<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>abujibriel.com &#187; Makalah</title>
	<atom:link href="http://www.abujibriel.com/category/makalah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.abujibriel.com</link>
	<description>Al Qur&#039;an Sebagai Pedoman, Pedang Sebagai Pengawal</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 03:06:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Teladan Rasulullah Menyikapi Fitnah dan Ujian Dalam Dakwah dan Jihad</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 02:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah dan Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirohmanirrohim… Perjalanan Dakwah dan Jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Itulah perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang Shalih. Satu perjalanan yang tidak menawarkan arama harum dari minyak kasturi, kilauan intan- mutiara dan emas berlian yang bercahaya, sebaliknya dipenuhi onak dan duri, batu dan kerikil, tanah pejal mendaki dan berkelok. Hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bismillahirohmanirrohim…</em></p>
<p>Perjalanan Dakwah dan Jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Itulah perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang Shalih. Satu perjalanan yang tidak menawarkan arama harum dari minyak kasturi, kilauan intan- mutiara dan emas berlian yang bercahaya, sebaliknya dipenuhi onak dan duri, batu dan kerikil, tanah pejal mendaki dan berkelok. Hampir tidak ada yang ingin mengikuti dan menempuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang diberi Rahmat dan Barakah. Teror dan berbagai ancaman ditimpakan kepada para Rasul Allah Swt, para Sahabat-sahabat dan Orang-orang Shalih dari para Ulama’ dan Para Mujahid sesudah para Sahabat, tidak ada yang terlepas dari kezaliman, siksaan, pembantaian dan pembunuhan. Perhatikanlah firman Allah Swt berikut:</p>
<p>1) Nabi Nuh As telah di ancam rajam.</p>
<p><em>“Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan Termasuk orang-orang yang dirajam.”</em> <strong>(QS As Syua’ara, 26:116)</strong></p>
<p>2) Nabi Luth As diancam untuk diusir.</p>
<p><em>“Mereka menjawab: “Hai Luth, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu Termasuk orang-orang yang diusir.”</em> <strong>(QS. As Syua’ara, 26:167)</strong></p>
<p>3) Nabi Ibrahim As diancam untuk dibakar.</p>
<p><em>“Mereka berkata: “Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”</em><strong>(QS. Al Anbiya’, 21:68-69)</strong></p>
<p>4) Nabi Yusuf As diancam untuk dipenjara.</p>
<p><em>“W</em><em>anita itu berkata: “Itulah Dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda Dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi Dia menolak. dan Sesungguhnya jika Dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya Dia akan dipenjarakan dan Dia akan Termasuk golongan orang-orang yang hina.” Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.” </em><strong>(QS. Yusuf, 21:32-33)</strong><em></em></p>
<p>5) Nabi Musa As diancam penjara dan bunuh.</p>
<p><em>Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.”</em> <strong>(QS. As Syua’ara, 26:29)</strong></p>
<p><em>“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena Sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari Setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”</em> <strong>(QS. Al Mukmin, 40:26-27)</strong></p>
<p>6) Para Nabi diancam untuk diusir dan dirajam.</p>
<p><em>“Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri Kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.”</em> <strong>(QS. Ibrahim, 14:13-14)</strong></p>
<p><em>Mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami bernasib malang karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya Kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.”</em> <strong>(QS Yasin, 36:18)</strong></p>
<p>7) Adapun Nabi Muhammad Saw dihina dan dikatakan sebagai seorang penyair gila.</p>
<p><em>“Dan mereka berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?.” </em><strong>(QS. As Shaffat 37:36)</strong></p>
<p>Dan beliau diancam untuk; ditangkap, dipenjara, diusir dan dibunuh,</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” </em><strong>(QS. Al Anfal, 8:30)</strong></p>
<p>Dan pernah juga Rasulullah Saw difitnah dalam keluarganya, isterinya yang sangat dicintainya Ash Shiddiqah binti Ash Shiddiq, Aisyah Ra yang terkenal dengan HADITUL IFIK (Berita Bohong). Dan hal ini merupakan suatu bentuk yang akan terus berulang pada setiap generasi, dimana sasaran utama dari tuduhan itu sebenarnya diarahkan kepada pemimpin dengan tujuan hendak menghancurkan kepercayaan para pendukung beliau terhadap kepemimpinan tersebut.</p>
<p>Itulah tradisi yang selalu berulang disepanjang sejarah, bila kekuatan fisik tidak mampu membunuh karakter pimpinan, maka di hadapan musuh tidak ada lagi jalan yang bisa ditempuhnya selain perang psikologis terhadap kepemimpinan tersebut, dengan cara menghancurkannya lewat perang seperti ini. Karena itu, di sini ditampilkan kisah keteladanan ini <em>(HADITUL IFIK)</em> supaya para Da’i dan Mujahid serta para pendukungnya tidak mudah lemah dalam menghadapi segala ujian dan fitnah yang menimpanya, karena musuh selalu menggunakan isu seperti ini, sebagai perang isu yang disebarluaskan oleh musuh dikalangan barisan Islam untuk menghancurkan pimpinan.</p>
<p>Yang terpenting diingat dalam peristiwa ini adalah bahwa berita bohong itu sebagaimana yang telah jelas bersumber dari kaum munafik di bawah bendera pimpinan mereka, Abdullah bin ubay bin Salul. Ketika berita bohong itu masih beredar di kalangan orang-orang munafik, memang tidak ada bahaya apa pun yang bisa mereka timbulkan. Akan tetapi, ketika berita itu sudah masuk ke dalam lingkungan kaum Muslimin, dengan segera berita itu menyebar bagai api membakar jerami. Barulah saat itu tampak betapa besar bahaya keberadaan kaum munafik di tengah umat Islam.</p>
<p>Nash Al Qur’an sendiri, ketika menceritakan peristiwa ini, ternyata lebih banyak mengarahkan tegurannya terhadap kaum Muslimin daripada kepada kaum munafik. Agaknya Al-Qur’an hendak memberi pendidikan terhadap kaum Mukminin yang benar-benar beriman, tapi masih dapat dipengaruhi oleh berita bohong ini dan masih mau menerima pembicaraan orang yang menyangka-nyangka tanpa bukti.</p>
<p>Adapun pelajaran-pelajaran terpenting yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan berita bohong ini, ialah sebagai berikut.</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong><em>, </em>menghindari tuduhan yang masih bersifat prasangka adalah kewajiban pokok yang wajib ditunaikan kaum muslimin. Mereka -terutama para pemimpin- juga harus menyadari bahwa prasangka seperti itu menjadi pusat perhatian lawan maupun kawan. Karena itu, sedapat mungkin agar dapat menghindari tempat-tempat dan hal apa pun yang bisa menimbulkan prasangka buruk.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong><em>,</em> jangan menerima isu begitu saja, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala dalam al Qur’anul Karim,</p>
<p>“<em>Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah di sisi Allah adalah pendusta.”</em> <strong>(QS. An Nur, 24:13)</strong></p>
<p>Berita apa pun yang tidak diperkuat dengan bukti, harus ditolak oleh setiap Muslim. Hendaklah pula dia menyadari bahwa menceritakan isu kepada orang lain dan menularkan berita yang tidak diperkuat dengan bukti akan mengubah statusnya menjadi pendusta. Ini adalah ketetapan Al Qur’an terhadap manusia-manusia semacam itu mereka adalah pendusta di sisi Allah, sekalipun orang itu sebenarnya bukanlah yang mengada-ngada berita tersebut dan sekalipun dia sekedar menukilkan dengan sejujurnya apa yang sebenarnya dia dengar dari seseorang, namun dia di sisi Allah tetap tergolong para pendusta.</p>
<p><strong><em>Ketiga,</em></strong><em> </em>untuk menimbang secara cermat dalam menilai benar-tidaknya suatu isu, bandingkanlah pribadi orang yang diisukan itu dengan diri anda sendiri. Dengan demikian, pastilah Anda akan tetap memercayai teman Anda itu seperti halnya memercayai diri Anda sendiri. Cara menimbang seperti itu diakui dan dipuji oleh Al Qur’anul Karim, yaitu berkenaan dengan suatu perbincangan antara Abu Ayyub Al Anshari dengan istrinya, Ummu Ayub Ra. Wanita itu berkata,</p>
<p>”Tidaklah kamu mendengar apa yang dikatakan orang mengenai Aisyah?”</p>
<p>“Ya, tapi itu bohong,” jawab si suami, “Apakah kamu melakukannya juga, hai ummu Ayyub?”</p>
<p>“Tidak, demi Allah,”kata si istri, “Mengapa aku harus meniru orang-orang itu?”</p>
<p>“Abu Ayyub menegaskan, “Demi Allah, Aisyah itu lebih baik darimu.” <strong><em>(Ibnu Hisyam, (As Sirah An Nabawiyah, II/303).</em></strong></p>
<p>Semoga saudaraku, yang masih juga menyebarluaskan isu mengenai temannya atau pemimpinnya, kiranya mau menghitung-hitung barang sedikit, benarkah temannya atau pemimpinnya itu lebih jelek perhatiannya terhadap agama ketimbang dirinya dan benarkah keduanya lebih rapuh kepatuhannya kepada agama dan lebih rendah budinya ketimbang dirinya? Andaikan menimbang diri seperti itu dia lakukan pastilah prasangka buruk itu akan musnah dari pikirannya dan robohlah kabar bohong itu sampai ke akar-akarnya.</p>
<p><strong><em>Keempat, </em></strong>jangan sekali-kali membiarkan hawa nafsu ikut campur dan berperan dalam menyelesaikan soal tersebarnya kabar bohong.</p>
<p>Di sini, ada dua contoh yang saling berlawanan berkenaan dengan berita bohong tersebut di atas. Yang satu lebih suka memperturutkan hawa nafsu, sedangkan yang lain tidak. Dua contoh itu ditampilkan oleh dua wanita Muslimat bersaudara kandung. Yang pertama ialah Zainab binti Jahsy Ra, salah seorang istri Rasulullah Saw dan yang kedua ialah Hamnah binti Jahsy Ra.</p>
<p>Al Muqrizi telah meriwayatkan dari Zainab tentang dialog yang dilakukannya dengan Rasulullah Saw, di mana istri yang baik budi itu mengatakan kepada suaminya, “Terpeliharalah kiranya pendengaranku dan penglihatanku. Aku tidak melihat pada Aisyah kecuali yang baik-baik saja. Demi Allah, aku tak pernah mengajaknya bicara dan aku memang benar-benar mendiamkannya, tetapi aku hanya mengatakan yang benar.” <strong><em>(Al Muqrizi, Imta’ul Asma’ 1/208).</em></strong></p>
<p>Jika seorang ‘<em>madu’</em> sedemikian hebatnya mampu menahan hawa nafsunya untuk tidak ikut-ikut menyebarkan isu, itu menunjukkan betapa tinggi derajat keluhuran budi yang telah dicapai oleh wanita Muslimat ini. Kemudian menyatakan bahwa Zainab sama sekali tidak terlibat dalam menyebarkan berita bohong ini. Dalam suatu pembicaraan, Aisyah Ra. Bahkan pernah mengatakan, “Tidak seorang pun yang menyaingiku di sisi Rasulullah Saw selain Zainab binti jahsy.”</p>
<p>Dengan pernyataan ini, agaknya Aisyah menempatkan Zainab pada posisinya secara tepat dalam persaingannya dengan dirinya sebagai sesama istri Rasulullah Saw. Namun demikian, dia tidak berkeberatan untuk memuji madunya itu berkenaan dengan kasus berita bohong tersebut. Aisyah mengatakan, “Adapun Zainab benar-benar dipelihara Allah, berkat kepatuhannya kepada agamanya. Dia tidak berkata apa-apa.”</p>
<p>Lain halnya dengan sikap kedua yang ditunjukkan oleh Hammah, saudara perempuan kandung Zainab. Dia justru ikut menyebarluaskan berita bohong itu dari rumah ke rumah, seolah-olah tak ada halangan apa pun di depan matanya, meski semua itu sebenarnya dia lakukan demi membela posisi Zainab di sisi Rasulullah Saw. Sampai-sampai Aisyahsberkata, menanggapi perbuatan saudara madunya itu, “Adapun saudara perempuan Zainab, Hammah, dia menyebarkan berita bohong itu seluas-luasnya. Dia melawan aku demi saudaranya. Tapi gara-gara itu, dia celaka.”</p>
<p>Bagaimanapun, kita kagum sekali kepada Aisyah Ra. Karena ternyata dia mampu membedakan antara dua sikap yang berbeda dari kedua wanita bersaudara kandung itu dan sama sekali tidak menimpakan kepada Zainab kesalahan yang dilakukan saudaranya itu.</p>
<p><strong><em>Kelima,</em></strong><em> </em>beban terberat dalam mengahdapi <em>haditsul-ifki</em> adalah sikap yang mesti diambil oleh orang yang diisukan.</p>
<p>Adapun manhaj yang harus menjadi pegangan dalam hal ini ialah janganlah membalas berita bohong dengan berita bohong yang lain dan janganlah membalas isu yang dusta dengan isu lain yang serupa. <strong>Hendaklah pula orang yang diisukan itu mampu menahan diri. Maksudnya, jangan membiarkan lidahnya berbicara yang melanggar kehormatan orang lain, sekalipun orang lain itu telah menganiaya dirinya, sampai terbukti dirinya benar dan tidak bersalah.</strong> Inilah sikap yang sangat penting, yang kita serukan kepada siapa pun yang sedang terkena isu.</p>
<p>Sekarang, baiklah kita perhatikan teladan yang baik yang telah dicontohkan oleh tiga contoh yang terlanggar kehormatannya dalam kasus <em>haditsul ifki</em> tersebut di atas.</p>
<p><strong>Muhammad Rasulullah Saw</strong>, junjungan seluruh umat manusia, yang diwaktu itu beliau juga berstatus sebagai panglima, kepada Negara, dan pemegang kekuasaan. Dengan hanya satu isyarat saja dari beliau, sebenarnya dapat saja melayang nyawa siapa pun yang berani mempecundangi kehormatan beliau. Namun demikian, dalam mengahdapi masalah ini -setelah bermusyawarah dengan para sahabatnya yang terkemuka- beliau hanya berpidato di hadapan kaum muslimin di atas mimbar seraya berpesan, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, “Hai sekalian manusia, mengapa ada orang-orang yang menyakitiku mengenai keluargaku dan mengatakan yang tidak benar mengenai mereka. Demi Allah, aku lihat keluargaku baik-baik saja. Orang-orang itupun mengatakan pula hal yang serupa terhadap seorang lelaki, yang demi Allah, aku lihat dia pun baik-baik saja dan dia tak pernah masuk ke salah satu rumah di antara rumah-rumah (keluarga)ku kecuali bersamaku.”</p>
<p>Begitu pula terjadi suatu krisis hubungan antara dua kelompok, Aus dan Khajraj, berkenaan dengan berita bohong ini, Rasulullah Saw tak lebih hanya menjadi penengah, sekalipun salah satu pihak menyatakan pembelaannya terhadap orang-orang yang terlibat dalam mencaci maki Aisyah s. Sedang yang lain menyerangnya dengan berbagai tuduhan. Walaupun demikian, beliau hanya meredakan emosi masing-masing dan tidak berpihak kepada siapapun karena beliau tidak memiliki bukti-bukti untuk membantah pihak yang menuduh. Walaupun ketika Shafwan Ra. Melampiasakan kekesalannya yang amat sangat dalam membela dirinya, lalu dipukulnya Hasan bin Tsabit atas tuduhannya, Rasulullah Saw tetap tidak mendorongnya atau pun memberinya semangat untuk meneruskan tindakannya itu selagi belum ada bukti, padahal beliau tengah berupaya membersihkan segala tuduhan atas diri orang yang paling ia cintai, Aisyah ra.</p>
<p>Pada waktu itu, Hassan maupun Shafwan telah hadir di hadapan Rasulullah Saw. Marilah kita perhatikan pengadilan yang tenang itu terhadap dua orang prajurit yang telah bertindak melampaui batas.</p>
<p>Shafwan Ibnul Mu’athal berkata, “Ya Rasul Allah, dia telah menyakiti hatiku dan mengejekku, lalu aku marah sampai aku memukulnya.”</p>
<p>Bersabdalah Rasulullah Saw kepada Hassan, “Bersikap baiklah kamu hai Hassan, Tegakah kamu menjelek-jelekkan kaumku, padahal Allah telah menunjuki mereka kepada Islam?” Beliau lalu menasehatinya pula seraya bersabda, “Berbuat baiklah kamu, hai Hassan, mengenai pukulan yang telah menimpa dirimu.”</p>
<p>Hassan pun menerima nasihat beliau, lalu dia serahkan <em>diyat</em> (denda) atas pukulan itu kepada beliau, seraya berkata, “<em>Diyat</em>-nya untukmu wahai Rasul Allah.”</p>
<p>Menurut riwayat Ibnu Ishak, “Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwa Rasulullah Saw kemudian memberi Hassan sebidang tanah sebagai pengganti dari <em>diyat</em>nya itu dan ditambahnya pula dengan seorang budak wanita mesir bernama Sirin. Wanita itu dikemudian hari melahirkan untuknya seorang anak bernama Abdurrahman bin Hassan.” <strong>(Ibnu Hisyam, II/305-306)</strong></p>
<p>Demikian pukulan yang di lakukan Shafwan terhadap Hassan telah dibayar dengan sebidang tanah dan seorang budak wanita. Rasulullah-lah yang membayarnya kepada Hassan bin Tsabit, setelah dia menyatakan memberi maaf kepada Shafwan Ibnu Mu’aththal, padahal orang yang diberi itu tadinya telah mengubah sya’ir yang berisi tuduhan terhadap istri beliau sendiri dan dengan sya’irnya itu ia pergi ke mana-mana menyebarluaskan isu itu tanpa henti.</p>
<p><strong>Abu Bakar Ra dan istrinya, Ummu Ruman</strong>. Mereka berdua telah mendapat cobaan luar biasa yang tak pernah menimpa seorang Muslim lainnya. Walau demikian, yang dikatakan oleh ibu yang penyabar itu, yang telah dipecundangi kehormatannya, dikecam dan dihina, tak lebih dari, “Anakku, tenangkan dirimu. Demi Allah, seorang wanita cantik menjadi istri seorang lelaki yang mencintainya, sedangkan madunya pun banyak, jarang sekali yang luput dari omongan-omongan yang di lontarkan oleh madu-madunya maupun oleh orang lain.”</p>
<p>Adapun Abu Bakar Ra tak bisa berbicara apa-apa selain, “Saya tak pernah melihat satupun keluarga di kalangan bangsa Arab yang mengalami cobaan seperti yang dialami keluarga Abu bakar. Demi Allah, omongan-omongan ini tak pernah di ucapkan orang terhadap kami di zaman Jahiliyah, di kala kami tidak menyembah Allah. Tetapi, di masa Islam, justru kami mengalaminya!”</p>
<p><strong>Aisyah,</strong> yang tak henti-hentinya menangis sehingga dia yakin tangis itu akan menghentikan detak jantungnya. Ketika dia berhadapan dengan Rasulullah Saw dan beliaupun menanyakan kepadanya mengenai berita itu, dan dia hanya mengatakan, “Sesungguhnya aku, demi Allah, telah tahu betul bahwa tuan-tuan telah mendengar berita ini, lalu hati tuan tuan-tuan termakan olehnya lalu mempercayainya. Jadi, kalaupun aku katakan kepada tuan-tuan bahwa aku tidak bersalah, tuan-tuan takkan mempercayaiku. Kalau pun aku mengakui kepada tuan-tuan tentang sesuatu, yang Allah pasti tahu aku bersih darinya, barulah tuan-tuan akan mempercayaiku. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mendapatkan suatu teladan untuk diriku selain ayah nabi Yusuf ketika dia berkata, “….maka kesabaran baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah di mohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu sekalian ceritakan. (QS. Yusuf : 18).</p>
<p>Sungguh, itulah sikap yang tiada taranya dalam sejarah dari sebuah keluarga paling suci di muka bumi ini. Mereka dipecundangi kehormatan dan kemuliaanya, namun tidak seorang pun dari mereka yang keluar batas dan tidak terlontar sepatah kata pun dari mereka yang meninggung perasaan orang lain, bahkan masing-masing tetap mampu mengendalikan urat sarafnya.</p>
<p>Adapun yang keluar batas hanyalah Shafwan Ibnu Mu’aththal Ra. Saking kesalnya, dia pukul Hassan dengan pedangnya dan hampir saja ketelanjurannya mengakibatkan perisyiwa besar seandainya tidak segera dilerai oleh Rasulullah Saw.</p>
<p>Demikianlah adab Islam yang luhur terhadap orang-orang yang menyebarluaskan isu yang keliru dan berita bohong.</p>
<p><strong><em>Keenam,</em></strong> sikap terakhir yang dapat kita simpulkan dari peristiwa <em>haditsul-ifki</em> ialah menghukum orang-orang yang terpedaya yang terlibat dalam menyebarkan fitnah. Dengan demikian, berarti tidak cukup dengan pernyataan bahwa si tertuduh tidak bersalah dan tidak cukup dengan sekadar sang pemimpin menolak segala perkataan buruk yang dilontarkan kepada pihak yang terkena fitnah, lalu habis perkara. Harus ada hukuman tegas yang dilaksanakan di tengah masyarakat muslim terhadap siapa pun yang menyebarkan isu, setelah dilakukan pemeriksaan secermat-cermatnya.</p>
<p>Akan tetapi, kenyataan yang terjadi sekarang, gerakan Islam malah membiarkan begitu saja si penyebar isu dan berita bohong. Karenanya, masyarakat tak habis-habisnya digoncang oleh berbagai macam fitnah.</p>
<p>Sebagai contoh, cukuplah kita sampaikan bahwa hukum Islam terhadap tiga tokoh penyebar berita bohong tersebut, Misthah bin Utsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hammah binti Jahsy, ialah dijatuhkannya hukuman <em>had al-qadzaf</em> kepada mereka, yakni didera delapan puluh kali, sekalipun ada sebagian riwayat yang menyatakan bahwa jenis hukuman ini baru diterapkan sesudah itu. Jadi, tidak dilaksanakan terhadap ketiga orang itu. Hal ini karena mereka melakukan tuduhan sebelum turunnya ayat mengenai hukuman-hukuman had.</p>
<p>Peristiwa seperti ini justru terjadi pada periode da’wah ini karena sejarah da’wah sebelumnya memang tak pernah menyaksikan terjadinya peristiwa yang serupa di kalangan masyarakat Islam sendiri. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa terjadinya isu biasanya pada saat lemahnya bangunan internal dan pada saat ada kesiapan untuk menerima isu. Sebaliknya, di kala umat sibuk dengan perjuangan dan peperangan menghadapi musuh, jarang sekali isu dapat memengaruhi jiwa mereka.</p>
<p>Dari pelajaran diatas cukuplah bagi kaum Muslimin dan Muslimah yang baru bergabung dalam perjuangan ini menjadikannya sebagai teladan hidup yang paling berharga.Semoga keberkatan untuk kita.</p>
<p><em>Wallahu’alam…</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/teladan-rasulullah-menyikapi-fitnah-dan-ujian-dalam-dakwah-dan-jihad-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gurita Yahudi Dalam Kehidupan Ummat Islam</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/gurita-yahudi-dalam-kehidupan-ummat-islam/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/gurita-yahudi-dalam-kehidupan-ummat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 02:55:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[MUKADDIMAH Rasulullah Saw memberikan peringatan kepada ummatnya bahwa menjelang datangnya hari qiyamat, berbagai macam fitnah akan datang menimpa mereka. Fitnah itu sangat dahsyat, gambaran dahsyatnya seperti potongan malam yang gelap gulita sehingga seseorang beriman dipagi hari sore-sore sudah menjadi kafir dan sebaliknya, manusia menggadaikan agamanya semata-semata karena kesenangan dunia yang sedikit. Renungkan hadits berikut: عَنْ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MUKADDIMAH</h3>
<p>Rasulullah Saw memberikan peringatan kepada ummatnya bahwa menjelang datangnya hari qiyamat, berbagai macam fitnah akan datang menimpa mereka. Fitnah itu sangat dahsyat, gambaran dahsyatnya seperti potongan malam yang gelap gulita sehingga seseorang beriman dipagi hari sore-sore sudah menjadi kafir dan sebaliknya, manusia menggadaikan agamanya semata-semata karena kesenangan dunia yang sedikit. Renungkan hadits berikut:</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا ». رواه مسلم</p>
<p>Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah SAW bersabda: <em>“Bersegeralah kamu melakukukan amal-amal (yang shalih) sebelum datangnya fitnah menimpa kamu, bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pagi-pagi seseorang beriman, sore-sore dia telah menjadi kafir, atau sore-sore seseorang beriman, pagi-pagi dia telah menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia.”</em> <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Dalam riwayat Imam Hakim dalam kitabnya Al Mustadraq ada tambahan sebagaimana hadits berikut:</p>
<p style="text-align: right;">عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لَيُغْشِيْنَ أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُؤْمِنًا وَ يَمْسِي مُؤْمِنًا وَ يُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ أَقْوَامٌ دِيْنَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيْلٌ (رواه الحاكم في المستدرك) وَ فِي رِوَايَةٍ عَنْ أنس بن مَالِك رضي الله عنه : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : بَيْنَ يَدَيِّ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُؤْمِنًا وَ يَمْسِي مُؤْمِنًا وَ يُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ أَقْوَامٌ دِيْنَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيْلٌ</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: <em>“Sungguh akan meliputi ummatku sesudahku fitnah-fitnah bagaikan potongan-potongan yang gelap gulita. Pagi-pagi seseorang beriman, sore-sore dia telah menjadi kafir, atau sore-sore seseorang beriman, pagi-pagi dia telah menjadi kafir. Suatu kaum menjual agama mereka dengan kenikmatan dunia yang sedikit.” </em><strong>(HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak).</strong><em> </em>Dalam riwayat Anas bin Malik Ra, Rasulullah SAW bersabda: <em>“Menjelang hari kiamat (Umatku) akan ditimpa oleh fitnah-fitnah bagaikan potongan-potongan yang gelap gulita. Pagi-pagi seseorang beriman, sore-sore dia telah menjadi kafir, atau sore-sore seseorang beriman, pagi-pagi dia telah menjadi kafir. Suatu kaum menjual agama mereka dengan kenikmatan dunia yang sedikit.” </em><strong>(HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak)</strong></p>
