<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>abujibriel.com &#187; Featured</title>
	<atom:link href="http://www.abujibriel.com/category/featured/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.abujibriel.com</link>
	<description>Al Qur&#039;an Sebagai Pedoman, Pedang Sebagai Pengawal</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 03:06:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Urgensi Penegakan Syari’at Islam Di Indonesia</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 13:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[Mukaddimah MUNGKINKAH SYARI’AH ISLAM TEGAK DI INDONESIA ? Inilah sebuah pertanyaan yang selalu berulang, terkadang sesekali menghilang, namun tidak berselang lama kembali muncul menempati posisinya semula. Mengapa begitu…? Karena memang kelazimannya demikian, afdhalnya disebuah Negara yang mayoritas terbesar penduduknya beragama Islam, seperti Indonesia ini, seharusnya adalah Negara Islam atau Negara yang dikelola berdasarkan Syari’at Islam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mukaddimah</strong></p>
<p><strong>MUNGKINKAH SYARI’AH ISLAM TEGAK DI INDONESIA ? </strong>Inilah sebuah pertanyaan yang selalu berulang, terkadang sesekali menghilang, namun tidak berselang lama kembali muncul menempati posisinya semula. Mengapa begitu…? Karena memang kelazimannya demikian, <em>afdhal</em>nya disebuah Negara yang mayoritas terbesar penduduknya beragama Islam, seperti Indonesia ini, seharusnya adalah Negara Islam atau Negara yang dikelola berdasarkan Syari’at Islam. Ditinjau dari tatakerama demokrasi sekalipun, yang salah satu asasnya adalah kedaulatan rakyat, maka sangat wajar bila Indonesia memberlakukan Syari’at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di manapun di dunia ini, keyakinan dan dominasi penduduk mayoritaslah yang menjadi identitas negaranya. Di Rusia, China, Nikaragua, penduduk mayoritas berfaham komunis, maka berdirilah negara komunis. Begitu pun di Amerika, Inggris, Australia, Prancis dan lain-lainnya, mayoritas penduduknya berfaham demokrasi, maka berdirilah negara demokrasi.</p>
<p>Apalagi, jika ditinjau dari kaidah dan akidah Islam, yang mewajibkan umat Islam menjalankan syari’at Islam dalam segala aspek kehidupan. Semangat iman seperti inilah, yang membuat perjuangan menegakkan Syari’ah Islam di Indonesia tidak pernah padam. Semenjak Islam masuk ke negeri ini pada abad ke-13, kerajaan-kerajaan Islam di kala itu senantiasa berusaha untuk menegakkan Syari’ah Islam di wilayah kerajaannya. Ketika penjajah Belanda berkuasa pun, upaya-upaya ke arah tegaknya Syari’ah Islam masih terus dilakukan. Setelah Indonesia merdeka, usaha penegakan Syari’ah Islam juga tidak pernah berhenti, baik melalui parlementer oleh parpol Islam Masyumi sehingga melahirkan Piagam Jakarta, maupun melalui perjuangan bersenjata dengan diproklamirkannya Negara Islam Indonesia di Jawa Barat, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi Selatan oleh SM. Kartosuwiryo, Tengku Daud Beureueh, Ibnu Hajar dan Qahhar Mudzakkar.</p>
<p>Namun, apa yang dianggap wajar dalam Negara demokrasi bahkan komunis sekalipun, menjadi tidak wajar di Indonesia. Negara justru bersikap represif terhadap aspirasi dan keyakinan penduduk mayoritas Muslim. Bayangkan, sekiranya mayoritas penduduk Indonesia berfaham komunis, wajarkah bila mereka menuntut berdirinya Negara komunis, dan hukum yang berlaku adalah hukum komunis yang anti tuhan itu? Jika ya, mengapa hal yang sama tidak berlaku bagi Islam, malah umat Islam yang menuntut berdirinya Negara Islam atau berlakunya Syari’at Islam di lembaga Negara dimusuhi sebagai pelaku subversi, anti pemerintah, dan musuh negara? Tapi, jika tidak, itukah mentalitas demokrasi sesungguhnya?</p>
<p>Beginilah prilaku orang-orang kafir sepanjang masa, dimanapun hingga akhir zaman, telah  di predeksi dalam Al-Qur’an, dan menjadi kekhawatiran Nabi Nuh <em>alaihi salam</em>, sebagaimana terekam dalam firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Nuh berkata: “Ya Rabbi, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.” </em><strong>(Qs. Nuh, 71: 26-27)</strong></p>
<p>Nabi Nuh <em>alaihi salam</em> adalah Nabi yang paling lama usia dakwahnya, menyeru manusia dengan cara diam-diam dan terang-terangan, menyeru mereka di waktu pagi atau petang, siang dan malam tetapi tidak berhasil, malah bertambah bejat moral dan akhlaq mereka. Berikut adalah potret bagaimana kerasnya hati orang-orang kafir menerima dakwah:</p>
<p><em>Nuh berkata: &#8220;Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” </em><strong>(Qs. Nuh, 71: 5-9)</strong><em> </em></p>
<p>Itulah gambaran kekafiran kaum Nuh <em>alaihi salam</em> terhadap syari’ah Allah dan bagaimana dengan kaum yang lain seperti kaum Nabi Musa <em>alaihi salam</em>, kaum Nabi Isa<em> alaihi salam</em> dan ummat Nabi Muhammad Saw. Ternyata tidak jauh berbeda, bahkan lebih sesat dan jahat. Menghadapi kaum yang demikian tidaklah lazim bagi penyeru kebenaran untuk lemah dan mengalah, bahkan wahya yang datang kepada Nabi Muhammad Saw, memerintahkan beliau bersabar dan tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang dzalim.</p>
<p><em>“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. </em><em>Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim [Cenderung kepada orang yang zalim Maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, Maka dibolehkan ] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” </em><strong>(Qs. Hud, 11: 112-115)</strong><strong> </strong></p>
<p>Para penegak syari’ah haruslah memiliki ketangguhan dalam segi keyakinan dan kesabaran dalam menghadapi gelombang ujian yang beraneka ragam, mereka tidak boleh lemah, bersedih hati apalagi berputus asa. Karena berputus asa bukanlah kebiasaan dan sifat mujahid dakwah yang shalih, sifat lemah semangat dan putus asa itu adalah sifat orang yang kafir. Allah berfirman:</p>
<p><em>“…Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiadalah yang  berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Yusuf, 12: 87)</strong><em> </em></p>
<p>Dalam ayat lain Al Qur’an menjelaskan sifat dan karakter orang yang teguh dan tangguh dalam keimanan sehingga musibah apapun yang menimpanya senantiasa tidak mampu menggeser apalagi menggoyangkan perinsip hidupnya.</p>
<p><em>“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: &#8220;Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kamidan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Ali Imran, 3: 146-147)</strong><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tekanan Terhadap Gerakan Penegak Syari’ah Islam</strong></p>
<p>Eksistensi gerakan penegak Syari’at Islam, pada gilirannya bagai terjepit di antara dua sisi, karena ulah orang-orang Islam sendiri. Di satu sisi ada golongan moderat, yang bersikap <em>ambivalen</em> terhadap tuntutan formalisasi syari’at Islam di lembaga negara. Tidak kurang dari tokoh-tokoh dan pemimpin ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah sendiri yang mengatakan bahwa asas negara demokrasi Pancasila sudah final. Mereka sudah merasa puas dengan Negara ‘bukan-bukan’, seperti pernah dikatakan oleh mantan Presiden Soeharto, bahwa Indonesia bukan Negara sekuler, dan bukan pula Negara agama. Celakanya lagi, pemeluk Islam yang secara kebetulan memiliki hak formal dalam menentukan mekanisme pengelolaan negara, seperti para anggota eksekutif, legislatif dan yudikatif, sejauh ini belum berminat secara serius untuk mengatur negara ini sesuai dengan Syari’at Islam.</p>
<p>Sementara di sisi lain terdapat penguasa yang bersikap diskriminatif dan menjadi kaki tangan golongan kafir, yang dengan keras menolak syari’at Islam. Buktinya, sekalipun sudah banyak kepala daerah maupun wali kota dipegang oleh tokoh dari partai Islam, bergelar sarjana lulusan universitas Islam Timur Tengah, alih-alih  membangun masyarakat yang Islami, mereka malah membonceng kafilah kuffar, dan mencurigai Islam sebagai ancaman bagi persatuan dan kesatuan negara. Akibatnya, setiap kali umat Islam menuntut berlakunya syari’at Islam, pemerintah secara semena-mena menuduhnya sebagai pemberonrak, radikal, menentang dasar negara, melawan pemerintah yang sah dan sebagainya. Perangai orang Munafiq seperti ini telah diinfokan Al Qur’an sebagai berikut:</p>
<p><em>“Apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul&#8221;, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” </em><strong>(Qs. An Nisa’, 4: 61)</strong><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Urgensi Syari’at Islam</strong></p>
<p>Di Indonesia, setidaknya ada tiga alasan mendasar, mengapa formalisasi Syari’ah Islam di lembaga negara perlu dilakukan.<strong> <em>Pertama</em></strong>, pelaksanaan Syari’at Islam merupakan ibadah sekaligus kewajiban kolektif umat Islam yang merupakan umat mayoritas negeri ini. <strong><em>Kedua</em></strong>, lembaga negara merupakan institusi yang mempunyai otoritas dan kewenangan mengatur masyarakat untuk melaksanakan Syari’at Islam yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. <strong><em>Ketiga</em>,</strong> formalisasi syari’ah Islam di lembaga negara merupakan hak yuridis konstitusional umat Islam yang dijamin oleh UUD 45 pasal 29, ayat 1 dan 2 serta Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang hingga saat ini masih dinyatakan tetap berlaku.</p>
<p>Sebenarnya, Negara RI membutuhkan Syari’at Islam untuk meraih cita-cita kemerdekaannya. Fakta dan latar belakang historis sejarah kemerdekaan, jelas pemeran utamanya didominasi umat Islam. Selain itu, legal, formal dan konstitusional tidak bertentangan dengan undang-undang RI. Bahkan, Syari’at Islam memberikan norma-norma dan nilai-nilai integral dan komprehensif meliputi seluruh persoalan masyarakat, bangsa dan Negara. Lebih dari itu semua, secara substansial syari’at Islam dapat memenuhi harapan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia untuk kepentingan negara maupun bangsa lain di dunia.</p>
<p>Dalam kerangka ini pula, maka penjelasan Prof. Dr. Hazairin, SH tentang pasal 29 ayat 1 UUD 1945 bahwa: “Negara berkewajiban untuk mengatur dan mengawasi agar warga negara Indonesia menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama masing-masing,” sangat relevan dengan kondisi Indonesia. Dalam buku ‘Demokrasi Pancasila’, Hazairin menafsirkan rumusan UUD 1945 pasal 29 ayat 1 itu sebagai berikut:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> di negara RI tidak boleh ada aturan yang bertentangan dengan agama. <strong>Kedua,</strong> negara RI wajib melaksanakan Syari’at Islam bagi umat Islam, Syari’at Nasrani bagi Nasrani dan seterusnya, sepanjang pelaksanaannya memerlukan bantuan kekuasaan negara. <strong>Ketiga,</strong> setiap pemeluk agama wajib menjalankan syari’at agamanya secara pribadi dalam hal-hal yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara.</p>
<p>Senada dengan itu, adalah pernyataan Dr. Sujatmoko, seorang yang bukan ulama lulusan pesantren, tetapi memiliki obyektifitas berfikir serta kecerdasan intelektual. Berdasarkan pengalamannya sebagai Dubes RI di PBB dan Rektor Universitas PBB di Tokyo, pada awal dekade 90-an, dalam suatu diskusi di Jogjakarta, Sujatmoko mencoba menepis agitasi kaum oportunis di Indonesia, yang menganggap syari’at Islam sebagai ideologi radikal dan pemicu perpecahan.</p>
<p>“Komunisme telah dicoba dan ternyata gagal”, tegas Sujatmoko. Selanjutnya dikatakan, “Kapitalisme dengan segala kejahatannya dipraktikkan dan gagal menciptakan keadilan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Demikian pula sosialisme yang lebih dari sepertiga abad gagal menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat, terutama buruh dan petani. Isme-isme lain juga gagal menciptakan dunia yang damai, bahkan hanya sempat hidup beberapa tahun saja seperti nazisme dan fasisme. Karena itu, mengapa kita tidak mencoba syari’at Islam sebagai alternatif untuk memperbaiki negeri kita?”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Fakta Dukungan</strong></p>
<p>Kini, adanya sejumlah daerah yang mengajukan tuntutan penegakan Syari’ah Islam sebagai alternatif terbaik mengatasi musibah dan problema yang membelenggu kehidupan berbangsa dan bernegara, merupakan indikasi bahwa keinginan umat Islam untuk hidup di bawah naungan syari’at Islam mustahil dibendung. Bahkan di berbagai daerah, aturan-aturan yang bernuansa syari’ah mulai diadopsi ke dalam Peraturan Daerah (Perda), suatu fakta bahwa keinginan menegakkan syari’at Islam melalui kekuasaan pemerintahan diterima masyarakat Indonesia.</p>
<p>Sejumlah survei, yang dilakukan secara nasional dan internasional, menunjukkan dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam meningkat. Survei Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) menunjukkan: 52 persen rakyat Indonesia menuntut penerapan Syari’ah Islam. Sejumlah survei menunjukkan dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam meningkat. Survei Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) menunjukkan: 52 persen rakyat Indonesia menuntut penerapan Syari’ah Islam. Sebelumnya, hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002 (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002) menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan Syari’ah Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat demikian. Ini berarti, ada peningkatan sekitar 10%. Sebelumnya, hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002 (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002) menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan Syari’ah Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat demikian. Jelas, ini pertanda adanya peningkatan cukup tinggi, sekitar 10%.</p>
<p>Kecenderungan menguatnya dukungan masyarakat terhadap penerapan syari’ah Islam juga sejalan dengan hasil Survei World Public Opinion.org, yang dilaksanakan di empat negara Islam —Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Maroko— pada Desember 2006 sampai Februari 2007. Hasil survesi menunjukkan bahwa mayoritas (2/3 responden) menyetujui penyatuan seluruh Negara Islam ke dalam sebuah pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah).</p>
<p>Hasil survei itu juga —bekerjasama dengan University of Maryland— memperlihatkan bahwa mayoritas responden (sekitar 3/4) setuju dengan upaya untuk mewajibkan syari’ah Islam di tengah masyarakat, sekaligus menggantikan nilai-nilai Barat yang tidak Islami. Khusus untuk Indonesia, survei menunjukkan mayoritas (53%) responden menyetujui pelaksanaan Syari’ah Islam.</p>
<p>Begitupun, hasil survei Gerakan Mahasiswa Nasionalis di kampus-kampus utama di Indonesia tahun 2006 juga membuktikan, bahwa 80% mahasiswa menginginkan Syari’ah Islam diterapkan. Yang paling mutakhir, survei SEM Institute tahun 2008 juga membuktikan hal yang sama: semakin menguatnya dukungan umat terhadap penerapan Syari’ah Islam, yakni mencapai 83%.</p>
<p>Jika pernyataan para pakar di atas, didukung hasil survei, kemudian lahirnya Perda bernuansa syari’ah di sejumlah daerah, menjadi indikator penting urgensi formalisasi syari’ah di lembaga Negara. Maka ini lah fakta sosial yang tidak terbantahkan, bahwa banyak sekali umat Islam dewasa ini yang rela menerima apapun yang sesuai dengan ajaran Islam.</p>
<p>Akan tetapi kerelaan itu akan cepat berubah menjadi kekhawatiran, tidak <em>pede</em>, manakala muncul konflik antara Islam dan kekafiran, atau berhadapan dengan sistem hidup serta ideologi di luar syari’at Islam. Ketika umat Islam di hadapkan dengan ideologi Soekarnoisme Nasakom, dan Soehartoisme asas tunggal yang anti syari’at Islam, mayoritas umat Islam mendukung tanpa reserve, sebaliknya menolak formalisasi syari’at Islam.</p>
<p>Kelemahan ini bahkan terdapat di kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela-pembela Islam. Mereka meneriakkan puji-pujian terhadap Islam, melakukan aktivitas keislaman, membentuk jamaah zikir dengan puluhan ribu pengikutnya. Tapi bila diseru supaya melaksanakan syari’at Islam dalam urusan pribadi, keluarga, Negara, relasi-relasi bisnis, lembaga pendidikan, dan di segala aspek kehidupan, mereka akan menjawab: “Indonesia bukan Negara Islam. Lebih maslahat kita abaikan untuk sementara waktu, menunggu momentum yang tepat agar kita tidak dicurigai dan dimusuhi.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Intervensi Demokrasi</strong></p>
<p>Kelemahan umat Islam semakin transparan tatkala berhadapan dengan ideologi demokrasi. Intervensi demokrasi sudah sedemikian jauh menyusup ke relung hati sebagian tokoh Islam, mengotori aqidah serta pemahaman agama kaum Muslim. Tidak sedikit yang berpendapat, demokrasi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Lalu, mereka tampil sebagai bemper demokrasi, menjadikannya sebagai barometer politik dan ideologi.</p>
