisten; atau sebaliknya dengan resiko terus menerus berpecah belah ala jahiliyah. Untuk itu Majelis Mujahidin menyerukan pada seluruh komponen dan pimpinan umat Islam untuk melakukan dialog secara terbuka, membicakan segala sisi keterpurukan dan kelemahan umat Islam sekarang, guna merumuskan langkah-langkah kongkrit menuju kebangkitan dan kejayaan umat Islam di era globalisasi ini.</p>
<p>Seruan ini sekaligus merupakan bentuk pertanggungan jawab Majelis Mujahidin kepada Allah dan umat Islam, sedangkan pihak atau kelompok ummat Islam lainnya diharapkan juga berbuat hal yang sama. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya pada kita.</p>
<p>Kita harus mengakhiri kondisi stagnasi, merasa serba lemah, dan tidak berdaya menghadapi musibah yang membebani ummat Islam selama lebih dari satu abad. Yaitu, sejak khilafah Utsmaniyah kendalinya berada di tangan kaum nasionalis sekuler dua abad lalu. Dengan pertolongan Allah muncul kesadaran pada segenap komponen umat Islam seluruh dunia untuk bersama-sama membangun kembali tali silaturrahim dan merajut benang yang terputus di antara sesama Muslim, karena provokasi ideologi nasionalis sekuler di berbagai negeri Islam.</p>
<p>Kesadaran akan pentingnya persatuan dalam rangka menegakkan syari’at Islam harus senantiasa dikumandangkan agar menjadi kekuatan yang dapat dipergunakan untuk membangun dunia yang diamanatkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Yaitu dunia yang penuh dengan rahmat Allah bagi segenap umat manusia apapun agama, bangsa dan asal usulnya. Bahkan juga menjadi rahmat bagi segenap makhluk di jagat raya ini, karena Islam melindungi hak hidup flora dan fauna sebagai makhluk Allah juga. Alangkah indahnya jagat raya yang dinaungi oleh syariat Islam, dan alangkah damainya hati setiap manusia yang merasakan sentuhan rahmat Ilahy.</p>
<p>Dalam kaitan ini, Majelis Mujahidin mengingatkan kepada seluruh kaum Muslimin atas pesan Khalifah Abu Bakar: “Tidak ada persatuan tanpa mengikuti sunnah Nabi Saw.”</p>
<p>Demikian pula pesan Khalifah Umar bin Khathab: “Kebenaranlah yang membuat kamu menjadi kuat, dan bukan kekuatan kamu yang membuat jayanya kebenaran.” Dengan heroisme yang sma ditunjukkan oleh Khalifah Utsman bin Affan yang berpesan: “Kejayaan ummat ini akan terpelihara selama Al Qur’an berdampingan dengan kekuatan. Bilamana kekuatan tanpa Qur’an akan menjadi anarkhis, dan bilamana Qur’an tanpa kekuatan tidak bermakna bagi kehidupan.” <em></em></p>
<p><em>Wallahu a’lam bis shawab!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musibah &amp; Bala Bencana Adalah Teguran Dari Allah</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 14:42:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[azab]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[teguran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya menukar hukum Allah dengan hukum jahiliyah dan kecenderungan masyarakat memilih serta mengikuti tradisi nenek moyang dengan ajaran sesatnya yang bertolak belakang dari hidayah dan Sunnah Rasulullah Saw.</p>
<p>Al Qur&#8217;an menjelaskan, membenarkan hal tersebut, Allah Swt berfirman:</p>
<blockquote><p><em>“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.”</em> <strong>(QS. Al Qhashash, 28 : 59)</strong><span id="more-576"></span></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.”</em> <strong>(QS. Hud : 117)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” </em><strong>(QS. An Nisaa : 147)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.&#8221; </em><strong>(QS. Al Isra, 17 : 16)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” </em><strong>(QS. Al Isra, 17 : 58)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” </em><strong>(QS. As Syura, 42 : 30)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” </em><strong>(QS. An-Nahl, 16 : 112)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”</em> <strong>(QS. Ibrahim, 14 : 28-29)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dri merka,mereka telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata.Maka Allah sekali-kali berlaku dzalim kepada mereka ,tetapi merekalah yang berlaku dzalim terhadap dir mereka.Kemudian akibat orang-orang yang melakukan kedurhakaan dan kejahatan adalah azab siksa yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olok.”</em> <strong>(QS. Rum, 30 : 9-10).</strong></p></blockquote>
<p>Dan firmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“(ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: &#8220;Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya&#8221;. (Allah berfirman): &#8220;Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221;. Kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): &#8220;Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar&#8221;, (tentulah kamu akan merasa ngeri), demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi amat keras siksaan-Nya, (siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.], dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” </em><strong>(QS. Al An fal, 8 : 49-55)</strong></p></blockquote>
<p>Demikianlah di antara ayat-ayat Allah yang menerangkan sebab-sebab datangnya musibah dan bala bencana.</p>
<p>Rasulullah Saw juga menerangkan akan sebab-sebab musibah dalam haditsnya:</p>
<p>Berkata Ummu Salamah, istri Rasulullah Saw, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“Jika timbul maksiat pada ummatku, maka Allah akan menyebarkan azab-siksa kepada mereka.”</em> Aku berkata : Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu tidak ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: <em>“ada!”</em>. Aku berkata lagi: Apa yang akan Allah perbuat kepada mereka? Beliau menjawab: <em>“Allah akan menimpakan kepada mereka azab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan keampunan dan keredhaan dari dari Rabbnya.” </em><strong>(HR. Imam Ahmad)</strong></p></blockquote>
<p><strong>Lima Sebab Datangnya Azab dan Siksa Allah.</strong></p>
<p>Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada Allah mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kamu atau kamu tidak menjumpainya, yaitu,<br />
</em></p>
<ol>
<li><em>Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta&#8217;un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh Allah turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya penguasa.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh Allah, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri.”</em> <strong>(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)</strong></li>
</ol>
</blockquote>
<p><strong>Lima Belas Perkara Mendatangkan Musibah &amp; Bala Bencana.</strong></p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: <em></em></p>
<blockquote><p><em>&#8220;Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” </em></p></blockquote>
<p>Ditanyakan, apakah lima belas perkara itu wahai Rasulullah?</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda: <em> </em></p>
<blockquote><p><em>&#8220;Apabila…</em></p>
<ol>
<li><em>Harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi,</em></li>
<li><em>Amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan,</em></li>
<li><em>Zakat dianggap sebagai cukai (denda),</em></li>
<li><em>Suami menjadi budak istrinya (sampai dia),</em></li>
<li><em>Mendurhakai ibunya,</em></li>
<li><em>Mengutamakan sahabatnya (sampai dia),</em></li>
<li><em>Berbuat zalim kepada ayahnya,</em></li>
<li><em>Terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari&#8217;ah),</em></li>
<li><em>Orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat),</em></li>
<li><em>Seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya,</em></li>
<li><em>Minuman keras (khamar) tersebar merata dan menjadi kebiasaan,</em></li>
<li><em>Laki-laki telah memakai pakaian sutera,</em></li>
<li><em>Penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan,</em></li>
<li><em>Alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan,</em></li>
<li><em>Generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya;</em></li>
</ol>
<p><em>Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang diatasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tananh longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.”</em> <strong>(HR. Tirmidzi, 2136)</strong></p></blockquote>