<p>Mengapa dan bagaimana bisa terjadi hal tersebut,padahal ummat Islam memiliki panduan hidup berupa Al Qur’an dan Sunnah yang tidak datang dari depan dan belakangnya suatu kebatilan? Sebab utamanya ialah karena mereka meninggalkan kedua pusaka ini dan mengikuti cara hidup orang-orang sebelum mereka yaitu Yahudi dan nashrani. Simak hadits berikut:</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ ». رواه مسلم</p>
<p>Dari Abi Sa’id Al Khudri, Rasulullah SAW bersabda: <em>“Sungguh kamu akan mengikuti cara-cara hidup orang-orang sebelum kamum sejengkal demi sejegkal, sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk kedalam lubang biawak, sungguh kamu akan memasukinya mengikuti mereka.” Kami berkata wahai Rasulullah, apakah mereka orang yahudi dan nasrani? </em>Beliau menjawab:<em> “siapa lagi (kalau bukan mereka)?”</em> <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<h3>A. MENGENAL SIAPAKAH YAHUDI DAN NASHARA?</h3>
<p><strong>Yahudi</strong> ialah Nama satu agama yang diambil dari nama pembawanya yaitu <strong>Yahuda</strong>, salah seorang keturunan Bani Israil (anak Nabi <strong>Ya’kub As bin Ishak bin Ibrahim As,</strong> yang semuanya membawa ajaran Islam). Mereka (orang-orang Yahudi) beriman kepada Nabi Musa dan kitab Taurat tetapi tidak beriman kepada Nabi Isa As dan Nabi Muhammad saw. Dalam perjalanan waktu, mereka merubah ajaran Nabi Musa As, menolak ajaran Tauhid yang dibawa Nabi Musa As dan menggantinya dengan kesyirikan <strong>(QS At Taubah 9: 30)</strong> merubah kitab Taurat dari tempat-tempatnya karena bertentangan dengan hawa nafsu mereka <strong>(QS Al Baqarah 2: 75, 79)</strong>, <strong>(QS An Nisa 4: 46)</strong>, dan mereka campur adukkan antara yang haq dengan yang bathil <strong>(QS Al Baqarah 2: 42)</strong>.</p>
<p>Isi kitab Taurat yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, mereka gantikan dengan tulisan tangan mereka, lalu mereka katakan ini dari Allah padahal bukan dari Allah. Maka Taurat yang menjadi pegangan Yahudi sekarang tidak ada kaitannya dengan Taurat di zaman Nabi Musa AS. Taurat saat ini merupakan hasil pemikiran cendekian yahudi dan <em>rabi</em> (pendeta) yahudi. Kaum Yahudi sangat benci dan dendam kepada Nabi Muhammad dan ummatnya karena itu berbagai kejahatan dilakukan kepada Islam dan ummatnya, seperti teror, tangkap, usir, bunuh dan memeranginya secara dzalim dan brutal <strong>(QS Al Baqarah 2: 105, 109, 120 dan 217)</strong>.</p>
<p>Al Qur’an telah membongkar karakter dan sifat keji  Yahudi Bani Israil yang akan diuraikan nanti Inssya Allah, antara lain yaitu: (1) bangsa yang pengecut dan kerdil, (2) pelaku kriminalitas dan terorisme, (3) kafir dan pembunuh para nabi-nabi, (4) pembohong dan memutarbelitkan perkataan untuk menghancurkan aqidah, (5) pelaku makar dan tipu daya, (6) pemuja emas dan materi, (7) pemakan harta haram, (8) biang kekejian dan kemungkaran, (9) pegiat praktik riba.</p>
<p>Di samping itu juga, (10) mereka ingkar dan munafik terhadap nikmat Allah, (11) rasialisme fanatisme dan ekslusifisme, (12) kejam dan primitif, (13) biang prostitusi ( pelacuran ), (14) zalim dan pembangkang, (15) bangsa penipu, (16) pencuri dan rakus, (17) pelaku penindasan dan perbudakan, (18) bangsa pelaku makar, (19) pendendam dan pengkhianat, (20) tujuan menghalalkan segala cara, (21) keras kepala dan tidak tau balas budi, (22) bangsa penjajah dan perampas hak asasi manusia, dan (23) bangsa pembohong nomor satu. (Lihat uraian tentang kejahata-kejahatan Yahudi)</p>
<p><strong>Nashaara: </strong>Ialah Nama satu agama yang dibuat dan dianut oleh pengikut Nabi Isa As. Nabi Isa As adalah seorang Muslim sebagaimana Nabi-nabi yang lain dan termasuk keturunan Bani Israil.Ketika orang-orang yahudi telah menjadi manusia-manusia bejat, Nabi Isa AS berusaha mengembalikan mereka kepada jalan yang lurus,tapi malah Nabi Isa diingkarai dan direkayasa untuk dibunuh, dan takdir Allah berkata bahwa orang yang terbunuh adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa AS. Orang-orang yang memeluk agama Nahara disebut Nashrani. Kata-kata nashara dapat dilihat pada firman Allah surah Shaf 61: 14 yang berbunyi <strong><em>man anshaari ilallah</em> berarti siapakah yang menjadi penolongku menjadi penegak agama Allah. </strong>Orang-orang Nashrani banyak masuk kedalam Islam ketika nabi Muhammad saw diutus, sedang orang yahudi hanya beberapa orang saja seperti Abdullah bin Salam. Orang nashrani beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa AS tetapi kafir kepada Nabi Muhammad saw karena kedengkian mereka. Rasa kedengkian dan permusuhan kedua bangsa ini (bangsa yahudi dan bangsa nashrani) ini diungkapkan dalam QS Al Baqarah 2: 120.</p>
<p><em>“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” </em><strong>(QS Al Baqarah, 2: 120)</strong><em> </em></p>
<p>Dalam memusuhi Nabi Muhammad dan ummatnya Yahudi dan Nashrani saling tolong menolong dan bersatu padu, tetapi diantara mereka saling cerca mencerca, saling laknat melaknat meskipun mereka sama-sama keturunan Bani Israel, dan karena perseteruan mereka, dunkapkan oleh Al Qur’an :</p>
<p><em>“Dan orang-orang Yahudi berkata: &#8220;Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan&#8221;, dan orang-orang Nasrani berkata: &#8220;Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,&#8221; Padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti Ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.” </em><strong>(QS Al Baqarah, 2:113)</strong><em> </em></p>
<p><strong>Mengapa Islam dijadikan target kehancuran dan kebinasaan?</strong></p>
<p>Karena Islam adalah Dienul haq yang tidak akan pernah lekang di hadapan kebatilan yang ditebarkan oleh Yahudi, meskipun mereka mengarahkan segala potensi dan kemampuannya yang paling hebat dan senjata yang paling canggih. Allah Swt telah menjamin pertolongannya terhadap Islam sehingga kekuatan apapun di bumi ini tidak akan mampu melenyapkannya. Allah berfirman:</p>
<p><em>“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” </em><strong>(QS An Nisa 4: 141)</strong></p>
<h3>B. AL QUR’AN MEMBONGKAR KARAKTER  JAHAT YAHUDI</h3>
<p><strong>1. Merubah ayat-ayat  Kitab Allah.</strong></p>
<p>Allah Swt menerangkan dalam firman Nya:</p>
<p><em>“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?[ Yang dimaksud ialah nenek-moyang mereka yang menyimpan Taurat, lalu Taurat itu dirobah-robah mereka; di antaranya sifat-sifat Nabi Muhammad Saw yang tersebut dalam Taurat itu.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 75)</strong></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Menulis Alkitab dengan tangan mereka, lalu mengatakan ini dari Allah. </strong></p>
<p>Allah Swt berfirman:</p>
<p><em> “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh Keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 79) </strong></p>
<p>“<em>Orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya [mengubah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi].” </em><strong>(QS An Nisa 4: 46)</strong></p>
<p><strong>3. Mencampur adukkan Al Haq dan Al Bathil</strong></p>
<p>Sehingga kitab Taurat yang yang pada mereka sekarang ini telah bercampur antara yang haq dengan yang batil, tidak ada kaitannya dengan kitab Taurat yang dibawa Musa AS. Al Qur’an menegur mereka:</p>
<p><em>“Hai ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil dan menyembunyikan kebenaran sedang kamu mengetahui.” </em><strong>(QS Ali Imran 3: 71)</strong></p>
<p>Mereka telah dilarang melakukan kejahatan itu tetapi mereka tetap melakukannya juga. Allah swt berfirman:</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu [Di antara yang mereka sembunyikan itu Ialah: Allah akan mengutus seorang Nabi dari keturunan Ismail yang akan membangun umat yang besar di belakang hari, Yaitu Nabi Muhammad Saw) sedang kamu mengetahui.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 42) </strong></p>
<p><strong>4. Membuat dan menyembah patung anak sapi saat ditinggalkan Nabi Musa As. </strong></p>
<p>Firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahann) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 92)</strong></p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, Sesungguhnya kamu telah Menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu (Artinya orang-orang yang tidak menyembah anak lembu itu membunuh orang yang menyembahnya. Adapula yang mengartikan: orang yang menyembah patung anak lembu itu saling bunuh-membunuh), dan apa pula yang mengartikan: mereka disuruh membunuh diri mereka masing-masing untuk bertaubat.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 54)</strong></p>
<p><strong>5. Bangsa yang keras kepala dan pembantah, tidak mau beriman kecuali melihat Allah. </strong></p>
<p>Firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat Allah dengan terang [melihat Allah dengan mata kepala], karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya [Karena permintaan yang semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Allah]&#8220;. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 55-56) </strong></p>
<p><em> “Ahli kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka Sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: &#8220;Perlihatkanlah Allah kepada Kami dengan nyata&#8221;. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma&#8217;afkan (mereka) dari yang demikian. dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.”</em> <strong>(QS An Nisa 4: 153)</strong></p>
<p><strong>6. Mengubah perintah dengan yang tidak diperintah. </strong></p>
<p>Merubah perintah agar masuk negeri yang dijanjikan seraya bersujud dan mengucapkan <em>hitthah</em>, yakni memohon ampunan. Tapi mereka mengganti perintah itu dengan cara duduk di atas anusnya dan mengatakan <em>hinthah</em>, yakni sebutir biji gandum. <strong> </strong></p>
<p>Firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: &#8220;Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud[menundukkan diri], dan Katakanlah: &#8220;Bebaskanlah Kami dari dosa&#8221;, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik&#8221;, lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.”<strong> </strong></em><strong>(QS Al Baqarah 2: 58-59) </strong><em> </em></p>
<p><strong>7. Manusia Pengkhianat dan Ingkar janji. </strong></p>
<p>Firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 83) </strong></p>
<p><strong>8. Manusia pemalas, ingin hidup mewah tanpa kerja, pembunuh para Nabi-nabi. </strong></p>
<p>Allah swt telah memberikan nikmat yang sangat banyak kepada Bani Israil,yang tidak diberikan kepada bangsa selain mereka.Mereka diberi makanan dari sorga berupa Manna dan Salwa,tetapi tidak merasa cukup sedang mereka adalah orang-orang yang malas, lalu mereka dihinakan Allah swt. Allah berfirman:</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: &#8220;Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya&#8221;. Musa berkata: &#8220;Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta&#8221;. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”</em> <strong>(QS Al Baqarah 2: 61)</strong></p>
<p><strong>9. Bangsa hipokrit, menuduh Nabi Musa As mengolok-olok mereka .</strong></p>
<p>Ketika mereka disuruh menyembelih sapi betina mereka mengajukan berbagai pertanyaan seperti: bagaimana keadaan sapi apakah sudah tua atau masih muda, apa warna bulunya, sudah membajak atau belum dengan maksud mengelak dari perintah. Malah perintah ini dianggap sebagai ejekan terhadap mereka. Firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.&#8221; Mereka berkata: &#8220;Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?&#8221; Musa menjawab: &#8220;Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil… [dst]” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 67-71)</strong></p>
<p><strong>10. Memutar-mutar lidahnya untuk menipu  manusia bahwa yang dibacanya itu adalah wahyu yang asli. </strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, Padahal ia bukan dari Al kitab dan mereka mengatakan: &#8220;Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah&#8221;, Padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata Dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” </em><strong>(QS Ali Imran 3: 78) </strong></p>
<p><strong>11. Enggan melaksanakan Taurat, sehingga Allah mengangkat gunung Tursina untuk mengambil perjanjian mereka. </strong></p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 63)</strong></p>
<p><strong>12. Mengatakan Tangan Allah terbelenggu. </strong></p>
<p><em>“Orang-orang Yahudi berkata: &#8220;Tangan Allah terbelenggu&#8221;, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila&#8217;nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” </em><strong>(QS Al Maaidah 5: 64) </strong><em> </em></p>
<p><strong>13. Menuduh Allah itu faqir dan mereka yang kaya. </strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: &#8220;Sesunguhnya Allah miskin dan Kami kaya&#8221;. Kami akan mencatat Perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka) : &#8220;Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar&#8221;.” </em><strong>(QS Ali Imran 3: 181) </strong><em> </em></p>
<p><strong>14. Menyuruh Nabi Musa dan Tuhannya berperang untuk mereka.</strong></p>
<p><em>“Mereka berkata: &#8220;Hai Musa, Kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya Kami hanya duduk menanti disini saja&#8221;.” </em><strong>(QS Al Maaidah 5: 24)</strong><em> </em></p>
<p><strong> 15. Menuduh Nabi Musa punya penyakit kusta karena tidak mau mandi bersama mereka. </strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” </em><strong>(QS Al Ahzab 33: 69)</strong><em> </em></p>
<p><strong>16. Melanggar Perjanjian hari Sabtu, lalu mereka berubah menjadi kera. </strong></p>
<p><em>“Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: &#8220;Jadilah kamu kera yang hina&#8221;.” </em><strong> (QS Al Baqarah 2: 65)</strong><em> </em><strong> </strong></p>
<p><strong>17. Manusia haus darah, peperangan dan pembunuhan. </strong></p>
<p><em>“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: &#8220;Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 217)</strong><em> </em></p>
<p><strong>18. Pembenci Nabi Muhammad saw dan ummatnya. </strong></p>
<p><em>“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”</em> <strong>(QS Al Baqarah 2: 120) </strong></p>
<p><strong>19. Bangsa Pendosa, hina dan dihinakan kerena kejahatan mereka.</strong></p>
<p>Mereka memilih dan memilah kitab Taurat yang disukai dan tidak disukai. Yang disukai dimani yang tidak disukai dikafiri sehingga Allah nmenghinakan mereka. Allah berfirman:</p>
<p><em>“Bangsa Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 85)</strong></p>
<p><strong>20. Biang kebejatan,kekejian dan kemungkaran.</strong></p>
<p>Bangsa Yahudi adalah bangsa yang sangat bejat moralnya,tidak pernah ridha dengan kehidupan dan kesenangan Agama lain.Kerja mereka memperopokasi dan memfitnah sehingga kehidupannya menjadi tidak aman. Allah berfirman:</p>
<p><em>“Telah dila&#8217;nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”</em> <strong>(QS Al Maidah 5: 78-79)</strong></p>
<p><em>“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian) ; dan Allah mempunyai karunia yang besar.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 105)</strong><em> </em></p>
<p><em>“Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma&#8217;afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 109)</strong><em> </em></p>
<p><strong>21. Bangsa Terlaknat karena menuduh Allah swt mempunyai anak .</strong></p>
<p>Langit hampir runtuh,bumi terbelah gunung-gunung berantakan karena marah terhadap ucapan yang mengatakan Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak.Allah swt berfirman:</p>
<p><em>“Orang-orang Yahudi berkata: &#8220;Uzair itu putera Allah&#8221; dan orang-orang Nasrani berkata: &#8220;Al masih itu putera Allah&#8221;. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru Perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” </em><strong>(QS Attaubah 9: 30)</strong></p>
<p><em>“Dan mereka berkata: &#8220;Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak&#8221;.Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,karena mereka menda&#8217;wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak,dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak,tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba(QS Maryam 19:88-930.</em></p>
<p><strong>22. Bangsa yang Pengecut  dan Kerdil.</strong></p>
<p><em>“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam Keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” </em><strong>(QS Al Hasyr 59:14)</strong></p>
<p><em>“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.”</em> <strong>(QS Al Baqarah 2: 96)</strong></p>
<p><em>“Mereka berkata: &#8220;Hai Musa, Kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya Kami hanya duduk menanti disini saja.&#8221; </em><strong>(QS Al Maidah 5: 24)</strong></p>
<p><strong>23. Pelaku Kriminalitas dan Terorisme.Karena itu hati mereka keras membatu.</strong></p>
<p><em>“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”</em> <strong>(QS Al Baqarah 2: 74)</strong></p>
<p><em>“(tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merobah Perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) Senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”</em> <strong>(QS Al Maidah 5: 13)</strong></p>
<p><strong>24. Bangsa Kafir dan Pembunuh Para Nabi.</strong></p>
<p><em>“Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?.” </em><strong>(QS Al Baqarah 2: 87)</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami telah mengambil Perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi Setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.”</em> <strong>(QS Al Maidah 5:70)</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, Maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.”</em> <strong>(QS Ali Imran 3: 21-22)</strong></p>
<p><strong>25. Pembohong dan Pemelintir Perkataan Untuk menghancurkan Aqidah.</strong></p>
<p><em>“Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, Yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: &#8220;Kami telah beriman&#8221;, Padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) Amat suka mendengar (berita-berita) bohong, dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: &#8220;Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini Maka hati-hatilah&#8221;. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”</em> <strong>(QS Al Maidah 5: 41)</strong></p>
<p><strong>26. Bangsa Pelaku makar dan Tipu daya.</strong></p>
<p><em>“Dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.”</em> <strong>(QS Ibrahim 14: 46)</strong></p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.”</em> <strong>(QS Al Anfal, 8:30)</strong></p>
<p><strong>27. Pemuja Emas dan Penuhan Materi dan Pemakan harta haram.</strong></p>
<p><em>“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”</em> <strong>(QS Al A’raf, 7:148)</strong></p>
<p><em>“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya Amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.” </em><strong>(QS Al Maidah 5: 62)</strong></p>
<p><strong>28. Bangsa Yang Sombong, Pengingkar janji dan Pengobar Peperangan.</strong></p>
<p>Bangsa yahudi identik dengan kesombongan,besar kepala dan suka mengkhianati janji yang telah mereka buat dengan pihak lain.Dan kesombongan dan keangkuhan yahudi sangat nyata.Terkadang mereka mengatakan lebih kaya dari Allah, mereka menuduh Allah kikir,kadang mereka mengklaim diri sebagai bangsa yang paling dicinta Allah .Inilah ungkapan Al Qur’an tentang kesombongan mereka.</p>
<p><em>“Orang-orang Yahudi berkata: &#8220;Tangan Allah terbelenggu&#8221;[kikir], sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu [ini adalah kutukan dari Allah terhadap orang-orang Yahudi berarti bahwa mereka akan terbelenggu di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain selama di dunia dan akan disiksa dengan belenggu neraka di akhirat kelak.] dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” </em><strong>(QS Al Maidah, 5: 64)</strong><em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: &#8220;Sesunguhnya Allah miskin dan Kami kaya&#8221;. Kami akan mencatat Perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): &#8220;Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar.&#8221; </em><strong>(QS Ali Imran, 3: 181)</strong><em> </em></p>
<p><em>“Katakanlah: &#8220;Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa Sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, Maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.&#8221; </em><strong>(QS Al Jum’ah, 62: 6)</strong><em> </em></p>
<p><strong>29. Pegiat Praktek Riba.</strong></p>
<p><em>“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, ank arena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, ank arena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”</em> <strong>(QS An Nisa’, 4: 160-161)</strong></p>
<p><strong>30. Biang Kenistaan dan Kehinaan. </strong></p>
<p><em>“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”</em> <strong>(QS Al Baqarah, 2: 85)</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.”</em> <strong>(QS Al A’raf, 7: 152)</strong></p>
<h3>C. PROTOKOL YAHUDI</h3>
<p>Protokol Yahudi ialah doktrin-doktrin yahudi Israel yang ditujukan kepada para gentile (non yahudi) untuk mencapai tujuannya dengan berbagai cara dan tipu daya jahat, tujuan menghalalkan segala cara. Mereka memiliki sedikitnya dua puluh empat protokol.</p>
<p><strong>Protokol Pertama</strong>: Ialah mendorong masyarakat dunia menjadi pecandu miras dan narkoba agar pola pikir masyarakat dunia menjadi bejat. Mereka masuk kepada pemuda untuk berusaha merusak moral dan mental para pemuda. Untuk itu, mereka membidik para pendidik, para buruh, para pembantu di rumah-rumah petinggi agama, para pekerja, para wanita penghibur yang bekerja di tempat-tempat hiburan, dan mengusung para wanita pemuja kebebasan berpola hidup <em>glamour</em> dan menciptakan budaya seks bebas, prilaku seks sejenis, dan membuat pergaulan bebas atas nama sastra dan seni, dan lain sebagainya. Cara yang digunakan mengoptimalkan segala potensi kekuatan dan kebanggaan dengan segala cara demi tercapai tujuan.</p>
<p><strong>Protokol Kedua: </strong>Mengerahkan segala potensi agar peta peperangan tetap pada dua poros saja: Barat dan Timur. Kedua poros itu harus saling bertikai agar ketergantuangan ekonomi tetap dipegang yahudi dan kedua poros itu mengemis bantuan yahudi. Caranya: Melobi para penguasa setiap negara untuk menempati pegawai administrasi pemerintahan dari kalangan orang bodoh agar mudah memainkan pemerintahan tersebut seperti main catur. Kemudian kekuatan pers digunakan untuk propaganda di benak bangsa non yahudi agar merurut kebijakan yahudi. Kata mereka: <strong>Dunia informasi adalah kekuatan mega dahsyat, kita harus kuasai pers dunia,kita jadikan seluruh jurnalis dibawah cengkeraman</strong> <strong>kita, dan kita cukup dibelakang layar.</strong></p>
<p><strong>Protokol Ketiga: </strong>Menterapkan politik adu domba antara penguasa dan rakyat, agar mudah menguasai negara tersebut. Bahasa kepada kekuasaan adalah uang untuk menaklukkan kekerasan hati para pejabat. Mereka semua harus disuap untuk memuluskan semua rencana. Partai-parati oposisi disemangati untuk menentang pemerintah. Para buruh diprovokasi untuk menuntut haknya kepada pemerintah, dan pada saat yang sama dibuat skenario supaya berbenturan dengan pemerintah.</p>
<p><strong>Protokol Keempat: </strong>Membelokkan atau menyingkirkan pandangan atau pemikiran agama dari semua agama non yahudi kepada pemikiran ekonomi, perdagangan, prindustrian, dengan begitu mereka sibuk memikirkan dunia daripada memikirkan agama.Keharusan memperaktikkan bunga sebesar mungkin, dengan begitu akan ediperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari para GENTILE (non yahudi).</p>