<p>Makna harfiyah demokrasi, sebagai pecahan dari dua kata <em>demos</em> (rakyat) dan <em>kratos</em> (kekuasan) adalah kekuasaan rakyat. Inilah makna essensial dari demokrasi, yaitu kekuasaan berada di tangan rakyat. Termasuk <em>tasyri’ul jamaahiir</em> (wewenang membuat hukum) tergantung suara mayoritas rakyat. Sebagai sistem hidup dan tatanan politik dalam bernegara, demokrasi tidak memiliki sumber hukum, tidak punya kitab suci, apalagi Nabi, semuanya tergantung kehendak dan hawanafsu rakyat, yang disampaikan melalui wakil-wakilnya di parlemen.</p>
<p>Prinsipnya adalah, kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kemauan rakyat mayoritas merupakan hukum tertinggi dalam merumuskan undang-undang; sedang kebenaran tergantung kehendak mayoritas. Unsur-unsur tersebut di atas jelas berbeda dan bertentangan dengan Syari’at Islam.</p>
<p>Sesungguhnya Islam mengajarkan, bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan Allah Swt. Islam mengajarkan untuk beribadah dan berserah diri hanya kepada Allah saja. Bukan berarti Allah Swt dengan segala otoritas yang dimiliki, tampil sebagai eksekutif, yudikatif dan legislatif sekaligus. Tetapi mengutus manusia rasul, menjadi uswah hasanah yang dapat ditiru dan diteladani, kemudian sepeninggal beliau -dalam menyelenggarakan kekuasaan negara dan pemerintahan- digantikan oleh para khalifah. Sebagai tatanan politik bernegara, Islam memiliki sumber hukum, yaitu Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Hukum buatan manusia disebut Undang-undang, dan hukum ciptaan Allah disebut SYARI’AT. Implementasi dari Hukum Qur’an dan Hadist, inilah yang seharusnya dilaksanakan oleh manusia dalam segala aspek kehidupannya. Al Qur’an menjelaskan dan memerintahkan kepada pemerintah (mayoritas Muslim) yang sedang berkuasa agar menerapkan syari’ah Allah swt, jika enggan diancam sebagai <strong><em>orang yang tidak beriman</em></strong>:</p>
<p><em>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” </em><strong>(Qs. An Nisa’, 4: 65)</strong></p>
<p>Dan firman Nya lagi:</p>
<p><em>“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 49) </strong></p>
<p>Dua ayat diatas sangat jelas memerintahkan para penguasa  Muslim menerapkan syari’ah Allah dilembaga negara yang dikuasainya, dan kalau tetap enggan Allah Swt sendiri yang memvonis mereka sebagai <strong><em>Kafir, Dzalim dan Fasik</em></strong>. Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“…K</em><em>arena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 44)</strong><em> </em></p>
<p><em>“…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 45)</strong><em> </em></p>
<p><em>“…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” </em><strong>(Qs. Al Maidah, 5: 47)</strong></p>
<p>Menurut <strong>Dr Abdul Qadir Audah</strong> dalam bukunya “Islam Ditengah Kejahilan Ummat Dan Ulamanya” berkata: Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, ada tiga macam:</p>
<ol>
<li>Karena kafir atau ingkar dan bencinya kepada hukum Allah dan mengingkari adanya kebaikan padanya, orang yang semacam ini kafir (Qs. Al Maidah, 44).</li>
<li>Karena menuruti hawa nafsunya meskipun mereka memandang adanya kebaikan pada hukum Allah, tapi menganggap ada hukum lain yang lebih baik dan lebih sesuai, orang semacam ini dinamakan zalim (Qs. Al Maidah, 45).</li>
<li>Orang yang  berkayakinan bahwa hukum Allah-lah yang paling baik dan paling adil tetapi memilih hukum selainnya karena manfaat dunia, sanggup mendurhakai hukum Allah karena  dunia (harta, kuasa dan wanita), mereka ini disebut fasik atau pendurhaka (Qs. Al Maidah, 47).</li>
</ol>
<p>Kontroversi dikalangan umat Islam, sesungguhnya dipicu oleh tiga hal berikut. Apakah dalam menyelenggarakan kekuasaan Negara, umat Islam ‘beriman pada konsep kedaulatan rakyat (demokrasi)’ dan menolak konsep kedaulatan Allah Swt (Islam), atau sebaliknya menolak konsep demokrasi secara totalitas dan menerima konsep Islam secara totalitas pula? Atau memilih opsi oportunistik, memadukan demokrasi dan Islam, menolak sebagian dan menerima sebagian ajaran Islam, seperti yang dilakukan orang-orang kafir ahli kitab yang dimurkai Allah?</p>
<p><em>“…Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikiandaripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” </em><strong>(Qs. Al-Baqarah, 2: 85)</strong></p>
<p>Terhadap kenyataan ini, semestinya umat Islam, baik yang berada di dalam parpol atau ormas Islam tidak boleh terlena dan lengah. Apa jadinya jika atas nama demokrasi, lalu menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan sebaliknya? Ada kesan, bahwa parpol Islam justru menjadi bemper demokrasi. Dalam banyak kasus, parpol Islam justru diperalat oleh demokrasi untuk menghambat syari’at Islam. “Boleh saja Islam berperan dalam membangun masyarakat, sejauh tidak bertentangan dengan demokrasi,” alasan mereka.</p>
<p>Buruknya ideologi demokrasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bagai anak anjing yang tidak menaati induknya. “Suatu ketika, seorang laki-laki dari bani Israil kedatangan tamu, sedang dirumahnya ada seekor anjing yang hamil tua. Berkatalah anjing itu, “Demi Allah aku tidak akan menggonggong kepada tamu tuanku”. Tiba-tiba anak yang dikandungnyalah yang menggonggong. Tuan rumah, si pemilik anjing berkata (kepada seseorang), “Alamat apa ini?” Kemudian Allah memberikan ilham kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Ini adalah permisalan bahwa, akan ada umat sesudahmu, orang-orang bodoh dapat memaksa orang-orang yang pandai dan bijak di antara mereka.”</p>
<p>Analogi ini bersumber dari Abdullah bin Amr yang termuat di dalam kitab <em>Jami’us Shaghir 5204</em>. Maksudnya, bahwa proses mencari, memilih dan menetapkan seorang pemimpin menurut versi demokrasi adalah; siapa yang mendapatkan dukungan terbanyak maka ialah yang patut duduk sebagai pemimpin. Dan suara terbanyak sama artinya dengan siapa yang banyak omong. Alkisah, orang-orang bodoh suka membuat gaduh dengan beramai-ramai bersuara keras, sehingga suara orang-orang pandai dan berakal tidak terdengar karena tenggelam dalam riuhnya suara si bodoh. Ketika tipu daya orang-orang jahat dapat mempengaruhi masyarakat awam, maka orang-orang jahat pun akan dapat mengalahkan orang-orang baik, itulah demokrasi yang menganggap suara mayoritas sebagai kebenaran.”</p>
<p>Tragisnya, sebagian besar penganut Islam tampaknya merasa amat sangat bersyukur –bukan bersedih- Indonesia diatur dengan sistem demokrasi, sehingga beramai-ramai menolak syari’at Islam. Mereka menganggap demokrasi sebagai pemersatu dan penyelamat, sedangkan syari’at Islam diposisikan sebagai ancaman dan pemecah belah rakyat.</p>
<p><em>Ucapan dan rasa syukur itu diungkapkan, misalnya oleh Presiden <strong>Susilo Bambang Yudoyono</strong> dalam orasi pengukuhan sebagai Capres 2009: “Saya bersyukur kepada Allah Swt, keluarga saya diatur dengan demokrasi, sehingga setiap orang dalam anggota keluarga saya bebas berpendapat,” katanya bangga.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kontra Syari’at Islam</strong></p>
<p>Pertarungan antara yang haq dan bathil merupakan <em>sunnatullah</em>. Sedangkan upaya mensinergikan antara keduanya, adalah program syetan. Oleh karena itu Islam dengan tegas menolak oplos kebenaran dan kebathilan sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.”</em> <strong>(Qs. Al-Baqarah, 2:42)</strong></p>
<p>Pada tataran ideologis dan praktis, pertarungan yang terjadi sekarang bukan hanya antara Muslim dan Kafir, melainkan antara Muslim yang mendukung dan anti formalisasi syari’ah.  Proses syetanisasi di negeri ini, tidak hanya dimonopoli orang kafir; tetapi berlangsung secara legal, formal, dan konstitusional. Seperti dikatakan sekte JIL (Jaringan Islam Liberal), “<em>Kita menerima ideologi demokrasi, karena demokrasi mensinergikan antara yang baik dan buruk, halal dan haram.” </em>Kelompok anti syari’ah Islam meyakini bahwa demokrasi lebih tepat bagi bangsa Indonesia, karena bisa mensinergikan antara halal dan haram sesuai kebutuhan. Akibatnya muncul sikap ambivalen dan munafik.</p>
<p>Pada masa Orde Baru kekuasaan politik memang cenderung represif pada Islam karena dianggap menjadi salah-satu potensi ancaman pada rezim yang sedang berkuasa. Upaya sistematis dilakukan oleh kekuasaan formal untuk menekan gerak sosial-politik umat Islam termasuk pemberian cap ‘ekstrim kanan, subversi, radikal, teroris dsbnya,’ yang ujung-ujungnya menekan aktifis Islam untuk tidak bisa bergerak maju dalam bidang sosial-politik. Bahkan partai politik yang berasas Islam pun secara sistematis diseret ke arah meninggalkan asas Islam, demikian pula dengan ormas Islam sekalipun yang akhirnya merubah asas Islam menjadi asas lain. Masalahnya, apakah dengan mimikri politik seperti itu Indonesia menjadi lebih maju dan berjaya? Kerusakan masyarakat terus saja bertambah di atas kerusakan yang sudah menggunung.</p>
<p>Lalu, mengapa ada sejumlah tokoh Muslim, bahkan dari kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela Islam, justru menolak formalisasi syari’at Islam? Mengapa terdapat hamba Allah yang membangkang (fasik) kepada Allah Swt? Apa sesungguhnya dasar berfikir yang melatarbelakangi mereka menolak syari’at Islam?</p>
<p>Menurut pengalaman bertahun-tahun di arena perjuangan, dan fakta sosial di masyarakat, faktor penyebabnya antara lain:  di kalangan kaum Muslimin, muncul kesan bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam merupakan ancaman terhadap keselamatan diri di tengah globalisasi sekarang. Hal ini tercermin pada keengganan mereka untuk berterus terang dengan kebenaran agamanya, dan dengan terpaksa menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam; bahwa Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini. Padahal Allah Swt telah menginformasikan melalui firman-Nya:</p>
<p>“<em>Thaaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah, yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan langit dan bumi yang tinggi.” </em><strong>(Qs. Thaaha, 20: 1-3)</strong></p>
<p>Selain faktor di atas, banyak kalangan Muslim yang memosisikan Islam selaras dengan demokrasi. Sehingga, ketika mereka melakukan amal-amal demokrasi berlandaskan kedaulatan rakyat dan tunduk pada suara mayoritas, mereka ingin perbuatannya itu dilabeli merk ‘Islami’. Padahal, tidak semua ajaran demokrasi sesuai syari’at Islam, sebaliknya apa yang sesuai dengan syari’at Islam dianggap tidak demokratis.</p>
<p>Jika Islam yang dimaksud seperti yang dipahami kebanyakan orang Islam yang anti syari’at Islam, atau menerima sebagian dan menolak sebagian dari ajaran Islam, mungkin dapat diselaraskan dengan demokrasi. Tapi jika Islam yang dimaksud seperti yang diwahyukan Allah dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, mustahil bisa dicocok-cocokkan. Sebab Islam berdiri tegak di atas landasan Tauhid, sedang demokrasi berdiri tegak di atas landasan hawa nafsu. Islam memiliki sumber hukum (Qur’an dan Hadits), sedang demokrasi sumber hukumnya ‘kemauan orang banyak’. Islam mengharamkan daging babi, khamer, pelacuran, perjudian, ekonomi ribawi, sedang demokrasi menganggap kamaksiatan dan kemungkaran sebagai fasilitas hidup.</p>
<p>Memang benar, bila dalam menjalani kehidupan ini seorang Muslim tidak memiliki ukuran atau barometer ideologis yang jelas, sikap dan pernyataannya kerapkali menggelikan. Seperti ucapan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (Ketua Majelis Syuro PBB), pada Ahad, 16 Shafar 1431 H/ 31 Januari 2010 M, di hadapan Musywil Partai Bulan Bintang bertempat di Gedung Bir Ali, Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.</p>
<p>“Demokrasi tergantung <em>ta’rif</em> (makna) mana yang digunakan, karena makna demokrasi itu banyak, tidak tunggal. Perbedaan amal demokrasi atau amal Islami, mungkin saja dirasakan oleh mereka yang bergelut di bidang teori, tapi bagi saya yang bergelut secara praktis dan pengambil keputusan, tidak merasakan adanya konflik ideologi seperti itu. Apakah ini amal Islami atau aktivitas demokrasi, bagi saya sama saja.”</p>
<p>Jika <em>ta’rif</em> demokrasi tidak tunggal, lalu umat Islam harus mengidentifikasikan diri pada makna demokrasi yang mana, sehingga tidak melanggar syari’at Islam? Kaitannya dengan kebingungan memilih dan memilah ‘yang ini amal demokrasi’ atau ‘yang itu amal Islami’, dapat diteropong melalui <em>kaidah ushuliyah</em>. Dalam teori ushul fiqih, Imam Syafi’i membuat kategorisasi amal yang disebut “<em>Anwa’u af ‘alin Nabiyyi </em>, yaitu <em>af’alun</em> (perbuatan) Nabi, sebagai barometer amal dibagi tiga bagian:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, <strong>amal yang bersifat <em>Qurbah</em></strong>, seperti tuntunan ibadah dari Nabi yang tidak boleh di rubah.</p>
<p><strong>Kedua, <em>Tho’ah</em></strong>, kehidupan kemanusiaan, yang dibatasi dengan hukum wajib, sunnah, dan mubah. Contoh, mandi junub. Mandinya sendiri tanpa diatur agama, kita sudah biasa mandi, dilakukan oleh orang kafir maupun Muslim. Bedanya, mandi junub bagi orang Islam adalah mandi yang dilakukan setelah berhubungan dengan istri, perempuan datang haid atau datang nifas. Agama (yang dibawa) Nabi Muhammad menjelaskan itu, maka kita mesti <em>Tho’ah</em>.</p>
<p><strong>Ketiga, bersifat <em>Jibillah</em></strong><em>,</em> perbuatan Nabi yang bersifat naluriah (tabi’at insaniyah yaitu sifat kemanusiaan). Dalam hal <em>jibillah</em> prinsipnya adalah mubah, kecuali kalau ada larangan.</p>
<p>Dengan kategorisasi ini, dimaksudkan agar seorang Muslim dalam menerima atau menolak sesuatu, bukan karena sesuai atau bertentangan dengan demokrasi; melainkan selaras dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam.</p>
<p>Ketakutan kelompok liberal akan bahaya menguatnya kekuatan Islam yang dianggap sebagai ancaman bagi masa depan pluralisme di Indonesia terus diopinikan dengan resonansi yang kian masif. Sebuah forum yang menyebut dirinya “Konferensi Nasional Lintas Agama” atau <em>Indonesian Conference on Religion and Peace</em> (ICRP) yang dihadiri oleh sekitar 80 peserta ‘tokoh lintas agama dan kepercayaan’ dari berbagai daerah, dan menolak Perda yang bernuansa Syariat Islam, memutuskan akan mendesak Pemerintah untuk mencabutnya.</p>
<p>“Kami akan sampaikan kepada presiden dan wapres yang baru terpilih agar perda-perda dievaluasi dan bisa masuk ke MK (Mahkamah Konstitusi) atau Mahkamah Agung (MA) untuk dilakukan judicial review”, ujar ketua forum yang ternyata seorang Doktor Agama Islam dan PNS di Departemen Agama RI.” (Harian Surya, Rabu 7/10/09).</p>
<p>Apa yang disebut Perda Syariah itu? Yaitu, adanya daerah-wilayah di Republik Indonesia ini, di mana para pejabat legislatif yang beragama Islam membuat kesepakatan untuk menggoalkan suatu Perda (Peraturan Daerah) yang diinspirasi ajaran agamanya, yakni Syariat Islam terkait pengelolaan wilayah, (seperti menolak perjudian, pelacuran, korupsi, dan kemasiatan lain sesuai tuntunan agama yang dipeluknya). Mereka menggunakan mekanisme yang sudah sejalan dengan proses pembuatan sebuah perda, termasuk, tentu saja rapat-rapat di DPRD dengan pihak lain, lalu mereka berhasil menggoalkan Perda tersebut. Apa yang salah dengan Perda seperti itu?</p>
<p>Sebuah acara “Nurcholis Madjid Memorial Lecture III” yang digelar di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/09), mengundang Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, untuk menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Politik Identitas dan Masa Depan Plularisme di Indonesia.”</p>
<p>Dalam orasinya, Syafi’i Ma’arif yang dikenal sebagai kontributor  liberalme menyinggung soal gerakan-gerakan Islam seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kerap mengampanyekan penegakan syari’at Islam dan khilafah Islamiyah. Syafii menyatakan, <em>“Sikap MMI yang menyatakan bahwa penolakan syari’at Islam secara konsititusional termasuk kategori kafir, fasik, dan zalim, adalah pernyataan yang berbahaya bagi pluralisme. Kalau beragama secara hitam putih, mungkin lebih baik jadi atheis saja,”</em> tegasnya.</p>
<p>Dengan menggunakan retorika agitatif, Maarif menganggap bahwa tuntutan formalisasi syari’at Islam sebagai beragama hitam putih. Lalu menuduh Majelis Mujahidin (MM) sebagai kelompok tafkir (mengafirkan mereka yang menolak formalisasi syari’at Islam). Sekalipun Syafii Maarif tidak akan dapat membuktikan tuduhannya terhadap MM -karena itu bukan sikap MM- tetapi lontaran keji itu sudah menyebar bagai virus yang melahirkan trauma ukhuwah Islamiyah.</p>
<p>Majelis Mujahidin tidak pernah merasa paling benar, apalagi mengafirkan Muslim lainnya. Tetapi tidak membenarkan yang benar adalah kesalahan. Dan tidak mengatakan kafir terhadap mereka yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya, adalah kekafiran juga. Maka sikap MM dalam hal ini sesuai dengan sikap Islam, sebagaimana firman Allah: “Siapa saja yang tidak berhukum pada hukum Allah adalah kafir, fasik, dan zalim.” <strong>(Qs. Al-Maidah, 5: 44, 45, 47).</strong></p>