<p>Itulah perkara-perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan, kehancuran, kesempitan, kemelaratan, perseteruan, dan perpecahan satu sama lainnya, antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan penguasa. Korupsi dan ketidakadilan merajalela, segala macam penyakit bermunculan menimpa manusia, yang benar-benar menyulitkan dan membinasakan kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.</p>
<p>Oleh sebab itulah, Rasulullah Saw berdoa agar sahabat-sahabatnya tidak menjumpai keadaan yang demikian dahsyat dan terpuruknya. Dari semua perkara yang menyebabkan datangnya siksa dan azab itu. Insya Allah akan berakhir jika manusia dan kaum Muslimin khususnya kembali kepada Allah dan Rasul Nya, berpegang teguh kepada Dinullah (Islam yang sebenar-benarnya, menurut Al Qur’an dan As Sunnah) mengikut petunjuk Rasulnya.</p>
<p>Sebagai penutup, renungkanlah firman Allah Swt berikut serbagai introfeksi kita semua:</p>
<blockquote><p><em>”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri <strong>Beriman dan Bertakwa</strong>, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”</em> <strong>(QS. Al A&#8217;raf, 7: 96)</strong></p></blockquote>
<p><em>Wallahu’alam bis showab&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Download makalah asli klik link berikut:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a title="MUSIBAH &amp; BALA BENCANA ADALAH TEGURAN DARI ALLAH" href="http://www.mediafire.com/file/mm1m2ttmo5a/MUSIBAH &amp; BALA BENCANA ADALAH TEGURAN DARI ALLAH (www.abujibriel.com).pdf" target="_blank">PDF</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isu Terorisme dan Serangan Terhadap Islam</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/isu-terorisme-dan-serangan-terhadap-islam/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/isu-terorisme-dan-serangan-terhadap-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 16:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anda orang yang mengatakan bahwa berjihad menegakkan Syari’ah Islam dan khilafah Islamiyah di bumi Allah adalah tindakan Terorisme ? Jika demikian, berarti anda belum mengerti tentang jihad Islami yang merupakan mukjizat Allah SWT. Jihad adalah usaha serius untuk membumikan wahyu Allah di muka bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan fitnah terhadap Islam dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah anda orang yang mengatakan bahwa berjihad menegakkan Syari’ah Islam dan khilafah Islamiyah di bumi Allah adalah tindakan Terorisme ? Jika demikian, berarti anda belum mengerti tentang jihad Islami yang merupakan mukjizat Allah SWT.</p>
<p>Jihad adalah usaha serius untuk membumikan wahyu Allah di muka bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan fitnah terhadap Islam dan ummatnya. Renungkan firman Allah dalam QS Al Baqarah 2:193 dan QS Al Anfal 8:39.</p>
<p><em>Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.</em> <strong>(QS. Al Baqarah 2:193)</strong></p>
<p><em>Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. </em><strong>(QS. Al Anfal 8:39)</strong></p>
<p>Fitnah adalah kezaliman dan sifatnya lebih kejam dari pembunuhan, karenanya &#8220;Allah mengharamkan kezaliman sampai datangnya hari qiyamat.&#8221; <strong>(HR Muslim)<span id="more-563"></span></strong></p>
<p>Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah SAW. dan ummatnya agar terus memerangi orang kafir dan zalim yang selalu menimbulkan fitnah kepada Islam dan ummatnya. Al Qur’an mengingatkan:</p>
<p>&#8220;<em>Wahai Nabi berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqien itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.&#8221;</em> <strong>(QS. At Taubah 9:73 dan QS 66:9)</strong></p>
<p><strong>Terorisme dan Ketidakadilan Global</strong></p>
<p>Masalah yang jarang disentuh oleh media massa ketika mengangkat isu terorisme adalah ketidakadilan global. Padahal faktor ketidakadilan global menjadi salah satu pemicu serangan terhadab barat atau objek-objek yang dianggap berhubungan dengan barat. Penjajahan yang dilakukan barat di dunia Islam, termasuk dukungan membabi buta barat terhadap penjajahan zionis Israel di Palestina, merupakan cerminan dari ketidakadilan itu.</p>
<p>Ketika 9 orang terbunuh akibat pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, banyak orang yang mengecam aksi tersebut. Sikap yang sama seharusnya muncul ketika ratusan ribu umat Islam terbunuh pasca invasi AS di Iraq. Mengutip laporan yang dimuat Jurnal Lancet, lebih dari 650 ribu warga sipil Iraq tewas sejak invasi AS pada tahun 2003 dan jumlah itu tentu saja terus saja bertambah hingga kini.</p>
<p>Amerika serikat dimaklumi marah saat gedung WTC diserang yang menyebabkan sekitar 3000 orang terbunuh. Sebaliknya, tentu bisa dimaklumi juga umat Islam marah ketika pasukan Amerika terus menerus membunuh rakyat sipil di Afghanistan dan Pakistan. PBB mengatakan jumlah penduduk sipil yang tewas di Afghanistan tahun ini meningkat 24 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laporan PBB menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas dalam enam bulan pertama tahun ini. Jumlah korban serangan AS terhadap rakyat sipil di perbatasan Pakistan-Afghanistan pun terus meningkat.</p>
<p>Bandingkan pula sikap dunia barat ketika Israel menyerang Gaza.  Angka korban serangan Israel ke jalur Gaza sejak 27 desember 2008 hingga 18 januari 2009 malah mencapai 1313 atau rata-rata 59 orang tewas perhari atau setiap jam lebih 2 orang tewas. Tidak hanya itu, Israel juga mengakui menggunakan senjata kimia yang mengerikan, yakni fosfor putih. Belum lagi yang terbunuh akibat isolasi jalur Gaza oleh Israel. Alih-alih mengecam Israel, Amerika, Inggris dan sekutunya malah membela Israel. Untuk kasus Indonesia, ketidakadilan itu juga tampak dari sikap yang diskriminatif terhadap pembunuhan umat Islam di Ambon, Poso, atau kerusuhan di Sampit.</p>
<p>Berkaitan dengan pengeboman pada juli 2005 di London, pemerintahan Inggris memberikan peringatan bahwa keterlibatan dalam invasi AS ke Iraq telah meningkatkan adanya ancaman serangan balasan terhadap Inggris. Laporan yang bocor dari <em>Joint Terrorims Center </em>(JTAC) Inggris, yang mendahului serangan tersebut, memperingatkan: &#8220;peristiwa-peristiwa yang terjadi di Iraq semakin menjadi motivasi dan fokus sejumlah teroris berkaitan dengan aktivitas di Inggris.&#8221;</p>
<p>Pada april 2005, sebuah laporan yang ditulis oleh <em>Joint Intelligence Committee </em>(JIC) berjudul <em>&#8220;International Terrorism Impact of Iraq&#8221;</em> bahkan lebih eksplisit menyatakan: “kami menilai bahwa konflik yang terjadi di Iraq telah memperburuk ancaman terorisme internasional dan akan terus memberikan dampak dalam jangka waktu yang lama. Konflik tersebut telah memperkuat kegigihan para teroris yang telah melakukan serangan ke negara-negara barat dan memotivasi orang-oran lain yang tidak melakukannya.”</p>
<p>Seharusnya siapapun yang menginginkan kekerasan global dihentikan, juga harus dengan tegas meminta AS dan negara-negara imperialis lainnya menghentikan kebijakan yang eksploitatif dan diskriminatif terhadap dunia Islam. Masyarakat barat sendiri seharusnya meminta penguasa mereka agar menarik tentara negaranya dari Iraq, Afghanistan, dan negeri Islam lainnya. Termasuk menghentikan dukungan membabi buta terhadap Israel.</p>
<p>Bagi umat Islam, ketidakadilan global ini harus dihentikan. Berharap pada negara-negara imperialis untuk menghentikan kejahatan mereka sangatlah sulit. Karena selama barat masih mengadopsi ideologi kapitalisme, penjajahan akan menjadi metode baku yang tidak berubah. Tidak ada pilihan lagi, kecuali umat Islam bersatu membangun kekuatan global khilafah Islam yang akan melindungi umat Islam dari bulan-bulanan negara imperialis..</p>
<p><strong>Isu Terorisme &amp; Serangan Terhadap Islam </strong></p>
<p>Sebenarnya isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin. Musuh-musuh Islam mencoba membidik Islam dan kaum Muslimin di balik isu terorisme. Mereka takut dengan bangkitnya kaum muslimin. Dengan demikian mereka berusaha sekuat tenaga dan dengan berbagai macam cara untuk menghancurkan kebangkitan kaum Muslimin, salah satunya dengan melancarkan perang melawan terorisme.</p>