<p><strong>Protokol Kelima: </strong>Hancurkan otoritas petinggi agama. Cara yang paling ideal adalah: mengkondisikan dan menguasai opini publik, mengkaburkan wacana publik dengan melontarkan pemikiran orang-orang yang berpolemik, kemudian menggiring mereka kepada informasi sesat dan membiarkan mereka dalam polemik sesat tidak berujung. Kemudian mempasisilitasi gerakan-gerakan yang sengaja membuat kekeruhan kehidupan sosial, menggugat tradisi dan menentang kekuasaan yang sah. Benih-benih permusuhan dilestarikan dikalangan pegiat agama agar mereka meminta pertolongan yahudi. Menguasai negara adidaya, kemudian semua negara kecil dipola oleh negara adidaya untuk memenuhi segala keinginan yahudi, dengan begitu yahudi menjadi pengendali dunia meski dibalik layar.<strong></strong></p>
<p><strong>Protokol Keenam: </strong>Menyusun langkah besar untuk mereduksi warisan intelektual bangsa non yahudi, kemudian menyusun siasat jitu untuk meruntuhkan warisan intektual itu. Pemerintahan borjuis dan tuan tanah harus diruntuhkan. Caranya dengan menaikkan pajak penghasilan setinggi mungkin atau menaikkan suku bunga setinggi-tingginya. Menekan para pemerintah untuk menaikkan pajak perdagangan, menaikkan gaji buruh dan pada saat yang sama menaikkan harga barang kebutuhan pokok.<strong></strong></p>
<p><strong>Protokol Ketujuh: </strong>Menekan negara-negara eropah untuk membantu menabur fitnah, kedengkian dan riak-riak permusuhan dengan benua-benua lain. Dengan begitu dunia akan simpati kapada yahudi. Membuat instabilitas dengan provokasi keji untuk memancing reaksi masyarakat dunia. Ketika mereka telah terprovokasi dan menggugat eksistensi yahudi, itulah kesempatan emas untuk menekan dunia internasiomnal agar menghormati keberadaan yahudi. Jika ada satu negara yang menentang kebijakan yahudi, maka negara tetangga diprovokasi untuk menyerangnya. Jika ternyata kedua negara itu malah bersatu untuk memusuhi yahudi, maka harus dibuat wacana perang dunia.</p>
<p><strong>Protokol Kedelapan: </strong>Membentengi negara yahudi dengan pradaban yahudi dan pradaban negara-negara cengkeramnya. Membeli para penulis besar, pakar keilmuan, para administrator, para akuntan, para politikus dan manusia-manusia hebat lainya untuk dijadikan antek-antek yahudi.Mengundang para pelajar terbaik dari negara-negara miskin untuk belajar dinegara yahudi atau negara-negara cengkeramnya, setelah tamat dijamin hidup mereka, dan mereka tidak dimintai imbalan, dan mereka dijadiakan duta-duta untuk menyampaikan misi yahudi.</p>
<p><strong>Protokol Kesembilan: </strong>Menguasai infrastruktur sarana dan prasarana publik non yahudi agar memudahkan rencana yahudi mempola kehidupan negara itu. Menempatkan orang yahudi disetiap pemilihan kekuasaan, baik regional maupun internasional. Menggunakan kekuatan pers untuk mendukung calon yang dijagokan. Misinya untuk mendompleng disetiap pemilihan tersebut untuk memberi pelajaran politik akan perlunya tiang pancang kehidupan bebas.</p>
<p><strong>Protokol Kesepuluh: </strong>Menghancurkan biduk rumah tangga non yahudi melalui pengaruh seni dan budaya, dan memilih manusia brilliant dari non yahudi untuk menjadi buruh propaganda yahudi.</p>
<p><strong>Protokol Kesebelas: </strong>Menjadikan klub-klub Freemasonry sebagai katalisator penghubung antara yahudi dan non yahudi. Mereka berkata: Kita adalah srigala dan bangsa-bangsa non yahudi adalah kambing buruan kita. Apa yang akan dilakukan kambing gemuk jika tiba-tiba mendapati srigala yang siap memangsanya. Tentu hanya bisa menutup matanya dan menyerahkan nasib hidupnya kepada si pemburu.</p>
<p><strong>Protokol Kedua belas: </strong>Mengusai seluruh media masa, awasi dengan sensor ketat, sehingga berita yang dirilis benar-benar sesuai dengan misi yahudi. Mendukung majalah pengumbar hawa nafsu, membeli pers milik keluarga untuk mengkonter berita yang menyudtkan yahudi.</p>
<p><strong>Protokol Ketiga belas: </strong>Memutar belitkan opini publik agar jauh dari realita dan fakta sebenarnya. Harus menyebarkan logika-logika terbalik untuk menyerang musuh.</p>
<p><strong>Protokol Keempat belas: </strong>Agama yang boleh hidup di muka bumi ini ialah hanya satu, ialah agam yang hanya terkait dengan obsesi yahudi. Oleh karena itu wajib untuk menghancurkan semua aqodah dan kjeyakinan semua agama selain yahudi.<strong></strong></p>
<p><strong>Protokol Kelima belas: </strong>Mendelegasikan petugas yahudi keseluruh klub-klub freemasonry untuk tugas spionase internasional dan polisi rahasia diselruh penjuru dunia, dari sinilah dapat diketahui peta informasi penting dunia, kemudian mengambil langkah yang tepat guna menyikapi wacana yang ada. Jika ada pegiat freemasonry yang tidak patuh dan memberontak kepada kebijakan yahudi harus dibunuh dengan carahalus dan sistimatis supaya tidak menimbulkan kecurigaan baik dikalangan internal atau external freemasonry.</p>
<p><strong>Protokol Keenambelas:</strong> Sistem dan kurikulum pendidikan di perguruan tinggi saat ini harus dihancurkan. Merekonstruksi penulisan sejarah, membuang kandungan sejarah yang mendeskredtkan bangsa yahudi serta menambahkan danambahkan etos sejarah non yahudi yang memusuhi sejarah yahudi.</p>
<p><strong>Protokol Ketujuh belas:</strong> Mencari kesalahan para petinggi agama non yahudi, berikut merumuskan cara terbaik untuk membusukkan dan mematikan karakter mereka dihadapan publik. Tidak boleh lengah terhadap ajaran yang diserukan petinggi agama sebab hal itu menjadi penghalang pencapaian cita-cita yahudi.</p>
<p><strong>Protokol Kedelapan belas:</strong> Menjual senjata buatan yahudi kepada kelompok minoritas, menyulut api kemarahan mereka, mendalangi tindak sabotase mereka dan membeli orator terbaik untuk menyuarakan permusuhan kepada pemerintah yang sah.</p>
<p><strong>Protokol Kesembilan belas: </strong>Mempelbagaikan kejahatan politik, berikut menjatuhkan para politikus pada titik nadir kehinaan. Hars memenjarakan para polikus jahat dan memenjarakan mereka di dalam sel para penjahat biasa. Dengan begitu berari menggiring opini bahwa penjahat besar sama saja dengan penjahat biasa.</p>
<p><strong>Protokol Kedua pulah:</strong> Menguasai mata uang negara-negara asing agar dapat mempermainkan kurs (nilai tukar) mata uang mereka untuk mengukur rasa simpati dan dukungan mereka terhadap kedaulatan yahudi. Memberi pijaman lunak kepada negara yang simpati kepada bangsa yahudi dan terhadap negara yang tidak mendukung yahudi  harus diterapkan bunga tinggi agar bisa menguasai aset negara penghutang.</p>
<p><strong>Protokol Keduapuluh satu:</strong> Menenggelamkan dan menghancurkan negara-negara non yahudi dengan hutang-hutang besar. Mereka harus diprovokasi untuk meminjam modal pembangunan dan belanja negara kepada bangsa yahudi.</p>
<p><strong>Protokol Keduapuluh dua: </strong>Kekuatan emas harus dijaga oleh yahudi. Menciptakan tindakan terorisme untuk mengguncang perdamaian dunia, dan menggiring opini dunia bahwa perdamaian sejati tidak akan pernah wujud, kecuali kendali dun ia dipegang oleh zionisme yahudi.</p>
<p><strong>Protokol Keduapuluh tiga: </strong>Semua organisasi dan lembaga ssadaya yang pernah dibentuk dahulu untuk menopang klub-klub yahudi harus dihancurkan, karena ancaman besar bagi yahudi  jika dibiarkan.</p>
<p><strong>Protokol Keduapuluh empat: </strong>Pemimpin dunia harus dipegang oleh keluarga Raja Daud (Yahudi bani Israil).</p>
<p>Perhatikanlah: Seluruh doktrin-doktrin itu hampir telah terlaksana, maka bangsa pembunuh itu sangat yakin bahwa tidak lama lagi akan menguasai dunia dengan ibukotanya di Al Quds Palestina.</p>
<h3>D. STRATEGI BANGSA YAHUDI MENGHANCURKAN MASYARAKAT DUNIA.</h3>
<p>Para pemuka Yahudi telah menyusun langkah strategis berikut petunjuk pelaksanaan yang harus dijadikian tumpuan jalan bagi Bani Isral dalam protokolat (doktrin) Zionisme. Jalan pertama untuk mewujudkan cita-cita agung bangsa yahudi ialah: Menghancurkan agama dan sistem keyakinan yang ada dimuka bumi ini. <strong>Dalam doktrin keempat disebutkan</strong>: Harus menyingkirkan atau mensterilkan pemikiran agama (Tuhan) dari benak dan akal pikiran setiap manusia, kemudian menggiringnya untuk focus dan sibuk memikirkan materi, dengan begitu yang ada dalam otak manusia ialah materi, uang dan uang. Dan untuk merealisasika rencana itu, bangsa yahudi harus menguasai dunia informasi kemudian memperdayakan media cetak dan elektronik yahudi untuk mempropa gandakan misi tersebut secara optimal.</p>
<p>Bangsa yahudi meletakkan agama sebagai musuh nomor satu, sebab agama bagi masyarakat dunia adalah soko guru (tiang pancang) akhlaq dan moralitas kehidupan sosial yang sehat. Ketika agama hancur maka bejat pula moral satu bangsadan ketika moral satu bangsa rusak maka sendi-sendi kehidupan bangsa pasti rusak dan hancur. Diantara cara yang digunakan bangsa yahudi merusak dan menghancurkan masyarakat dunia dan strategi zionisme untuk mencapai cita-citanya ialah:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>SEKS BEBAS</strong></p>
<p>Diantara cara bangsa isrel memperkaya diri ialah menexpoer wanita-wanita muda israel kepusat-pusat prostitusi (pelacuran) dunia yang ada di Eropah dan Amerika, dan kepusat-pusat pelacuran dunia mlainnya. Oleh sebab itu tempat-tempat elite hiburan malam dan bar-bar ternama dan klub-klub malam dunia dipenuhi oleh ayam-ayam israel.</p>
<p>Adapun bisnis unggulan israel adalah bisnes pelacuran. Para pembesar yahudi sengaja memakai noni-noni cantik israel untuk mendatangkan devisa bagi negara sebanyak-banyaknya. Bisnes prostitusi dan prilaku seks bebas yang dipropagandakan israel benar-benar meruntuhkan sendi-sendi agama dan moralitas masyarakat dunia. Seks bebas seakan-akan menjadi agama baru penduduk Eropah dan Amerika bahkan masyarakat Timur Tengah dan Timur jauh yang dikenal teguh memegang prinsip moralitas. Seks bebas menjadi gaya hidup bangsa israel, untuk becinta dan memuaskan hawa nafsu masyarakat israel tidak perlu terikat dalam bingkai pernikahan. Penduduk israel bebas sebebas-bebasnya mencari pasangan yang dia kehendaki, karena itu banyak terjadi aborsi dan kehamilan diluar nikah dan pemerintah israel membentuk instansi husus untuk menangani anak-anak haram itu.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>PERILAKU SEKS SEJENIS</strong></p>
<p>Tidak puas bangsa kera ini dengan program seks bebas , mereka juga menebar aksi homoseks dan lesbian bahkan perilaku sodomi menjadi santapan masyarakat dunia. Pemerintah eropah dan amerika melegalkan undang-undang hubungan sejenis tersebut bahkan menyebarkan penyakit kelainan ini diseluruh lapisan masyarakat yang dikuatkan secara hukum. Para pegiat prostitusi yahudi sangat gencar mempopagandakan penyakit kelainan ini dengan dalih memberi hak kebebasan inividu dan menghormati hak asasi manusia. Modus operandi para homo dan lesbian ini ialah mengajak para wanita berpakaian ala lelaki dan sebaliknya mereka juga menyuruh wanita memotong rambutnya ala lelakin dan sebaliknya. Para mahasiswa di oxpord universiti  mendapat dukungan penuh  dari hakim agung yang homo seks. Bahkan merka mengatakan bahwa prilaku homo dan lesbian dikalangan remaj dan mahasiswa harus diakui secara hukum.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>SASTRA DAN SENI</strong></p>
<p>Atas nama sastra dan seni manusia bejat ini dapat berbuat semaunya. Hanyalah alat propaganda untuk meraih impian menjadi majikan dunia dijagad ini. Mereka memperjuangkan kebebasan  para pelaku seni dan sastera mengexpressikan karya-karya mereka dipanggung kehidupan ini. Atas nama seni mereka menampilkan film-film porno, gambar-gambar wanita telanjang yang tersebar melalui media cetak dan elektronik tanpa ada batas undang-undang yang bisa melarangnya. Kini lihatlah di pusat-pusat perfileman, bangsa yahudi begitu kuat menancapkan kakinya di Hollywood. Dunia film benar-benar sorga impian besar bangsa yahudi, Hollywood benar-benar sejata mematikan, yang menjadi handalan Bani Israil untuk memporak porandakan tatanan hidup masyarakat dunia. Mayoritas film yang bertajuk Hedonisme maupun terorisme, lebih-lebih film porno adalah produk para sutradara dan produser film yahudi. Hollywood tak ubahnya seperti mercusuar gerakan porno aksi yang disuarakan bangsa yahudi, dan sembilan puluh sembilan persen film produksi Hallywood yang bertajuk sketsa kehidupan sosial berisi pendegeradasian moral dan pembejatan nilai-nilai agama tradisi kemuliaan bangsa. Semua itu merupakan rencana besr yahudi untuk menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat internasional. Itulah sebenarnya cita-cita bangsa yahudi, untuk menghancurkan dunia dibawah naungan yahudi.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>GHAZWUL FIKRI (Perang Pemikiran)</strong></p>
<p>Kekalahan dalam perang salib, menjadi pukulan telak, sekaligus pelajaran berharga bagi manusia manusia barat. Kekalahan tersebut juga menjadi inspirasi mereka untuk memerangi Islam dengan cara ‘lain’. Sebab sebesar apapun kekuatan mereka mustahil dapat mengelahkan kedigjayaan Islam. Manusia manusia barat meyakini, para satria Islam dalam menjalani peperangan, mereka bertempur dengan spirit akhirat, dedikasi dan kepahlawanan tanpa batas, dalam membela dan memperjuangkan agama Allah. Karenanya memerangi Islam dengan kekuatan senjata hanya berakhir dengan kekalahan dan kenistaan. Berangkat dari realitas tersebut manusia manusia barat merubah strategi pereng mereka dalam menghadapi umat Islam, mereka tidak lagi memakai kekuatan senjata tetapi memakai kekuatan logika, yang jamak disebut Ghazw al-Fikr (perang pemikiran). Dengan strategi Ghazw al-Fikr ini mereka ingin mengacak-acak elemen kekuatan dalam Islam, memporak porandakan sendi-sendi aqidah umat Muhammad <em>Shallahu ‘Alaihi wa Sallam</em>. Apapun harga yang dibayar dan berapapun lama waktu yang dibutuhkan, manusi-manusia barat telah mantap memakai strategi perang pemikiran ini untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Kekalahan perang salib, benar-benar menyisakan luka yang dalam, terlebih mengaduk-aduk kedengkian, kebencian dan permusuhan terhadap Islam didada manusia-manusia barat. Serial kekalahan dan keterpurukan pasukan salib, lebih-lebih kemenangan pasukan Islam yang ‘super’ gemilang disetiap pertempuran, membuat manusia-manusia barat depresi. Apa gerangan yang membuat pasukan Islam begitu solid dan gagah perkasa maju kemedan laga ?</p>
<p>Manusia-manusia barat juga melakukan riset secara mendalam untuk mengethui rahasia keagungan ummat Islam. Dari kajian dan studi lapangan yang tidak kenal lelah tersebut mereka akhirnya sampai pada titik kesimpulan. Bahwa spirit Iman dan keIslaman yang utuh dersendikan syariat Islamlah yang membuat para stria Islam tampil gagah perkasa di zona pertempuran, nilai-nilai ajaran Islam yang berdasarkan keimanan yang utuh kepada Tuhan Yang Maha Esa, spirit Jihad dijalan Allah, dan ketulusan pengabdian dan pengorbanan demi membela agama Allah. Itulah yang melahirkan energi kekuatan, yang tidak ada satupun kekuatan <em>super power</em> dunia mampu menaklukannya. Manusia-manusia barat juga meyakini nilai-nilai luhur agama Islam mampu menyatukan sesama Muslim dan memobilisasi semangat juang mereka. Ajaran Islam mampu melebur fanatisme ras, suku, golongan dan bangsa, dalam bingkai persaudaraan Islam, yang bersendikan nilai-nilai imani yang tulus dan utuh. Karenanya dalam Islam tidak ada sekat rasialisme, tidak ada Islam kabilah Adaniyah atau Qatahan, Islam kulit putih atau Islam kulit hitam, Islam golongan kaya atau golongan miskin, Islam komunitas ningrat atau jelata, yang ada hanyalah Islam, karena yang paling mulia di mata Allah ialah yang paling bertaqwa. Oleh karena itu para pemikir barat, para filosof dan para pemikir petinggi masayarakat barat sampai pada titik didih keresahan bahwa Islam adalah ganjalan utama bagi laju imperialisme barat. Utamanya kaum Yahudi, menganggap Islam sebagai musuh utama yang harus disingkirkan dari muka bumi ini. Manusia-manusia  barat juga berkeyakinan bahwa al-Qur’an  merupakan kekuatan luar biasa yang menjadi spirit persatuan umat Islam, apapun suku, ras, etnis dan bangsanya. Meski kaum Muslimin tinggal berjauhan, beda bahasa, budaya, tradisi, semua itu bukan menjadi penghalang bagi persaudaraan, persatuan dan kesolidan ummat Islam.</p>
<p>Dari sinilah para satria Salib dari penjuru Eropa, mengikrarkan tekad bersama, untuk saling bahu membahu memerangi dan menghabisi bangsa Arab dan ummat Islam secara keseluruhan. Sebuah maklumat perang untuk ‘menghabisi’ kaum Muslimin mulai dari bumi Andalusia (Eropa), melalui jalan perang pemikiran, dengan cara mendangkalkan aqidah ummat Islam, mengkaburkan ajarannya, memporakporadakan persatuan kaum Muslimin, melenyapkan bahasa al-Qur’an, serta nilai-nilai luhur Islam. Inilah nota kesepahaman yang diputuskan para Salibis dalam menyikapi Islam. Adapun teknis pelaksanaan perang pemikiran tersebut, mereka melakukannya dengan segala cara, antara lain; menebar keragu-raguan di benak dan pikiran ummat  Islam, memprovokasi ummat Islam untuk menerapkan nalar kritis terhadap aqidah Islam, ‘membumikan’ pola pikir sekuler dan liberalisme dikalangan Islam, menggiring ummat Islam untuk menyibukkan diri mereka dengan pelik urusan dunia, jauh dari kisi-kisi agama. Dengan menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran Islam, merupakan paruh langkah menuju kehancuran ummat Muhammad <em>Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam</em>. Itulah keyakinan para Salibis, sehingga mereka begitu utuh untuk melancarkan <em>Ghazw al-Fikr</em>.</p>
<p>Lantas seperti apa sejatinya langkah strategis manusia-manusia barat memerangi Islam tanpa senjata? Dan kenapa dunia barat  begitu yakin mampu menaklukkan Islam tanpa kekuatan senjata? Strategi pertama yang dilakukan manusia-manusia barat, ialah; mencari ‘alat’ penghancur yang tepat untuk melenyapkan Islam dari muka bumi ini. Dan senjata itu sejatinya ada di dalam Islam itu sendiri. Karenanya manusia-manusia barat mendelegasikan para pemikir terbaik mereka, untuk meriset, mengkaji dan mendalami ajaran Islam, sejara, budaya dan perdabannya. Adalah <em>Orientalisme</em> dan <em>Misionarisme</em> dua senjata utama manusia-manusia barat yang mereka pakai untuk melancarkan perang pemikiran tersebut. Riak-riak orientalisme dan misionarisme mulai menggeliat di ‘altar’ kehidupan ummat Islam sejak akhir abad sembilan belas dan awal abad dua puluh hingga detik ini, bahkan hingga era yang akan datang. Gerakan orientalisme yang dimotori para orientalis barat, sama persisnya dengan gerakan misionarisme yang dimotori para misionaris. Keduanya memiliki satu visi dan misi yang sama, yaitu:</p>
<ol>
<li>Menghancurkan Islam dari dalam.</li>
<li>Menebar keragu-raguan di dada kaum Muslimin terhadap ajara Islam.</li>
<li>Membusukkan karakter dan kredibilitas nabi Islam (Muhammad <em>Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam).</em></li>
<li>Mengkerdilkan pemikiran Islam.</li>
<li>Menghapus dan menambahi kandungan kitab-kitab kuning (klasik) dengan khurafaat (cerita-cerita bohong) Islam.</li>
<li>Mengaburkan dan mereduksi sejarah Islam.</li>
<li>Menebar fitnah, permusuhan, pertikaian, gesekan antar komunitas dan faksi-faksi Islam.</li>
<li>Memerangi dan menghancurkana bahasa Arab yang menjadi bahasa al-Qur’an .</li>
<li>Memprovokasi para pemuda Islam agar kagum dan terpesona dengan budaya dan peradaban barat.</li>
<li>Mengkitristenkan orang-orang Islam.</li>
<li>Gerakan pemurtadan ummat Islam.</li>
</ol>
<p>Meski orientalisme dan misionarisme satu visi dalam memusuhi Islam, tetapi, cara mereka memerangi Islam berbeda. Para orientalis menggarap ‘lahan’ pencerahan yang bersentuhan langsung dengan publik. Para orientalis memakai karya-karya tulis, makalah, artikel dan tulisan-tulisan ilmiah, melalui seminar, diskusi, diktat-diktat kuliah dan forum-forum ilmiah sebagai ‘alat tempur’ mereka. Sedangkan para misionaris memakai lembaga pendidikan dasar, mulai dari play grup, taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah dan lanjutan atas sebagai ‘senjata perang mereka’. Lebih daripada itu, para misionaris juga mendirikan lembaga-lembaga sosial, semisal; balai kesehatan masyarakat, posko bantuan masyarakat dan lain-lain, untuk misi terselubung mereka. Kami merasa perlu mengetengahkan kisi orientalisme dan misionarisme dalam pasal kajian ini, sebab keduanya merupakan pedang tajam bangsa Yahudi untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Saya sangat yakin, bahwa bangsa Yahudi-lah arsitek utama (aktor intelektual) di balik kemunculan gerakan orientalisme dan misionarisme pada akhir abad sembilan belas dan awal abad dua puluh. Dan kedua pedang tajam -orientalisme dan misionarisme- ini dipakai bangsa Yahudi untuk mencabik-cabik ajaran Islam dan persatuan ummat Islam pada dua abad (sembilan belas dan dua puluh) tersebut. Para orientalis dan misiionaris sejatinya adalah manusia-manusia Yahudi yang ‘sengaja’ masuk kristen, bukan karena iman, tetapi, untuk menghancurkan agama kristiani. Misi Yahudi berhasil sukses, ajaran Kristiani berhasli diacak-acak, dan para pengikutnya menjadi ‘abdi setia’ Yahudi, dan siap sedia menjadi ‘paderi’ Yahudi untuk melaksanakan misi Yahudi internasional.</p>
<p>Manusia-manusia Yahudi yang memeluk agama Kristen sebelum abad sembilan belas tersebut, bukanlah Yahudi biasa, mereka adalah para rabi (pendeta Yahudi) dan merupakan satria-satria handal Bani Israel, yang telah lulus seleksi ketat yang dilakukan Mahkamah Tinggi Yahudi (Senhedrin). Mereka sengaja disuruh ganti agama untuk melumpuhkan para pendeta Kristiani, sebelum akhirnya mengahancurkan ajaran gereja itu sendiri. Para rabi yang disokong penuh gerakan rahasia  Yahudi, utamanya gerakan Freemasonry. Paska Revolusi Perancis, Bani Israiel ini benar-benar mampu menyudahi hegemoni kekuasaan petinggi gereja di ranah Eropa, bukan hanya itu bangsa Yahudi juga mampu melumpuhkan semua kekuatan rohani manusia-manusia Eropa, sehingga sumber-sumber pencerahan rohani di Eropa benar-benar tersumbat. Dan dengan congkak bangsa Yahudi berani menekan negara-negara Eropa yang masih ‘patuh’ kepada otorita keagamaan.</p>
<p>Setelah dominasi petinggi-petinggi gereja dapat dihancurkan, dan kran-kran rohani bangsa Eropa berhasil disumbat, saat itulah giant Yahudisme benar-benar mulai fokus ‘menggarap’ (memerangi) Islam dan kaum Muslimin. Bangsa Yahudi sangat yakin, mereka akan meraih sukses jilid dua, seperti kemenangan yang mereka raih atas kaum Krisrtiani. Langkah pertama yang dilakukan bangsa Yahudi saat itu, ialah; meracuni pemikiran ummat Islam, agar mendewakan materi, menjauhkan para rohaniawan Islam dan kaum Muslimin dari nilai-nilai ajaran syariat agama Islam, bangsa Yahudi menggiring ummat Islam untuk menyembah materi, seperti halnya para Yahudi pengikut Musa dan Harun menyembah Emas. Propaganda meterialisme Yahudi itu terus membahana di langit kehidupan ummat Islam, dan mereka tidak akan berhenti memalingkan kaum Muslimin dari ajaran Islam, dan materi adalah senjata utama Yahudi untuk mendangkalkan aqidah ummat Muhammad <em>Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam </em>hingga detik ini.</p>
<h3>E. GURITA YAHUDI DALAM KEHIDUPAN UMMAT ISLAM</h3>
<p>Apa yang dilakukan oleh Yahudi Israel untuk mencapai tujuannya dengan gerakan zionis  dan freemosonrynya, untuk merusak masyarakat dunia, antara lain:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Menghidupkan budaya uryan wal kasyiyah (tabarruj)</strong></p>
<p><em>Tabarruj</em> atau bersolek merupakan tradisi Yahudi, ini nampak dalam Protokoler pertama mereka, wajib bagi mereka untuk menundukkan semua bangsa dengan cara memerangi akhlak dan memporak-porandakan nilai-nilai keluarga dengan sarana apapun yang memungkinkan. Lalu mereka menemukan bahwa sarana yang paling efektif untuk menyerang basis keluarga adalah dengan cara merangsang mereka melakukan kejahatan dan merangsang nafsu syahwat. Racun ini lalu mereka sebarakan melalui berbagai media, film, koran, majalah, cerita, dan lain-lain. Padahal Rasululullah pernah menggambarkan bagaimana awal dari kehancuran dari bangsa Israel adalah dengan hancurnya akhlak wanitanya dan inilah yang sedang mereka usahakan pada umat islam:</p>
<p style="text-align: right;">فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاء</p>