<p>Dalam beberapa tahun terakhir ini, Syafii Maarif yang tercatat sebagai anggota dari “Trilateral Commission” sebuah lembaga yang berada di bawah kendali Zionis, memang dikenal sebagai orang yang berada di dalam gerbong para penolak formalisasi syariat Islam. Dalam diskusi yang banyak dihadiri para aktivis liberal itu, Syafii dengan kalimat nyinyir mengatakan, “Kalau kita ingin melaksanakan syariat Islam secara utuh itu akan sulit hidup dimana saja. Harusnya kita pakai saja ayat fattaqullah mastatha’tum, bertakwalah kepada Allah semampumu,” ucapnya.</p>
<p>Dengan bangga, Syafii bernostalgia, dulu pada tahun 70-an sebelum dirinya berangkat ke Chicago, Amerika Serikat, dirinya adalah orang yang sangat anti-terhadap Pancasila. “Tetapi setelah dicuci otak oleh Fazlul Rahman (Profesor di Chicago) saya berubah,” ujarnya sambil terkekeh. Syafii mengaku dirinya sedih melihat kondisi bangsa ini, dimana pemerintah tidak serius dalam mengelola negara. Ia juga sedih melihat kelakuan umat Islam yang anti terhadap pluralisme dan berupaya memaksakan kehendak terhadap minoritas. “Kalau tidak sedikit paham Al-Qur’an, mungkin saya malas jadi orang Islam,” tandas Syafii.</p>
<p>Dalam pandangan Syafii, formalisasi syari’ah Islam menunjukkan prilaku beragama hitam putih. Untuk melemahkan tuntutan penegakan syariat Islam, Syafii melakukan manipulasi sejarah, dan menggiring pemahaman Islam ke arah faham sesat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tugas kita bersama (Penutup)</strong></p>
<p>Kontribusi terbesar kaum Muslimin Indonesia dalam mencegah terjadinya disintegrasi bangsa, mendamaikan sesama ummat manusia, keluar dari segala krisis dan meningkatkan harkat serta martabat kemanusiaan, adalah menyadarkan para penguasa supaya memberlakukan Syari’ah Islam di lembaga negara, dan memerintah negeri ini dengan hukum Allah. Apabila hal itu dilakukan, maka Allah telah berjanji dengan firman-Nya:</p>
<p>“<em>Sekiranya penduduk negeri-negeri itu bariman dan bertaqwa kepada Allah niscaya Kami bukakan kepada mereka segala macam barakah dari Langit dan dari Bumi. Namun karena mengingkari ayat-ayat Kami maka Kami siksa mereka akibat perbuatan mereka sendiri.” </em><strong>(Qs. Al-A’raf, 7: 96)</strong></p>
<p>Oleh karena itu, pekerjaan besar umat Islam khususnya para Ulama, Da’i dan Muballigh dewasa ini haruslah diprioritaskan kepada tiga hal.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> menumbuhkan rasa hormat kaum Muslimin terhadap Syari’ah Islam. Sebab jika kaum Muslimin menolak diberlakukannya Syari’ah Islam dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara berarti mereka tidak menghormati Allah menurut penghormatan yang semestinya.</p>
<p>Firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Mereka (yang mengingkari wahyu) tidak menghormati Allah menurut penghormatan semestinya, ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu apapun kepada manusia”. Jawablah (Ya Muhammad): “Siapa yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran kertas yang kamu telah perlihatkan dan kebanyakan kamu sembunyikan sedang kepadamu telah diajarkan apa yang belum pernah kamu ketahui (demikian juga) bapak-bapakmu?” Katakanlah, “Allah” (yang menurunkannya). Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan.” </em><strong>(Qs. Al-An’am, 6: 91)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> menumbuhkan kepercayaan dikalangan umat Islam, bahwa solusi bagi problema kehidupan manusia di muka bumi ini hanya dengan memberlakukan Syari’ah Islam saja. Inilah inti keimanan, yaitu tidak ragu-ragu terhadap kebenaran yang diwahyukan Allah dan yang dibawa Muhammad Rasulullah, sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang sebenarnya beriman, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasuln-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka inilah orang-orang yang benar imannya.” </em><strong>(QS. al-Hujarat, 49: 15)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em>Ketiga, </em></strong>Mengumpulkan dan konolidasikan seluruh potensi ummat untuk satu tujuan tegaknya syari’at Islam tanpa mengenal penat dan lelah dan siap berkurban apa saja yang diperlukan. Memerkecil segala bentuk perselisihan dan membangun segala potensi kearah menggalang ukhuwwah imaniah merupakan pekerjaan yang sangat besar yang tidak mungkin dipikul oleh segelintir ummat. Allah Swt berfirman:</p>
<p><em>“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.Tidak ada doa mereka selain ucapan: &#8220;Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” </em><strong>(Qs. Ali Imran, 3: 146-147)</strong><em> </em></p>
<p><em>Wallahu’alam Bish Showab…</em></p>
<p>******</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/urgensi-penegakan-syari%e2%80%99at-islam-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jihad Fie Sabilillah Membebaskan Dari Siksa Api Neraka dan Memasukakan kedalam Syurga</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/jihad-fie-sabilillah-membebaskan-dari-siksa-api-neraka-dan-memasukakan-kedalam-syurga/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/jihad-fie-sabilillah-membebaskan-dari-siksa-api-neraka-dan-memasukakan-kedalam-syurga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 04:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiah Rutin]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[tausiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, Assalamu&#8217;alaikum Wr wb. Para jama&#8217;ah yang dicintai dan dirahmati Allah. Ketahulah bahwa kalimat Jihad fie sabilillah adalah wahyu Allah. Ayat-ayat nya didalam Al Qur&#8217;an hampir mencapai 300-16 ayat, melebihi ayat tentang shalat, puasa , zakat dan hajji. Sebagian besar umat Islam kurang bersahabat dengannya, berbeda dengan ayat-ayat shalat, zakat, puasa dan hajji. Akibatnya dikalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah, Assalamu&#8217;alaikum Wr wb.</p>
<p>Para jama&#8217;ah yang dicintai dan dirahmati Allah. Ketahulah bahwa kalimat Jihad <em>fie sabilillah</em> adalah wahyu Allah. Ayat-ayat nya didalam Al Qur&#8217;an hampir mencapai 300-16 ayat, melebihi ayat tentang shalat, puasa , zakat dan hajji. Sebagian besar umat Islam kurang bersahabat dengannya, berbeda dengan ayat-ayat shalat, zakat, puasa dan hajji. Akibatnya dikalangan ummat Islam ada yang benci, apriori bahkan cenderung takut dan menentang ayat-ayat jihad.</p>
<p>Sebagai Muslim yang shalih tidak sepatuttnya memiliki sikap munafiq (satu wajah dua muka), artinya sebagian ayat Allah seperti shalat, puasa dan hajji sangat dicintai dan disanjung namun bila sampai kepada ayat jihad, marah benci dan menentang. Apakah ayat berikut ini tidak menjadikan hati kita merindui jihad fiesabilillah yang memiliki potensi membawa masuk kedalam syorga ?</p>
<p>Firman Allah:</p>
<p>&#8220;<em>Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat membebaskan kamu dari siksa yang amat pedih (neraka), yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul Nya, lalu kamu berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu, yang demikian ini lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kemudian Allah akan ampunkan dosa-dosamu, dan akan masukkan kamu kedalam sorga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, itulah keberuntungan yang besar.&#8221;</em> <strong>(QS Shaaf 61:10-11). </strong></p>
<p>Alangkah indah dan bahagianya jika kaum Muslim mencintai dan beramal jihad sebagaiman cintanya kepada amalan hajji dan umrah, shalat dan puasa&#8230;</p>
<p>Mari kita mendekatkan diri dengan amalan yang menjadi puncak ketinggain Islam ini, jihad fie sabilillah. <em>Wallahu&#8217;alam bish showab&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/jihad-fie-sabilillah-membebaskan-dari-siksa-api-neraka-dan-memasukakan-kedalam-syurga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Islam Bukan Publikasi Terorisme</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 01:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[BETAPA sulitnya memperbaiki nasib bangsa Indonesia, karena orang-orang yang baik di negeri ini kian langka adanya. Sistem Negara demokrasi, bahkan lebih banyak memberi peluang menebar kejahatan daripada menabur kebaikan. Sudah jamak terjadi, seseorang yang dikenal sebagai tokoh baik-baik di masyarakat, begitu terlibat dalam kekuasaan pemerintahan, bukannya memperbaiki keadaan yang sudah rusak, malah dia sendiri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BETAPA</strong> sulitnya memperbaiki nasib bangsa Indonesia, karena orang-orang yang baik di negeri ini kian langka adanya. Sistem Negara demokrasi, bahkan lebih banyak memberi peluang menebar kejahatan daripada menabur kebaikan. Sudah jamak terjadi, seseorang yang dikenal sebagai tokoh baik-baik di masyarakat, begitu terlibat dalam kekuasaan pemerintahan, bukannya memperbaiki keadaan yang sudah rusak, malah dia sendiri yang diperbaiki akibat melakukan kerusakan di atas kerusakan yang sudah ada.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, berlakulah firman Allah: <em>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada penguasa di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”</em> <strong>(Qs. Al-Isra’, 17:16)</strong></p>
<p>Adalah kewajiban para pejabat untuk membangun Negara, menyuburkan keadilan sosial, meningkatkan kesejahteraan rakyat, membela kemanusiaan secara adil dan beradab. Dalam suatu Negara, penguasa/pejabat negara dan pengusaha adalah dua unsure <em>mutrafin</em> yang saling menguatkan. Apabila keduanya menjadi mata rantai kejahatan di suatu negeri, maka mereka telah memosisikan dirinya sebagai penghancur, implementasi program syetan-iblis laknatullah untuk menghancurkan rakyat dan negerinya.</p>
<p>Kenyataannya, penguasa yang bertindak sebagai Fir’aun selalu ingin menguasai segala hal demi melestarikan kekuasaannya. Sedangkan pengusaha, bertindak seperti Namrud yang selalu mengusahakan apa saja agar menguntungkan ushanya. Maka sekalipun kejahatan korupsi, illegal login, peredaran narkoba, dekadensi moral, berkembangbiaknya mafia hukum serta markus (makelar kasus), terbukti telah menjadi penyakit epidemi yang melahirkan keterbelakangan, ketidak adilan, dan kebodohan masyarakat. Namun, semua itu belum cukup merangsang penguasa negeri ini untuk marah, kemudian memberantas tuntas hingga ke akar-akarnya.</p>
<p>Bandingkan dengan tindakan represif kepolisian memberantas tindak pidana terorisme, jelas memperlihatkan kemarahan polisi (Densus 88) hingga mencapai ubun-ubun. Kulminasi kemarahan ini, justru menyebabkan sikap paranoid dan panik. Buktinya, untuk mengejar teroris dan membongkar jaringannya, polisi (Densus 88 antiteror) berani mengobok-obok lembaga pendidikan pesantren, mengawasi juru dakwah, dan mengintimidasi masyarakat publik.</p>
<p>Jika ‘kebijakan’ represif ini ditujukan untuk membasmi terorisme, guna melindungi rakyat dan menegakkan supremasi hukum, mungkin masih dapat ditolerir. Memberantas teroris kita dukung, tapi jangan salah kaprah dan <em>overacting, </em>dikhawatirkan upaya itu justru meresahkan masyarakat, menciptakan suasana antagonis, karena para pendakwah diposisikan sebagai orang yang dicurigai. Faktanya, kemarahan Densus 88 terhadap para teroris, identik dengan kemarahan terhadap dakwah Islam, juru dakwah, serta para mujahid penegak syari’at Islam.</p>
<p><strong>Kriminalisasi Juru Dakwah</strong></p>
<p>Dakwah Islam di Indonesia bagai pelita yang tak pernah padam. Ia melaju, dipandu dalam gerak estafeta generasi ke generasi sejak ratusan tahun silam. Adakalanya obor dakwah meredup, akibat kondisi internal yang melemah atau tekanan dari luar. Tapi selalu ada juru dakwah yang tampil menuangkan energi baru, sehingga obor dakwah terang kembali. Sumbu dakwah Islam tidak boleh kering dari sinar kebenaran, sekalipun rekayasa politik maupun fakta sosial menggerogoti eksistensinya.</p>
<p>Sedangkan para Da’i (juru dakwah) Islam merupakan urat nadi kehidupan sosial masyarakat; dan selamanya tidak pernah menjadi juru teror. Mereka senantiasa menawarkan perspektif humanistik dan ideologis, yang menyentuh peranan akhlak dan amar ma’rfu nahi munkar. Adakalanya mereka tampil di halayak umat sebagai tabib, yang dengan keramahannya bisa mengatasi frustasi dan depresi mental.</p>
<p>Disaat lain, seorang da’i juga aktif sebagai pengamat sosial dengan melancarkan kritik konstruktif untuk mereformasi masyarakat yang bobrok, jorok, dan bodoh menjadi masyarakat yang terhormat. Bahkan tidak jarang, para juru dakwah ini menjadi pendamping yang produktif bagi si kaya, sekaligus pendamping yang kreatif bagi si miskin.</p>
<p>Lalu, mengapa pemberantasan terorisme diarahkan untuk menyerang faham keagamaan yang dianggap sebagai penyulut ideologi terorisme? Ada apa di balik gagasan kepolisian untuk mengawasi dakwah para da’i dengan dalih menghentikan publikasi terorisme? Pertanyaan ini menjadi penting dan relevan, mengingat beredarnya pernyataan kepolisian terkait perlunya mengawasi aktivitas dakwah sangat meresahkan masyarakat Muslim.</p>
<p>Kemarahan polisi terhadap para juru dakwah, antara lain dapat dilihat dalam kasus ‘kriminalisasi juru dakwah’ Ustadz Abu Jibril Abdurrahman. Sebagai juru dakwah yang konsisten dengan misi penegakan syari’at Islam di lembaga Negara melalui manhaj dakwah dan jihad, sudah berulangkali difitnah sebagai ‘mata air terorisme’, sekalipun segala tuduhan itu hanya omong kosong belaka.</p>
<p>Akibatnya, tidak hanya sebatas penangkapan putranya M Jibriel, melainkan juga teror, isolasi serta intimidasi dakwah. Sejumlah masjid, yang selama ini tempatnya menyampaikan dakwah, secara sepihak membatalkan dan mencekal pengajian rutin yang biasanya diisi oleh Ustadz Abu Jibriel. Pengurus masjid dan majelis ta’lim mengaku didatangi aparat dan diteror agar tidak lagi mendatangkan beliau untuk berceramah. Segala tindakan kedzaliman dan ketidakadilan ini mengingatkan kita ke masa represif rezim orde baru yang sangat membenci syari’at Islam dan kaum Muslimin.</p>
<p>Prilaku aparat keamanan yang mengintimidasi masyarakat agar menjauhi juru dakwah yang berani berterus terang dengan kebenaran Islam, merupakan warisan orang-orang kafir di masa Nabi Syu’aib alaihi salam, sebagaimana firman Allah Swt:</p>
<p><em>“Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentulah kamu menjadi orang-orang yang rugi.” Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah mereka.”</em> <strong>(Qs. Al-AS’raf, 7:90-91)</strong></p>
<p>Maka patutlah dipertanyakan, seorang juru dakwah yang dijauhkan dari masyarakat karena dituduh sebagai teroris, apakah karena tindakan teror yang dia lakukan, ataukah stigmatisasi Amerika yang diadopsi oleh antek-anteknya di negeri ini? Lalu, apa <em>sanksi</em> hukum bagi mereka yang memvonis orang lain sebagai ‘gembong teroris’, sementara segala tuduhan keji itu tidak pernah terbukti, baik melalui pengadilan maupun fakta sosial di lapangan?</p>
<p>Kasus Muhammad Jibril Abdurrahman, yang ditangkap 25 Agustus 2009, adalah salah satu kasus yang sangat dipaksakan dan sewenang-wenang. Dia diculik di tengah jalan setelah polisi mengumumkan sebagai DPO. Dua hari kemudian, Densus mengantar surat penangkapan pada keluarganya. Padahal memasukkan seseorang sebagai anggota jaringan teroris, tanpa aturan dan ukuran yang jelas, lebih berbahaya dari teror. Aparat keamanan akan bertindak seenaknya melakukan penangkapan berdasarkan kecurigaan semata-mata.</p>
<p>Pada awalnya Muhammad Jibril disangka sebagai penyandang dana teror bom di Hotel JW Marriot dan Ristz Carlton. Setelah Duta besar Inggris datang menemui Kapolri, 27 Agustus 2009, tuduhannya berubah sebagai mantan anggota Al Qaeda, dan telah menyembunyikan korban salah bunuh Syaifuddin Zuhri. Dalam sidang pengadilan yang digelar di PN Jakarta Selatan sejak……hingga pemeriksaan saksi, semua tuduhan itu tidak dapat dibuktikan oleh jaksa penuntut umum, tapi tetap saja dipenjara. Lalu untuk kepentingan siapa sesungguhnya penangkapan dan penahanan ini?</p>
<p>Proses kriminalisasi juru dakwah dilakukan melalui tiga tahapan propaganda, yaitu: <strong>Pertama</strong>, propaganda <em>safsathah, </em>yaitu menyebarkan informasi dusta yang dibungkus dengan data-data fiktif, seperti dilakukan oleh Sidney Jones (Direktur International Crisis Group).</p>
<p>Laporan berkala Sidney Jones menjadi masukan resmi Kongres Amerika, FBI, dan CIA, seringkali menipu dan memprovokasi aparat kepolisian Indonesia. Banyak hal yang dilaporkan Sidney Jones menipu orang Indonesia, bahkan mengejutkan orang yang namanya disebut dalam laporan itu, karena ia terkesan sangat menguasai hingga ke detail peristiwa radikalisme bahkan sampai ke “celana dalam” pelaku, seperti dalam laporan “The Case of The Ngruki Network in Indonesia”.</p>
<p>Oleh karena itu, tak jelas apakah terorisme di Indonesia itu karya orang Indonesia atau mainan intelijen Barat. Apakah teroris itu pelaku teror atau korban dari permainan politik global. Kiprah Sidney Jones nampak sekali standar gandanya, tetapi yang jelas hasilnya adalah menciptakan citra negatif Indonesia di mata internasional. Pers Indonesia pun larut ke dalam teori safsathah Sidney Jones karena memang tidak ada laporan lain yang bisa menandinginya sehingga wacana terorisme di Indonesia hanya melalui satu corong, yakni corong Sidney Jones.</p>