<p>Saat ini umat Islam menjadi tertuduh dan semua ketakutan dengan segala hal tentang Islam, karena selalu dikait-kaitkan dengan isu terorisme. Para pelajar, aktivis Islam dan semisalnya menjadi resah. Mereka khawatir dituduh dan dianggap sebagai sarang dan penyedia serta membantu aktivitas terorisme.</p>
<p>Gerakan-gerakan dakwah pun dicurigai meskipun gerakan dakwah itu terbuka dan tak ada sangkut pautnya dengan teroris. Beberapa orang pun mengawasi ketat anak remajanya yang mau berangkat mengaji. Padahal hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka menanyakan ngajinya sama siapa, tempatnya di mana, dan segala macam secara berulang-ulang.</p>
<p>Bahkan di sebuah wilayah, beberapa orang yang hendak melakukan <em>khuruj </em>(aktivitas yang rutin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh) di sebuah masjid, ditolak warga setempat pasca pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Warga setempat tak mau daerahnya dijadikan tujuan orang luar. Mereka takut orang-orang tersebut terlibat terorisme.</p>
<p>Sikap paranoid ini muncul belakangan di beberapa daerah. Ini terjadi setelah televisi dengan sangat gencar menyebarkan berita terorisme sejak penyerbuan di Temanggung, Jawa Tengah. Bukannya obyektif, pemberitaan di media massa cenderung menstigmatisasi negatif Islam dan kaum muslimin.</p>
<p>Belum jelas benar siapa pelakunya, media massa langsung menyorot pesantren. Pesantren dianggap mengajarkan jihad dan ini menjadi inspirasi para teroris. Media massa pun sibuk mencari latar belakang orang-orang yang diduga teroris dengan melakukan interogasi dan inkuisisi terhadap almamater, keluarga, dan para tetangga.</p>
<p>Tampa disaring, berita isu langsung disiarkan. Padahal tidak semua sumber berita yang didapatkannya layak disiarkan.</p>
<p>Hal yang sama tidak pernah dilakukan terhadap para koruptor. Adakah media massa yang pernah mengaitkan koruptor dengan almamaternya? Kemudian menyatakan bahwa unversitas X telah mengajarkan korupsi? Atau mencari guru dan dosennya karena dianggap sebagai inspirasi untuk korupsi?</p>
<p>Sikap media ini tidak lepas dari upaya pihak-pihak tertentu untuk menjadikan media sebagai corong dalam menyerang Islam dan kaum muslimin. Lihat saja bagaimana media massa seolah jadi ‘orang bodoh’ dan menurut saja dengan arahan sumber-sumber mereka. Sikap kritis mereka hilang. Bahkan untuk mencari alternatif narasumber lagi. Sampai-sampai ketika sumber-sumber berita mereka memberitakan berita yang salah pun, ditelan mentah-mentah. Perhatikan ketika penyerangan di Temanggung terjadi, dalam siaran langsungnya, mereka seperti <em>koor</em> menyanyikan lagu bahwa teroris yang terbunuh adalah gembong teroris Noordin M Top. Ternyata bukan.</p>
<p>Telah terjadi <em>trial by the press</em> (pengadilan oleh meda massa), yang dampaknya jauh lebih kejam. Media pun tergiring oleh frame berpikir musuh-musuh Islam yang menggeneralisasi para teroris dengan Islam. Isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya disebarluaskan dan dikerjakan oleh media massa yang pada hakikatnya untuk menghilangkan kebangkitan Islam.</p>
<p>Ironisnya, media massa seolah maklum saja dengan tindakan brutal Amerika dan sekutunya menebar bom dan kematian di mana-mana. Media massa tidak pernah menyebut mereka sebagai teroris, meski korban tewas jauh lebih banyak dan massif.</p>
<p>Media memang telah menjadi alat bagi kapitalisme global dalam mempertahankan hegemoninya. Di era informasi dimana kemenangan ditentukan oleh penguasa sumber-sumber informasi, media massa adalah salah satu pilar kapitalisme.</p>
<p>Barat paham betul bahwa Islam adalah musuh berikutnya setelah komunisme runtuh. Islam adalah ancaman. Karenanya, kebangkitan Islam mesti dihalang-halangi. Caranya bisa melalui <em>hard </em>dan <em>soft power</em>. Untuk itu barat dan antek-anteknya mendekonstruksi persepsi masyarakat terhadap Islam untuk melahirkan sikap moderat bahkan liberal. Mereka tidak mau Islam tampil apa adanya sesuai Al Quran dan As Sunnah. Sikap moderat dan liberal ini dianggap pas dengan hegemoni dan determinasi barat.</p>
<p>Sangat tidak mengherankan bila di tengah isu terorisme yang sedang hangat sekarang tiba-tiba muncul pernyataan beberapa tokoh yang mencoba menggeneralisasi bahwa terorisme itu adalah keinginan menerapkan syariah Islam dalam Daulah Islam. Mereka mencoba menebar ‘pukat harimau’ untuk menjaring aktivis pergerakan Islam.</p>
<p>Mereka sepertinya tutup mata-atau memang sengaja terhadap fakta bahwa tidak semua gerakan yang memperjuangkan syariah Islam dan khilafah setuju dengan aksi terorisme. Modus mereka ini sama dan sebangun dengan gaya Amerika dan barat umumnya melihat Islam pasca tragedi WTC pada September 2001.</p>
<p>Tak mengherankan bila banyak pihak yang menganalisis bahwa aksi-aksi terorisme di Indonesia ini sengaja dimainkan oleh pihak asing. Tujuannya adalah melemahkan umat Islam Indonesia sehingga Islam tidak bisa bangkit menjadi sebuah kekuatan yang besar di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.</p>
<p>Oleh karena itu perlu waspada terhadap segala tipu daya musuh-musih Islam tersebut. Para pengembang dakwah harus terus istiqomah mendakwahkan Islam dan mengembalikan kejayaan Islam dengan metode dakwah yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW.</p>
<p><strong>Siapa Teroris Sebenarnya ? Sadarlah Wahai Kaum Muslimin…!</strong></p>
<p>Jadi, siapakah terorisme yang sebenarnya ? Kalau kita mau meneliti sejarah, maka terlalu banyak dan panjang catatan peristiwa sejarah Amerika yang dapat membuktikan bahwa Amerika adalah teroris sejati. Amerika dengan dukungan sekutunya NATO, berhasil menekan PBB untuk mengembargo Irak.</p>
<p>Jika definisi teror adalah membunuh rakyat sipil yang tak berdosa; anak-anak, wanita dan orang tua, maka mereka atau Amerika adalah teroris paling pertama, teratas dan terjahat yang dikenal oleh sejarah umat manusia. Mereka telah membantai jutaan rakyat sipil tak berdosa di seluruh dunia; Jepang, Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Indonesia dan banyak negara lainnya.</p>
<p>Jika definisi teror adalah membom tempat-tempat dan kepentingan-kepentingan umum, mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang mengajarkan, memulai dan menekuni hal itu.</p>
<p>Jika definisi teror adalah menebarkan ketakutan demi meraih kepentingan politik, maka merekalah yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu di seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Jika definisi teror adalah pembunuhan misterius terhadap lawan politik, maka mereka adalah pihak pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu.</p>
<p>Jika definisi mendukung teroris adalah membiayai, melatih dan memberi perlindungan kepada para pelaku kejahatan, maka mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu. Mereka bisa berada di balik berbagai kudeta di seluruh penjuru dunia. Aliansi Utara di Afghanistan, John Garang di Sudan, Israel di bumi Islam Palestina, Serbia dan Kroasia di bekas negara Yugoslavia, dan banyak contoh lainnya merupakan bukti konkrit tak terbantahkan bahwa <strong>The Real Terrorist</strong> adalah Amerika dan sekutu-sekutunya!</p>
<p>Dengan demikian, setelah ummat mengetahui rencana apa di balik isu terorisme, siapa teroris sebenarnya, maka mereka juga harus tetap sabar, tawakal, dan yakin bahwa Islam pasti menang. Hal ini sebagaimana janji Allah SWT dalam firmanNya :</p>
<p><em>“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”</em> (QS At Taubah, 9 : 33 &amp; QS Ash Shaff, 61 : 9)</p>
<p><em>Wallahu’alam bis Showab!</em><br />