<p><em>“Maka bertaqwalah kalian terhadap dunia dan bertaqwalah kalian terhadap wanita, sesungguhnya fitnah pertama yang menghancurkan orang-orang israil adalah fitnah wanita.” </em><strong>(HR. Muslim dan  Ahmad)</strong></p>
<p>Langkah pertama yang mereka lakukan ialah:meragu-ragukan tentang kewajiban berjilbab dan berhijab kemudian memaksakan kepada muslimah agar melepaskan hijab dan kerudung mereka melalui agen-agen mereka, setelah itu  menggelar peragaan busana ‘uryan (telanjang) sehingga mereka dapat mengontrol trend berbusana anak muda yang destinasi akhirnya merangsang generasi muda berpakaian erotis, merangsang, tidak islami, tidak menutup aurat, dan lain sebagainya.Jika mereka telah berhasil merusak akhlak generasi muda islam melalui remaja putri, dan apabila remaja putri telah menjadi sumber fitnah maka akan mudah bagi mereka mengontrol masa depan generasi muda islam yang akhlaknya telah hancur dan rusak.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Membuat model pakaian transparan (tipis) bagaikan telanjang.</strong></p>
<p>Dengan sarana dan model yang sangat banyak  dan beragam, dan dengan pergeseran nilai karena lemahnya pemahaman terhadap ajaran Islam, mulailah musuh-musuh Allah menerkam mangsanya dengan menebar pakaian-pakaian seksi untuk wanita, yang memukau dan merangsang kaum lelaki, kemudian membuat pesta bebas antara lelaki dan wanita (ikhthilat) maka, terjadilah apa yang mereka telah rencanakan seks bebas ditempata tebuka. Model pakaian yang seperti ini telah di peringatkan oleh Rasululullah jauh sebelumnya, beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا</p>
<p><em>“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat sekarang ini. Satu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk memukul orang (pemimpin diktator). Wanita-wanita mereka berpakian namun telanjang, berlenggak-lenggok menggoda. Kepala mereka seperti punuk unta kurus, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya. Padahal baunya tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” <strong>(HR Muslim)</strong></em></p>
<p>Sekarang kota bandung telah didaulat menjadi kota mode memunculkan sedikit demi sedikit warna-warnanya yang lain. Melalui komunitas anak muda mode-mode fashion cepat sekali tersebar, beberapa pakaian merusak akhlak ala jepang sekarang tersebar, mari coba kita perhatikan dengan seksama pemandangan dimall-mall yang penuh dengan remaja putri yang memakai rok hot spand, atau pakaian- pakian tranparan, na’udzubillah min dzalik.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Membuat medan kencana Facebook.</strong></p>
<p>Tahukah anda bahwa facebook didirikan oleh Mark Elliot Zuckerberg (lahir 14 Mei 1984; umur 25 tahun merupakan keturunan dari Yahudi Azkenazim). Anak dari Edward dan Karen Zuckerberg. Ia adalah seorang programer komputer dan pengusaha asal Amerika Serikat. Menjadi kaya di umurnya yang relatif muda karena berhasil mendirikan dan mengembangkan situs jaringan sosial Facebook di saat masih kuliah, dan sekarang ini ia menjabat sebagai CEO Facebook. Zuckenberg adalah anggota Alpha Epsilon Pi. tau Alpha Epsilon Pi yaitu perkumpulan perguruan tinggi Yahudi internasional di Amerika Utara. Alpha Epsilon Pi adalah perkumpulan Yahudi, meskipun tidak diskriminasi dan terbuka untuk semua. AEPi didirikan pada tahun 1913 oleh Charles C. Moskowitz dan 10 orang Yahudi lainnya: David K. Schafer, Isador M. Glazer, Herman L. Kraus, Arthur E. Leopold, Benjamin M. Meyer, Arthur M. Lipkint, Charles J. Pintel, Maurice Plager, Emil Lustgarten, dan Hyman Shulman.</p>
<p>Sebagai informasi Facebook telah berjaya meraup keuntungan sebanyak USD300 juta pada tahun 2008? Ini tidak mengherankan karena ia disokong oleh 140 juta pengguna aktif di seluruh dunia dan sejumlah 8.5 juta foto dimuat turun setiap hari.</p>
<p>Tahukah anda bahawa Mark Zuckerberg, CEO Facebook adalah merupakan seorang anggota aktif dalam sebuah organisasi persaudaraan Yahudi Amerika Utara, Alpha Epsilon Pi Fraternity (AEPi), sebagai Informasi tentang AEPi, bahwa setiap onggota organisasi ini:</p>
<ol>
<li>Diharuskan untuk membantu lelaki Yahudi mencari pasangan Yahudinya.</li>
<li>Ia juga bertujuan untuk mempertahankan dan menguatkan hubungan sesama Yahudi diperingkat sekolah tinggi dan di bidang pekerjaan nanti.</li>
<li>Menguatkan idealisme Yahudi supaya terjaga di sudut nilai, etika, dan menyiapkan peserta untuk menjadi pemimpin negara dan organisasi Yahudi pada masa depan dan dalam berbagai lapangan bidang professional.</li>
<li>AEPi sangat berkait rapat dengan kebanyakan pertubuhan Yahudi/Zionis antarabangsa seperti AIPAC, Hillel, Israel on Campus Coalition, Aish HaTorah, Chabad on Campus, Hasbara Fellowships, <strong>B&#8217;inai Brith</strong> International, Shaare Zedek, Chai Lifeline, Holocaust Museum, dan Gift of Life.</li>
</ol>
<p>Dan tahukah anda bahawa keuntungan Facebook datang dari iklan-iklan yang dipasang, Semakin banyak pengguna dan pengunjung Facebook, maka semakin banyak pulalah keuntungannya. Pergi ke manakah semua keuntungan tersebut?</p>
<p>Persoalan paling besar di sini ialah, adakah keuntungan besar yang diperolehi oleh Facebook turut digunakan untuk membiayai dana perang Israel menentang umat Islam di Gaza, Palestin dan umat Islam di seluruh dunia, sebagaia catatan Mark Zuckerberg termasuk dalam anggota AEPi yang sangat terkenal,dan tahukah anda bahawa Majalah Time telah Mencatat Zuckerberg dalam ranking ke 52 dari 101 tokoh sebagai &#8216;tokoh paling berpengaruh dunia 2008&#8242;, yaitu sebaris dengan nama besar Barrack Obama dan Dalai Lama?</p>
<p>Dan tahukah anda bahawa majalah Forbes Top 400 telah menyenaraikan Mark Zuckerberg sebagai individu ke-321 terkaya Amerika daripada 400 individu lain pada 2008? Namun apa yang lebih penting, Zuckerberg merupakan individu termuda pernah digelari Forbes, ketika usianya baru menginjak 24 tahun dengan kekayaan peribadi sebanyak USD1.5 billion.</p>
<p>Setiap uang Yang Kita Berikan Pada Mereka Akan dialirkan kemana? Adakah akan Mengalir kebiaya perang israil, kemudian akan digunakan untuk mengalirkan Darah Saudara Kita di Palestina sana? <em>wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><em></em><strong>4. </strong><strong>Memproduk  berbagai keperluan manusia:</strong></p>
<p>Dibawah ini ada daftar produk yahudi yang menggurita dalam kehidupan pribadi kita, diantara ada yang haram secara mutlaq dan ada yang syubhat.</p>
<p>Disamping itu mereka terus menerus melakukan segala bentuk kerusakan, khususnya kepada para Muslimin yang taat dengan pengkaburan dan intervensi kebatilan</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Dalam  bidang Aqidah</strong></p>
<p>Kaum yahudi terus berusha menghancurkan aqidah kaum Muslimin dengan memberi laluan dan sokongan yang sebesar-besarnya kepada pertumbuhan kesyirikan dan kekufurun. Seperti ajaran Sai Baba yang mengkelaim dirinya dan oleh pengikutnya sebagai Avatar, Nabi suci, Sang Bagawan atau seorang tuhan yang mempersatukan tuhan-tuhan kecil di India, seperti dukungan dan agen yahudi juga kepada Mirza Ghulam Ahmad sang nabi palsu yang juga kelahiran India.Begitu juga dukungan  yahudi kepada Lia Eden sang jibriel palsu dan Mosadek Nabi palsu. Hampir seluruh faham dan aqidah sesat di Indosia dibelakangnya adalah yahudi,karena memang usaha besar mereka mewujudkan Salomon Tample ialah dengan menghilangkan dari benak manusia akan adanya keyakinan terhadap Allah dan agama yang benar.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Dalalam  bidang Syari’ah (hukum)</strong></p>
<p>Kaum yahudi berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk menyingkirkan  sejauh-jauhnya hukum Islam dari kehidupan manusia, dan menggantinya dengan hukum demokrasi, faham lebiral dan sekuler. Bangsa mana yang mencoba berusaha mentrapkan syariat Islam sudah dapat dipastikan, akan menjadi musuh utamanaya dibelahan bumi manapun bangsa itu berada.</p>
<p><strong>7. </strong><strong>Dalam bidang  Akhlaq</strong></p>
<p>Kaum yahudi juga dihancurkan dengan sehancur-hancurnya, mulai dari akhlaq didalam rumah tangga, masyarakat dan negara. Pergaulan bebas lelaki dan wanita sehingga menimbulkan seks bebas, seks sejenis dan berbagai-bagai kejahatan  merupakan produk budaya hasil  rekayasa yahudi Israel.</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Dalam bidang Seni dan Budaya</strong></p>
<p>Dalam bidang Seni dan Budaya sosial dan politik serta dalam bidang muamalah, tiada tertinggal satupun dari sudut kehidupan manusia melainkan disana dicengkeram oleh kejahatan Zionime dan freemosonry yahudi Israel. Itulah realisasi firman Allah yang berbunyi :</p>
<p><em>“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” </em><strong>(QS Al Baqarah, 2: 120)</strong><em></em></p>
<h3>PENUTUP</h3>
<p>Menghadapi segala rencana jahat yang tujuannya untuk merusak masyarakat dunia, maka kaum Muslimin secara khusus dididik oleh kitab sucinya supaya selalu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman agama secara benar dan terus menerus, meningkatkan iman dan taqwa serta kesabarannya sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.”</em><em> </em>(<strong>QS Ali Imran, 3: 186)</strong></p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, Padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab-Kitab semuanya. apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata &#8220;Kami beriman&#8221;, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): &#8220;Matilah kamu karena kemarahanmu itu&#8221;. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” </em><strong>(QS Ali Imran, 3: 118-120)</strong></p>
<p>Kemudian mereka juga harus menyiapkan segala keperluan dan potensi kekuatan untuk memperkuat posisisi mereka sebagaimana firman Allah swt:</p>
<p><em>“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” </em><strong>(QS Al Anfal 8:60)</strong><em></em></p>
<p><em>Wallahu’alam bish showab…</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>******</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/gurita-yahudi-dalam-kehidupan-ummat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terorisme Pesanan Atau Agenda  Orang Asing ?</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 13:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiah Rutin]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Para ikhwan dan akhawat Mujahidin/ah dimana saja berada. Diskusi kita kali ini adalah “TERORISME PESANAN ATAU AGENDA  ORANG ASING”. Topik ini mungkin ada yang kurang setuju, itu sudah dapat dipastikan, namun paling tidak ada tangggapan yang dapat kita telaah bersama. Karena  Terorisme  nampaknya masih menjadi barang dagangan yang sangat laku di Indonesia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalamu&#8217;alaikum </em><em>Warahmatullahi </em><em>Wabarakatuh.</em></p>
<p>Para ikhwan dan akhawat Mujahidin/ah dimana saja berada. Diskusi kita kali ini adalah “TERORISME PESANAN ATAU AGENDA  ORANG ASING”. Topik ini mungkin ada yang kurang setuju, itu sudah dapat dipastikan, namun paling tidak ada tangggapan yang dapat kita telaah bersama. Karena  Terorisme  nampaknya masih menjadi barang dagangan yang sangat laku di Indonesia. Tiap-tiap kali ada perubahan situasi dan suasana politik, harganya langsung melonjak tinggi. Pengalihan isu politik kepada barang akomodasi ini seakan-akan tidak ada yang dapat menandinginya.</p>
<p>Semenjak pemerintahan SBY, issu Terorisme ini benar-benar telah mencapai puncaknya. Dari data dan informasi, sebanyak 541 orang tertuduh Teroris di jebloskan kepenjara dan puluhan orang dibantai dan ditembak ditempat dengan berbagai aksi brutal Densus 88.</p>
<p><span id="more-721"></span>Menurut Mantan Presiden Amerika, J.W Bush, <em>laknatullah’alaihi</em>, mengatakan dipermulaan dihembuskannya issu terorisme ini: “War on Terror” adalah” Perang Salib Gaya Baru”. Arahnya jelas, membantai ummat Islam dan membunuh semangat jihad ummat Islam yang berjihad menegakkan Syari&#8217;ah Allah dimuka bumi. Perang melawan teroris adalah perang melawan umat Islam yang berjihad dijalan Allah.</p>
<p>Maka tidak mengherankan jika Densus 88 yang beragama kristen sangat bersemangat untuk tidak membiarkan hidup para tersangka (yang dikatakan) teroris untuk ditangkap. Sebenarnya menangkap mereka sangat memungkinkan tanpa harus menembak dan membunuhnya, tapi balasan dan ganjaran tinggi dari sang sponsor terlalu tinggi dan memikat hati, untuk apa membiarkan mereka harus hidup lebih lama? <em>Naudzubillah…</em></p>
<p>Tiap kali aksi pembantaian dan pembunuhan kaum Muslimin yang dituduh teroris, maka saat itu juga terdengar kucuran dana yang sangat banyak dari luar negeri kepada pelaku dan petugas (algojo) yang haus darah itu. Anehnya aksi itu terjadi apabila pimpinan atau pembesar-pembesar pemerintah Amerika datang berkunjung ke Indonesia, seakan-akan pembantaian itu menjadi <em>sesajen</em> istimewa untuk sang dewa kesurupan. Jadi pembantaian terhadap kaum Muslimin yang terkait atau dikaitkan sebagai teroris adalah bagian dari rekayasa internasional sebagai balas dendam terhadap kematian tentera <em>kuffar</em> di medan perang yang berlaku sejak perang salib dahulu sehingga peperangan terbuka dengan dunia Islam pada hari ini.</p>
<p>Undang-undang anti  teroris dan terorisme adalah undang-undang legal formal yang dibuat zionis dan imperialis kuffar kemudian dihembuskan kenegara-negarara jajahannya untuk membantai dan membunuh ummat Islam tanpa peperangan. Dalam suasana aman dan damai dipihak mereka, dengan undang-undang anti teror tersebut mampu membunuh ratusan hingga ribuan ummat Islam diseluruh dunia tanpa ada korban  yang berarti dipihak mereka atau jika ada sangat sedikit dibandingkan jika terjadi perang terbuka antara ummat Islam dan kaum kuffar dimedan  laga.</p>
<p>Sepertinya undang-undang anti teror ini sangat berkesan untuk  membunuh dan membantai kaum muslimin tanpa peperangan, dan kenyataannya ummat Islam belum mampu menghentikan dan melawannya sehingga sekarang. Walau demikian, kita bersyukur sudah mulai ada usaha sebagian kaum  Muslimin mendatangi Mabes Polri, Komisi III DPR, Komnasham, Kompolnas agar ada  tinjuaan kembali tentang undang-undang tersebut atau penghentian segera aksi brutal dan biadab itu atau undang-undang itu dibubarkan karena merugikan kaum Muslimin.</p>
<p>Istilah teroris dan terorisme seakan-akan  hanya diperuntukkan kepada islam dan umat Islam  sedang kafir dan kekafiran  digunakan istilah sparatis dan sparatisme. Hati-hatilah wahai para algojo, Allah Swt senantiasa mengawasi.</p>
<p>Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” </em><strong>(QS Al Angkabut</strong><strong>, 29:</strong><strong> 4)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“D</em><em>an Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja</em><em>,</em><em> </em><em>m</em><em>aka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.</em><em>”</em> <strong>(QS </strong><strong>An Nisa’, 4:</strong><strong> 93)</strong></p>
<p><em>Wallahu a’lam bis shawab…</em><em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/terorisme-pesanan-atau-agenda-orang-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Urgensi Penegakan Syari’at Islam Di Indonesia</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 13:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[Mukaddimah MUNGKINKAH SYARI’AH ISLAM TEGAK DI INDONESIA ? Inilah sebuah pertanyaan yang selalu berulang, terkadang sesekali menghilang, namun tidak berselang lama kembali muncul menempati posisinya semula. Mengapa begitu…? Karena memang kelazimannya demikian, afdhalnya disebuah Negara yang mayoritas terbesar penduduknya beragama Islam, seperti Indonesia ini, seharusnya adalah Negara Islam atau Negara yang dikelola berdasarkan Syari’at Islam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mukaddimah</strong></p>
<p><strong>MUNGKINKAH SYARI’AH ISLAM TEGAK DI INDONESIA ? </strong>Inilah sebuah pertanyaan yang selalu berulang, terkadang sesekali menghilang, namun tidak berselang lama kembali muncul menempati posisinya semula. Mengapa begitu…? Karena memang kelazimannya demikian, <em>afdhal</em>nya disebuah Negara yang mayoritas terbesar penduduknya beragama Islam, seperti Indonesia ini, seharusnya adalah Negara Islam atau Negara yang dikelola berdasarkan Syari’at Islam. Ditinjau dari tatakerama demokrasi sekalipun, yang salah satu asasnya adalah kedaulatan rakyat, maka sangat wajar bila Indonesia memberlakukan Syari’at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di manapun di dunia ini, keyakinan dan dominasi penduduk mayoritaslah yang menjadi identitas negaranya. Di Rusia, China, Nikaragua, penduduk mayoritas berfaham komunis, maka berdirilah negara komunis. Begitu pun di Amerika, Inggris, Australia, Prancis dan lain-lainnya, mayoritas penduduknya berfaham demokrasi, maka berdirilah negara demokrasi.</p>
<p>Apalagi, jika ditinjau dari kaidah dan akidah Islam, yang mewajibkan umat Islam menjalankan syari’at Islam dalam segala aspek kehidupan. Semangat iman seperti inilah, yang membuat perjuangan menegakkan Syari’ah Islam di Indonesia tidak pernah padam. Semenjak Islam masuk ke negeri ini pada abad ke-13, kerajaan-kerajaan Islam di kala itu senantiasa berusaha untuk menegakkan Syari’ah Islam di wilayah kerajaannya. Ketika penjajah Belanda berkuasa pun, upaya-upaya ke arah tegaknya Syari’ah Islam masih terus dilakukan. Setelah Indonesia merdeka, usaha penegakan Syari’ah Islam juga tidak pernah berhenti, baik melalui parlementer oleh parpol Islam Masyumi sehingga melahirkan Piagam Jakarta, maupun melalui perjuangan bersenjata dengan diproklamirkannya Negara Islam Indonesia di Jawa Barat, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi Selatan oleh SM. Kartosuwiryo, Tengku Daud Beureueh, Ibnu Hajar dan Qahhar Mudzakkar.</p>
<p>Namun, apa yang dianggap wajar dalam Negara demokrasi bahkan komunis sekalipun, menjadi tidak wajar di Indonesia. Negara justru bersikap represif terhadap aspirasi dan keyakinan penduduk mayoritas Muslim. Bayangkan, sekiranya mayoritas penduduk Indonesia berfaham komunis, wajarkah bila mereka menuntut berdirinya Negara komunis, dan hukum yang berlaku adalah hukum komunis yang anti tuhan itu? Jika ya, mengapa hal yang sama tidak berlaku bagi Islam, malah umat Islam yang menuntut berdirinya Negara Islam atau berlakunya Syari’at Islam di lembaga Negara dimusuhi sebagai pelaku subversi, anti pemerintah, dan musuh negara? Tapi, jika tidak, itukah mentalitas demokrasi sesungguhnya?</p>
<p>Beginilah prilaku orang-orang kafir sepanjang masa, dimanapun hingga akhir zaman, telah  di predeksi dalam Al-Qur’an, dan menjadi kekhawatiran Nabi Nuh <em>alaihi salam</em>, sebagaimana terekam dalam firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Nuh berkata: “Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.” </em><strong>(Qs. Nuh, 71: 26-27)</strong></p>
<p>Nabi Nuh <em>alaihi salam</em> adalah Nabi yang paling lama usia dakwahnya, menyeru manusia dengan cara diam-diam dan terang-terangan, menyeru mereka di waktu pagi atau petang, siang dan malam tetapi tidak berhasil, malah bertambah bejat moral dan akhlaq mereka. Berikut adalah potret bagaimana kerasnya hati orang-orang kafir menerima dakwah:</p>
<p><em>Nuh berkata: &#8220;Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” </em><strong>(Qs. Nuh, 71: 5-9)</strong><em> </em></p>
<p>Itulah gambaran kekafiran kaum Nuh <em>alaihi salam</em> terhadap syari’ah Allah dan bagaimana dengan kaum yang lain seperti kaum Nabi Musa <em>alaihi salam</em>, kaum Nabi Isa<em> alaihi salam</em> dan ummat Nabi Muhammad Saw. Ternyata tidak jauh berbeda, bahkan lebih sesat dan jahat. Menghadapi kaum yang demikian tidaklah lazim bagi penyeru kebenaran untuk lemah dan mengalah, bahkan wahya yang datang kepada Nabi Muhammad Saw, memerintahkan beliau bersabar dan tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang dzalim.</p>
<p><em>“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. </em><em>Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim [Cenderung kepada orang yang zalim Maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, Maka dibolehkan ] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” </em><strong>(Qs. Hud, 11: 112-115)</strong><strong> </strong></p>
<p>Para penegak syari’ah haruslah memiliki ketangguhan dalam segi keyakinan dan kesabaran dalam menghadapi gelombang ujian yang beraneka ragam, mereka tidak boleh lemah, bersedih hati apalagi berputus asa. Karena berputus asa bukanlah kebiasaan dan sifat mujahid dakwah yang shalih, sifat lemah semangat dan putus asa itu adalah sifat orang yang kafir. Allah berfirman:</p>
<p><em>“…Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiadalah yang  berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Yusuf, 12: 87)</strong><em> </em></p>
<p>Dalam ayat lain Al Qur’an menjelaskan sifat dan karakter orang yang teguh dan tangguh dalam keimanan sehingga musibah apapun yang menimpanya senantiasa tidak mampu menggeser apalagi menggoyangkan perinsip hidupnya.</p>
<p><em>“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: &#8220;Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kamidan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Ali Imran, 3: 146-147)</strong><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tekanan Terhadap Gerakan Penegak Syari’ah Islam</strong></p>
<p>Eksistensi gerakan penegak Syari’at Islam, pada gilirannya bagai terjepit di antara dua sisi, karena ulah orang-orang Islam sendiri. Di satu sisi ada golongan moderat, yang bersikap <em>ambivalen</em> terhadap tuntutan formalisasi syari’at Islam di lembaga negara. Tidak kurang dari tokoh-tokoh dan pemimpin ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah sendiri yang mengatakan bahwa asas negara demokrasi Pancasila sudah final. Mereka sudah merasa puas dengan Negara ‘bukan-bukan’, seperti pernah dikatakan oleh mantan Presiden Soeharto, bahwa Indonesia bukan Negara sekuler, dan bukan pula Negara agama. Celakanya lagi, pemeluk Islam yang secara kebetulan memiliki hak formal dalam menentukan mekanisme pengelolaan negara, seperti para anggota eksekutif, legislatif dan yudikatif, sejauh ini belum berminat secara serius untuk mengatur negara ini sesuai dengan Syari’at Islam.</p>
<p>Sementara di sisi lain terdapat penguasa yang bersikap diskriminatif dan menjadi kaki tangan golongan kafir, yang dengan keras menolak syari’at Islam. Buktinya, sekalipun sudah banyak kepala daerah maupun wali kota dipegang oleh tokoh dari partai Islam, bergelar sarjana lulusan universitas Islam Timur Tengah, alih-alih  membangun masyarakat yang Islami, mereka malah membonceng kafilah kuffar, dan mencurigai Islam sebagai ancaman bagi persatuan dan kesatuan negara. Akibatnya, setiap kali umat Islam menuntut berlakunya syari’at Islam, pemerintah secara semena-mena menuduhnya sebagai pemberonrak, radikal, menentang dasar negara, melawan pemerintah yang sah dan sebagainya. Perangai orang Munafiq seperti ini telah diinfokan Al Qur’an sebagai berikut:</p>
<p><em>“Apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul&#8221;, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” </em><strong>(Qs. An Nisa’, 4: 61)</strong><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Urgensi Syari’at Islam</strong></p>
<p>Di Indonesia, setidaknya ada tiga alasan mendasar, mengapa formalisasi Syari’ah Islam di lembaga negara perlu dilakukan.<strong> <em>Pertama</em></strong>, pelaksanaan Syari’at Islam merupakan ibadah sekaligus kewajiban kolektif umat Islam yang merupakan umat mayoritas negeri ini. <strong><em>Kedua</em></strong>, lembaga negara merupakan institusi yang mempunyai otoritas dan kewenangan mengatur masyarakat untuk melaksanakan Syari’at Islam yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. <strong><em>Ketiga</em>,</strong> formalisasi syari’ah Islam di lembaga negara merupakan hak yuridis konstitusional umat Islam yang dijamin oleh UUD 45 pasal 29, ayat 1 dan 2 serta Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang hingga saat ini masih dinyatakan tetap berlaku.</p>