<p><strong>Kedua</strong><em>,</em> propaganda <em>Jadal, </em>artinya menyebarkan pendapat tertentu dengan mengajukan fakta-fakta yang akurasinya diragukan. Misalnya, pernyataan mantan kepala BIN, Hendropiyono, Begitupun AM Hendro Priyono, mantan kepala BIN selama beberapa jam melakukan wawancara jarak jauh dg TVone, 17-07-2009. Yang menarik adalah kesimpulan dia bahwa kaum ekstrimis Islam yg terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam, yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Mantan Kadensus 88/Antiteror Polri Brigjen Pol (pur) Suryadarma Salim menyatakan, bahwa jaringan Al Qaidah berada di balik aksi pengeboman di Jakarta tersebut. Lantas, mengapa Indonesia yang menjadi sasaran para teroris itu? Sur ya menjelaskan, JI sudah ter bagi ke dalam beberapa zona. Mi salnya, Malaysia dan Singa pura sebagai zona ekonomi. &#8220;Orang luar negeri yang Muslim lebih besar menyumbangnya daripada orang Indonesia,&#8221; katanya.</p>
<p>Nah, Indonesia menjadi daerah trainer untuk melakukan operasi-operasi. Yakni, untuk pelatih an setelah kamp JI dibubarkan Al Qaidah dan dipaksa keluar dari Afghanistan . Selanjutnya, me reka membangun kamp di Min danao , Filipina, yang disebut kamp Abu Bakar. &#8221; Indonesia tem pat melakukan operasi dengan prediksi kalau Indonesia bisa dikuasai, Indonesia akan menyerang Singapura , Malaysia , Thai land , dan seterusnya,&#8221; jelasnya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, teori <em>khithabi,</em> analisa yang bersifat provokatif, dengan menebar fitnah guna merusak citra, seakan-akan segala ancaman yang menimpa adalah akibat perbuatan musuh politiknya. Misalnya, pernyataan jawara intelijen Hendropriyono ketika mengomentari peristiwa teror dengan menyisipkan fitnah bahwa para teroris ini adalah dari kelompok gerakan Wahabi, Darul Islam, Ikhwanul Muslimin ala Hasan Al Banna. Hendro dengan entengnya melemparkan fitnah tersebut sebagaimana biasanya dilakukan agen zionis dan Amerika.</p>
<p>Gerakan Wahabi yang diplopori oleh Abdul Wahab pada abad 19 M atau 12 H, hanya mengajak umat Islam meninggalkan akidah syirk, amaliyah yang bercampur aduk dengan kepercayaan syirk tanpa pernah melakukan kekerasan fisik, melainkan dengan ceramah dan menulis buku. Dan tidak pernah ada bukti bahwa Syeikh Abdul Wahab mendirikan laskar untuk melakukan kekerasan pada rakyat. Adapun Kerajaan Saudi Arabia di bawah pimpinan Raja Ibnu Saud yang sering melakukan tindakan represif tidak berkaitan dengan paham keagamaan, tetapi berkaitan dengan kelompok yang memberontak kepadanya.</p>
<p>Jadi, antara Abdul Wahab dengan prilaku Ibnu Saud di dalam menegakkan kerajaannya merupakan dua hal yang berbeda. Dan Syeikh Abdul Wahab tidak bisa dipersalahkan, apalagi Wahabi disebut sebagai pelopor teroris. Begitupun Ikhwanul Muslimin yang menjadi korban tindakan kekerasan raja Farouk dengan penjajah Inggris, sehingga Hassan Al Banna dibunuh secara keji di tengah jalan. Padahal Hasan Al Banna hanya mengajarkan Islam kepada rakyat mesir dan mengajak raja serta para pejabat kerajaan Mesir untuk menghargai agamanya, dan menyatakan tekad merdekanya dari penjajahan Inggris.</p>
<p><strong>Jihad Versus Terorisme</strong></p>
<p>Dialektika terorisme, secara faktual disebabkan oleh dua hal. <strong>Pertama</strong>, adanya kekerasan durjana dan durhaka yang hendak menaklukkan masyarakat tertindas (mustadh’afin) agar tidak berani melawan kekuatan sang penindas (mustakbirin). <strong>Kedua,</strong> terorisme yang dimotivasi oleh perlawanan rakyat tertindas terhadap penguasa zalim, sementara mereka yang tertindas itu tidak mampu melawan atas penindasan yang dideritanya kecuali dengan melakukan teror. Tujuannya, tentu saja untuk menekan si penindas yang kejam itu agar tidak melestarikan kejahatannya terus menerus.</p>
<p>Tindakan Israel yang menghancurkan perkampungan rakyat Palestina dan membunuh rakyat sipil. Termasuk imprialisme Amerika di Irak dan Afghanistan yang meluluhlantakkan sarana sosial, pendidikan bahkan struktur pemerintahan merupakan terorisme mustakbirin. Sebaliknya, perjuangan rakyat Palestina untuk mengenyahkan penjajah Israel menggunakan senjata seadanya, demi merebut kemerdekaannya dituduh sebagai kaum teroris oleh zionis Israel. Bahkan perjuangan rakyat Muslim di Irak dan perlawanan pejuang Taliban di Afghanistan dianggap sebagai terorisme oleh Amerika berdasarkan keputusan diskriminatif dari PBB. Padahal, bagi kedua Negara tersebut, prilaku AS bahkan lebih jahat dari kaum teroris.</p>
<p>Lalu, siapa sesungguhnya meneror siapa? Apabila dalam persepektif ini kita memosisikan Israel, Amerika dan Negara pendukungnya disatu pihak, dan Hamas, Al Qaidah, kelompok Imam Samudera di pihak lainnya, dengan niat dan motivasinya masing-masing; barangkali aparat keamanan tidak perlu paranoid menghadapi teror bom yang terjadi di Negara kita. Artinya, pemberantasan terorisme tidak perlu menggunakan pendekatan SARA, distorsi agama, apalagi bersikap diskriminatif terhadap juru dakwah dan aktivis Islam.</p>
<p>Munculnya gagasan untuk mengawasi aktivitas dakwah para Da’i Muslim, akibat terjebak dalam teori ‘tangkap dulu baru kemudian diperiksa’, menciptakan keresahan di masyarakat, atau meneror para Du’at yang lantang mengkritik berbagai pelanggaran penanganan teror di Indonesia, justru menjadi bagian dari aksi teror itu sendiri.<strong> </strong></p>
<p>Pasca penembakan Dulmatin, muncul sikap-sikap oportunis dan munafiq, yang secara sistimatis dan radikal mengopinikan jihad sebagai tindak kejahatan. Namun anehnya, dalam menghadapi kejahatan narkoba misalnya, polisi menggunakan istilah jihad melawan narkoba. Disatu sisi jihad dimaki sebagi teror, dipihak lain kegagalan pemerintah memberantas narkoba, mereka gunakan kata jihad untuk membangkitkan semangat masyarakat memberantas narkoba. Inilah adalah sikap oportunis kaum pragmatis.</p>
<p>Tindakan Densus 88 yang secara sadis membunuh orang-orang yang baru diduga teroris sehingga menimbulkan ketakutan masal di masyakat, dan menyebabkan orang takut menghadiri majelis taklim tertentu karena mubalihgnya bicara jihad, dapat dikategorikan sebagai tindakan teror yang sebenarnya. Betapapun jahatnya AS ketika menangkap Hambali di Pattani, tapi CIA tidak membunuhnya sekalipun dianggap DPO yang sangat berbahaya. Begitupun pemuda Liberia mau membajak pesawat AS tidak dibunuh oleh CIA, tapi ditangkap hidup-hidup. Karena itu, atas dasar hukum apa Densus dengan mudah membunuh dan memenjara mereka yang disetigma teroris? Apakah manusiawi, memenjarakan istri yang sedang hamil tua setelah suami mereka dibunuh dengan tuduhan teroris?</p>
<p>Stigmatisasi Islam sebagai sumber terorisme karena adanya beberapa aktivis yang melakukan tindakan teror, tidak boleh menjadi alasan bagi tindakan represif, apalagi dengan seenaknya membunuh dan menyeret mayat tersangka teroris di jalanan. Seharusnya dipertanyakan, apakah tindakan teror yang dilakukan, muncul sebagai reaksi terhadap kezaliman yang merajalela pada suatu bangsa karena penguasanya bertindak represif kepada rakyat? Jika ternyata unsur paling dominan yang memotivasi gerakan teror disebabkan tindakan destruktif penguasa pada rakyat demi melayani kepentingan asing, maka yang bertanggungjawab atas munculnya berbagai peristiwa teror ini adalah pemerintah yang berkuasa, dan bukan agama yang dipeluk oleh tersangka teroris itu.</p>
<p>Dengan alasan demikian, maka terorisme yang terjadi di Indonesia harus dibebankan tanggungjawabnya pada pemerintah dan aparat keamanan yang selama ini gagal menghadirkan kesejahteraan pada mayoritas rakyatnya. Presiden SBY pernah mengatakan, bahwa kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya terorisme. Oleh karena itu, salah besar jika pemerintah ataupun aparat keamanan menstigmatisasi ajaran Islam sebagai sumber teroris khusunya syariat jihad.</p>
<p>Dalam praktik sosial, jihad fisabilillah berarti memberdayakan rakyat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta memberantas kebathilan menumpas kemaksiatan. Adapun dalam ranah kekuasaan Negara, jihad sesungguhnya merupakan suatu sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta yang menjadi bagian dari tata kehidupan bernegara semenjak umat manusia mengenal tatanan bernegara. Sebuah Negara pasti membutuhkan adanya tentara, alat perang, dan aturan perundang-undangan yang menjadi dasar untuk mepertahankan Negara dari serangan musuh dan rekruitmen tenaga tentara dari Negara yang bersangkutan.</p>
<p>Oleh karena itu, menyamakan teror dengan jihad merupakan upaya menyesatkan umat Islam dari ajaran agamanya; sekaligus membuktikan adanya ghazwul fikri yang dilakukan musuh Islam terhadap umat Islam. Begitupun perburuan Densus terhadap orang yang diduga sebagai teroris, yang ternyata hanya ditujukan pada mereka yang beragama Islam menunjukkan bahwa perang ideologi sedang terjadi dengan hebat di Indonesia. Apalagi dengan adanya usaha membagi umat Islam menjadi kelompok radikal dan moderat, militan dan toleran, yang telah merasuki sebagian dari tokoh ormas Islam sehingga mereka lebih senang memerangi saudaranya sesame Muslim daripada menghadapi agresi zionis dan salibis.</p>
<p>Untuk mengatasi terorisme di Indonesia, rezim pemerintahan SBY harus berani melakukan debat publik dengan rakyat Indonesia yang meragukan hal-hal yang diwacanakan oleh aparat mengenai jihad dan terorisme. Jika tidak, maka tindakan Densus 88 membunuh orang-orang yang dicurigai sebagai teroris merupakan tindakan keji dan biadab terhadap rakyatnya sendiri. <em>Wallahu a’lam bis shawab</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">Oleh Irfan S Awwas</p>
<p style="text-align: right;">Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin</p>
<p style="text-align: right;">Jogjakarta, 1 April 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/dakwah-islam-bukan-publikasi-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyongsong Harapan Kejayaan Islam</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 05:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Kaum Muslimin sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan bagi segenap umat manusia. Harapan ini merupakan missi Islam yang diproklamirkan oleh Rasulullah Saw sejak beliau memulai dakwahnya di Makkah yang dikenal dengan misi Rahmatan lil Alamin. Upaya melanjutkan misi ini, merupakan amanah yang menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaum Muslimin sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan bagi segenap umat manusia. Harapan ini merupakan missi Islam yang diproklamirkan oleh Rasulullah Saw sejak beliau memulai dakwahnya di Makkah yang dikenal dengan misi Rahmatan lil Alamin.</p>
<p>Upaya melanjutkan misi ini, merupakan amanah yang menjadi tanggung jawab umat Islam. Sesungguhnya problema terbesar kaum MusIimin di seluruh dunia, adalah belum berlakunya Syari’ah Islam. Hampir seluruh tragedi politik dan kemanusiaan yang datang bertubi-tubi menimpa kaum Muslimin, sebenarnya berpangkal pada masalah ini. Problema ini diperparah lagi dengan kenyataan, bahwa kaum Muslimin dewasa ini belum memiliki tata kepemimpinan ummat yang berfungsi secara efektif dan berkualitas untuk menghantarkan serta memberdayakan ummat pada tingkat kehidupan yang beradab dan bermartabat sebagaimana arahan pesan-pesan wahyu llahy.</p>
<p>Disadari bahwa pengentasan secara menyeluruh atas segenap persoalan tersebut tidak bisa lain kecuali dengan terbangunnya suatu kekuatan bersama antar komponen ummat Islam, serta terciptanya ayunan langkah yang teratur ke arah tujuan yang jelas dan bermakna. Kabut gelap malapetaka, insya Allah akan sirna manakala benih-benih permusuhan di antara ummat Islam yang mendukung berlakunya Syari’ah Islam dan ummat Islam yang belum siap menerima formalisasi Syari’ah Islam dapat dilumatkan sehingga terbentanglah jembatan emas bagi terselesaikannya persoalan ummat yang lainnya, dan pada gilirannya terbitlah fajar keselarasan dan keterpaduan gerak perjuangan di antara komponen ummat Islam.</p>
<p>Dalam kaitan inilah, maka perlu adanya kekuatan sinergis seluruh kaum Muslim, dengan berbagai macam wadah kegiatan dan perjuangannya untuk menyatukan seluruh potensinya, memikul beban bersama, langkah dan upaya membangun kejayaan kembali Islam.</p>
<p>Namun di kalangan kaum Muslimin muncul fenomena jahiliyah, bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam seakan ancaman bagi eksistensi serta keselamatan dirinya di tengah arus globalisasi dewasa ini. Hal ini tercermin pada keengganan umat Islam untuk berterus terang dengan kebenaran agamanya, dan menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam, seolah-oleh Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini.</p>
<p>Stigmatisasi negatif ini dirasakan teramat berat oleh sebagian tokoh-tokoh Islam, terutama para politisinya, yang menyebabkan mereka enggan mengibarkan bendera syaria’at Islam secara jujur dan terus terang. Kondisi demikian menciptakan hubungan yang tegang, saling mencurigai di antara komunitas Muslim sendiri, sehingga muncul kategorisasi Islam radikal versus Islam moderat, sikap inklusif versus eksklusif, ideologi nasional versus transnasional, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kategorisasi berbau konflik ini, merupakan rekayasa provokatif  musuh-musuh Islam, dengan maksud memandulkan kekuatan Islam melalui politik devide at impera, sesuai program mereka. Akibatnya,  tidak sedikit dari kalangan aktivis Islam yang terinfeksi perasaan tertindas, tertekan, teraniaya, dan “gara-gara berjuang, hidup saya jadi sengsara”.</p>
<p>Kecewa terhadap Islam, lalu memosisikan perjuangan penegakan syari’at Islam sebagai penyebab kegagalan dan kesengsaraan hidupnya,    jelas merupakan kondisi mental abnormal. Dalam agenda hidup para mujahid, mentalitas demikian sungguh tercela, karena menjadikan agama Allah sebagai kambing hitam atas ironi oportunisme serta ketidak berdayaannya.  Dalam hal ini,  Allah Swt mengingatkan, bahwa Islam datang bukan untuk menyengsarakan manusia,  tidak juga membuat susa. Dalam Qur’an surat Thaha ayat 2 dinyatakan:</p>
<p>“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orangyang takut kepada Allah.”</p>
<p>Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menjadikan manusia hidup dalam tatanan yang membawa kesengsaraan, kemiskinan, penderitaan dan saling menindas. Tetapi untuk memberikan tatanan hidup yang dapat membangun kasih sayang, berbuat kebajikan, perdamaian, persaudaraan, dan saling menghormati martabat manusia satu dengan lainnya. Dan untuk menegakkan tatanan ideal seperti ini, sepintas terasa berat dan sulit bahkan menjadi sasaran permusuhan orang-orang bermental jahat seperti para penyembah berhala bangsa Quraisy.</p>
<p>Ketika suatu komunitas merasa hidupnya tertekan, pasti memunculkan berbagai ketegangan antara kelompok yang satu dengan yang lain dalam komunitas tersebut. Pada saat demikian amat sulit suatu umat dapat menyatukan diri karena adanya ganjalan, berupa rendahnya tingkat saling mempercayai sesama mereka.</p>
<p><strong>Hilangnya Kepercayaan Sesama Muslim:</strong> Umat Islam dewasa ini terbelenggu dalam situasi saling mencurigai. Kelompok yang merasa dirinya sebagai moderat dan toleran, apriori menyikapi kelompok yang dikategorikan radikal dan ekstrem. Bila kelompok yang disebut eksterim mencoba mencairkan suasana dengan ajakan berdialog, serta merta diabaikan ajakannya, karena khawatir ancaman orang-orang kafir menimpa komunitasnya di kemudian hari. Bahkan kelompok moderat ini dengan enteng menyebarluaskan pandangannya secara sinis terhadap kelompok radikal atau militan dengan berbagai label absurd. Misalnya, anggapan bahwa, “tuntutan formalisasi syari’at Islam sebagai tidak taktis, pendek akal, beragama hitam putih, dan tuduhan negatif tanpa dasar kebenaran.</p>
<p>Kondisi seperti ini jelas merupakan rintangan bagi sesama Muslim untuk menciptakan perdamaian. Oleh karena itu menjadi tanggungjawab umat Islam semuanya, agar berani menyingkirkan rasa saling tidak percaya secara total, kemudian secara ikhlas dan jujur membangun persatuan secara total juga, di bawah naungan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullkah Saw.</p>
<p><strong>Terikat Program Sendiri:</strong> Dampak negatif dari buruk sangka, apriori, akibat mentalitas saling mencurigai sesama Muslim, adalah munculnya kelompok Islam yang bangga terhadap program perjuangan kelompoknya, dan secara sepihak menjadikan sikap dan faham kelompoknya sebagai tolak ukur kebenaran dari otentisitas perjuangan Islam. Sebagai akibatnya, perjuangan yang dilakukan oleh kelompok Islam lainnya dianggap sebagai penyimpangan dan perintang bagi perjuangan dakwah kelompoknya. Bahkan segala kebajikan yang diserukan kelompok lain, tidak mengikat mereka yang merasa berbeda dengan komunitas Islam lain itu. Bukan karena kelompok lain itu salah dari sudut pandang Al-Qur’an, melainkan karena sikap tegas membela kebenaran dan melawan kekafiran, melalui dakwah dan jihad fie sabilillah.</p>