<em>* Artikel ini merupakan ringkasan dari Khutbah Ust. Abu Muhammad Jibriel (Wakil Amir Majelis Mujahidin) pada Bulan Syawwal di beberapa Masjid di Jakarta.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/isu-terorisme-dan-serangan-terhadap-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istisyhad (Operasi Syahid), Antara Islam &amp; Barat</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/istisyhad-operasi-syahid-antara-islam-barat/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/istisyhad-operasi-syahid-antara-islam-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 17:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Istisyhad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki abad 21 umat Islam di negeri-negeri yang tertindas menerapkan strategi operasi istisyhadiyah. Istisyhadiyah artinya adalah mencari kamatian syahid, sebuah kematian mulia di sisi Allah Swt. Operasi ini membuat negara-negara barat kebingungan dan ketakutan yang luar biasa. Mereka berangapan bahwa karena umat Islam sudah sudah putus asa maka mereka melakukan tindakan kalap, bunuh diri. Bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Memasuki abad 21 umat Islam di negeri-negeri yang tertindas  menerapkan strategi operasi istisyhadiyah. Istisyhadiyah artinya adalah  mencari kamatian syahid, sebuah kematian mulia di sisi Allah Swt.  Operasi ini membuat negara-negara barat kebingungan dan ketakutan yang  luar biasa. Mereka berangapan bahwa karena umat Islam sudah sudah putus  asa maka mereka melakukan tindakan kalap, bunuh diri. Bukan hanya orang  barat, bahkan sebagian umat Islam pun memiliki pandangan serupa, dan  ulama’nya menyerukan bahwa perjuangan dengan bunuh diri itu adalah  haram. Berikut pandangan Syekh Umar Bakri Muhammad, Amir Al Muhajirun,  tentang Isytisyhad dan perbedaan pandangan hidup antara Islam dan barat.<br />
</em></p>
<p><em></em>Pandangan hidup Islam diderivasikan dari tiga sumber;  al-Qur’an, Sunnah, serta pengetahuan dan keimanan bahwa hidup di dunia  ini hanya sebuah etape, yang penuh dengan tantangan dan ujian menuju  kehidupan akhirat yang lebih penting</p>
<p>“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu  dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).  Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Yang menjadikan mati dan  hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik  amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.</p>
<p>Jadi, pandangan hidup seorang muslim adalah pandangan ukhrawi,  pandangan yang didasarkan kepada keputusan Allah, mengikuti jalan yang  telah ditetukan oleh Allah. Pandangan ini adalah manifestasi dari  al-Qur’an dan sunnah, yang bisa kita tempuh untuk meraih Jannah (sorga).  Insya Allah.</p>
<p>Jadi, pandangan itu adalah keyakinan dan  pengetahuan bahwa tiada tuhan selain Allah, hanya Allah saja lah yang  memutuskan dan menentukan segala sesuatu; Dia saja lah yang bisa  memberikan kemenangan atau kekalahan; Dia saja lah yang bisa memberikan  keamanan dan kedamaian, dan Dia saja lah yang berhak menentukan garis  jalan kehidupan kita. Singkat kata, keyakinan dan pengetahuan ini adalah  esensi tauhid.</p>
<p>Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya  Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. (al-Anfal:18)<br />
Tampak  perbedaan yang sangat kontras antara pandangan hidup dunia Barat dengan  pandangan hidup Islam. Pandangan hidup Dunia Barat adalah pandangan  untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuraan materi; pandangan untuk  mendapatkan rasa aman -baik secara personal maupun nasional- sehingga  militernya boleh melakukan aksi offensif; pandangan yang meyakini bahwa  setiap individu memiliki kebebasan memilih dan menentukan, atau membuat  nasib mereka sendiri.</p>
<p>Bahkan, dunia Barat meyakini bahwa hukum-hukum kemanusiaan dan sistem  pemerintahan mereka dapat mendatangkan kebahagiaan, keamanan,  kemakmuraan, yang mereka inginkan. Lebih dari itu, di Barat ada –di  antara masyarakat atau bahkan pada pemerintahannya– meyakini bahwa  mereka memiliki hak dan tugas untuk memaksakan hukum mereka, metode, dan  sistem pemerintahan mereka terhadap suatu bangsa. Itulah, ada suatu  sikap arogan yang terdapat pada sebagian kepercayaan Bangsa Barat, bahwa  hukum-hukum kemanusaan dan metode mereka adalah superior.</p>
<p>Keyakinan  Barat dan kebiasaan arogan ini, memiliki banyak bukti sejak serangan  pada Jumadi Tsani. Di antaranya adalah intervensi Barat di Afghanistan,  dimana kekuatan  militer Barat telah digunakan untuk  melumpuhkan  pemerintahan Islam dan menyokong pemerintahan boneka pro-Barat. Bukti  yang lain adalah adanya penangkapan daan pemenjaraan terhadap mujahidin   di berbagai belahan dunia.</p>
<p><strong>Mencari Surga</strong></p>
<p>Pandangan Islam adalah bukti utama dalam operasi syahid (istisyhad).  Orang-orang yang melakukan operasi demikian benar-benar meyakini bahwa  meraka melakukan sesuatu yang benar –menurut kriteria Islam (al-Qur’an  dan Sunnah)– sebagaimana mereka berusaha, insya Allah, untuk  mempraktekkan keyakinan Islam bahwa hidup ini adalah suatu kesempatan,  suatu alat untuk meraih sorga. Itulah, kaum muslimin sebagaimana halnya  mujahidin memahami bahwa Allah akan memberi balasan terhadap orang-orang  yang melakukan praktek jihad; yang menyerahkan kehidupan dunianya  untuk  mendapatkan pahala.</p>
<p>“Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan  kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang  di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan  Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (An-Nisa’:74)</p>
<p>Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata  bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata  orang-orang yang sabar. (Ali Imran:142)</p>
<p>Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda; Barangsiapa bertemu  dengan Allah tanpa ada bekas jihad maka ia menemui Allah dan pada  dirinya ada tandanya” [HR At-Tirmidzi]</p>
<p>Adalah suatu pernyataan jujur untuk mengatakan bahwa mayoritas orang  Barat mengutuk operasi istisyhad atas dasar pandangan barat, menggunakan  kriteria Barat. Sebab mereka salah dalam memahami keyakinan muslim  bahwa hidup ini bagi kita hanyalah suatu alat, suatu ujian. Mereka juga  salah dalam memahami bahwa kaum muslimin sudi mengorbankan kehidupan  mereka untuk melaksanakan tugas Islam, penuh kepercayaan bahwa apa yang  dilakukan oleh beberapa orang islam itu adalah keputusan Allah swt dan  dilakukan dengan penuh harapan untuk mendapatkan balasan sorga.</p>
<p>Intinya,  ini semua dapat diungkapkan dengan singkat kata; orang islam  menempatkan kepercayaan terhadap Allah sebagai penguasa mutlak.  Sedangkan bangsa Barat pada umumnya percaya kepada kekuatan sendiri,  keyakinan mereka, keberanian mereka dan keinginan pemerintah mereka  untuk melayani mereka dengan mewujudkan keamanan dan kesuksesan.</p>
<p>Bagi  muslim, sesuatu yang paling penting adalah kehidupan akhirat; dengan  melakukan sesutau yang menjadi kewajibannya kelak akan mendapatkan  balasan pahala dari Allah, sehingga ada suatu kemungkinan untuk meraih  sorga. Jadi, kehidupan makhluk saat ini –dengan dengan segala bentuk  keamanan, kebahagiaan individu, kenikmatan, dan  kesenangan duniawi–  hanyalah bersifat sekunder. Apabila seorang muslim ditawari untuk  memilih antara keamanan, kebahagiaan individu, kenikmatan, dan   kesenangan duniawi ataukah sorga, maka seorang muslim akan memilih  jannah (sorga)</p>
<p>Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air  (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya  karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia  dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna  keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya , dan pemilik-permliknya  mengira bahwa mereka pasti menguasasinya , tiba-tiba datanglah kepadanya  azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan  (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan  belum pernah tumbuh kemarin.</p>
<p>Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada  orang-orang berfikir. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan  menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).</p>
<p>Dari Anas, dari nabi saw bahwasannya beliau bersabda; tidak ada  seoraang hamba pun yang mati lalu ia mendapatkan ganjaran yang baik  masih menginginkan untuk dikembalikan ke dunia, padahal kalau dia  kembali ke dunia akan mendapatkan dunia daan segala isinya; kecuali  orang yang mati syahid, karena ia melihat keutamaan mati syahid maka ia  ingin dikembalikan ke dunia lagi sehingga bisa teerbunuh sebagai syahid  sekali lagi [al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa ada muslim, khususnya di barat, telah lupa  bahwa kehidupan kita di atas planet yang bernama bumi saat ini hanyalah  satu kesempatan –yang tidak akan kembali lagi– untuk mendapatkan  kesempatan masuk ke dalam sorga, dan bahwa salah satu bekal terbaik  untuk dapat masuk sorga adalah dengan berusaha keras, dan bila perlu  jika mati di jalan Allah.</p>