<p>Sebenarnya, Negara RI membutuhkan Syari’at Islam untuk meraih cita-cita kemerdekaannya. Fakta dan latar belakang historis sejarah kemerdekaan, jelas pemeran utamanya didominasi umat Islam. Selain itu, legal, formal dan konstitusional tidak bertentangan dengan undang-undang RI. Bahkan, Syari’at Islam memberikan norma-norma dan nilai-nilai integral dan komprehensif meliputi seluruh persoalan masyarakat, bangsa dan Negara. Lebih dari itu semua, secara substansial syari’at Islam dapat memenuhi harapan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia untuk kepentingan negara maupun bangsa lain di dunia.</p>
<p>Dalam kerangka ini pula, maka penjelasan Prof. Dr. Hazairin, SH tentang pasal 29 ayat 1 UUD 1945 bahwa: “Negara berkewajiban untuk mengatur dan mengawasi agar warga negara Indonesia menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama masing-masing,” sangat relevan dengan kondisi Indonesia. Dalam buku ‘Demokrasi Pancasila’, Hazairin menafsirkan rumusan UUD 1945 pasal 29 ayat 1 itu sebagai berikut:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> di negara RI tidak boleh ada aturan yang bertentangan dengan agama. <strong>Kedua,</strong> negara RI wajib melaksanakan Syari’at Islam bagi umat Islam, Syari’at Nasrani bagi Nasrani dan seterusnya, sepanjang pelaksanaannya memerlukan bantuan kekuasaan negara. <strong>Ketiga,</strong> setiap pemeluk agama wajib menjalankan syari’at agamanya secara pribadi dalam hal-hal yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara.</p>
<p>Senada dengan itu, adalah pernyataan Dr. Sujatmoko, seorang yang bukan ulama lulusan pesantren, tetapi memiliki obyektifitas berfikir serta kecerdasan intelektual. Berdasarkan pengalamannya sebagai Dubes RI di PBB dan Rektor Universitas PBB di Tokyo, pada awal dekade 90-an, dalam suatu diskusi di Jogjakarta, Sujatmoko mencoba menepis agitasi kaum oportunis di Indonesia, yang menganggap syari’at Islam sebagai ideologi radikal dan pemicu perpecahan.</p>
<p>“Komunisme telah dicoba dan ternyata gagal”, tegas Sujatmoko. Selanjutnya dikatakan, “Kapitalisme dengan segala kejahatannya dipraktikkan dan gagal menciptakan keadilan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Demikian pula sosialisme yang lebih dari sepertiga abad gagal menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat, terutama buruh dan petani. Isme-isme lain juga gagal menciptakan dunia yang damai, bahkan hanya sempat hidup beberapa tahun saja seperti nazisme dan fasisme. Karena itu, mengapa kita tidak mencoba syari’at Islam sebagai alternatif untuk memperbaiki negeri kita?”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Fakta Dukungan</strong></p>
<p>Kini, adanya sejumlah daerah yang mengajukan tuntutan penegakan Syari’ah Islam sebagai alternatif terbaik mengatasi musibah dan problema yang membelenggu kehidupan berbangsa dan bernegara, merupakan indikasi bahwa keinginan umat Islam untuk hidup di bawah naungan syari’at Islam mustahil dibendung. Bahkan di berbagai daerah, aturan-aturan yang bernuansa syari’ah mulai diadopsi ke dalam Peraturan Daerah (Perda), suatu fakta bahwa keinginan menegakkan syari’at Islam melalui kekuasaan pemerintahan diterima masyarakat Indonesia.</p>
<p>Sejumlah survei, yang dilakukan secara nasional dan internasional, menunjukkan dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam meningkat. Survei Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) menunjukkan: 52 persen rakyat Indonesia menuntut penerapan Syari’ah Islam. Sejumlah survei menunjukkan dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam meningkat. Survei Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) menunjukkan: 52 persen rakyat Indonesia menuntut penerapan Syari’ah Islam. Sebelumnya, hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002 (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002) menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan Syari’ah Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat demikian. Ini berarti, ada peningkatan sekitar 10%. Sebelumnya, hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002 (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002) menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan Syari’ah Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat demikian. Jelas, ini pertanda adanya peningkatan cukup tinggi, sekitar 10%.</p>
<p>Kecenderungan menguatnya dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam juga sejalan dengan hasil Survei World Public Opinion.org, yang dilaksanakan di empat negara Islam —Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Maroko— pada Desember 2006 sampai Februari 2007. Hasil survesi menunjukkan bahwa mayoritas (2/3 responden) menyetujui penyatuan seluruh Negara Islam ke dalam sebuah pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah).</p>
<p>Hasil survei itu juga —bekerjasama dengan University of Maryland— memperlihatkan bahwa mayoritas responden (sekitar 3/4) setuju dengan upaya untuk mewajibkan syari’ah Islam di tengah masyarakat, sekaligus menggantikan nilai-nilai Barat yang tidak Islami. Khusus untuk Indonesia, survei menunjukkan mayoritas (53%) responden menyetujui pelaksanaan Syari’ah Islam.</p>
<p>Begitupun, hasil survei Gerakan Mahasiswa Nasionalis di kampus-kampus utama di Indonesia tahun 2006 juga membuktikan, bahwa 80% mahasiswa menginginkan Syari’ah Islam diterapkan. Yang paling mutakhir, survei SEM Institute tahun 2008 juga membuktikan hal yang sama: semakin menguatnya dukungan umat terhadap penerapan Syari’ah Islam, yakni mencapai 83%.</p>
<p>Jika pernyataan para pakar di atas, didukung hasil survei, kemudian lahirnya Perda bernuansa syari’ah di sejumlah daerah, menjadi indikator penting urgensi formalisasi syari’ah di lembaga Negara. Maka ini lah fakta sosial yang tidak terbantahkan, bahwa banyak sekali umat Islam dewasa ini yang rela menerima apapun yang sesuai dengan ajaran Islam.</p>
<p>Akan tetapi kerelaan itu akan cepat berubah menjadi kekhawatiran, tidak <em>pede</em>, manakala muncul konflik antara Islam dan kekafiran, atau berhadapan dengan sistem hidup serta ideologi di luar syari’at Islam. Ketika umat Islam di hadapkan dengan ideologi Soekarnoisme Nasakom, dan Soehartoisme asas tunggal yang anti syari’at Islam, mayoritas umat Islam mendukung tanpa reserve, sebaliknya menolak formalisasi syari’at Islam.</p>
<p>Kelemahan ini bahkan terdapat di kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela-pembela Islam. Mereka meneriakkan puji-pujian terhadap Islam, melakukan aktivitas keislaman, membentuk jamaah zikir dengan puluhan ribu pengikutnya. Tapi bila diseru supaya melaksanakan syari’at Islam dalam urusan pribadi, keluarga, Negara, relasi-relasi bisnis, lembaga pendidikan, dan di segala aspek kehidupan, mereka akan menjawab: “Indonesia bukan Negara Islam. Lebih maslahat kita abaikan untuk sementara waktu, menunggu momentum yang tepat agar kita tidak dicurigai dan dimusuhi.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Intervensi Demokrasi</strong></p>
<p>Kelemahan umat Islam semakin transparan tatkala berhadapan dengan ideologi demokrasi. Intervensi demokrasi sudah sedemikian jauh menyusup ke relung hati sebagian tokoh Islam, mengotori aqidah serta pemahaman agama kaum Muslim. Tidak sedikit yang berpendapat, demokrasi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Lalu, mereka tampil sebagai bemper demokrasi, menjadikannya sebagai barometer politik dan ideologi.</p>
<p>Makna harfiyah demokrasi, sebagai pecahan dari dua kata <em>demos</em> (rakyat) dan <em>kratos</em> (kekuasan) adalah kekuasaan rakyat. Inilah makna essensial dari demokrasi, yaitu kekuasaan berada di tangan rakyat. Termasuk <em>tasyri’ul jamaahiir</em> (wewenang membuat hukum) tergantung suara mayoritas rakyat. Sebagai sistem hidup dan tatanan politik dalam bernegara, demokrasi tidak memiliki sumber hukum, tidak punya kitab suci, apalagi Nabi, semuanya tergantung kehendak dan hawanafsu rakyat, yang disampaikan melalui wakil-wakilnya di parlemen.</p>
<p>Prinsipnya adalah, kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kemauan rakyat mayoritas merupakan hukum tertinggi dalam merumuskan undang-undang; sedang kebenaran tergantung kehendak mayoritas. Unsur-unsur tersebut di atas jelas berbeda dan bertentangan dengan Syari’at Islam.</p>
<p>Sesungguhnya Islam mengajarkan, bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan Allah Swt. Islam mengajarkan untuk beribadah dan berserah diri hanya kepada Allah saja. Bukan berarti Allah Swt dengan segala otoritas yang dimiliki, tampil sebagai eksekutif, yudikatif dan legislatif sekaligus. Tetapi mengutus manusia rasul, menjadi uswah hasanah yang dapat ditiru dan diteladani, kemudian sepeninggal beliau -dalam menyelenggarakan kekuasaan negara dan pemerintahan- digantikan oleh para khalifah. Sebagai tatanan politik bernegara, Islam memiliki sumber hukum, yaitu Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Hukum buatan manusia disebut Undang-undang, dan hukum ciptaan Allah disebut SYARI’AT. Implementasi dari Hukum Qur’an dan Hadist, inilah yang seharusnya dilaksanakan oleh manusia dalam segala aspek kehidupannya. Al Qur’an menjelaskan dan memerintahkan kepada pemerintah (mayoritas Muslim) yang sedang berkuasa agar menerapkan syari’ah Allah swt, jika enggan diancam sebagai <strong><em>orang yang tidak beriman</em></strong>:</p>
<p><em>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” </em><strong>(Qs. An Nisa’, 4: 65)</strong></p>
<p>Dan firman Nya lagi:</p>
<p><em>“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 49) </strong></p>
<p>Dua ayat diatas sangat jelas memerintahkan para penguasa  Muslim menerapkan syari’ah Allah dilembaga negara yang dikuasainya, dan kalau tetap enggan Allah Swt sendiri yang memvonis mereka sebagai <strong><em>Kafir, Dzalim dan Fasik</em></strong>. Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“…K</em><em>arena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 44)</strong><em> </em></p>
<p><em>“…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 45)</strong><em> </em></p>
<p><em>“…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 47)</strong></p>
<p>Menurut <strong>Dr Abdul Qadir Audah</strong> dalam bukunya “Islam Ditengah Kejahilan Ummat Dan Ulamanya” berkata: Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, ada tiga macam:</p>
<ol>
<li>Karena kafir atau ingkar dan bencinya kepada hukum Allah dan mengingkari adanya kebaikan padanya, orang yang semacam ini kafir (Qs. Al Maidah, 44).</li>
<li>Karena menuruti hawa nafsunya meskipun mereka memandang adanya kebaikan pada hukum Allah, tapi menganggap ada hukum lain yang lebih baik dan lebih sesuai, orang semacam ini dinamakan zalim (Qs. Al Maidah, 45).</li>
<li>Orang yang  berkayakinan bahwa hukum Allah-lah yang paling baik dan paling adil tetapi memilih hukum selainnya karena manfaat dunia, sanggup mendurhakai hukum Allah karena  dunia (harta, kuasa dan wanita), mereka ini disebut fasik atau pendurhaka (Qs. Al Maidah, 47).</li>
</ol>
<p>Kontroversi dikalangan umat Islam, sesungguhnya dipicu oleh tiga hal berikut. Apakah dalam menyelenggarakan kekuasaan Negara, umat Islam ‘beriman pada konsep kedaulatan rakyat (demokrasi)’ dan menolak konsep kedaulatan Allah Swt (Islam), atau sebaliknya menolak konsep demokrasi secara totalitas dan menerima konsep Islam secara totalitas pula? Atau memilih opsi oportunistik, memadukan demokrasi dan Islam, menolak sebagian dan menerima sebagian ajaran Islam, seperti yang dilakukan orang-orang kafir ahli kitab yang dimurkai Allah?</p>
<p><em>“…Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikiandaripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” </em><strong>(Qs. Al-Baqarah, 2: 85)</strong></p>
<p>Terhadap kenyataan ini, semestinya umat Islam, baik yang berada di dalam parpol atau ormas Islam tidak boleh terlena dan lengah. Apa jadinya jika atas nama demokrasi, lalu menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan sebaliknya? Ada kesan, bahwa parpol Islam justru menjadi bemper demokrasi. Dalam banyak kasus, parpol Islam justru diperalat oleh demokrasi untuk menghambat syari’at Islam. “Boleh saja Islam berperan dalam membangun masyarakat, sejauh tidak bertentangan dengan demokrasi,” alasan mereka.</p>
<p>Buruknya ideologi demokrasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bagai anak anjing yang tidak menaati induknya. “Suatu ketika, seorang laki-laki dari bani Israil kedatangan tamu, sedang dirumahnya ada seekor anjing yang hamil tua. Berkatalah anjing itu, “Demi Allah aku tidak akan menggonggong kepada tamu tuanku”. Tiba-tiba anak yang dikandungnyalah yang menggonggong. Tuan rumah, si pemilik anjing berkata (kepada seseorang), “Alamat apa ini?” Kemudian Allah memberikan ilham kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Ini adalah permisalan bahwa, akan ada umat sesudahmu, orang-orang bodoh dapat memaksa orang-orang yang pandai dan bijak di antara mereka.”</p>
<p>Analogi ini bersumber dari Abdullah bin Amr yang termuat di dalam kitab <em>Jami’us Shaghir 5204</em>. Maksudnya, bahwa proses mencari, memilih dan menetapkan seorang pemimpin menurut versi demokrasi adalah; siapa yang mendapatkan dukungan terbanyak maka ialah yang patut duduk sebagai pemimpin. Dan suara terbanyak sama artinya dengan siapa yang banyak omong. Alkisah, orang-orang bodoh suka membuat gaduh dengan beramai-ramai bersuara keras, sehingga suara orang-orang pandai dan berakal tidak terdengar karena tenggelam dalam riuhnya suara si bodoh. Ketika tipu daya orang-orang jahat dapat mempengaruhi masyarakat awam, maka orang-orang jahat pun akan dapat mengalahkan orang-orang baik, itulah demokrasi yang menganggap suara mayoritas sebagai kebenaran.”</p>
<p>Tragisnya, sebagian besar penganut Islam tampaknya merasa amat sangat bersyukur –bukan bersedih- Indonesia diatur dengan sistem demokrasi, sehingga beramai-ramai menolak syari’at Islam. Mereka menganggap demokrasi sebagai pemersatu dan penyelamat, sedangkan syari’at Islam diposisikan sebagai ancaman dan pemecah belah rakyat.</p>
<p><em>Ucapan dan rasa syukur itu diungkapkan, misalnya oleh Presiden <strong>Susilo Bambang Yudoyono</strong> dalam orasi pengukuhan sebagai Capres 2009: “Saya bersyukur kepada Allah Swt, keluarga saya diatur dengan demokrasi, sehingga setiap orang dalam anggota keluarga saya bebas berpendapat,” katanya bangga.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kontra Syari’at Islam</strong></p>
<p>Pertarungan antara yang haq dan bathil merupakan <em>sunnatullah</em>. Sedangkan upaya mensinergikan antara keduanya, adalah program syetan. Oleh karena itu Islam dengan tegas menolak oplos kebenaran dan kebathilan sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.”</em> <strong>(Qs. Al-Baqarah, 2:42)</strong></p>
<p>Pada tataran ideologis dan praktis, pertarungan yang terjadi sekarang bukan hanya antara Muslim dan Kafir, melainkan antara Muslim yang mendukung dan anti formalisasi syari’ah.  Proses syetanisasi di negeri ini, tidak hanya dimonopoli orang kafir; tetapi berlangsung secara legal, formal, dan konstitusional. Seperti dikatakan sekte JIL (Jaringan Islam Liberal), “<em>Kita menerima ideologi demokrasi, karena demokrasi mensinergikan antara yang baik dan buruk, halal dan haram.” </em>Kelompok anti syari’ah Islam meyakini bahwa demokrasi lebih tepat bagi bangsa Indonesia, karena bisa mensinergikan antara halal dan haram sesuai kebutuhan. Akibatnya muncul sikap ambivalen dan munafik.</p>
<p>Pada masa Orde Baru kekuasaan politik memang cenderung represif pada Islam karena dianggap menjadi salah-satu potensi ancaman pada rezim yang sedang berkuasa. Upaya sistematis dilakukan oleh kekuasaan formal untuk menekan gerak sosial-politik umat Islam termasuk pemberian cap ‘ekstrim kanan, subversi, radikal, teroris dsbnya,’ yang ujung-ujungnya menekan aktifis Islam untuk tidak bisa bergerak maju dalam bidang sosial-politik. Bahkan partai politik yang berasas Islam pun secara sistematis diseret ke arah meninggalkan asas Islam, demikian pula dengan ormas Islam sekalipun yang akhirnya merubah asas Islam menjadi asas lain. Masalahnya, apakah dengan mimikri politik seperti itu Indonesia menjadi lebih maju dan berjaya? Kerusakan masyarakat terus saja bertambah di atas kerusakan yang sudah menggunung.</p>
<p>Lalu, mengapa ada sejumlah tokoh Muslim, bahkan dari kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela Islam, justru menolak formalisasi syari’at Islam? Mengapa terdapat hamba Allah yang membangkang (fasik) kepada Allah Swt? Apa sesungguhnya dasar berfikir yang melatarbelakangi mereka menolak syari’at Islam?</p>
<p>Menurut pengalaman bertahun-tahun di arena perjuangan, dan fakta sosial di masyarakat, faktor penyebabnya antara lain:  di kalangan kaum Muslimin, muncul kesan bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam merupakan ancaman terhadap keselamatan diri di tengah globalisasi sekarang. Hal ini tercermin pada keengganan mereka untuk berterus terang dengan kebenaran agamanya, dan dengan terpaksa menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam; bahwa Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini. Padahal Allah Swt telah menginformasikan melalui firman-Nya:</p>
<p>“<em>Thaaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah, yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan langit dan bumi yang tinggi.” </em><strong>(Qs. Thaaha, 20: 1-3)</strong></p>
<p>Selain faktor di atas, banyak kalangan Muslim yang memosisikan Islam selaras dengan demokrasi. Sehingga, ketika mereka melakukan amal-amal demokrasi berlandaskan kedaulatan rakyat dan tunduk pada suara mayoritas, mereka ingin perbuatannya itu dilabeli merk ‘Islami’. Padahal, tidak semua ajaran demokrasi sesuai syari’at Islam, sebaliknya apa yang sesuai dengan syari’at Islam dianggap tidak demokratis.</p>
<p>Jika Islam yang dimaksud seperti yang dipahami kebanyakan orang Islam yang anti syari’at Islam, atau menerima sebagian dan menolak sebagian dari ajaran Islam, mungkin dapat diselaraskan dengan demokrasi. Tapi jika Islam yang dimaksud seperti yang diwahyukan Allah dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, mustahil bisa dicocok-cocokkan. Sebab Islam berdiri tegak di atas landasan Tauhid, sedang demokrasi berdiri tegak di atas landasan hawa nafsu. Islam memiliki sumber hukum (Qur’an dan Hadits), sedang demokrasi sumber hukumnya ‘kemauan orang banyak’. Islam mengharamkan daging babi, khamer, pelacuran, perjudian, ekonomi ribawi, sedang demokrasi menganggap kamaksiatan dan kemungkaran sebagai fasilitas hidup.</p>
<p>Memang benar, bila dalam menjalani kehidupan ini seorang Muslim tidak memiliki ukuran atau barometer ideologis yang jelas, sikap dan pernyataannya kerapkali menggelikan. Seperti ucapan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (Ketua Majelis Syuro PBB), pada Ahad, 16 Shafar 1431 H/ 31 Januari 2010 M, di hadapan Musywil Partai Bulan Bintang bertempat di Gedung Bir Ali, Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.</p>
<p>“Demokrasi tergantung <em>ta’rif</em> (makna) mana yang digunakan, karena makna demokrasi itu banyak, tidak tunggal. Perbedaan amal demokrasi atau amal Islami, mungkin saja dirasakan oleh mereka yang bergelut di bidang teori, tapi bagi saya yang bergelut secara praktis dan pengambil keputusan, tidak merasakan adanya konflik ideologi seperti itu. Apakah ini amal Islami atau aktivitas demokrasi, bagi saya sama saja.”</p>
<p>Jika <em>ta’rif</em> demokrasi tidak tunggal, lalu umat Islam harus mengidentifikasikan diri pada makna demokrasi yang mana, sehingga tidak melanggar syari’at Islam? Kaitannya dengan kebingungan memilih dan memilah ‘yang ini amal demokrasi’ atau ‘yang itu amal Islami’, dapat diteropong melalui <em>kaidah ushuliyah</em>. Dalam teori ushul fiqih, Imam Syafi’i membuat kategorisasi amal yang disebut “<em>Anwa’u af ‘alin Nabiyyi </em>, yaitu <em>af’alun</em> (perbuatan) Nabi, sebagai barometer amal dibagi tiga bagian:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, <strong>amal yang bersifat <em>Qurbah</em></strong>, seperti tuntunan ibadah dari Nabi yang tidak boleh di rubah.</p>
<p><strong>Kedua, <em>Tho’ah</em></strong>, kehidupan kemanusiaan, yang dibatasi dengan hukum wajib, sunnah, dan mubah. Contoh, mandi junub. Mandinya sendiri tanpa diatur agama, kita sudah biasa mandi, dilakukan oleh orang kafir maupun Muslim. Bedanya, mandi junub bagi orang Islam adalah mandi yang dilakukan setelah berhubungan dengan istri, perempuan datang haid atau datang nifas. Agama (yang dibawa) Nabi Muhammad menjelaskan itu, maka kita mesti <em>Tho’ah</em>.</p>
<p><strong>Ketiga, bersifat <em>Jibillah</em></strong><em>,</em> perbuatan Nabi yang bersifat naluriah (tabi’at insaniyah yaitu sifat kemanusiaan). Dalam hal <em>jibillah</em> prinsipnya adalah mubah, kecuali kalau ada larangan.</p>
<p>Dengan kategorisasi ini, dimaksudkan agar seorang Muslim dalam menerima atau menolak sesuatu, bukan karena sesuai atau bertentangan dengan demokrasi; melainkan selaras dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam.</p>
<p>Ketakutan kelompok liberal akan bahaya menguatnya kekuatan Islam yang dianggap sebagai ancaman bagi masa depan pluralisme di Indonesia terus diopinikan dengan resonansi yang kian masif. Sebuah forum yang menyebut dirinya “Konferensi Nasional Lintas Agama” atau <em>Indonesian Conference on Religion and Peace</em> (ICRP) yang dihadiri oleh sekitar 80 peserta ‘tokoh lintas agama dan kepercayaan’ dari berbagai daerah, dan menolak Perda yang bernuansa Syariat Islam, memutuskan akan mendesak Pemerintah untuk mencabutnya.</p>
<p>“Kami akan sampaikan kepada presiden dan wapres yang baru terpilih agar perda-perda dievaluasi dan bisa masuk ke MK (Mahkamah Konstitusi) atau Mahkamah Agung (MA) untuk dilakukan judicial review”, ujar ketua forum yang ternyata seorang Doktor Agama Islam dan PNS di Departemen Agama RI.” (Harian Surya, Rabu 7/10/09).</p>
<p>Apa yang disebut Perda Syariah itu? Yaitu, adanya daerah-wilayah di Republik Indonesia ini, di mana para pejabat legislatif yang beragama Islam membuat kesepakatan untuk menggoalkan suatu Perda (Peraturan Daerah) yang diinspirasi ajaran agamanya, yakni Syariat Islam terkait pengelolaan wilayah, (seperti menolak perjudian, pelacuran, korupsi, dan kemasiatan lain sesuai tuntunan agama yang dipeluknya). Mereka menggunakan mekanisme yang sudah sejalan dengan proses pembuatan sebuah perda, termasuk, tentu saja rapat-rapat di DPRD dengan pihak lain, lalu mereka berhasil menggoalkan Perda tersebut. Apa yang salah dengan Perda seperti itu?</p>
<p>Sebuah acara “Nurcholis Madjid Memorial Lecture III” yang digelar di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/09), mengundang Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, untuk menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Politik Identitas dan Masa Depan Plularisme di Indonesia.”</p>
<p>Dalam orasinya, Syafi’i Ma’arif yang dikenal sebagai kontributor  liberalme menyinggung soal gerakan-gerakan Islam seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kerap mengampanyekan penegakan syari’at Islam dan khilafah Islamiyah. Syafii menyatakan, <em>“Sikap MMI yang menyatakan bahwa penolakan syari’at Islam secara konsititusional termasuk kategori kafir, fasik, dan zalim, adalah pernyataan yang berbahaya bagi pluralisme. Kalau beragama secara hitam putih, mungkin lebih baik jadi atheis saja,”</em> tegasnya.</p>
<p>Dengan menggunakan retorika agitatif, Maarif menganggap bahwa tuntutan formalisasi syari’at Islam sebagai beragama hitam putih. Lalu menuduh Majelis Mujahidin (MM) sebagai kelompok tafkir (mengafirkan mereka yang menolak formalisasi syari’at Islam). Sekalipun Syafii Maarif tidak akan dapat membuktikan tuduhannya terhadap MM -karena itu bukan sikap MM- tetapi lontaran keji itu sudah menyebar bagai virus yang melahirkan trauma ukhuwah Islamiyah.</p>
<p>Majelis Mujahidin tidak pernah merasa paling benar, apalagi mengafirkan Muslim lainnya. Tetapi tidak membenarkan yang benar adalah kesalahan. Dan tidak mengatakan kafir terhadap mereka yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya, adalah kekafiran juga. Maka sikap MM dalam hal ini sesuai dengan sikap Islam, sebagaimana firman Allah: “Siapa saja yang tidak berhukum pada hukum Allah adalah kafir, fasik, dan zalim.” <strong>(Qs. Al-Maidah, 5: 44, 45, 47).</strong></p>