<p>Maka terjadilah apa yang semestinya dihindari, yaitu “ rela bermusuhan dengan sesama Muslim, sebaliknya merasa <em>happy</em> bermesraan dengan musuh-musuh Islam.” Mereka merasa enjoi bekerjasama dengan musuh Islam asalkan eksistensi diri dan kelompoknya dapat dipertahankan. Akibat selanjutnya, ketika saudara Muslimnya ditindas dan dizalimi penguasa kafir, mereka tidak merasa berkewajiban membela serta menunjukkan solidaritas Islamnya.</p>
<p>Kenyataan ini tentu saja mempersulit upaya menyatukan barisan umat Islam. Untuk kepentingan ukhuwah Islamiyah, gerakan Islam harus berani mengavaluasi diri sendiri, apakah kita menjadi bagian dari orang-orang yang jujur dalam beragama, ataukah orang-orang yang memanfaatkan Islam sebagai komoditas mencari kesenangan duniawi. Selama suasana batin dari tiap-tiap umat Islam, terutama ulama dan pemimpinnya masih diliputi oleh semangat mencari kesenangan duniawi dengan mengorbankan agamanya, sudah dapat dipastikan stagnasi hubungan sesama Muslim akan kian sulit dicarikan solusinya.</p>
<p><strong>Stagnasi Komunikasi Sesama Muslim:</strong> Ketika stagnasi komunikasi sesame Muslim menjadi dasar dalam interaksi sosial umat Islam maka yang muncul adalah saling menuduh, saling menyalahkan, saling berlomba menjadi agen musuh Islam untuk menghancurkan kekuatan kelompok Islam yang berbeda pendapat dengan kelompoknya. Kenyataan itulah yang menimpa saudara Muslim di Irak, Afghanistan, dan Pakistan. Hal ini terjadi karena tiap kelompok merasa terancam dengan adanya kelompok Islam yang lain, lalu menggunakan kekuatan musuh untuk memperkuat dirinya menghadapi kelompok Muslim lainnya. <em>Subhanallah!</em></p>
<p>Al-Qur’anul Karim mengungkapkan hal ini dengan sangat jelas.</p>
<p>“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Qs. Al-Anfal, 8:73)</p>
<p>Apa yang terungkap di dalam Qur’an ini sudah menjadi realitas di zaman kita sekarang. Lalu apa langkah yang bisa dilakukan ketika kita menghendaki terbentuknya persatuan umat Islam, baik skala nasional maupun internasional? Maukah berbagai komunitas, organisasi, partai, dan jama’ah Islam di Indonesia sekarang menaggalkan egosentrisnya dan meleburkan diri secara total menjadi Muslim ansich tanpa atribut lain? Mungkinkah hal ini dapat direalisasikan, dan dengan cara bagaimana melakukannya?</p>
<p><strong>Lemahnya Motivasi Ishlah:</strong> Umat Islam sekarang berada dalam situasi problematis karena dua factor. Pertama, faktor ulama, sebagai penyuluh bagi umat untuk beragama dengan cara yang benar. Tetapi terbukti, tidak sedikit di kalangan para ulama ini yang menggunakan predikat keulamaannya untuk mengejar gemerlap duniawi, menjadi pendamping bagi penguasa zalim, mencarikan dalil-dalil yang memuaskan hati orang-orang kaya untuk terus melanggengkan sistem ekonomi ribawi, bahkan dengan terang-terangan memelintir ayat-ayat Al Qur’an demi kepentingan nafsunya.</p>
<p>Bukti faktual berkenaan dengan prilaku tidak terpuji ini, adalah pemelintiran ayat-ayat jihad. Ada ulama yang menyatakan, jihad berarti  amal shalih, sedangkan yang lainnya bukan jihad. Ketika ditanyakan tentang jenis-jenis jihad sebagaimana disebutkan oleh Imam Malik dalam kitab <em>Almudawwantul Kubra</em>, bahwa jihad mencakup: amal shalih, membela hak yang dirampas orang lain, amar ma’ruf nahyu mungkar, dan perang dengan senjata. Ternyata mereka tidak memberikan komentar apapun. Selain menunjukkan kelemahan, juga merusak citra syari’at jihad yang dapat menyesatkan pemahaman umat.</p>
<p>Mengapa ulama memiliki motivasi yang lemah untuk memperjuangkan Islam? Karena mereka telah menjadikan dunia ini seakan alam akhirat, sebelum alam akhirat yang sebenarnya datang. Yaitu, <em>“hubbud dunya wa karahiyatul maut</em> -cinta dunia dan takut mati.” Mereka tidak sabar menghadapi derita dan sengsara di dunia ini unruk kelak memperoleh surga di akhirat.</p>
<p>Inilah yang disebutkan oleh Rasulullah Saw sebagai <em>qurraun fasaqatun</em> (ulama fasek). Karena ulamanya fasek, maka ummat pun tidak mendapatkan pencerahan mengenai ajaran Islam yang sebenarnya. Ummat hanya dijejali dengan pendapat syeikh ini dan ulama itu, sehingga mereka jauh dari Al Qur’an dan hadits shahih. Dampak buruknya, sekalipun umat rajin beribadah, namun ketekunan beribadah ternyata tidak berpengaruh dominan dalam menggerakkan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik umat Islam di muka bumi ini.</p>
<p>Selain itu, sebagian ummat Islam malah alergi menerapkan syariat Islam dalam kehidupan politik, bahkan beranggapan antara Islam dan politik, Islam dan Negara, adalah dua hal yang berbeda, dan tidak boleh dicampur adukkan. “Politik merupakan hal yang kotor, sedang agama merupakan hal yang suci, karena itu agama tidak boleh dicampur adukkan dengan politik,” ujar mereka.</p>
<p>Retorika tanpa logika syar’iyah melahirkan sikap ambivalen, sama sekali tidak membantu meningkatkan iman dan amal shalih. Ibarat rinso dan baju kotor. Rinso adalah alat pencuci, sedangkan baju terkena lumpur adalah barang kotor. Apakah anda akan mengatakan bahwa baju kotor ini jangan dicuci dengan rinso, karena rinso pembersih tidak boleh dicampur dengan baju yang kotor? Ataukah anda akan mengatakan, “bila baju kotor harus dipakai terus dan tidak boleh dicuci dengan rinso pembersih, bukankah menyebabkan pemakainya terkena penyakit?” Jika anda tidak mau memakai baju kotor karena khawatir terjangkit penyakit, maka seharusnya logika waras anda berkata: “Jangan menggunakan politik untuk mengatur Negara, karena politik itu kotor.” Konsekuensinya, anda harus mengganti politik itu dengan syariat Islam agar manusia seantero dunia menjadi sehat dan tidak berpenyakit.</p>
<p>Oleh karena itu, ulama yang jujur akan dapat menjadi penyuluh bagi ummat dan memberikan pencerahan bagi para penguasa. Adanya ulama yang shalih, jujur dan pemberani menegakkan kalimatul haq di hadapan penguasa yang zalim merupakan kebutuhan mutlak dalam kehidupan modern ini. Tanpa adanya ulama berkarakter ulama mujahid, sulitlah bagi dunia Islam untuk membangun kembali kejayaannya, dengan mempersatukan barisan dan menyelamatan ummat dari jebakan para pecundang agama.</p>
<p>Bagaimana melahirkan ulama yang dapat menjadi guru bagi ummat dan penyuluh bagi penguasa guna menyongsong kejayaan Islam di masa depan? Seorang ulama iharuslah berkarakter, sehingga berada di garis terdepan dalam mengibarkan panji-panji penegakan syari’at Islam. Seorang ulama adalah manusia yang paling takut menyalahi syariat Allah dan RasulNya dalam segala urusan; dan paling berani mengingatkan ummat dan penguasanya untuk kembali ke jalan Allah.</p>
<p>Dewasa ini, apakah unsur pendorong terciptanya persatuan umat itu lebih dominan atau sebaliknya unsur perpecahan yang lebih besar?  Dalam ilmu fisika dikenal adanya hukum pendorong dan penahan. Bila kekuatan penahan lebih lemah dari kekuatan pendorong, maka kekuatan pendorong akan masuk ke areal tujuan. Bila kekuatan penahan lebih kuat maka pendorong akan tersingkir.</p>
<p>Hukum fisika ini juga bisa berlaku dalam perjuangan agama dan ideologi. Bila kekuatan pendorong yang terdapat di dalam diri orang- orang yang memperjuangkan Islam, untuk membangun kekuatan Islam lebih kuat daripada semangat perpecahan yang terdapat pada diri masing-masing tokoh, pasti persatuan akan segera diraih.</p>
<p>Lalu, bagaimana menumbuhkan semangat persatuan di kalangan  umat Islam? Jawabannya terdapat dalam firman Allah surat Ali Imram ayat 103, yang merupakan hukum fisika bagi alam, dan hukum mental bagi manusia.</p>
<p>“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”</p>
<p>Ayat ini secara aksiomatis menegaskan bahwa tidak ada jalan lain yang jadi pijakan ummat Islam untuk bersatu, selain ummat Islam konsisten berpegang pada syari’at Islam secara utuh, sebagaimana termaktub dalam Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Sedangkan cara lain, justru akan menghancurkan kekuatan umat Islam itu.</p>
<p>Analisis yang banyak dikemukan sarjana Muslim lulusan Barat dengan tinjauan sosiologis, politis, dan psykologis berkenaan dengan perpecahan umat Islam dan sulitnya untuk bersatu, hanyalah sebuah imajinasi dan halusinasi yang tidak memili landasan wahyu Ilahy.</p>
<p>Oleh karena itu, umat Islam harus jujur terhadap dirinya sendiri, bersedia untuk i’tisham (berpegang teguh) pada Quran dan sunnah secara konsisten; atau sebaliknya dengan resiko terus menerus berpecah belah ala jahiliyah. Untuk itu Majelis Mujahidin menyerukan pada seluruh komponen dan pimpinan umat Islam untuk melakukan dialog secara terbuka, membicakan segala sisi keterpurukan dan kelemahan umat Islam sekarang, guna merumuskan langkah-langkah kongkrit menuju kebangkitan dan kejayaan umat Islam di era globalisasi ini.</p>
<p>Seruan ini sekaligus merupakan bentuk pertanggungan jawab Majelis Mujahidin kepada Allah dan umat Islam, sedangkan pihak atau kelompok ummat Islam lainnya diharapkan juga berbuat hal yang sama. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya pada kita.</p>
<p>Kita harus mengakhiri kondisi stagnasi, merasa serba lemah, dan tidak berdaya menghadapi musibah yang membebani ummat Islam selama lebih dari satu abad. Yaitu, sejak khilafah Utsmaniyah kendalinya berada di tangan kaum nasionalis sekuler dua abad lalu. Dengan pertolongan Allah muncul kesadaran pada segenap komponen umat Islam seluruh dunia untuk bersama-sama membangun kembali tali silaturrahim dan merajut benang yang terputus di antara sesama Muslim, karena provokasi ideologi nasionalis sekuler di berbagai negeri Islam.</p>
<p>Kesadaran akan pentingnya persatuan dalam rangka menegakkan syari’at Islam harus senantiasa dikumandangkan agar menjadi kekuatan yang dapat dipergunakan untuk membangun dunia yang diamanatkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Yaitu dunia yang penuh dengan rahmat Allah bagi segenap umat manusia apapun agama, bangsa dan asal usulnya. Bahkan juga menjadi rahmat bagi segenap makhluk di jagat raya ini, karena Islam melindungi hak hidup flora dan fauna sebagai makhluk Allah juga. Alangkah indahnya jagat raya yang dinaungi oleh syariat Islam, dan alangkah damainya hati setiap manusia yang merasakan sentuhan rahmat Ilahy.</p>
<p>Dalam kaitan ini, Majelis Mujahidin mengingatkan kepada seluruh kaum Muslimin atas pesan Khalifah Abu Bakar: “Tidak ada persatuan tanpa mengikuti sunnah Nabi Saw.”</p>
<p>Demikian pula pesan Khalifah Umar bin Khathab: “Kebenaranlah yang membuat kamu menjadi kuat, dan bukan kekuatan kamu yang membuat jayanya kebenaran.” Dengan heroisme yang sma ditunjukkan oleh Khalifah Utsman bin Affan yang berpesan: “Kejayaan ummat ini akan terpelihara selama Al Qur’an berdampingan dengan kekuatan. Bilamana kekuatan tanpa Qur’an akan menjadi anarkhis, dan bilamana Qur’an tanpa kekuatan tidak bermakna bagi kehidupan.” <em></em></p>
<p><em>Wallahu a’lam bis shawab!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/menyongsong-harapan-kejayaan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermakmum di Belakang Imam Yang Fasik atau Dzalim?</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 11:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Q & A]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[dzalim]]></category>
		<category><![CDATA[fasiq]]></category>
		<category><![CDATA[makmum]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ustadz, Saya ingin menyanyakan tentang bermakmum kepada imam yang fasik atau dzalim, yang jelas menolak syari’at Islam. Apakah boleh kita bermakmum kepada mereka? Jawaban: Jazakumullahu khairan atas pertanyaan yang anda ajukan. Sebenarnya pertanyaan yang seperti ini bukanlah kali pertama, dan mungkin juga bukan kali terakhir. Untuk klarifikasi dan penjelasan marilah kita ambil pelajaran dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignright size-medium wp-image-620" title="shalatjamaah" src="http://abujibriel.com/ajib/wp-content/uploads/2010/01/shalatjamaah-300x225.jpg" alt="shalatjamaah" width="300" height="225" />Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ustadz, Saya ingin menyanyakan tentang bermakmum kepada imam yang fasik atau dzalim, yang jelas menolak syari’at Islam. Apakah boleh kita bermakmum kepada mereka?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Jazakumullahu khairan </em>atas pertanyaan yang anda ajukan. Sebenarnya pertanyaan yang seperti ini bukanlah kali pertama, dan mungkin juga bukan kali terakhir. Untuk klarifikasi dan penjelasan marilah kita ambil pelajaran dari hadits-hadits berikut.</p>
<p>Dari Jabir, dari Navi Saw beliau bersabda: <em>“Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimam laki-laki; dan jangan seorang baduwy (mengimami) muhajir; dan janganlah sekali-kali seorang pendurhaka mengimami orang mukmin, kecuali karena paksaan dari penguasa yang ditakuti cambukan atau pedangnya.” </em><strong>(HR. Ibnu Majah</strong><strong>)</strong></p>
<p>Dan dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: <em>“Pilihlah imam-imam kamu dari orang-orang dari orang-orang baik kamu, karana sesungguhnya mereka itu duta kamu, tentang apa-apa yang antara kamu dengan Rabbkamu.”</em><strong>(HR. Daraquthnie)</strong></p>
<p>Dan dari Makh-hul, dari Abu Hurairah, ia barkata: Rasulullah Saw bersabda: <em>“Berjihad itu wajib atas kamu bersama setiap pemimpin, apakah dia pemimpn yang baik atau yang durhaka; dan shalat itu wajib atas kamu di belakang setiap muslim, apakah dia itu orang yang baik atau yang durhaka, sekali pun dia melakukan dosa-dosa besar.” </em><strong>(HR. Abu Daud)</strong></p>
<p>Dan dari Abdul Kariem Al Bakkaie, ia berkata: <em>“Aku menjumpai sepuluh orang sahabat Nabi yang semua itu sholat di belakang imam-imam yang durhaka.” </em><strong>(HR. Bukhari, di dalam Tarikhnya)</strong></p>
<p><strong>Penjelasan:</strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;"><strong>1. </strong><strong>Syarih (penyarah kitab Nailul Authar) berkata</strong>: Telah terjadi ijma’ fi’lie dari kalangan sahabat yang masih hidup, bersama tabi’in, yang mendekati sebagai ijma’ qaulie: bahwa mereka shalat di belakang imam durhaka. Karena para penguasa pada masa itu, adalah juga sebagai imam shalat yang lima waktu. Jadi orang-orang pada waktu itu, imamnya tidak lain adalah para penguasa, di setiap daerah yang ada penguasanya. Negara disaat itu di bawah dinasti Bani Umayyah, dan keadaan mereka dan para penguasanya sudah bukan rahasia.</span></strong></p>
<p>Selanjutnya Syarih berkata: Walhasil, pada dasarnya tidak ada persyaratan (bagi imam itu) harus adil. Dan setiap orang yang sudah sah shalatnya untuk dirinya, sah pula untuk orang lain.</p>
<p>Ketahuilah, bahwa letak perselishannya, hanya dalam sahnya berjama’ah, di belakang seorang imam yang tidak adil. Adapun tentang kemakruhannya tidak menjadi perselisihan lagi.</p>
<p>Perkataan: “Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimam laki-laki; dan jangan seorang baduwy (mengimami) muhajir;” itu, Syarih berkata: Maksudnya, bahwa orang baduwy yang tidak berhjrah, tidak boleh mengmami orang yang pernah berhijrah. Bahwa orang yang berhijrah lebih dahulu itu, lebih diutamakan (menjadi imam) daripada yang berhjrah belakangan, lagi-lagi yang tidak berhijrah.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Berkata Al Ustaz Sayyid Sabiq dalam Fiqieh Sunnahnya</strong>:</p>
<p>Imam Bukharie meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah shalat dibelakang Al Hajjaj (seorang penguasa yang sangat jahat dan banyak membunuh sahabat-sahabat Nabi saw). Imam Muslim meriwayatkan bahwa Abu Sa’id Al Khudrie pernah melaksanakan shalat dibelakang khalifah Marwan pada waktu shalat Hari Raya. Ibnu Mas’ud RA, juga pernah shalat dibelakang Walid bin Uthbah bin Abu Mu’ith padahal dia adalah peminum arak.</p>
<p>Pada perinsipnya, sebagai kesimpulan para ulama ialah: Barangsiapa yang shalatnya sah untuk dirinya sendiri, maka sah pula untuk orang lain. Walaupun demikian para ulama memandang makruh bagi seseorang yang mengerjakan shalat dibelakang orang fasik atau ahli bid’ah berdasarkan sebuah dari Su’aib bin Khallad katanya: ”Ada seseorang yang mengimami segolongan kaum dan dia meludah kearah kiblat, padahal pada saat itu Rasulullah melihatnya. Beliaupun bersabda: <em>”Orang itu tidak boleh menjadi imam mu.” </em>Pada suatu ketika orang itu hendak menjadi imam lagi, tetapi orang-orang melarangnya dan menyampaikan kepadanya apa yang disampaikan oleh Nabi saw .Orang itupun segera menghadap Rasulullah saw untuk meminta penjelasan. Beliau bersabda: “<em>Ya, karena engkau berbuat tidak senonoh kepada Allah dan Rasul Nya.” </em><strong>(HR. Abu Daud dan Mundziri)</strong><em> </em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Wallahu&#8217;alam Bish Showab&#8230;</em></p>
<p><strong><em>Rujukan :</em></strong></p>
<ul>
<li>Kitab Bustanul Akhbar (Mukhtashar Nailul Authar Imam As Syaukani) oleh : Shyeikh Faishal bin Abdul ‘Azis</li>