<p>Allahu A’lam</p>
<p>Source: almuhajirun.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/istisyhad-operasi-syahid-antara-islam-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JW MARRIOT &amp; TERORISME</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jw-marriot-terorisme/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jw-marriot-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 08:08:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[JW Marriot, dan Ritz Carlton, dua hotel mewah yang ditengarai milik jaringan bisnis yahudi di Jakarta di bom, Jum’at, 17 Juli 2009. Pasca pengeboman dua hotel tersebut, bisa dipastikan  topik dan tema yang hangat diperbincangkan adalah terorisme. Sejak peristiwa 9/11 istilah terorisme atau Al Irhaab memang selalu menjadi istilah yang diperbincangkan dalam setiap kesempatan. Bagi seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>JW Marriot, dan Ritz Carlton, dua hotel mewah yang ditengarai milik jaringan bisnis yahudi di Jakarta di bom, Jum’at, 17 Juli 2009. Pasca pengeboman dua hotel tersebut, bisa dipastikan  topik dan tema yang hangat diperbincangkan adalah terorisme. Sejak peristiwa 9/11 istilah terorisme atau Al Irhaab memang selalu menjadi istilah yang diperbincangkan dalam setiap kesempatan. Bagi seorang Muslim yang terpenting adalah mengetahui apakah status hukum terorisme ? dan apa pendapat ulama salaf mengenai terorisme ?<br />
</em></p>
<p><strong>Memahami Latar Belakang &amp; Makna Terorisme</strong></p>
<p>Pertama, kita harus memahami bahwa ada perang antara Islam dan kufur. Kaum kuffar berperang ata nama apa yang mereka sebut terorisme. Kita harus memahami apa itu terorisme ? Kita harus pula peka bahwa orang menggunakan istilah ini dengan konteks rasa bangga dan setuju serta dengan konteks penyangkalan dan tidak setuju.</p>
<p>Ahli tauhid menggunakan istilah ini dengan rasa bangga, untuk mengatakan bahwa mujahidin adalah teroris sebagai sifat yang layak dipuji, sedangkan kaum kuffar menggunakan istilah ini sebagai penyangkalan atau ketidaksetujuan, untuk menyebut seseorang sebagai teroris ketika seseorang menyerang mereka.</p>
<p>Kita harus memahami ada atau tidak hubungan antara jihad dan terorisme, Allah SWT,  Menggunakan istilah ini dalam Al-Qur’an :</p>
<blockquote><p>“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang yang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.”(QS. Al-Anfaal : 60)</p></blockquote>
<p>Kekuatan disini disebutkan oleh Rasulullah SAW, sebagai persenjataan, Rasulullaah SAW, bersabda :</p>
<blockquote><p><strong><em>“Sesungguhnya kekuatan itu adalah persenjataan.”</em></strong></p></blockquote>
<p>Kita tidak menyatakan bahwa ayat ini berarti mempersiapkan diri kita secara internal, karena kita tahu bahwa dari hadits Rosul bahwa agama akan didukung dengan jihad meski pun oleh seseorang yang berbuat dosa (fasik/fajir), Rasulullah SAW, bersabda :</p>
<blockquote><p><strong><em> “Allah akan mendukung agama ini dengan orang yang fajir (seseorang yang meninggalkan kewajiban-kewajibannya dan mengerjakan keharaman).”</em></strong></p></blockquote>
<p>Meskipun seseorang telah berbuat dosa, dia dapat ikut berperang dan niatnya akan dibalas di saat terakhir dan dia bisa menjadi ahli surga. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang pergi berjihad dengan ikhlas dapat berubah niatnya pada saat terakhir dan jika dia terbunuh ketika niatnya berubah untuk <em>ghonimah </em>atau tujuan lain selain berperang karena ridha Allah SWT, maka dia dapat masuk neraka.</p>
<p>Hal ini pernah terjadi pada orang terbaik. Rasul SAW, pernah bicara tentang <strong>Qirqara,</strong> seseorang yang membawa harta atau benda-benda Rasulullah SAW, selama bertahun-tahun, dia pergi ke sebuah peperangan dan melihat mantel seseorang di sana, dia mengambil mantel tersebut dan terbunuh ketika mengambilnya. Kemudian orang-orang mengatakan bahwa dia syahid, tapi Rasul SAW, berkata :</p>
<blockquote><p><strong><em>“Tidak, dia di neraka.”</em></strong></p></blockquote>
<p>Terorisme dalam pandangan Islam adalah pelanggaran terhadap kesucian kehidupan, secara lisan, fisik, atau finansial dengan atau tanpa ijin (hak). Jika dengan ijin Allah SWT, akan terpuji (benar), dan jika tanpa ijin Allah SWT,. akan tercela (salah).</p>
<p>Kita harus menyadari bahwa setiap muslim memiliki kesucian jiwa, harta dan kehormatan, sebagaimana Rosul SAW, bersabda :</p>
<blockquote><p><strong><em>“Barangsiapa membantu orang untuk membunuh kaum muslimin bahkan dengan sebuah ucapan atau kurma, dia kafir.”</em></strong></p></blockquote>
<p>Kalian tidak dapat bergabung atau bersekutu dengan kaum kuffar untuk melawan kaum muslimin, atau membuat kaum muslimin menyerahkan diri pada kuffar. Jika kalian melaporkan kaum muslimin dan menjerumuskan mereka sehingga mereka tertawan, terbunuh atau dilanggar kesucian mereka, hal tersebut adalah kekufuran dan termasuk terorisme yang tercela (salah).</p>
<p>Islam berbicara tentang irhaab (terorisme) dan Ir’aab (teror/rasa gentar). Rasul SAW,. bersabda :</p>
<blockquote><p><strong><em>“Allah memberiku kejayaan dengan rasa gentar musuh.”</em></strong></p></blockquote>
<p>Rasul SAW,. juga menyuruh kita untuk,</p>
<blockquote><p><strong><em>“Lemparkan rasa takut/terror di hati musuh.”</em></strong></p></blockquote>
<p>Hal-hal tersebut merupakan teror yang terpuji. Imam Syafi’i berbicara tentang terorisme dalam Islam. Beliau berkata :</p>
<p><em>“Terorisme (irhaab) untuk musuh merupakan salah satu dari dasar/pondasi Islam. Barangsiapa menyangsikan bahwa menteror musuh adalah fardhu, maka dia termasuk kafir.”</em></p>
<p>Bagaimana jika mereka menyangsikan tapi tidak mengingkarinya ? Imam Syafi’i menyebut keraguan tersebut sebagai <em>kufur duna kufur</em>. Akan tetapi jika mengingkarinya maka termasuk kufur akbar. Imam Syafi’i merujuk pada ayat yang sama dalam Surat Al-Anfaal, ayat 60.</p>
<blockquote><p><strong><em>“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkanmusuh Allah, musuhmu dan orang-orang yang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.”</em></strong></p></blockquote>
<p>Yang diperintahkan Allah adalah menggentarkan musuh Allah dan bahkan mereka yang tidak datang. Imam As-Syafi’i berkata tentang hal ini,</p>
<p><em>“Ayat ini jelas menyuruh kita untuk bersiap dengan tujuan menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian. Allah SWT,. berfirman :</em></p>
<blockquote><p><strong><em>“Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu ; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dab menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan (terjamin keamanan mereka). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </em>(QS. At-Taubah : 3-5)<em> </em></strong></p>
<p><strong><em>“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” </em>(QS. Al-Anfaal : 12-13)</strong></p></blockquote>
<p>Imam Syafi’i berhujjah dari ayat-ayat tersebut bahwa terorisme adalah bagian dari agama (din), dan merupakan hukum syar’i dan Anda tidak dapat mengingkarinya.</p>
<p>Celakanya, istilah terorisme hanya digunakan sepotong-sepotong oleh musuh-musuh kaum muslimin selama bertahun-tahun dan kaum muslimin telah melupakan kewajibannya untuk menteror balik mereka. Allah SWT,. berfirman :</p>
<blockquote><p><strong><em>“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.”</em>(QS. Al-Ahzab : 26)</strong></p>
<p><strong><em>“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang yang melampau batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekkah) ; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil haram, kecuali jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”</em></strong></p>
<p><strong>(QS. Al-Baqarah : 190-193)</strong></p></blockquote>