<p>Dalam beberapa tahun terakhir ini, Syafii Maarif yang tercatat sebagai anggota dari “Trilateral Commission” sebuah lembaga yang berada di bawah kendali Zionis, memang dikenal sebagai orang yang berada di dalam gerbong para penolak formalisasi syariat Islam. Dalam diskusi yang banyak dihadiri para aktivis liberal itu, Syafii dengan kalimat nyinyir mengatakan, “Kalau kita ingin melaksanakan syariat Islam secara utuh itu akan sulit hidup dimana saja. Harusnya kita pakai saja ayat fattaqullah mastatha’tum, bertakwalah kepada Allah semampumu,” ucapnya.</p>
<p>Dengan bangga, Syafii bernostalgia, dulu pada tahun 70-an sebelum dirinya berangkat ke Chicago, Amerika Serikat, dirinya adalah orang yang sangat anti-terhadap Pancasila. “Tetapi setelah dicuci otak oleh Fazlul Rahman (Profesor di Chicago) saya berubah,” ujarnya sambil terkekeh. Syafii mengaku dirinya sedih melihat kondisi bangsa ini, dimana pemerintah tidak serius dalam mengelola negara. Ia juga sedih melihat kelakuan umat Islam yang anti terhadap pluralisme dan berupaya memaksakan kehendak terhadap minoritas. “Kalau tidak sedikit paham Al-Qur’an, mungkin saya malas jadi orang Islam,” tandas Syafii.</p>
<p>Dalam pandangan Syafii, formalisasi syari’ah Islam menunjukkan prilaku beragama hitam putih. Untuk melemahkan tuntutan penegakan syariat Islam, Syafii melakukan manipulasi sejarah, dan menggiring pemahaman Islam ke arah faham sesat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tugas kita bersama (Penutup)</strong></p>
<p>Kontribusi terbesar kaum Muslimin Indonesia dalam mencegah terjadinya disintegrasi bangsa, mendamaikan sesama ummat manusia, keluar dari segala krisis dan meningkatkan harkat serta martabat kemanusiaan, adalah menyadarkan para penguasa supaya memberlakukan Syari’ah Islam di lembaga negara, dan memerintah negeri ini dengan hukum Allah. Apabila hal itu dilakukan, maka Allah telah berjanji dengan firman-Nya:</p>
<p>“<em>Sekiranya penduduk negeri-negeri itu bariman dan bertaqwa kepada Allah niscaya Kami bukakan kepada mereka segala macam barakah dari Langit dan dari Bumi. Namun karena mengingkari ayat-ayat Kami maka Kami siksa mereka akibat perbuatan mereka sendiri.” </em><strong>(Qs. Al-A’raf, 7: 96)</strong></p>
<p>Oleh karena itu, pekerjaan besar umat Islam khususnya para Ulama, Da’i dan Muballigh dewasa ini haruslah diprioritaskan kepada tiga hal.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> menumbuhkan rasa hormat kaum Muslimin terhadap Syari’ah Islam. Sebab jika kaum Muslimin menolak diberlakukannya Syari’ah Islam dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara berarti mereka tidak menghormati Allah menurut penghormatan yang semestinya.</p>
<p>Firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Mereka (yang mengingkari wahyu) tidak menghormati Allah menurut penghormatan semestinya, ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu apapun kepada manusia”. Jawablah (Ya Muhammad): “Siapa yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran kertas yang kamu telah perlihatkan dan kebanyakan kamu sembunyikan sedang kepadamu telah diajarkan apa yang belum pernah kamu ketahui (demikian juga) bapak-bapakmu?” Katakanlah, “Allah” (yang menurunkannya). Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan.” </em><strong>(Qs. Al-An’am, 6: 91)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> menumbuhkan kepercayaan dikalangan umat Islam, bahwa solusi bagi problema kehidupan manusia di muka bumi ini hanya dengan memberlakukan Syari’ah Islam saja. Inilah inti keimanan, yaitu tidak ragu-ragu terhadap kebenaran yang diwahyukan Allah dan yang dibawa Muhammad Rasulullah, sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang sebenarnya beriman, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasuln-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka inilah orang-orang yang benar imannya.” </em><strong>(QS. al-Hujarat, 49: 15)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em>Ketiga, </em></strong>Mengumpulkan dan konolidasikan seluruh potensi ummat untuk satu tujuan tegaknya syari’at Islam tanpa mengenal penat dan lelah dan siap berkurban apa saja yang diperlukan. Memerkecil segala bentuk perselisihan dan membangun segala potensi kearah menggalang ukhuwwah imaniah merupakan pekerjaan yang sangat besar yang tidak mungkin dipikul oleh segelintir ummat. Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.Tidak ada doa mereka selain ucapan: &#8220;Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Ali Imran, 3: 146-147)</strong><em> </em></p>
<p><em>Wallahu’alam Bish Showab…</em></p>
<p>******</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Islam Bukan Publikasi Terorisme</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 01:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[BETAPA sulitnya memperbaiki nasib bangsa Indonesia, karena orang-orang yang baik di negeri ini kian langka adanya. Sistem Negara demokrasi, bahkan lebih banyak memberi peluang menebar kejahatan daripada menabur kebaikan. Sudah jamak terjadi, seseorang yang dikenal sebagai tokoh baik-baik di masyarakat, begitu terlibat dalam kekuasaan pemerintahan, bukannya memperbaiki keadaan yang sudah rusak, malah dia sendiri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BETAPA</strong> sulitnya memperbaiki nasib bangsa Indonesia, karena orang-orang yang baik di negeri ini kian langka adanya. Sistem Negara demokrasi, bahkan lebih banyak memberi peluang menebar kejahatan daripada menabur kebaikan. Sudah jamak terjadi, seseorang yang dikenal sebagai tokoh baik-baik di masyarakat, begitu terlibat dalam kekuasaan pemerintahan, bukannya memperbaiki keadaan yang sudah rusak, malah dia sendiri yang diperbaiki akibat melakukan kerusakan di atas kerusakan yang sudah ada.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, berlakulah firman Allah: <em>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada penguasa di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”</em> <strong>(Qs. Al-Isra’, 17:16)</strong></p>
<p>Adalah kewajiban para pejabat untuk membangun Negara, menyuburkan keadilan sosial, meningkatkan kesejahteraan rakyat, membela kemanusiaan secara adil dan beradab. Dalam suatu Negara, penguasa/pejabat negara dan pengusaha adalah dua unsure <em>mutrafin</em> yang saling menguatkan. Apabila keduanya menjadi mata rantai kejahatan di suatu negeri, maka mereka telah memosisikan dirinya sebagai penghancur, implementasi program syetan-iblis laknatullah untuk menghancurkan rakyat dan negerinya.</p>
<p>Kenyataannya, penguasa yang bertindak sebagai Fir’aun selalu ingin menguasai segala hal demi melestarikan kekuasaannya. Sedangkan pengusaha, bertindak seperti Namrud yang selalu mengusahakan apa saja agar menguntungkan ushanya. Maka sekalipun kejahatan korupsi, illegal login, peredaran narkoba, dekadensi moral, berkembangbiaknya mafia hukum serta markus (makelar kasus), terbukti telah menjadi penyakit epidemi yang melahirkan keterbelakangan, ketidak adilan, dan kebodohan masyarakat. Namun, semua itu belum cukup merangsang penguasa negeri ini untuk marah, kemudian memberantas tuntas hingga ke akar-akarnya.</p>
<p>Bandingkan dengan tindakan represif kepolisian memberantas tindak pidana terorisme, jelas memperlihatkan kemarahan polisi (Densus 88) hingga mencapai ubun-ubun. Kulminasi kemarahan ini, justru menyebabkan sikap paranoid dan panik. Buktinya, untuk mengejar teroris dan membongkar jaringannya, polisi (Densus 88 antiteror) berani mengobok-obok lembaga pendidikan pesantren, mengawasi juru dakwah, dan mengintimidasi masyarakat publik.</p>
<p>Jika ‘kebijakan’ represif ini ditujukan untuk membasmi terorisme, guna melindungi rakyat dan menegakkan supremasi hukum, mungkin masih dapat ditolerir. Memberantas teroris kita dukung, tapi jangan salah kaprah dan <em>overacting, </em>dikhawatirkan upaya itu justru meresahkan masyarakat, menciptakan suasana antagonis, karena para pendakwah diposisikan sebagai orang yang dicurigai. Faktanya, kemarahan Densus 88 terhadap para teroris, identik dengan kemarahan terhadap dakwah Islam, juru dakwah, serta para mujahid penegak syari’at Islam.</p>
<p><strong>Kriminalisasi Juru Dakwah</strong></p>
<p>Dakwah Islam di Indonesia bagai pelita yang tak pernah padam. Ia melaju, dipandu dalam gerak estafeta generasi ke generasi sejak ratusan tahun silam. Adakalanya obor dakwah meredup, akibat kondisi internal yang melemah atau tekanan dari luar. Tapi selalu ada juru dakwah yang tampil menuangkan energi baru, sehingga obor dakwah terang kembali. Sumbu dakwah Islam tidak boleh kering dari sinar kebenaran, sekalipun rekayasa politik maupun fakta sosial menggerogoti eksistensinya.</p>
<p>Sedangkan para Da’i (juru dakwah) Islam merupakan urat nadi kehidupan sosial masyarakat; dan selamanya tidak pernah menjadi juru teror. Mereka senantiasa menawarkan perspektif humanistik dan ideologis, yang menyentuh peranan akhlak dan amar ma’rfu nahi munkar. Adakalanya mereka tampil di halayak umat sebagai tabib, yang dengan keramahannya bisa mengatasi frustasi dan depresi mental.</p>
<p>Disaat lain, seorang da’i juga aktif sebagai pengamat sosial dengan melancarkan kritik konstruktif untuk mereformasi masyarakat yang bobrok, jorok, dan bodoh menjadi masyarakat yang terhormat. Bahkan tidak jarang, para juru dakwah ini menjadi pendamping yang produktif bagi si kaya, sekaligus pendamping yang kreatif bagi si miskin.</p>
<p>Lalu, mengapa pemberantasan terorisme diarahkan untuk menyerang faham keagamaan yang dianggap sebagai penyulut ideologi terorisme? Ada apa di balik gagasan kepolisian untuk mengawasi dakwah para da’i dengan dalih menghentikan publikasi terorisme? Pertanyaan ini menjadi penting dan relevan, mengingat beredarnya pernyataan kepolisian terkait perlunya mengawasi aktivitas dakwah sangat meresahkan masyarakat Muslim.</p>
<p>Kemarahan polisi terhadap para juru dakwah, antara lain dapat dilihat dalam kasus ‘kriminalisasi juru dakwah’ Ustadz Abu Jibril Abdurrahman. Sebagai juru dakwah yang konsisten dengan misi penegakan syari’at Islam di lembaga Negara melalui manhaj dakwah dan jihad, sudah berulangkali difitnah sebagai ‘mata air terorisme’, sekalipun segala tuduhan itu hanya omong kosong belaka.</p>
<p>Akibatnya, tidak hanya sebatas penangkapan putranya M Jibriel, melainkan juga teror, isolasi serta intimidasi dakwah. Sejumlah masjid, yang selama ini tempatnya menyampaikan dakwah, secara sepihak membatalkan dan mencekal pengajian rutin yang biasanya diisi oleh Ustadz Abu Jibriel. Pengurus masjid dan majelis ta’lim mengaku didatangi aparat dan diteror agar tidak lagi mendatangkan beliau untuk berceramah. Segala tindakan kedzaliman dan ketidakadilan ini mengingatkan kita ke masa represif rezim orde baru yang sangat membenci syari’at Islam dan kaum Muslimin.</p>
<p>Prilaku aparat keamanan yang mengintimidasi masyarakat agar menjauhi juru dakwah yang berani berterus terang dengan kebenaran Islam, merupakan warisan orang-orang kafir di masa Nabi Syu’aib alaihi salam, sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentulah kamu menjadi orang-orang yang rugi.” Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah mereka.”</em> <strong>(Qs. Al-AS’raf, 7:90-91)</strong></p>
<p>Maka patutlah dipertanyakan, seorang juru dakwah yang dijauhkan dari masyarakat karena dituduh sebagai teroris, apakah karena tindakan teror yang dia lakukan, ataukah stigmatisasi Amerika yang diadopsi oleh antek-anteknya di negeri ini? Lalu, apa <em>sanksi</em> hukum bagi mereka yang memvonis orang lain sebagai ‘gembong teroris’, sementara segala tuduhan keji itu tidak pernah terbukti, baik melalui pengadilan maupun fakta sosial di lapangan?</p>
<p>Kasus Muhammad Jibril Abdurrahman, yang ditangkap 25 Agustus 2009, adalah salah satu kasus yang sangat dipaksakan dan sewenang-wenang. Dia diculik di tengah jalan setelah polisi mengumumkan sebagai DPO. Dua hari kemudian, Densus mengantar surat penangkapan pada keluarganya. Padahal memasukkan seseorang sebagai anggota jaringan teroris, tanpa aturan dan ukuran yang jelas, lebih berbahaya dari teror. Aparat keamanan akan bertindak seenaknya melakukan penangkapan berdasarkan kecurigaan semata-mata.</p>
<p>Pada awalnya Muhammad Jibril disangka sebagai penyandang dana teror bom di Hotel JW Marriot dan Ristz Carlton. Setelah Duta besar Inggris datang menemui Kapolri, 27 Agustus 2009, tuduhannya berubah sebagai mantan anggota Al Qaeda, dan telah menyembunyikan korban salah bunuh Syaifuddin Zuhri. Dalam sidang pengadilan yang digelar di PN Jakarta Selatan sejak……hingga pemeriksaan saksi, semua tuduhan itu tidak dapat dibuktikan oleh jaksa penuntut umum, tapi tetap saja dipenjara. Lalu untuk kepentingan siapa sesungguhnya penangkapan dan penahanan ini?</p>
<p>Proses kriminalisasi juru dakwah dilakukan melalui tiga tahapan propaganda, yaitu: <strong>Pertama</strong>, propaganda <em>safsathah, </em>yaitu menyebarkan informasi dusta yang dibungkus dengan data-data fiktif, seperti dilakukan oleh Sidney Jones (Direktur International Crisis Group).</p>
<p>Laporan berkala Sidney Jones menjadi masukan resmi Kongres Amerika, FBI, dan CIA, seringkali menipu dan memprovokasi aparat kepolisian Indonesia. Banyak hal yang dilaporkan Sidney Jones menipu orang Indonesia, bahkan mengejutkan orang yang namanya disebut dalam laporan itu, karena ia terkesan sangat menguasai hingga ke detail peristiwa radikalisme bahkan sampai ke “celana dalam” pelaku, seperti dalam laporan “The Case of The Ngruki Network in Indonesia”.</p>
<p>Oleh karena itu, tak jelas apakah terorisme di Indonesia itu karya orang Indonesia atau mainan intelijen Barat. Apakah teroris itu pelaku teror atau korban dari permainan politik global. Kiprah Sidney Jones nampak sekali standar gandanya, tetapi yang jelas hasilnya adalah menciptakan citra negatif Indonesia di mata internasional. Pers Indonesia pun larut ke dalam teori safsathah Sidney Jones karena memang tidak ada laporan lain yang bisa menandinginya sehingga wacana terorisme di Indonesia hanya melalui satu corong, yakni corong Sidney Jones.</p>
<p><strong>Kedua</strong><em>,</em> propaganda <em>Jadal, </em>artinya menyebarkan pendapat tertentu dengan mengajukan fakta-fakta yang akurasinya diragukan. Misalnya, pernyataan mantan kepala BIN, Hendropiyono, Begitupun AM Hendro Priyono, mantan kepala BIN selama beberapa jam melakukan wawancara jarak jauh dg TVone, 17-07-2009. Yang menarik adalah kesimpulan dia bahwa kaum ekstrimis Islam yg terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam, yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Mantan Kadensus 88/Antiteror Polri Brigjen Pol (pur) Suryadarma Salim menyatakan, bahwa jaringan Al Qaidah berada di balik aksi pengeboman di Jakarta tersebut. Lantas, mengapa Indonesia yang menjadi sasaran para teroris itu? Sur ya menjelaskan, JI sudah ter bagi ke dalam beberapa zona. Mi salnya, Malaysia dan Singa pura sebagai zona ekonomi. &#8220;Orang luar negeri yang Muslim lebih besar menyumbangnya daripada orang Indonesia,&#8221; katanya.</p>
<p>Nah, Indonesia menjadi daerah trainer untuk melakukan operasi-operasi. Yakni, untuk pelatih an setelah kamp JI dibubarkan Al Qaidah dan dipaksa keluar dari Afghanistan . Selanjutnya, me reka membangun kamp di Min danao , Filipina, yang disebut kamp Abu Bakar. &#8221; Indonesia tem pat melakukan operasi dengan prediksi kalau Indonesia bisa dikuasai, Indonesia akan menyerang Singapura , Malaysia , Thai land , dan seterusnya,&#8221; jelasnya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, teori <em>khithabi,</em> analisa yang bersifat provokatif, dengan menebar fitnah guna merusak citra, seakan-akan segala ancaman yang menimpa adalah akibat perbuatan musuh politiknya. Misalnya, pernyataan jawara intelijen Hendropriyono ketika mengomentari peristiwa teror dengan menyisipkan fitnah bahwa para teroris ini adalah dari kelompok gerakan Wahabi, Darul Islam, Ikhwanul Muslimin ala Hasan Al Banna. Hendro dengan entengnya melemparkan fitnah tersebut sebagaimana biasanya dilakukan agen zionis dan Amerika.</p>
<p>Gerakan Wahabi yang diplopori oleh Abdul Wahab pada abad 19 M atau 12 H, hanya mengajak umat Islam meninggalkan akidah syirk, amaliyah yang bercampur aduk dengan kepercayaan syirk tanpa pernah melakukan kekerasan fisik, melainkan dengan ceramah dan menulis buku. Dan tidak pernah ada bukti bahwa Syeikh Abdul Wahab mendirikan laskar untuk melakukan kekerasan pada rakyat. Adapun Kerajaan Saudi Arabia di bawah pimpinan Raja Ibnu Saud yang sering melakukan tindakan represif tidak berkaitan dengan paham keagamaan, tetapi berkaitan dengan kelompok yang memberontak kepadanya.</p>
<p>Jadi, antara Abdul Wahab dengan prilaku Ibnu Saud di dalam menegakkan kerajaannya merupakan dua hal yang berbeda. Dan Syeikh Abdul Wahab tidak bisa dipersalahkan, apalagi Wahabi disebut sebagai pelopor teroris. Begitupun Ikhwanul Muslimin yang menjadi korban tindakan kekerasan raja Farouk dengan penjajah Inggris, sehingga Hassan Al Banna dibunuh secara keji di tengah jalan. Padahal Hasan Al Banna hanya mengajarkan Islam kepada rakyat mesir dan mengajak raja serta para pejabat kerajaan Mesir untuk menghargai agamanya, dan menyatakan tekad merdekanya dari penjajahan Inggris.</p>
<p><strong>Jihad Versus Terorisme</strong></p>
<p>Dialektika terorisme, secara faktual disebabkan oleh dua hal. <strong>Pertama</strong>, adanya kekerasan durjana dan durhaka yang hendak menaklukkan masyarakat tertindas (mustadh’afin) agar tidak berani melawan kekuatan sang penindas (mustakbirin). <strong>Kedua,</strong> terorisme yang dimotivasi oleh perlawanan rakyat tertindas terhadap penguasa zalim, sementara mereka yang tertindas itu tidak mampu melawan atas penindasan yang dideritanya kecuali dengan melakukan teror. Tujuannya, tentu saja untuk menekan si penindas yang kejam itu agar tidak melestarikan kejahatannya terus menerus.</p>
<p>Tindakan Israel yang menghancurkan perkampungan rakyat Palestina dan membunuh rakyat sipil. Termasuk imprialisme Amerika di Irak dan Afghanistan yang meluluhlantakkan sarana sosial, pendidikan bahkan struktur pemerintahan merupakan terorisme mustakbirin. Sebaliknya, perjuangan rakyat Palestina untuk mengenyahkan penjajah Israel menggunakan senjata seadanya, demi merebut kemerdekaannya dituduh sebagai kaum teroris oleh zionis Israel. Bahkan perjuangan rakyat Muslim di Irak dan perlawanan pejuang Taliban di Afghanistan dianggap sebagai terorisme oleh Amerika berdasarkan keputusan diskriminatif dari PBB. Padahal, bagi kedua Negara tersebut, prilaku AS bahkan lebih jahat dari kaum teroris.</p>
<p>Lalu, siapa sesungguhnya meneror siapa? Apabila dalam persepektif ini kita memosisikan Israel, Amerika dan Negara pendukungnya disatu pihak, dan Hamas, Al Qaidah, kelompok Imam Samudera di pihak lainnya, dengan niat dan motivasinya masing-masing; barangkali aparat keamanan tidak perlu paranoid menghadapi teror bom yang terjadi di Negara kita. Artinya, pemberantasan terorisme tidak perlu menggunakan pendekatan SARA, distorsi agama, apalagi bersikap diskriminatif terhadap juru dakwah dan aktivis Islam.</p>
<p>Munculnya gagasan untuk mengawasi aktivitas dakwah para Da’i Muslim, akibat terjebak dalam teori ‘tangkap dulu baru kemudian diperiksa’, menciptakan keresahan di masyarakat, atau meneror para Du’at yang lantang mengkritik berbagai pelanggaran penanganan teror di Indonesia, justru menjadi bagian dari aksi teror itu sendiri.<strong> </strong></p>
<p>Pasca penembakan Dulmatin, muncul sikap-sikap oportunis dan munafiq, yang secara sistimatis dan radikal mengopinikan jihad sebagai tindak kejahatan. Namun anehnya, dalam menghadapi kejahatan narkoba misalnya, polisi menggunakan istilah jihad melawan narkoba. Disatu sisi jihad dimaki sebagi teror, dipihak lain kegagalan pemerintah memberantas narkoba, mereka gunakan kata jihad untuk membangkitkan semangat masyarakat memberantas narkoba. Inilah adalah sikap oportunis kaum pragmatis.</p>
<p>Tindakan Densus 88 yang secara sadis membunuh orang-orang yang baru diduga teroris sehingga menimbulkan ketakutan masal di masyakat, dan menyebabkan orang takut menghadiri majelis taklim tertentu karena mubalihgnya bicara jihad, dapat dikategorikan sebagai tindakan teror yang sebenarnya. Betapapun jahatnya AS ketika menangkap Hambali di Pattani, tapi CIA tidak membunuhnya sekalipun dianggap DPO yang sangat berbahaya. Begitupun pemuda Liberia mau membajak pesawat AS tidak dibunuh oleh CIA, tapi ditangkap hidup-hidup. Karena itu, atas dasar hukum apa Densus dengan mudah membunuh dan memenjara mereka yang disetigma teroris? Apakah manusiawi, memenjarakan istri yang sedang hamil tua setelah suami mereka dibunuh dengan tuduhan teroris?</p>
<p>Stigmatisasi Islam sebagai sumber terorisme karena adanya beberapa aktivis yang melakukan tindakan teror, tidak boleh menjadi alasan bagi tindakan represif, apalagi dengan seenaknya membunuh dan menyeret mayat tersangka teroris di jalanan. Seharusnya dipertanyakan, apakah tindakan teror yang dilakukan, muncul sebagai reaksi terhadap kezaliman yang merajalela pada suatu bangsa karena penguasanya bertindak represif kepada rakyat? Jika ternyata unsur paling dominan yang memotivasi gerakan teror disebabkan tindakan destruktif penguasa pada rakyat demi melayani kepentingan asing, maka yang bertanggungjawab atas munculnya berbagai peristiwa teror ini adalah pemerintah yang berkuasa, dan bukan agama yang dipeluk oleh tersangka teroris itu.</p>
<p>Dengan alasan demikian, maka terorisme yang terjadi di Indonesia harus dibebankan tanggungjawabnya pada pemerintah dan aparat keamanan yang selama ini gagal menghadirkan kesejahteraan pada mayoritas rakyatnya. Presiden SBY pernah mengatakan, bahwa kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya terorisme. Oleh karena itu, salah besar jika pemerintah ataupun aparat keamanan menstigmatisasi ajaran Islam sebagai sumber teroris khusunya syariat jihad.</p>
<p>Dalam praktik sosial, jihad fisabilillah berarti memberdayakan rakyat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta memberantas kebathilan menumpas kemaksiatan. Adapun dalam ranah kekuasaan Negara, jihad sesungguhnya merupakan suatu sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta yang menjadi bagian dari tata kehidupan bernegara semenjak umat manusia mengenal tatanan bernegara. Sebuah Negara pasti membutuhkan adanya tentara, alat perang, dan aturan perundang-undangan yang menjadi dasar untuk mepertahankan Negara dari serangan musuh dan rekruitmen tenaga tentara dari Negara yang bersangkutan.</p>
<p>Oleh karena itu, menyamakan teror dengan jihad merupakan upaya menyesatkan umat Islam dari ajaran agamanya; sekaligus membuktikan adanya ghazwul fikri yang dilakukan musuh Islam terhadap umat Islam. Begitupun perburuan Densus terhadap orang yang diduga sebagai teroris, yang ternyata hanya ditujukan pada mereka yang beragama Islam menunjukkan bahwa perang ideologi sedang terjadi dengan hebat di Indonesia. Apalagi dengan adanya usaha membagi umat Islam menjadi kelompok radikal dan moderat, militan dan toleran, yang telah merasuki sebagian dari tokoh ormas Islam sehingga mereka lebih senang memerangi saudaranya sesame Muslim daripada menghadapi agresi zionis dan salibis.</p>
<p>Untuk mengatasi terorisme di Indonesia, rezim pemerintahan SBY harus berani melakukan debat publik dengan rakyat Indonesia yang meragukan hal-hal yang diwacanakan oleh aparat mengenai jihad dan terorisme. Jika tidak, maka tindakan Densus 88 membunuh orang-orang yang dicurigai sebagai teroris merupakan tindakan keji dan biadab terhadap rakyatnya sendiri. <em>Wallahu a’lam bis shawab</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">Oleh Irfan S Awwas</p>
<p style="text-align: right;">Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin</p>
<p style="text-align: right;">Jogjakarta, 1 April 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyongsong Harapan Kejayaan Islam</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 05:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Kaum Muslimin sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan bagi segenap umat manusia. Harapan ini merupakan missi Islam yang diproklamirkan oleh Rasulullah Saw sejak beliau memulai dakwahnya di Makkah yang dikenal dengan misi Rahmatan lil Alamin. Upaya melanjutkan misi ini, merupakan amanah yang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaum Muslimin sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan bagi segenap umat manusia. Harapan ini merupakan missi Islam yang diproklamirkan oleh Rasulullah Saw sejak beliau memulai dakwahnya di Makkah yang dikenal dengan misi Rahmatan lil Alamin.</p>