<li>Kitab Fiqhus Sunnah oleh : Syeikh Sayyid Sabiq.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/bermakmum-di-belakang-imam-yang-fasik-atau-dzalim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haram Merayakan Natal &amp; Tahun Baru [Peringatan Bagi Kaum Muslimin]</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/haram-merayakan-natal-tahun-baru-peringatan-bagi-kaum-muslimin/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/haram-merayakan-natal-tahun-baru-peringatan-bagi-kaum-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 11:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Allah swt. telah memuliaakan umat ini dengan Islam, dan memerintahkan-nya untuk mengimplementasikan-nya. Dia telah menurunkan Islam sebagai cara hidup yang unik. Sebuah pola yang berbeda dalam masalah konsepnya dan peraturan-peraturannya, sebagai sesuatu yang sempurna dan sistem menyeluruh yang mengatur semua urusan kehidupan. Allah swt. berfirman: &#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah swt. telah memuliaakan umat ini dengan Islam, dan memerintahkan-nya untuk mengimplementasikan-nya. Dia telah menurunkan Islam sebagai cara hidup yang unik. Sebuah pola yang berbeda dalam masalah konsepnya dan peraturan-peraturannya, sebagai sesuatu yang sempurna dan sistem menyeluruh yang mengatur semua urusan kehidupan. Allah swt. berfirman:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah&#8230;&#8221;</em><strong> (QS Ali Imran 3 : 110)</strong></p></blockquote>
<p>Namun, sejak Islam diabaikan dari kehidupan sehari-hari sebagai sebuah sistem peraturan, umat telah melaksanakan hal-hal yang buruk dan semakin bertambah buruk; aturan orang-orang kafir telah diimplementasikan atas umat ini dan konsep-konsep kufur telah mendominasi mereka. Invasi barat dengan budaya busuk dan hina dina itu telah berhasil merusak dien Islam, moral umat dan menjadikannya tak bernilai. Slogan barat telah di adopsi oleh kaum Muslimin melalui perayaan-perayaan dan festival-festival barat. Budaya rusak barat ini telah dibantu oleh para penguasa yang mengabdikan dirinya untuk memisahkan Islam dari kehidupan dan melakukan perang pemikiran dan menanamkan konsep-konsep buruknya, kemudian memaksa umat untuk masuk pada apa yang barat selalu inginkan, yakni menjadi individu yang sekuler.</p>
<p>Salah satu dari banyak konsep budaya yang dipaksakan oleh barat atas kaum Muslimin adalah perayaan natal dan tahun baru. Kita memohon pada Allah swt. agar tidak membiarkan diri kita melihat suatu hari dimana kaum Muslimin merayakan hari jadi orang-orang Yahudi (hari raya Yahudi) dan juga melakukan perayaan Natal.</p>
<p>Ini sungguh menyedihkan dan ironis sekali untuk menyaksikan dengan mata sendiri kejadian dan mendengar berita tentang pembunuhan masal, pengusiran dan penghinaan terhadap kaum Muslimin di tangan barat pada hari Natal, musuh-musuh Islam di seluruh penjuru dunia, sambil sebagian kaum Muslimin di negeri ini diundang oleh orang-orang Amerika dan orang Kristen lain-nya masuk ke dalam rumah mereka untuk merayakan natal dan tahun baru. Tentu saja, ini seharusnya tidak terjadi sebagai sebuah goncangan kepada kita sejak umat ini kehilangan pelindungnya yang menjalankan urusannya dengan Islam, melindunginya dari serangan konsep-konsep kufur dan menjalankan peraturan-peraturang diennya, memeliharanya sebagai sebuah perintah Allah swt., sebuah umat yang khas.</p>
<p>Wahai kaum Muslimin! Itu (Perayaan atau mengucapkan natal &amp; tahun baru) adalah sesuatu yang dilarang oleh syariah untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dan untuk mencontoh mereka dalam masalah dien (agama). Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahih-nya melalui Abu Sa&#8217;id Al Khudri r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda :</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Kamu akan mengikuti cara-cara dari orang-orang yang sebelum kamu sehasta demi sehasta dan selangkah demi selangkah, walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka&#8221;. </em>Kami berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksud (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?&#8221; beliau menjawab: <em>&#8220;Siapa lagi?&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Dalam Hadits ini Rasulullah mengejek orang-orang yang meniru orang-orang kafir, dan itu adalah sebuah hujjah (dalil/alasan syar&#8217;i) bahwa itu (merayakan natal dan tahun baru) adalah haram (tertolak), baik untuk mengikuti mereka dalam perayaan natal dan seremonial-seremonial lainnya mereka. Itu juga jelas bahwa perayaan seremonial orang-orang kafir dan perayaan ulang tahun mereka berarti meniru mereka dan Islam telah menolaknya. Rasulullah saw. telah memberi peringatan kepada kita untuk menolaknya. At-Tirmidzi meriwayatkan melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Bukan seseorang dari kita (kaum muslimin) yang meniru suatu kaum, jangan meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>At-Tabrani meriwayatkan melalui Ibnu Umar dan Hudaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Siapa yang mengikuti suatu kaum akan menjadi salah satu dari mereka.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Itu juga merupakan bagian dari teks syariah bahwa itu adalah tertolak bagi seorang Muslim yang telah mempunyai hari raya nya sendiri yaitu I&#8217;edul Fitri dan I&#8217;dul Adha. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam &#8216;Sunan&#8217;-nya dari Anas Bin Malik yang berkata :</p>
<p>&#8220;Rasulullah saw. datang ke Madinah pada saat orang-orang Madinah mempunyai dua hari pada masa jahiliah (sebelum Islam) yang mereka rayakan, maka beliau saw. berkata: &#8220;Aku datang kepadamu pada saat kamu mempunyai 2 hari dari masa jahiliah yang kamu rayakan, dan Allah swt. telah menggantikannya 2 hari ini dengan dua hari yang lebih baik: hari raya Kurban dan hari Fitri.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan dari &#8216;Uqbah Ibnu Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Dan kami mempunyai hari Fitri, hari Kurban dan hari Tasyriq adalah hari besar kami orang-orang Muslim.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Teks-teks ini disajikan sebagi hujjah yang jelas bahwa itu tertolak bagi kaum Muslimin untuk mempunyai perayaan selain dari pada apa yang telah Allah swt. putuskan. Mereka (kaum muslimin) selanjutnya tertolak untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dari perayaan seperti upacara mereka, adalah sesuatu yang tertolak seperti menghadiri perayaan mereka, walau pun mereka mengundang. Seperti cara upacara akan menghantar kepada kerusakan dan pemutusan mereka akan menjadi sebuah kesempatan bagi setiap orang-orang fasiq untuk melakukan perbuatan yang berdosa, seperti mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang. Media masa yang ada cenderung pada peristiwa ini untuk menayangkan program-program yang mempunyai selera yang buruk dan semua jenis ketidaksopanan dan kerusakan. Mereka mencemari pemikiran orang-orang dan mengikis segala jenis moral yang baik, martabat, dan kesucian mereka.</p>
<p>Wahai kaum Muslimin! Umat akan terus-menerus tertekan di bawah konsep orang-orang kafir dan akan terus terdominasi. Mental kaum Muslimin akan terus tebentuk sesuai dengan sudut pandang orang-orang barat, kecuali kita mulai membuang semua pemahaman barat yang ada pada diri kita dan berjuang untuk menegakkan Khilafah Rasyidah, yang akan mengimplementasikan kitab Allah swt. dan sunnah Rasul-Nya saw., dan akan menumbangkan ketidakadilan, penguasa tiran dan kerusakan yang tampak atas kaum Muslimin, yang kemudian sebagai hasilnya orang-orang kafir akan kehilangan kekuatan dan identitas mereka.</p>
<p>Selanjutnya, itu adalah untuk khilafah bahwa kita menyeru kepada mu (kaum muslimin) untuk memperjuangkannya, wahai kaum Muslimin! Rasulullah saw. bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Imam (pemimpin) itu adalah pelindung dimana orang-orang berperang dan terlindung dengannya.&#8221; </em><strong>(Shahih Bukhari)</strong></p></blockquote>
<p>Source : Almuhajirun.net</p>
<p><a href="http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/6388/haram-merayakan-natal-tahun-baru" target="_blank">http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/6388/haram-merayakan-natal-tahun-baru</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/haram-merayakan-natal-tahun-baru-peringatan-bagi-kaum-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Wanita Sholehah Keluar Rumah</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/adab-wanita-sholehah-keluar-rumah/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/adab-wanita-sholehah-keluar-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[An Nisa']]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[Wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah Swt, Rasul Nya, kedua ayah bundanya dan kepada suaminya (jika dia telah bersuami). Adab sopan santunya jauh berbeda dengan wanita-wanita yang tidak shalihah (wanita thalihat, jahat). Apabila dia keluar rumah maka dia akan memastikan dirinya benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Dia tidak akan keluar rumah melainkan jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah Swt, Rasul Nya, kedua ayah bundanya dan kepada suaminya (jika dia telah bersuami). Adab sopan santunya jauh berbeda dengan wanita-wanita yang tidak shalihah (wanita <em>thalihat,</em> jahat). Apabila dia keluar rumah maka dia akan memastikan dirinya benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Dia tidak akan keluar rumah melainkan jika memakai pakaian yang menutup aurat, yaitu sebuah pakaian yang memenuhi ketentuan syari&#8217;at Islam, antara lain:</p>
<ol>
<li>Menutupi seluruh tubuh badan.</li>
<li>Tebal dan tidak  tipis (transparan).</li>
<li>Longgar dan tidak ketat.</li>
<li>Tidak diberi parfum atau minyak wangi yang kuat atau menyengat baunya.</li>
<li>Tidak menyerupai pakaian laki-laki.</li>
<li>Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita non Muslim (wanita kafir).</li>
<li>Pakaian yang dipakai adalah untuk tujuan ibadah kepada Allah Swt, bukan pakaian untuk menghias diri atau pamer kecantikan diri dan menarik perhatian orang lain atau untuk mencari popularitas.</li>
<li>Warna pakaian terbaik adalah warna gelap dan tidak norak (warna mencolok).</li>
</ol>
<p>Itulah delapan syarat atau kriteria pakaian Muslimah shalihah yang harus dijaga oleh para Mu’minat shalehah. Kriteria pakaian tersebut telah memenuhi persyaratan apa yang disebut sebagai pakaian TAQWA.</p>
<p><strong>Kewajiban Menutup Aurat.</strong></p>
<p>Allah Swt berfirman:</p>
<blockquote><p><em>“Hai anak Adam [umat Manusia], sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa [selalu bertaqwa kepada Allah, berpakaian untuk bertaqwa] Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya &#8216;auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” </em><strong>(QS. Al ‘araf, 7: 26-27)</strong><strong> </strong></p></blockquote>
<p><strong> </strong><strong>Batas aurat wanita</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong>Seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan sampe pergelangan.</strong></p>
<p>Allah Swt berfirman,</p>
<blockquote><p><em>“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita, dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah. Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’” </em><strong>(QS. An Nur, 24: 31)</strong></p></blockquote>
<p>Dari ‘Aisyah <em>Radhiallahuanha</em> berkata, Rasulullah Saw bersabda,</p>
<blockquote><p><em>“Wahai Asma’, sesungguhnya wanita apabila telah haidh tidak boleh dilihat darinya kecuali ini dan ini.” Dan beliau (Rasulullah) mengisyaratkan wajahnya dan kedua tangannya sampe pergelangan.</em><strong> (HR. Abu Daud)</strong></p></blockquote>
<p>Sesungguhnya wanita diciptakan dalam keadaan fitrahnya senang berhias dan tumbuh dalam keadaan berperhiasan. Perhiasan itu ada dua. <strong>Pertama:</strong> Yang berasal dari dirinya (tubuhnya) sendiri yang merupakan asal penciptaannya seperti rambut, wajah dan semisalnya. <strong>Kedua:</strong> Perhiasan yang diambilnya dari luar dirinya kemudian dikenakan untuk memperindah diri seperti anting-anting, cincin, gelang kaki, pewarna kuku (daun pacar) dan selainnya. Kedua jenis perhiasan ini tidak boleh diperlihatkan dihadapan lelaki yang bukan <em>mahram</em> (ajnabi), karena syariat menetapkan hanya pihak-pihak tertentu yang diperkenankan melihat perhiasan si wanita sebagaimana tersebut. Maka satu-satunya jalan untuk memperbaiki keadaan ini adalah dengan kembali kepada hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. [1]<strong> </strong></p>
<p><strong>b. </strong><strong>Seluruh tubuh kecuali sebiji mata:</strong></p>
<p>Allah Swt berfirman:</p>
<blockquote><p><em>“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [yaitu sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada] ke seluruh tubuh mereka&#8221;. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </em><strong>(QS. Al Ahzab, 33: 59)</strong></p></blockquote>
<p>Dari Ibnu Abbas dan Abu Ubaidah<em> Radhiallahuanhuma </em>berkata: “Allah memerintahkan kepada kaum Muslimah untuk menutup kepala dan wajahnya dengan jilbab kecuali satu mata, agar mudah dikenali, bahwa mereka adalah wanita-wanita merdeka.”</p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallahuanhuma</em> berkata: Abu Shalih mengatakan kepadaku, Muawiyah berkata kepadaku, dari  Ibnu Abbas <em>Radhiallahuanhuma</em> mengenai firman Allah <strong>(QS. Al Ahzab, 33: 59)</strong>: Bahwa Allah Swt memerintahkan kepada isteri-isteri para mukminin jika mereka keluar rumah untuk suatu keperluan, haruslah mereka menutup wajah mereka dari atas kepala mereka dengan jilbab. Dan hendaklah mereka menampakkan satu mata untuk melihat.</p>
<p>Dari Ummu Salamah <em>Radhiallahuanha</em> berkata: Ketika Allah menurunkan wahyu <strong>(QS Ahzab, 33: 59)</strong>, maka wanita-wanita kalangan Anshar keluar dari rumah-rumah mereka, seakan-akan diatas kepala mereka ada burung gagak dari kain hitam yang mereka pakai.</p>
<p>Selain dari ayat-ayat diatas, ada beberapa hadits yang menyempurnakan adab wanita Muslimah jika mereka keluar rumah. Yaitu tiap-tiap wanita atau isteri Muslimah yang shalihah jika hendak keluar rumah wajib meminta izin kepada suaminya atau penanggung jawabnya (orang tua nya) agar mereka senantiasa berada dalam keridhaan Allah Swt.</p>
<p><strong>Wanita Muslimah atau Isteri Wajib Minta Izin Orang Tua atau Suami.</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>Radhiallahuanhu </em>ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:</p>
<p><em>“Setiap isteri yang keluar rumah tanpa izin suaminya, tetap dalam murka Allah, sehingga kembali kerumahnya atau dimaafkan oleh suaminya.” (pada riwayat lain) setiap malaikat yang ada di langit mengutuknya, dan apa saja yang dilaluinya selain manusia dan jin, sehingga kembali.” </em>[2]</p>
<p><strong>Larangangan Wanita Muslimah Memakai Parfum.</strong></p>
<p>Dibolehkan bagi wanita untuk memakai wangi-wangian apa saja yang disukai, baik yang dipakai dipakaian atau dibadan. Akan tetapi ada ketentuan yang harus diperhatikan, yaitu Islam mengharamkan wanita memakai wangi-wangian ketika keluar rumah. Karena dapat membangkitkan syahwat dan mengalihkan perhatian bagi siapa saja yang mencium baunya terutama laki-laki.</p>
<p>Dari Abu Musa al Asy&#8217;ari <em>Radhiallahuanhu</em>, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“Tiap-tiap wanita yang menggunakan harum-haruman kemudian keluar melewati sekelompok kaum supaya dicium baunya oleh kaum itu, maka dia adalah seorang wanita penzina (pelacur)  dan setiap mata yang memandangnya juga  telah (ikut) melakukan zina (berzina).”</em> [3]</p></blockquote>
<p>Dari Abu Musa al-Asy’ari berkata, Rasulullah Saw bersabda: <em> </em></p>
<blockquote><p><em>“Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar rumah dan berjalan melewati satu kaum sehingga mereka dapat mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina.” </em><strong>(HR. An-Nasa’I. Hadist No. 5141, 5126, 5143)</strong></p></blockquote>
<p>Maksud dari hadis di atas adalah bahwa perbuatan seperti itu dapat dikategorikan dengan berzina. Hadits di atas memberikan peringatan, agar Muslimah dapat menghindarkan diri dari perbuatan tersebut yang hanya dilakukan oleh para pezina.</p>
<p>Hadis yang lain, diriwayatkan oleh Abu Hurairah <em>Radhiallahuanhu</em>, Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“Siapa saja wanita yang terkena asap wangi-wangian, maka jangan ikut bersama kami untuk melakukan shalat Isya’ pada akhir malam.” </em><strong>(HR. Muslim)</strong></p></blockquote>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiallahuanhu</em>, bahwa ia suatu saat bertemu dengan seorang wanita yang tercium olehnya bau wangi-wangian, dan di bagian belakang pakaiannya terdapat kain yang menyapu tanah. Abu Hurairah berkata, “Wahai <em>amah</em> (hamba) al-Jabbar, apakah engkau datang dari masjid?” Wanita itu menjawab, “Ya”. Abu Hurairah berkata lagi, “Apakah untuk-Nya engkau memakai wangi-wangian?” Wanita itu menjawab, “Ya”. Kemudian Abu Hurairah menjelaskan, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“Tidak akan diterima shalat seorang wanita yang memakai wangi-wangian dalam masjid ini, sehingga ia kembali dan mandi seperti ia mandi janabah (junub).”</em> <strong>(HR. Abu Dawud) </strong></p></blockquote>