<p>Ketika kaum kuffar datang dari jauh ke Irak untuk membunuh dan menawan kaum muslimin, seraya mengklaim bahwa mereka memerangi teroris, yang diartikan (menurut) mereka dengan menghancurkan masjid-masjid, menawan para muslimah, menginjak-injak Al-Qur’an sebagaimana mereka lakukan di Irak, bagaimana akan ada jawaban lain kecuali menteror balik mereka ?!!! Sesungguhnya Allah SWT,. berfirman :</p>
<blockquote><p><strong><em>“Apabila kamu bertemu dengan orang kafir (di medan perang) maka pancunglah leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti….”</em>(QS. Muhammad : 4)</strong></p></blockquote>
<p>Imam Syafi’i berkata,</p>
<p><em>“Oleh karena itu, menteror musuh Allah itu wajib syar’i hukumnya (berdasar nash) dan barangsiapa mengingkarinya maka kafir. Allah swt. Berfirman :<strong> “Tak seorang pun mengingkari ayat Kami kecuali di kafir.” </strong></em><strong>(QS. Al-Ankabut : 4)</strong><em>(Mausu’atul Syafi’i)</em></p>
<p><em> Ki</em>ni, kita berada di suatu waktu dimana jihad hukumnya fardhu a’in atas kaum muslimin dimana pun, baik secara fisik, finansial, maupun lisan. Berdasarkan kemampuan mereka. Jihad dan terorisme bukanlah suatu hal untuk ditakuti ataupun dihindari, dikarenakan menteror musuh Allah adalah perintah agama Islam. Barangsiapa memerangi teroris yang berjuang di jalan Allah, maka berarti memerangi Islam. Dan barangsiapa mengingkari bahwa terorisme adalah bagian dari Islam, maka dia mengingkari Allah SWT,. dan ayat-ayat-Nya.</p>
<p><em>Ya Allah…..Saksikanlah, kami sudah menyampaikannya…!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>(almuhajirun.net)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jw-marriot-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Pemimpin Syari&#039;ah</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/memilih-pemimpin-syariah/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/memilih-pemimpin-syariah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 07:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[pemilihan]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Memilih pemimpin didalam Islam merupakan kewajiban yang di tuntut oleh Syari’ah. Syari’ah menetapkan bahwa pemimpin yang harus dipilih ialah yang memiliki syarat-syarat dan kriteria yang sesuai dengan nash-nash syar’ie (Al Qur’an dan As Sunnah). Seorang Muslim wajib memilih pemimpin yang beriman dengan iman yang benar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan ta’at serta patuh kepada seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memilih pemimpin didalam Islam merupakan kewajiban yang di tuntut oleh Syari’ah. Syari’ah menetapkan bahwa pemimpin yang harus dipilih ialah yang memiliki syarat-syarat dan kriteria yang sesuai dengan nash-nash syar’ie (Al Qur’an dan As Sunnah). Seorang Muslim wajib memilih pemimpin yang beriman dengan iman yang benar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan ta’at serta patuh kepada seluruh syari’ah yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Nash yang menerangkan ini banyak, diantaranya firman Allah Swt yang berbunyi:</p>
<p><em>“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”</em> <strong>(QS. Al Maidah, 5 : 55).</strong></p>
<p>Jika kaum Muslimin memilih pemimpin yang memenuhi kriteria diatas pasti akan mendapat kemenangan dan pertolongan Allah Swt:</p>
<p><em>“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah Itulah yang pasti menang.”</em> <strong>(QS. Al Maidah, 5 : 56) </strong></p>
<p>Seandainya belum atau tidak ditemukan pemimpin yang memiliki ciri-ciri ini, maka kaum Muslimin harus berusaha bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya, dan harus memelihara diri agar tidak memilih pemimpin sekuler yang kafir, dhalim dan fasik, karena mereka menolak syari’at Allah. Allah berfirman yang berarti :</p>
<p><em>“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.”</em><strong> (QS. Al Maidah, 5 : 44, 45, 47)</strong></p>
<p>Allah Swt melarang keras memilih pemimpin sesat dan jahat seperti ini. Allah Swt menerangkan:<br />
<em> </em></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”</em><strong> (QS. Al Maidah, 5 : 51)</strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”</em> <strong>(QS. Al Maidah, 5 : 57)</strong></p>
<p>Lebih tegas, larangan itu di tambah dengan ancaman yang keras, yaitu neraka jahannam, kekal mereka didalamnya.<br />
<em> </em></p>
<p><em>“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”</em><strong> (QS. Hud, 11 : 113)</strong></p>
<p>Kaum Muslim mestilah cerdas, agar mereka selamat duniua dan akhirat.</p>
<p><em>Wallahu’alam bis showab…</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/memilih-pemimpin-syariah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perintah Untuk Beristiqamah Dalam Beragama</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/perintah-untuk-beristiqamah-dalam-beragama/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/perintah-untuk-beristiqamah-dalam-beragama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 17:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[istiqamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Dari Sufyan bin ‘Abdillah radhiallâhu ‘anhu, dia berkata: aku berkata : ‘wahai Rasulullah! Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau!, beliau bersabda: “ucapkanlah! ‘aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah!’ “. (H.R.Muslim)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #38394b; font-family: Verdana; font-size: 11px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Dari Sufyan bin ‘Abdillah radhiallâhu ‘anhu, dia berkata: aku berkata : ‘wahai Rasulullah! Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau!, beliau bersabda: <em>“ucapkanlah! ‘aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah!’ “</em>. <strong>(H.R.Muslim)</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Catatan: Demikian naskah asli dari Mushannif rahimahullah sebagaimana yang kami tampilkan diatas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sedangkan naskah asli dari riwayat Imam Muslim adalah sebagai berikut (kami tampilkan juga sebagai perbandingan):<br />
<strong><br />
Takhrij Hadits secara global</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Hadits diatas ditakhrij oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, at-Turmuzi, Ibnu Majah dan an-Nasai.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Makna Hadits secara global</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai untuk memberikan suatu nasehat yang amat berguna dan cukup bagi si penanya (perawi hadits) sehingga dia tidak akan bertanya lagi kepada orang lain tentang hal tersebut, lantas beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya agar mengucapkan : “aku beriman kepada Allah”, (serta segala konsekuensinya) kemudian beristiqamah alias memantapkan keimanannya tersebut dalam agama.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penjelasan Tambahan</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Mushannif memberikan sedikit keterangan tentang nama periwayat hadits tersebut, yaitu Sufyan bin ‘Abdullah at-Tsaqafi ath-Thaaifi, seorang shahabat dan pernah menjadi penguasa di Thaif pada pemerintahan khalifah ‘Umar bin al-Khaththab radhiallâhu ‘anhu .</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan; yaitu perawi hadits setelah itu bertanya lagi kepada Rasulullah: “wahai Rasulullah! Apa yang engkau paling takutkan dari diriku?” atau (dalam riwayat yang lain: “apa yang harus aku jaga?”, lantas Rasululullah memegang lisannya sembari bersabda: “ini!” atau dalam riwayat lain: beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat ke arah lisannya.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Perkataan Sufyan bin ‘Abdullah ats- Tsaqafi kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang kita bahas diatas: “‘wahai Rasulullah! Ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selain engkau! ” ; maksudnya adalah bahwa dia meminta kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam agar mengajarkannya suatu ucapan yang jaami’ (universal, valid) dan juga cukup yang berkaitan dengan ajaran Islam sehingga dia tidak membutuhkan (penjelasan) siapapun setelah beliau, lalu nabi bersabda kepada beliau “ucapkanlah! ‘aku telah beriman, kemudian beristiqamahlah! “. Dalam riwayat yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ucapkanlah! ‘Rabb-ku adalah Allah’ kemudian beristiqamahlah! “. Redaksi ini sepadan dengan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. 41/Fushshilat: 30) , dan firmanNya: “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan:‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”. (QS. 46/al-Ahqaaf:13).</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Pengertian “al-Istiqamah” dan istilah yang terkait dengannya</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Istiqamah</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Adalah berjalan di jalan yang lurus, yaitu ad-Diinul Qayyim tanpa adanya kepincangan baik ke kanan maupun ke kiri. Jadi, mencakup pelaksanaan segala bentuk keta’atan kepada Allah, baik yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah serta meninggalkan semua larangan-laranganNya. Dengan demikian wasiat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ini menjadi universal dan mencakup semua ajaran-ajaran agama.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