<p>Upaya melanjutkan misi ini, merupakan amanah yang menjadi tanggung jawab umat Islam. Sesungguhnya problema terbesar kaum MusIimin di seluruh dunia, adalah belum berlakunya Syari’ah Islam. Hampir seluruh tragedi politik dan kemanusiaan yang datang bertubi-tubi menimpa kaum Muslimin, sebenarnya berpangkal pada masalah ini. Problema ini diperparah lagi dengan kenyataan, bahwa kaum Muslimin dewasa ini belum memiliki tata kepemimpinan ummat yang berfungsi secara efektif dan berkualitas untuk menghantarkan serta memberdayakan ummat pada tingkat kehidupan yang beradab dan bermartabat sebagaimana arahan pesan-pesan wahyu llahy.</p>
<p>Disadari bahwa pengentasan secara menyeluruh atas segenap persoalan tersebut tidak bisa lain kecuali dengan terbangunnya suatu kekuatan bersama antar komponen ummat Islam, serta terciptanya ayunan langkah yang teratur ke arah tujuan yang jelas dan bermakna. Kabut gelap malapetaka, insya Allah akan sirna manakala benih-benih permusuhan di antara ummat Islam yang mendukung berlakunya Syari’ah Islam dan ummat Islam yang belum siap menerima formalisasi Syari’ah Islam dapat dilumatkan sehingga terbentanglah jembatan emas bagi terselesaikannya persoalan ummat yang lainnya, dan pada gilirannya terbitlah fajar keselarasan dan keterpaduan gerak perjuangan di antara komponen ummat Islam.</p>
<p>Dalam kaitan inilah, maka perlu adanya kekuatan sinergis seluruh kaum Muslim, dengan berbagai macam wadah kegiatan dan perjuangannya untuk menyatukan seluruh potensinya, memikul beban bersama, langkah dan upaya membangun kejayaan kembali Islam.</p>
<p>Namun di kalangan kaum Muslimin muncul fenomena jahiliyah, bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam seakan ancaman bagi eksistensi serta keselamatan dirinya di tengah arus globalisasi dewasa ini. Hal ini tercermin pada keengganan umat Islam untuk berterus terang dengan kebenaran agamanya, dan menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam, seolah-oleh Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini.</p>
<p>Stigmatisasi negatif ini dirasakan teramat berat oleh sebagian tokoh-tokoh Islam, terutama para politisinya, yang menyebabkan mereka enggan mengibarkan bendera syaria’at Islam secara jujur dan terus terang. Kondisi demikian menciptakan hubungan yang tegang, saling mencurigai di antara komunitas Muslim sendiri, sehingga muncul kategorisasi Islam radikal versus Islam moderat, sikap inklusif versus eksklusif, ideologi nasional versus transnasional, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kategorisasi berbau konflik ini, merupakan rekayasa provokatif  musuh-musuh Islam, dengan maksud memandulkan kekuatan Islam melalui politik devide at impera, sesuai program mereka. Akibatnya,  tidak sedikit dari kalangan aktivis Islam yang terinfeksi perasaan tertindas, tertekan, teraniaya, dan “gara-gara berjuang, hidup saya jadi sengsara”.</p>
<p>Kecewa terhadap Islam, lalu memosisikan perjuangan penegakan syari’at Islam sebagai penyebab kegagalan dan kesengsaraan hidupnya,    jelas merupakan kondisi mental abnormal. Dalam agenda hidup para mujahid, mentalitas demikian sungguh tercela, karena menjadikan agama Allah sebagai kambing hitam atas ironi oportunisme serta ketidak berdayaannya.  Dalam hal ini,  Allah Swt mengingatkan, bahwa Islam datang bukan untuk menyengsarakan manusia,  tidak juga membuat susa. Dalam Qur’an surat Thaha ayat 2 dinyatakan:</p>
<p>“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orangyang takut kepada Allah.”</p>
<p>Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menjadikan manusia hidup dalam tatanan yang membawa kesengsaraan, kemiskinan, penderitaan dan saling menindas. Tetapi untuk memberikan tatanan hidup yang dapat membangun kasih sayang, berbuat kebajikan, perdamaian, persaudaraan, dan saling menghormati martabat manusia satu dengan lainnya. Dan untuk menegakkan tatanan ideal seperti ini, sepintas terasa berat dan sulit bahkan menjadi sasaran permusuhan orang-orang bermental jahat seperti para penyembah berhala bangsa Quraisy.</p>
<p>Ketika suatu komunitas merasa hidupnya tertekan, pasti memunculkan berbagai ketegangan antara kelompok yang satu dengan yang lain dalam komunitas tersebut. Pada saat demikian amat sulit suatu umat dapat menyatukan diri karena adanya ganjalan, berupa rendahnya tingkat saling mempercayai sesama mereka.</p>
<p><strong>Hilangnya Kepercayaan Sesama Muslim:</strong> Umat Islam dewasa ini terbelenggu dalam situasi saling mencurigai. Kelompok yang merasa dirinya sebagai moderat dan toleran, apriori menyikapi kelompok yang dikategorikan radikal dan ekstrem. Bila kelompok yang disebut eksterim mencoba mencairkan suasana dengan ajakan berdialog, serta merta diabaikan ajakannya, karena khawatir ancaman orang-orang kafir menimpa komunitasnya di kemudian hari. Bahkan kelompok moderat ini dengan enteng menyebarluaskan pandangannya secara sinis terhadap kelompok radikal atau militan dengan berbagai label absurd. Misalnya, anggapan bahwa, “tuntutan formalisasi syari’at Islam sebagai tidak taktis, pendek akal, beragama hitam putih, dan tuduhan negatif tanpa dasar kebenaran.</p>
<p>Kondisi seperti ini jelas merupakan rintangan bagi sesama Muslim untuk menciptakan perdamaian. Oleh karena itu menjadi tanggungjawab umat Islam semuanya, agar berani menyingkirkan rasa saling tidak percaya secara total, kemudian secara ikhlas dan jujur membangun persatuan secara total juga, di bawah naungan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullkah Saw.</p>
<p><strong>Terikat Program Sendiri:</strong> Dampak negatif dari buruk sangka, apriori, akibat mentalitas saling mencurigai sesama Muslim, adalah munculnya kelompok Islam yang bangga terhadap program perjuangan kelompoknya, dan secara sepihak menjadikan sikap dan faham kelompoknya sebagai tolak ukur kebenaran dari otentisitas perjuangan Islam. Sebagai akibatnya, perjuangan yang dilakukan oleh kelompok Islam lainnya dianggap sebagai penyimpangan dan perintang bagi perjuangan dakwah kelompoknya. Bahkan segala kebajikan yang diserukan kelompok lain, tidak mengikat mereka yang merasa berbeda dengan komunitas Islam lain itu. Bukan karena kelompok lain itu salah dari sudut pandang Al-Qur’an, melainkan karena sikap tegas membela kebenaran dan melawan kekafiran, melalui dakwah dan jihad fie sabilillah.</p>
<p>Maka terjadilah apa yang semestinya dihindari, yaitu “ rela bermusuhan dengan sesama Muslim, sebaliknya merasa <em>happy</em> bermesraan dengan musuh-musuh Islam.” Mereka merasa enjoi bekerjasama dengan musuh Islam asalkan eksistensi diri dan kelompoknya dapat dipertahankan. Akibat selanjutnya, ketika saudara Muslimnya ditindas dan dizalimi penguasa kafir, mereka tidak merasa berkewajiban membela serta menunjukkan solidaritas Islamnya.</p>
<p>Kenyataan ini tentu saja mempersulit upaya menyatukan barisan umat Islam. Untuk kepentingan ukhuwah Islamiyah, gerakan Islam harus berani mengavaluasi diri sendiri, apakah kita menjadi bagian dari orang-orang yang jujur dalam beragama, ataukah orang-orang yang memanfaatkan Islam sebagai komoditas mencari kesenangan duniawi. Selama suasana batin dari tiap-tiap umat Islam, terutama ulama dan pemimpinnya masih diliputi oleh semangat mencari kesenangan duniawi dengan mengorbankan agamanya, sudah dapat dipastikan stagnasi hubungan sesama Muslim akan kian sulit dicarikan solusinya.</p>
<p><strong>Stagnasi Komunikasi Sesama Muslim:</strong> Ketika stagnasi komunikasi sesame Muslim menjadi dasar dalam interaksi sosial umat Islam maka yang muncul adalah saling menuduh, saling menyalahkan, saling berlomba menjadi agen musuh Islam untuk menghancurkan kekuatan kelompok Islam yang berbeda pendapat dengan kelompoknya. Kenyataan itulah yang menimpa saudara Muslim di Irak, Afghanistan, dan Pakistan. Hal ini terjadi karena tiap kelompok merasa terancam dengan adanya kelompok Islam yang lain, lalu menggunakan kekuatan musuh untuk memperkuat dirinya menghadapi kelompok Muslim lainnya. <em>Subhanallah!</em></p>
<p>Al-Qur’anul Karim mengungkapkan hal ini dengan sangat jelas.</p>
<p>“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Qs. Al-Anfal, 8:73)</p>
<p>Apa yang terungkap di dalam Qur’an ini sudah menjadi realitas di zaman kita sekarang. Lalu apa langkah yang bisa dilakukan ketika kita menghendaki terbentuknya persatuan umat Islam, baik skala nasional maupun internasional? Maukah berbagai komunitas, organisasi, partai, dan jama’ah Islam di Indonesia sekarang menaggalkan egosentrisnya dan meleburkan diri secara total menjadi Muslim ansich tanpa atribut lain? Mungkinkah hal ini dapat direalisasikan, dan dengan cara bagaimana melakukannya?</p>
<p><strong>Lemahnya Motivasi Ishlah:</strong> Umat Islam sekarang berada dalam situasi problematis karena dua factor. Pertama, faktor ulama, sebagai penyuluh bagi umat untuk beragama dengan cara yang benar. Tetapi terbukti, tidak sedikit di kalangan para ulama ini yang menggunakan predikat keulamaannya untuk mengejar gemerlap duniawi, menjadi pendamping bagi penguasa zalim, mencarikan dalil-dalil yang memuaskan hati orang-orang kaya untuk terus melanggengkan sistem ekonomi ribawi, bahkan dengan terang-terangan memelintir ayat-ayat Al Qur’an demi kepentingan nafsunya.</p>
<p>Bukti faktual berkenaan dengan prilaku tidak terpuji ini, adalah pemelintiran ayat-ayat jihad. Ada ulama yang menyatakan, jihad berarti  amal shalih, sedangkan yang lainnya bukan jihad. Ketika ditanyakan tentang jenis-jenis jihad sebagaimana disebutkan oleh Imam Malik dalam kitab <em>Almudawwantul Kubra</em>, bahwa jihad mencakup: amal shalih, membela hak yang dirampas orang lain, amar ma’ruf nahyu mungkar, dan perang dengan senjata. Ternyata mereka tidak memberikan komentar apapun. Selain menunjukkan kelemahan, juga merusak citra syari’at jihad yang dapat menyesatkan pemahaman umat.</p>
<p>Mengapa ulama memiliki motivasi yang lemah untuk memperjuangkan Islam? Karena mereka telah menjadikan dunia ini seakan alam akhirat, sebelum alam akhirat yang sebenarnya datang. Yaitu, <em>“hubbud dunya wa karahiyatul maut</em> -cinta dunia dan takut mati.” Mereka tidak sabar menghadapi derita dan sengsara di dunia ini unruk kelak memperoleh surga di akhirat.</p>
<p>Inilah yang disebutkan oleh Rasulullah Saw sebagai <em>qurraun fasaqatun</em> (ulama fasek). Karena ulamanya fasek, maka ummat pun tidak mendapatkan pencerahan mengenai ajaran Islam yang sebenarnya. Ummat hanya dijejali dengan pendapat syeikh ini dan ulama itu, sehingga mereka jauh dari Al Qur’an dan hadits shahih. Dampak buruknya, sekalipun umat rajin beribadah, namun ketekunan beribadah ternyata tidak berpengaruh dominan dalam menggerakkan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik umat Islam di muka bumi ini.</p>
<p>Selain itu, sebagian ummat Islam malah alergi menerapkan syariat Islam dalam kehidupan politik, bahkan beranggapan antara Islam dan politik, Islam dan Negara, adalah dua hal yang berbeda, dan tidak boleh dicampur adukkan. “Politik merupakan hal yang kotor, sedang agama merupakan hal yang suci, karena itu agama tidak boleh dicampur adukkan dengan politik,” ujar mereka.</p>
<p>Retorika tanpa logika syar’iyah melahirkan sikap ambivalen, sama sekali tidak membantu meningkatkan iman dan amal shalih. Ibarat rinso dan baju kotor. Rinso adalah alat pencuci, sedangkan baju terkena lumpur adalah barang kotor. Apakah anda akan mengatakan bahwa baju kotor ini jangan dicuci dengan rinso, karena rinso pembersih tidak boleh dicampur dengan baju yang kotor? Ataukah anda akan mengatakan, “bila baju kotor harus dipakai terus dan tidak boleh dicuci dengan rinso pembersih, bukankah menyebabkan pemakainya terkena penyakit?” Jika anda tidak mau memakai baju kotor karena khawatir terjangkit penyakit, maka seharusnya logika waras anda berkata: “Jangan menggunakan politik untuk mengatur Negara, karena politik itu kotor.” Konsekuensinya, anda harus mengganti politik itu dengan syariat Islam agar manusia seantero dunia menjadi sehat dan tidak berpenyakit.</p>
<p>Oleh karena itu, ulama yang jujur akan dapat menjadi penyuluh bagi ummat dan memberikan pencerahan bagi para penguasa. Adanya ulama yang shalih, jujur dan pemberani menegakkan kalimatul haq di hadapan penguasa yang zalim merupakan kebutuhan mutlak dalam kehidupan modern ini. Tanpa adanya ulama berkarakter ulama mujahid, sulitlah bagi dunia Islam untuk membangun kembali kejayaannya, dengan mempersatukan barisan dan menyelamatan ummat dari jebakan para pecundang agama.</p>
<p>Bagaimana melahirkan ulama yang dapat menjadi guru bagi ummat dan penyuluh bagi penguasa guna menyongsong kejayaan Islam di masa depan? Seorang ulama iharuslah berkarakter, sehingga berada di garis terdepan dalam mengibarkan panji-panji penegakan syari’at Islam. Seorang ulama adalah manusia yang paling takut menyalahi syariat Allah dan RasulNya dalam segala urusan; dan paling berani mengingatkan ummat dan penguasanya untuk kembali ke jalan Allah.</p>
<p>Dewasa ini, apakah unsur pendorong terciptanya persatuan umat itu lebih dominan atau sebaliknya unsur perpecahan yang lebih besar?  Dalam ilmu fisika dikenal adanya hukum pendorong dan penahan. Bila kekuatan penahan lebih lemah dari kekuatan pendorong, maka kekuatan pendorong akan masuk ke areal tujuan. Bila kekuatan penahan lebih kuat maka pendorong akan tersingkir.</p>
<p>Hukum fisika ini juga bisa berlaku dalam perjuangan agama dan ideologi. Bila kekuatan pendorong yang terdapat di dalam diri orang- orang yang memperjuangkan Islam, untuk membangun kekuatan Islam lebih kuat daripada semangat perpecahan yang terdapat pada diri masing-masing tokoh, pasti persatuan akan segera diraih.</p>
<p>Lalu, bagaimana menumbuhkan semangat persatuan di kalangan  umat Islam? Jawabannya terdapat dalam firman Allah surat Ali Imram ayat 103, yang merupakan hukum fisika bagi alam, dan hukum mental bagi manusia.</p>
<p>“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”</p>
<p>Ayat ini secara aksiomatis menegaskan bahwa tidak ada jalan lain yang jadi pijakan ummat Islam untuk bersatu, selain ummat Islam konsisten berpegang pada syari’at Islam secara utuh, sebagaimana termaktub dalam Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Sedangkan cara lain, justru akan menghancurkan kekuatan umat Islam itu.</p>
<p>Analisis yang banyak dikemukan sarjana Muslim lulusan Barat dengan tinjauan sosiologis, politis, dan psykologis berkenaan dengan perpecahan umat Islam dan sulitnya untuk bersatu, hanyalah sebuah imajinasi dan halusinasi yang tidak memili landasan wahyu Ilahy.</p>
<p>Oleh karena itu, umat Islam harus jujur terhadap dirinya sendiri, bersedia untuk i’tisham (berpegang teguh) pada Quran dan sunnah secara konsisten; atau sebaliknya dengan resiko terus menerus berpecah belah ala jahiliyah. Untuk itu Majelis Mujahidin menyerukan pada seluruh komponen dan pimpinan umat Islam untuk melakukan dialog secara terbuka, membicakan segala sisi keterpurukan dan kelemahan umat Islam sekarang, guna merumuskan langkah-langkah kongkrit menuju kebangkitan dan kejayaan umat Islam di era globalisasi ini.</p>
<p>Seruan ini sekaligus merupakan bentuk pertanggungan jawab Majelis Mujahidin kepada Allah dan umat Islam, sedangkan pihak atau kelompok ummat Islam lainnya diharapkan juga berbuat hal yang sama. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya pada kita.</p>
<p>Kita harus mengakhiri kondisi stagnasi, merasa serba lemah, dan tidak berdaya menghadapi musibah yang membebani ummat Islam selama lebih dari satu abad. Yaitu, sejak khilafah Utsmaniyah kendalinya berada di tangan kaum nasionalis sekuler dua abad lalu. Dengan pertolongan Allah muncul kesadaran pada segenap komponen umat Islam seluruh dunia untuk bersama-sama membangun kembali tali silaturrahim dan merajut benang yang terputus di antara sesama Muslim, karena provokasi ideologi nasionalis sekuler di berbagai negeri Islam.</p>
<p>Kesadaran akan pentingnya persatuan dalam rangka menegakkan syari’at Islam harus senantiasa dikumandangkan agar menjadi kekuatan yang dapat dipergunakan untuk membangun dunia yang diamanatkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Yaitu dunia yang penuh dengan rahmat Allah bagi segenap umat manusia apapun agama, bangsa dan asal usulnya. Bahkan juga menjadi rahmat bagi segenap makhluk di jagat raya ini, karena Islam melindungi hak hidup flora dan fauna sebagai makhluk Allah juga. Alangkah indahnya jagat raya yang dinaungi oleh syariat Islam, dan alangkah damainya hati setiap manusia yang merasakan sentuhan rahmat Ilahy.</p>
<p>Dalam kaitan ini, Majelis Mujahidin mengingatkan kepada seluruh kaum Muslimin atas pesan Khalifah Abu Bakar: “Tidak ada persatuan tanpa mengikuti sunnah Nabi Saw.”</p>
<p>Demikian pula pesan Khalifah Umar bin Khathab: “Kebenaranlah yang membuat kamu menjadi kuat, dan bukan kekuatan kamu yang membuat jayanya kebenaran.” Dengan heroisme yang sma ditunjukkan oleh Khalifah Utsman bin Affan yang berpesan: “Kejayaan ummat ini akan terpelihara selama Al Qur’an berdampingan dengan kekuatan. Bilamana kekuatan tanpa Qur’an akan menjadi anarkhis, dan bilamana Qur’an tanpa kekuatan tidak bermakna bagi kehidupan.” <em></em></p>
<p><em>Wallahu a’lam bis shawab!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermakmum di Belakang Imam Yang Fasik atau Dzalim?</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 11:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Q & A]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[dzalim]]></category>
		<category><![CDATA[fasiq]]></category>
		<category><![CDATA[makmum]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ustadz, Saya ingin menyanyakan tentang bermakmum kepada imam yang fasik atau dzalim, yang jelas menolak syari’at Islam. Apakah boleh kita bermakmum kepada mereka? Jawaban: Jazakumullahu khairan atas pertanyaan yang anda ajukan. Sebenarnya pertanyaan yang seperti ini bukanlah kali pertama, dan mungkin juga bukan kali terakhir. Untuk klarifikasi dan penjelasan marilah kita ambil pelajaran dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignright size-medium wp-image-620" title="shalatjamaah" src="http://abujibriel.com/ajib/wp-content/uploads/2010/01/shalatjamaah-300x225.jpg" alt="shalatjamaah" width="300" height="225" />Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ustadz, Saya ingin menyanyakan tentang bermakmum kepada imam yang fasik atau dzalim, yang jelas menolak syari’at Islam. Apakah boleh kita bermakmum kepada mereka?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Jazakumullahu khairan </em>atas pertanyaan yang anda ajukan. Sebenarnya pertanyaan yang seperti ini bukanlah kali pertama, dan mungkin juga bukan kali terakhir. Untuk klarifikasi dan penjelasan marilah kita ambil pelajaran dari hadits-hadits berikut.</p>
<p>Dari Jabir, dari Navi Saw beliau bersabda: <em>“Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimam laki-laki; dan jangan seorang baduwy (mengimami) muhajir; dan janganlah sekali-kali seorang pendurhaka mengimami orang mukmin, kecuali karena paksaan dari penguasa yang ditakuti cambukan atau pedangnya.” </em><strong>(HR. Ibnu Majah</strong><strong>)</strong></p>
<p>Dan dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: <em>“Pilihlah imam-imam kamu dari orang-orang dari orang-orang baik kamu, karana sesungguhnya mereka itu duta kamu, tentang apa-apa yang antara kamu dengan Rabbkamu.”</em><strong>(HR. Daraquthnie)</strong></p>
<p>Dan dari Makh-hul, dari Abu Hurairah, ia barkata: Rasulullah Saw bersabda: <em>“Berjihad itu wajib atas kamu bersama setiap pemimpin, apakah dia pemimpn yang baik atau yang durhaka; dan shalat itu wajib atas kamu di belakang setiap muslim, apakah dia itu orang yang baik atau yang durhaka, sekali pun dia melakukan dosa-dosa besar.” </em><strong>(HR. Abu Daud)</strong></p>
<p>Dan dari Abdul Kariem Al Bakkaie, ia berkata: <em>“Aku menjumpai sepuluh orang sahabat Nabi yang semua itu sholat di belakang imam-imam yang durhaka.” </em><strong>(HR. Bukhari, di dalam Tarikhnya)</strong></p>
<p><strong>Penjelasan:</strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;"><strong>1. </strong><strong>Syarih (penyarah kitab Nailul Authar) berkata</strong>: Telah terjadi ijma’ fi’lie dari kalangan sahabat yang masih hidup, bersama tabi’in, yang mendekati sebagai ijma’ qaulie: bahwa mereka shalat di belakang imam durhaka. Karena para penguasa pada masa itu, adalah juga sebagai imam shalat yang lima waktu. Jadi orang-orang pada waktu itu, imamnya tidak lain adalah para penguasa, di setiap daerah yang ada penguasanya. Negara disaat itu di bawah dinasti Bani Umayyah, dan keadaan mereka dan para penguasanya sudah bukan rahasia.</span></strong></p>
<p>Selanjutnya Syarih berkata: Walhasil, pada dasarnya tidak ada persyaratan (bagi imam itu) harus adil. Dan setiap orang yang sudah sah shalatnya untuk dirinya, sah pula untuk orang lain.</p>
<p>Ketahuilah, bahwa letak perselishannya, hanya dalam sahnya berjama’ah, di belakang seorang imam yang tidak adil. Adapun tentang kemakruhannya tidak menjadi perselisihan lagi.</p>
<p>Perkataan: “Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimam laki-laki; dan jangan seorang baduwy (mengimami) muhajir;” itu, Syarih berkata: Maksudnya, bahwa orang baduwy yang tidak berhjrah, tidak boleh mengmami orang yang pernah berhijrah. Bahwa orang yang berhijrah lebih dahulu itu, lebih diutamakan (menjadi imam) daripada yang berhjrah belakangan, lagi-lagi yang tidak berhijrah.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Berkata Al Ustaz Sayyid Sabiq dalam Fiqieh Sunnahnya</strong>:</p>
<p>Imam Bukharie meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah shalat dibelakang Al Hajjaj (seorang penguasa yang sangat jahat dan banyak membunuh sahabat-sahabat Nabi saw). Imam Muslim meriwayatkan bahwa Abu Sa’id Al Khudrie pernah melaksanakan shalat dibelakang khalifah Marwan pada waktu shalat Hari Raya. Ibnu Mas’ud RA, juga pernah shalat dibelakang Walid bin Uthbah bin Abu Mu’ith padahal dia adalah peminum arak.</p>
<p>Pada perinsipnya, sebagai kesimpulan para ulama ialah: Barangsiapa yang shalatnya sah untuk dirinya sendiri, maka sah pula untuk orang lain. Walaupun demikian para ulama memandang makruh bagi seseorang yang mengerjakan shalat dibelakang orang fasik atau ahli bid’ah berdasarkan sebuah dari Su’aib bin Khallad katanya: ”Ada seseorang yang mengimami segolongan kaum dan dia meludah kearah kiblat, padahal pada saat itu Rasulullah melihatnya. Beliaupun bersabda: <em>”Orang itu tidak boleh menjadi imam mu.” </em>Pada suatu ketika orang itu hendak menjadi imam lagi, tetapi orang-orang melarangnya dan menyampaikan kepadanya apa yang disampaikan oleh Nabi saw .Orang itupun segera menghadap Rasulullah saw untuk meminta penjelasan. Beliau bersabda: “<em>Ya, karena engkau berbuat tidak senonoh kepada Allah dan Rasul Nya.” </em><strong>(HR. Abu Daud dan Mundziri)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Wallahu&#8217;alam Bish Showab&#8230;</em></p>
<p><strong><em>Rujukan :</em></strong></p>
<ul>
<li>Kitab Bustanul Akhbar (Mukhtashar Nailul Authar Imam As Syaukani) oleh : Shyeikh Faishal bin Abdul ‘Azis</li>
<li>Kitab Fiqhus Sunnah oleh : Syeikh Sayyid Sabiq.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haram Merayakan Natal &amp; Tahun Baru [Peringatan Bagi Kaum Muslimin]</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/haram-merayakan-natal-tahun-baru-peringatan-bagi-kaum-muslimin/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/haram-merayakan-natal-tahun-baru-peringatan-bagi-kaum-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 11:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Allah swt. telah memuliaakan umat ini dengan Islam, dan memerintahkan-nya untuk mengimplementasikan-nya. Dia telah menurunkan Islam sebagai cara hidup yang unik. Sebuah pola yang berbeda dalam masalah konsepnya dan peraturan-peraturannya, sebagai sesuatu yang sempurna dan sistem menyeluruh yang mengatur semua urusan kehidupan. Allah swt. berfirman: &#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah swt. telah memuliaakan umat ini dengan Islam, dan memerintahkan-nya untuk mengimplementasikan-nya. Dia telah menurunkan Islam sebagai cara hidup yang unik. Sebuah pola yang berbeda dalam masalah konsepnya dan peraturan-peraturannya, sebagai sesuatu yang sempurna dan sistem menyeluruh yang mengatur semua urusan kehidupan. Allah swt. berfirman:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah&#8230;&#8221;</em><strong> (QS Ali Imran 3 : 110)</strong></p></blockquote>