<p>Oleh karena itu, menjadi perhatian bagi wanita, apabila untuk pergi ke masjid, Islam melarang wanita menggunakan wangi-wangian. Lalu bagaimana hukumnya jika dipakai ke tempat-tempat umum yang banyak berkumpul laki-laki, seperti pasar atau tempat-tempat pembelanjaan lainnya? Ke masjid saja tidak boleh apalagi yang lebih umum, jelas lebih diharamkan lagi.</p>
<p>Inilah diantara ketentuan syari&#8217;ah Islam menegenai adab wanita shalihah keluar rumah, dan adalah orang-orang yang shalih dan shalihah apabila diajak kembali kepada syari&#8217;ah Allah Rasul Nya, maka jawabannya hanyalah <strong><em>sami&#8217;na wa atha&#8217;na</em> </strong>&#8220;kami mendengar dan kami ta&#8217;at&#8221; (QS. an Nuur, 24: 51 dan QS. Al Ahzaab, 33: 36).</p>
<p><em><strong>Wallahu a&#8217;lam bisshawab…</strong></em></p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><strong></strong></p>
<p>[1] Perhiasan Wanita Muslimah, oleh Abdullah bin Shalih al-Fauzan (edisi terjemahan).</p>
<p>[2] Diriwayatkan oleh al Khatib al Baghdadi dalam Tarikhnya 6/200 dan ath Thabrani dalam Mu&#8217;jam al Ausath 1/164, lihat at Targhiib wa at Tarhiib 3/39 &amp; Majma&#8217; az Zawaa-id 4/313.</p>
<p>[3] HR Ahmad – no: 18879, Tirmidzi – no: 2710, Nasa&#8217;ie – no: 5036, Abu Dawud – no: 3642 dan al-Hakim, lihat at Targhiib wa at Tarhiib 3/60.</p>
<p>[4]  Sahih Muslim, Juz: 2. Hal: 448</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/adab-wanita-sholehah-keluar-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keagungan &amp; Keutamaan Haji</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/keagungan-keutamaan-haji/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/keagungan-keutamaan-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 06:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/2009/11/584/</guid>
		<description><![CDATA[Haji adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi orang yang mampu, baik mampu secara materi, maupun secara ruhani. Sayangnya, orang yang secara materi tergolong mampu, banyak yang belum mau menunaikan ibadah suci ini dengan berbagai alasan. Ada yang mengatakan, “Saya sibuk, sulit untuk meninggalkan pekerjaan,” atau “Sebenarnya saya ingin, tapi ibadah saya masih kacau balau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Haji adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi orang yang mampu, baik mampu secara materi, maupun secara ruhani. Sayangnya, orang yang secara materi tergolong mampu, banyak yang belum mau menunaikan ibadah suci ini dengan berbagai alasan. Ada yang mengatakan, <em>“Saya sibuk, sulit untuk meninggalkan pekerjaan,”</em> atau <em>“Sebenarnya saya ingin, tapi ibadah saya masih kacau balau takutnya tidak sesuai,”</em> atau <em>“Sayangnya, capek-capek ngumpulin uang, hanya untuk pergi ke Mekah saja.”</em></p>
<p>Berbagai macam alasan sering dilontarkan sebagai pembela diri. Agar <em>Ikhwah Fillah</em> semakin mantap untuk melaksanakan ibadah haji, atau minimal <em>Ikhwah Fillah</em> punya keinginan kuat untuk menunaikan ibadah di tanah suci, perlu <em>Ikhwah Fillah</em> ketahui keutamaan haji dan umroh, antara lain:</p>
<ol>
<li>Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang paling utama, berdasarkan hadits Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :<strong></strong></li>
</ol>
<p>&#8220;Dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu</em> ia berkata: Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> ditanya: ‘Amal ibadah apakah yang paling utama?’ Beliau bersabda: <em>‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’</em>. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: <em>‘Jihad dijalan Allah’</em>. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: <em>‘Haji yang mabrur.’</em>&#8221; <strong>(HR. Al-Bukhari dan Muslim, lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib oleh al-Albani 3/3 hadits No. 1093.)</strong></p>
<ol>
<li>Ibadah haji sebagai penghapus dosa, berdasarkan hadits Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima&#8217; dan tidak pula melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya.&#8221;</em> <strong>(HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)</strong></p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>Radhiallaahu anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda, <em>&#8220;Ikutilah pekerjaan haji dengan melaksanakan umrah; karena sesungguhnya keduanya dapat menghapus dosa dan kekafiran, sebagaimana ubupan tukang besi dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak; dan tiada balasan bagi haji mabrur kecuali surga semata.&#8221;</em> <strong>(Shahih: Shahihul Jami&#8217;us Shaghir no: 2901, Tirmidzi II: 153 no:807 dan Nasa&#8217;I V:115)</strong></p>
<ol>
<li>Balasan bagi haji mabrur adalah Surga, berdasarkan sabda Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Umrah (yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat (peng-hapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan Surga.&#8221;</em> <strong>(HR. Malik, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah). Lihat Shahih at-Targhiib No. 1096. )</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda, <em>&#8220;Umrah ke umrah selanjutnya adalah sebagai penebus dosa antara keduanya; dan haji mabrur tidak mempunyai balasannya kecuali ke surga.&#8221;</em> <strong>(Muttafaqun&#8217;alaih: Fathul Bari III: 697 no: 1773, Muslim II: 983 no: 1349, Tirmidzi II: 206 no:937, Ibnu Majah II: 964 No: 2888 dan Nasa&#8217;I V: 115)</strong></p>
<p>Dan dari Jabir bin &#8216;Abdillah dari Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> , beliau bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga.</em>” Dikatakan (kepada beliau): &#8216;Apakah bentuk bakti dalam haji itu?&#8217; Beliau berkata: <em>&#8216;Memberi makanan dan berbicara yang baik.’</em>” <strong>(HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Albani berkata: &#8220;Shahih lighairihi, lihat Shahih at-Targhiib&#8221; No. 1104)</strong></p>
<ol>
<li>Haji adalah jihad bagi para wanita dan setiap orang yang lemah, berdasarkan hadits Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :</li>
</ol>
<p>&#8220;Dari &#8216;Aisyah <em>Radhiallaahu anha</em>, ia berkata, aku bertutur: &#8216;Ya Rasulullah kami melihat bahwasanya berjihad adalah amal ibadah yang paling utama, apakah kami (para wanita, -pent) tidak berjihad? Maka beliau bersabda: <em>&#8216;Bagi kalian (kaum wanita,-Pent), jihad yang paling utama adalah haji mabrur&#8217;</em>&#8221; .</p>
<p>Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, &#8216;Aisyah <em>Radhiallaahu anha</em> berkata:</p>
<p>&#8220;Aku bertutur: &#8216;Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban berjihad bagi kaum wanita?&#8217; Beliau berkata: <em>&#8216;Bagi wanita adalah jihad yang tidak ada peperangan padanya (yaitu) haji dan umrah.&#8217;</em>&#8221; <strong>(Dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahih at-Targhiib No. 1099).</strong></p>
<p>Dan dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu </em>, dari Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> , beliau bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Jihad orang yang tua, orang yang lemah dan wanita adalah haji dan umrah.&#8221;</em></p>
<ol>
<li>Orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah, dan permohonan mereka dikabulkan, berdasarkan hadits &#8216;Abdullah Ibnu &#8216;Umar <em>Radhiallaahu anhu</em> , Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda:</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka.&#8221;</em></p>
<p><strong>Keutamaan perjalanan haji, keutamaan orang yang mati dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji, dan keutamaan orang yang mati dalam keadaan berihram (ditengah pelaksanaan ibadah haji dan/atau umrah.)</strong> Semuanya termaktub dalam hadits-hadits dibawah ini:</p>
<ol>
<li> Dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar <em>Radhiallaahu anhu</em> ia berkata, aku mendengar Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda:</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Tidaklah unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau meng-angkatnya datu derajat.&#8221;</em></p>
<ol>
<li>Dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu</em>, ia berkata, Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda:</li>
</ol>
<p><em>&#8220;Barangsiapa keluar dalam melaksana-kan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari Kiamat.&#8221;</em></p>
<ol>
<li>Dari &#8216;Abdullah Ibnu &#8216;Abbas <em>Radhiallaahu anhu</em>, ia berkata:</li>
</ol>
<p>&#8220;Tatkala seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> dipadang &#8216;Arafah, tiba-tiba ia dijatuhkan oleh binatang (unta) yang dikendarainya dan mematahkan lehernya, maka Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda: <em>&#8216;Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya, karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan dihari Kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah.&#8217;</em>&#8220;</p>
<p>- Dan lain-lain.</p>
<p>Itulah sejumlah keutamaan ibadah haji dan umrah yang kami rangkum dari beberapa hadits yang shahih dan hasan. Jika kita telah mengetahuinya, maka sepatutnya bagi orang yang mampu untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah haji, serta menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, manakala ia memilikinya.</p>
<p>Syaikh &#8216;Abdullah bin Ibrahim al-Qar&#8217;awi berkata: &#8220;Disunnahkan melaksanakan haji setiap tahun bagi orang yang mampu selama tidak membahayakan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya&#8221; , berdasarkan hadits &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>Radhiallaahu anhu</em> , Rasulullah <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan pahala bagi haji yang mabrur kecuali Surga, tidaklah seorang mukmin dalam kesehariannya berada dalam keada-an ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosanya.&#8221;</em></p>
<p>Sunnah tersebut semakin ditekankan lagi jika telah melewati empat atau lima tahun dari haji yang dilakukan sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> :</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah berfirman: &#8216;Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan jasadnya dan Ku-lapangkan penghidupannya, telah berlalu lima tahun atasnya, dia tidak datang kepada-Ku, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan-Pent).</em> <strong>(HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya, Abu Ya&#8217;la dan al-Bai-haqi).</strong></p>
<p>Sedangkan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dengan redaksi:</p>
<p>&#8220;Bahwasanya Allah berfirman: <em>&#8216;Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan tubuhnya, Ku-lapangkan rizkinya, (namun) dia tidak datang kepada-Ku pada setiap empat tahun, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan,-Pent)</em> <strong>(Al-Haitsami berkata dalam Majma&#8217;uz Zawaa-id perawi hadits ini semuanya perawi kitab ash-Shahih.)</strong></p>
<p><em>Wallahu’alam bisshowab…</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/keagungan-keutamaan-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musibah &amp; Bala Bencana Adalah Teguran Dari Allah</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 14:42:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[azab]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[teguran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya menukar hukum Allah dengan hukum jahiliyah dan kecenderungan masyarakat memilih serta mengikuti tradisi nenek moyang dengan ajaran sesatnya yang bertolak belakang dari hidayah dan Sunnah Rasulullah Saw.</p>
<p>Al Qur&#8217;an menjelaskan, membenarkan hal tersebut, Allah Swt berfirman:</p>
<blockquote><p><em>“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.”</em> <strong>(QS. Al Qhashash, 28 : 59)</strong><span id="more-576"></span></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.”</em> <strong>(QS. Hud : 117)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” </em><strong>(QS. An Nisaa : 147)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.&#8221; </em><strong>(QS. Al Isra, 17 : 16)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” </em><strong>(QS. Al Isra, 17 : 58)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” </em><strong>(QS. As Syura, 42 : 30)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” </em><strong>(QS. An-Nahl, 16 : 112)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”</em> <strong>(QS. Ibrahim, 14 : 28-29)</strong></p></blockquote>
<p>FirmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dri merka,mereka telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata.Maka Allah sekali-kali berlaku dzalim kepada mereka ,tetapi merekalah yang berlaku dzalim terhadap dir mereka.Kemudian akibat orang-orang yang melakukan kedurhakaan dan kejahatan adalah azab siksa yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olok.”</em> <strong>(QS. Rum, 30 : 9-10).</strong></p></blockquote>
<p>Dan firmanNya lagi:</p>
<blockquote><p><em>“(ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: &#8220;Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya&#8221;. (Allah berfirman): &#8220;Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221;. Kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): &#8220;Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar&#8221;, (tentulah kamu akan merasa ngeri), demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi amat keras siksaan-Nya, (siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.], dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir&#8217;aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” </em><strong>(QS. Al An fal, 8 : 49-55)</strong></p></blockquote>
<p>Demikianlah di antara ayat-ayat Allah yang menerangkan sebab-sebab datangnya musibah dan bala bencana.</p>
<p>Rasulullah Saw juga menerangkan akan sebab-sebab musibah dalam haditsnya:</p>
<p>Berkata Ummu Salamah, istri Rasulullah Saw, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“Jika timbul maksiat pada ummatku, maka Allah akan menyebarkan azab-siksa kepada mereka.”</em> Aku berkata : Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu tidak ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: <em>“ada!”</em>. Aku berkata lagi: Apa yang akan Allah perbuat kepada mereka? Beliau menjawab: <em>“Allah akan menimpakan kepada mereka azab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan keampunan dan keredhaan dari dari Rabbnya.” </em><strong>(HR. Imam Ahmad)</strong></p></blockquote>
<p><strong>Lima Sebab Datangnya Azab dan Siksa Allah.</strong></p>
<p>Rasulullah Saw bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada Allah mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kamu atau kamu tidak menjumpainya, yaitu,<br />
</em></p>
<ol>
<li><em>Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta&#8217;un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh Allah turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya penguasa.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh Allah, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka.</em></li>
<li><em>Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri.”</em> <strong>(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)</strong></li>
</ol>
</blockquote>
<p><strong>Lima Belas Perkara Mendatangkan Musibah &amp; Bala Bencana.</strong></p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: <em></em></p>
<blockquote><p><em>&#8220;Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” </em></p></blockquote>
<p>Ditanyakan, apakah lima belas perkara itu wahai Rasulullah?</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda: <em> </em></p>
<blockquote><p><em>&#8220;Apabila…</em></p>
<ol>
<li><em>Harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi,</em></li>
<li><em>Amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan,</em></li>
<li><em>Zakat dianggap sebagai cukai (denda),</em></li>
<li><em>Suami menjadi budak istrinya (sampai dia),</em></li>
<li><em>Mendurhakai ibunya,</em></li>
<li><em>Mengutamakan sahabatnya (sampai dia),</em></li>
<li><em>Berbuat zalim kepada ayahnya,</em></li>
<li><em>Terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari&#8217;ah),</em></li>
<li><em>Orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat),</em></li>
<li><em>Seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya,</em></li>
<li><em>Minuman keras (khamar) tersebar merata dan menjadi kebiasaan,</em></li>