Diantara istilah lain yang berkaitan dengan istiqamah adalah sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “ash-Shahihain” dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “bertindaklah kalian secara benar yang mencapai tujuan/sasaran (as-Sadaad) dan bermuqarabah-lah (lakukan tindakan yang benar yang mendekati tujuan) “. Kedua istilah tersebut adalah:<br />
<strong><br />
As-Sadaad<br />
</strong><br />
Adalah hakikat dari istiqamah, yaitu bertindak benar dalam semua perkataan, perbuatan dan tujuan sebagaimana orang yang ingin mencapai suatu tujuan lantas dia melakukannya dengan benar. Dalam hal ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan ‘Ali agar berdoa kepada Allah memohon as-Sadaad dan al-Huda (petunjuk). Beliau bersabda kepadanya :“ingatlah kejituan kamu dalam mengarahkan anak panah ke sasaran (demikian pula tatkala memohon as-Sadaad kepada Allah, sebab makna asalnya demikian-red), dan (upayamu mendapat) petunjuk jalan agar kamu sampai ke tujuan perjalanan (demikian pula tatkala memohon petunjuk dari Allah-red)”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Al-Muqaarabah</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Adalah melakukan tindakan yang benar yang mendekati tujuan, jika belum mencapai tujuan yang sesungguhnya. Akan tetapi hal ini dilakukan dengan syarat, benar-benar bertekad untuk menuju as-Sadaad dan kejituan mencapai tujuan. Jadi, muqarabah yang dilakukannya terjadi dari ketidaksengajaan. Senada dengan hal ini, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits al-Hakam bin Hazn al-Kulafi: “wahai manusia sekalian! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat melakukan –atau tidak akan mampu (melakukan)- setiap apa yang aku perintahkan kepada kalian, akan tetapi berbuatlah secara as-Sadaad (bertindak secara benar yang mencapai tujuan/sasaran) dan berilah kabar gembira. Maknanya; capailah tujuan dan sasaran secara benar serta istiqamah sebab kalaupun mereka dapat melakukannya sesuai dengan sasaran/tujuan yang ingin dicapai dalam semua perbuatan niscaya mereka telah melakukan semua apa yang diperintahkan kepada mereka (sebab hal itulah yang dituntut-red).</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">
Alhasil, makna asal istiqamah adalah istiqamahnya (ketetapan/kemantapan) hati dalam bertauhid, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dan lainnya. FirmanNya “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah” (QS. Al-Ahqaaf: 13) ; hal ini direalisasikan oleh mereka dengan tidak mengalihkan perhatian kepada selainNya. Jadi, bila hati telah mantap (istiqamah) dalam ma’rifatullah (mengenal Allah), takut kepadaNya, mengagungkanNya, segan terhadapNya, mencintaiNya, menuju kepadaNya, mengharapkanNya, berdoa kepadaNya, bertawakkal kepadaNya serta berpaling dari selainNya, maka akan mantap (istiqamah) lah seluruh anggota badan untuk melakukan keta’atan kepadaNya. Sebab hati ibarat sang raja bagi seluruh aggota badan sedangkan anggota badan ibarat tentara-tentaranya; maka bila sang raja mantap dan lurus (istiqamah) niscaya tentara-tentara dan rakyatnya akan berbuat demikian.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Obyek yang perlu diperhatikan dalam beristiqamah</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Obyek yang paling utama dari seluruh anggota badan setelah hati untuk diperhatikan agar tetap istiqamah adalah lisan . Lisan ibarat penerjemah bagi hati dan juru bicaranya; oleh karena itu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar beristiqamah, beliau mewasiatkan Sufyan (perawi hadits dalam pembahasan kita ini) agar menjaga lisan nya.<br />
Mengenai statement ini, terdapat beberapa hadits yang mendukungnya, diantaranya:</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Hadits dalam musnad Imam Ahmad dari Anas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “keimanan seorang hamba tidak akan mantap/lurus (istiqamah) hingga hatinya mantap/lurus, dan hatinya tidak akan mantap hingga lisannya juga demikian”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Hadits dalam sunan at-Turmuzi dari Abu Sa’id al-Khudri secara marfu’ dan mauquf: “bila anak Adam menjelang pagi, maka seluruh anggota badannya akan meminta kaffaarat (jaminan/tebusan) dari lisan, sembari berkata:‘takutlah kepada Allah terhadap (nasib) kami; jika engkau lurus/mantap maka kamipun akan demikian, dan jika engkau bengkok maka kamipun akan demikian’ “.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penafsiran Ulama Salaf Tentang Makna “al-Istiqamah”</strong><br />
<strong><br />
Penafsiran Abu Bakar ash-Shiddiq</strong><br />
Beliau berkata mengenai ayat: “…kemudian mereka tetap istiqamah…” ; “mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun”. Dalam riwayat lain, dia berkata: “mereka tidak mengalihkan perhatian kepada tuhan yang lain selainNya”. Dalam riwayat lain lagi dari beliau: “kemudian mereka tetap istiqamah untuk (menyatakan) bahwa Allah lah Rabb mereka”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penafsiran Ibnu ‘Abbas</strong><br />
Terdapat riwayat dengan sanad dha’if (lemah), yaitu perkataan beliau :“inilah ayat yang paling singkat dalam Kitabullah : firmanNya: ” mereka mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah (meneguhkan pendirian mereka) ; (yaitu) dalam kalimat syahadat laa ilaaha illallaah. Demikian pula diriwayatkan dalam versi yang sama dari Anas, Mujahid, al-Aswad bin Hilal, Zaid bin Aslam, as-Sudday, ‘Ikrimah dan selain mereka. Dan dalam riwayat lain dari ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, dia berkata mengenai firman Allah : “…kemudian mereka tetap istiqamah…” ; yaitu mereka tetap istiqamah dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang diembankan oleh Allah kepada mereka”. (diriwayatkan oleh ath-Thabari; dalam periwayatan ini, ‘Ali bin Abi Thalhah tidak pernah bertemu dengan Ibnu ‘Abbas).</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penafsiran ‘Umar bin al-Khaththab</strong><br />
Terdapat riwayat dari umar dengan sanad munqathi’ (terputus) meskipun perawi-perawinya tsiqat, bahwa saat diatas mimbar dia pernah membaca ayat dalam firmanNya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah”, kemudian mengomentarinya: “…mereka tidak meraung seperti raungan srigala”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Penafsiran Abul ‘Aliyah</strong><br />
Mengenai ayat tersebut dia berkata: “…kemudian mereka mengikhlaskan agama dan amalnya kepadaNya semata”. (Ibnu Katsir melansir hal ini dalam tafsirnya terhadap ayat ini).<br />
<strong><br />
Penafsiran Qatadah</strong><br />
Mengenai ayat tersebut dia berkata: “mereka tetap istiqamah (konsisten) dalam berbuat taat kepada Allah”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #38394b; font-family: Verdana; font-size: 11px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Sikap al-Hasan (al-Bashri-red)</strong><br />
Ketika mendengar ayat tersebut, al-Hasan berkata: “ya Allah! Engkau Rabb kami, karenanya anugerahilah kami istiqamah/kemantapan hati (dalam agama)”.<br />