<p>Namun, sejak Islam diabaikan dari kehidupan sehari-hari sebagai sebuah sistem peraturan, umat telah melaksanakan hal-hal yang buruk dan semakin bertambah buruk; aturan orang-orang kafir telah diimplementasikan atas umat ini dan konsep-konsep kufur telah mendominasi mereka. Invasi barat dengan budaya busuk dan hina dina itu telah berhasil merusak dien Islam, moral umat dan menjadikannya tak bernilai. Slogan barat telah di adopsi oleh kaum Muslimin melalui perayaan-perayaan dan festival-festival barat. Budaya rusak barat ini telah dibantu oleh para penguasa yang mengabdikan dirinya untuk memisahkan Islam dari kehidupan dan melakukan perang pemikiran dan menanamkan konsep-konsep buruknya, kemudian memaksa umat untuk masuk pada apa yang barat selalu inginkan, yakni menjadi individu yang sekuler.</p>
<p>Salah satu dari banyak konsep budaya yang dipaksakan oleh barat atas kaum Muslimin adalah perayaan natal dan tahun baru. Kita memohon pada Allah swt. agar tidak membiarkan diri kita melihat suatu hari dimana kaum Muslimin merayakan hari jadi orang-orang Yahudi (hari raya Yahudi) dan juga melakukan perayaan Natal.</p>
<p>Ini sungguh menyedihkan dan ironis sekali untuk menyaksikan dengan mata sendiri kejadian dan mendengar berita tentang pembunuhan masal, pengusiran dan penghinaan terhadap kaum Muslimin di tangan barat pada hari Natal, musuh-musuh Islam di seluruh penjuru dunia, sambil sebagian kaum Muslimin di negeri ini diundang oleh orang-orang Amerika dan orang Kristen lain-nya masuk ke dalam rumah mereka untuk merayakan natal dan tahun baru. Tentu saja, ini seharusnya tidak terjadi sebagai sebuah goncangan kepada kita sejak umat ini kehilangan pelindungnya yang menjalankan urusannya dengan Islam, melindunginya dari serangan konsep-konsep kufur dan menjalankan peraturan-peraturang diennya, memeliharanya sebagai sebuah perintah Allah swt., sebuah umat yang khas.</p>
<p>Wahai kaum Muslimin! Itu (Perayaan atau mengucapkan natal &amp; tahun baru) adalah sesuatu yang dilarang oleh syariah untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dan untuk mencontoh mereka dalam masalah dien (agama). Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahih-nya melalui Abu Sa&#8217;id Al Khudri r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda :</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Kamu akan mengikuti cara-cara dari orang-orang yang sebelum kamu sehasta demi sehasta dan selangkah demi selangkah, walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka&#8221;. </em>Kami berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksud (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?&#8221; beliau menjawab: <em>&#8220;Siapa lagi?&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Dalam Hadits ini Rasulullah mengejek orang-orang yang meniru orang-orang kafir, dan itu adalah sebuah hujjah (dalil/alasan syar&#8217;i) bahwa itu (merayakan natal dan tahun baru) adalah haram (tertolak), baik untuk mengikuti mereka dalam perayaan natal dan seremonial-seremonial lainnya mereka. Itu juga jelas bahwa perayaan seremonial orang-orang kafir dan perayaan ulang tahun mereka berarti meniru mereka dan Islam telah menolaknya. Rasulullah saw. telah memberi peringatan kepada kita untuk menolaknya. At-Tirmidzi meriwayatkan melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Bukan seseorang dari kita (kaum muslimin) yang meniru suatu kaum, jangan meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>At-Tabrani meriwayatkan melalui Ibnu Umar dan Hudaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Siapa yang mengikuti suatu kaum akan menjadi salah satu dari mereka.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Itu juga merupakan bagian dari teks syariah bahwa itu adalah tertolak bagi seorang Muslim yang telah mempunyai hari raya nya sendiri yaitu I&#8217;edul Fitri dan I&#8217;dul Adha. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam &#8216;Sunan&#8217;-nya dari Anas Bin Malik yang berkata :</p>
<p>&#8220;Rasulullah saw. datang ke Madinah pada saat orang-orang Madinah mempunyai dua hari pada masa jahiliah (sebelum Islam) yang mereka rayakan, maka beliau saw. berkata: &#8220;Aku datang kepadamu pada saat kamu mempunyai 2 hari dari masa jahiliah yang kamu rayakan, dan Allah swt. telah menggantikannya 2 hari ini dengan dua hari yang lebih baik: hari raya Kurban dan hari Fitri.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan dari &#8216;Uqbah Ibnu Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Dan kami mempunyai hari Fitri, hari Kurban dan hari Tasyriq adalah hari besar kami orang-orang Muslim.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Teks-teks ini disajikan sebagi hujjah yang jelas bahwa itu tertolak bagi kaum Muslimin untuk mempunyai perayaan selain dari pada apa yang telah Allah swt. putuskan. Mereka (kaum muslimin) selanjutnya tertolak untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dari perayaan seperti upacara mereka, adalah sesuatu yang tertolak seperti menghadiri perayaan mereka, walau pun mereka mengundang. Seperti cara upacara akan menghantar kepada kerusakan dan pemutusan mereka akan menjadi sebuah kesempatan bagi setiap orang-orang fasiq untuk melakukan perbuatan yang berdosa, seperti mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang. Media masa yang ada cenderung pada peristiwa ini untuk menayangkan program-program yang mempunyai selera yang buruk dan semua jenis ketidaksopanan dan kerusakan. Mereka mencemari pemikiran orang-orang dan mengikis segala jenis moral yang baik, martabat, dan kesucian mereka.</p>
<p>Wahai kaum Muslimin! Umat akan terus-menerus tertekan di bawah konsep orang-orang kafir dan akan terus terdominasi. Mental kaum Muslimin akan terus tebentuk sesuai dengan sudut pandang orang-orang barat, kecuali kita mulai membuang semua pemahaman barat yang ada pada diri kita dan berjuang untuk menegakkan Khilafah Rasyidah, yang akan mengimplementasikan kitab Allah swt. dan sunnah Rasul-Nya saw., dan akan menumbangkan ketidakadilan, penguasa tiran dan kerusakan yang tampak atas kaum Muslimin, yang kemudian sebagai hasilnya orang-orang kafir akan kehilangan kekuatan dan identitas mereka.</p>
<p>Selanjutnya, itu adalah untuk khilafah bahwa kita menyeru kepada mu (kaum muslimin) untuk memperjuangkannya, wahai kaum Muslimin! Rasulullah saw. bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Imam (pemimpin) itu adalah pelindung dimana orang-orang berperang dan terlindung dengannya.&#8221; </em><strong>(Shahih Bukhari)</strong></p></blockquote>
<p>Source : Almuhajirun.net</p>
<p><a href="http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/6388/haram-merayakan-natal-tahun-baru" target="_blank">http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/6388/haram-merayakan-natal-tahun-baru</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/haram-merayakan-natal-tahun-baru-peringatan-bagi-kaum-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keagungan &amp; Keutamaan Haji</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/keagungan-keutamaan-haji/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/keagungan-keutamaan-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 06:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/2009/11/584/</guid>
		<description><![CDATA[Haji adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi orang yang mampu, baik mampu secara materi, maupun secara ruhani. Sayangnya, orang yang secara materi tergolong mampu, banyak yang belum mau menunaikan ibadah suci ini dengan berbagai alasan. Ada yang mengatakan, “Saya sibuk, sulit untuk meninggalkan pekerjaan,” atau “Sebenarnya saya ingin, tapi ibadah saya masih kacau balau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Haji adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi orang yang mampu, baik mampu secara materi, maupun secara ruhani. Sayangnya, orang yang secara materi tergolong mampu, banyak yang belum mau menunaikan ibadah suci ini dengan berbagai alasan. Ada yang mengatakan, <em>“Saya sibuk, sulit untuk meninggalkan pekerjaan,”</em> atau <em>“Sebenarnya saya ingin, tapi ibadah saya masih kacau balau takutnya tidak sesuai,”</em> atau <em>“Sayangnya, capek-capek ngumpulin uang, hanya untuk pergi ke Mekah saja.”</em></p>
<p>Berbagai macam alasan sering dilontarkan sebagai pembela diri. Agar <em>Ikhwah Fillah</em> semakin mantap untuk melaksanakan ibadah haji, atau minimal <em>Ikhwah Fillah</em> punya keinginan kuat untuk menunaikan ibadah di tanah suci, perlu <em>Ikhwah Fillah</em> ketahui keutamaan haji dan umroh, antara lain:</p>
<ol>
<li>Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang paling utama, berdasarkan hadits Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :<strong></strong></li>
</ol>
<p>&#8220;Dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu</em> ia berkata: Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> ditanya: ‘Amal ibadah apakah yang paling utama?’ Beliau bersabda: <em>‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’</em>. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: <em>‘Jihad dijalan Allah’</em>. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: <em>‘Haji yang mabrur.’</em>&#8221; <strong>(HR. Al-Bukhari dan Muslim, lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib oleh al-Albani 3/3 hadits No. 1093.)</strong></p>
<ol>
<li>Ibadah haji sebagai penghapus dosa, berdasarkan hadits Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima&#8217; dan tidak pula melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya.&#8221;</em> <strong>(HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)</strong></p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>Radhiallaahu anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda, <em>&#8220;Ikutilah pekerjaan haji dengan melaksanakan umrah; karena sesungguhnya keduanya dapat menghapus dosa dan kekafiran, sebagaimana ubupan tukang besi dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak; dan tiada balasan bagi haji mabrur kecuali surga semata.&#8221;</em> <strong>(Shahih: Shahihul Jami&#8217;us Shaghir no: 2901, Tirmidzi II: 153 no:807 dan Nasa&#8217;I V:115)</strong></p>
<ol>
<li>Balasan bagi haji mabrur adalah Surga, berdasarkan sabda Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Umrah (yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat (peng-hapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan Surga.&#8221;</em> <strong>(HR. Malik, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah). Lihat Shahih at-Targhiib No. 1096. )</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda, <em>&#8220;Umrah ke umrah selanjutnya adalah sebagai penebus dosa antara keduanya; dan haji mabrur tidak mempunyai balasannya kecuali ke surga.&#8221;</em> <strong>(Muttafaqun&#8217;alaih: Fathul Bari III: 697 no: 1773, Muslim II: 983 no: 1349, Tirmidzi II: 206 no:937, Ibnu Majah II: 964 No: 2888 dan Nasa&#8217;I V: 115)</strong></p>
<p>Dan dari Jabir bin &#8216;Abdillah dari Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> , beliau bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga.</em>” Dikatakan (kepada beliau): &#8216;Apakah bentuk bakti dalam haji itu?&#8217; Beliau berkata: <em>&#8216;Memberi makanan dan berbicara yang baik.’</em>” <strong>(HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Albani berkata: &#8220;Shahih lighairihi, lihat Shahih at-Targhiib&#8221; No. 1104)</strong></p>
<ol>
<li>Haji adalah jihad bagi para wanita dan setiap orang yang lemah, berdasarkan hadits Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :</li>
</ol>
<p>&#8220;Dari &#8216;Aisyah <em>Radhiallaahu anha</em>, ia berkata, aku bertutur: &#8216;Ya Rasulullah kami melihat bahwasanya berjihad adalah amal ibadah yang paling utama, apakah kami (para wanita, -pent) tidak berjihad? Maka beliau bersabda: <em>&#8216;Bagi kalian (kaum wanita,-Pent), jihad yang paling utama adalah haji mabrur&#8217;</em>&#8221; .</p>
<p>Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, &#8216;Aisyah <em>Radhiallaahu anha</em> berkata:</p>
<p>&#8220;Aku bertutur: &#8216;Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban berjihad bagi kaum wanita?&#8217; Beliau berkata: <em>&#8216;Bagi wanita adalah jihad yang tidak ada peperangan padanya (yaitu) haji dan umrah.&#8217;</em>&#8221; <strong>(Dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahih at-Targhiib No. 1099).</strong></p>
<p>Dan dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu </em>, dari Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> , beliau bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Jihad orang yang tua, orang yang lemah dan wanita adalah haji dan umrah.&#8221;</em></p>
<ol>
<li>Orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah, dan permohonan mereka dikabulkan, berdasarkan hadits &#8216;Abdullah Ibnu &#8216;Umar <em>Radhiallaahu anhu</em> , Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda:</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka.&#8221;</em></p>
<p><strong>Keutamaan perjalanan haji, keutamaan orang yang mati dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji, dan keutamaan orang yang mati dalam keadaan berihram (ditengah pelaksanaan ibadah haji dan/atau umrah.)</strong> Semuanya termaktub dalam hadits-hadits dibawah ini:</p>
<ol>
<li> Dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar <em>Radhiallaahu anhu</em> ia berkata, aku mendengar Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda:</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Tidaklah unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau meng-angkatnya datu derajat.&#8221;</em></p>
<ol>
<li>Dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu</em>, ia berkata, Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda:</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Barangsiapa keluar dalam melaksana-kan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari Kiamat.&#8221;</em></p>
<ol>
<li>Dari &#8216;Abdullah Ibnu &#8216;Abbas <em>Radhiallaahu anhu</em>, ia berkata:</li>
</ol>
<p>&#8220;Tatkala seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> dipadang &#8216;Arafah, tiba-tiba ia dijatuhkan oleh binatang (unta) yang dikendarainya dan mematahkan lehernya, maka Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda: <em>&#8216;Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya, karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan dihari Kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah.&#8217;</em>&#8220;</p>
<p>- Dan lain-lain.</p>
<p>Itulah sejumlah keutamaan ibadah haji dan umrah yang kami rangkum dari beberapa hadits yang shahih dan hasan. Jika kita telah mengetahuinya, maka sepatutnya bagi orang yang mampu untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah haji, serta menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, manakala ia memilikinya.</p>
<p>Syaikh &#8216;Abdullah bin Ibrahim al-Qar&#8217;awi berkata: &#8220;Disunnahkan melaksanakan haji setiap tahun bagi orang yang mampu selama tidak membahayakan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya&#8221; , berdasarkan hadits &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>Radhiallaahu anhu</em> , Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan pahala bagi haji yang mabrur kecuali Surga, tidaklah seorang mukmin dalam kesehariannya berada dalam keada-an ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosanya.&#8221;</em></p>
<p>Sunnah tersebut semakin ditekankan lagi jika telah melewati empat atau lima tahun dari haji yang dilakukan sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah berfirman: &#8216;Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan jasadnya dan Ku-lapangkan penghidupannya, telah berlalu lima tahun atasnya, dia tidak datang kepada-Ku, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan-Pent).</em> <strong>(HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya, Abu Ya&#8217;la dan al-Bai-haqi).</strong></p>
<p>Sedangkan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dengan redaksi:</p>
<p>&#8220;Bahwasanya Allah berfirman: <em>&#8216;Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan tubuhnya, Ku-lapangkan rizkinya, (namun) dia tidak datang kepada-Ku pada setiap empat tahun, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan,-Pent)</em> <strong>(Al-Haitsami berkata dalam Majma&#8217;uz Zawaa-id perawi hadits ini semuanya perawi kitab ash-Shahih.)</strong></p>
<p><em>Wallahu’alam bisshowab…</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/keagungan-keutamaan-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musibah &amp; Bala Bencana Adalah Teguran Dari Allah</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 14:42:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[azab]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[teguran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya menukar hukum Allah dengan hukum jahiliyah dan kecenderungan masyarakat memilih serta mengikuti tradisi nenek moyang dengan ajaran sesatnya yang bertolak belakang dari hidayah dan Sunnah Rasulullah Saw.</p>
<p>Al Qur&#8217;an menjelaskan, membenarkan hal tersebut, Allah Swt berfirman:</p>
<blockquote><p><em>“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.”</em> <strong>(QS. Al Qhashash, 28 : 59)</strong><span id="more-576"></span></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.”</em> <strong>(QS. Hud : 117)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” </em><strong>(QS. An Nisaa : 147)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.&#8221; </em><strong>(QS. Al Isra, 17 : 16)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” </em><strong>(QS. Al Isra, 17 : 58)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” </em><strong>(QS. As Syura, 42 : 30)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” </em><strong>(QS. An-Nahl, 16 : 112)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”</em> <strong>(QS. Ibrahim, 14 : 28-29)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dri merka,mereka telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata.Maka Allah sekali-kali berlaku dzalim kepada mereka ,tetapi merekalah yang berlaku dzalim terhadap dir mereka.Kemudian akibat orang-orang yang melakukan kedurhakaan dan kejahatan adalah azab siksa yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olok.”</em> <strong>(QS. Rum, 30 : 9-10).</strong></p></blockquote>
<p>Dan firmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“(ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: &#8220;Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya&#8221;. (Allah berfirman): &#8220;Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221;. Kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): &#8220;Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar&#8221;, (tentulah kamu akan merasa ngeri), demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi amat keras siksaan-Nya, (siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.], dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” </em><strong>(QS. Al An fal, 8 : 49-55)</strong></p></blockquote>
<p>Demikianlah di antara ayat-ayat Allah yang menerangkan sebab-sebab datangnya musibah dan bala bencana.</p>
<p>Rasulullah Saw juga menerangkan akan sebab-sebab musibah dalam haditsnya:</p>
<p>Berkata Ummu Salamah, istri Rasulullah Saw, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“Jika timbul maksiat pada ummatku, maka Allah akan menyebarkan azab-siksa kepada mereka.”</em> Aku berkata : Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu tidak ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: <em>“ada!”</em>. Aku berkata lagi: Apa yang akan Allah perbuat kepada mereka? Beliau menjawab: <em>“Allah akan menimpakan kepada mereka azab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan keampunan dan keredhaan dari dari Rabbnya.” </em><strong>(HR. Imam Ahmad)</strong></p></blockquote>
<p><strong>Lima Sebab Datangnya Azab dan Siksa Allah.</strong></p>
<p>Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada Allah mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kamu atau kamu tidak menjumpainya, yaitu,<br />
</em></p>
<ol>
<li><em>Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta&#8217;un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh Allah turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya penguasa.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh Allah, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri.”</em> <strong>(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)</strong></li>
</ol>
</blockquote>
<p><strong>Lima Belas Perkara Mendatangkan Musibah &amp; Bala Bencana.</strong></p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: <em></em></p>
<blockquote><p><em>&#8220;Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” </em></p></blockquote>
<p>Ditanyakan, apakah lima belas perkara itu wahai Rasulullah?</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda: <em> </em></p>
<blockquote><p><em>&#8220;Apabila…</em></p>
<ol>
<li><em>Harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi,</em></li>
<li><em>Amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan,</em></li>
<li><em>Zakat dianggap sebagai cukai (denda),</em></li>
<li><em>Suami menjadi budak istrinya (sampai dia),</em></li>
<li><em>Mendurhakai ibunya,</em></li>
<li><em>Mengutamakan sahabatnya (sampai dia),</em></li>
<li><em>Berbuat zalim kepada ayahnya,</em></li>
<li><em>Terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari&#8217;ah),</em></li>
<li><em>Orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat),</em></li>
<li><em>Seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya,</em></li>
<li><em>Minuman keras (khamar) tersebar merata dan menjadi kebiasaan,</em></li>
<li><em>Laki-laki telah memakai pakaian sutera,</em></li>
<li><em>Penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan,</em></li>
<li><em>Alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan,</em></li>
<li><em>Generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya;</em></li>
</ol>
<p><em>Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang diatasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tananh longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.”</em> <strong>(HR. Tirmidzi, 2136)</strong></p></blockquote>
<p>Itulah perkara-perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan, kehancuran, kesempitan, kemelaratan, perseteruan, dan perpecahan satu sama lainnya, antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan penguasa. Korupsi dan ketidakadilan merajalela, segala macam penyakit bermunculan menimpa manusia, yang benar-benar menyulitkan dan membinasakan kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.</p>
<p>Oleh sebab itulah, Rasulullah Saw berdoa agar sahabat-sahabatnya tidak menjumpai keadaan yang demikian dahsyat dan terpuruknya. Dari semua perkara yang menyebabkan datangnya siksa dan azab itu. Insya Allah akan berakhir jika manusia dan kaum Muslimin khususnya kembali kepada Allah dan Rasul Nya, berpegang teguh kepada Dinullah (Islam yang sebenar-benarnya, menurut Al Qur’an dan As Sunnah) mengikut petunjuk Rasulnya.</p>
<p>Sebagai penutup, renungkanlah firman Allah Swt berikut serbagai introfeksi kita semua:</p>
<blockquote><p><em>”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri <strong>Beriman dan Bertakwa</strong>, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”</em> <strong>(QS. Al A&#8217;raf, 7: 96)</strong></p></blockquote>
<p><em>Wallahu’alam bis showab&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Download makalah asli klik link berikut:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a title="MUSIBAH &amp; BALA BENCANA ADALAH TEGURAN DARI ALLAH" href="http://www.mediafire.com/file/mm1m2ttmo5a/MUSIBAH &amp; BALA BENCANA ADALAH TEGURAN DARI ALLAH (www.abujibriel.com).pdf" target="_blank">PDF</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