<li><em>Laki-laki telah memakai pakaian sutera,</em></li>
<li><em>Penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan,</em></li>
<li><em>Alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan,</em></li>
<li><em>Generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya;</em></li>
</ol>
<p><em>Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang diatasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tananh longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.”</em> <strong>(HR. Tirmidzi, 2136)</strong></p></blockquote>
<p>Itulah perkara-perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan, kehancuran, kesempitan, kemelaratan, perseteruan, dan perpecahan satu sama lainnya, antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan penguasa. Korupsi dan ketidakadilan merajalela, segala macam penyakit bermunculan menimpa manusia, yang benar-benar menyulitkan dan membinasakan kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.</p>
<p>Oleh sebab itulah, Rasulullah Saw berdoa agar sahabat-sahabatnya tidak menjumpai keadaan yang demikian dahsyat dan terpuruknya. Dari semua perkara yang menyebabkan datangnya siksa dan azab itu. Insya Allah akan berakhir jika manusia dan kaum Muslimin khususnya kembali kepada Allah dan Rasul Nya, berpegang teguh kepada Dinullah (Islam yang sebenar-benarnya, menurut Al Qur’an dan As Sunnah) mengikut petunjuk Rasulnya.</p>
<p>Sebagai penutup, renungkanlah firman Allah Swt berikut serbagai introfeksi kita semua:</p>
<blockquote><p><em>”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri <strong>Beriman dan Bertakwa</strong>, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”</em> <strong>(QS. Al A&#8217;raf, 7: 96)</strong></p></blockquote>
<p><em>Wallahu’alam bis showab&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Download makalah asli klik link berikut:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a title="MUSIBAH &amp; BALA BENCANA ADALAH TEGURAN DARI ALLAH" href="http://www.mediafire.com/file/mm1m2ttmo5a/MUSIBAH &amp; BALA BENCANA ADALAH TEGURAN DARI ALLAH (www.abujibriel.com).pdf" target="_blank">PDF</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/musibah-bala-bencana-adalah-teguran-dari-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isu Terorisme dan Serangan Terhadap Islam</title>
		<link>http://www.abujibriel.com/isu-terorisme-dan-serangan-terhadap-islam/</link>
		<comments>http://www.abujibriel.com/isu-terorisme-dan-serangan-terhadap-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 16:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ust. Abu Jibriel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Syakhsiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abujibriel.com/ajib/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anda orang yang mengatakan bahwa berjihad menegakkan Syari’ah Islam dan khilafah Islamiyah di bumi Allah adalah tindakan Terorisme ? Jika demikian, berarti anda belum mengerti tentang jihad Islami yang merupakan mukjizat Allah SWT. Jihad adalah usaha serius untuk membumikan wahyu Allah di muka bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan fitnah terhadap Islam dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah anda orang yang mengatakan bahwa berjihad menegakkan Syari’ah Islam dan khilafah Islamiyah di bumi Allah adalah tindakan Terorisme ? Jika demikian, berarti anda belum mengerti tentang jihad Islami yang merupakan mukjizat Allah SWT.</p>
<p>Jihad adalah usaha serius untuk membumikan wahyu Allah di muka bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan fitnah terhadap Islam dan ummatnya. Renungkan firman Allah dalam QS Al Baqarah 2:193 dan QS Al Anfal 8:39.</p>
<p><em>Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.</em> <strong>(QS. Al Baqarah 2:193)</strong></p>
<p><em>Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. </em><strong>(QS. Al Anfal 8:39)</strong></p>
<p>Fitnah adalah kezaliman dan sifatnya lebih kejam dari pembunuhan, karenanya &#8220;Allah mengharamkan kezaliman sampai datangnya hari qiyamat.&#8221; <strong>(HR Muslim)<span id="more-563"></span></strong></p>
<p>Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah SAW. dan ummatnya agar terus memerangi orang kafir dan zalim yang selalu menimbulkan fitnah kepada Islam dan ummatnya. Al Qur’an mengingatkan:</p>
<p>&#8220;<em>Wahai Nabi berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqien itu dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.&#8221;</em> <strong>(QS. At Taubah 9:73 dan QS 66:9)</strong></p>
<p><strong>Terorisme dan Ketidakadilan Global</strong></p>
<p>Masalah yang jarang disentuh oleh media massa ketika mengangkat isu terorisme adalah ketidakadilan global. Padahal faktor ketidakadilan global menjadi salah satu pemicu serangan terhadab barat atau objek-objek yang dianggap berhubungan dengan barat. Penjajahan yang dilakukan barat di dunia Islam, termasuk dukungan membabi buta barat terhadap penjajahan zionis Israel di Palestina, merupakan cerminan dari ketidakadilan itu.</p>
<p>Ketika 9 orang terbunuh akibat pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, banyak orang yang mengecam aksi tersebut. Sikap yang sama seharusnya muncul ketika ratusan ribu umat Islam terbunuh pasca invasi AS di Iraq. Mengutip laporan yang dimuat Jurnal Lancet, lebih dari 650 ribu warga sipil Iraq tewas sejak invasi AS pada tahun 2003 dan jumlah itu tentu saja terus saja bertambah hingga kini.</p>
<p>Amerika serikat dimaklumi marah saat gedung WTC diserang yang menyebabkan sekitar 3000 orang terbunuh. Sebaliknya, tentu bisa dimaklumi juga umat Islam marah ketika pasukan Amerika terus menerus membunuh rakyat sipil di Afghanistan dan Pakistan. PBB mengatakan jumlah penduduk sipil yang tewas di Afghanistan tahun ini meningkat 24 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laporan PBB menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas dalam enam bulan pertama tahun ini. Jumlah korban serangan AS terhadap rakyat sipil di perbatasan Pakistan-Afghanistan pun terus meningkat.</p>
<p>Bandingkan pula sikap dunia barat ketika Israel menyerang Gaza.  Angka korban serangan Israel ke jalur Gaza sejak 27 desember 2008 hingga 18 januari 2009 malah mencapai 1313 atau rata-rata 59 orang tewas perhari atau setiap jam lebih 2 orang tewas. Tidak hanya itu, Israel juga mengakui menggunakan senjata kimia yang mengerikan, yakni fosfor putih. Belum lagi yang terbunuh akibat isolasi jalur Gaza oleh Israel. Alih-alih mengecam Israel, Amerika, Inggris dan sekutunya malah membela Israel. Untuk kasus Indonesia, ketidakadilan itu juga tampak dari sikap yang diskriminatif terhadap pembunuhan umat Islam di Ambon, Poso, atau kerusuhan di Sampit.</p>
<p>Berkaitan dengan pengeboman pada juli 2005 di London, pemerintahan Inggris memberikan peringatan bahwa keterlibatan dalam invasi AS ke Iraq telah meningkatkan adanya ancaman serangan balasan terhadap Inggris. Laporan yang bocor dari <em>Joint Terrorims Center </em>(JTAC) Inggris, yang mendahului serangan tersebut, memperingatkan: &#8220;peristiwa-peristiwa yang terjadi di Iraq semakin menjadi motivasi dan fokus sejumlah teroris berkaitan dengan aktivitas di Inggris.&#8221;</p>
<p>Pada april 2005, sebuah laporan yang ditulis oleh <em>Joint Intelligence Committee </em>(JIC) berjudul <em>&#8220;International Terrorism Impact of Iraq&#8221;</em> bahkan lebih eksplisit menyatakan: “kami menilai bahwa konflik yang terjadi di Iraq telah memperburuk ancaman terorisme internasional dan akan terus memberikan dampak dalam jangka waktu yang lama. Konflik tersebut telah memperkuat kegigihan para teroris yang telah melakukan serangan ke negara-negara barat dan memotivasi orang-oran lain yang tidak melakukannya.”</p>
<p>Seharusnya siapapun yang menginginkan kekerasan global dihentikan, juga harus dengan tegas meminta AS dan negara-negara imperialis lainnya menghentikan kebijakan yang eksploitatif dan diskriminatif terhadap dunia Islam. Masyarakat barat sendiri seharusnya meminta penguasa mereka agar menarik tentara negaranya dari Iraq, Afghanistan, dan negeri Islam lainnya. Termasuk menghentikan dukungan membabi buta terhadap Israel.</p>
<p>Bagi umat Islam, ketidakadilan global ini harus dihentikan. Berharap pada negara-negara imperialis untuk menghentikan kejahatan mereka sangatlah sulit. Karena selama barat masih mengadopsi ideologi kapitalisme, penjajahan akan menjadi metode baku yang tidak berubah. Tidak ada pilihan lagi, kecuali umat Islam bersatu membangun kekuatan global khilafah Islam yang akan melindungi umat Islam dari bulan-bulanan negara imperialis..</p>
<p><strong>Isu Terorisme &amp; Serangan Terhadap Islam </strong></p>
<p>Sebenarnya isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin. Musuh-musuh Islam mencoba membidik Islam dan kaum Muslimin di balik isu terorisme. Mereka takut dengan bangkitnya kaum muslimin. Dengan demikian mereka berusaha sekuat tenaga dan dengan berbagai macam cara untuk menghancurkan kebangkitan kaum Muslimin, salah satunya dengan melancarkan perang melawan terorisme.</p>
<p>Saat ini umat Islam menjadi tertuduh dan semua ketakutan dengan segala hal tentang Islam, karena selalu dikait-kaitkan dengan isu terorisme. Para pelajar, aktivis Islam dan semisalnya menjadi resah. Mereka khawatir dituduh dan dianggap sebagai sarang dan penyedia serta membantu aktivitas terorisme.</p>
<p>Gerakan-gerakan dakwah pun dicurigai meskipun gerakan dakwah itu terbuka dan tak ada sangkut pautnya dengan teroris. Beberapa orang pun mengawasi ketat anak remajanya yang mau berangkat mengaji. Padahal hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka menanyakan ngajinya sama siapa, tempatnya di mana, dan segala macam secara berulang-ulang.</p>
<p>Bahkan di sebuah wilayah, beberapa orang yang hendak melakukan <em>khuruj </em>(aktivitas yang rutin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh) di sebuah masjid, ditolak warga setempat pasca pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Warga setempat tak mau daerahnya dijadikan tujuan orang luar. Mereka takut orang-orang tersebut terlibat terorisme.</p>
<p>Sikap paranoid ini muncul belakangan di beberapa daerah. Ini terjadi setelah televisi dengan sangat gencar menyebarkan berita terorisme sejak penyerbuan di Temanggung, Jawa Tengah. Bukannya obyektif, pemberitaan di media massa cenderung menstigmatisasi negatif Islam dan kaum muslimin.</p>
<p>Belum jelas benar siapa pelakunya, media massa langsung menyorot pesantren. Pesantren dianggap mengajarkan jihad dan ini menjadi inspirasi para teroris. Media massa pun sibuk mencari latar belakang orang-orang yang diduga teroris dengan melakukan interogasi dan inkuisisi terhadap almamater, keluarga, dan para tetangga.</p>
<p>Tampa disaring, berita isu langsung disiarkan. Padahal tidak semua sumber berita yang didapatkannya layak disiarkan.</p>
<p>Hal yang sama tidak pernah dilakukan terhadap para koruptor. Adakah media massa yang pernah mengaitkan koruptor dengan almamaternya? Kemudian menyatakan bahwa unversitas X telah mengajarkan korupsi? Atau mencari guru dan dosennya karena dianggap sebagai inspirasi untuk korupsi?</p>
<p>Sikap media ini tidak lepas dari upaya pihak-pihak tertentu untuk menjadikan media sebagai corong dalam menyerang Islam dan kaum muslimin. Lihat saja bagaimana media massa seolah jadi ‘orang bodoh’ dan menurut saja dengan arahan sumber-sumber mereka. Sikap kritis mereka hilang. Bahkan untuk mencari alternatif narasumber lagi. Sampai-sampai ketika sumber-sumber berita mereka memberitakan berita yang salah pun, ditelan mentah-mentah. Perhatikan ketika penyerangan di Temanggung terjadi, dalam siaran langsungnya, mereka seperti <em>koor</em> menyanyikan lagu bahwa teroris yang terbunuh adalah gembong teroris Noordin M Top. Ternyata bukan.</p>
<p>Telah terjadi <em>trial by the press</em> (pengadilan oleh meda massa), yang dampaknya jauh lebih kejam. Media pun tergiring oleh frame berpikir musuh-musuh Islam yang menggeneralisasi para teroris dengan Islam. Isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya disebarluaskan dan dikerjakan oleh media massa yang pada hakikatnya untuk menghilangkan kebangkitan Islam.</p>
<p>Ironisnya, media massa seolah maklum saja dengan tindakan brutal Amerika dan sekutunya menebar bom dan kematian di mana-mana. Media massa tidak pernah menyebut mereka sebagai teroris, meski korban tewas jauh lebih banyak dan massif.</p>
<p>Media memang telah menjadi alat bagi kapitalisme global dalam mempertahankan hegemoninya. Di era informasi dimana kemenangan ditentukan oleh penguasa sumber-sumber informasi, media massa adalah salah satu pilar kapitalisme.</p>
<p>Barat paham betul bahwa Islam adalah musuh berikutnya setelah komunisme runtuh. Islam adalah ancaman. Karenanya, kebangkitan Islam mesti dihalang-halangi. Caranya bisa melalui <em>hard </em>dan <em>soft power</em>. Untuk itu barat dan antek-anteknya mendekonstruksi persepsi masyarakat terhadap Islam untuk melahirkan sikap moderat bahkan liberal. Mereka tidak mau Islam tampil apa adanya sesuai Al Quran dan As Sunnah. Sikap moderat dan liberal ini dianggap pas dengan hegemoni dan determinasi barat.</p>
<p>Sangat tidak mengherankan bila di tengah isu terorisme yang sedang hangat sekarang tiba-tiba muncul pernyataan beberapa tokoh yang mencoba menggeneralisasi bahwa terorisme itu adalah keinginan menerapkan syariah Islam dalam Daulah Islam. Mereka mencoba menebar ‘pukat harimau’ untuk menjaring aktivis pergerakan Islam.</p>
<p>Mereka sepertinya tutup mata-atau memang sengaja terhadap fakta bahwa tidak semua gerakan yang memperjuangkan syariah Islam dan khilafah setuju dengan aksi terorisme. Modus mereka ini sama dan sebangun dengan gaya Amerika dan barat umumnya melihat Islam pasca tragedi WTC pada September 2001.</p>
<p>Tak mengherankan bila banyak pihak yang menganalisis bahwa aksi-aksi terorisme di Indonesia ini sengaja dimainkan oleh pihak asing. Tujuannya adalah melemahkan umat Islam Indonesia sehingga Islam tidak bisa bangkit menjadi sebuah kekuatan yang besar di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.</p>
<p>Oleh karena itu perlu waspada terhadap segala tipu daya musuh-musih Islam tersebut. Para pengembang dakwah harus terus istiqomah mendakwahkan Islam dan mengembalikan kejayaan Islam dengan metode dakwah yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW.</p>
<p><strong>Siapa Teroris Sebenarnya ? Sadarlah Wahai Kaum Muslimin…!</strong></p>
<p>Jadi, siapakah terorisme yang sebenarnya ? Kalau kita mau meneliti sejarah, maka terlalu banyak dan panjang catatan peristiwa sejarah Amerika yang dapat membuktikan bahwa Amerika adalah teroris sejati. Amerika dengan dukungan sekutunya NATO, berhasil menekan PBB untuk mengembargo Irak.</p>
<p>Jika definisi teror adalah membunuh rakyat sipil yang tak berdosa; anak-anak, wanita dan orang tua, maka mereka atau Amerika adalah teroris paling pertama, teratas dan terjahat yang dikenal oleh sejarah umat manusia. Mereka telah membantai jutaan rakyat sipil tak berdosa di seluruh dunia; Jepang, Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Indonesia dan banyak negara lainnya.</p>
<p>Jika definisi teror adalah membom tempat-tempat dan kepentingan-kepentingan umum, mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang mengajarkan, memulai dan menekuni hal itu.</p>
<p>Jika definisi teror adalah menebarkan ketakutan demi meraih kepentingan politik, maka merekalah yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu di seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Jika definisi teror adalah pembunuhan misterius terhadap lawan politik, maka mereka adalah pihak pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu.</p>
<p>Jika definisi mendukung teroris adalah membiayai, melatih dan memberi perlindungan kepada para pelaku kejahatan, maka mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu. Mereka bisa berada di balik berbagai kudeta di seluruh penjuru dunia. Aliansi Utara di Afghanistan, John Garang di Sudan, Israel di bumi Islam Palestina, Serbia dan Kroasia di bekas negara Yugoslavia, dan banyak contoh lainnya merupakan bukti konkrit tak terbantahkan bahwa <strong>The Real Terrorist</strong> adalah Amerika dan sekutu-sekutunya!</p>
<p>Dengan demikian, setelah ummat mengetahui rencana apa di balik isu terorisme, siapa teroris sebenarnya, maka mereka juga harus tetap sabar, tawakal, dan yakin bahwa Islam pasti menang. Hal ini sebagaimana janji Allah SWT dalam firmanNya :</p>
<p><em>“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”</em> (QS At Taubah, 9 : 33 &amp; QS Ash Shaff, 61 : 9)</p>
<p><em>Wallahu’alam bis Showab!</em><br />
<em>* Artikel ini merupakan ringkasan dari Khutbah Ust. Abu Muhammad Jibriel (Wakil Amir Majelis Mujahidin) pada Bulan Syawwal di beberapa Masjid di Jakarta.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abujibriel.com/isu-terorisme-dan-serangan-terhadap-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