<strong><br />
Penjelasan Mushannif Mengenai Penafsiran Makna “al-Istiqamah”</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Mushannif mengomentari : “Barangkali maksud mereka yang mengatakan bahwa makna al-Istiqamah adalah (istiqamah) dalam bertauhid, sesungguhnya hal itu dalam kapasitas maknanya yang universal yang mengharamkan Ahlinya masuk ke dalam api neraka; yakni merealisasikan makna laa ilaaha illallaah sebab makna kata al-Ilaah adalah Yang dita’ati baik dalam kondisi takut kepadaNya, mengagungkanNya, segan terhadapNya, mahabbah/cinta terhadapNya, mengharapkanNya, bertawakkal ataupun berdoa kepadaNya, bukan Yang dimaksiati. Sedangkan perbuatan maksiat, semuanya dapat mencacati makna tauhid ini karena tidak lain ditujukan untuk mengabulkan ajakan orang yang menyeru kepada pelampiasan hawa nafsu, yaitu syaithan. Allah Ta’ala berfirman: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya …(QS. 45/al-Jatsiah: 23). Al-Hasan al-Bashri dan lainnya berkata: “orang tersebut adalah orang yang hanya menuruti hawa nafsunya”. Dan hal ini bertentangan dengan makna istiqamah dalam bertauhid.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Sedangkan bila berdasarkan periwayatan dengan lafazh “ucapkanlah! Aku beriman kepada Allah…” ; maka maknanya lebih jelas karena makna iman itu sendiri mencakup seluruh amal shalih menurut ulama Salaf dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan Ahlul Hadits. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. 11/Huud: 112). Dalam ayat ini, Allah memerintahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang bertaubat bersamanya agar tetap istiqamah (meneguhkan pendirian) dan tidak melampaui batas dari apa yang diperintahkan kepadanya dan memberitahukannya bahwa Dia Ta’ala Maha Melihat dan Mengawasi semua perbuatan-perbuatan mereka. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka …”. (QS. 42/asy-Syuura: 15). Qatadah berkata, mengomentari ayat ini: “Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan agar tetap istiqamah dalam ajaran Allah”. Imam (Sufyan-red) ats-Tsauri berkata, berkaitan dengan ayat tersebut: ” (tetap itstiqamah) dalam menjalankan al-Qur’an”.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;"><strong>Ayat-Ayat yang memerintahkan agar tetap istiqamah dalam bertauhid</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya…”. (QS. 41/Fushshilat: 6). Demikian pula, Allah Ta’ala memerintahkan agar menegakkan agama ini secara umum,/menyeluruh sebagaimana firmanNya: “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…”. (QS. 42/asy-Syuura: 13). PerintahNya dalam banyak ayat agar mendirikan shalat semakna dengan kedua ayat tersebut yang memerintahkan agar tetap istiqamah dalam bertauhid.<br />
Cara mengatasi keterbatasan dalam beristiqamah<br />
Keterbatasan dalam beristiqamah yang telah diperintahkan oleh Allah tidak akan dapat dihindari, oleh karena itu sebagai upaya untuk menggantikan dan menyempurnakannya kita diperintahkan untuk memohon ampunan kepadaNya sebagai bentuk taubat dan kembali ke jalan istiqamah. Hal ini disinggung dalam firman Allah Ta’ala berfirman: “…maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya… “.(QS. 41/Fushshilat: 6). Ayat ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz bin Jabal: “takutlah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah (timbalilah) perbuatan jelek dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus (kejelekan tersebut)”. Sebab, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain bahwa manusia tidak akan sanggup beristiqamah dengan sebenar-benar istiqamah (H.R.Ahmad).<br />
<strong><br />
Intisari Hadits</strong></p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Istiqamah amat terkait dengan tauhid dan keimanan yang benar terhadap Rabb.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Jalan menuju istiqamah amat sulit dan tidak mungkin dapat beristiqamah dengan sebenar-benarnya, karenanya perlu dibarengi dengan istighfar sebagai bentuk taubat dan upaya kembali ke jalan istiqamah.</p>
<p style="margin: 4px 0px 8px; background-color: transparent; font-family: Verdana,Geneva,Tahoma,'Trebuchet MS',Arial,sans-serif; font-size: 12px; color: #38394b;">* Obyek utama dari anggota badan setelah hati yang perlu dijaga agar dapat beristiqamah adalah lisan.</p>
<p></span></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/perintah-untuk-beristiqamah-dalam-beragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syari&#039;at Jilbab Di Politisir Karena Haus Kuasa</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/syari%e2%80%99at-jilbab-di-politisir-karena-haus-kuasa/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/syari%e2%80%99at-jilbab-di-politisir-karena-haus-kuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 03:32:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abujibriel.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[Aduhai kecelakaan besarlah bagi orang yang mendustakan ayat Allah, PKS telah meredukasi perintah Allah ta'ala terhadap kewajiban jilbab:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong>TEMPO, 7 Juni 2009, Hal 29.</strong><br />
Saat itu PKS tengah gelisah setelah calon wakil presidennya ditolak Yudhoyono. Seraya terus bernegosiaai dengan Partai Demokrat, partai pemenag ke empat dalam pemilihan umum april, lalu ini juga lirak-lirik menjajaki kemungkinan pindah kongsi. Peluang ini cepat di tangkap tim Kalla.</p>
<p style="text-align: left;">Menurut sumber TEMPO yang hadir dalam pertemuan itu, Hilmi sempat berkeluh kesah kepada Kalla tentang kader partainya yang bakal sulit memilih pasangan Yudhoyono-Boediono, karena isteri mereka tidak berkerudung, jawaban Kalla ringkas tangkas, “Ya sudah, pilih saya saja nanti.” Pasangan Kalla dan Wiranto memang beristrikan perempuan berjilbab.</p>
<p style="text-align: left;">Sejak itulah isu jilbab istri calon presiden dan wakilnya terangkat menjadi amunisi kampanye dan di diskusikan dimana-mana. Namun, ketika dihubungi pekan lalu, Hilmi membantah melontarkan isu jilbab ini dihadapan Kalla. “Tidak pernah,” katanya pendek. PKS, kata Hilmi, hanya berpatokan pada undang-undang dalam menilai kompetisi pemilihan presiden. “Kami juga tidak pernah menyarankan ibu Ani Yudhoyono agar berjilbab,” katanya. Presiden PKS, Tifatul Sembiring malah lebih keras. “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?” katanya. “Soal selembar kain kok dirisaukan!.&#8221;</p>
</blockquote>
<p>Aduhai kecelakaan besarlah bagi orang yang mendustakan ayat Allah, PKS telah meredukasi perintah Allah ta&#8217;ala terhadap kewajiban jilbab:</p>
<p><em>“Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”</em> <strong>(Qs. An Nur, 24:31) </strong></p>
<p><em>“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </em><strong>(Qs. Al Ahzdab, 33:59)</strong></p>
<p>“Menjadikan hanya Selmbar kain demi dunia yaitu koalisi dengan SBY untuk target kursi jatah PKS.” Bacakan kepada mereka ayat ini:</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka Itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”</em><strong> (Qs. At Thagabun, 64:10)</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em> <strong>(Qs. An Nisa’, 4:56)</strong></p>
<p>Ternyata dunia menjadikan manusia bodoh dan menjual Syari&#8217;ah Islam. Kepada pemimpin yang seperti inilah yang di ancam oleh firman Allah:</p>
<p><em>“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman” </em><strong>(Qs. Ibrahim, 14:28-29)</strong></p>
<p><em>“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: &#8220;Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul&#8221;. Dan mereka berkata;:&#8221;Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” </em><strong>(Qs. Al Ahzab, 33, 66-68)</strong></p>
<p>Semoga mereka sadar, amien. <em>Wallahu’alam… </em></p>
<p><strong>Sebarkan…!!!</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong><a href="http://www.sendspace.com/file/5b609c" target="_blank">Download Malakah</a></strong></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/syari%e2%80%99at-jilbab-di-politisir-karena-haus-kuasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
